Senin, 29 April 2013

- No Tittle -

Judul : - No tittle -
Cast : Cho Jehee, Cho Kyuhyun, SungHyunSun, Han Ha Gun, Kim JongIn (kai), Lee DongHae
Genre : friendship, romance
Note : maaf ya sebelumnya yang Kyuhyun bitrhday aku lanjutkan buat ultah kyuhyun tahun depan ajaa *kelamaan yak-_-* kalo yang ini, special aku buat untuk melampiaskan cerita kehidupan aku sendiri. sebenernya gasampe sama plek tapi yah, lumayan menggambarkan. maklumlah, selesai UN, galau menghampiri (?) okedehh.

HAPPY READING !!


Ketika aku membuka lembaran baru,
Disaat semuanya kembali menjadi mungkin,
Aku menginginkanmu berada disampingku.
Menari dan bergurau disekelilingku,
Memancing canda dan semangat untukku
Dan semua hal baru yang inginku lakukan… bersamamu

Cho Jehee PoV
Tatapan matanya yang kuat mengarah padaku. Lidahku masih terlalu kaku untuk menyapa atau sekedar menyebutkan sepatah kata namanya. Dia berusaha melempar senyum padaku, dan tatapannya kembali meragu. Aku hanya balas menunduk, menatap sepasang sepatu kets putih yang aku kenakan dengan seragam sekolah.
Kyuhyun menatapku dengan kening berkerut. Dia membiarkanku begitu saja terperangkap dalam suasana canggung sedaritadi bersama dua orang terdekatnya. Kim JongIn, atau biasa disapa Kyuhyun dengan ‘KAI’ yang sedang berusaha mengenalku dan Han Ha Gun, teman khursus pianoku yang belakangan ini terlihat semakin dekat dengan sepupu dinginku, Cho Kyuhyun.
Aku terdampar jauh dari naungan HyunSun, sosok yang hampir aku anggap sebagai teman satu – satunya seantero sekolah. Kami mendadak berpisah di kelas tiga. Ada satu kelas dan tangga yang memisahkan kelas kami. Ini kali pertaama dalam hidupku untuk beradaptasi dengan lingkungan baru tanpa keberadaan HyunSun yang sudah menjadi setengah jiwa dikehidupanku.
Beruntung aku satu kelas dengan Ha Gun, teman khursus pianoku walaupun kami tidak begitu dekat. Dan Kyuhyun, sepupu dekatku yang tinggal sekitar dua meter dari rumahku. Aku dengan Kyuhyun memang dekat, tapi tidak sedekat itu jika sedang berada disekolah. Kami biasa membuat semuanya menjadi hal layaknya teman sepengetahuan biasa. Yang hanya menoleh ketika salah satu diantara kami lewat kemudian menandakan wajah bahwa ‘aku melihatmu’ tanpa ada sapaan dan gurauan lebih. Lagipula aku dengannya tidak pernah satu kelas sebelumnya. Jadi kami membiasakan diri untuk membatasi kedekatan saat disekolah.
Tidak terlalu nyaman untukku bergelayut dipundaknya seperti yang sering aku lakukan ketika menginginkan sesuatu dan merengek padanya didepan banyak teman yang mungkin sepuluh diantara sebelas orang menyukai Kyuhyun. Ketenaran Kyuhyun di sekolah juga membuatku enggan untuk berteriak ketika memanggil namanya kemudian mengeluarkan semburan kalimat yang panjangnya mencapai beberapa paragraph.
“Kim JongIn, panggil saja aku Kai” namja itu akhirnya angkat bicara, walaupun kepalanya masih sedikit tertunduk dan merasa ragu untuk menantapku. Tangannya yang dimasukkan kedalam saku dan tubuhnya yang bersandar pada dinding tidak menunjukkan sedikit pun situasi bahwa dia sedang berkenalan denganku.
“Cho Jehee, panggil saja sesukamu. Terlalu banyak panggilan untukku dari teman – teman” jawabku yang tak kalah ragunya saat mengucapkan kalimat perkenalan.
“Yak, dimana kalimat pidatomu dengan mimic menggelikan yang bisa kau tunjukkan setiap kali berkenalan dengan teman baru?” Kyuhyun menegakkan tubuhnya, kemudian mulai meniru suara cempreng dan lagak ku yang sepertinya sudah dia hapal dengan benar berikut kalimatnya, “Hai, chingu! Kita mulai hari ini berteman yah, Cho Jehee ibnida. Kau boleh memanggilku dengan ‘Je’ ‘Jehee’ JeJe’ atau kau mau membuat yang baru? Itu terserah mu. Senang bertemu denganmu. Semoga kita bisa membuat pertemanan yang baik. Siapa namamu? Apa kau menyukai Dongwoo anggota Boyband Infinite?”
Ha Gun mendadak terjatuh diatas kursi kemudian berusaha menutupi mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Wajahnya terlihat memarah ditengah tawanya yang terdengar begitu keras. Sepertinya dia baru kali ini menyaksikan tingkah Kyuhyun dengan beribu bisunya menjadi seperti itu ketika meledekiku.
Kyuhyun segera menghentikan tingkahnya dan kembali memasangkan raut wajah dinginnya. Pipinya terlihat merona malu karena ditertawakan Ha Gun dengan spontannya.
“Lupakan saja,” elaknya, “kita lanjutkan pembicaraan mengenai tugas baru dari Mr. Kim”
                                                            ***
Tanganku terlipat diatasa meja dengan kepala yang terangkat menatap langit. Jemariku mengetukkan diri dan bibirku mendesis sembari berhitung. Sesekali aku merasa kesal kemudian meringis dan terhenti sebentar dengan umpatan kecilku sampai akhirnya aku melanjutkan hitunganku.
“Kau menyukai langit, atau membencinya?” Kai menghampiriku dengan raut wajah datarnya. Dia berdiri disampingku tanpa menginginkan duduk ataupun sekedar melihat ke arahku. Tatapannya mengikutiku yaitu menatap kearah langit, “sesekali tersenyum, sesekali mengumpat. Dan kau tidak terlihat bosan sedikitpun.”
“Aku menunggu hujan datang” Jawabku singkat. Berbicara dengannya membuat lidahku mendadak kaku dan mogok kerja. Entahlah, apa itu karena sikapnya yang tidak begitu tertarik untuk bersosialisasi dengan teman yeoja atau alasan lain yang belum aku mengerti.
Dia sedikit berbeda dengan namja lainnya. Sikapnya terlalu terjaga disekitar yeoja. Tapi dia akan menjadi teman yang menyenangkan ketika bersama namja. Itu yang aku lihat dari sikapnya selama satu minggu di kelas tiga.
“Semua orang mengharapkan untuk hujan yang tertunda karena sudah waktunya untuk pulang. Dan kau masih terduduk disini dengan harapan hujan akan turun,” tangannya membenarkan tas sekolah yang dikaitkan satu pada pundaknya, dan beranjak pergi dariku sembari bergumam, “wanita yang aneh”
Aku mengercutkan bibir kemudian menghela napas berat. Belakangan ini memang menantikan hujan menjadi kesukaanku. Karena aku menunggu saat dimana hujan akan menemaniku menangis dan bau hujan yang menenangkan pikiranku ditengah kegundahan yang kumiliki.
Ditinggalkan oleh sosok yang setiap harinya mendatangiku didepan kelas kemudian memberikan coklat dengan pita berwarna merah. Sosok yang biasa berbagi bekal denganku setiap jam istirahat kedua dengan gurauan diselanya walaupun terkadang membuatku tersedak. Bukan hal mudah yang bisa aku terima.
Donghae oppa boleh saja pergi ke perguruan tinggi. Tapi bolehkah ia meninggalkan semuanya yang pernah ada di SMA ini termasuk aku? Untuk sekarang, aku masih bisa menunggunya dengan tenang dan masih terus mengharapkan kehadirannya.
“Sampai kapan kau mau menunggunya didepan jendela kelas, hah?” Kyuhyun menarik tasku, menandakan bahwa kami harus segera pulang, “kalau ingin menunggunya dan mengahrap dia ada, tunggu saja didepan Universitasnya. Dasar bodoh.”
Kyuhyun mulai melangkah keluar kelas dan aku masih terdiam menatap langit. Mengahrapkan langit muram segera mengeluarkan amarahnya. Pulang dengan pakaian basah terdengar menyenangkan untukku. Karena itu semua mengingatkanku akan hujan ditengah kebersamaan kami.
“Yak, Cho Jehee!” kyuhyun berbalik kearahku. Ruangan kelas sudah tidak berpenghuni selain aku dengannya. Dia tidak terlalu takut untuk meneriaki namanku, “kau mau bangkit sendiri, atau aku akan menyeretmu keluar?”
“Pulang saja duluan,” ujarku, “letakkan tasku kemudian aku akan pulang sendiri”
Kyuhyun kemudian terdiam menatapku. Terdengar helaan napas ringan yang dikeluarkannya. Aku tidak begitu memerdulikannya dengan terus menatap langit dibalik jendela kelas.
“Donghae oppamu tidak akan kembali kesekolah ini. hanya belajar dengan benar, kemudian temui dia diperguruan tinggi,” ujar kyuhyun yang berhasil membuatku menolehkan pandangan ke arahnya, “aku yakin dia juga menantikanmu disana”
***
Satu bulan berlalu dan kedekatan kami masih sama seperti awal. Terkadang masih ada pembicaraan – pembicaraan yang menggantung dan tidak jelas. Sesekali aku masih berlari menuju kelas HyunSun dan memilih untuk mengusiknya dengan teman sebangku barunya dibandingkan mengumpul bersama tiga teman pintar yang membisu.
Mereka bisa tertawa. Tapi hanya sekedar menunjukkan sebaris gigi putinya. Mereka bisa bergurau. Tapi dengan gurauan yang menggunakan rumus. Aku masih belum mengenali mereka dengan baik. Kyuhyun terlihat yang paling canggung diantara kami berempat. Dia masih terkesan bingung menempatkan dirinya ketika bersama denganku atau Kai.
Namun anehnya, Kyuhyun terlihat begitu santai bergaul dengan Ha Gun. Mereka terlihat begitu akrab dan sesekali aku mendapati wajah merah Kyuhyun dengan kapala tertunduk disaat mereka sedang bersama.
Kyuhyun selalu mengelak dengan mengatakan itu karna mereka sudah mengenal lebih awal. Dan aku yang terlalu lama bergaul dengan HyunSun tanpa memerhatikan cara bergaul seorang namja dengan yeoja yang sebenarnya.
Memang, aku tidak begitu mengerti apa yang pantas dilakukan ketika berteman dengan lawan jenis. Bersama Donghae oppa aku saja terkadang mendapati kebingungan dalam bersikap. Entahlah, mungkin ini akibat kebiasaanku yang terlalu merapatkan diri dengan HyunSun.
***
“Kai, Mr. kim menyuruhmu menemuinya diruang guru sepulang sekolah untuk membicarakan olimpiade matematikamu bersama Kyuhyun” langkah kakiku terhenti didepan mejanya sejenak. Sebelum akhirnya aku melanjutkan langkah menuju tempat dudukku yang breselang satu meja disampingnya.
“Terima kasih,” jawabnya, “eo, chakkaman” aku menghentikan langkah kemudian berbalik kearahnya dengan tatapan bertanya, “kau tidak ikut berpartisipasi dalam olimpiade minggu depan?”
Aku tertawa kecil, “aku belum sepintar itu. Lagipula aku masih harus menyiapkan diri mengahadapi kompetisi menulis artikel satu kota seoul yang akan diadakan sekitar satu bulan lagi.”
Dia hanya mengangguk kecil dan membiarkanku pergi. Jam istirahat membuat kelas ini menjadi begitu kosong. Semua anak berkeliaran keluar kelas melepaskan penatya suasana kelas. Sedang aku masih lebih memilih untuk memakan bekal sembari menatap langit dari jendela kelas. Dan sesekali membuka novel fantasiku kemudian tenggelam dalam imajinasi sang penulis.
Kai sepertinya memunyai sedikit kesamaan denganku. Dia terkadang memilih untuk beridam diri dikelas. Walaupun masih terhitung jarang. Seperti halnyya saat ini. jemarinya tengah sibuk menuliskan beberapa cara untuk menjawab deretan soal matematikan dihadapannya. Terkadang dia terlihat sama dengan Kyuhyun. Mencintai game dan senang bermain dengan soal matematika. Walaupun masih kuakui Kyuhyun lah yang lebih pandai.
“Apa yang menarik dari soal – soal yang membuat otakmu bekerja keras?” ujarku meudian meberanikan diri. Dia menghentikan aktivitasnya sejenak kemudian menoleh ke arahku.
“otakku tidak perlu bekerja keras untuk menjawabnya, dan mencoba mencari jalan keluar dari sebuah masalah itu menyenangkan, ” jawabnya, “lalu bagaimana denganmu? Apa yang menarik dari setumpuk lembaran teks dan langit?”
Aku tersentak sesaat, nyaris mengeluarkan kembali sepotong roti yang baru saja aku jejalkan kedalam mulut. Tidak banyak orang yang menyadari kegemaranku membaca dan menatap langit. Karena aku selalu melakukannya ditengah keramaian, membiarkan orang tak menyadarinya. Agar mereka tidak menanyakan alasan padaku.
“Aku? Aku.. ehm,” tanganku meraih botol minum kemudian meneguknya sejenak sebelum menjawabnya, “imajinasi penulis yang bisa membawamu keluar dari kehidupan nyata dan menghayalkan sesuatu yang indah dalam hidupmu. Intinya, ini bisa membuatmu melupakan hal buruk yang pernah terjadi dalam hidupmu. Dan kalau menatap langit … aku menyukainya saja. Yah, setidaknya bisa membayangkan wajah sosok yang aku tunggu dengan nyaman”
“sosok yang kau tunggu?” keningnya sedikit berkerut, “nugu? Selama ini kau terlihat tidak begitu tertarik dengan namja, bukan, maksudku, kau…”
“aku belum mengenal namja dalam arti lain dikehiupanku,” potongku, “sebelum akhirnya ada namja yang benar benar tinggal begitu tenang disisiku, namun.. sekarang semuanya harus berakhir sampai saat dimana dia harus melanjutkan ke perguruan tinggi.”
Aku terdiam setelahnya. Mengatup rapat mulutku dengan jemari yang meneyetuh bibirku tak percaya. Mulutku dengan begitu mudah mengeluarkan kisahku yang sebelumnya hanya bisa aku bagi bersama Kyuhyun atau Hyunsun.
“Wae?” tanyanya yang sedikit bingung dengan tingkahku yang sedikit membuatnya tak mengerti. Tanganku mulai bergetar, dan mataku mulai memanas. Ceritaku dengan Donghae oppa seharusnya tidak aku keluarkan semudah itu. Karena itu sama saja membuat otakku terdesak dengan memori dengannya dan hatiku bergerak untuk menggores sendiri bagiannya.
“A.. aniya, aku ke toilet sebentar.” Tanpa memandangnya balik, aku berlari dengan tergesa menuju toilet, tak ingin air mataku menetes didepannya.
                                                           
TBC