Annyeong
yeorobun! Ini aku bikin ff oneshoot
again :D lagi suka bikin oneshoot nih. Soalnya internet rumah sempet lemot,
trus dimatiin *curhat* jadinya sambil nunggu aku bikin ff aja. buat yang belom tau silsilah atau penokohannya , atau yang udah tau juga kayaknya butuh
baca yang dibawah dulu. Soalnya rada beda sama susunan cerita biasanya, baca
yang dibawah ya :
Anak tunggal dari keluarga Lee yang bersahabat
dengan keluarga Kim HyunSun. Dia anak yang sedikit terkesan keras kepala.
Karena masa kecilnya kurang baik. Appanya terus menggiringnya kedalam dunia
bisnis dari kecil. Membuatnya sulit bergaul dengan teman yang lainnya
terkecuali rekan bisnis appanya. Sepupunya adalah Kai (kim jong in)
Cho Kyuhyun
Kakak laki-laki Cho jehee, sepupu dekat HyunSun.
Dia salah satu pengisi dunia music korea dengan suara emasnya. Sifatnya yang dingin terkadang sering memancing emosi
lawan bicaranya. Tapi dia adalah kakak yang penyayang. Sedigin-dinginnya dia
pada adik yeojanya, Cho Jehee, dia masih menunjukkan kepeduliannya.
Namjachingu Kim Hyun Sun sebelumnya. Dia
mempunyai kepribadian yang cukup kuat untuk menahan emosinya. Lebih suka untuk
mendengarkan secara langsung permasalahan dari naarasumber terdekat daripada
pembicaraan orang lain. Sahabat dekat Kai (Kim JongIn) mereka teman kecil
sejak duduk di sekolah dasar.
Kai (Kim Jong In)
Sepupu Lee DongHae. Namja Chingu Cho Jehee.
Mempunyai sifat terkadang konyol, tapi mempunyai karisma tersendiri. Dia adalah
satu-satunya namja yang mengerti sifat evil keluarga Cho. Sahabat dekat Byun BaekHyun.
Yoeja mungil yang mempunyai kepribadian tidak
kalah tangguhnya dengan DongHae. Karena masih berhubungan dekat dengan keluarga
Cho. Dia kehilangan memori masa lampaunya akibat kecelakaan yang menimpanya. Saudara
dekat Cho jehee. Yeoja Chingu BaekHyun sebelumnya.
Yeoja yang terlalu cuek dengan perkataannya.
Nakal dengan perintah orang tua, tapi selalu menurut dengan kyuhyun oppanya.
Yeoja chingu Kai, saudara dekat HyunSun, adik
kesayangan Kyuhyun. Dia mendapat ajaran cara berbicara yang salah dari
kyuhyun oppanya-_-
Author
PoV
Because Of You,
Many people feel I like a crazy people,
Many people see the crazy thing in my life
Many people like my family, my friend, and
other people…
Don’t know my feeling to you.
My feeling about…..
My Destiny.
Who can make me life in world,
Who can make me strong to life in the world
Who can make me smile,
And who can get me feel falling in love
“eomma, aku
mau permen.” HyunSun, bocah kecil berumur lima tahun itu menarik narik pakaian
yang ibunya kenakan. “aku sangat ingin permen.”
“jagi, tapi
disini tidak ada yang menjual permen. Ini tempat pedesaan, dan maaf, eomma lupa
membungkus permenmu untuk dibawa.” Yeoja yang dipanggil eomma itu berjongkok
sembari megusap rambut anaknya.
“aku tidak
mau tahu, aku mau permen!” HyunSun mulai menghentakkan kakinya marah. Dia
termasuk anak yang keras kepala. Semua keinginanya nyaris sulit ditolak.
Eommanya terkadang merasa bingung untuk menolaknya. Atau bahkan hanya sekedar
mengalihkannya. Dia cukup pintar untuk mengerti maksud pengalihan itu.
“HyunSun
sayang, nanti sore kita akan kembai kerumah Halmoni. Mungkin nanti di rumah
halmoni akan ada permen. Kita tunggu sampai nanti sore ya? Appa masih ada
keperluan di sini.”
“aku tidak
mau nanti sore, aku maunya sekarang eomma!” HyunSun mulai mengeluarkan isakan
tangisnya. “aku mau permen!!!”
Eomma HyunSun
hanya menghela napasnya. Berusaha berpikir untuk menghentikan isakan dan
rengekan anaknya itu. Dan untung saja, sebuah ide itu muncul. Dia melihat DongHae,
anak dari keluarga Lee, rekan kerja suaminya sedang duduk sendiri dipinggir
sungai. Tangannya sesekali dicelupkan ke dalam air sungai. Dan sesekali dia
hanya melihat ikan yang lewat, karena warna air sungai yang sangat jernih.
“HyunSun~a.
kamu mungkin bisa menanyakan pada anak itu.” Eomma Ha Gun menunjuk kearah DongHae
berada. “mungkin dia mempuyai permen yang kau mau?”
HyunSun
menghentikan tangisnya sejenak. Menatap dalam diam sosok yang ditunjuk
eommanya. Dia cukup tinggi dengan umur yang HyunSun rasa hanya beberapa tahun
diatasnya. Entah namja itu yang tidak normal atau dia yang mempunyai tinggi
tidak normal.
“tapi, apa
tidak eomma saja yang menanyakannya terlebih dahulu?” HyunSun kembali menarik
pakaian ibunya. Karena dia tidak mempunyai keberanian yang cukup untuk
menanyakan langsung pada namja itu.
“mian, HyunSun~a.
appamu memanggil eomma barusan. Appa sepertinya membutuhkan bantuan eomma.”
Eomma HyunSun mengusap kembali kepala anaknya sebelum akhirnya mencium kedua
pipinya dan pergi. “kau bisa ajak main dia. Dan kau akan aman bersamanya, eomma
yakin. Dia anak dari Lee Ajjushi, rekan kerja appa.”
***
“hei, kau!” HyunSun
menggunakan kakinya untuk menyadarkan namja itu. Kakinya sedikit dihentakkan
kepada lutut namja itu.
Namja kecil
itu hanya menoleh malas kemudian menyipitkan matanya sejenak. “apa?”
“apa kau
punya permen?” tanpa berbasa basi HyunSun menanyakan keinginannya. Dia paling
tidak suka membuang-buang waktunya hanya untuk berbasa basi tidak penting.
“tidak.”jawab
namja kecil itu cepat. DongHae terlihat tidak ingin di ganggu.
HyunSun
menghentakkan kakinya kesal. Kemudian menjatuhkan tubuhnya terduduk dipinggir
sungai disamping DongHae. Dia mulai terisak dan menghentak hentakkan kakinya
marah karena tidak bisa mendapatka hal yang di inginkannya. “aku mau permenn..
huaaa, hiks, kata eomma kau mempunyainya, tapi kau bilang, hiks, kau tidak
punya. Kau jahaatt.. aku mau permennnn!!!”
DongHae
mendesah, melirik sejenak yeoja kecil yang dianggapnya cukup gila karena menangisi
permen. Dia memang tidak peduli. Tapi dia merasa terganggu. DongHae tidak
menyukai keributan. Tapi sebenarnya tidak sepenuhnya karena itu. Mata yeoja itu
membuatnya sepat terhenyak sejenak. Dia mempunyai mata yang indah, dan entah
apa yang membuatnya berfikir kalau tangisannya akan merusak keindahan mata
yeoja kecil itu.“yak, gadis kecil, kau tidak bisa menghentikan tangisanmu?
Berisik sekali, kau tahu?”
“biarkan
saja aku berisik. Yang penting aku mau permenn!!” HyunSun masih terus menangis
sejadi jadinya.
“aih,
baiklah. Baiklah. Aku punya permen. Kau mau tutup mulutmu dan berhenti untuk
menangis?” DongHae akhirnya berdiri dari duduknya. Membantu HyunSun untuk
berdiri.
HyunSun
terdiam sejenak. Mengerjapkan matanya, memulihkan matanya yang basah. Kemudian
mengusap air matanya. Tingkahnya membuatnya sedikit terlihat lucu dimata DongHae.
Pipinya gembul dan matanya yang membulat. Mulut mungilnya masih mengercut.
“kau tidak
sedang membohongiku kan?” HyunSun sedikit mendangakkan kepalanya. Karena
ternyata naja itu sedikit lebih tinggi dari yang dia kira.
DongHae
mengangguk. “namaku DongHae. Umurku tujuh tahun. Kau bisa meneriaki namaku
kalau aku berbohong.” DongHae menggandeng tangan mungil itu menuju kearah yang
dia tuju. “sebenarnya bukan benar-benar permen. Tapi rasanya sama dengan
permen. Manis, dan ini bahkan lebih enak.”
“sinjja?”
mata HyunSun membulat. Langkahnya masih terus mengikuti disamping DongHae.
“eo,
sinjjayeo~” DongHae kembali mengangguk. “appa yang memberikan makanan ini
padaku. Sebenarnya aku tidak terlalu menyukainya. Jadi aku hanya menyimpannya
saja. Aku mungkin akan memakannya kalau aku benar benar merasa lapar. Tapi
sampai sekarang aku sama sekali tidak berniat untuk menyentuhnya.”
“DongHae~a.
sebenarnya makanan apa yang appamu berikan padamu setiap hari? Kau terlihat
begitu tinggi diumurmu yang masih tujuh tahun.” HyunSun sedikit mengangkat
dress katun berwarna putih yang dipakainya ketika melewati sedikit bebatuan.
DongHae
tertawa kecil. “sepertinya appamu yang salah memberikan makanan, bukan appaku.
Kau terlalu pendek, Sun~a.”
HyunSun
mengernyitkan matanya. “kau tahu darimana namaku?”
“kau memang
tidak menyadarinya? Eommamu berusaha menenangkanmu dengan berkali kali
menyebutmu ‘HyunSun sayang’ atau apalah itu. Tangisanmu sudah membuatku merasa
terganggu sedari tadi.”
HyunSun
mengercutkan bibirnya kesal. “biarkan saja, yang penting aku mau permen!”
DongHae
kembali tertawa. Mungkin ini kali pertamanya dia tertawa dengan alaminya. Seumur
hidupnya dia nyaris sulit untuk tertawa. Karena mungkin tak ada yang bisa di
ajaknya bergurau. Teman-temannya hanyalah pelayan rumah ataupun teman-teman
rekan kerja appanya. Dia selalu diajak untuk memulai mempelajari bisnis
ayahnya.
Kemudian
mereka berhenti ditempat mobil DongHae diparkirkan. DongHae terlihat sedikit
mencari makanan yang dia maksudkannya. “igo, appa menyebutnya dengan nama
‘gulali’ kau pernah mencobanya?”
HyunSun
menggeleng. Tangannya kemudian menerima gulali yang diberikan DongHae. HyunSun
memutarpu tarkantan tangkai guali itu. “itu nyaris sama dengan permen. Rasanya
mungkin lebih enak. Kau coba saja.”
***
“DongHae
sangat baik, eomma. Dia memberikanku gulali sebagai gantinya permen.” HyunSun
memamerkan gulalinya pada eommanya.
“DongHae?
Kau tidak memanggilnya dengan sebutan ‘oppa’? dia lebih tua dua tahun darimu, HyunSun~a.”
ujar eomma HyunSun menanggapinya.
“biarkan
saja, eomma. Lagipula dia tadi tidak mempermasalahkan itu. Sangat menjijikan
kalau aku memanggilnya oppa untuk sekarang.”
“memangnya
kapan kau akan memanggilnya dengan oppa kalau tidak mau sekarang?” eomma HyunSun
mengernyit.
“nanti saja
eomma, kalau aku sudah menikah dengannya. Dia mungkin akan menjadi namja yang
hebat setelah aku menikah dengannya dan itu baru pantas aku panggil oppa.”
***
“ajjushi,
berapa usia anakmu?” DongHae membuka pembicaraan saat mereka bertiga. DongHae
kecil, ayahya dan ayah HyunSun berada.
“lima tahun.
Memangnya kenapa?”
“tidak apa
apa. Aku hanya ingin mengukur seberapa waktu yang harus aku tunggu sampai benar
benar siap.” Ayah HyunSun mengernyit mendengar perkataan boch berumur tujuh
taahun yang kelihatannya serius.
“siap
untuk.. apa?”
“untuk
menjadi takdirku diumur dua puluh empat. Aku akan melamar anakmu setelah dia
benar – benar sudah dewasa. Tolong jaga dia baik baik.” DongHae menyikut lengan
ayahnya. “appa, kau tahu?anaknya sangat manis.”
***
Lee
DongHae PoV
Aku menatap appa pasrah. Nyaris sulit untuk hanya sekedar mengatupkan
rahangku. Ini benar-benar mustahil. Aku tidak habis pikir apa yang sebenarnya
appa dan eomma inginkan. Keputusan gila, yang kupikir akan berujung maut
untukku. Kenapa tidak adik sepupuku saja, Kim JongIn yang dijodohkan dengannya?
Karena marga mereka sama? Setahuku, asalkan silsilah keluarga mereka jauh juga
tak apa.
Yeoja itu masih menduduki bangku kuliah semester lima. Berarti aku
mempunyai jarak dua tahun dengannya. Aku baru saja lulus kuliah tiga bulan yang
lalu. Aku dan dia sebenarnya baru mengalami tiga kali pertemuan. Dan tiga
tiganya tidak ada yang baik. Selalu ada pertengkaran. Baru kali ini aku
menghadapi yeoja yang nyais setara egoisnya denganku. Tapi aku bahkan sama
sekali belum mengetahui namanya.
Appa sampai sekarang masih kekeuh untuk aku menikah dengannya. Aku belum
tahu pasti alasannya. Tapi tanpa aku bertanya, aku juga tahu. Pasti untuk
memperbaiki hubungan perusahaan. Lagi, dan lagi. Aku selalu di korbankan untuk
kepentingan perusahaannya. Dari masa kecilku yang dirusak dengan ikut
mendampinginya dan menjadi Tuan Kecil diperusahaannya. Meninggalkan mimpiku
untuk menjadi dokter hanya untuk melanjutkan perusahaan appa dengan mengambil
Jurusan perbisnisan.
Sebenarnya, kalau saat itu HyunSun kecilku tidak datang menghampiriku.
Kalau HyunSun kecilku tidak merengek meminta permen dengan mimic lucunya, dan
bahkan wajah itu, masih kuingat seratus persen. Dia benar-benar memikatku
sewaktu itu.
Kalau aku tidak mengenal HyunSun keciku lebih dulu, mungkin bisa saja aku
mengiyakan perjodohan ini. tapi hatiku masi membeku karenanya. Masih menunggu kesiapannya
untukku. Menunggu berita dari appanya. Di
usianya yang nanti akan menginjak dua puluh tiga.
“kau turuti saja appamu itu.” Eomma meletakkan secangkir minuman untuk
kami berdua.
“ini bukan karena keinginan appa untuk permasalahan bisnis, DongHae~a.
sungguh, appa kali ini benar-benar melakukan sesuai keinginanmu.”
“aku tahu, aku memang harus menikah nantinya. Dan aku tahu, aku harus memberikan
calon yang memuaskan untuk eomma dan appa. Tapi jebalyeo~ aku mempunyai pilihanku
sendiri.”
“ini pilihanmu, DongHae~a.” eomma mengambil posisi duduk disampingku.
“apanya yang piihanku?” aku menaikkan sedikit alisku.
“kau ingat tentang persahabatan kami dengan keluarga Kim? Kim Ajjushi?”
appa kembali angkat bicara. Aku jelas segera mengangguk. Itu adalah ayah HyunSun.
Keluarga Kim yang kami kenal akrab selain keluarga hanya mereka.
“dia mengatakan sudah menyiapkan anaknya dengan baik. Sebaik dan sesiap
sesuai keiginanmu.” Aku terhenyak. “yang aku jodohkan denganmu itu anaknya. Kau
masa tidak mengenalinya? Kim HyunSun?”
***
“YAK! Sebenarnya apa lagi mau mu, hah?” HyunSun menghentakkan kakinya
marah padaku. Benar. Dia memang HyunSunku. Kebiasaan ketika marahnya sama
sekali tidak berubah.
“aku tidak mau apa-apa. Hanya ingin kau ku antar pulang.” Ujarku santai
sambil menyeretnya masuk ke dalam mobil.
“aku tidak mau. Aku bisa pulang sendiri.” HyunSun dengan cepat membuka
pintu mobil kembali. Kemudian melesat keluar dari mobilkku. Aih, anak ini. sangat keras kepala.
Akupun akhirnya keluar kembali dari mobil.
“kau bahkan belum mengenalku. Begitu juga aku. Dan kau dengan se enaknya
mengaturku untuk pulang denganmu.” HyunSun membanting pintu mobilku. “memangnya
kau siapa, huh?”
“aku? Kau sama sekali tidak mengenaliku..” aku sedikit memantungkan
perkataanku. Sedikit sulit untukku mengucapkan nama itu kembali. Rasa rindu
yang menumpuk membuatku sulit mengucapkan banyak kalimat. Hanya terus dengan
menatap matanya. Berusaha terus memperhatikan setiap perubahan akibat
pertumbuhan dewasanya. Berusaha terus menatapnya untuk dapat mengingat
wajahnya. Karena mungkin akan ada waktu dimana aku tidak dapat melihatnya. “Hyun….Sun~a?”
Kim
HyunSun PoV
“aku? Kau sama sekali tidak mengenaliku..” dia terlihat sedikit
memantungkan kalimatnya. Entah apa yang membuatku berhenti mengomel dan menanti
kalimat selanjutnya.
“Hyun…... Sun~a?” aku terhenyak. Nyaris aku membulatkan mataku kalau saja
wajah namja itu tidak terlalu bagus untuk dilihat. Sering-sering melototinya
membuatku sulit melupakan wajahnya disetiap harinya.
“darimana.. kau tahu namaku?” ujarku setelah berusaha menyadarkan diriku
yang cukup melayang dibuatnya.
DongHae tertawa. Dia bahkan tertawa dengan lepasnya. Sialnya, kenapa dia
semakin terlihat ‘tampan’ dari biasanya? Aih, Kim HyunSun, apa yang kau
pikirkan? Dia hanya pangeran sampah dari keluarga Lee yang merecoki hidupku.
“gadis bodoh. Kau dan aku kan dijodohkan.” Ujar DongHae setelah
menghentikan tawanya. Dia melangkah kearahku. “tinggal tanyakan saja pada eomma
dan appaku dan mereka akan menjawabnya dengan baik dan benar.” Tawa nya mulai
keluar kembali setelahnya.
Aih, aku sampai bingung sendiri dibuatnya. Tadi dia meyebutkan namaku
dengan begitu hati-hati. Bahkan dia menatapku seperti baru bertemu kembali
denganku setelah berabad-abad lalu. dan sekarang? Dia malah menertawaiku.
“yak! Berhenti menertawaiku, bodoh!” tiba-tiba tawanya terhenti. Tangan
kekarnya menarikku dalam dekapannya. Membuatku sedikit terhenyak.
“mianhae, chonmal mianhae. Aku tidak bermaksud menertawaimu. Aku hanya
ingin meluapkan kebahagianku karena bisa bersamamu kembali. Setelah sekian
lamanya aku menunggu kabar dari appamu.” Dia menghela napas disela-sela
perkatannya. Kalimat terkahir, terdengar seperti kalimat keputus asaannya. “HyunSun~a.
apa kau benar-benar tidak mengenaliku, eo?”
Aku berusaha melepaskan pelukkannya setelah aku mulai tersadar. Walaupun
dekapannya terasa sangat nyaman, entah apa yang membuatku merasa seperti itu.
“yak, lepaskan.”
Dia melepaskanku setelah aku sedikit memberontaak dalam pelukannya. “wae?
Kau ini aneh sekali.” Sungutku kesal kemudian berlalu pergi. Membiarkannya yang
masih terpantung kaku ditempatnya. Akupun masih sedikit bingung dibuatnya.
Kenapa sepertinya aku pernah dekat dengnnya? Dan.. aku mengepal tangannku
kemudian mendekatkannya pada letak jantungku berada. Ige mwoya?
***
Eomma mungkin setengah tidak waras mengambil keputusan maut ini. gila saja
kalau sampai aku menikah dengan namja seperti dia. Namja yang tidak mempunyai
pengontrolan emosi yang baik. Terkadang tertawa, membentakku, mengomeliku, dan
kadang juga berlaku lembut. Apa yang sebenarnya dia lakukan,huh? Lebih baik aku
tidak pernah menikah sama sekali daripada harus menikah dengannya. Aih, eomma
membuat ku stess saja.
Aku mengumpat dalam hati selama perjalanan pulang. Mengutuk ngutuk namja
itu dalam beberapa upatanku. Sikapnya yang membuatku bingung itu ingin sekali
aku hindari. Terlalu menyebalkan dan mengganggu. Aku tahu, banyak namja diluar
sana yang menginginkanku. Dan dia tidak mau melewatkan kesempatan untuk
mendapatkanku dengan mudahnya walaupun terkadang gengsi, cih. Pikirannya
terlalu mudah terbaca.
Appa yang menuntunku untuk menjadi yeoja yang sempurna. Sesekali eomma
membantuku. Dari mulai menjadi sosok yang santun, cerdas, berwibawa dan peduli.
Mereka benar-benar mengubah sifatku begitu drastic semenjak aku menginjak umur
lima tahun. Itu yang aku ingat. Karena, jujur saja. Aku nyaris melupakan semua
kenanganku dimasa kecil. Termasuk siapa eomma dan appaku itu. Semenjak
kecelakaan yang menimpaku sewaktu aku duduk dibangku SMP. Benturan keras
dikepalaku membuat memory otakku dimasa lampau terhapus.
Tapi satu hal yang membuatku bingung. Eomma dan appa sama sekali tidak
mengizinkanku untuk terlalu dekat dengan namja siapapun. Mempunyai NamjaChingu
pun tidak boleh. Apa perjodohan ini benar – benar sudah direncanakan sejak
awal? Lalu aku tidak boleh mencari pilihanku sendiri? Mereka benar benar tega.
Kakak perempuanku, Kim HyoSup, dia diperbolehkan untuk menentukan
pilihannya sendiri. Bahkan eomma dan appa sering menanyakan siapa namja yang
sedang dekat dengannya. Begitu juga dengan adikku. Walaupun dia masih terbilang
kecil untuk mempunyai yeoja, tapi eomma masih bisa membiarkannya dekat dengan
yeoja. Ini benar benar tidak adil dan menyiksaku.
Jujur saja, aku sangat tidak tahan dengan ini semua. Sampai akhirnya aku
memutuskan untuk menerima BaekHyun oppa sekitar lima bulan yang lalu. Seniorku
dikampus. Saat itu pikiranku benar-benar kosong. Aku tidak tahu kemana arah
hatiku berada. Seakan hatiku terkunci untuk seseorang. Dan aku pikir, mungkin
orang itu adalah BaekHyun oppa. Kalaupun tidak, dia juga namja yang cukup baik
dan pantas untukku. Jadi aku memutuskan untuk menerima pernyataan cintanya
waktu itu.
“HyunSun-ssi!” aku menoleh kearah pemilik suara yang tak asing dan sudah
melambaikan tangannya dari belakang. Dia melangkah menghampiriku setelah tahu
aku menyadari keberadaannya.
“kau tidak bersama DongHae oppa,eo?” Jehee menyikut lenganku. Dia sepupu
dekatku. Rumah kami berseblahan dan kami satu kampus. Jadi kedekatan kami lebih
dari sekedar sepupu atau teman. Dia mempunyai kakak laki laki yang cukup
terkenal dikorea dengan suara emasnya, Cho Kyuhyun. Tak jarang kyuhyun oppanya
kabur untuk bersembunyi dirumahku daro serbuan fans atau wartawan.
“memangnya aku harus selalu dengannya?” jawabku asal. “aku sedang malas
untuk membicarakannya, Jehee~a. jadi tutup saja mulutmu yang tidak bisa diam
itu.”
“yak,” Jehee sedikit mempercepat langkahnya untuk menyamakan langkah
denganku. “wae? Kalian bertengkar?”
“bukannya aku memang selalu bertengkar, huh? Kau ini bagaimana. Menanyakan
yang tidak masuk akal.”
“apa kau benar-benar tidak menyukainya? Setidaknya dia lebih tampan
daripada BaekHyun oppamu kan?”
“andwae, aku tidak akan menyukai namja tak jelas sepertinya. Dan jangan
samakan BaekHyun oppaku dengannya, ara?” ujarku dengan sedikit penekanan
“aku masih tidak mengerti. Apa kecelakaan itu membuatmu melupakannya?”
Jehee sedikit menatapku iba. Membuatku sedikit terhenyak dengan maksud
perkataannya.
“melupakannya? Maksudmu.. aku pernah mengenalnya?”
DIIINNNN!!
Klakson mobil terdengar pengang ditelinga kami. Membuatku dan Jehee
mengumpat kesal kemudian melirik kearah namja yang berada dimobil.
“yak, Cho Jehee, apa yang kau lakukan, huh? Kau mau eomma memarahiku lagi
karena mengira tidak menjemputmu pulang? Aih, kau yang keluyuran, aku yang
dimarahi. Cepat masuk” kyuhyun oppa berteriak dari jendela mobil yang
dibukanya. Sifat evilnya memang benar-benar tak tahu tempat. Bagaimana kalau
ada salah satu fansnya mendengar? Adik dan kakak sama saja. Tidak mau berfikir
panjang untuk berbicara.
“eo? HyunSun-ssi, aku pulang dulu ya? Kau mau ikut?” Jehee menawarkanku
dengan senangnya. Karena mungkin kita bisa melanjutkan pembicaraan yang
tertunda.
“jangan ajak dia. Aku tidak mau mobilku jadi berisik karena rumpian kalian
berdua.” Kyuhyun oppa menyela. Membuatku mencibir kesal dibuatnya.
“lagipula aku juga tidak mau ikut pulang denganmu. Aku masih punya ongkos
untuk pulang, Cho Kyuhyun-ssi!” sahutku dengan muka sedikit meledek.
“mwo? Kau berani memanggilku dengan sebutan ‘ssi’? yaiks, neo..”
“oppa, hentikan!” Jehee menyela tangan kyuhyun oppa yang nyaris saja mendarat
dikeningku. “cepat pulang kalau kau tidak mau menghabiskan energimu hanya untuk
bertengkar dengannya.” Jehee pun akhirnya melangkah masuk ke dalam mobil
kemudian melambaikan tangannya kearahku saat mobilnya mulai melaju.
Pikiranku kembali melayang. Terlebih dengan perkataan Jehee yang sempat
membuatku tersentak. Melupakannya? Berarti aku pernah mengenalnya, bukan? Aku
sangat butuh penjelasan lanjut darinya. Aih, Kyuhyun oppa sialan! Untuk apa dia
datang kemudian memisahkan kami dengan se enakknya? Seandainya dia tidak datang
mungkin aku bisa mengerti dengan cepat. Kemudian menyelesaikan masalah
perjodohan ini.
***
Byun
BaekHyun PoV
HyunSun terlihat sedikit aneh belakangan ini. semenjak pertemuannya satu
minggu yang lalu dengan DongHae Hyung. Sebenarnya dia tidak pernah bercerita
padaku. Tapi aku mengetahuinya. Dan dia terlalu bodoh untuk berbohong. Aku
berhasil memergokinya yang bertemu dengan DongHae hyung. Mereka terlihat tidak
akrab. Pertemuan mereka selalu ada selisih.
Tapi yang membuatku tidak nyaman adalah tatapan matanya yang berbeda
ketika beradu tatap denganku. Begitu juga DongHae hyung. Dia terlihat nyaman
dengan hanya menatap HyunSun yang mengamuk dihadapannya. Entah kenapa aku
merasa berada diambang maut. Hatiku sekarang selalu dirasuki rasa takut akan
kepergian HyunSun dari sisiku.
“HyunSun~a, apa yang sedang kau pikirkan, huh?” aku melambaikan telapak
tanganku diwajahnya. Menyadarkannya yang duduk berpangku tangan dengan tatapan
kosongnya. Dia kembali melamun. Apa yang sebenarnya dia pikirkan? Aku, atau.. DongHae
hyung?
“eo? Kau sudah kembali?” sahutnya yang terdengar seperti sekenanya. Dia
kemudian menurunkan tangannya dari dagu, kemudian mengambil segelas minuman
yang aku sodorkan.
“maaf, membuatmu menunggu lama. Tadi antriannya cukup panjang, walaupun
hanya memesan coklat hangat.” Aku menghela napasku kemudian menatapnya lebih
dalam. Mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk aku menanyakan padanya.
“jagiya~.” HyunSun membalas tatapanku. “boleh aku menanyakan sesuatu?”
HyunSun hanya mengangguk, sambil sesekali meneguk coklat hangatnya.
“kau mengenal DongHae hyung?” dia terlihat sedikit tersentak dengan
ucapanku. Nyaris saja coklat hangat yang aku berikan membuatnya tersedak
kepanasan.
“ww.. wae?” jawabnya dengan sedikit ragu. “mengapa kau menanyakannya,eo?”
“kau benar mengenalnya?” ulangku. HyunSun meletakkan gelasnya kemudian
mengenggam gelas itu cukup gusar. Tangannya sedikit mengetuk ketuk ringan pada
dinding gelas.
“aku.. eng, oppa.. boleh aku menjelaskan terlebih dahulu?” aku mengangguk
dengan senyumku. Ini lebih baik daripada aku mendengarnya dari orang lain.
“mianhae, chonmal mianhae oppa.” HyunSun sedikit menundukkan kepalanya.
“eomma dan appa menjodohkanku dengan seorang namja yang sebelumnya belum
kukenal, kurasa.”
Aku sedikit menahan dentuman emosi yang seakan membunuhku. “namja itu
entah kenapa terlihat begitu baik dimata eomma dan appa sampai mereka tidak mau
mendengar penolakkanku.” HyunSun melanjutkan penjelasannya. “kau tahu, kenapa
aku baru pertama kalinya mempunyai namja chingu diusiaku yang sudah menginjak
dua puluh? Itu karena eomma dan appa terus menghindariku dari jangkauan namja.
Mereka terlalu mengekangku dari hal itu. Dan kurasa itu ada hubungannya dengan
perjodohan ini.”
“sekali lagi maaf, oppa. Kalau aku tidak segera menceritakan ini padamu.
Aku belum terlalu siap untuk melihatmu terluka. Tapi aku yakin, eomma dan appa
pasti akan lebih memilihmu daripada DongHae oppa setelah mereka mengenalmu.” HyunSun
kembali mengangkat kepalanya. “aku menerimamu karena aku yakin, kau pasti pilihan
yang tepat. Kau pasti bisa meluluhkan hati eomma dan appa.”
“aku tahu, oppa. Appa sangat mencintai bisnisnya. Dan ini pasti tidak akan
jauh jauh dari masalah persahabatan rekan bisnis. Dan aku yang sudah dipilih
untuk itu. Aku menyesal, karena sudah sempat menjadi gadis tak karuan sewaktu
kecil. Mungkin karena itu, eomma dan appa mengubah sikapku mati matian dan
memilihkan pasangan untukku.”
“aku sedikit kecewa oppa,” suaranya mulai sedikit bergetar. “kenapa mereka
tidak bisa mempercayaiku untuk menentukan pilihanku sendiri.”
Tanganku tergerak untuk menariknya dalam dekapanku. Dia yang disampingku
hanya menggigit bibir bawahnya menahan tangis. “menangislan, selagi itu
membuatmu merasa tenang. Aku akan terus ada di sisimu.”
***
Kim
JongIn (Kai) PoV
Kemana bocah itu pergi? Aku sudah mengingatkannya untuk tidak terlambat malam
ini. Sampai kapan dia akan menjadi yeoja dengan kepribadian baik? Aih, aku
yakin ini semua karena kakak laki lakinya yang mengajarkan sopan santun dengan
salah. Aku tidak heran melihat adik yang tak kalah bengalnya dengan kakaknya.
“yak, jagiya eodiga? Kau sudah terlambat setengah jam.” Gerutuku dalam
sambungan telfon yang akhirnya diangakat olehnya.
“mian, oppa. Tapi aku sudah sampai ditempat parkir. Jadi tunggu saja, eo?”
sambungan terputus seketika. Membuatku mencibir kecil.
Tapi itulah dia. Yeojaku. Cho Jehee. Aku menerima semua kekurangannya. Dan
aku sungguh berterima kasih karena dia masih mempunyai kelebihan untukku.
Kelebihan untuk mencintaiku, mungkin? Aku tidak pernah mematokkan bagaimana
tipe yeoja idealku. Karena kurasa itu sangat menjijikan. Memilih takdir memang
benar, tapi setahuku, setiap yeoja mempunyai daya tariknya masing-masing. Tipe
ideal yeoja ku ya seperti dia. Yeoja yang bernama Cho Jehee.
“chonmal mianhae oppa, aku terlambat.” Jehee duduk disampingku sambil
mengeluarkan raut wajah bersalahnya. “kau tahu? Kyuhyun oppa menyebalkan. Dia
berjanji akan segera mengantarkanku untuk menemuimu. Tapi dia ada pemotretan
mendadak tanpa sepengetahuanku. Tahu seperti itu,aku sudah berangkat sendiri.”
Aku mengacak ringan rambut Jehee, yang selalu menimbulkan rona merah
dipipinya dan aku suka itu. “gwenchana, aku mengerti Kyuhyun Hyung”
“oppa, aku boleh aku bertanya satu hal?”
“mm?”
“kau teman dekatnya BaekHyun Sunbaenim, kan?”
“eo, memangnya kenapa?”
“kau mengenal yeoja chingunya?”
“yang aku tahu, Kim HyunSun. Wae? Kau.. tidak menyukainyakan?”
Jehee menyikut lenganku dengan sedikit keras, membuatku meringis. “babo,
aku tidak mungkin menyukai namja lain selama ada kau.”
“lalu, kalau aku tidak ada? kau akan menyukai namja lain?”
“mungkin. Aku akan mepertimbangkan itu.” Jawab Jehee santai.
“yak, Cho Jehee! Apa yang..”
“aniya, oppa ani.. aigoo kau terlau takut untuk aku tinggalkan eo? Sampai
aku bercancadapun kau anggap serius.” Dengusnya menyelaku.
“aih, kau membuatku takut saja chagi.” Ujarku dengan sedikit menghela
napas. Lega setelah tahu dia masih benar-benar berpihak disisiku. Dan aku
berharap itu akan selalu untuk selamanya.
“HyunSun itu sepupuku. Dan kau bisa tolong sampaikan pada BaekHyun
Sunbaenim untuk menghindarinya? Dia sudah dijodohkan dengan namja yang
benar-benar diinginkannya dari kecil. Begitu pula dengan calonnya.”
Aku terhenyak dikursiku. Mengerjapkan mata sedikit terkejut dengan
penuturan Jehee yang berujar tanpa memikirkan arti perkataannya yang mungkin
akan disampaikan pada BaekHyun. Dia memang nyaris tidak memikirkan dampak
ucapannya.
“maksudmu.. kau menyuruhku untuk memberitahu BaekHyun seperti yang kau
katakan? Secara langsung? Secara tiba tiba? Dengan menggunakan nada penuturan
spertimu?”
Jehee mengangguk mantap. “tentu saja! Aku yakin itu akan ampuh untuk
menyingkirkannya.”
“kau gila!”
***
Lee
DongHae PoV
“eomma, appa” panggilku saat kami tengah berkumpul diruang keluarga.
Mereka berdua menoleh kearahku dengan tatapan antusiasnya. “boleh, aku
menyelesaikan permasalahanku sendiri?”
“permasalahan apa?”
“Kim HyunSun,” jawabku. “aku rasa ini akan menjadi sebuah tekanan yang
buruk untuknya. Istilah ‘dijodohkan’ mungkin akan menjadi hal konyol yang
pernah dia dengar. Dan aku yakin, dia sangat membenci itu.”
“sinjjayeo?” eomma sedikit terlihat terkejut. “tapi dia masih baik dengan
kami sewaktu mendatangi rumahnya.”
“dia bersikap baik karena belajar bertatakrama, eomma. Tapi aku tahu isi
hatinya. Dia pasti akan membenci ini semua.” Jelasku.
“baiklah, appa akan membiarkanmu menyelesaikannya sendiri.” Appa akhirnya
bisa mendengar pendapatku. Setelah bertahun tahun hidupku yang selalu
dielakknya.
“tapi, hae~a.” eomma terlihat sedikit khawatir. Raut wajahnya
menggambarkan ketidak tenangannya. “kau harus mengetahui satu hal tentangnya.”
“apa itu eomma?”
“HyunSun…” eomma berujar dengan sedikit ragu, “mengalami kecelakaan saat
duduk dibangku SMP. Ingatan ingatan masa lampaunya terhapus akibat benturan
yang kencang dibagian kepalanya. Mungkin kau masih bisa mencobanya, untuk.. mengingatkan
masa kecilmu dengannya.”
***
Taganku menarik kuat lengan HyunSun. Tidak peduli seberapa besar
penolakannya. Dia harus ingat. Dan harus secepatnya. Sebelum semua ini
terlambat. Entah apa yang membuatku tergesa. Tapi aku merasa aka nada sebuah
penyesalan nanti kalau saja semuanya tidak dengan cepat terselesaikan.
“yak, waeyeo!” tenaganya akhirnya memuncak. Dia berhasil mengelak
cengkramanku di beberapa meter dari tempat aku memarkirkan mobilku.
“Hyun..”
“aku tidak akan ikut denganmu.” HyunSun menyela perkataanku. “dan aku
tidak akan mau. Sampai kau memaksaku seperti apapun itu. Aku sudah mengatakan
berkali kali. Kalau aku bisa pulang sendiri, ara!”
HyunSun membalikkan tubuhnya dan bergegas untuk meninggalkanku. Sebelum
akhirnya aku berhasil menariknya kembali. Menariknya lebih dekat dari
sebelumnya. Aku menguncinya dalam dekapanku. “Kajima~” desahku pelan.
“aku hanya ingin kau mendengarkanku. Hanya senbentar HyunSun~a. tidak akan
memakan habis waktumu dalam sehari ini.”
Satu detik setelah ucapanku, dia melepaskan diri. “sinjja? Lalu apa
untungnya untukku? Ini hanya semakin menjerumuskanku dalam perjodohan semakin
dalam, Lee DongHae-ssi” ujarnya dengan sedikit penekanan dinamaku.
“kau.. mengetahui namaku?” ujarku dengan sedikit teresentak. Seharusnya
dia ingat namaku. Seharusnya dia mengenalikuu setelah mengetahui namaku. HyunSun~a, apa aku begitu tidak menempel
dalam ingatanmu? Sampai namaku sama sekali tidak berbekas diotakmu?
“hah!” tawa singkatnya kemudian tanganya bersedekap didada, yang aku tahu
dia ingin membalasku. “aku hanya tinggal menanyakan pada appa dan eomma. Mereka
mengetahui namamu karena kita di jodohkan, eo?”
“HyunSun~a” ujarku kembali tanpa menghiraukan perkataannya. “aku hanya
butuh waktu mu sejenak. Sungguh, aku membutuhkan waktumu.”
“untuk membujukku? Sireoya!” elaknya dengan cepat. Dia mengambil
kesempatan untuk berjalan cepat sesaat sebelum aku ingin membuka mulutku untuk
berujar.
Author
PoVerty
19:00 PM
“oppa jebal,” HyunSun menarik lengan BaekHyun dengan sedikit nada
merengeknya. “aku benci perjodohan dan aku juga hanya ingin dijodohkan
denganmu. Namja yang benar-benar aku inginkan.”
BaekHyun masih terdiam dalam posisinya. Hatinya terus menolak untuk mengikuti
permintaan HyunSun. Dia memang takut untuk kehilangan HyunSun dari sisinya.
Tapi bukan dengan cara seperti ini. memisahkan takdir dari yeoja yang
dicintainya.
Kemarin malam, Kai menemuinya. Datang dengan wajah serius yang sebenarnya
jarang sekali dia lihat dari wajah Kai. Dan Kai menceritakan semua. Semua hal
tentang HyunSun. Awalnya BaekHyun sempat mengelak. Tidak terima dengan
pernyataan Kai. Tapi takdir tetap takdir. Mepunyai ikatan yang sangat kuat.
Bagaimanapun caranya kau mengihindar, pasti akan tertangkap.
“HyunSun~a” BaekHyun akhirnya angkat bicara. Tubuhnya dihadapkan kearah HyunSun
yang masih memasang wajah memohon padanya.
“aku mengerti semua maksud dan mau mu Hyun~a.” HyunSun hanya terdiam.
Merasa BaekHyun akan berbicara serius kali ini. “tapi bukan dengan cara seperti
ini kau menghindarinya.”
“semakin kau menghindar, dia akan mendekat. Dan semakin kau melupakannya.
Kau semakin mengingatnya. Dan itu adalah sasaran yang ditujunya dan aku bukan
namja yang kau inginkan” BaekHyun menghela nafas sejenak. Sambil terus
memperkuat dirinya untuk terus mengatakan kebenaran yang dia tahu untuk HyunSun
“membuat kau ingat. Dengan semua yang penah ada dalam masa kecilmu. Dengannya.”
“mengingat masa kecil? Oppa, bisa kau jelaskan itu padaku? Kau.. benar
mengetahui masa kecilku dengannya?”
***
Kim
HyunSun PoV
Langkah kakiku berjalan malas diatas trotoar jalan menuju rumah.
Sebenarnya bukan karena malas. Tapi aku merasa begitu lemah malam ini. Lemah
untuk berpisah dengan BaekHyun oppa. Dan lemah untuk menerima kembali perasaan
yang dulu pernah ada.
Sebenarnya bukan menerima kembali. Karena perasaan itu terasa melekat. Dan
aku ‘baru bisa mengartikan’ kembali arti perasaan itu. Bukan untuk BaekHyun
oppa. Tapi DongHae. Baiklah, mungkin sekarang aku masih belum sanggup untuk
memanggilnya dengan sebutan ‘oppa’ walaupun dia dua tahun diatasku.
Atauu.. mungkin karena perkataan ku waktu itu benar-benar mengikat? Aku
akan memanggilnya ‘oppa’ setelah aku menikah dengannya? Setelah dia sudah
menjadi namja yang pantas untuk dipanggil oppa?
“HyunSun~a” aku menoleh kearah sumber suara itu berasal.
“DongHae-ssi?” mataku menyipit sebentar, mengenalinya. Dia melangkah
mendekat kemudian menjajarkan langkah disampingku. Aku terlalu lelah sekarang
untuk mengusirnya. Lagipula selama ini, aku mengusirnya karena membenci semua
perasaan yang bergejolak disetiap kedekatanku dengannya. Dan aku tidak ingin
perasaanku untuk BaekHyun oppa memudar.
“apa aku masih belum pantas untuk kau panggil ‘oppa’?” aku sedikit
tesentak dalam langkah.
“wae?” tanyanya. Aku masih memilih untuk diam.
Putus hubungan dengan BaekHyun oppa, walaupun aku tidak benar-benar
mempunyai perasaan yang kuat dengannya cukup terasa terbebani juga. melihatnya
yang pasti menahan luka karena ku, membuatku tak sanggup untuk itu. Tapi aku
juga sangat bangga dengannya. Dia tidak egois dengan perasaannya. Itu yang
membuatnya mempunyai daya tarik lebih.
“HyunSun~a, kau tidak..”
“tidak megusirmu?” aku akhirnya mengambil keputusan untuk angkat bicara.
“aku sedang lelah untuk bertengkar, oppa.”
DongHae terlihat sedikit terhenyak. Dia sedikit menyimpan senyumnya saat
menatapku. Aih, pasti dia sedang terbang ke bulan karena aku mengeluarkan kata
‘oppa’ untuknya.
“kau lelah?” telapak tangan dongahae ditempelkan kearah keningku. Dan aku
hanya kembali terdiam dengan perlakuannya. Ini terlalu nyaman untukku
sebenarnya.
“aku lelah untuk malam ini. Terlalu banyak masalah yang membebaniku, oppa.”
***
“bisa kau tutup mulutmu, Cho-Je-Hee-ssi?” dengusku kesal sambil menyambar
buku catatan yang direbutnya. Dia mengomentari setiap kelakuanku dengan
menyambung-nyambungkan dengan DongHae oppa.
Semenjak malam itu, aku dengannya sudah kembali akrab. Dan BaekHyun oppa
tidak berbohong. Ingatanku perlahan mulai kembali. DongHae oppa membantuku
untuk itu. Aku cukup menyesal untuk tidak pernah ingin mendengarkannya.
Aku mengakrabkan diri dengan DongHae oppa bukan berarti aku menerima
perjodohan ini. tidak. Aku akan menerima perjodohan ini sesuai perkataan DongHae
sewaktu itu. Disaat aku menginjak umur dua puluh tiga.
Aku menginginkan semua berjalan secara natural. Memulihkan kembali
perasaanku dengannya. Dan tentunya aku hanya ingin berjalan sesuai keinginanku
dengan DongHae oppa. Tidak lagi sesuai dengan keinginan orang tua kami.
“setidaknya kau harus tetap berterima kasih untukku, HyunSun~a” ujarnya
dengan nada sedikit membanggakan diri.
“memangnya kau melakukan apa untukku, hah, sampai aku harus mengatakan
terima kasih?”
“BaekHyun oppa. Dia mengetahuinya dari kai oppa. Dan kai oppa
mengetahuinya dariku.”
“maksudmu, apa? Berbicara tak tentu arah.”
“aku menyuruh kai untuk membantuku menyingkirkan BaekHyun oppa darimu.”
Jawabnya santai.
Mataku membulat, terhenyak dengan perkataan jehee. Tidak, ini tidk boleh
dibiarkan. BaekHyun oppa tidak boleh mengira keluargaku sengaja untuk
menyingkirkannya.
***
Byun
BaekHyun PoV
‘oppa, boleh kita bertemu saat jam makan siang? Aku butuh berbicara
denganmu sebentar. Karena aku rasa ada yang kurang beres dengan gadis tengil,
cho jehee itu.’
Aku menutup pesan yang aku terima dengan senyuman kecil. Dia bahkan masih
mau mengajakku makan siang? Bukan tawaran yang buruk.
Aku dengannya memang sudah memutuskan untuk menghentikan hubungan kami
yang baru berumur setengah tahun. Sebulan terakhir hubungan kami memang
memanas. Permasalahan perjodohan HyunSun bukan sepenuhnya alasan putusnya
hubungan kami. Aku hanya ingin dia kembali pada takdirnya. Dan hidup dengan
baik. Lalu aku? Aku hanya bisa menunggu takdirku datang. dan terus menantikan
bagaimana wujud malaikat hidup yang dikirimkan tuhan untukku.
At café
“maaf mengganggu waktumu, oppa” HyunSun mulai angkat bicara. Dan aku hanya
menggelengkan kepala tanda tidak keberatan dengan kehadirannya.
“aku.. hanya ingin meluruskan kesalahpahaman yang mungkin masih kau
simpan.” HyunSun menatapku dengan kesungguhannya. “Kai mengatakan tentang masa
kebenaran masa kecilku itu.. Jehee yang menyuruhnya. Bukan maksudnya untuk
menyingkirkanmu. Mereka hanya.. ingin membuatku tahu dan sadar tentang hal itu.
Jadii..”
“arasseo.” Potongnya. “tanpa perlu kau jelaskan, aku mengerti itu. Aku
melepaskanmu karena aku hanya ingin melihatmu hidup dengan kebahagianmu. Itu
saja. Jadi kau tidak perlu mempermasalahkan itu denganku.”
“gomawo oppa. Aku harap kau akan mendapakan malaikat kecil yang tak kalah
sempurnanya darimu.”
***
Dear HyunSunku,
Kau
tahu kenapa aku begitu menginginkanmu?
Kau
tahu kenapa aku mempunyai kendali emosi yang tidak stabil dihadapanmu?
Dan
kau tahu kenapa awalnya aku juag menolak perjodohan ini?
Itu
karena malaikat kecilku, Kim HyunSun.
Aku
menginginkanmu karena kau adalah takdirku. Milikku. Dan untukku.
Emosiku
tak terkendali karena medan magnet yang ada disekitarmu.
Yang
selalu menarikku untuk terus menjagamu, membuatmu tertawa, dan bahagia.
Tapi
bodohnya aku, yang terlalu meluapkan itu sampai semua terasa kacau. Tak
menentu.
Dan
alasan aku sempat menolak perjodohan ini?
Sekali
lagi karena kau. Karena awalnya aku tidak tahu itu kau.
Aku
bersikeras menjaga hatiku untuk kau, HyunSun~a
Because
Of You,
My
life feel so better. From my silent and calm life. To be a beautiful and
colorful life.
Thank
You, And I Love You.
Dear Lee DongHae
Aku
marah pada diriku sendiri. Aku kesal pada diriku sendiri. Dan aku menangis
malam itu. Menangis karena sepertinya aku melangkah dalam jalan yang salah.
Menangis karena aku sudah membuat banyakorang disekitarku terluka.
BaekHyun
oppa. Dia benar-benar dirugikan dalam jalan hidup yang aku pilih. Dia terlalu
baik untukku malam itu. Melepaskanku dengan senyum indahnya. Dan menceritakan
padaku semua kebenaran yang ada. dan mengembalikan ingatan masa kecilku
denganmu.
Kau
harus berterima kasih banyak padanya, oppa. Mungkin tanpa keberaniannya. Tanpa kekuatannya, aku
tidak akan kembali padamu. Dan cerita yang ada hanya pemaksaan penolakkanku.
Yang berujung memalukan karena pada akhirnya pasti aku akan kembali padamu.
Tapi tidak secepat ini, mungkin. Denga cerita yang lain.
Tapi
tuhan memang adil dan tidak pernah tidur, oppa. Tuhan tahu yang terbaik untuk
hambanya. Dan satu kata untuk mu. ‘maaf’ aku bersungguh untuk itu. Maaf karena
aku pernah membuangmu dalam otakku. Dan menyakitimu dengan menolak perjodohan
ini. tapi sebenarnya semua ini karenamu. Aku hanya tidak ingin menelan ludahku
sendiri. Menerima kenyataan kalau aku memang membutuhkanmu. Dan aku tidak mau
perasaanku pada BaekHyun oppa memudar.
I
feel sorry, oppa. I Love You.
~END~
Yak, Kim HyunSun-ssi, otte? Puas
engga? Sesuai permintaan kan? diantara BaekHyun dan DongHae? Hehe. Maaf yaah,
kalo masih rada typo-_- gue masih kaku soalnya kalo masangin donghae sama orang
lain. Ini aja gue nahan nahan buat gak nulis ‘Jehee’ pas di dialog HyunSun sama
DongHae. Wkwk. Okedeh, thanks udah mau baca. Ditunggu komennya yaaa. Jebalyeo,
jangan jadi silent reader. Ninggalin jejak titik doang juga gakpapa. Tapi sih
itu terserah kalian. Cukup baca ff gue aja udah seneng kok ;) annyeong, sampai
ketemu di ff selanjutnya ;)