Cast : Cho Jehee, Cho Kyuhyun, SungHyunSun, Han Ha Gun, Kim JongIn (kai), Lee DongHae
Genre : friendship, romance
Note : maaf ya sebelumnya yang Kyuhyun bitrhday aku lanjutkan buat ultah kyuhyun tahun depan ajaa *kelamaan yak-_-* kalo yang ini, special aku buat untuk melampiaskan cerita kehidupan aku sendiri. sebenernya gasampe sama plek tapi yah, lumayan menggambarkan. maklumlah, selesai UN, galau menghampiri (?) okedehh.
HAPPY READING !!
Ketika aku membuka lembaran baru,
Disaat semuanya kembali menjadi mungkin,
Aku menginginkanmu berada disampingku.
Menari dan bergurau disekelilingku,
Memancing canda dan semangat untukku
Dan semua hal baru yang inginku lakukan… bersamamu
Cho Jehee PoV
Tatapan matanya yang kuat mengarah
padaku. Lidahku masih terlalu kaku untuk menyapa atau sekedar menyebutkan
sepatah kata namanya. Dia berusaha melempar senyum padaku, dan tatapannya kembali
meragu. Aku hanya balas menunduk, menatap sepasang sepatu kets putih yang aku
kenakan dengan seragam sekolah.
Kyuhyun menatapku dengan kening
berkerut. Dia membiarkanku begitu saja terperangkap dalam suasana canggung
sedaritadi bersama dua orang terdekatnya. Kim JongIn, atau biasa disapa Kyuhyun
dengan ‘KAI’ yang sedang berusaha mengenalku dan Han Ha Gun, teman khursus
pianoku yang belakangan ini terlihat semakin dekat dengan sepupu dinginku, Cho
Kyuhyun.
Aku terdampar jauh dari naungan HyunSun,
sosok yang hampir aku anggap sebagai teman satu – satunya seantero sekolah.
Kami mendadak berpisah di kelas tiga. Ada satu kelas dan tangga yang memisahkan
kelas kami. Ini kali pertaama dalam hidupku untuk beradaptasi dengan lingkungan
baru tanpa keberadaan HyunSun yang sudah menjadi setengah jiwa dikehidupanku.
Beruntung aku satu kelas dengan Ha Gun,
teman khursus pianoku walaupun kami tidak begitu dekat. Dan Kyuhyun, sepupu
dekatku yang tinggal sekitar dua meter dari rumahku. Aku dengan Kyuhyun memang
dekat, tapi tidak sedekat itu jika sedang berada disekolah. Kami biasa membuat
semuanya menjadi hal layaknya teman sepengetahuan biasa. Yang hanya menoleh
ketika salah satu diantara kami lewat kemudian menandakan wajah bahwa ‘aku
melihatmu’ tanpa ada sapaan dan gurauan lebih. Lagipula aku dengannya tidak
pernah satu kelas sebelumnya. Jadi kami membiasakan diri untuk membatasi
kedekatan saat disekolah.
Tidak terlalu nyaman untukku bergelayut
dipundaknya seperti yang sering aku lakukan ketika menginginkan sesuatu dan
merengek padanya didepan banyak teman yang mungkin sepuluh diantara sebelas
orang menyukai Kyuhyun. Ketenaran Kyuhyun di sekolah juga membuatku enggan
untuk berteriak ketika memanggil namanya kemudian mengeluarkan semburan kalimat
yang panjangnya mencapai beberapa paragraph.
“Kim JongIn, panggil saja aku Kai” namja
itu akhirnya angkat bicara, walaupun kepalanya masih sedikit tertunduk dan
merasa ragu untuk menantapku. Tangannya yang dimasukkan kedalam saku dan
tubuhnya yang bersandar pada dinding tidak menunjukkan sedikit pun situasi
bahwa dia sedang berkenalan denganku.
“Cho Jehee, panggil saja sesukamu.
Terlalu banyak panggilan untukku dari teman – teman” jawabku yang tak kalah
ragunya saat mengucapkan kalimat perkenalan.
“Yak, dimana kalimat pidatomu dengan
mimic menggelikan yang bisa kau tunjukkan setiap kali berkenalan dengan teman
baru?” Kyuhyun menegakkan tubuhnya, kemudian mulai meniru suara cempreng dan
lagak ku yang sepertinya sudah dia hapal dengan benar berikut kalimatnya, “Hai,
chingu! Kita mulai hari ini berteman yah, Cho Jehee ibnida. Kau boleh
memanggilku dengan ‘Je’ ‘Jehee’ JeJe’ atau kau mau membuat yang baru? Itu
terserah mu. Senang bertemu denganmu. Semoga kita bisa membuat pertemanan yang
baik. Siapa namamu? Apa kau menyukai Dongwoo anggota Boyband Infinite?”
Ha Gun mendadak terjatuh diatas kursi
kemudian berusaha menutupi mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Wajahnya terlihat
memarah ditengah tawanya yang terdengar begitu keras. Sepertinya dia baru kali
ini menyaksikan tingkah Kyuhyun dengan beribu bisunya menjadi seperti itu
ketika meledekiku.
Kyuhyun segera menghentikan tingkahnya
dan kembali memasangkan raut wajah dinginnya. Pipinya terlihat merona malu
karena ditertawakan Ha Gun dengan spontannya.
“Lupakan saja,” elaknya, “kita lanjutkan
pembicaraan mengenai tugas baru dari Mr. Kim”
***
Tanganku terlipat diatasa meja dengan
kepala yang terangkat menatap langit. Jemariku mengetukkan diri dan bibirku
mendesis sembari berhitung. Sesekali aku merasa kesal kemudian meringis dan
terhenti sebentar dengan umpatan kecilku sampai akhirnya aku melanjutkan hitunganku.
“Kau menyukai langit, atau membencinya?”
Kai menghampiriku dengan raut wajah datarnya. Dia berdiri disampingku tanpa
menginginkan duduk ataupun sekedar melihat ke arahku. Tatapannya mengikutiku yaitu
menatap kearah langit, “sesekali tersenyum, sesekali mengumpat. Dan kau tidak
terlihat bosan sedikitpun.”
“Aku menunggu hujan datang” Jawabku
singkat. Berbicara dengannya membuat lidahku mendadak kaku dan mogok kerja.
Entahlah, apa itu karena sikapnya yang tidak begitu tertarik untuk
bersosialisasi dengan teman yeoja atau alasan lain yang belum aku mengerti.
Dia sedikit berbeda dengan namja
lainnya. Sikapnya terlalu terjaga disekitar yeoja. Tapi dia akan menjadi teman
yang menyenangkan ketika bersama namja. Itu yang aku lihat dari sikapnya selama
satu minggu di kelas tiga.
“Semua orang mengharapkan untuk hujan
yang tertunda karena sudah waktunya untuk pulang. Dan kau masih terduduk disini
dengan harapan hujan akan turun,” tangannya membenarkan tas sekolah yang
dikaitkan satu pada pundaknya, dan beranjak pergi dariku sembari bergumam,
“wanita yang aneh”
Aku mengercutkan bibir kemudian menghela
napas berat. Belakangan ini memang menantikan hujan menjadi kesukaanku. Karena
aku menunggu saat dimana hujan akan menemaniku menangis dan bau hujan yang
menenangkan pikiranku ditengah kegundahan yang kumiliki.
Ditinggalkan oleh sosok yang setiap
harinya mendatangiku didepan kelas kemudian memberikan coklat dengan pita
berwarna merah. Sosok yang biasa berbagi bekal denganku setiap jam istirahat
kedua dengan gurauan diselanya walaupun terkadang membuatku tersedak. Bukan hal
mudah yang bisa aku terima.
Donghae oppa boleh saja pergi ke
perguruan tinggi. Tapi bolehkah ia meninggalkan semuanya yang pernah ada di SMA
ini termasuk aku? Untuk sekarang, aku masih bisa menunggunya dengan tenang dan
masih terus mengharapkan kehadirannya.
“Sampai kapan kau mau menunggunya
didepan jendela kelas, hah?” Kyuhyun menarik tasku, menandakan bahwa kami harus
segera pulang, “kalau ingin menunggunya dan mengahrap dia ada, tunggu saja
didepan Universitasnya. Dasar bodoh.”
Kyuhyun mulai melangkah keluar kelas dan
aku masih terdiam menatap langit. Mengahrapkan langit muram segera mengeluarkan
amarahnya. Pulang dengan pakaian basah terdengar menyenangkan untukku. Karena
itu semua mengingatkanku akan hujan ditengah kebersamaan kami.
“Yak, Cho Jehee!” kyuhyun berbalik
kearahku. Ruangan kelas sudah tidak berpenghuni selain aku dengannya. Dia tidak
terlalu takut untuk meneriaki namanku, “kau mau bangkit sendiri, atau aku akan
menyeretmu keluar?”
“Pulang saja duluan,” ujarku, “letakkan
tasku kemudian aku akan pulang sendiri”
Kyuhyun kemudian terdiam menatapku.
Terdengar helaan napas ringan yang dikeluarkannya. Aku tidak begitu
memerdulikannya dengan terus menatap langit dibalik jendela kelas.
“Donghae oppamu tidak
akan kembali kesekolah ini. hanya belajar dengan benar, kemudian temui dia
diperguruan tinggi,” ujar kyuhyun yang berhasil membuatku menolehkan pandangan
ke arahnya, “aku yakin dia juga menantikanmu disana”
***
Satu bulan berlalu dan kedekatan
kami masih sama seperti awal. Terkadang masih ada pembicaraan – pembicaraan yang
menggantung dan tidak jelas. Sesekali aku masih berlari menuju kelas HyunSun
dan memilih untuk mengusiknya dengan teman sebangku barunya dibandingkan
mengumpul bersama tiga teman pintar yang membisu.
Mereka bisa tertawa. Tapi hanya
sekedar menunjukkan sebaris gigi putinya. Mereka bisa bergurau. Tapi dengan
gurauan yang menggunakan rumus. Aku masih belum mengenali mereka dengan baik.
Kyuhyun terlihat yang paling canggung diantara kami berempat. Dia masih
terkesan bingung menempatkan dirinya ketika bersama denganku atau Kai.
Namun anehnya, Kyuhyun terlihat
begitu santai bergaul dengan Ha Gun. Mereka terlihat begitu akrab dan sesekali
aku mendapati wajah merah Kyuhyun dengan kapala tertunduk disaat mereka sedang
bersama.
Kyuhyun selalu mengelak dengan
mengatakan itu karna mereka sudah mengenal lebih awal. Dan aku yang terlalu
lama bergaul dengan HyunSun tanpa memerhatikan cara bergaul seorang namja
dengan yeoja yang sebenarnya.
Memang, aku tidak begitu mengerti
apa yang pantas dilakukan ketika berteman dengan lawan jenis. Bersama Donghae
oppa aku saja terkadang mendapati kebingungan dalam bersikap. Entahlah, mungkin
ini akibat kebiasaanku yang terlalu merapatkan diri dengan HyunSun.
***
“Kai, Mr. kim menyuruhmu menemuinya
diruang guru sepulang sekolah untuk membicarakan olimpiade matematikamu bersama
Kyuhyun” langkah kakiku terhenti didepan mejanya sejenak. Sebelum akhirnya aku
melanjutkan langkah menuju tempat dudukku yang breselang satu meja
disampingnya.
“Terima kasih,” jawabnya, “eo,
chakkaman” aku menghentikan langkah kemudian berbalik kearahnya dengan tatapan
bertanya, “kau tidak ikut berpartisipasi dalam olimpiade minggu depan?”
Aku tertawa kecil, “aku belum
sepintar itu. Lagipula aku masih harus menyiapkan diri mengahadapi kompetisi
menulis artikel satu kota seoul yang akan diadakan sekitar satu bulan lagi.”
Dia hanya mengangguk kecil dan
membiarkanku pergi. Jam istirahat membuat kelas ini menjadi begitu kosong.
Semua anak berkeliaran keluar kelas melepaskan penatya suasana kelas. Sedang
aku masih lebih memilih untuk memakan bekal sembari menatap langit dari jendela
kelas. Dan sesekali membuka novel fantasiku kemudian tenggelam dalam imajinasi
sang penulis.
Kai sepertinya memunyai sedikit
kesamaan denganku. Dia terkadang memilih untuk beridam diri dikelas. Walaupun masih
terhitung jarang. Seperti halnyya saat ini. jemarinya tengah sibuk menuliskan
beberapa cara untuk menjawab deretan soal matematikan dihadapannya. Terkadang
dia terlihat sama dengan Kyuhyun. Mencintai game dan senang bermain dengan soal
matematika. Walaupun masih kuakui Kyuhyun lah yang lebih pandai.
“Apa yang menarik dari soal – soal yang
membuat otakmu bekerja keras?” ujarku meudian meberanikan diri. Dia
menghentikan aktivitasnya sejenak kemudian menoleh ke arahku.
“otakku tidak perlu bekerja keras
untuk menjawabnya, dan mencoba mencari jalan keluar dari sebuah masalah itu
menyenangkan, ” jawabnya, “lalu bagaimana denganmu? Apa yang menarik dari
setumpuk lembaran teks dan langit?”
Aku tersentak sesaat, nyaris
mengeluarkan kembali sepotong roti yang baru saja aku jejalkan kedalam mulut.
Tidak banyak orang yang menyadari kegemaranku membaca dan menatap langit.
Karena aku selalu melakukannya ditengah keramaian, membiarkan orang tak
menyadarinya. Agar mereka tidak menanyakan alasan padaku.
“Aku? Aku.. ehm,” tanganku meraih
botol minum kemudian meneguknya sejenak sebelum menjawabnya, “imajinasi penulis
yang bisa membawamu keluar dari kehidupan nyata dan menghayalkan sesuatu yang
indah dalam hidupmu. Intinya, ini bisa membuatmu melupakan hal buruk yang
pernah terjadi dalam hidupmu. Dan kalau menatap langit … aku menyukainya saja.
Yah, setidaknya bisa membayangkan wajah sosok yang aku tunggu dengan nyaman”
“sosok yang kau tunggu?” keningnya
sedikit berkerut, “nugu? Selama ini kau terlihat tidak begitu tertarik dengan
namja, bukan, maksudku, kau…”
“aku belum mengenal namja dalam
arti lain dikehiupanku,” potongku, “sebelum akhirnya ada namja yang benar benar
tinggal begitu tenang disisiku, namun.. sekarang semuanya harus berakhir sampai
saat dimana dia harus melanjutkan ke perguruan tinggi.”
Aku terdiam setelahnya. Mengatup
rapat mulutku dengan jemari yang meneyetuh bibirku tak percaya. Mulutku dengan
begitu mudah mengeluarkan kisahku yang sebelumnya hanya bisa aku bagi bersama
Kyuhyun atau Hyunsun.
“Wae?” tanyanya yang sedikit
bingung dengan tingkahku yang sedikit membuatnya tak mengerti. Tanganku mulai
bergetar, dan mataku mulai memanas. Ceritaku dengan Donghae oppa seharusnya
tidak aku keluarkan semudah itu. Karena itu sama saja membuat otakku terdesak
dengan memori dengannya dan hatiku bergerak untuk menggores sendiri bagiannya.
“A.. aniya, aku ke toilet
sebentar.” Tanpa memandangnya balik, aku berlari dengan tergesa menuju toilet,
tak ingin air mataku menetes didepannya.
TBC
1 komentar:
Ekhm...Ekhm tes 1..2..3
Ha Gun disini.. kekekeke
apa kabar Jehee-ya??
oke jadi di ff ini kamu suka siapa Kai/Donghae Oppa/HyunSun??
oh ya tadi ada satu kata yg typo pas bagian Ha Gun tertawa wajahnya memarah. mungkin kamu mau ngetik memerah ya gak??
Posting Komentar