Sabtu, 26 Januari 2013

Teaser - Kyuhyun Birthday 2013

Guys, kayaknya aku emang gak bisa yang namanya break nulis FF-_-v jadi kalo sempet, ada waktu nyelip dikit bakalan nulis FF deh, hehe. berhubung sebentar lagi Kyuhyun bakalan ulang tahun, aku WAJIB untuk nulis FF special pake telor buat ultahnya. dan ini ada cuplikan teaser buat FF nantinya.

Happy Reading Guys!


TEASER CHO KYUHYUN BIRTHDAY 2013



Mereka yang menyimpan rahasia,
Mereka yang menyembunyikan perasaan,
Tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Cho Kyuhyun, namja yang terkenal sangat ‘anti’ dengan yeoja itu tiba – tiba saja menjadi cukup akrab denganku. Biasanya dia tidak akan menanggapi yeoja selain Jehee, karena mereka teman dari kecil, dan memilih untuk mengurung dirinya dengan game. Dan satu temannya lagi, Kim JongIn, yang sama saja tidak mempunyai daya tarik lain selain game.
Aku tidak tahu ini bermula sejak kapan, tapi ini benar – benar terjadi begitu saja. Belakangan ini aku menjadi terlalu dekat dengannya, bahkan nyaris tidak ada jarak sedikitpun.
Sejujurnya aku baru mengenalnya, sangat baru. Walaupun aku tahu dia adalah teman dekat sepupuku, Cho Jehee, tapi aku baru saja mengenalnya setelah kami duduk di bangku kelas tiga ini. Saat aku akhirnya satu kelas dengannya.
Begini, aku dengan saudara sepupuku cukup dekat, namun sebelumnya aku tinggal di daerah mokpo, dan sangat jarang untuk datang ke Seoul. Lalu sekarang, saat aku menginjak kelas tiga SMA, kedua orang tuaku sepakat memindahkanku untuk bersekolah ke Seoul, untuk memudahkan aku mendapat perguruan tinggi.
Jadi, aku hanya sering mendengar nama ‘Kyuhyun’ disebut – sebut oleh Jehee sebelumnya, tanpa tahu dan mengenal siapa Cho Kyuhyun sebenarnya.
“Gun~a,” Kyuhyun berjalan menghampiriku, dengan kemeja sekolah yang sudah tampak berantakan. Ini sudah siang, diakhir jam pelajaran tambahan yang kebetulan kosong. Sepertinya dia enggan untuk merapihkannya, tanpa menyadari seberapa besar dampak yang diberikannya padaku saat melihatnya tampil dengan gaya yang tak rapih, natural seperti ini. Itu membuatku benar – benar sulit untuk mencari oksigen untuk bernapas.
Kai ikut menolehkan pandangan dan berbalik mengarah meja yang aku duduki. Sedari tadi dia duduk didepanku dengan earphone yang menempel pada telinga. Dan sepertinya dia menghabiskan beberapa waktu sebelumnya untuk tertidur. Terlihat dari matanya yang masih mengantuk dan mencoba untuk beradaptasi dengan cahaya matahari yang terik dari jendela disampingnya.
“Kau sudah mencari puisi lama?” Kyuhyun memposisikan diri duduk diatas mejaku. Meja yang berhadapan langsung dengan kursi yang aku duduki. Kemudian dengan jahil tangannya memainkan botol minum Jehee yang tergeletak diatas mejaku. Karena sepertinya JeHee lupa menaruh kembali botol minumnya setelah makan bekal bersama tadi.
“Belum,” jawabku yang kemudian menutup laptop dan balas menatapnya, “karena yang lain belum mencari, aku juga belum.”
“Kenapa harus menunggu yang lain?” Protesnya yang mulai menatapku kesal, mengetahui tugas kelompok belum selesai ditangani.
“Lalu kenapa kau harus bertanya padaku tentang mencari puisi lama? Tayakan pada Kai, Jehee dan dirimu sendiri saja.”
“Aku tidak mengerti tentang puisi lama,” Kai menyahut, “karena aku tidak begitu tertarik dengan sastra.”
“Siapa bilang aku juga tertarik dengan sastra?” tanyaku kembali.
Mata Kyuhyun menunjukkan kearah novel sastra dipangkuanku. “Itu buktinya”
Aku mengerang kesal, menyadari keadaan bahwa aku sedang memegang buku sastra tebal, ah bukan. Novel sastra tebal. Aku tidak menyukai sastra, sangat membencinya. Apalagi novel sastra yang mengerikan dipangkuanku ini, yang selalu bisa membuat mataku menutup rapat setiap kali mencoba membacanya. Ini punya Jehee, bukan punyaku.
“Memangnya anggota kelompok kita hanya aku saja? Tanya kan pada yang lain saja Cho Kyuhyun~ssi” desisku dengan sedikit mencondongkan tubuh kearahnya.
Kyuhyun balas menatapku sengit. Tubuhnya ikut menunduk, membungkuk kearahku. Membuatku sedikit memundurkan tubuhku, mengurangi jarak kedekatan kami.
“Yang mengerti hanya kau, jadi tolong selesaikan dengan cepat, Gun~a”
“Ini bukan punyaku, kalau tidak percaya buka saja. Dihalaman depannya ada nama pemilik aslinya, dan itu tentu saja bukan aku, Cho-Kyu-Hyun-ssi” aku mengeja namanya sembari balas menatap sengit.
“tapi kau memegang bukunya, berarti sama saja kau juga tertarik dengan sastra?”
Suara kecil menyadarkan kami berdua. Kyuhyun kembali menegakkan tubuhnya dan aku menolehkan pandangan kearah suara berasal.
Aku nyaris terlonjak, terkejut saat menyadari Jehee sudah datang dengan novel tebal ditangan kirinya. Dia sudah kembali dari perpustakaan, dan datang memergokiku dengan Kyuhyun. Aku sempat melirik Kai. Sepertinya dia menyudahi untuk berbicara dengan kami sedaritadi, karena dia sudah kembali tertidur dengan earphone yang menempel dikedua telinganya.
“Seru sekali sepertinya,” komentarnya, “sampai ada yang harus duduk dengan manisnya dan memberi kesan yang membuatku begitu iri.”
Aku terdiam, merasa sedikit tersindir. Kyuhyun masih dalam posisinya yang kini lebih dekat dari awal padaku. Dia duduk diatas mejaku dengan kaki terayun pada sisi yang tersisa dari tempat yang aku pakai untuk duduk dikursi. Benar – benar duduk berhadapan diatas mejaku. Dan aku begitu sulit untuk mencari cara untuk keluar dari situasi ini. Karena Kyuhyun, masih nyaman untuk terdiam dalam tempatnya, dan menatapku dengan arti ‘lanjutkan saja, jangan hiraukan dia’ tanpa berniat beranjak dari tempatnya sedikitpun.
Aku dengan spotan berdiri. Tidak mengerti apa yang seharusnya aku lakukan, tapi aku mencoba untuk menghindar dan membuat jarak sejauh mungkin dari Kyuhyun. “Maaf,” aku bergumam kecil, “aku tidak sengaja, dia hanya datang begitu saja, jadi …”
“Sudahlah, santai saja.” JeHee menepuk pundakku ringan. “Aku tidak memersalahkan posisi dudukmu dengan Kyuhyun yang begitu … dekat? Tapi aku hanya ingin menyindir Kyuhyun. Botol minumku bisa rusak kalau terus dimainkan seprti itu, Kyu~a”
Kyuhyun menyeringai kecil kemudian meletakkan kembali botol minum Jehee. “Maaf,” matanya beralih kembali padaku, “lalu, apa kau berniat menyelesaikannya sore ini, nyonya Han?”
“kalau aku katakan tidak sendiri mengerjakan, ya, tidak.” Jawabku tajam, kembali duduk dikursiku setelah menenangkan diri dan menarik napas lega mengetahui Jehee sudah berpindah menuju bangku disamping Kai dan mulai merecokinya.
Mereka berdua selalu begitu, sedikit sering bertengkar, tapi yang aku herankan, mereka selalu terlihat akrab berdua, bahkan lebih akrab Jehee dengan Kai daripaa Jehee dengan Kyuhyun. Tidak peduli teman – teman lebih sering memojokkan KyuHee couple karena Kyuhyun dan Jehee sangat dekat dan berteman sedari kecil –ini yang membuatku sedikit iri, daripada JongHee couple –sebutan yang aku buat sendiri untuk mereka berdua.
“Kalau begitu nanti sore kita kerjakan bersama. Kau, dan aku.”
“Besok lusa saja, sore ini dan besok, aku ada urusan penting.”
“Urusan apa?”
“Bukan apa – apa, dan itu bukan urusanmu, tuan Cho.”

***
“Kalau begitu ajari aku bermain game!” Jehee menarik paksa stik ps dari tangan Kai.
“Tidak sekarang, aku sedang bertanding, apa kau tidak mengerti, ha?”
“Tidak, aku tidak mengerti sama sekali, Mr. Kkamjong!” tangan Jehee memencet asal tombol yang ada di stik ps Kai. Membuatku menahan tawa memerhatikannya yang memencet tombol untuk membuat pemain bola dilayar berputar – putar dilapangan tak mengarah.
“Jangan tekan tombol itu, sudah berapa kali aku bilang, kau tidak akan bisa bermain game, dan kau hanya berbakat dibidang sastra dan seni, ara?” Kai menarik dengan paksa kembali stik psnya, dan mencoba membenarkan permainannya.
JeHee menatap kesal Kai, “memangnya bermain game harus mempunyai bakat? Setahuku tidak” dia pun berdiri kemudian berjalan mmenghampiriku yang bersandar pada lemari buku diruangan ini.
Ruangan kami. Kami berempat tentunya. Ruangan yang sengaja kami buat untuk menghabiskan waktu bersama. Entah itu mengerjakan tugas kelompok ataupun sekedar bermain. Di ruangan ini, lantai paling atas gedung perusahaan ayah kyuhyun, tersedia semua hal yang kami sukai.
Tentu saja, yang pasti ada diruangan ini, alat untuk Kai, Kyuhyun, dan aku bertanding game. Sedang JeHee akan menyibukkan dirinya disini untuk membaca buku, menulis karya sastranya, atau menjadi penguntit Hangeng Oppa melalui akun twitter, kakak kelas yang baru saja lulus beberapa bulan lalu. melalui deretan buku bacaan dilemari yang aku sandarkan ini, dan laptop berkoneksi internet di meja sudut ruangan.
“Game butuh bakat, dan orang sepertimu tidak mempunyai bakat bermain game sedikitpun!” Ujar Kai dengan nada sedikit tinggi dan kesal, karena sudah bisa diduga, kali ini dia gagal lagi memenangkan pertandingan akibat direcoki Jehee.
“Lihat ulah temanmu, Gun~a. selalu saja seperti itu. Apa aku bermain game seburuk itu? Aku masih mempunyai kesempatan untuk berlatih, kan? Kyuhyun saja tidak pernah mengejek cara aku bermain game. Dia hanya cukup terdiam, menatapku pasrah kemudian pergi. Setidaknya itu lebih baik daripada aku harus bertengkar seperti ini.”
Jehee bertutur panjang, sesuai dengan kebiasaannya saat berbicara. Tidak mempunyai istilah titik, dan selalu mengenal kata koma dalam setiap perkataannya. Itulah dia, sahabat yang selalu bisa memancing mulut kami bertiga yang pendiam, untuk ikut berbicara panjang.
Aku hanya mengangguk kecil, “Kai~ssi, matikan dulu game mu, sudah kalah pula, kan? Ada yang ingin aku perbincangkan dengan kalian sebelum Kyuhyun mengetahui keberadaan kita bertiga disini dan datang untuk ikut bergabung.”
Semua merapat kearahku. Kai meletakkan stik psnya kemudian menyeret tubuhnya di lantai tanpa harus bangun untuk mendekat kearahku. Dan jehee memilih untuk duduk di kursi meja computer.
“Kalian ingat sekarang tanggal berapa?” Jehee melirik kearah kalender sesaat, kemudian matanya membulat setelah menyadari maksud perkataanku.
“Tanggal satu februari, itu artinya..” kalimatnya terpantung, telunjuknya terambang dalam udara.
“Kyuhyun dua hari lagi akan .. ulang tahun?” sambung Kai sembari menjentikkan jarinya, “kau sudah mempunyai rencana untuk itu?”
Aku mengangguk kecil, “tentu saja, aku mempunyai rencana besar yang keren.”
Mata Jehee menyipit menatapku. Terselip tatapan curiga dari matanya, yang memancing keningku berkerut, “kau … menyukai Kyuhyun?”
Bibirku membeku seketika, dihantam oleh pertanyaan maut yang sangat aku hindarkan. Terlebih pertanyaan itu keluar dari mulut Jehee, yang sedikit aku perkirakan kalau dia menyukai Kyuhyun.
“Mwo?” tanganku melambai dengan cepat, “tidak, aku tidak menyukainya, eng.. menyukainya sih iya, tapi hanya sebatas … teman?”
“Oh, kukira kau menyukainya,” Jehee ber ‘oh’ sembari menghela napas panjang, membuatku semakin berpikir kalau dia benar – benar mempunyai perasaan pada Kyuhyun. Tapi kalau dia menyukai Kyuhyun, lalu apa arti kedekatan dia dengan Kai selama ini? hanya pertemanan biasa? Aku rasa ada perasaan diantara keduanya, dan mereka sama sekali belum menyadarinya sedikitpun. Dan kalaupun Jehee menyukai Kyuhyun, aku sangat yakin itu hanya dampak pesona Kyuhyun yang luar biasa.
“Kita mulai rencana ini, besok” aku melanjutkan penuturan rencanaku, berusaha menghiraukan pikiran – pikiran bodoh yang menyerbuku, “kita bertingkah seperti biasa saja, sewajarnya. Dan usahakan untuk tidak mengeluarkan ekspresi – ekspresi yang mencurigakan. Dan satu hal yang sangat aku peringatkan, Cho Jehee, kunci rapat rapat mulut cerewetmu yang diluar kendali itu, ara?”
***

Kamis, 17 Januari 2013

Survey 'Pendapat Orang Tua Terhadap Remaja Indonesia yang Terkena Demam Korea'

Guys, aku dapet tugas niihh. Bisa minta tolong gak? aku mau survey buat para orang tua K-popers ataupun engga untuk ngisi questionnaire ini. Paling lambat tanggal 10 Februari yaaa. linknya ada di bawah ini. oiya, satu lagi, kalau masih ada saran atau pendapat tentang pengaruh korea terhadap remaja, bisa tambahin di bagian komentar. Gomawo chinggu!!!
-Cho Jehee-
KwikSurveys: Free online survey & questionnaire tool

Minggu, 13 Januari 2013

~Special Kai Birthday 2013~


Judul : Fussy Girl! [Special Ulang Tahun Kai EXO]
Cast : Cho Jehee, Kai (Kim JongIn) Exo, Cho Kyuhyun, Cho Ah-Ra, Kris Exo, Sehun Exo, Suho Exo, Han Ha Gun.
Genre : Romance
Rating : G
Note : Ini aku buat untuk merayakan hari ulang tahun Kai Exo 14 Januari 2013 yang ke 19 tahun. Jadinya, walaupun aku break nulis FF, ini tetep aku post karena udah selesai sebelum tugas menumpuk dateng-_-v Saeng il chukka Kim JongIn oppa~ semoga makin sukses bareng EXO kedepannya, amin J

Happy reading!!

Yeoja mungil dengan suara nyaring dan kalimat panjangnya. Menutupi semua kepribadian Kai yang terkadang lebih memilih untuk terdiam. Walaupun terkadang dia menyerah untuk menjadi diam ketika bersama Jehee. Persiapan malam pesta dansa yang mengesankan. Membuat mereka yang awalnya selalu bertukar debat tak penting dan selalu ribut, menjadi sebuah keakraban tersendiri yang tercipta.

Kim JongIn (Kai) PoV
Kemarin hanya kebetulan. Kemarin lusa juga hanya kebetulan. Dan kemarin sebelum lusa juga hanya kebetulan. Tiga kali kebetulan yang aku temui. Jangan sampai ada yang keempat. Itu sama saja membuat aku untuk menarik kesimpulan bahwa ini semuan adalah.. Pertanda takdir?
“Kai~ssi?” Aku menoleh ke arah orang yang menepuk ringan pundakku. Dia tersenyum kecil menahan tawa saat melihat ekspresiku yang mungkin menurutnya aneh. Entah kenapa aku malah berpikiran orang yang menepuk pundakku adalah dia, yeoja yang aku temui beberapa hari belakangan ini. Dan aku menjadi menoleh dengan perasaan berharap. “Wae? Apa kau begitu merindukanku, eo?”
Aku menggeleng cepat. “Setidaknya aku masih ada perasaan senang saat melihat yeoja – yeoja berkumpul didepan mataku, Hyung” Elakku yang berusaha memberhentikan tawanya.
“Baiklah, aku akui kau masih menyukai yeoja.” Suho Hyung menghentikan tawanya, “Aku menemuimu hanya sedikit penasaran, sekaligus mengetes kewarasanmu sebagai namja. Kau sudah menemukan pasangan untuk pesta dansa malam lusa?”
Sedikit membuatku terlonjak, mengingat aku yang sudah melupakan undangan pesta itu. Sebuah acara tidak penting yang dibuat oleh kampus untuk merayakan ulang tahun kampusku. “Ah! Aku hampir saja lupa Hyung, jadi maaf. Aku belum bisa memberikanmu bocoran tetang yeoja yang akan aku ajak.”
“Katakan saja kalau kau memang tidak tertarik untuk datang,” Suho Hyung berujar dengan sedikit menyindir. “Aku tidak memaksamu untuk datang, hanya saja jangan salahkan aku kalau.. kau menjadi topik terheboh di kampus setelahnya. Papan madding akan dipenuhi berita tentang “Namja popular di kampus tidak datang pesta dansa. Mungkin, tidak ada yang berminat dengannya.””
“YAK, hyung! Hentikan omong kosongmu. Baiklah, akan ku usahakan datang. Setidaknya aku akan membawa yeoja istimewa untuk malam lusa.” Ujarku yang kemudian memutuskan untuk berlalu pergi meninggalkannya.
***
Aku tersenyum singkat, menyambut hangat kedatangan keluarga Cho yang datang mengunjungi rumahku. Teman kerja appa yang dulunya adalah teman sewaktu SMA, sudah lama di inginkan appa untuk makan malam bersama keluarga. Sekedar bertukar cerita dan saling bernostalgia, katanya.
Kami sudah berada dalam meja makan di ruang pertemuan. Ruangan ini sengaja di buat appa untuk menjamu tamu – tamu penting. Aku duduk diantara kedua kakak perempuanku. Dan Ah-ra nuna, putri sulung keluarga Cho duduk bersebelahan dengan Kyuhyun Hyung. Entah kenapa mereka menyisakan bangku dihadapanku. Apa diantara mereka tidak ada yang ingin duduk berhadapan denganku?
“Dimana Jehee?” Cho Ajjushi menolehkan pandangannya pada Kyuhyun.
“Dia izin ke kamar kecil. Tadinya ingin aku antarkan, tapi dia bersikeras untuk mencari sendiri. Jadi mungkin dia tersesat,” Jawab kyuhyun hyung dengan nada datarnya. “Tapi aku yakin, dia tidak akan mungkin di culik oleh penjahat konyol dirumah ini.”
Aku menahan tawa yang nyaris keluar begitu saja. Yang kukira Kyuhyun Hyung dengan wajah dinginnya akan menakutkan, tapi kurasa dia tidak seseram itu. Masih ada selera humor yang cukup tinggi.
“Maaf, tadi aku sedikit keliru dengan jalan menuju kamar kecil, jadi aku terlambat.” Gadis mungil dengan kaos berlengan panjang orange dan gardigan tak berlengan berwarna kelabu datang menghampiri meja makan. Duduk di bangku hadapanku. Cukup dengan celana jeans dan gayanya yang santai, tapi tidak mengurangi kesopanannya sebagai tamu. Kalung panjangnya berbentuk bunga tergantung cukup cantik menghiasi lehernya.
Rambut panjang bergelombangnya dibiarkan tergerai rapih. Walaupun tetap terlihat berbeda jauh dengan Ah-ra nuna yang terlihat begitu feminim malam ini dengan gaunnya. Dan.. aku rasa ada sedikit kesalahan disini. Wajahnya lama kelamaan terasa begitu tidak asing bagiku.
“Baiklah, sekarang sudah lengkap dan aku bisa memperkenalkan anak – anakku padamu.” Ujar Cho ajjushi yang diiringi oleh cengiran kecilnya. “Dia Cho Ah-Ra, putri sulungku. Mungkin JongIn pernah bertemu sebelumnya dalam beberapa acara. Begitu juga dengan Cho Kyuhyun. Mereka yang selalu aku ajak untuk pertemuan pertemuan penting dan bersangkutan dengan perusahaan.”
“Dan Cho Jehee, adalah putri kecil kami. Dia kami anggap terlalu kecil untuk mengetahui urusan perusahaan. Jadi, dia sampai sekarang tidak mempunyai daya tarik apapun dengan perusahaan,” Cho Ajjushi tertawa sejenak sebelum kembali melanjutkan, “Dia memilih dunianya sendiri, di dunia Jurnalistik. Aku sendiri tidak mengerti dari mana datangnya bakat menulis pada anak ini.”
Aku menyeringai kecil mendengar penjelasan Cho Ajjushi. Telingaku mendengarkan dengan baik tentangnya. Dan mataku menatap lurus kearahnya. Dia terlalu menyimpan misteri sepertinya. Wajahnya memang benar – benar tidak asing bagiku.
“Chakkaman, maaf kalau aku menyela pembicaraan ini,” Jehee akhirnya menyuarakan diri. “Apa aku pernah bertemu denganmu sebelumnya? Sepertinya kau tidak terlalu asing bagiku dan..” Dia berujar ke arahku, padaku. Membuatku sedikit sulit mengontrol keterkejutanku.
“Pemberhentian bus dekat kereta bawah tanah. Dan saat hujan.” Kami berujar dengan kata yang tepat dan bersamaan. Membuat semua orang yang ada di dalam ruangan bertukar pandang heran.
***
Cho Jehee PoV
Aku hanya terdiam menatap suasana ramai dari balik jendela mobil. Ah-Ra eonni masih terkadang melirikku dengan senyuman anehnya. Dan Kyuhyun oppa masih sibuk dengan PSPnya. Aku harap mereka tidak akan membahas kembali kejadian barusan yang cukup memalukan.
Ucapan bodoh yang keluar bersamaan. Kehisterisanku spontan setelah menyadari Kai adalah orang yang pernah bertemu denganku. Dan sikap bodohku yang mengambil jatah ayam goreng Kai, yang sebenarya boleh – boleh saja kalau aku mengambilnya. Hanya saja dia terlalu mengincar ayam itu. Dan terjadilah keributan ketiga antara aku dengannya.
“Dia menyukaimu,” Kyuhyun Oppa berujar tanpa menolehkan padangan dari PSPnya. “Aku bisa melihat dari sorot matanya. Kalau Kai menyukaimu.”
“Kau berbicara denganku?” Tanyaku dengan sedikit segan. Mendengar kalimat Kyuhyun Oppa yang benar – benar tak logis. “Aku rasa kau salah mengerti. Kami selalu bertengkar disetiap kami bertemu.”
“Kyuhyun sepertinya benar,” Ah-Ra eonni ikut ambil suara. “Kau dan Kai membuatku iri.”
“Mwo?” Aku membalikkan tubuh kearah Kyuhyun oppa dan Ah-Ra eonnni. “Kalian gila kalau sampai berpikiran seperti itu. Asal kalian tahu. Dia yang sudah membuat kacau kedatanganku pada acara pernikahan senior kampusku, Taeyeon eonni. Pakaian ku basah semua karena dia mengambil paksa payungku, dan aku terpaksa harus membeli pakaian disebuah toko kemudian menggantinya.”
“Yang kedua, aku tertinggal kereta bawah tanah yang menjadi alternative terakhirku untuk pulang saat hujan deras karenanya. Dia mencegatku dengan mengira kalau aku adalah teman yang ditunggunya. Kami berdebat panjang sampai aku melupakan waktu. Yang ketiga, aku sedang menunggu di pemberhentian bus dekat stasiun kereta bawah tanah. Dan dia datang dengan payung basah yang diletakkan dekat buku kampusku. Dia membasahinya. Lalu yang ke empat? Aku bertemu dengannya pada jamuan makan malam hari ini dan dia mengacaukannya! Dan sialnya ternyata aku satu kampus dengannya.”
Aku menghempaskan tubuh pada sandaran jok tengah. Appa dan eomma hanya menyeringai kecil menanggapi ocehanku. Terlihat dari  kaca spion tengah yang bisa aku lihat dari sisi dudukku.
Ah-Ra eonni menepukkan tangannya dan menatapku dengan wajah berseri. “Hebat! Kalian bertemu pada waktu yang sama. Hujan. Dan pada lokasi yang berdekatan.”
“Kebetulan sampai lebih dari empat kali, menurut ilmu psikologi, itu adalah takdir.” Ujar Kyuhyun Oppa
***
“Kau datang dengan siapa pada malam pesta dansa besok?” Ha Gun menyikut lenganku. Menyadarkanku yang masih terpaku dengan layar laptopku.
“Molla. Sepertinya aku tidak berminat untuk datang.” Jawabku. “Kau tahu? Datang pada acara pesta dansa sama saja aku masuk ke dalam nerakaku. Mengenakan gaun, make up, rambutku yang harus diacak – acak menyesuaikan gaun, dan sepatu high heels. Kau seharusnya tahu aku. Tidak mungkin untuk seorang Cho Jehee mengenakan itu semua.”
“Kau pikir aku juga betah dengan pakaian seperti itu?” Dengus Ha Gun sembari menyeruput minuman hangatnya. “Ini akan aku jadikan sebagai hadiah 1st anniversary ku dengan Kyuhyun. Setidaknya dia harus pernah melihatku berdandan.”
“Ck, aku rasa Kyuhyun oppa akan mati kaku besok malam.” Sahutku. “Tapi kalau kau datang dengan Kyuhyun oppa, pasti aku akan ikut terseret dalam pesta dansa itu. Dan sialnya, sampai sekarang aku belum memutuskan dengan siapa akan datang.”
“MinHyuk bukannya mengajakmu?” Aku menggelengkan kepala.
“Dia terlalu baik, dan sepertinya akan mengekor denganku terus kemanapun aku pergi.”
“Siwon oppa juga menawarkanmu kan?”
“Dia mempunyai fans terlalu banyak. Kalau aku dengannya, sepulang pesta aku akan dihabisi oleh semua fansnya.”
“Eum.. Bagaimana dengan Kris? Kau masih menyukainya?”
“Tutup mulutmu! Kau kira aku mau mencari mati dengan datang bersamanya, hah? Sudahlah, aku juga sudah melupakannya. Dia hanya mantan kekasiku yang begitu terobsesi denganku.”
“Yak! Kau ini! pantas saja sampai sekarang belum mempunyai pasangan untuk datang ke pesta dansa. Kau terlalu mencari kelemahan setiap namja yang mengajakmu datang ke pesta dansa besok malam.” Ha Gun mengertakkan mejanya. “Untuk tawaran terakhirku. Aku akan mencobanya membuat dia mau dan kau juga harus mau.”
“Terserah kau sajalah. Aku sudah tidak berniat mencari namja untuk pesta dansa besok malam.”
“Kai. alias Kim JongIn. Namja jurusan kedokteran. Otte?”
“YAK HAN HA GUN KAU MAU MENCARI MATI DENGANKU, HAH?!”
***
Kim JongIn (Kai) PoV
Aku meletakkan sumpit disamping ramenku. Memperhatikan Jehee yang makan dengan lahapnya dihadapanku. Dia terlihat begitu menikmati ramennya siang ini. Atau entah karena memang kebiasaan makannya yang sangat mengkhawatirkan. Melahap semua makanan dihadapannya tanpa bernapas.
“Kau lapar?” Tanyaku yang hanya ditanggapi dengan anggukan kecilnya sebelum dia menyelesaikan makanannya secara kilat. Kemudian meletakkan sumpitnya dan mulai berceloteh panjang.
“Bayangkan saja. Hari ini aku harus menyerahkan laporan dua puluh lima berita pada dosen. Aku sendiri tidak yakin dia akan membacanya semua. Tapi yang aku dengar, dia akan membaca secara detail berita yang kita berikan. Bahkan dia tidak jarang mengecek langsung ke aktualan beritanya. Dan mencari berita actual itu melelahkan.”
“Habiskan dulu makanan dalam mulutmu baru bicara.” Aku menyentuh pipinya menggunakan sumpitku. Membuatnya sedikit mengercut kesal.
“Biarkan saja.” Dengusnya yang kemudian menyambar jus strawberrynya.
“Kau tidak menyadari cara makanmu yang bisa saja membuatmu jatuh sakit?” Ujarku akhirnya, “Makan dengan kecepatan tinggi kemudian dengan cepat menyambar minuman tanpa diberikan jarak. Apa kau belum pernah mendapatkan dampak buruk dari kebiasaan makanmu?”
“Yak, aku tahu kau calon dokter Kai~a. Tapi sepanjang hidupku, aku belum pernah mengalami dampak buruk apapun dari kebiasaan makanku. Karena selama ini Kyuhyun oppa melototiku setiap kali aku makan seperti ini.”
“Lalu? Apa kau butuh untuk aku pelototi agar makan dengan baik?”
“Tidak, terima kasih” Jawabnya dengan raut wajah menolak. “Aku lebih suka makan dengan gayaku seperti ini. perutku tidak perlu menunggu lama untuk terisi.”
“Tapi itu sama saja kau mencoba melukai dirimu. Perutmu bukannya senang, malah menjadi stress karenamu.”
“Tidak akan, karena aku tidak memberikan tugas dateline pada perutku.”
“Mungkin saja, karena mencerna makananmu sama saja seperti dikejar dateline.”
“Kau bisa berhenti merecoki urusan makanku? Aku rasa kau tidak ada hak untuk melarangku sedikitpun.”
“Aku punya hak, karena aku calon dokter. Dan aku harus mencoba mempraktekkan penyuluhan pada makhluk – makhluk sepertimu.”
“Kau pikir aku makhluk seperti apa, hah?”
“Makhluk tak tahu diri. Masih untung aku mentraktirmu ramen dan menasihatimu.”
“Kalau kau mau menyuruhku bayar sendiri aku juga bisa. Kau saja yang terlalu gengsi mentraktirku.”
“Sudah, habiskan minummu kemudian kita bicarakan permasalahan Ha Gun barusan.”
Dia nyaris tersedak saat aku menyebutkan perkataan terakhir. Matanya sempat membulat dan wajahnya berubah menjadi pucat seketika.
“Aku tidak yakin yeoja sepertimu tidak akan mempermalukanku pada pesta dansa besok malam” Tuturku setelah melihatnya selesai meminum habis jatah minumannya.
“Aku juga tidak yakin kalau kau akan membuatku tenang selama pesta dansa besok.” Sahutnya. “Lagipula aku sedikit meragukan.. kau untuk bisa berdansa?”
Aku menyeringai kecil. “Kau pikir aku makhluk sebodoh apa? Jangan remehkan aku dalam hal menari. Aku sangat ahli dalam hal dance, tarian Jazz, popping, dan looking dance. Jadi aku tentu tidak akan diragukan lagi dalam hal berdansa.”
“Cih, percaya diri sekali kau.” Cibirnya sembari melipatkan tangannya, “Aku tidak bisa berdansa. Itu adalah fakta tersialku. Kalau kau benar – benar ahli, setidaknya ajari aku dulu sebelum aku menjadi orang yang memalukan besok malam”
“Jadi? Kita sepakat untuk datang bersama pada pesta dansa besok malam?” Tanyaku untuk memastikannya. Ha Gun, temannya yang menyodorkanku beberapa waktu lalu. Hingga akhirnya aku bisa mendiskusikan dengannya dengan makan siang bersama.
“Mau tidak mau. Karena aku tidak punya pilihan lain.”
***
Dia mengumpat kesal setiap kali mendapat kesulitan dalam mempelajari gerakan yang aku ajarkan. Aku hanya memberikannya arahan tiga empat kali. Kemudian dia melanjutkan dengan berlatih sendiri. Mengulang sesuka dirinya.
Terkadang aku tertawa geli melihatnya yang begitu kualahan mempelajarinya. Sesekali aku mengerjainya dengan memberikan gerakan sulit. Dan segera diprotes olehnya. Dengan alasan ‘Gerakan dansa tidak mungkin sesulit itu’
Dia terlihat begitu manis hanya dengan kaos panjang berwarna coklat muda bergambar beruang dan celana jinsnya. Jehee sepertinya menyukai pakaian santai dan simple. Rambut panjang bergelompangnya pun dibiarkan tergerai bagitu saja tanpa ada selaan pita ataupun ikat rambut satupun. Dan aku menyukai sikapnya yang natural.
“Kau mengerjaiku lagi ya? Gerakan ini sulit sekali.” Keluhnya yang kemudian datang menghampiriku. “Kakiku sepertinya tidak akan aman jika terus – menerus seperti ini.”
“Tidak. Hanya saja ini akan mudah dipelajari jika kita berlatih bersama. Berdansa itu harus ada pasangannya. Jadi akan sulit jika kau hanya mempelajarinya sendiri.”
“Bersama? Maksudmu.. kita berlatih berdua?” Matanya sedikit membulat setelah mengerti maksud ucapanku.
“Memangnya besok malam kau mau berdansa dengan siapa? Denganku kan? Berarti kau harus mencoba berdansa denganku terlebih dahulu.” Aku berdiri dari dudukku. “Tapi kau jangan berpikir yang macam – macam karenanya.”
“Yak! Kau pikir aku yeoja murahan yang mudah mengira perasaan orang, hah?” Gerutunya yang kemudian membuntutiku ke tengah ruang latihan. “Setidaknya kau yang harus berjanji untuk tidak bermacam – macam atau mencari kesempatan padaku.”
“Cih, kesempatan apa yang bisa diambil? Lagipula tidak ada hal yang menarik darimu.”
“Tutup mulutmu, kemudian cepat ajari aku.” Dengusnya yang mulai kesal denganku.
***
Cho Jehee PoV
Kedua tanganku sempat merasa pegal untuk menutupi kedua telingaku. Lagi. Mereka yang lewat dihadapanku ataupun yang ada disebrang manapun, sibuk membicarakan pesta dansa nanti malam. Semuanya tersenyum senang sembari terus berceloteh ria tentang rencanya nanti malam.
Banyak diantara para yeoja yang sibuk membincangkan gaun dan sepatu terbaiknya yang akan dikenakan. Dan diantara para namja, sibuk membicarakan yeoja yang akan digandengnya. Saling membanggakan kecantikan yeojanya nanti malam.
Untukku, semua hal seperti itu sangat menjijikan. Aku tidak tahu sebenarnya aku ditakdirkan menjadi manusia normal atau tidak. Gaun ataupun sepatu high heels adalah benda terlangkaku. Pesta dansa atau pesta semacamnya juga sangat jarang aku datangi. Karena mau tidak mau aku harus ber make up ria. Atau ini dampak dari eomma dan appa yang tidak terbiasa membawaku ke acara – acara besarnya dari kecil?
Lagipula percuma saja kalau aku ikut membincangkan hal  itu. Gaun. Aku tidak punya banyak gaun untuk aku banggakan. Sepatu ber hak. Aku tidak punya koleksi berderet untuk itu. Dan namja. Aku rasa Kai tidak akan pernah menceritakan atau bahkan membanggakanku dihadapan teman – temannya. Kami sama – sama menjadi pilihan terakhir dan pasangan terpaksa.
“Jehee~ssi.” Kris melangkah menghampiriku. Membuatku sedikit terkejut dengan kedatangannya yang tiba – tiba berdiri dihadapanku. “Maaf, mengejutkanmu.”
“Gwenchana. Ada apa?” Tanyaku dengan sedikit memalingkan wajah.
“Kau, sudah mendapatkan pasangan untuk.. nanti malam?” Dia berujar sembari menggaruk bagian belakang kepalanya yang sepertinya sama sekali tidak gatal.
“Sudah. Memangnya kenapa?”
“Kalau boleh aku tahu, dengan siapa?” Kris bertanya dengan sedikit ragu.
“Dengan ku.” Kai datang dengan mengejutkannya entah dari mana. Dia segera merangkulku sambil tersenyum menyeringai.
“Oh, denganmu.” Kris terlihat sedikit canggung sesaat, “Baguslah kalau seperti itu. Aku permisi. Sampai jumpa Jehee~a”
Aku mengangguk kecil dan memberikan senyuman singkat padanya. Sebelum dia melangkah pergi dari hadapanku dan Kai. Mungkin maksudnya ingin menawarkanku datang bersamanya. Atau sekedar ingin tahu siapa namja yang akan bersamaku?
“Yak, lepaskan!” Aku melepaskan diri dari rangkulan Kai. “Apa yang kau lakukan hah? Dan sejak kapan kau berkeliaran di lingkungan fakultasku?”
“Melindungimu dari namja lain, yang bisa saja merebut pasangan untuk pesta dansaku.” Jelasnya yang kemudian menyelipkan tangan dalam saku celananya. “Dan aku kesini sengaja, Ah-Ra nuna barusan meneleponku. Dan satuhal yang ingin kutanyakan sebelumnya. Apa kau selalu menceritakan pada kakak – kakakmu apa yang terjadi setiap harinya?”
Aku mengangguk mantap. “Memangnya kenapa? Kyuhyun Oppa adalah orang yang tidak terlalu banyak bicara. Dan Ah-Ra eonni orang yang cukup ekspresif. Jadi, aku sudah terbiasa dari kecil untuk bercerita pada mereka. Apapun yang terjadi hari itu. Baik hal sekecil apapun, pasti mereka senang mendengarkannya.”
“Oh, begitu.” Ujar Kai. “Apa kau tidak bisa menutup mulut cerewetmu ini tentangku? Aku tidak tahu cerita apa yang kau sampaikan pada kedua kakakmu. Hanya saja, aku tidak ingin dibuat malu olehmu.”
“Aku tidak bisa janji. Karena aku tidak akan membuat janji kalau aku sendiri belum tentu sanggup menepatinya.” Jawabku, “Jadi, sekarang katakan apa yang dikatakan Ah-Ra eonni padamu.”
“Ck, aku harap kau lupa untuk bercerita tentangku.” Kai kemudian mengeluarkan tangannya satu dari saku, kemudian berpindah pada lenganku dan menariknya. “Ah-Ra nuna menyuruhku untuk menemanimu memilih gaun dan sepatu untuk nanti malam. Sebenarnya aku ingin menolak dan memilih untuk tidur nyenyak. Tapi sialnya aku mengangkat telepon tepat didepan eomma. Jadi mau tidak mau, aku harus melakukannya.”
“Kalau aku tidak mau?”
“Akan ku telepon Kyuhyun Hyung untuk menyeretmu dan memintanya yang menemanimu.”
“Jangan sampai kau melakukan itu. Karena berburu pakaian dan sepatu dengannya, akan membuatku patah tulang. Seleranya terlalu tinggi, dan aku bisa cepat mati karena mengellingi banyak mall.”
***
Kim JongIn (Kai) PoV
Jehee mencoba beberapa pakaian pada sebuah butik langganan nunaku. Ini adalah satu – satunya tempat yang aku ketahui ketika ingin mencari pakaian. Tidak ada yang lain, karena butik yang biasa aku kunjungi adalah butik khusus namja.
Sebenarnya aku ingin sekali menunggunya sembari tertidur. Sofa ruang tunggu butik ini cukup nyaman. Tapi bodohnya, rasa kantukku hilang begitu saja. Mataku malah terbuka lebar. Jantungku bekerja melebihi batas. Sekedar menunggu penampilannya setiap kali mencoba mengenakan gaun gaun cantik.
Aku menyukai semua gaun yang dikenakannya. Tubuhnya begitu ideal untuk semua gaun. Atau mungkin karena aku yang mulai menyukainya? Sampai sulit mencari waktu kapan dia terlihat jelek ataupun buruk.
“Aku suka yang ini. bagaimana menurutmu?” Jehee menyadarkan lamunanku sejenak. Terpesona dengan gaun keenam yang dia coba. Membuatku kembali sulit melihat mencari bagian terburuknya. Gaun orange yang sederhana tapi terlihat begitu indah karena sangat pas ditubuhnya dan sepatunya yang seragam yang dipilihnya membuatku nyaris sulit mengontrol ekpresiku.
“Eo?” Aku sedikit terperanjat, “Lumayan dan sepertinya cocok denganmu.”
“Hanya itu?” Dia berjalan mendekat ke arahku. Membuat kondisi semakin kacau. Aku sulit mengontrol kefokusan dan detak jantungku. Dia sempat berputar, memperlihatkan semua sisi gaunnya padaku sesaat.
“Memangnya harus bagaimana?”
“Kau tidak mempunyai kalimat panjang atau alasan logis yang sangat objektif, huh? Komentarmu terlalu pendek, dan mau kau suka ataupun tidak, tidak ada bedanya.” Ocehnya sembari merengut kesal.
“Haruskah? Lagipula yang mengenakan gaun itu kau.”
“Tapi yang melihatnya kan kau.”
“Memangnya kau tidak bisa melihat gaumu sendiri?”
“Bisa, tapi tidak bisa menilai secara umum kalau saja dilihat banyak orang.”
“Memangnya siapa yang ingin melirikmu?”
“YAK Kai~ssi!”
“Waeyeo?” Aku menatapnya segan, karena dia kembali mengeluarkan amarahnya. “Bisa tolong kecilkan suaramu?”
“Terserah maumu apa.” Dia meninggalkanku begitu saja setelah memanggil salah satu penjaga butik. “Agasshi, aku kira ini cocok untukku. Bisa tolong kau bawa gaun dan sepatu ini ke kasir?”
***
Aku melangkah turun dari mobil. Berjalan memasuki halaman depan rumah Jehee. Sedikit tidak percaya diri karena datang dengan kondisi kurang persiapan. Entah kenapa ini terasa seperti dalam drama korea. Ketika seorang namja mendatangi rumah yeojachingunya. Yang berkemungkinan besar untuk bertemu dengan salah satu anggota keluarganya.
Aih, Kai. Apa yang kau pikirkan sekarang, huh? Benar benar menggelikan!
“Kau sudah datang?” Kyuhyun Hyung membukakan pintu untukku.
Aku tersenyum singkat kemudian mengikutinya masuk kedalam ruang tamu. “Kau juga datang, hyung?”
“Alumni masih dibutuhkan untuk datang sepertinya,” Kyuhyun kemudian seperti beranjak kearah kuar. “Dan sepertinya aku terlambat untuk menjemput yeoja chinguku. Karena kau saja sudah sampai dirumahku.”
Aku menyeringai kecil memberikan salam singkat pada Kyuhyun Hyung yang beranjak keluar rumah. Dan tak lama, suara langkah kaki terdengar mengarah menuju ruang tamu tempat aku berada. Jehee menuruni tangga dengan sepasang sepatu yang mengantung ditangannya.
“Maaf, aku membuatmu menunggu. Ah-Ra eonni menyeretku ke hadapan meja riasnya. Jadi, habislah aku malam ini olehnya. Kau tahu? Rasa lipstick ini tidak enak. Aku tidak yakin akan makan dengan nikmat nanti. Dan bedaknya sedikit membuatku kurang percaya diri. Lalu rambutku? Entahlah, bagaimana jadinya. Aku tidak berniat melihat cermin setelah didandani olehnya.”
Dia kembali berbicara panjang sembari menghampiriku. Dan aku hanya tersenyum kecil menanggapinya. Dia terlihat begitu memesona malam ini. Sepertinya Ah-Ra nuna adalah perias handal. Atau memang dia yang terlalu cantik? Sampai hanya dengan sentuhan bedak tipis dan lipstick tak terlalu merah bisa membuatnya terlihat sangat memesona. Aku menyembunyikan kesenanganku karena melihatnya berdandan seperti ini.
“Kau tidak mengenakan sepatunya?” Tanyaku sembari menunjuk kearah sepatu yang tertenteng pada tangan kirinya.
“Nanti saja, kalau sudah sampai. Aku tidak ingin terlalu lama mengenakan benda mengerikan ini.”
“Oh, yasudah. Kita berangkat sekarang” Aku berjalan keluar menuju tempat aku memarkirkan mobilku. Dan dia mengikuti dari belakang. Bodohnya, aku berniat untuk membukakannya pintu. Tapi dia dengan santainya memasuki mobilku tanpa menunggu aba – aba dariku. Sial, dia terlalu tidak peka sepertinya.
“Kau lumayan juga dengan jas hitam. Apa karena aku jarang atau bahkan tidak pernah melihatmu serapih ini? Apa kau sendiri yang memilih jas ini? Atau eomma mu mungkin?”
“Tidak mungkin untuk aku bertanya soal pakaian dengan eomma.” Jawabku. “Dan kau,” Aku sedikit mencondongkan tubuhku kearahnya. Ketika lampu merah menahan mobilku untuk melaju. “Bisa tidak menutup mulut berisikmu itu?”
Jehee sedikit memundurkan tubuhnya, “Baiklah, setidaknya kau butuh alat penyumpal untuk itu.”
Aku menegakkan kembali tubuhku. Kembali melajukan mobilku karena lampu sudah hijau. “Aku punya coklat yang ku taruh di jok belakang. Ambil saja, dan anggap itu sebagai penyumpal mulutmu.”
“Aaaa, ide yang cermelang! Karena aku sangat menyukai coklat.”
***
“Kai~ssi” Sehun menghampiriku. “Pilihan yang keren”
“Apa?” Tanyaku yang masih kurang mengerti dengan maksudnya.
“Pasangan dansamu. Dia terlihat sangat cantik. Apa kau menyelidiki setiap anak kampus sampai bisa mendapatkan yeoja secantik itu,eo?”
“Cantik? Kalau kau sudah mendengar suara cempreng dan ributnya, aku yakin kau akan menarik kembali ucapanmu.” Ujarku dengan sedikit kesal. Semua kerabatku memujinya. Dan mereka terlihat begitu menyukai Jehee. Dan bodohnya, aku merasa kesal karena takut mereka akan mencoba menarik perhatian Jehee dan merebutnya dariku.
“Apa kau tidak merasa ada ketertarikan sedikitpun? Aku lihat saat kau berdansa tadi dengannya, kalian terlihat keren. Seperti ada chemistry tersendiri diantara kalian.” Sehun tertawa kecil sembari menepuk – tepukkan tangannya kepundakku.
“Ck, kau sama menyebalkannya dengan yang lain.” Gerutuku.
“Apa jangan – jangan kau kesal karena kami memujinya? Aku dengan Hyung-Hyung mu tertarik dengannya dan kau takut?” Sehun mengehentikan tawanya kemudian menatapku penuh selidik.
“Tidak mungkin, dan tidak akan.” Jawabku. Berusaha menutupi perasaan yang sebenarnya. “Lihat, dia datang. Tutup mulutmu jika kau berniat untuk mengolokku.”
“Kai~ssi! Apa kau masih ingin berlama – lama disini? Kalau masih, aku sepertinya ikut pulang dengan Kyuhyun oppa dan Ha Gun. Aku sudah merasa bosan disini. Dan kakiku mulai terasa patah karena mengenakan High Heels menyebalkan ini. Jadi, kau mau pulang sekarang atau tidak?”
Aku melirik kearah Sehun kemudian membisikkannya pelan. “Kau lihat? Seberapa panjang kalimatnya?”
Sehun tersenyum kecil, “Tapi dia terlihat manis saat berbicara. Apa kau tidak memerhatikannya?”
Aku menyikut lengannya. Sebagai pengganti pelampiasan kekesalanku. Kenapa semua orang bisa melihatnya? Sisi baik dan menarik darinya. Atau mungkin dia terlalu polos untuk menunjukkan sisi menariknya?
“Kau pulang denganku saja. Tidak baik kalau aku yang menjemputmu, tapi tidak mengantarkanmu pulang” Jawabku pada pertanyaan panjangnya.
“Baiklah, tapi setidaknya aku akan menunggumu dalam waktu sepuluh menit. Kalau kau masih tidak berniat pulang, aku akan pulang sendiri dengan taksi. Jadi, kalau kau sudah berniat pulang, hubungi atau hampiri aku. Aku ada disekitar anak – anak fakultas komunikasi.” Setelah dia menyelesaikan kalimatnya, dia melangkah pergi dari hadapan aku dengan Sehun.
“Yak, sepertinya dia begitu mandiri. Dan kau menyukai tipikal yeoja seperti itu kan?” Sehun menyikut lenganku.
“Aku sepertinya belum pernah menyebutkan tipe yeojaku padamu.”
“Tapi aku bisa tahu tipe yeoja yang cocok denganmu.”
“Maksudmu?”
“Yeoja yang manis, sangat pas dengan kau yang cukup tampan. Yeoja yang banyak bicara, sangat pas dengan kepribadianmu yang terkadang pendiam. Yeoja yang mandiri, sangat pas dengan ketidak pedulianmu, mungkin ketika kau lebih memilih untuk tidur daripada menemani yeojamu berbelanja. Bagaimana? Pendapatku benar kan?”
“Yak! Sehun~a, kenapa kau berubah menjadi seperti peramal jodoh seperti ini?”
***
Cho Jehee PoV
Malam yang keren. Aku nyaris sulit menuliskan semua perasaanku dalam buku harian. Sulit di gambarkan memang. Perasaan senang yang meluap ketika melihatnya datang menjemputku. Dan perasaan yang menakjubkan ketika melihatnya berpakaian rapih dengan jas hitamnya. Dia benar – benar terlihat tampan dan keren kemarin malam.
Berdansa dengannya adalah bagian yang paling aku sukai. Dia benar – benar ahli dalam menari. Semalam, ketika aku mendapat kesulitan ketika harus berdansa dengan sepatu ber hak tinggi, dia bisa mengatasinya dengan baik. Dan membuatku begitu menikmati berdansa dengannya.
Aku sebenarnya masih belum terlalu yakin. Dengan perasaan yang sebenarnya amat sangat menunjukkan bahwa aku mulai menyukainya. Perasaan nyaman ketika bersamanya. Tapi aku masih belum sanggup untuk menyukainya lebih dalam. Karena keraguanku dengannya.
Kris masih saja terkadang datang dalam hariku. Dan aku masih belum bisa benar – benar melupakannya. Dia terlalu baik sampai meninggalkan banyak kenangan manis dengannya. Dan aku masih terlalu takut untuk berpindah hati.
Kris mungkin masih menyukaiku, bisa terlihat dari tingkahnya yang masih berkeliaran disekelilingku. Tapi mungkin juga, dia hanya sekedar ingin menjadi mantan yang baik. Dan anehnya, aku sempat berpikir kalaupun dia memintaku untuk kembali, aku akan menolaknya. Dengan alasan lain yang sulit di jelaskan. Karena aku sendiri bimbang, aku akan menolaknya kembali karena traumaku dengannya atau karena Kai yang mulai mengisiku.
“Kau sepertinya menjatuhkan ini semalam di mobilku.” Kai menghampiriku dengan sebuah buku kecil ditangannya. “Buku catatan beritamu?”
“Aah! Hampir saja aku melupakannya. Gomawo, aku kira aku sudah menghilangkannya. Dan maaf telah merepotkanmu untuk mengembalikannya padaku. Dan satu lagi.. Kau tidak membaca isinya kan? Maksudku, kau tidak.. membuka buku ini selembarpun kan? Hanya menyimpannya untukku?” Aku sedikit khawatir kalau saja dia membaca isi buku ini. Berita – berita gagalku yang dipenuhi coretan tak karuan bisa menjadi hal yang memalukan kalau sampai dia membukanya. Terlebih aku kadang senang mencoret – coret bukuku dengan nama ‘Kris’ tanpa ingat untuk menghapusnya.
“Tidak. Hanya sempat melirik halaman awal yang tertulis nama.. Kris?” Dia menjawab pertanyaanku dengan sedikit penuh penekan pada nama Kris.
Sial, kenapa dia harus membukanya? Setidaknya tidak pada halaman yang ada tulisan nama ‘Kris’. Karena sudah dipastikan aku menuliskannya dengan gambar – gambar hati atau apapun itu yang cukup memalukan kalau dibaca.
“Yak, kenapa kau terlalu ingin tahu barang pribadi ku? Kau kan bisa saja menyimpannya tanpa harus membuka isinya. Aku paling tidak nyaman dengan orang yang membuka barang pribadiku.” Aku merebut buku kecil itu darinya.
“Kau menyukai Kris? Atau sangat menyukainya? Sepertinya ada banyak namanya di dalam buku catatan beritamu.” Kai berujar sembari memasang wajah meledek.
“Memangnya kenapa? Wajar saja aku menyukainya. Tapi aku rasa itu coretan lama. Karena aku sudah putus hubungan dengannya beberapa bulan lalu. jadi kau jangan berpikir yang macam – macam dan menyebarkan beritanya pada orang lain. Itu akan membuatnya salah paham.”
“Kau pernah berpacaran dengannya? Selama dua tahun lebih?”
Aku mengernyitkan kening. Darimana dia tahu berapa lama aku berpacaran dengan Kris? “Kau.. mengetahuinya darimana?”
Kai menunjuk kearah tanganku yang sedang memeluk beberapa buku. “Bagian paling depan bukumu ada sebuah lukisan kecil. Kau dan Kris. Sepertinya itu hadiah dari Kris? Terbaca sekali kalau dari dekat seperti ini.”
Bodoh, aku lupa membalikkan lukisan itu untuk tertutup. Aku baru saja turun dari mobil Kyuhyun Oppa setelah melihat – lihat kembali barang – barang simpananku beberapa bulan lalu yang sengaja aku tinggalkan dalam mobilnya. Saat aku putus dengan Kris, Kyuhyun Oppa lah yang menyimpankan barang – barangku di dalam bagasi mobilnya.
Lukisan ini sengaja dibuat Kris sebagai hadiah anniversary kami yang kedua. Dan aku yang sangat menyukai lukisan, begitu senang dan sangat sayang untuk membuangnya. Jadi hanya aku simpan begitu saja dalam bagasi mobil Kyuhyun oppa dan baru kulihat kembali pagi ini.
Tanganku segera membalikkan lukisan itu. “Matamu terlalu jahil,” Sungutku. “Tidak bisakah kau tidak memperhatikan atau bahkan mencaritahu tentangku? Itu sangat membuatku terganggu, dan maaf, aku terburu – buru masuk kelas sekarang. Sampai jumpa, semoga kita tidak bertemu lagi, mungkin?”
“Terburu – buru saja masih menoceh panjang,” Dengusan Kai yang sempat terdengar oleh telingaku membuatku berbalik arah dan menghentikan langkahku. “Apa kau tidak pernah mencoba berceloteh setidaknya tentang hari esok yang special bagiku yang akan datang?”
“Apa yang kau katakan barusan?”
“Tidak, hanya sepatah kata penyesalan untukku bertemu denganmu.”
***
Kakiku cukup pegal untuk sekedar berkeliling mall berjam – jam. Sebenarnya sudah menjadi kebiasaanku untuk mengelilingi mall. Tapi tidak se semangat dan seheboh ini. sampai setiap toko yang tertangkap oleh mataku, aku masuki. Mau itu penting atau tidak, aku hanya memikirkan kemungkinan akan ada barang yang mungkin disukai Kai.
Siang ini aku cukup dikejutkan setelah membaca majalah kampus. Sebuah artikel yang membahas tentang dirinya. Aku bahkan tidak mengetahui kepopulerannya di kampus sampai sehebat itu. Mungkin karena kehebatannya dalam segala bidang serta wajah yang lumayan, menjadi faktor pendukung.
Dan aku merasa sangat bersalah ketika baru mengetahui hari ulang tahunnya. 14 Januari. Dan itu berarti besok adalah hari ulang tahunnnya. Pantas saja dia sempat mendengus kesal tadi pagi. Hampir setiap yeoja dikampus sudah menyiapkan kado istimewa untuknya, sepertinya. Karena aku sempat mendengar beberapa rumpian yeoja dikampusku yang membicarakan hari esok.
Sialnya, sampai detik inipun aku masih belum bisa menemukan hadiah ulang tahun yang terbaik untuknya. Mengenalnya pun baru beberapa hari belakangan ini. Aku tidak tahu banyak apa yang dia sukai. Hanya sebatas tahu kalau dia menyukai ayam goreng dan dance.
Drrt..
“Ne, Kyuhyun Oppa?” Aku mengangkat ponselku kemudian menempelkannya pada telinga. Sembari terus berjalan mengelilingi mall kemudian membuang pandangan jeli pada setiap barang yang aku lihat.
“Neo eodiga? Apa kau melupakan acara keluarga sore ini?” Aku menepukkan telapak tangan pada kening dan mengumpat kesal. Mengingat akan ada jadwal pertemuan keluarga yang akan menghambat pencarian kadoku.
“Ah, mian oppa. Sepertinya aku melupakannya. Jam berapa acaranya? Apa boleh kalau aku tidak ikut untuk sekali ini saja? Aku rasa aku mempunyai kepentingan mendesak.”
“Kepentingan apa? Jam empat sore acaranya”
“Kepengtingan.. eng.. temanku ada yang ulang tahun besok dan aku sama sekali belum mempunyai hadiah untuknya. Jadi aku harus mencarinya sekarang.”
Nugu? Kai?” Aku nyaris terperanjat. Kyuhyun Oppa selalu bisa menebak apa yang ada dalam pikiranku.
“Eng.. emm.. sepertinya kau menebak dengan benar.” Sial, kenapa aku harus gugup hanya untuk mengakuinya? Tidak masalahkan untuk aku mencarikan kado ulang tahun pada Kai?
“Tidak usah gugup Jehee~a, itu akan memperjelas kalau kau mulai menyukainya. Benar kan?”
“Bisa tutup mulutmu dulu tentang itu? Aku mohon padamu untuk aku diizinkan tidak ikut acara keluarga kali ini. yaaa? Jebalyeo oppa~~”
“Tidak bisa. Halmoni akan kecewa kalau kau tidak datang. Kita sudah terlalu lama tidak menjenguknya bersama saudara lain.”
“Baiklah, aku pulang sekarang. Tapi.. apa kau bisa menjemputku? Aku rasa aku tidak membawa ongkos yang cukup untuk sampai rumah.”
***
14 Januari 2013
09 : 19 a.m
Seoul, South Korea

Cho Jehee PoV
“Jangan tanyakan aku tentang kenapa aku datang kembali ke lingkungan fakultasmu. Hanya ikuti saja aku, dan tutup mulutmu sementara sampai kita tiba.”
Aku mengernyitkan keningku saat melihat Kai menarik lenganku kemudian menuntunku berjalan disampingnya. “Tiba? Tiba dimana? Kau sebenarnya mau membawaku kemana, hah? Aku masih harus mengumpulkan tugas kelompok pada temanku untuk mengeditnya sebelum dikumpulkan pada dosen. Dan aku..”
Kai menghentikan langkahnya. membuatku yang berjalan dengan tuntunannya nyaris menubruknya yang mengerem secara mendadak. Dia berbalik badan menghadap kearahku. Dengan tatapan matanya yang masih belum aku mengerti maksudnya. Hanya saja, tatapan itu berhasil membuatku terdiam dan tidak berpikir untuk membuka mulut lagi.
Sebenarnya, aku memilih untuk diam karena takut dia akan menatapku seperti itu lagi. Yang aku yakin dalam hitungan detik wajahku akan memerah seperti kepiting rebus. Dan tidak baik juga sepertinya pada kerja jantungku.
Butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk aku berjalan mengikutinya. Ingin rasanya aku memuntahkan kekesalanku karena rasa pegal yang bertubi. Kemarin saja, pegalku belum lama hilang sekarang sudah ditambah lagi olehnya. Tapi aku terlalu takut untuk membuka mulut untuk sepatah katapun.
“Sampai, dan kau boleh duduk disitu,” Kai menunjuk kearah sebuah batu besar yang bisa aku duduki. Batu itu bisa mencakup dua sampai tiga orang.
“Kalau.. berbicara, sudah boleh belum?” Tanyaku dengan sedikit ragu.
Dia terdiam sejenak. Kemudian meledakkan tawanya yang membuatku terheran. “Apa sebegitu gatalnya lidahmu untuk tidak berbicara selama sepuluh menit?”
“Memangnya kenapa? Aku sendiri tidak tahu mulutku itu sebenarnya terbuat dari apa. Yang tidak bisa tahan untuk tidak bicara. Apa kau tahu? Sewaktu aku lulus sd kemudian masuk SMP, aku berniat untuk menjadi anak pendiam. Penyendiri yang tidak banyak bicara. Aku ingin teman – teman baruku mengenalku sebagai Cho Jehee yang tidak banyak bicara. Tapi sialnya, hanya berhasil selama tiga bulan pertama. Dan mereka mengira itu hanya sebagai adaptasiku dilingkungan baru.” Tanganku mulai memukul – mukul ringan kedua kakiku yang terasa sangat pegal.
“Dan kau Kai~ssi. Apa kau tidak tahu kalau kemarin aku mengitari dua mall dengan lima putaran lebih setiap mallnya? Aku kemarin sudah seperti pengintai toko yang tidak jelas. Dan sekarang kau mengerjaiku dengan berjalan selama sepuluh menit lamanya. Aku rasa kakiku akan patah sepulang ini. yah, walaupun aku tahu, pemandangan ini cukup indah”
“Aku akan menggendongmu kalau kau lelah nanti,” Aku membulatkan mata dan mengarahkan pandangan fokus padanya. Mengecek apakah pendengaranku memang sudah rusak atau dia benar – benar berbicara seperti itu. “Kalau kau lelah, aku bisa menggendongmu. Karena aku juga bisa menjadi kakimu. Menjadi mulutmu juga bisa kalau kau memang sudah lelah untuk berbicara panjang.”
Kai mengambil posisi duduk disampingku. Dengan kepala yang menoleh padaku. Dan tatapan mata yang cukup membuatku keringat dingin dan nyaris melakukan hal – hal memalukan. “Apa.. maksudnya.. kau..”
“Kau tidak mau mengucapkan kata special hari ini untukku?” Kai menghiraukan perkataan raguku.
“Apa?”
“Kata yang seharusnya kau katakan hari ini padaku. Aku sudah menutup telingaku pada setiap orang yang ingin mengatakan itu padaku. Karena aku ingin kau yang pertama kali mengatakannya.”
Aku tersenyum simpul, mengerti maksudnya. Tanganku membuka tas yang aku bawa. Mengeluarkan sesuatu yang sudah aku siapkan untuknya. “Saeng il Chukake Kim JongIn~ssi. Semoga kau bisa menjadi orang yang lebih menakjubkan di umurmu sekarang. Menjadi sosok Kai yang bisa membuat semua orang senang dan bahagia melihat kehadiranmu yang berarti. Dan.. ini. tadi pagi aku sengaja membuatkan ini padamu. Karena hanya ini yang aku tahu tentang kesukaanmu.”
Kai tersenyum lebar dengan sedikit mengeluarkan tawanya. “Gomawo Jehee~ssi. Sinjja gomawo~” Tangannya beranjak untuk mengacak ringan rambutku. “Terima kasih untuk fried chicken special ala chef Jehee pagi ini. Dan terima kasih untuk doamu.”
“Apa kau ingin mencobanya?”
“Nanti setelah aku menanya kan beberapa hal padamu.” Kai menyimpan ayam gorengnya disamping kiri.
“Menanyakan beberapa hal? Apa itu?”
“Tentang kau, dan aku. Kita berdua.” Aku terdiam, berusaha untuk mengerti maksudnya. “Apa kau tidak merasakan hal aneh ketika kita.. sedang bersama? Seperti saat ini. Aku sangat merasakan hal yang tidak wajar. Dan sepertinya aku sakit.”
“Sakit?”
“Ya, aku sakit. Aku harus segera masuk kerumah sakit khusus penanganan jantung. Dan aku harus membawamu sebagai bukti. Karena gejala jantungku yang berdetak kencang itu ketika kau bersamamu. Penyakit pernapasan juga mulai aku rasakan. Tapi ketika kau berada dalam jarak jauh, tidak disampingku. Aku merasa sesak dan sulit bernapas. Menyadari oksigenku yang hilang, yaitu kau. Apa kau merasakannya juga? Kalau kau tidak merasakan ke anehan itu, berarti aku yang salah.”
“Tapi aku tidak mungkin salah,” sambungnya, “karena aku yakin, tuhan benar – benar mengirimkanmu untukku. Sebagai peri takdirku.”
“Aku tahu, kau mungkin belum mengerti maksud pembicaraanku yang tak mengarah sedari tadi. Yah, anggap saja itu karena.. kegugupanku mungkin? Untuk.. mengatakan hal sebenarnya.”
“Apa? Aku mungkin bisa berbicara panjang, tapi aku sulit mengerti kalimat panjang, Kai~ssi” Protesku padanya yang masih memutar – putarkan kalimatnya tanpa intin yang jelas.
“Baiklah, aku.. Hanya ingin kado ulang tahun darimu.”
“Aku sudah membawakan ayam goreng sebagai hadiah ulang tahun. Dan kalau kau mau yang lebih baik.. nanti aku akan usahakan untuk mencarinya. Tapi tidak sekarang, aku masih belum tahu banyak tentang yang kau inginkan. Atau.. kau sebutkan saja apa keinginanmu”
“Dan kau yakin akan memberikannya untukku?”
Aku mengangguk, “Tentu saja. Memangnya apa yang kau inginkan? Sepatu untuk kau dance? Sendok makan terkeren untuk membantumu makan dengan cepat dan bisa menyaingiku? Aku teraktir untuk nonton, makan dan jalan – jalan sesukamu bersamaku? Atau apa?”
“Kau.”
“Apa?”
“Aku ingin Kau.” Aku terdiam kemudian membalas tatapan matanya yang mulai menatapku dengan penuh arti. “ Aku hanya ingin kau yang selalu ada disampingku. Tersenyum bahagia dan menjadi milikku selamanya. Karena hanya dengan kau, aku bisa melakukan semua hal bodoh yang sebelumnya tidak pernah aku lakukan, dan aku menyukai itu.”
“Ketika aku lebih memilih untuk menunggumu mencoba gaun dan sepatu dengan mata terbuka, bukan tertidur. Karena sebelumya aku memang lebih suka untuk tidur dikesempatan lenggang apapun. Ketika aku dengan cepat memutuskan kau, sebagai yeoja yang akan aku  ajak pada malam pesta dansa. Karena banyak yeoja yang menawarkanku, tapi aku tahu, tidak ada yang lebih istimewa darimu.”
“Mungkin hanya aku saja yang merasa kenyamanan dan kesenagan tersendiri ketika kita bersama. Dan mungkin pula hanya aku yang berharap untuk pertemuan – pertemuan berikutnya. Mulutku memang selalu mengumpat setiap kali harus berhadapan denganmu. Tapi hatiku selalu tersenyum ketika tahu akan ada kesempatan untuk melihat wajahmu. Tapi.. kalau kau keberatan untuk.. memenuhi permintaanku tidak apa. Aku tahu, dan aku mengerti. Masih ada Kris yang tersimpan jauh didalam hatimu.”
“Kau sepertinya sudah tertular olehku,” Ujarku kemudian. “Bicaramu sudah bisa melebihi panjang kalimat biasaku.”
Dia tersenyum kecil dan aku hanya membalas senyumannya sejenak, sebelum aku kembali berbicara. “Memang, sepertinya hanya kau yang mengharapkan itu. Aku sama sekali tidak mengharapkan untuk melihat wajahmu lagi dipertemuan berikutnya.”
Senyumnya menghilang. Tatapannya semakin mendalam dan penuh harap padaku. “Tapi itu yang sebenarnya yang aku inginkan. Untuk terus membenci setiap pertemuan kita. Membenci setiap kesialan yang aku dapat setiap bertemu denganmu.”
“Bodohnya aku, aku malah mulai menyukainya. Aku mungkin tidak mengharapkan wajahmu, tapi aku mengharapkan kehadiranmu. Kehadiran yang bisa membuat jantungku bekerja keras, napasku yang tercekat, darahku yang terasa mengalir lebih cepat dari biasanya, dan aku menyukai itu. Perubahan – perubahan yang terjadi padaku setiap kali kau datang menghampiriku dan berada didekatku.”
“Mungkin kau tidak sebaik Kris saat sedang mengomentari penampilanku, gaunku, dan sepatuku. Karena aku tahu, Kris memang orang yang sangat menyukai Fashion sedang kau adalah orang yang tidak banyak bicara. Mungkin juga kau tidak sebaik Kris yang senang membagi perhatian padaku. Karena kau sepertinya tipe namja yang cuek, tidak terlalu peduli.”
“Tapi asal kau tahu, aku sebenarnya menyukai namja yang cuek. Namja yang jarang sekali menunjukkan ketertarikan dan kepeduliannya. Tapi sebenarnya dia sangat berusaha untuk peduli. Sekali dia menunjukkan perhatiannya, itu akan sangat terasa lebih berkesan.”
“Jadi? Apa aku masuk dalam tipikal namja mu? Namja yang kau harapkan?”
“Menurutmu?”
“Kalau kau bertanya pendapatku, tentu saja aku jawab iya. Karena aku memang menginginkanmu. Yeoja bawel dengan mulut tak bisa disuruh diam sepertimu, sepertinya masuk dalam tipikal yeojaku. Karena hanya kau yang bisa membuatku berbicara dengan panjang dan menjadi sosok Kai yang lebih hidup dari biasanya.”
“Jadi?”
“Kau sah, menjadi takdir hidupku mulai hari ini. Dan tidak ada batas waktu. Kalau Kris masih menganggumu, itu urusanmu. Yang penting kau sudah berjanji untuk menyanggupi keinginanku hari ini. dan kalau kau berani untuk menanggapi Kris, jangan salahkan aku kalau kau masuk dalam perangkapku. Dan kau, akan aku penjara” tangannya mengarah pada ujung kepalaku, dan sekali lagi dia mencak ringan rambutku. Sebelum akhirnya kami berebut ayam goreng yang aku bawakan sebagai hadiah ulang tahunnya.
END