Kamis, 28 Juni 2012

Dear You (Part 1) ~special to Niall and Lee Donghae~

hai guys, ini gue lagi iseng iseng ajaa._. ff ini tuh ada anak anak 1D juga loh~ gue jujur aja, mulai tertarik jadi directioners :D tapi directioners yang masih care sama kyuhyun ;) ini semua gara gara niall. dia terlalu bikin gue ngerasa wow *curhat* jadi ceritaya gue (Jehee) numpang tinggal dirumahnya Ha Gun yang warga negara korea tapi bokapnya orang UK selama Jehee sekolah. nah, terus niall itu temen sekampus Jehee waktu pas niall pengen awal debut sama 1D. dan donghae oppa, yang udah naksir Jehee dari awal kyuhyun(kakak Jehee) ngenalin, ngerasa tersingkir sebagai 'kakak kakak'annya Jehee. okelah, readers baca aja yaa langsung. niatnya pengen dibikin 2 part. tapi gatau juga. liat situasi moodnya gue ya._.v hehe. selamat membacaaaaaaaa ;)


Dear you,
Kamu yang tersenyum dengannya,
Kamu yang berbunga karenanya,
Kamu yang berbahagia karenanya,
Dan kamu,
Yang melupakanku yang mulai rapuh karena kehadirannya.

Author pov
“EOMMAAAAAAAA!!!!!” Ha gun melepaskan jatuh tasnya ke lantai pintu depan kamarnya dengan mata membulat karena kekagetan yang meluap.
“wae ha gun-ssi?” eomma dengan tergesa menghampiri Ha gun.
“ige mwoya??” Ha gun mengangkat semua perabot kamarnya yang berubah drastic dengan mulut ternganga syok. Seakan dunia ini terbalik melihat seisi kamarnya. “ aku tidak salah masuk kamar, kan?”
“eo, mianhae ha gun~a. eomma lupa memberitahumu kemarin. Cho Jehee, anak teman akrab eomma datang untuk tinggal sementara selama dia menyelesaikan kuliahnya di UK ini.”
“lalu? Kenapa semua barang barangku bisa disulap seketika menjadi seperti ini, eomma?” Ha gun berujar pasrah. Melihat sekeliling kamarnya yang dulu dihiasi dengan tempelan dinding game dan berbagai perabotan tomboynya kini berubah menjadi bernuansa orange yang sedikit dipenuhi pernak pernik yeoja.
“itu Jehee yang memindahkan barangnya sedikit. Lagi pula, ini juga bagus untukmu.” Eomma Ha gun bersiap untuk kebali ke kamarnya, menghindar dari amukan anaknya. “belajar untuk menjadi gadis, Ha gun~a”
“CHO JEHEEEEEEE, EOMAAAAAAA! YAK! Eodiga?”
1 month later~
“eonni~a.” Jehee merebahkan tubuhnya keatas kasur dan menjajarkan tubuhnya disamping Ha gun yang tengan asik dengan permainan PSPnya.
“wae?” Ha gun menyahut sekenanya, “kau sudah pulang, eo?”
“ne. dan kau tau eonni, siapa yang mengantarku kesini?” Jehee meraih boneka teddy bear kesayangannya sembari memeluknya erat. Dan memainkannya sedikit.
“nugu?” Ha gun masih saja serius dengan game barunya. Tanpa memperhatikan raut wajah adik angkat barunya ini. dia sudah menganggap Jeheenya sebagai adiknya semenjak tiga minggu yang lalu. Setelah akhirnya mereka bisa menemukan titik tengah dan bersahabat.
“cho kyuhyun oppa,” Jehee mendesah. “Kau pasti tidak mengenalnya. Percuma saja aku cerita padamu. Kau bukan pemuja namja.”
Ha gun meletakkan PSPnya kemudian menatap kesal Jehee. “ne? aku masih waras, Jehee~a. aku bukan pemuja namja bukan berarti aku tidak menyukai namja, ara?”
“lalu, siapa namja kau sukai?” Jehee mulai tergelitik dengan pertanyaan itu. Sebenarnya banyak namja yang datang padanya untuk menanyakan banyak hal tentang Ha Gun. Dan Jehee yakin mereka sudah jatuh hati engan eonninya sangat lama.
“tidak ada” jawab Ha Gun cepat. “lalu? Lanjutkan ceritamu. Ada apa dengan namja yang bernama Cho kyuhyun? Kau menyukainya? Atau dia menyakitikmu? Ingin aku membunuhnya, eo?”
Dengan cepat Jehee menyambar bantal dan menimpuknya ke kepala Ha Gun. “bodoh. Eonni~a. kenapa yang ada dipikiranmu selalu ingin membuunuh orang, eo? Hilangkan pikiranmu tentang novel krimnal itu.”
“yak, appaseo Jehee~a” Ha gun mengelakkan bantalnya dari hadapan mukanya.
“dia kakak laki lakiku. Kau tidak mendengar tadi? Cho-kyu-hyun. Jelas jelas marganya sama denganku ‘Cho’ kau ini bagaimana” dengus Jehee.
“lalu?” ha gun mengangkat alis sebelahnya.
“kau tahu, dia selalu saja mengungkit permasalahan aku dengan donghae oppa.”
“donghae oppa? Nugu?” Ha gun mendudukkan tubuhnya. “aihh, kau membuatku bingung. Sebenarnya siapa itu kyuhyun oppa dan donghae oppa huh?”
“kau ini bodoh sekali. Selalu sulit untuk mencerna perkataan orang. Tapi terkecuali mencerna permain game” jehee ikut mendudukkan tubuhnya kemudian menyandarkan tubuhnya ke pundak ha gun.
“cho kyuhyun oppa, dia kakak laki lakiku. Dan donghae oppa. Namja ayang belakangan ini hadir dihari hariku, eonni~a” Jehee mulai bercerita. “aku tahu, kau tidak terlalu mengerti perasaan cinta. Tapi aku yakin eonni mengerti perasaan seorang manusia.”
“kau ingat niall? Namja teman sekampusku yang sedang aku gilai?” Ha gun mengangguk. “dia sekarang mulai dekat denganku. Bahkan entah apa yang membuaat dia tertarik untuk meminta nomor ponselku, semenjak itu kami semakin dekat. Dan kau tahu eonnie? Hae oppa sepertinya tidak menyukai kehadiran niall.” Jehee menghela napas putus asanya. “donghae oppa sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri. Dia teman dekat dengan kyuhyun oppa, sama berartinya sebagai kakak seperti kyuhyun oppa. Dan aku tidak ingin dia merasa tersingkirkan dengan kehadiran niall, eonni~a”
“eo, arasseo.” Ha gun mengangguk ringan, “jadi, intinya kau ingin dekat dengan niall tanap mengusik perasaan tersingkirkan donghae oppa mu?”
“ne, eonni. Otte?” jehee kembali menegakkan tubuhnya dari sandaran Ha gun.
“eumm, sepertinya.. lebih baik kau tanyakan saja pada kyuhyun oppamu. Mungkin  dia lebih mnegerti. Hehe” ha gun hanya menyengir menatap tak tahu pada Jehee yang memanyunkan bibirnya kesal. “percuma aku bercerita panjang lebar padamu, eonni”
                                                                        ***
Cho Jehee pov
Belakangan ini niall sudah jarang menghubungiku. Sesekali hanya mengirim pesan yang kemudian jarang dibalasnya. Kudengar dia sudah bergabung dengangrup semacam boyband yang bernama one direction. Dan pihak management sedang sibuk memeprsiapkannya. Aku tahu, itu akan sangat membuatnya sibuk setengah mati. Sampai tak ada waktu untukku. Yeah, aku cukup memaklumi itu.
Tapi sepertinya kegelisahanku akannya mulai menjadi. Beberapa kali kami berpapasan dan dia sama sekali tidak menyapaku seperti biasa. Sekalipun kami beradu mata dan terkadang nyaris menabrak, tak ada satu reaksipun darinya.
Rasa sesakku mungkin akan segera muncul dan keputusan akhir yang akan kupilih nanti seandainya rasa sesak itu ada adalah mengurung diri dikamar dengan mengusir kehadiran Ha Gun eonni. Tak peduli seberapa menyeramkannya eonni marah padaku.
Drrtt.. drrrrrrtt..
“ne, oppa?”
“aku sudah tiba di UK. Kau bisa menjemputku sekarang di airport? Hmm.. aku kurang tahu jalan, hehe.”
Mataku mebulat. Untuk apa dongahe oppa ikut ikutan datang kesini?, batinku dalam hati. “ne oppa. Tapi, untuk apa kau datang ke UK, eo?”
“super junior akan tampil besok malam. Apa kyuhyun belum memberitahumu?”
“belum. Yasudah oppa, aku berangkat kesana sekarang. Annyeong, sampai bertemu disana.”
ne, je~a. annyeong” aku segera menutup samungan teleponku kemudian menyambar tas kecilku yang tergantung di pintu lemari pakaianku. “eonnii, aku pinjam mobilmu!”
“YAK! Neo michiseo? Kau yakin bisa membawa mobil? Tampang sepertimu takkan bisa, biar aku yang bawa.” Ha gun merebut kunci mobil yang tadinya ingin aku raih, kemudian hanya cengiran kecil yang keluar dari mulutku.
“kita kemana?” ha gun memasang silt belt mobil sambil bersiap menyalakan mesin.
“airport eonni, menjemput hae oppa. Dia katanya kurang tahu jalan dan memintaku untuk menjemputnya.” Jawabku.
“modus sekali hae oppamu,” desis ha gun sedikit terdengar kurang jelas oleh telingaku. “memangnya ada acara apa sampai sampai kyuhyun dan donghae mendatangimu ke UK seperti ini?”
“ne?ani, super junior akan konser besok malam. Ngomong ngomong, eonni mau ikut nonoton tidak?”
“mwo? Super junior? Aku benci itu. Namja manja dengan hanya menjual wajah dan pesonanya.” Dengus Ha gun sambil mulai melajukan mobilnya, “lalu, untuk apa para oppamu itu menontonnya? Menjijikan untuk seorang namja yang tergila gila pada namja”
“ck, eonni!” aku menghentakkan kakiku kesal. “tidak baik untuk aku membencinya, bahkan menghinanya didepanku.”
“wae? Kau salah satu penggemarnya? Ck, buang semua hal tentang itu jauh jauh, jehee~a. tidak penting.” Ha gun melirik sedikit kearahku.
“aku bukan hanya penggemarnya, eonni.” Tukasku, dengan sedikit penekanan setelahnya. “aku, cho Jehee, adik dari member super junior, cho kyuhyun. Dan kau terlalu bodoh untuk tidak mengenal cho kyuhyun dan lee donghae sebagai anggota super junior yang hampir seluruh penjuru dunia tau.”
Nyaris saja terjadi rem mendadak yang ditimbulkan dari kekagetan Ha gun eonni, membuatku ingin tertawa kecil melihat kebodohannya. “sinjja?” mataya sedikit membulat. “mian Jehee~a, bukan maksudku untuk menghina keluargamu, tapi aku benar benar tidak menyukai mereka.”  
Ha gun eonni kembali focus dengan mengemudinya. “dan sepertinya semalam kau lupa untuk mejelaskan siapa kyuhyun oppa mu sebenarya.”
                                                            ***

“apa salahku oppa?” mataku menatap lirih pemandangan malam kota UK yang terlihat ramai dari apartement luar rumah Ha gun eonni.
“salahmu?” hae oppa menghela napas sejenak. Menimbulkan sedikit asap akibat cuaca dingin yang membuat kita nyaris beku disini. “kau terlalu bodoh, je~a”
“bodoh? Kau berniat meledekku atau apa oppa?” alisku sedikit terngkat sebelah. Dan menatap tantang hae oppa yang berdiri sejajar denganku.
“bodoh untuk terlalu menempel pada niall tanpa berpikir panjang.” Hae oppa membalikkan tubuhnya menghadapku. “dia manusia, tentunya mempunyai batas kesabaran.awalnya kau telihat lucu dan menarik dengan tingkahmu. Mungkin lama kelamaan niall juga merasa risih dengan kehadiranmu. Dan kau tidak memperhtikan itu , Je~a.”
Hae oppa menatapku lebih dalam, namun tatapan itu terasa kosong. “dia benar untuk menjauhimu. Karena dia pasti punya dunianya sendiri. Dan itu, tanpa seorang yeoja yang bernama. Cho. Je. Hee, ara?” ada sedikit penekanan dinamaku, yang membuatku merasa terpojok.
Aku berusaha menaan sesak didada yang mulai teraa menusuk. Mengerjapkan mata dan menatap bulat hae oppa. “oppa. Aku. Sama sekali. Tidak menempelinya. Ara?” balasku cukup dengan penekanan yang sama. “dia yang meminta nomor ponselku telebih dahulu. Brarti bukan aku yang memulai.”
Hae oppa berdecak sekaligus tertawa kecil disudut bibirnya terkesan menertawai remeh diriku. Sungguh mala mini dia bersikap kejam padaku. Dan aku tidak tahu seberapa berubahnya dia padaku. “bodoh, dia tidak akan memulai tanpa kau yang menarik perhatiannya terlebih dahulu dengan tingkahmu. Aku tahu itu.”
Dengan spontannya aku menghentakkan kakiku kesal. “lebih baik kau pulang ke hotelmu.” Ujarku cepat dengan meninggalkannya tanpa salam atupun senyuman sedikitpun. Aku tahu, niall membuatnya merasa tersingkir. Tapi segitu jahatnya kah aku? Samapi dia bersikap kejam dan memojokkanku?
Oppa wae? Mianhae kalau aku yang membuatmu merasa tersingkir. Tapi asal kau tahu, sesak ini bukan karena niall menjauh dariku, entah kenapa. Tapi sesak yang kurasakan karena sifatmu yang berubah dengan drastic dan mulai menyingkirkanku dalam hidupku. Itukah mau mu?
“Jehee~a!” Ha gun menyelipkan kepalanya dipintu sambil menyodorkan telpon rumah padaku. “maaf aku mengganggu acara menangismu, tapi niall menelefon. Seperti kau akan dapat tiket gratis untuk konser 1D besok malam. Eo, jangan lupa minta dua tiket. Karena aku juga menyukainya. Zayn tepatnya”
                                                            ***
Lee Donghae PoV
Aku menghela napas putus asaku. Berusaha mengurangi sesak yang mulai memburu dadaku. Menyandarkan tubuhku pada kursi kemudi mobilku. Tanganku meremas stir mobil dengan sedikit rasa geram. Menahan rasa pilu dan kerapuhan hatiku yang sangat untuk malam ini.
Mungkin malam ini Jehee akan mengurung dikamar dengan mengusir Ha Gun dan menelungkupan diri menangis terisak karena niall yang tak kunjung datang kembali padanya. Niall yang dia kejar setengah mati yang sudah tidak mengenalnya lagi. Sesak karena ketiadaan niall disisinya. Tanpa memikirkan rasa sesakku karenanya. Kerapuhan hatiku yang dibuatnya.
Atau bahkan dia menangis karena perkataan perkataan yang menusukku tadi. Merasa bersalah dan sadar akan kelakuannya pada niall. Kemudian membuat keputusan untuk menelpon niall dan memohon maaf. Semaaf maafnya dan kemudian berharap niall kembali padanya.  Dan aku, kembali disingkirkan. Dengan mudahnya.
Awalnya aku sama sekali tidak berambisi untuk merebut hati Jehee sedikitpun. Cukup mengetahui dia ada dalam kondisi yang baik, dan selalu bersamaku. Itu sudah lebih dari cukup membuatku tenang hidup di dunia ini. dengan putri kecilku.
Memang benar apa yang dikatakan kyuhyun waktu itu. Saat aku menghiraukannya yang menyuruhku untuk memperjuangkan semua perasaan ini.
“kau ini bodoh apa huh?jangan sesali kalau lain waktu kau tidak bisa menggenggamnya lagi. Bahkan untuk menarik dia sedikit kearahmu. Karena kau bukan siapa siapanya saat itu”
Aku pikir kyuhyun itu terlalu jeius atau dia yang peramal. Bisa memperkirakan semua hal dimasa mendatang. Tapi satu hal yang sama sekali dia belum bisa perkirakan. Takdir. Aku tahu, menurutku semua hal yang akan terjadi itu adalah takdir. Tapi menurutnya berbeda. Takdir hidup. Yeoja. Dan aku masih belum mengerti tentang itu.
Mungkin, takdir hidupku Jehee. Tapi semua itu akan terlihat mustahil. Ketika mata Jehee yang berbinar dan perasaan yang menggebu saat dia menceritakan semu tentang niall dengan bangganya dihadapanku. Tanpa menyadari arti perasaanku. Semua perhatianku, ke adaan diriku, untuknya. Bukan semata mata sebagai kasih sayang sebagai kakak. Tapi seorang namja yang jatuh hati.
                                                            ***
Mataku melirik gusar jam tangan yang sudah menandakan lima menit trakhir untuk aku berdiri diatas panggung konser super junior malam ini. mataku berkali kali berusaha menatap jeli sekerumunan elf yang sangat ramai. Tempat favorit Jehee adalah baris dua dari depan. Dan sama sekali tidak ada wajahnya sekilaspun.
Ini mustahil, tapi mungkin mungkin saja. Dia mungkin marah dengan perkataanku kemarin. Dan berniat untuk tidak datang sama sekali. Memilih untuk menangisi niall. Daripada menyaksikan oppa oppa nya tampil dengan sangat keren malam ini.
“mana adik tersayangmu itu hae~a” leeteuk hyung memukul ringan pundakku dengan botol minum yang dibawanya sembari berjalan menuju ruang ganti.
“molla, mungkin menunggu diruang ganti” ujarku sembari berdoa kalau itu harus benar benar terjadi. Dalam hati aku terus menjeritkan kalimat “jeballyeo jehee~a odiga?”
“a! kyuhyun~a!” aku menghampiri kyuhyun yang sudah tiba diruang ganti dnegan memainkan PSPnya terlebih dahulu. “kau tahu adikmu dimana, eo kenapa tidak Nampak sedari tadi?”
“wae?” kyuhyun menaikkan sedikit alisnya. “kau bingung atau khawatir eo? Dia datang ke konser tour 1D mala mini dan pamit padaku untuk itu.”
“mwo?” aku tersentak. Menjatuhkan tubuhku kesofa dengan menatap bulat kyuhyun.”iash.. sinjja! Kyuhyun~a! bodoh sekali kau. Kenapa kau tidak melarangnya eo?”
“kenapa? Lagipula dia sudah nonton berpuluh puluh kali konser kita. Biarkan saja, jangan membuatnya selalu terperangkap dengan super junior, hae~a” kyuhyun dengan santainya berujar tanpa melirik padaku sedikitpun.
“lalu? Dia kesana dengan siapa?”
“teman satu kamarnya. Eumm.. aku sedikit lupa dengan namanya. Han.. han..”
“Han Ha gun?”  sahutku cepat “sial, dia terlalu mendukung niall daripada aku.” Gumamku pelan.
***
TBC

gimanaa? kalo maksa maafyaa._. maaf juga niall belom dapet dialog disini, hehe._. next part gue banyakin~ gue tunggu commentnya deh ;) da daahh sampe ketemu di part 2 ya, annyeong ;)

Kamis, 21 Juni 2012

Part End #5 You are the best oppa


            ~You are the best oppa~
Semua berakhir disini,
Dengan akhir yang indah,
Karena sebuah rasa kasih sayang yang besar,
Dari seorang kakak laki-laki ku,
Cho Kyuhyun oppa, gomawo.
Dan seorang kakak laki-laki ku,
yang siap menemani hariku dimasa mendatang,
Lee Donghae oppa, Gomawo.

Cho Jehee PoV
Kepalaku terangguk, senyum singkat terulas dalam bibirku, dalam hati ingin sekali aku menjerit bagaia karenanya. “berita yang sangat baik, kyuhyun oppa”
Segera ingin rasanya aku meloncat turun dari ranjang yang telah mengekangku dua bulan ini, dan berlari mencari keberadaan donghae oppa. Karena memang yang aku harapkan ini, dapat berjalan kembali dan mencarinya. Bahkan aku sempat berharap untuk bisa berjalan walau hanya lima langkah kalau setelahnya aku dapat menggapai donghae oppa kembali.
“perlahan, Je~a. kakimu masih terlalu kaku untuk digerakan.”
Aku berhenti sejenak, mengalihkan pandangan kearah sudut pintu yang ternyata sudah terbuka. Sosok tegap berdiri dengan tangan yang bersedekap didepan dada, menatapku dengan senyum manisnya.
Mataku membulat, dan jantungku terasa mencolos. Nafasku tercekat, nmaun pandangan mataku terus mentap focus dirinya. Doaku seakan terkabulkan dengan baik. Terima kasih,tuhan. Jeritku dalam hati.
Dia ada dihadapanku sekranag. Setelah melangkah beberapa langkah mendekat. Wajah yang sangat kurindukan itu kini berseri mentapku. “gwenchana?” suara lembutnya kini terdengar lebih jelas oleh telingaku.
Aku tersenyum kemudian mengangguk dengan penuh semangat. Menyambar pelukannya dengan kilat saat dia mengulurkan kedua tangannya. “bogoshipo, hae oppa!” gumamku.
“nado bogoshipo, Je~a”
                                                                 ***
“oppa, selama ini kau kemana saja, huh?” sungutku saat kami duduk di kursi taman rumah sakit, setelah memutuskan untuk istirahat sejenak dari latihan berjalanku.
“bukannya kepulanganku lebih penting daripada alasanku menghilang?”
Aku hanya mengercutkan bibirku, dan menatapnya kesal. Berharap dia menceritakannya semua padaku. “baiklah, aku akan ceritakan kemana aku pergi.”
“aku masih ada di Jeju, waktu itu. Saat kau memutuskan untuk pulang kembali ke Seoul bersama Ha Gun, Kyuhyun dan Jinho.”
Aku mengernyit, “lalu, kenapa waktu itu kau tidak ikut bersama kami dan menemui kami saat aku dan kyuhyun oppa kerepotan mencarimu? Kau jahat!” sungutku sambil kemudian menykut lengannya.
“aku tidak jahat. Hari itu aku memang tidak bisa pulang dengan kalian. Appamu, menyadraku selama tiga hari”
“mwo? Sinjja? Apa appa sebenarnya masih merasa dendam pada kita?” mataku membulat dan menahan rasa sesak didada yang nyaris timbul kembali.
“tidak, sama sekali tidak” jawabnya cepat.
“lalu?”
“dia menyandraku, karena dia ingin menjadikanku sebagai pendamping hidupmu yang terbaik. Bagimu dan baginya.” Donghae oppa member jeda setelahnya. “dia menceritakan semua tentang masa kecilmu, mengajariku bagaimana cara mengahadapimu sewaktu waktu jika kau marah, menangis, ataupun senang.”
“dia juga mengajariku tentang banyak hal dalam hidup. Walaupun dia duluu sempat menghancurkan hidupmu, Je~a” mata doghae oppa beralih padaku yang sedikit tertegun dengan perkataannya. “dia melakukan semua ini dalam kendali emosi bawah sadarnya. Yang muncul ketika eomma mu membentakknya, dan mencaci makinya sebagai laki laki tak bertanggung jawab dan tak punya hati.”
“malam sebelum kepergian eommamu, appamu pulang dengan keadaan mabuk dan dengan seorang yeoja yang menuntunnya. Dia mengatakan bahwa appamu adalah temannya, bukan siapa siapa. Tapi eomma mu sedang dalam kondisi lelah dan marah karena kondisi ekonomi keluarga yang memburuk, membuat eommamu berpikir yang tidak tidak. Dan Appamu nyaris membunuh eomma mu waktu itu, sebenarnya. Sewaktu dalam kondisi mabuk dan mereka bertengkar hebat. Eommamu terus mengungkit masalah ketidak becusan appamu dalam mengatur keluarga sehingga keuangan keluarga memburuk”
“aku sempat merasa tersentuh dengan sangat, saat appamu menyebutkan satu kalimat yang tulus dari dalam hatinya. Dan ini benar benar penyesalannya padamu.” Donghae oppa mendesah kemudian melanjutkan kalimatnya. “dia berkata ‘aku sejujurnya sangat merasa teriris saat melihat Jehee menangis karena pelampiasan amarahku, aku sangat merasa bersalah ketika melihat Jehee memanggil manggil eommanya yang sudah pergi karenaku sambil terisak. Aku sangat marah pada diriku sebenarnya, saat tidak bisa menjadikan Jehee anak yang sangat bahagia didunia ini seperti halnya orang tua lain. Sungguh, kalau aku tak diliputi rasa amarah pada diriku dan rasa Maluku pada Jehee, demi tuhan aku akan berlutut dan meminta maaf padanya’ dan saat mengatakan semua itu, air matanya terlihat mulai berjatuhan dari pelupuk matanya”
                                                   ***
Han Ha Gun POV
“YAK! CHO KYUHYUN! Apa kau gila, huh?”
Umpatku sembari mengikuti langkahnya yang semakin terasa seperti terseret olehnya.
“aku bukan kambing! Berhenti menggiringku.” Tangannya masih menggengam tanganku, yang kemudian meregang beberapa saat setelah protesku, lebih kedalam genggaman lembutnya. Dan aku tersedak dengan itu, butuh waktu dua menit untuk mengendalikan diriku.
“kau mau membawaku kemana?masih jauh? Mataku sudah terasa tegang. Kau mengikatnya terlalu kencang, cho kyuhyun!” umpatku terus sambil mengikuti arah tangannya yang menggiringku dengan sedikit memaksa.
Seketika dia meghentikan langkahnya, yang membuatku nyaris menubruknya. “bisa kau tahan sebentar ocehanmu sebelum kita sampai?”
Aku hanya mengangguk pelan, masih sedikit terhenyak dengan gerakan seketikanya tadi. Sial, aku kali ini sulit membaca jalan pikirnya. Dia.. terlalu merusak sitem kerja otakku-_-
Selang sepuluh menit kemudian, setelah kakiku terasa pegal yang amat sangat dan nafasku yang terengah, kyuhyun menghentikan langkahnya kemudian melepaskan ikatan kain hitam yang sedaritadi menutup mataku.
“kita sudah sampai” ujarnya singkat.
Mataku melihat sekelilingku yang terasa asing. Alang-alang setinggi lutuku berayun tertiup angin sore yang menyejukkan dimusim panas. Hamparan itu terliat luas dan kosong disekelilingku. Matahari terlihat mulai tenggelam dilangit yang berwarna orange. Udara disini sangat bagus, dan aku sangat menyukai tempat ini dengan sekejap.
“untuk apa kau membawaku kesini?” tanyaku pada kyuhyun yang berdiri dihadapanku.
“untuk battle game” sahutnya cepat.
Mataku membulat,menatap syok kyuhyun yang bersedekap santai dihadapanku. “apa kau masih waras, cho kyuhyun-ssi?” ujarku dengan penekanan disetiap katanya.
“kita akan bermalam disini, dan aku sudah menyiapkan semuanya.” Tangan kyuhyun terulur menunjukkan suatu hal dibelakangku, membuatku mengalihakan perhatianku pada arah yang ditujukan kyuhyun.
Dua tenda berhadap hadapan berdiri disana. Dengan tikar bambu yang mengalaskan jarak dari tenda satu ke tenda dua. Kayu bakar sudah siap dengan minyak tanah disampingnya. Berbagai persediaan makanan juga tersedia dalam tas ransel yang sengaja dibuka kyuhyun untuk menunjukkan padaku.
“ha gun~a!” kali ini aku benar benar membulatkan mataku. Jehee keluar dari tenda merah sambil melambaikan pspku yang aku tidak tahu bagaimana caranya dia mendapatkan pspku. Lalu donghae juga menampakkan diri dari tenda biru sambil tersenyum simpul padaku.
Aku membalikkan badan pada kyuhyun kembali, dan dia tersenyum puas penuh kemenangan. “apa kau berniat ingin pulang? Silahkan, asal kau tahu jalan pulangnya” ujarnya santai. “aku juga sudah menghubungi ibu mu. Bahkan appamu untuk hal ini. dan mereka mengizinkannya. Dengan sangat”
“sial, kau terlalu canggih untuk kali ini.” umpatku
                                                                 ***
Aku berkali kali menjerit frustasi, menghadapi kecangihan kyuhyun dalam mengalahkanku.
“kau curang!” ujarku tidak terima saat kyuhyun menatap lekat mataku ketika nyaris saja aku berhasil mengalahkannya. Tatapannya sangat sangat mengacaukan konsentrasiku.
“tidak, aku sama sekali tidak curang” ujarnya dingin kemudian kembali serius dengan gamenya. “memangnya kenapa? Tatapanku mengganggu konsentrasimu, eh?”
Mataku membulat dan mulutku terkunci seribu bahasa sekarang. Sial, dia bisa membaca pikiranku. “eo? Aniya.. anni!”
“yak! Kyuhyun oppa, Ha gun-ssi!”
Jehee tiba tiba keluar dari tenda kemudian datang dengan hentakan yang diikuti kedua tangannya yang terlipat didean dada dengan senyuman cemberutnya.
“eomma pulang hari ini oppa.” Desahnya “dan kau lupa untuk menjemputnya, bodoh!”
Kyuhyun hanya berdecak, menghiraukan pembicaraan dengan kembali focus pada PSPnya.
“YAK!” Jehee akhirnya mengambil keputusan terakhir, menjitak keras kening kyuhyun yang direspon datar oleh kyuhyun.
“mwoya?”
“appa sedaritadi menelefonku,oppa. Dia menyuruh kita untuk segera pulang. Dan kau tahu? Kita sama sekali gak diizinin untuk menginap. Malam ini.” Jehee mendesah, “dan aku serius menyampaikannya, kyuhyun oppa.”
“jadi, cepat bergegas untuk pulang, dan jangan tangisi malam specialmu kali ini, ara?”
“ck, sial. Eomma kelewat sadis untuk malam ini”
                                                                         ***
Author PoV
“eomma wae?”
Kyuhyun merbahkan tubuhnya diatas sofa empuk berkulit asli di ruang tamunya. Setelah tiba sekitar satu menit dari mengantarkan pulang Ha Gun. Semua rencananya gagal total untuk melamarnya mala mini.
Kyuhyun bisa saja menolak semua berkataan orang, perintah atau larangan yang membuatnya terusik. Dengan cara baik atau cara kasar. Tapi untuk hal menolak semua perintah dari yeoja paruh baya dirumahnya yang entah kenapa sulit sekali untuk mengelaknya. Sulit untuk menolak emosinya yang terlalu patuh untuknya. Walaupun terkadang di iringi dengan dengusan atau bahkan umpatan saat menurutinya.
“kamu yang kenapa kyu~a”
“ne?” kyuhyun mengernyit. Mencoba mengerti arti perkataan eommanya.
“kenapa kau tidak membawanya pulang kerumah melam ini dan mengenalkannya pada eomma, hm?”
Kyuhyun berdecak sembari tertawa kecil disudut bibirnya. Kemudian membenarkan posisi duduknya menghadap kearah yeoja paruh baya yang telah melahirkannya. “jadi?”
“jadi, eomma ingin kau membawanya kerumah, kyyu~a. kenalkan pada eomma kemudian kau harus melamarnya didepan eomma.” Eomma kyuhyun menambah keseriusan pembicaraannya. “eomma ingin kau sungguh sungguh dalam perkataanmu dalam melamarnya. Karena eomma yakin, dia bukan yeoja biasa yang bisa menarik hati mu seperti ini, eo?”
“mwoya? Eomma…”
“wae? Kau malu? Atau, kau belum siap untuk ditolak oleh yeoja pilihanmu dihadapan eomma?”
“aniya eomma, bukan itu.” Kyuhyun mendesah setelahhnya. “belum tentu dia akan siap dengan semua ini eomma”
“kenapa harus dia yang siap? Harusnya itu kau, kyu~a” eomma kyuhyun menatap tegas anaknya. Dia tidak ingin semua ini berjalan hanya sekedar kepuasan kyuhyun dalam memilih yeoja. Dia ingin, semua dilakukan kyuhyun dengan baik dan tepat. Karena dia yakin, yeoja pilihan kyuhyun, walaupun belum ada sebelumnya, pastilah yeoja istimewa baginya.
“eomma,” kyuhyun akhirnya mulai mngeluarkan kegelisahannya. “aku siap, sangat. Tapi yang sangat aku takutkan satu hal. Takdir.”
“kau mengerti yang dimaksudkan dengan takdir, kyu~a?”
Kyuhyun mengangguk. Sangat yakin. “dia takdirku, aku yakin itu. Tapi,” kyuhyun menghela nafas keputus asaannya. “apa aku adalah takdirnya?”
“aku, dulu atau mungkin sampai sekarang adalah orang yang paling dibenci dan di hindarinya. Tidak akan ada satu hari tanpa perkelahian walaupun hanya perdebatan. Dan aku, mungkin hanya aku. Hanya aku yang menunggunya eomma, hanya aku yang selalu khawatir tentangnya, yang selalu memerhatikan segala bentuk perkembangan hidupnya, hanya aku mengerti semua kondisinya.” Kyuhyun menatap pasrah eommanya, “hanya aku, bukan dia yang mengerti bagaimana aku. Mungkin.”
“bodoh,” eomma kyuhyun menatap mata anaknya lekat sembari mengusapkan tangan pada rambut kyuhyun. “memang itu tugasmu, kyu~a. melindungi dan memerhatikan malaikat kecilmu tumbuh dengan bahagia”
                                                                ***

Han Ha Gun PoV
Mataku mengerjap, menatap jam weker kamar. Masih pukul enam pagi, dan semua entah kenapa begitu terang dan menyilaukan mataku. Lampu kamar menyala tepat dilangit lagit atas mataku. Membuatku merasa tersilaukan dan membuka mata.
“EOM..ma…..”           teriakanku terhenti, saat mataku sudah bisa melihat normal sekeliling kamarku. Sinar matahari sama sekali belum masuk tentu saja. Yang menyinariku ada sekitar lima buah lampion kecil disetiap sudut kamarku dengan gorden yang berwarna menyala. Lampu kamarku beruabh menjadi tiga buah diatasku.
Mulutku menggigit heran ujung selimut yang membalut ditubuhku. “ige mwoya?” dan langkahku mulai berjalan menuruni kasur. Semua benda terasa begitu indah dengan aksesoris yang melengkapinya. Dan tanganku terhenti disurat kecil yang tertera di meja keciku.
morning my little angel, bagaimana tidurmu? Maaf kalau aku menganggu tidurmu dengan semua ini. tapi ini khusus aku persiapkan untukmu. Ikuti semua perintah yang ada di papan kecil disamping meja belajarmu. Dan aka nada sebuah kejutan untukmu J
-Your destiny-
Mataku mengerjap berusaha menjernihkan pikiranku untuk mengira ngira siapa pengirim suart kecil ini. tapi rasa penasaranku kembali menutupi dengan mengalihkan pada papan kecil yang bertuliskan beberapa aturan yang harus aku lakukan.
Tubuhku seakan terhipnotis oleh semua ini. sungguh, ini adalah game terindah yang pernah aku lakukan dengan secara nyata. Dan keren! Semua bisa aku lakukan dengan perasaan berdebar dan rasa penasaran yang mengebu. Menanti kejutan apa yang ada setelahnya.

Sekitar lima belas menit kemudian semua perintah yang tertera sudah aku lakuan. Termasuk menggunakan dress biru safir tak sampai selutut dan dandanan layaknya putri kecil. Serta high heels biru yang membuatku jatuh hati pada pandangan pertama.


 




Aku memang tidak menyukai semua hal yang feminism. Tapi sungguh guys, kalau kalian melihatnya. Ini tidak semenjijikan dengan make up tebal dan pakaian terlalu berlebihan. Simple, dan aku suka semua ini. dan semakin membuatku penasaran siapa yang melakukan semua ini.
Langkahku kembali melaju. Mengikuti arah yang ditujukan, menuruni tangga. Anehnya, aku tidak menemui satupun anggota keluargaku. Entah mereka enyah kemana. Dan seisi rumah dihiasi oleh pernak pernik indah yang tentunya mengerlipkan mata.
Sampai langkahku didepan halaman rumah. Sebuah mobil sedan hitam dengan seorang supir berjas hitam dan berdalaman kemeja putih mempersilahkan aku masuk. Aku hanya sedikit linglung melihat semua itu. Dan seperti yang aku katakana tadi. Seperti ada magnet yang menarik hatiku tanpa ada perasaan heran atau khawatir. Semua aku lakuakn dengan begitu menurutnya.
Mataku terus mengamati sepanjang perjalanan. Melihat arah jalan ini tertuju. Dan semua ini mustahil aku kenali. Jalan yang sama sekali belum pernah aku lalui. Terlebiih saat tiba di gerbang besar. Dengan pemandangan kehijauan yang tersuguh indah.
-five minutes laters-
Cho Kyuhyun’s House, South Korea
Author PoV
Kyuhyun berdiri setenang mungkin. Berusaha tidak terlihat bodoh dihadapan eommanya. Karena berpikir gugup saja sudah membuatnya merasa bodoh. Sekali seumur hidup dia merakan keresahan yang amat sangat. Kegugupan yang seakan menjadi jembatan pilihan antara hidup, dan mati.
“kau sudah pastikan dia akan datangkan, kyuhyun~a?” eomma duduk rapih dengan dress biru safir yang sengaja kyuhyun sama kan dengan warna dress yang dibelikan special untuk gadis yang sedang sangat dinantikan kehadirannya sekarang.
“pasti eomma” jawab kyuhyun sambil melirik ponselnya ang sedari tadi belum juga ada kabar. Donghae dan Jehee yang membantunya dalam melaksanakan pembawaan dia kesini. Bukan kyuhyun tidak bisa, tapi mereka yang memaksa.
Drrttt… drrtt..
kyuhyun~a! siapkan dirimu saja. Ara?”
“kau sudah yakin dia akan datang?”
eo, dengan seluruh keluarganya,” ada sebuah tawa kecil terdengar dari sambungan telepon kyuhyun.
“yak! Lee donghae, cho Jehee! Neo michiseo? Apa maksudmu?” kyuhyun mengerjap. Menahan umpatannya segera saat suara ketukan pintu muali terdengar. Sial,apa yang dilakukan Donghae? Dengun kyuhyun dalam hati.
                                                                        ***


 satu jam yang lalu. Sekitar lima puluh tujuh menit yang lalu tepatnya, cicin itu mempersatukan sebuah ikatan akdir hidup. Sepasang takdir yang sudah menemukan titik temu dalam menyatakan kebenaran takdir mereka.
“yak, cho kyuhyun! Ppaliwaaaaaa” Hagun menghentakkan pintu mobil kyuhyun kesal. Kyuhyun sama sekali tidak bergerak untuk mengantarkannya dan ibunya pulang. “I just want to see you longer, a little”
“YAK! Berhenti menggombaliku dengan kata kata manismu, cho kyuhyun-ssi. Kau tahu? Itu menjijikan” eomma ha gun hanya menatap mereka dengan gelengan kecilnya. Terkesan seperti biasa melihat tingkah mereka yang memang sering dilakukan.
Ini hari baik bagi Ha gun. Sangat melebihi baik. Hari dimana dia merasakan kebahagiaannya yang sangat selain ketika mendapatkan kaset game terbarunya. Bahkan bisa dikatakan melebihi itu.
 “would you marry me?” kyuhyun berlutut. Tepat disaat kedua ibu mereka duduk tenang diantara keberadaan mereka.
Dua detik kemudian kyuhyun berdiri kembali. Membuat semua mata tertuju padanya. Kyuhyun memasukkan kembali kotak sepasang cincin yang tadi dijulurkannya untuk Ha Gun. Dia kemudian berjalan menuju salah satu sudut ruangan sembari menyeret Ha Gun.
“aku tahu ini memalukan. Dan ini karenamu, Han. Ha. Gun.” Kyuhyuun sedikit menghentakkan tubuh Ha Gun dan membuat posisi mereka berhadap dengan kyuhyun yang sedikit terkesan menubruknya.
“wae?,” Ha Gun mengankat sebelah alisnya. “kau aneh” dengusnya tanpa merasakan sedikit keganjalan pada perkataan awal kyuhyun sebelum menyeretnya.
“ehmm..” Kyuhyun menegapkan tubuhnya. “han ha gun-ssi. Kali ini aku ingin berbicara serius denganmu, sungguh. Dan kali ini ku mohon untuk tidak kau anggap sebagai lelucon, ara?”
Ha Gun hanya mengangguk singkat. Dan sedikit mengerjap ketika kyuhyun sedikit memajukan tubuhnya dan matanya yang terlalu menyorot wajahnya.
“kau ingat malam sebelum keberangkatanmu dari korea dan saat itu Jehee untuk pertama kalinya memperkenakanmu padaku, eo? Kupikir kau hanya teman konyol Jehee yang mempunyai sifat manja nan menyebalkan sama sepertinya. Walaupun aku tau, Jehee tidak sebegitu menyebalkannya dibandingkan teman temannya yang biasa dibawanya kerumah lalu diperkenalkan denganku dan.. kau tau apa yang mereka lalukan? Menjerit, menatap kagum berlebih yang membuatku ingin muntah. Dan nyaris membuatku mengusir mereka semua dari rumah kalau kalau Jehee membawa mereka kembali dihadapanku.”
“tapi sepertinya. Untuk pertama kalinya seorang Cho kyuhyun salah memperkirakan suatu hal. Cho kyuhyun yang mempunyai image sebagai namja jenius di Negara ini. kau tentu sudah sempat melihat seisi rumah ini dan aku yakin sekarang kau tahu jawabannya siapa yang membuat semua perabot rumah semewah dan secanggih ini, ha gun~a. dan mungkin ini akan dijadikan berita hebat jika wartawan mengetahuinya. Seorang Cho Kyuhyun. Salah memperkirakan satu hal. Itu akan keren mungkin, walaupun sedikit memalukan.”
“entah apa yang membuatku kehilangan focusku malam itu. Saat tanganmu menggenggam tanganku sambil sedikit membungkuk memperkenalkan diri. Malam itu adalah untuk pertama kalinya aku kehilangan focusku dengan lawan bicaraku. Dan aku pikir aku mengidap penyakit berbahaya atau apa. Karena kau tahu, Han Ha gun? Jantungku berdetak nyaris seperti sebuah dentuman gong yang terus menerus dibunyikan hingga menghasilkan getaran kuat.”
“semenjak itu, aku mulai menayankan semua tentangmu yang aku bisa pada Jehee. Berusaha terlihat sebisa mungkin aku suka padamu saat aku menanyakan itu. Dan kau tahu? Untuk pertama kalinya lagi. Aku. Cho Kyuhyun. Bertingkah seperti orang bodoh. Yang terus menunggumu dengan seyakin yakinnya kembalinya kau ke korea. Yang terus menerus mencari perkembangan tentangmu. Bagaimana kondisimu, bagaimana kesehatanmu, dan bagaimana.. hatimu. Aku terus sembari berharap takkan ada namja yang menyambarmu dengan mudah tanpa berhadapan denganku. Karena entah apa yang membuatku semakin yakin kalau kau.. Han Ha Gun. Adalah takdirku.”
“eo, Cho Kyuhyun. Bisa tidak kau tidak usah mengucapkan kalimat yang begitu panjang? Langsung katakana pada inti maksudmu, ara?” Ha Gun bersedekap dan mulai menatap kembali namja yang berdiri dihadapannya. Dia sejujurnya menyimpan perasaan yang melonjak bahagia. Dan dia tidak ingin kyuhyun semakin mengatakan kalimat panjang yang mebuat hatinya ingin meledak dan jantungnya lepas segera mungkin karena jarak mereka yang terlalu dekat.
“aish, aku lupa untuk menambahkan kata “tidak ada protes” dalam peraturanku tadi” kyuhyun menyelipkan tangannya dalam saku. Merogoh kotak cincin itu kembali.
“mian, kalau yang tadi itu bukan gaya Cho Kyuhyun. Dan ini baru gayaku,” kyuhyun mendesah. Mengesampingkan perasaan gugupnya yang tidak pernah hilang saat berhadapan dengan yeoja dihadapannya. “aku, ChoKyuhyun. Kau mengenalku kan? Bagaimana menurutmu jika kau mengetahuinya. Kalau kau, Han Ha Gun. Adalah takdir hidup Cho kyuhyun, eo? Dan satu lagi, aku harap tidak akan ada penolakkan saat aku mengucapkan kalimat selanjutnya”
Kali iini kyuhyun tidak berlutut. Melainkan menarik tubuh Ha Gun mendekat dengan tangannya yang menarik lingkar pinggang Ha Gun, “Would you marry me?”
“I hate you, Cho kyuhyun-ssi. don’t you know that” Ha Gun tiba tiba memundurkan dirinya. Kyuhyun jelas tersentak, dengan jantung yang seakan berhenti untuk berdetak. Semua mata masih tertuju pada mereka. Eomma Ha Gun terlihat sedikit lebih tenang. Karena dia yakin dengan jawaban anaknya nanti.
“I really hate you.” Ha Gun kembali melanjutkan kalimatnya, “hate when you act as you please. hate you when you saw a very cold and stubborn. But,”
Kyuhyun masih dalam keadaannya. Berusaha menantikan sebuah akhir manis dari kejadian hari ini, walau sekarang terlihat mustahi. Yang ditakutkannya bukan wartawan yang akan menjadikan ini sebagai berita panasnya. Tapi, takdir hidup yang lepas dan tidak akan kembali.
“and you know, what makes me really hate you, Cho kyuhyun?” kyuhyun tidak bergeming. Dalam keadaan kakunya, dan Ha Gun mulai bisa mengatur suasana ruang keluarga rumah keluarga Cho. “because of the stupid things I do. fall in the destiny of your life and have absolutely no desire to rise. because it makes me feel wanted and want to always be near you. as there are substances that make me addicted to love.”
“so, your answer? I really want a substance that was me, of course.”
“yeah,  I want to get married with….. cho Kyuhyun.”
                                                                        END
Yipiiiiiiii~ fadilla, otte? Maksa yaa? Maaffff , maklum aja karena otaknya abis di konsletin sama soal soal UAS #plakk ini aja ffnya telat bingit._.v sekali lagi maaf ya. Ohya, buat readers lainnya yang mungkin ada yang baca selain temen temen deket aku *ngarep* ataupun temen deket aku juga deh yang diem diem baca. Atau sekedar lewat. Tinggalin komen dong, rame ramein. Ntar kalo udah agak ramean mau aku bikin games. Ntar ada hadiahnya deh. *kapanramenyacoba? :/
Okedeh, sekian ff you are the best oppa nyaa. Makasih buat yang udah baca. Kalo ada yang belum baca part2 sebelumnya baca ajaa. Ada kok dibagian bawah bawahnya ;) gomawo, and annyeong ;)