Happy Reading Guys!
TEASER CHO KYUHYUN BIRTHDAY 2013
Mereka yang menyimpan rahasia,
Mereka yang menyembunyikan perasaan,
Tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Cho
Kyuhyun, namja yang terkenal sangat ‘anti’ dengan yeoja itu tiba – tiba saja
menjadi cukup akrab denganku. Biasanya dia tidak akan menanggapi yeoja selain Jehee,
karena mereka teman dari kecil, dan memilih untuk mengurung dirinya dengan
game. Dan satu temannya lagi, Kim JongIn, yang sama saja tidak mempunyai daya
tarik lain selain game.
Aku tidak tahu ini
bermula sejak kapan, tapi ini benar – benar terjadi begitu saja. Belakangan ini
aku menjadi terlalu dekat dengannya, bahkan nyaris tidak ada jarak sedikitpun.
Sejujurnya aku baru
mengenalnya, sangat baru. Walaupun aku tahu dia adalah teman dekat sepupuku, Cho
Jehee, tapi aku baru saja mengenalnya setelah kami duduk di bangku kelas tiga
ini. Saat aku akhirnya satu kelas dengannya.
Begini, aku dengan
saudara sepupuku cukup dekat, namun sebelumnya aku tinggal di daerah mokpo, dan
sangat jarang untuk datang ke Seoul. Lalu sekarang, saat aku menginjak kelas
tiga SMA, kedua orang tuaku sepakat memindahkanku untuk bersekolah ke Seoul,
untuk memudahkan aku mendapat perguruan tinggi.
Jadi, aku hanya sering
mendengar nama ‘Kyuhyun’ disebut – sebut oleh Jehee sebelumnya, tanpa tahu dan
mengenal siapa Cho Kyuhyun sebenarnya.
“Gun~a,” Kyuhyun
berjalan menghampiriku, dengan kemeja sekolah yang sudah tampak berantakan. Ini
sudah siang, diakhir jam pelajaran tambahan yang kebetulan kosong. Sepertinya
dia enggan untuk merapihkannya, tanpa menyadari seberapa besar dampak yang
diberikannya padaku saat melihatnya tampil dengan gaya yang tak rapih, natural seperti
ini. Itu membuatku benar – benar sulit untuk mencari oksigen untuk bernapas.
Kai ikut menolehkan
pandangan dan berbalik mengarah meja yang aku duduki. Sedari tadi dia duduk
didepanku dengan earphone yang menempel pada telinga. Dan sepertinya dia
menghabiskan beberapa waktu sebelumnya untuk tertidur. Terlihat dari matanya
yang masih mengantuk dan mencoba untuk beradaptasi dengan cahaya matahari yang
terik dari jendela disampingnya.
“Kau sudah mencari puisi
lama?” Kyuhyun memposisikan diri duduk diatas mejaku. Meja yang berhadapan langsung
dengan kursi yang aku duduki. Kemudian dengan jahil tangannya memainkan botol
minum Jehee yang tergeletak diatas mejaku. Karena sepertinya JeHee lupa
menaruh kembali botol minumnya setelah makan bekal bersama tadi.
“Belum,” jawabku yang
kemudian menutup laptop dan balas menatapnya, “karena yang lain belum mencari,
aku juga belum.”
“Kenapa harus menunggu
yang lain?” Protesnya yang mulai menatapku kesal, mengetahui tugas kelompok
belum selesai ditangani.
“Lalu kenapa kau harus
bertanya padaku tentang mencari puisi lama? Tayakan pada Kai, Jehee dan dirimu
sendiri saja.”
“Aku tidak mengerti
tentang puisi lama,” Kai menyahut, “karena aku tidak begitu tertarik dengan
sastra.”
“Siapa bilang aku juga
tertarik dengan sastra?” tanyaku kembali.
Mata Kyuhyun
menunjukkan kearah novel sastra dipangkuanku. “Itu buktinya”
Aku mengerang kesal,
menyadari keadaan bahwa aku sedang memegang buku sastra tebal, ah bukan. Novel
sastra tebal. Aku tidak menyukai sastra, sangat membencinya. Apalagi novel
sastra yang mengerikan dipangkuanku ini, yang selalu bisa membuat mataku
menutup rapat setiap kali mencoba membacanya. Ini punya Jehee, bukan punyaku.
“Memangnya anggota
kelompok kita hanya aku saja? Tanya kan pada yang lain saja Cho Kyuhyun~ssi”
desisku dengan sedikit mencondongkan tubuh kearahnya.
Kyuhyun balas menatapku
sengit. Tubuhnya ikut menunduk, membungkuk kearahku. Membuatku sedikit
memundurkan tubuhku, mengurangi jarak kedekatan kami.
“Yang mengerti hanya
kau, jadi tolong selesaikan dengan cepat, Gun~a”
“Ini bukan punyaku,
kalau tidak percaya buka saja. Dihalaman depannya ada nama pemilik aslinya, dan
itu tentu saja bukan aku, Cho-Kyu-Hyun-ssi” aku mengeja namanya sembari balas
menatap sengit.
“tapi kau memegang
bukunya, berarti sama saja kau juga tertarik dengan sastra?”
Suara kecil menyadarkan
kami berdua. Kyuhyun kembali menegakkan tubuhnya dan aku menolehkan pandangan kearah
suara berasal.
Aku nyaris terlonjak,
terkejut saat menyadari Jehee sudah datang dengan novel tebal ditangan kirinya.
Dia sudah kembali dari perpustakaan, dan datang memergokiku dengan Kyuhyun. Aku
sempat melirik Kai. Sepertinya dia menyudahi untuk berbicara dengan kami sedaritadi,
karena dia sudah kembali tertidur dengan earphone yang menempel dikedua
telinganya.
“Seru sekali
sepertinya,” komentarnya, “sampai ada yang harus duduk dengan manisnya dan
memberi kesan yang membuatku begitu iri.”
Aku terdiam, merasa
sedikit tersindir. Kyuhyun masih dalam posisinya yang kini lebih dekat dari
awal padaku. Dia duduk diatas mejaku dengan kaki terayun pada sisi yang tersisa
dari tempat yang aku pakai untuk duduk dikursi. Benar – benar duduk berhadapan
diatas mejaku. Dan aku begitu sulit untuk mencari cara untuk keluar dari
situasi ini. Karena Kyuhyun, masih nyaman untuk terdiam dalam tempatnya, dan
menatapku dengan arti ‘lanjutkan saja, jangan hiraukan dia’ tanpa berniat
beranjak dari tempatnya sedikitpun.
Aku dengan spotan
berdiri. Tidak mengerti apa yang seharusnya aku lakukan, tapi aku mencoba untuk
menghindar dan membuat jarak sejauh mungkin dari Kyuhyun. “Maaf,” aku bergumam
kecil, “aku tidak sengaja, dia hanya datang begitu saja, jadi …”
“Sudahlah, santai saja.”
JeHee menepuk pundakku ringan. “Aku tidak memersalahkan posisi dudukmu dengan Kyuhyun
yang begitu … dekat? Tapi aku hanya ingin menyindir Kyuhyun. Botol minumku bisa
rusak kalau terus dimainkan seprti itu, Kyu~a”
Kyuhyun menyeringai
kecil kemudian meletakkan kembali botol minum Jehee. “Maaf,” matanya beralih
kembali padaku, “lalu, apa kau berniat menyelesaikannya sore ini, nyonya Han?”
“kalau aku katakan
tidak sendiri mengerjakan, ya, tidak.” Jawabku tajam, kembali duduk dikursiku
setelah menenangkan diri dan menarik napas lega mengetahui Jehee sudah
berpindah menuju bangku disamping Kai dan mulai merecokinya.
Mereka berdua selalu
begitu, sedikit sering bertengkar, tapi yang aku herankan, mereka selalu
terlihat akrab berdua, bahkan lebih akrab Jehee dengan Kai daripaa Jehee dengan
Kyuhyun. Tidak peduli teman – teman lebih sering memojokkan KyuHee couple
karena Kyuhyun dan Jehee sangat dekat dan berteman sedari kecil –ini yang
membuatku sedikit iri, daripada JongHee couple –sebutan yang aku buat sendiri
untuk mereka berdua.
“Kalau begitu nanti
sore kita kerjakan bersama. Kau, dan aku.”
“Besok lusa saja, sore
ini dan besok, aku ada urusan penting.”
“Urusan apa?”
“Bukan apa – apa, dan
itu bukan urusanmu, tuan Cho.”
***
“Kalau begitu ajari aku
bermain game!” Jehee menarik paksa stik ps dari tangan Kai.
“Tidak sekarang, aku
sedang bertanding, apa kau tidak mengerti, ha?”
“Tidak, aku tidak
mengerti sama sekali, Mr. Kkamjong!” tangan Jehee memencet asal tombol yang ada
di stik ps Kai. Membuatku menahan tawa memerhatikannya yang memencet tombol
untuk membuat pemain bola dilayar berputar – putar dilapangan tak mengarah.
“Jangan tekan tombol
itu, sudah berapa kali aku bilang, kau tidak akan bisa bermain game, dan kau
hanya berbakat dibidang sastra dan seni, ara?” Kai menarik dengan paksa kembali
stik psnya, dan mencoba membenarkan permainannya.
JeHee menatap kesal
Kai, “memangnya bermain game harus mempunyai bakat? Setahuku tidak” dia pun
berdiri kemudian berjalan mmenghampiriku yang bersandar pada lemari buku diruangan
ini.
Ruangan kami. Kami
berempat tentunya. Ruangan yang sengaja kami buat untuk menghabiskan waktu
bersama. Entah itu mengerjakan tugas kelompok ataupun sekedar bermain. Di
ruangan ini, lantai paling atas gedung perusahaan ayah kyuhyun, tersedia semua
hal yang kami sukai.
Tentu saja, yang pasti
ada diruangan ini, alat untuk Kai, Kyuhyun, dan aku bertanding game. Sedang
JeHee akan menyibukkan dirinya disini untuk membaca buku, menulis karya
sastranya, atau menjadi penguntit Hangeng Oppa melalui akun twitter, kakak
kelas yang baru saja lulus beberapa bulan lalu. melalui deretan buku bacaan
dilemari yang aku sandarkan ini, dan laptop berkoneksi internet di meja sudut
ruangan.
“Game butuh bakat, dan
orang sepertimu tidak mempunyai bakat bermain game sedikitpun!” Ujar Kai dengan
nada sedikit tinggi dan kesal, karena sudah bisa diduga, kali ini dia gagal lagi
memenangkan pertandingan akibat direcoki Jehee.
“Lihat ulah temanmu,
Gun~a. selalu saja seperti itu. Apa aku bermain game seburuk itu? Aku masih mempunyai
kesempatan untuk berlatih, kan? Kyuhyun saja tidak pernah mengejek cara aku
bermain game. Dia hanya cukup terdiam, menatapku pasrah kemudian pergi.
Setidaknya itu lebih baik daripada aku harus bertengkar seperti ini.”
Jehee bertutur panjang,
sesuai dengan kebiasaannya saat berbicara. Tidak mempunyai istilah titik, dan
selalu mengenal kata koma dalam setiap perkataannya. Itulah dia, sahabat yang
selalu bisa memancing mulut kami bertiga yang pendiam, untuk ikut berbicara panjang.
Aku hanya mengangguk
kecil, “Kai~ssi, matikan dulu game mu, sudah kalah pula, kan? Ada yang ingin
aku perbincangkan dengan kalian sebelum Kyuhyun mengetahui keberadaan kita
bertiga disini dan datang untuk ikut bergabung.”
Semua merapat kearahku.
Kai meletakkan stik psnya kemudian menyeret tubuhnya di lantai tanpa harus
bangun untuk mendekat kearahku. Dan jehee memilih untuk duduk di kursi meja
computer.
“Kalian ingat sekarang
tanggal berapa?” Jehee melirik kearah kalender sesaat, kemudian matanya membulat
setelah menyadari maksud perkataanku.
“Tanggal satu februari,
itu artinya..” kalimatnya terpantung, telunjuknya terambang dalam udara.
“Kyuhyun dua hari lagi
akan .. ulang tahun?” sambung Kai sembari menjentikkan jarinya, “kau sudah
mempunyai rencana untuk itu?”
Aku mengangguk kecil,
“tentu saja, aku mempunyai rencana besar yang keren.”
Mata Jehee menyipit
menatapku. Terselip tatapan curiga dari matanya, yang memancing keningku
berkerut, “kau … menyukai Kyuhyun?”
Bibirku membeku
seketika, dihantam oleh pertanyaan maut yang sangat aku hindarkan. Terlebih
pertanyaan itu keluar dari mulut Jehee, yang sedikit aku perkirakan kalau dia
menyukai Kyuhyun.
“Mwo?” tanganku
melambai dengan cepat, “tidak, aku tidak menyukainya, eng.. menyukainya sih
iya, tapi hanya sebatas … teman?”
“Oh, kukira kau
menyukainya,” Jehee ber ‘oh’ sembari menghela napas panjang, membuatku semakin
berpikir kalau dia benar – benar mempunyai perasaan pada Kyuhyun. Tapi kalau
dia menyukai Kyuhyun, lalu apa arti kedekatan dia dengan Kai selama ini? hanya
pertemanan biasa? Aku rasa ada perasaan diantara keduanya, dan mereka sama
sekali belum menyadarinya sedikitpun. Dan kalaupun Jehee menyukai Kyuhyun, aku
sangat yakin itu hanya dampak pesona Kyuhyun yang luar biasa.
“Kita mulai rencana
ini, besok” aku melanjutkan penuturan rencanaku, berusaha menghiraukan pikiran –
pikiran bodoh yang menyerbuku, “kita bertingkah seperti biasa saja, sewajarnya.
Dan usahakan untuk tidak mengeluarkan ekspresi – ekspresi yang mencurigakan. Dan
satu hal yang sangat aku peringatkan, Cho Jehee, kunci rapat rapat mulut
cerewetmu yang diluar kendali itu, ara?”
***

1 komentar:
pertama:aku jadi penasaran
kedua: ditunggu kelanjutannya
ketiga: aku cuma mau ngasih pendapat ya, jgn marah. Tadi ada dialog "Nyonya Han" kalau blm nikah seharusnya "Nona Han"
keempat: tdi ada typo sedikit di akhir teaser ff ini "kunci rapat rapat mulut" kurang tanda (-) jadi "rapat-rapat"
Sekian chingu pendapatku.. Aku g bermaksud menggurui ya. ditunggu kelanjutan ff nya chingu
*oh ya aku mau nanya jdi Cho Jehee itu sepupunya cewe yg dipanggil Gun~a ya??*
FL
Posting Komentar