(BinHa Couple Story)
My Best Friend is My Love (part 2)
Mencintai seseorang pada pandangan pertama
Adalah sebuah hal yang wajar
Mencintai seseorang yang sebatas kenal
Merupakan hal yang mungkin teratasi
Mencintai seseorang, yang merupakan teman sekolah
Merupakan hal yang sangat biasa
Karena mereka,
Hanya sesekali terlihat
Dalam pandangan kita
Lalu.. bagaimana denganku?
Aku, mencintai seseorang
Yang bukan untuk pertama kalinya kulihat
Yang bukan seseorang sebatas kukenal
Yang bukan sebatas
seseorang teman sekolah
Dia, sosok yang selalu ada
Dalam jarak pandangku
Dalam setiap pengelihatanku
Sung Ha-ae PoV
aku memberanikan diri melangkah mendekati Jehee. Belakangan ini, hubunganku dengan nya bahkan RaeBin sekalipun merenggang. Entah hal apa yang memisahkan kita.
“annyeong Ha-ae ssi! Lama kita tidak berjumpa.” Jehee lebih dulu menghampiriku dengan senyum ceria di wajahnya.
“annyeong! Haah.. lama sekali ya, rasanya kita tidak bersama. Walaupun, itu hanya sebulan saja.” Ujarku sambil berjalan bersamanya menuju kelas.
“ania! Kita tetap bersama. Hanya kamu yang sedikit menjauh dari kita.wae? karena Sang Gun?”
“uri? Maksudmu.. kau dan RaeBin?”
Dia mengangguk mantap kemudian menggigit roti yang dibawanya cepat. “tentu saja.”
Aku terdiam. Tidak ada yang bisa aku sanggup jelaskan padanya. Tidak mungkin, kan aku menjawab ‘karena aku tidak suka melihatmu terlalu dekat dengan raebin.’ Cih, membutku malu saja.
“yak! Wae?” je hee menyikutku pelan. Aku masih terdiam.
“sudah lah, lupakan.”
Huft. Lega sekali rasanya dia melupakan pertanyaannya. Ada untungnya juga, dia mempunya sifat yang tidak pedulu dan tidak ingin tahu. Tapi, aku sedikit iri dengannya. Dia mempunyai sifat yang sama dengan raebin. Membuat mereka semakn cocok.
“emm.. ha-ae ssi.”
“wae?”
“sebenarnya.. ada yag sangat ingin aku tanyakan dari dulu. Rasanya sangat penasaran sekali. Sampai sampai aku membuat banyak dugaan tentang hal itu, lalu..”
“cepat katakan, bel sudah berbunyi tidak usah berbelit belit.”
Dia sedikit menggembungkan pipinya. “apa kau, menyukai Raebin?”
Tanpa ragu dia meluncurkan pertanyaan yang sangat membuatku tercenggang. Langkahku dengan cepat terhenti. Mulutku seperti tidak bisa terbuka untuk berbicara.
“benarkan? Aish.. tanpa kau bilang saja aku sudah bisa menebak.” Ujarnya sambil tersenyum jahil.
“yak! Jangan asal mengambil kesimpulan. Apa alasannya aku menyukainya? Bahkan dia termasuk dalam daftar namja yang kubenci.”
“tidak ada alasan untuk mencintai seseorang. Sinjja? Bukan masuk dalam daftar namja yang ada diotakmu?”
“yak! Neo..! aish, bilang saja kau yang menyukainya!” aku melanjutkan langkahku diikutinya.
“mwo? Aku menyukainya? Andwae! Aku sudah punya sooki. Emm.. kau cemburu, yaa?” dia menyikutku.
“ne? untuk apa aku cemburu, huh?!” geramku. “chakkam! Sudah milik sooki? Kau..”
“nanti aku ceritakan.” Potongnya. “tapi, kau harus mengaku dulu”
“kurae. Kali ini aku harus menyerah padamu”
***
Jehee benar benar sudah kelewatan. Sudah hampir satu tahun dia berpacaran dengan sooki tanpa memberitahuku? Huh, teman macam apa dia. Gerutuku dalam hati, sambil berjalan memasuki perpustakaan.
“ yak, kau pikir aku menyukainya, huh?”
“aktingmu sangat bagus, kawan!”
Suara itu.. sepertinya aku mengenalnya. Karena penasaran, aku bersandar di lorong berikutnya, stelah mereka sambil berpura membaca buku.
“demi pertandingan basket itu, apapun aku relakan. Yaah.. walaupun harus berpura-pura meyukai, Ha-ae yang sangat menjatuhkan harga diriku skalipun.”
“eo. Betul sekali. Seorang Sang Gun, menyukai Ha-ae? Sangat memalukan!”
“kalau bukan karena dia anak dari salah satu panitia perlombaan, mana mau aku.”
Kupingku mulai memanas. Emosiku sudah tidak bisa tertahankan. Aku menutup kasar buku yang kupegang. Dan menghampiri mereka.
Mata keduanya saling berpandangan, ngeri. Melihatku menatap mereka dengan penuh amarah.
“neo michiseo?!” jeritku di iringi dengan tamparan keras di pipi kanan Sang Gun. Membuat semua orang yang ada di perpustakaan memperhatikan kami.
“cih, jadi.. kau mendengar itu semua? Bagus lah.” Ujarnya meremehkan ku.
“eo! Sangat sangat bagus. Karena itu sebelum pertandinganmu dimulai.”
Sorot matanya mulai menampakkan kekhawatiran.
“mudah saja. Hari ini juga, aku akan bilang ke appa. Orang tidak berkelakuan bejat sepertimu, tidak pantas mengikuti pertandingan itu.”
“huh, kau lihat saja aku akan memenangkan pertandingan murahan itu.”
Satu tamparan lagi di pipi kirinya. Dia sedikit meringis, sambil memegangi pipinya.
“kalau kau menganggap itu hanya pertandingan murahan, untuk apa kau mati matian, mencari cara agar kau bisa menang, huh?” aku melipatkan kedua tanganku.
“kau bahkan tidak akan diperbolehkan untuk mengikuti pertandingan. Menginjakkan kaki pun tidak boleh.” Aku berjalan meninggalkannya, setelah membuang buku yang aku bawa begitu saja dimukanya.
***
Shin RaeBin PoV
Langkah ku sedikit bergetar, untuk melangkah. Jantungku berdetak kacau. Dan pita suaraku seolah tidak mau digetarkan. Melihatnya sedang bersandar di pembatas korodor kelas lantai 3. Teringat betapa lamanya kami tidak bersama lagi seperti dulu. Entah ada angina pa yang mendorongku untuk mendekat.
“eee.. ha-ae ssi” ujarku sebisa mungkin untuk terdengar santai. Dia menoleh kearahku sambil menatapku bingung. “wae? Eum.. sejak kapan kau memanggilku tanpa embel-embel babo?”
Aku menggaruk kepalaku bangian belakang yang sebenarnya tidak gatal sedidikitpun. Entah kenapa kondisi saat ini jadi canggung.
“eum.. eee.. memangnya tidak boleh, huh?” ujarku tak karuan.
“eo? Gwenchanayeo.” Dia kembali menatap pandanagn kearah depan. Mataku mengikuti arah pandangannya. Sedikit terhenyak mengetahuinya. “sang.. gun?” keterkejutanku tidak bisa tertutupi.
“wae? Jangan mengambil keputusan sebelum kamu mengetahui semuanya dengan benar” ujar Ha-ae datar.
“bagaimana tidak? Kamu selalu bersamanya seperti perangko dan surat” aku sedikit memuramkan wajahku, mengingatnya semua hal itu.
“masalah?” tanyanya singkat.
“ yak! Tentu sangat masalah bagiku! Neo mollaseo??! Dia merebut posisiku darimu, selalu menghalangiku untuk betemu dengan mu. Itu sudah cukup membuatku gila! Neo ara?”
Dia mengerjapkan matanya manampakkan kekagetannya akan emosiku yang melampaui biasa. Mungkin, ini pertama kalinya dia melihatku sangat kesal.
“ mwo? Busumaria? Kau ini aneh sekali”
“yak! Aish.. kamu ini benar benar babo.” Aku menatapnya lekat, penuh keseriusan. “kamu.. sama sekali tidak menyadari semua sikapku?”
“sikapmu? Setiap hari kau memeriakiku, membentakku, bahkan memukuliku. Apa yang harus aku sadari?”
“aish, ternyata benar kata jehee. Dia tidak akan mengerti.” Gumamku pelan.
“yak, waeyeo?”
Tanganku meraih tangannya dan menggenggamnya lembut. Menatapnya penuh keseriusan. Mungkin memang saatnya dia tahu, sekarang.
“ Ha-ae ssi, na.. na.. na chonmal saranghae.” Matanya yang mulat balas menatapku. “would you be my girl friend, Ha-ae ssi?”
Matanya masih menatap wajahku. Pipinya yang mulai memerah, mulutnya yang masih terkunci. Membuat jantungku berkontraksi semakin cepat.
“kau.. tidak sedang menjahiliku, kan?” jantungku seakan mencolos mendengar pertanyaan yang diluncurkannya. Membuatku sadar dengan sikapku padanya selama ini. aih, Raebin-ssi benar benar memalukan.
“apa wajahku menggambarkan kejahilan?” dia menggelengkan kepalanya. “aku tidak butuh jawaban tidak darimu. Yang aku butuhkan hanya penerimaanmu. Jadi, tidak ada alasan untuk menolakku.”
“yak! Itu namanya pemaksaan.”
“biarkan saja.”
“eumm.. eo, aku mau. Menjadi yeoja chingu seorang Raebin babo.” Dia menundukkan wajahnya yang memerah. Wajahnku mengulas sebuah senyuman lebar.
“wae? Apa alasanmu?” tanyaku. Dia kemudian menganggkat kepalanya dan mentapku.
“karena tidak ada alasan untuk menolak namja yang bernama Shin Raebin, dalam kamus kehidupanku.”
***
END
aaaa maksa ya? pendek pula #plak ._.v mian ffnya gaje. abisnya bingung, dari awal, jalan ke endingnya gimana XD. yaudah deh, thanks udah ngebaca. and... aku butuh komen dan jejak singkat dari reader. annyeong!