Rabu, 22 Agustus 2012

You’re My Fish (ONESHOOT)


Judul : You’re My fish
Genre : Romance, comedi *relative, and family.
Rating : semuanya boleh bacaaa~ Main Cast :
-          Lee Donghae (Super Junior)
-          Cho Kyuhyun (Super Junior)
-          Kai/Jong In (EXO K)
-          Yeosub (B2ST)
-          Cho Jehee
-          Han Ha Gun
-          Lee SooHe
-          Lee JongHyun (SHINee)
Soundtrack List :
-          From U (Super Junior)
-          Back In Time (Ost. The moon embarrassed the sun)
-          Only Tears (Infinite)
-          Hello (SHINee)
Guys, ini real ff buatanku, asli dan engga nyontoh sama siapapun. Aku bener-bener mikir dengan otakku sendiri. Intinya, aku bukan plagiat, dan aku SANGAT MEMBENCI PLAGIAT! NO PLAGIAT HERE! Dan mohon maaf kalo ternyata ada kesamaan tokoh atau alur cerita yang ternyata udah ada yang pernah buat.  Happy reading and have fun!!!

 

Thou,
Please give me strength to face my end tomorrow,
I am begging thou..

Cho Jehee PoV
Aku menatap lirih sepanjang pemandangan menuju pulau Jeju.  Kampusku mengadakan study ke luar untuk melakukan penelitian sesuai jurusan. Aku sebenarnya mengambil jurusan Art and Music. Satu aliran dengan kyuhyun oppa. Tapi aku memilih untuk study ke pulau Jeju, daripada study ke beberapa tempat music ataupun seniman berada. Menanyakan beberapa hal untuk dilaporkan dan mencari pengetahuan demi kemajuan seninya.
Kalau masalah mencari seniman, mudah saja bagiku. Setiap hari bahkan aku ditemani oleh seorang seniman. Kyuhyun oppa. Dia kakak laki lakiku yang sudah mendapati debutnya sekitar dua tahun yang lalu, tepat setelah kepergian DongHae oppa ke Amerika. Dengan penampilan solo yang dihiasi suara emasnya dan beberapa alat music yang dimainkannya. dia sudah terkenal nyaris seluruh penjuru asia. Jadi untuk apa aku mencari seniman hebat ? wawancarai saja kakakku itu kemudian dalam sekejap aku bisa menyelesaikan semua tugasku.
Aku memutuskan untuk mencari pemandangan indah di Jeju dan ikut serta dalam persiapan pameran besar kampusku bulan depan. Kemudian menuangkan nya dalam kanvasku. Menjadikannya sebagai lukisan yang sangat memikat. Karena aku yakin, pemandangan di Jeju tak kalah indahnya dibandingkan tempat tempat alam yang lainnya.
12 : 00 PM
Jeju Island, South Korea
Masih ada waktu sekitar dua puluh menit untuk menyelesaikan waktu bebasku. Sebelum akhirnya aku harus kembali ke hotel untuk mendapat beberapa pengarahan dari kim seosangnim untuk membahas lukisan yang niatnya akan aku pamerkan dipameran bulan depan.
Aku memutuskan untuk melangkah turun menuju tempat pertemuan ku dengan Donghae pertama dan terakhir kali. Entah apa yang menyeretku sampai kearah tempat itu. Tapi aku benar-benar ingin melangkah kesana. Tanpa memikirkan dampak yang akan aku terima jika aku mengingatnya kembali.
Dia mungkin tidak akan pernah kembali ke korea. Dan dia mungkin tidak akan pernah mengingatku lagi. Memoriku tentangnya mungkin akan tersingkir oleh memori barunya. Jauh diluar sana. Mungkin dengan yeoja yang datang dikehidupan barunya.
Aku menyakini hal ini karena aku tahu. Dia bukan tipe namja yang akan teguh pada hatinya. Yang mudah goyah akan tatapan atau pesona wanita sedikitpun. Dan bualan dari mulutnya itu. Tapi kuharap aku benar-benar melupakan semua omong kosongnya padaku dua tahun yang  lalu. Walaupun itu sangat mustahil.
“wait me. Just four years, oke? I will come back. With the new person. The real Lee Donghae. I love you.”
Sial, sudah berapa kali aku mengingat semua itu? Seratus kali mungkin, atau lebih? Entahlah. Paling tidak selama dua tahun belakangan ini aku benar benar tidak bisa melepas semua itu. Yang mula aku pikir hanya akan kurasakan satu dua minggu sakitnya. Tapi perkiraanku meleset jauh. Ini bahkan sudah sampai dua tahun. Apa aku benar-benar akan sanggup menunggunya selama empat tahun?
“yak, Lee Donghae! Kau pikir aku bodoh, eo? Cepat kembalikan PSPku. Aku tahu, kau yang menyitanya tadi!” hentakku saat melihat cengiran kecil di bibirnya. Tangannya kemudian mengacak ringan rambutku pelan sambil tersenyum. Yang dengan cepatnya aku elak. Sedikit terasa risih dengan sikapnya.
“aku hanya ingin kau memperhatikanku, bukan PSPmu. Kalau kau sedang bersama kyuhyun oppamu, mungkin kau wajib bersama PSPmu ini. tapi kau kan sedang bersamaku. Dan aku benar-benar ingin diperhatikan,eo?” donghae kemudian duduk disampingku. Setelah selesai mengucapkan kalimat tepat diwajahku. Dengan tubuh merunduknya karena posisinya yang berdiri, dan aku duduk. Cukup membuatku tersentak sejenak.
“cih, memangnya kau siapa? Beraninya mengaturku.” Sahutku kemudian tanpa melirik kearahnya.
“aku?”  donghae oppa terlihat menatapku dari sudut mataku yang sebenarnya meliriknya. “aku itu.. em.. aku itu air, dan kau ikannya. Air akan terus ada untuk tempat tinggal ikan. Untuk melindungi ikan. Dan untuk tempat disetiap detiknya ikan hidup. Tanpa air, mungkin ikan akan mati dalam hitungan detik. Tanpa air, mungkin ikan akan tersiksa dan menggelepar ditanah. dan air juga membutuhkan ikan tentunya. Tanpa ada Ikan, kehidupan dibawah air akan hampa, tanpa kehidupan. Dan air sulit mengalir karena tidak ada arus yang dibawa oleh ikan. Air dan ikan benar-benar mempunyai ikatan yang erat.”
“Seperti takdir.” Sahutku tanpa sadar. Entah apa yang membuat mulutku mengucapkan kalimat yang tersa terhipnotis dengan kata kata Donghae tadi. Aku tahu, ini hanya salah satu gombalannya saja. Tapi bodohnya aku berharap ini benar-benar dari hatinya.
Suasana taman ini belum benar benar berubah. Setelah dua tahun berlalu hingga akhirnya aku bisa datang kembali ketempat ini. Duduk di kursi taman ini, dan memandang sekeliling. Mengingat semua kenangan yang pernah ada. antara aku dengannya. Semua nya bermula dan berakhir disini, ditaman ini.
Awal ketika kyuhyun oppa mengenalkanku padanya. Disaat aku masih menganggap remeh donghae oppa. Disaat aku benar benar tidak peduli tentangnya. Saat pertama kali aku mengetahui semua keburukannya. Dan perasaan yang aku rasa pertama adalah rasa benci mendalam. Tapi dengan ilmu dalamnya, entah ada virus apa yang menyerangku. Sampai membuatku setengah gila karenanya untuk menunggunya pulang sekarang.
The day when I first saw you
Your bright smile full of shyness
we’ll get closer after today
Every day, I have heart-fluttering expectations
What to say to you
How to get you to laugh
I fear it’ll get awkward when I try to hold your hand
All I can do is smile shyly

Hopefully we can speak banmal to each other
Even though it’s still awkward and unfamiliar
Instead of saying ‘thank you’
Talk to me in a friendlier way

Hopefully we can speak banmal to each other
You walk towards me slowly, step by step
Now look at my two eyes and tell me
I love you

The day when I held your hand
I felt my heart stop beating
I don’t even remember what I said
All I feel is a flutter in my stomach

Hopefully we can speak banmal to each other
Even though it’s still awkward and unfamiliar
Instead of saying ‘thank you’
Talk to me in a friendlier way

Hopefully we can speak banmal to each other
You walk towards me slowly, step by step
Now look at my two eyes and tell me
I love you

Hopefully we can fall in love with each other
I’ll never let go of your two hands from my grasp
The light of your eyes, gazing at me
I hope there will only be joyful smiles

We can probably fall in love with each other
We can lean on one another and take care of each other
Looking into your eyes, my two eyes
They’re talking to you
I love you
(Yong Hwa [CNBLUE] – Banmal Song)
Aku menatap malas kyuhyun oppa yang menyeretku kesebuah taman. Dia sangat semangat untuk mempertemukanku dengan teman barunya itu. Dengan bangganya dia melebih lebihkan semua kemampuan namja yang bernama lee donghae. Dari kebisaannya yang luar biasa dalam manari, sampai ketampanannya. Sempat aku berfikir kyuhyun oppaku sedikit tidak waras, dan menyukai sesama jenis. Karena terlihat terlalu berlebihan menceritakannya.
Aku tahu, jarang sekali ada ingin berteman dengannya. Sikapnya yang dingin, cuek, tak peduli. Rekor paling lama yang tahan dengannya hanya tiga hari. Itupun setelahnya, dia sama sekali tidak berniat menegur kyuhyun oppa lagi. Mungkin karena itu, dia sangat ingin memperkenalkannya padaku. Walaupun sampai menemuinya ke pulau Jeju, tempatnya berada.  Singkatnya, dia manusia yang sama tahan bantingnya dalam menghadapi kyuhyun oppa sepertiku.
Dia beberapa tahun sedikit lebih tua dari kyuhyun oppa, tapi aku sama sekali tidak berniat untuk akan memanggilnya dengan embel-embel oppa sedikitpun nantinya. Karena aku yakin aku akan tidak menyukainya. Instingku selalu tepat untuk itu.
“Jehee~a! ini teman yang aku ceritakan padamu. Nama nya Lee Donghae. Dia beberapa tahun lebih tua dariku.”
Bahkan dia sudah mengatakan semua itu sebelum sampai ketempat ini dan bertemu dengan namja itu. Lalu untuk apa dia mengulangnya lagi? Aku benar benar sudah bosan dengan semua ocehan kyuhyun oppa yang melebih-lebihkan donghaenya itu.
“annyeonghaseo, Lee Donghae ibnida. Nugundae? Ini adikmu, kyuhyun~a? yepposeo” ujarnya sambil menyikut lengan kyuhyun oppa. Dan menatap ku dengan tatapan rayuannya. Cukup muak aku dengan ceritanya. Tidak perlu ditambahkan kemuakkan wajahnya yang menjijikan.
Ah, tidak. Aku rasa aku salah. Raut wajahnya mungkin yang menjijikan, bukan wajahnya. Kalau wajahnya, aku akui, dia cukup tampan. Dengan postur tubuh yang terlihat bagus walaupun tidak terlihat tinggi. Cukup menarik, tapi sayangnya aku tidak tertarik.
“eo, dia adikku. Hanya berbeda dua tahun saja. Wae? Kau menyukainya? Tapi sepertinya jangan jadikan dia sebagai korban ke lima puluhmu, hyung. Aku sangat menyayanginya.”
“mwo? Korban ke lima puluh? Oppa, maksudmu diaa…?” mataku membulat. Melepas lollipop yang aku makan sedaritadi dari mulutku.
Kyuhyun oppa tertawa kecil melihat ekspresiku. “setiap manusia pasti ada kekurangannya, Jehee~a. dia namja yang baik. Tapi tidak telalu baik untuk wanita. Waktu terbaiknya untuk wanita hanay satu minggu menjadi yeoja chingunya”
“cih, lagipula siapa juga yang akan mau jadi korbannya? Aku sama sekali tidak tertarik.” Sahutku cepat.
“kau yakin? Apa kau sama sekali tidak melihat ketampanan sedikitpun diwajahku,eo?” donghae oppa berujar dengan senyuman manisnya. Yang kuanggap seperti jurus mautnya. Tapi  untungnya kesadaranku cepat pulih. “kau terlalu cantik untuk dilewatkan.”
“kyuhyun oppa! Cepat bawa aku pulang. Jangan membuatku lebih lama dihadapan namja sinting ini!”
“Jehee~a! kau dipanggil kim seosangnim” tepukan ringan di pundakku menyandarku dari alam kenanganku dengan donghae oppa.
“eo? Gomawo, SooHe~a” aku bangkit kemudian membungkut sedikit kearahnya. Mengulas senyuman singkatku tanda terima kasih atas pemberitahuannya.
Tanpa sadar sudah dua puluh menit berlalu aku duduk dikursi taman ini. menatap kosong disetiap sudutnya. Tak heran kalau Soohe menatap aneh diriku.
Dia satu angkatan denganku di KyungHee university ini. tapi kami berbeda jurusan. Dia jurusan yang bersangkutan dengan budaya. Dan fakultas kami letaknya tidak terlalu jauh. Jadi kami cukup saling mengenal baik.
“kau melihat apa?” ujarnya kemudian yang akhirnya mengungkapkan rasa penasarannya.
“aniya, aku hanya ingin mencari objek untuk lukisan yang akan aku tampilkan di pameran.” Jawabku sekenanya.
“tapi, maaf, eng.. kau terlihat begitu tersihir dengan pemandangan disini. Ya, walaupun aku taahu, ini tempat yang keren tapi..” SooHe terlihat sedikit ragu dengan perkataannya tapi aku hanya mneunggu ucapan selanjutnya. Apa dia bisa menebak dengan benar, atau tidak.  “kau mempunyai kenangan disini?”
Deg.. jantungku terasa terhenti sejenak. Dia benar-benar sudah membaca pikiranku. “emm.. sedikit” ujarku cepat kemudian kembali tersenyum dan memohon pamit. Karena aku akan lebih membeku disini, kalau dia terus menanyaiku tentang itu. “boleh aku pergi lebih dulu? Kurasa kim seosangnim sudah menunggu”
                                                                                                ***
Sore ini terasa mencekam. Hatiku terikat kaku dan tubuhku melemah. Dia benar-benar akan meninggalkanku. Dalam hitungan waktu dua jam mundur ini. dan bodohnya, aku sama sekali tidak bisa mencegahnya. Selain menemuinya dibandara. Ini pun sepertinya aku akan terlambat. Entah apa yang membuat jalan menuju bandara sedikit terhambat.
Dia sama sekali tidak menghubungiku seharian ini. memberitahu jam penerbangannya saja tidak. Aku mengetahuinya saja baru dari kyuhyun oppa. Apa dia benar-benar ingin secepatnya lenyap dari hadapanku? Entahlah. Semuanya terasa dalam kendalinya.
Perjalanan lemah yang aku lewati sedikit membuahkan hasil. Masih ada waktu sekitar lima belas menit untuk menemuinya. Dan dengan cepatnya aku menemukan sosoknya yang sedang terpantung kaku dikursi penunggu. Aku melngkah perlahan kearahnya. Dan dengan segera duduk disampingnya.
“oppaa..” dia menolehkan pandangan kearahku. Dengan tatapan yang sulit kubaca.
Kami hanya saling bertukar pandang selama beberapa waktu. Sebelum akhirnya dia tersenyum. Kemudian meletakkan kedia tangannya disetiap sudut bibirku. Membuat ulasan senyum diwajahku.
“aku ingin mengingat wajahmu.” Ujarnya dengan suara yang begitu tenang. Dan aku hanya terdiam. Berusaha mengingat suara dan wajahnya. “tapi aku tidak ingin mengingat raut wajahmu yang sedih. Aku ingin mengingat wajahmu yang seperti ini, ara?”
Aku melepaskan tangan donghae dari wajahku. “apa kau akan benar-benar pergi? Kau yakin dengan menolak tawaran debutmu?”
Donghae hanya tersenyum kemudian duduk merapat disampingku. “aku yakin keputusanku tepat.” Tangannya mengarah keatas rambut yang kugerai, yang dengan mudahnya dia acakkan ringan. “wait me. Just four years, oke? I will come back. With the new person. The real Lee Donghae. I love you.”
“kau.. tidak sedang bergurau, kan?” ujarku ragu.
“kau pikir aku sedang bergurau? Merayumu sampai menggodamu seperti yang kulakukan dengan yeoja-yeoja sebelumnya?” donghae oppa mendesah. “kau bodoh, kalau berfikiran seperti itu je~a. semua perkataanku padamu, itu sungguh, benar-benar dari hatiku. Aku tidak perlu berfikir tentang trik apa yang akan aku gunakan untuk menarik perhatianmu. Karena itu mengalir begitu saja. Sama seperti perasaanku padamu. Mengalir seperti air yang tak berujung. Mengalir seperti samudra luas yang berasal dari sempitnya air dilereng gunung. Karena hanya kau, memang kau, dan bermula dari kau. Aku merasakan sebuah arti kata cinta sejati.”
Aku terdiam kaku. Mencerna setiap perkataannya. Dia berjar begitu tenang. Sehingga sulit untuk terlihat bahwa dia berkata bohong. Entah bagaimana kondisi jantung dan hatiku saat ini. setelah mendapat dentuman perkatan mautnya untu kesekian kalinya.
“gomawo” dia menarikku dalam pelukkannya. “untuk lahir dan hidup untukku. Dan untuk, menjadi takdirku”
Aku berusaha menahan air mata yang menumpuk dipelupuk mataku. Tapi sayang nya itu tidak bisa benar-benar kulakukan. Air mataku jatuh, dan sempat membasahi kemeja putih yang dikeakannya.
Pintu kamarku terbuka secara tiba tiba. Membuatku sedikit terkejut. Terlebih degan sosok yang menghampiriku. “oppa? Apa tidak bisa kau mengetuk pintu terlebih dahulu, huh?” sungutku sambil menatapnya malas. Pasti eomma yang menyuruhnya menyusulku ke Jeju. Eomma selalu saja khawatir denganku semenjak kepergian donghae oppa.
“kau curang,” kyuhyun oppa tiba tiba berujar dengan kalimat anehnya.menatapku dengan senyum dinginnya. Membuatku sedikit bergidik melihat wajah evilnya. Dia duduk dipinggir kasurku, tempat aku berada. “dan kau juga berbohong padaku.” Ujarnya datar.
“wae?” desisku. Dan dengan cepat telunjuk tangannya melesat kearah keningku kemudian mendorong kepalaku yang membuat nyaris tubuhku terhuyung kebelakang.
“kau bilang kau ke Jeju untuk mencari alam. Kau bilang kau ke Jeju untu mempersiapkan pameran bulan depan.” Ujar kyuhyun oppa tanpa ubahan nada. “Tapi kau malah terus mengingatnya.”
Aku tersentak, menatap wajahnya datar, berusaha menahan emosi yang bergejolak di dadaku akibat perkataannya. “jadi oppa menyusulku ke Jeju hanya untuk mengatakan itu?”
“aku bukan orang yang mempunyai banyak waktu. Jadi untuk apa aku membuang waktuku begitu saja, huh?” sahutnya dengan nada kesalnya. “kim seosangnim yang menyuruhku datang. untuk membantunya mempersiapkan pameran bulan depan.”
“cih, sombong sekali kau. Apa begitu pentingya oppa dalam kegiatan pameran bulan depan?” sungutku.
Kyuhyun oppa tersenyum kearahku. Seperti menghiraukan perkataanku. Kemudian tangannya mencengkram pundakku dan menatapku dengan tatapan semangatnya. “dia pasti akan kembali Jehee~a. aku yakin itu. Ini akan menjadi hal terbodohnya dalam seumur hidup. Kembali setelah empat tahun dengan sosok barunya tanpa sentuhan wanita sedikitpun. Dan lebih bodohnya, dia melakukan ini hanya demi adik bodohku yang satu ini.”
“ini konyol, tapi hargailah usahanya jehee~a. dia benar-benar terlihat bersungguh-sungguh untukmu. Lagipula dia hanya meninggalkanmu beberapa waktu saja. Kau bisakan menunggunya dengan memperbaiki dirimu sendiri? Mengubah kelakuan tidak baikmu dan menjadi yeoja yang hebat,eo?”
Aku melepaskan cengkraman tangan kyuhyun oppa karena mulai terasa sakit. “ dia? Siapa sebenarnya yang kau bicarakan? Jangan permasalahkan yang tidak jelas.” Elakku.
“Lee DongHae hyung.” Sahut kyuhyun oppa dengan sedikit penekanan.
Aku terdiam, menahan wajahku yang mulai memanas dan degupan jantung yang begitu kuat. Disetiap kali namanya terucap. “kau terlalu bodoh untuk menyembunyikannya dariku.” Kyuhyun oppa menatap ejek diriku.
“menanyakan jam penerbangan donghae hyung, menemuinya dibandara, berpelukkan hangat disana, dan kau menangis saat itu. Kau pikir aku tidak tahu?” kyuhyun oppa memaparkan semua hal yang nyaris membuatnku terlonjak. “aku datang waktu itu. Tapi aku rasa aku akan mengganggu kalau menghampiri kalian.”
“yak, Jehee~a.” kyuhyun oppa menggenggam tanganku. “aku tahu kau merindukannya. Dan merindukan seseorang itu memang terasa membunuh. Tapi aku harap kau tidak akan menjadi rapuh hanya karena ini semua. Menjadi yeoja yang kuat dan menunggunya dengan rasa yang menggebu. Itu yang seharusnya kau lakukan. Dan bersabarlah, dia pasti juga merindukanmu, eo?”
Aku menyikut lengan kyuhyun oppa kemudian menatapnya curiga. “aigoo oppa, sejak kapan kau mengerti ini semua?”
“mengerti apa?” kyuhyun menggaruk kepala bagian belakangnya yang aku yakin sama sekali tidak gatal. Itu biasanya dia lakukan jika salah tingkah atau pura pura tidak tahu.
“mengerti arti keberadaan seseorang yang dicinta.” Aku menatapnya tepat disorot matanya. Berusaha mencari jawaban. “aku tahu, yang seharusnya peka tentang ini semua itu kau lebih dulu. Yang seharusnya paham dan merasakannya itu seharusnya kau dulu. Dan kupikir kau terlalu tidak peduli tentang itu semua, oppa. Bahkan aku sempat berfikir kalau kau tidak menyukai lawan jenis. Aku saja baru memperhatikan itu semua semenjak keberadaan donghae oppa. Semenjak kehadirannya, aku mulai mengerti, aku mulai paham, dan aku merasakannya. Lalu kalau oppa? Apa yang membuat oppa mengerti? Aku yakin tidak jauh jauh da..”
“apa yang sebenarnya yang kau katakan, huh? Kau terlalu berbelit. Sebutkan saja apa mau mu?” potong kyuhyun oppa dengan raut wajah tak karuan. Aku tahu, dia sedang menyembunyikan perasaan bergejolaknya.
“yeoja. Yeoja chingu. Kau mempunyainya?” ujarku dengan mata berbinar.
“mwo?” matanya membulat kemudian melambaikan tangannya. “an..”
“nugu oppa? Dia orang seperti apa? Apa dia benar-bena tahan banting dengan mu? Apa dia yeoja yang lembut, menyenangkan, atau apa oppa? Apa aku harus memberitahukannya pada eomma dan appa? Ini..”
“yak! kau berbicara seperti aku baru pertama kali menyukai yeoja saja.” Sungut kyuhyun oppa dengan nada protesnya.
“memang benarkan, ini yang pertama? Dan yang terakhir?” aku menatapnya dengan tatapan meledek.
“YAK! MATIKAU CHO JEHEE!!”
                                                                                        ***
We, met for the first time years ago and then fell in love at first sight
Baby, wherever i go, you stand by my side like a shadow
Now and then, there are so many many things to prove our love
Even when I’m hurt, even when I fall, she’s the only one remaining by my side
Baby baby baby baby baby, let’s never break up
Oh my lady lady lady lady lady, I really love you
Shawty shawty shawty shawty shawty, the one who i choose is only you
Even if it seems the words ‘There is no one but you’ looks so obvious , how do I show you my heart?
Even though we fight, even when we say we hate (each other) to death, doesn’t your heart know already?
Those days of only beautiful things, seeing together only the good things about us, eating together, having fun together, crying together and laughing together
Thank you for believing in me that i won’t fall and for standing by my side.
Really thank you
-          Super Junior – from U

Lee DongHae PoV
Ini memang berat untukku. Dan aku yakin dia juga. Tapi ini memang jalan yang terbaik. Karena aku benar-benar ingin memperbaiki diriku.  Aku bahkan nyaris merasa hina pada diriku sendiri. Mengingat kebodohanku, saat mempermainkan yeoja begitu banyak. Tanpa memikirkan perasaan mereka dan harga diriku. Itu sungguh membuatku merasa tidak nyaman disampingnya.
Dia yeoja yang terhormat. Sangat, menurutku. Dan dia juga dari keluarga yang santun. Walaupun aku sempat berfikir hanya kedua orang tua mereka saja yang santun. Ketika mengetahui sifat kedua anak dari keluarga Cho yang benar-benar tak tertahankan. Tapi setelah mengenal mereka lebih jauh, mereka sebenarnya berhati lembut. Hanya saja ditutupi rasa gengsi mereka yang tinggi.
“Hyung~a. ayahmu menelefon beberapa waktu lalu. tapi tadi kucari kau tak ada, jadi kusuruh dia menelefon lagi nanti.” Kai memberitahuku saat aku baru memasuki kamar apartment. Kai sepupuku yang sudah menetap lama di Amerika. Jadi untuk empat tahun pengansinganku, aku tinggal bersamanya.
“eo, nanti akan aku telfon kembali.” Jawabku sambil melangkah ke kamar.
“kau darimana?” kai mengernyit, menatap aneh sikapku. “tidak biasanya pulang terlalu larut, dan tidak biasanya juga kau pulang tanpa ocehanmu?”
“mian, aku sama sekali tidak berniat untuk berbicara. Aku pergi tidur dulu, eo?” sahutkuu sekenanya kemudian memasuki kamar.
Hari ini benar-benar melelahkan. Aku terlalu bekerja keras hari ini. Satu bulan lagi aku akan menghadapi ujian semester yang sangat menyulitkanku. Mata kuliah menyanyi tidak cukup baik untukku belakangan ini. aku mendapat kesulitan untuk mendapatkan pich yang baik. Konsentrasiku hilang entah kemana. Sedangkan bulan depan aku harus segera menuntaskannya agar bisa kembali ke korea sebentar menemui halmoni. Tanpa harus menunggu ujian ulangan di bulan berikutnya.
Appa sebenarnya sudah menghubungiku satu minggu berturut lalu. halmoni jatuh sakit. Dan mereka sangat membutuhkan kehadiranku. Karena aku termasuk salah satu cucu kesangannya. Dan mereka mengharapkan kepulanganku segera. Walaupun hanya satu hari saja. Demi semanagt hidup untuk halmoni.
“maaf aku mengganggumu hyung, tapi aku mendengarnya.” Kai menyelipkan kepalanya di antara celah pintu kamarku kemudian melangkah duduk disudut ranjang sejajar denganku. “ayahmu mengatakannya padaku. Apa kau butuh bantuan untuk menyelesaikan ujianmu secepatnya?”
Mataku mengerjap, menatapnya penuh harap. Dia selalu saja mempunyai jalan keluar yang baik. Tidak heran kalau dia mendapatkan predikat sangat baik dalam meja rapat. Otaknya terlalu cermelang.
“aku kenal dengan jonghyung hyung, dia mempunyai suara yang luar biasa hebatnya. Dan sangat mempunyai tekhnik vocal yang baik. Mungkin kita bisa menghubunginya.” Dia menepuk pundakku sambil tersenyum puas. “dan beruntuungnya, aku baru mendapat kabar kalau dia akan menggelar konser bersama boyband shinee nya di amerika. Jadi kita bisa menemuinya dengan mudah.”
                                                                                        ***
“annyeonghaseo, Lee donghae ibnida.” Aku membungkukkan tubuh memberi hormat pada jonghyun yang sudah berdiri dihadapanku. Aku dan Kai memutuskan untuk menemuinya pagi ini. langsung setelah kedatangannya ke amerika, karena kami tidak ingin membuang-buang waktu.
“eo, senang bertemu denganmu, hyung.” Jonghyun tersenyum menanggapiku.
“hyung? Kau menjadi guruku sekarang, jadi tidak perlu memanggilku dengan sebutan hyung walaupun kau sedikit lebih muda dariku.” Ujarku cepat saat menyadari sapaannya.
“oke, senyamanmu saja. Lalu? kita bisa memulai darimana?”
“dari bagian yang… eo? Chakkaman, aku harus mengangkat telepon dulu.” Aku berlalri kecil keluar setelah melihat siapa yang menghubuungiku.
“kau masih disana? Cepat selesaikan kuliahmu dan kembali, bodoh!” umpatan keras dari sambungan telfonku membuatku sedikit terhenyak. “bulan depan kau bisa kembali? Akan ada event luar biasa dari yeojamu itu”
Aku terdiam sejenak. Sedikit menahan sneyuman yang nyaris terulas lebar dibibirku. Dia benar-benar masih hidup dengan baik, tanpaku. Doaku tidak sia-sia. Setidaknya dia tidak benar-benar terpuruk karenaku. Ini mungkin akan menjadi latihan kecil untuknya. “yak, cho kyuhyun. Bisa kau berujar sedikit sopan dan pelan? Bagaiimana kalau adikmu itu mendengarmu dan mengetahui kau masih bisa menghubungiku degan mudahnya,eo?”
“tidak mungkin, dia sedan sibuk dengan lukisannya sekarang. Sudah nyaris satu jam lebih dia duduk diam dan focus, nyaris sulit dipercaya.” Ujar kyuhyun dengan sedikit nada ketakjubannya.
“memangnya kenapa?”
“kau seperti tidak tahu adikku saja. Bocah pecicilan yang tak tahan duduk diam lebih dari sepuluh menit. Entah siapa yang menimpukinya batu hingga sampai seperti itu.”
Aku hanya tertawa kecil, kemudian menyadari sedikit hal. “kyuhyun~a. bulan depan aku sudah bisa menyelesaikan ujian pertamaku dan mungkin aku akan kembali. Sekitar tiga hari mungkin aku akan menetap sebelum kembali lagi ke amerika dan menyelesaikan kuliah seniku.”
“sinjja? Baguslah kalau begitu.”
“tapi.. bisa kau merahasiakan kepulanganku? Aku hanya ingin melihat kondisinya saja. Dan sedikit menyembuhkan rinduku saja.”
“lalu? kau membiarkan adikku menahan luka rindu sendiri? Kau curang, hyung!” sungut kyuhyun dengan nada kesalnya. Dia memang terlihat sangat menyayangi adiknya. “kau tidak tahu saja hidupnya selama kau tidak ada. nyaris tak bernyawa. Lalu, kau dengan teganya tidak ingin memberitahukan kepulanganmu?”
“aku hanya tidak ingin ada perpisahan kedua. Setelah nanti saatnya aku harus kembali ke amerika lagi. Mungkin dia akan menahanku. Atau apapun itu. Dan aku hanya ingin menepati janjiku. Setelah empat tahun, kami akan bertemu kembali, dengan sosok yang baru. Kurasa aku belum terlalu merasa baik. Aku ingin kembali padanya setelah aku debut, itu saja. Dan menjadi namja terhormat dihadapannya, kyu~a.”
“eo, arasseoyo~” kyuhyun kemudian mendesah pelan. “tapi kau benar benar akan menemuinyakan? Setidaknya membuat perasaannya membaik walaupun dia tidak mengenalimu.”
“tentu saja. Kapan event itu digelar?”
“itu adalah pameran besar-besaran yang dibuat kampusku. Dan kebetulan diadakan di Jeju. Bulan depan, sekitar tanggal 20.”
                                                                                        ***
1 month ago~
At KyungHee University’s Art and Music Event
Jeju Island, South Korea
Cho Jehee PoV
Kami mempunyai hobi yang sama. Mempunyai pilihan hati yang sama. Yaitu alam. Alam yang menyatukan kita, dan alam yang mengatur kita. Entah bagaimanapun kami berdua sangat menyukai alam. Sebuah karunia dari tuhan yang tiada duanya. Itu yang membuat donghae oppa selalu merumpakan alam untuk membuat kata kata gombalnya untukku. Ah tidak, kurasa lebih tepat kata-kata mautnya.
Tapi dia lebih suka menumpahkannya dalam pengabdian foto. Dia fotografer handal yang pernah aku kenal. Tapi sayangnya dia lebih menyukai tariannya daripada hasil-hasil fotonya.
Satu bulan berlalu cepat. Kesibukkanku dengan pameran besar besaran yang dibuat kampusku cukup mengurangi kekosonganku. Dan hasilnya cukup membuahkan hasil. Lukisanku di puji oleh ratusan orang yang lewat di stanku. Bahkan dosen yang sangat membenciku saja terlihat terpesona dengan hasil karyaku.
Tapi sebenarnya hatiku belum merasa puas sepenuhnya. Aku ingin dia melihat lukisanku. Karena aku melukis ini penuh dnegan perasaan dengannya. Aku melukiskan tempat pertemuan kami pertama. Di taman yang tidak jauh dari air terjun Jeju.
“yak! Cho Jehee!” kyuhyun oppa melangkah mendekat setelah dia memutari stan stan yang ada diantara sekrumunan banyak orang. Dan ini membuatku sedikit curuga. Kyuhyun oppa tidak begitu menyukai keramaian. Dia biasanya lebih memilih untuk duduk disudut tempat kemudian memainkan PSPnya. “kau bisa tolong ambilkan kotak P3K diujung sana?”
Mataku membulat menatap jeli tubuh kyuhyun oppa. “kau terluka? Odiga?”
Dengan cepat kyuhyun oppa melayangkan jitakan yang cukup keras pada keningku. “bodoh, sudah tahu aku bisa berjalan dengan baik. Bagaimana bisa aku yang terluka? Cepat ambilkan, aku tidak punya banyak waktu.”
Aku hanya menyerahkan kotak itu pada kyuhyun oppa dengan dahi yang sedikit berkerut. Sedikit berfikir dengan perubahan yang dialami kyuhyun oppa. “kau belakangan ini sedikit aneh, oppa”
Baru saja aku ingin menyelidiki kyuhyun oppa, karena berfikir sepertinya dia sedang bersama yeojanya. Dan aku berniat untuk memergokinya. Mungkin saja yeoja itu yang terluka. Karena raut wajah kyuhyun oppa terlihat sangat khawatir, mataku tersihir pada pandangan sosok namja yang berdiri tak jauh dariku. Dalam sekejap aku terdiam kaku dan tubuhku membeku.
Sial, aku seharusnya bisa menjaga pandangan mataku kalau ingin menjadi yeoja yang setia pada donghae oppa. Ini benar-benar terlewat batas. Aku tidak terbiasa terpukau oleh namja. Kecuali dua orang. Kyuhyun oppa dan donghae oppa. Sisanya paling tidak sekedar menganggapnya namja keren, tidak lebih.
Tidak dengan degupan jantung kuat, dan tidak dihantui oleh rasa gugup dan kenyamanan luar biasa. Entah apa yang membuat ganjalan dihatiku semenjak kepergian donghae oppa itu terasa lenyap setelah melihat keberadaan namja itu.
Namja yang tegap dan memiliki postur tubuh yang bagus. Dia berdiri dibawah naungan topi dan kacamata yang menutui sebagian wajahnya. Pakaiannya sedikit terkesan fashionable dan gaya berjalannya juga terlihat sangat gagah.
“si.. silahkan,” aku sedikit gugup dan gemetar saat dia datang mengahmpiri stanku. Dia terlihat sedikit terpukau dan itu membuatku sangat lega. Dia hanya tersenyum kemudian memperhatikan dengan seksama lukisanku.
“hyung! Apa yang kau lakuakn berlama lama disini? Halmoni sudah mennunggu. Kita harus segera kesana.” Sosok tinggi dengan wajah cukup familiar datang menepuk ringan pundak namja yang sudah nyaris membuatku mati kaku. “kita tidak punya banyak waktu dikorea. Kau tahu, kita harus segera kembali ke.. YAK! HYUNG! Eodiga?” namja itu berlari kecil ketika melihat lawan bicaranya berlalu begitu saja.
Halmoni? Tidak punya banyak waktu dikorea?
Sedikit terdengar mencurigakan. Lagipula namja itu terlalu menutupi wajahnya. Aku sulit untuk mengenalinya. Tapi, sepertinya aku sedikit mengenal namaj yang menghampirinya tadi. Wajahnya cukup familiar. Apa mungkin, dia..
Kakak laki lakinya soohe? Sohee sempat menunjukkan foto dan bercerita sedikit tentang kakaknya yang tinggal di Amerika. Lalu? kalau dia kakaknya, kenapa harus sesegara mungkin kembali? Setidaknya dia harus melihat penampilan dari soohe dulu.
Ah, sudahlah. Itu terlalu membingungkan dan tidak penting.

The light that is fading in the clouds
Falling at the window is too noisy
The cooling memory is just like the sound of the rainwater
Capture my heart, refuse to leave
That increasingly strong
Lock in the nostalgia
Couldn’t I step back in time
Back to the time when you give me a hug
Everything now doesn’t matter
I follow the tortuous path that is wet
Look back at our memories together
In the rain that obscures the vision, I think of you
In my tears, you emerge in my mind
That increasingly strong
Lock in the nostalgia
Can I step back in time
Back to the time when you give me a hug
Everything now doesn’t matter
All dissipated, whether it’s the time we spent together, or the look of you and me at the time
Let’s back to the time when I am in your embrace
Couldn’t I step back in time
Even if this is the only chance, or the last chance
It doesn’t matter
(Back In Time – Lyn)

Lee DongHae PoV
Mataku mengerjap, membiasakan diri dengan cahaya lampu yang terasa menyilaukan. Sedikit terlihat samar sebelum akhirnya benar-benar jelas. Halmoni sudah duduk tenang disudut kasurku membuatku sedikit terhenyak dan terduduk.
“maaf, kalau halmoni mengejutkanmu. Tapi aku ingin mengatakan sesuatu sebelum kau beranjak pergi dari Jeju.”
Aku mengernyit kemudian mengangguk pelan. Menggumpulkan sisa nyawaku kemudian berusaha menyimak perkataannya. Karena kupikir ini akan menjadi hal yang sangat penting. Tidak sering untuk seorang nenek sepetinya berbicara secara empat mata secepatnya.
“aku mengenalnya,” halmoni berbicara dengan ketengannya. Dia bahkan tidak terlihat seperti sedang sakit. “Cho Jehee, gadis itu. Kau mencintainya bukan?”
Dalam hati aku terhenyak, tapi sebisa mungkin aku menahan semua itu dengan ekspresi datarku. “dia pasti yeoja yang sangat luar biasa. Atau mungkin sebenarnya hanya biasa saja. Tapi karena dia adalah takdirmu, takdir kehidupan yang mengikatmu. Dia mampu mengubah semua sikap burukmu. Memotivasimu untuk menjadi seorang namja yang lebih baik. Dan menanamkan ini,” halmoni meletakkan tangannya didadaku. “degupan jantung yang kuat saat disekitarnya, medan magnet yang mempunyai daya tarik tinggi padanya dan sebuah perasaan yang meledak.”
Halmoni menurunkan tangannya kemudian tersenyum padaku. “kau boleh meninggalkannya sejenak. Tapi tidak dengan sebuah penyiksaan.” Aku masih terdiam, berusaha mencerna semua kalimat yang lontarkan halmoni.
“aku tahu, maksudmu baik. Dan aku juga tahu, niatmu untuk menjadi pendamping hidupnya sesempurna mungkin. Tapi kau terlalu lengah untuk satu hal.”  Mata halmoni tepat menatap di manik mataku. “menyiksanya. Kepergianmu tanpa ada sebuah kabar sedikitpun. Aku tahu, kau berniat memberikan sebuah kejutan setelah empat tahun nanti. Tapi apa kau tidak pernah berpikir, seberapa lamanya jangka waktu itu untuk menunggu? Dan serapuh apakah dia nanti saat kau kembali. Mungkin kau tidak mengerti atau bahkan tidak mengetahuinya. Kelumpuhan hidupnya, keambangan hidupnya tanpamu. Itu terlalu menyiksanya.”
Lamunanku terbuyar saat akhirnya suara pemberitahuan pesawatku yang akan mendarat sekitar lima menit lagi. Semua perkataan halmoni pagi tadi membuatku nyaris tak bernyawa. Apa aku benar-benar sudah menyiksanya dengan kepergianku? Apa yang dikatakan kyuhyun sewaktu ditelfon dan halmoni itu benar? Aku sudah membuatnya terambang maut karena kepergianku?
“hyung, apa yang kau lakukan? Cepat kemasi barang dipangkuanmu. Sebentar lagi kita akan turun.” Kai menepuk pundakku kemudian sedikit menggeleng melihat raut wajahku.
“masih tidak puas dengan melihat wajahnya saja? Kenapa kau kemarin tidak pura-pura terjatuh kemudian memeluknya saja, hyung kalau kau menemuinya ditempat yang memungkinkan untuk itu?” ledeknya dengan sedikit tawa kecilnya.
“kau diam saja, anak kecil!” dengusku sembari merapihkan barang-barangku.
“tapi ngomong ngomong, hyung terlihat lebih dilema dari biasanya? Memangnya kenapa? Apa dia sakit saat kau menemuinya? Atau.. kau tidak sempat menemuinya? Aku terlalu sibuk selama di korea kemarin, jadi tidak sempat menemani kemanapun kau pegi.”
“menyibukkan diri dengan anjingmu saja terlalu dibanggakan.” Kai menyengir malu, mengetahui ucapanku. “aku menemuinya, dan asal kau tahu, waktu itu aku bersamamu.”
Kai membulatkan matanya. “chakkaman.. apa mungkin.. itu.. ketikaa..”
“lancarkan dulu berbicaramu baru kembali ke amerika.” Ledekku yang menahan geli melihat wajah syoknya.
“jadi itu alasan kenapa kau meninggalkanku saat pameran? Dan yeoja itu.. yak hyung! Kenapa kau tidak mengatakannya padaku? Aku belum sempat berkenalan dengannya.” Dengan cepatnya aku menjitak keningnya. Menghasilkan ringisan kecil dari mulutnya.
“aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya sedikitpun, bodoh! Walaupun itu hanya berjabat tangan. Dan aku yakin kau tidak akan bisa menahan aura namjamu yang berlebihan itu. Jangan sekali kali mencari kesempatan untuk mendekatinya. Itu sama seja kau mencari mati denganku.”
                                                                        ***
2 years laters~
Kyuhyun’s home, South Korea
Cho Jehee PoV
Aku nyaris tersandung saat menuruni tangga saking terburu burunya. Beberapa kali kyuhyun oppa meneriakiku untuk lebih berhati hati. Tapi aku terlihat nyaris menghiraukannya kerana hari ini sangat mendebarkan dan menggebu hatiku. Semalam tidurku begitu nyenyak untuk memimpikan pagi ini.
“Cho Jehee! Pelankan jalanmu kalau kau tidak ingin mati sebelum menemuinya!” kyuhyun oppa kembali meneriakiku saat aku nyaris tersandung untuk kesekian kalinya menuju mobilnya.
“jangan terlalu dilebihkan, oppa.” Aku mendengus kemudian dengan cepat memasuki mobil.
“kau yakin dia akan benar-benar kembali?” ujar kyuhyun oppa dengan nada sedikit mengejek.
“tutup mulutmu, dan cepat antarkan aku.” Ujarku sambil berusaha tidak menanggapi perkataannya.
Bisa saja yang dikatakan kyuhyun oppa itu benar. Karena mungkin saja dia tertinggal pesawat, atau masih ada urusan lan sehingga dia tidak bisa benar-benar pulang ke seoul tanggal 4 dibulan September ini. tapi biarkan sajalah, aku hanya bisa menunggunya. Dan melihatnya nanti. Apakah dia akan benar-benar menepati janjinya atau tidak.
“kita sampai” ujar kyuhyun oppa setelah memarkirkan mobilnya disudut taman pulau Jeju kemudian membukakan pintuku. Nyaris sempanjang perjalanan aku tertidur pulas sambil terus memutar single eprtama donghae oppa.
“eo? Gomaweo oppa.” Aku melangkah keluar dari mobil sambil mengusap kedua mataku, menyadarkan diri sejenak.
“kau mau ditemani masuk, atau aku menunggu diluar?” kyuhyun oppa menawarkan.
“aku masuk sendiri saja oppa.”
                                                            ***
Lee DongHae PoV
I know that my heart is wherever you are.
Close enough our breaths can touch,
always in that same place. 

Oh, I… I don’t have anything I can give you,
(but I’m) missing you.
I can’t even give you loving words,
but I’m missing you.
I can’t even boldly wish for you to be mine,
but I’m missing you.
So I push you away. 

More than anyone else in this world
I love you, so I hold back 
(Infinite – Only Tears)

Sial, kyuhyun sulit sekali untuk dihubungi belakangan ini. lalu bagaimana caranya aku datang menemui adiknya dengan segala persiapannya kalau tanpa arahan darinya? Semua kegiatan Jehee ada di kendalinya. Termasuk jadwal kampus, shoping, sampai jadwal tidurnya saja kyuhyun yang mengatur. Kyuhyun terlalu menghandle nya semenjak kecelakan mobil tiga bulan setelah pertemuanku dengannya.
(Author POV)
Jalan menuju seoul dari busan tehambat parah entah apa yang terjadi. Jehee hanya mengetuk ketukan tangannya ke stir mobil sambil menatap malas jendela mobil. Melihat begitu sesaknya jalanan siang ini membuatnya semakin merasa penat setelah seharian mencari salah satu tugas kampus yag sangat di kejar dateline.
Teriknya matahari di musim panas semakin terasa menyengat dari pantulan cahaya kaca mobilnya. “ini terlalu menyiksaku. Apa yang sebenarnya kim seosangnim inginkan dari tugas ini? ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan mata kuliah.” Jehee mengumpat kesal, “mencari sebuah penelitian pada objek lukisan yang kita dapat beberapa minggu lalu, kemudian melaporkan kedetail an setiap sudutnya. Cih, tugas apa itu.”
DIIIIIIIINNNN…
Jehee menoleh kearah spion depan. Emosinya semakin meluap. “tidak tahu kalau sedang macet, apa? Menambah pengang saja.” Karena kesal, jehee mengambil keputusan untuk membalan menyalakan kelaksonnya dengan suara lebih kencang.
“YAK, AGASSHI! Neo michiseo?” yeoja yang menyetir dibelakang Jehee, yang menyalakan klakson tadi berteriak dari belakang. Dengan cepat Jehee membuka kaca mobil dan berbalik kebelakang.
“KAU YANG GILA, BUKAN AKU! JELAS JELAS DIDEPAN SEDANG TERHAMBAT! PAKAI OTAKMU BARU BERTERIAK!” ujar jehee yang tidak kalah kerrasnya.
Yeoja itu turun dari mobilnya kemudian menghampiri Jehee. “yak, agasshi, kau tidak lihat, jarakmu dengan depanmu sekitar satu meter lebih. Kenapa kau tidak memajukan mobilmu,eo?”
“aih, sinjja.” Jehee mendengus kesal. “kau mau mobilku menabrak depan? Memang seharusnya kan kita berjarak. Apa kau pikir jarak depan dengan belakang hanya satu senti saja? Kau sebenarnya lulus tes mengemudi atau tidak, sih?”
Yeoja itu hanya mengumpat pelan kemudian kembali masuk kemobilnya. Dan jehee menutup kembali kaca mobilnya kemudian memajukan sedikit kedepan mobilnya karena mulai berjarak agak jauh karena perdebatannya tadi dengan yeoja dipikirnya sedikit sinting.
Klakson mobil kembali terdengar dari belakang. Tapi Jehee hanya menutup telinganya dengan headset tanpa melirik kearah spion sedikitpun. Dia sama sekali tidak mendengar jeritan orang dibelakangnya yang berusaha menghindar dari hantaman dibelakang.
Jehee terus asik dengan musiknya, menghiraukan ancaman maut dibelakangnya. Sebuah mobil truk pembawa kayu berjalan ugal-ugalan dibelakangnya. Yeoja tadi berheti berdebat karena menyadari itu dan segera menyingkir. Dia mengira jehee juga menyadari itu, tapi nyatanya tidak.
Dua menit setelah itu, truk besar itu menabrak kencang bagian belakang mobil sedan yang dibawa Jehee. Menghantam keras hingga bagian belakang terangkat dan nyaris benar-benar terbalik. Jehee hanya terdiam kaku tanpa suara. Memejamkan mata sampai semuanya terasa benar benar sakit. Punggungnya, dan kepalanya yang terasa mengeluarkan darah cukup banyak. Jeritan eomma dan kyuhyun oppa yag terdengar ketika suara ambulans menghampirinya.
                                                                                    ***
Aku membanting kasar ponselku ke tas ransel disampingku. Meliriknya kesal. Sampai kapan kyuhyun akan benar-benar menyerahkan adiknya padaku? Apa dia belum percaya sepenuhnya padaku? Memintanya untuk memberitahukan keterlambatanku saja dia tidak mau. Atau bahkan mungkin dia tidak mau sama sekali mengantarkan Jehee ke taman di Jeju hari ini?.
Sepertinya kyuhyun sangat marah padaku. Setelah kesibukkanku pra debut diatas panggung. Dia marah, karena aku tidak secepatnya kembali. Dia marah, karena memikirkan adikku yang terus berharap padaku, sedangkan aku terlihat seperti tidak mempunyai rasa rindu sedikitpun.
Padahal kalau kyuhyun melihatku disini. Melihat bagaimana cara aku hidup. Menahan diri untuk tidak menghubunginya, yang kurasa itu sangat menyiksa. Terhindar dari suara manisnya jehee, mata kecoklatan yang mempunyai tatapan tajam, dan ocehan panjang lebar yang sering dipaparkannya. Benar-benar seperti membunuhku secara perlahan.
“hyung, sepertinya kita akan terlambat. Penerbangan ditunda satu jam.” Kai menghampiriku setelah melihat-lihat keseliling. Dia bisa dikatakan anak yang tak tahan diam, sama seperti Jehee. Jadi aku cukup tahan menghadapi tingkahnya.
“mwo? Aih, apa aku harus menurunkan helicopter pribadiku sekarang, huh?” dengusku kesal. Menghindar dari sesak para fans saja membuatku setengah frustasi. Apalagi pertemuanku dengan Jehee harus tertunda sampai satu jam.
“sepertinya,” kai mengangkat kedua pundaknya. “kau mau aku menghubungi Suho untuk menyiapkannya? Kurasa tu lebih baik, walaupun keterlambatanmu hanya berkurang empat puluh lima menit, otte?”
Aku mengangguk mantap. Mengiyakan ajakan kai. “kau emang sodara terbaikku, JongIn~a”
“jangan sebut nama itu, kalau kau tidak mau aku pulang ke apartment sekarang juga.” sungut kai.
“memangnya kenapa? Namamu tidak jelek, eo?”
“memang, aku menghargai pemberian nama dari eomma dan appaku. Tapi.. sayangnya.. ah, sudahlah, luapakan itu.” Raut wajah kai terlihat sedikit terbersit rasa sedih mendalam. Entah apa yang membuatnya seperti teringat sesuatu yang sepertinya sangat menyentuh. Dan aku merasa sedikit bersalah karena menyinggungnya.
“mianhae, sepertinya itu sangat ingin kau lupakan.”
“apa?” kai mengernyitkan matanya.
“nama aslimu, ada masalah yang sangat membekas, kuyakin.”
“kau terlalu percaya diri mengetahuinya, hyung.”
“memang benarkan? Katakana iya, daripada aku memaksamu untuk bercerita.”
“Aish, sulit sekali bicara denganmu, hyung.” Dia mendesah sembari merosotkan tubuhnya dari kursi karena frustasi.
“cepat, katakan iya.”
“ne, memang ada.”
“anak pintar”
“diam kau hyung!”
                                                                                    ***
Tubuhku terhuyung, tapi aku berusaha tetap berpijak. Tubuhku melemah, tapi aku ingin terlihat kuat. Aku ingin tetap menatapnya. Tetap memperhatikannya, walaupun dari kejauhan sekalipun. Walaupun dengan rasa sesak didada yang memburu sekalipun.
Entah aku yang terlambat, atau dia yang terlalu cepat. Terlambat untuk kembali, atau dia yang terlalu cepat untuk mencari penggantiku. Beginikah hasil kuterima? Setelah menahan sesak rindu selama bertahun tahun. Hanya untuk menjadi namja yang baik dan pantas untuknya?.
Hari ini selalu aku mimpikan. Hari dimana akhirnya aku bisa kembali ke Jeju dengan kegagahanku. Tap sekarang aku berharap untuk tidak ada hari ini. berharap waktu berputar cepat hanya untuk satu  hari ini. sungguh, aku benar-benar tidak sanggup untuk hari ini.
“ige mwoya?” desisku dengan nada sedikit bergetar. “je~a. neo wae? Kenapa kau selalu tidak pernah mendengar perkataanku? Apa aku terlalu buruk sampai kau tidak percaya dan tidak mau mendengarkanku? Cukup menungguku saja dengan perasaan yang sama, itu sudah jauh lebih cukup.”
Aku tahu, perkataanku tidak akan terdengar olehnya. Sangat mustahil dengan kondisinya yang sedang sibuk dengan seorang namja. Yang terlihat jauh lebih baik dariku. Dia jauh lebih terlihat bersahabat daripada denganku.
“aku tahu, aku salah. Dan aku tahu, aku terlambat. Tapi tidak bisa kau menungguku empat tahun lebih lima belas menit?” aku menjatuhkan tubuhku ke kursi taman yang terletak cukup tersembunyi dari pengelihatan Jehee.
Sebuah tepukkan ringan dipundakku, membuatku sedikit terhenyak.
“kau menangis, hyung?” suara berat yang cukup aku kenal membuat hatiku sedikit bergetar. Aku membalikkan tubuhku kearahnya yang sudah duduk dengan tenangnya. “lama tak bertemu”
“yak! Neo..” dengan cepat aku memberi pelukkan singkat padanya. “kyuhyun~a, aigooo” ujarku sambil menahan sesak yang masih terasa membunuh.
“namanya yeosub,” kyuhyun menunjuk kearah namja didekat Jehee, melanjutkan pembicaraannya setelah membalas dengan senyuman. “dia sahabat yang baik, jauh lebih baik.”
Aku terdiam. Sepertinya kyuhyun menyukai kedekatan mereka. Apa dia tidak memikirkanku dengan ucapannya? Biarlah, kurasa aku harus mengetahui siapa musuhku terlebih dahulu.
“kau tahu hyung, kenapa aku memarahimu yang tidak segera pulang?” aku menggeleng pelan.
“karena dia,” kyuhyun berujar dengan sedikit penekanan. “aku takut takdir adikku berubah dengannya. Aku takut, adikku tidak akan bisa mempunyai perasaan untukmu lagi setelah kau pulang, aku takut adikku sama sekali tidak mengenalimu saat kau pulang, dan aku takut kalau bukan kau yang menjadi takdirnya.”
“memangnya kenapa?”
“takdir mempunyai ikatan kuat, walaupun sewaktu waktu bisa kau ingkari. Tapi sebuah pengingkaran takdir, sama saja seperti kau memasuki sebuah penyiksaan. Perasaanmu menjadi tidak jelas, menuju kemana. Kurasa akan seperti itu, dan aku tidak ingin adikku menderita. Itu saja.”
“lalu?” aku mengernyit.
“yak, hyung! Kau ini namja atau bukan, huh? Untuk apa kau berlama – lama di amerika untuk memperbaiki kepribadianmu kalau hanya mendatanginya saja tidak berani? Aih, sinjja, kau membuatku darah tinggi saja!”
“aku sudah benar benar menjadi namja terhormat sekarang. Lee donghae, kau tanyakan saja pada setiap orang pasti mereka sekarang mengenalku. Dan sekarang aku juga mempunyai harga diri.”
“apa? Jangan putar-putarkan pembicaran. Cepat hampiri saja sana!” kyuhyun mendorongku hinga nyaris kehilangan keseimbangan. Makan apa dia selama aku tidak ada? tenaganya terlalu kuat.
                                                                        ***
Cho jehee PoV
Donghae oppa sepertinya terlambat. Mungkin pesawatnya tertuda atau apa aku tidak tahu. Tapi aku berharap dia tidak sedang mengingkari janjinya saja. Aku akan benar-benar tidak mengenalnya kalau lewat dari dua hari keterlambatan pulangnya.
“hei, kau sendirian?” aku menoleh kearah sumber suara yang ku kenal.
Namanya yeosub. Aku dekat dengannya satu tahun belakangan ini. dia cukup baik dijadikan sahabat. Kedekatanku dengannya cukup mengobati sedikit rasa rinduku dengan donghae oppa. Ada sedikit kesamaan yang mereka punya. Dari sifat lembut, perhatian sampai ketidak sukaannya kalau tidak diperhatikan. Aku menyukainya bukan berarti aku mencintainya seperti donghae oppa.
“eo? Tidak, mungkin sebentar lagi dia akan datang.”
“siapa?” yeosub duduk dengan tenangnya disampingku.
“donghae oppa. Namja yang sering aku ceritakan padamu.”
Yeosub menganggku kemudian menyikut lenganku pelan. “yak, pasti jantungmu sedang tidak karuan berdetak ya? Atau.. mungkin kau sedang keringat dingin sekarang?”
Aku menunduk malu. “tutup mulutmu”
“aigoo, kau bahkan malu untuk mengatakannya?”
“yak, sudah aku bilang tutup mulutmu!” yeosub hanya menyengir menanggapiku. “aku akan malu setengah mati kalau kau memermalukanku, dan dia dengan tiba-tiba datang,eo?”
“kau yakin, dia akan datang?”
“aih, kenapa hari ini semua berkata seperti itu padaku? Kyuhyun oppa bahkan juga mengatakannya.” Sungutku. “ apa dia benar benar tidak akan datang? apa semuanya tahu kalau dia tidak akan pernah datang?”
“hentikan pemikiran seperti itu. Aku hanya menggodamu saja”
“baiklah, terserah kau sajalah.”
“aku jadi semakin penasaran orang seperti apa dia.”
“rasa penasaranmu akan terbayar sekarang.” Sebuah suara lembut yang terdengar mendekat itu membuatku terlonjak dari kursiku. Aku berdiri dengan cepatnya. Menahan tubuhku yang bergetar dan sesak yang meluap karena bahagianya.
“oppa..” hatiku terasa begitu terharu entah kenapa. Air mataku nyaris tidak tertahankan. Empat tahun lamanya, dan aku berhasil. Ah tidak, dia juga. dia sudah benar-benar menjadi luar biasa sekarang. Tubuhnya yang tegap dan lebih terlihat berwibawa. Lebih keren daripada show yang pernah aku lihat di youtube saat pertama kali debutnya.
Dengan cepat dia menyeretku dalam dekapannya. “mianhae, aku sedikit terlambat.”
“ini lebih baik daripada kau tidak datang sama sekali.” Ujarku ditengah isakkan yang akhirnya meluap.
Donghae oppa melepas pelukkannya kemudian tangannya mengusap pipiku yang basah. “uljima.” Ujarnya dengan senyuman yang semakin terasa begitu menyejukkan. “aku pernah bilang padamu untuk tidak menangis, kan? Karena aku hanya ingin melihat wajah bahagiamu seumur hidupku, Je~a”
Donghae oppa kemudian melirik kearah yeosub. Dengan sedikit tatapan tajamnya. “dank au” yeosub menatap aneh dongahe oppa. “kau boleh dekat dengannya. Kau boleh berteman dengan Jeheeku, tapi dengan satu syarat. Saat itu aku harus ada. sekalipun tidak, aku akan mengirim orang untuk mengawasi kalian.”
“wae, oppa?” sungutku dengan sedikit nada penolakkan. “dia temanku, lagipula dia yang menyemangatiku untuk menunggumu.”
“kau ikanku, dan aku airmu. Ingat? Aku tidak akan membiarkanmu berenang ke aliran air yang lain. Hanya padaku. Itu saja. Karena aku merasa dia sedikit berbahaya untukku dan untukkmu.”
                                                            ***
Mataku mengerjap, menatap samar keseliling ruangan. Sepertinya aku sudah cukup lama tertidur di ruang tunggu ini. kyuhyun dan donghae oppa sekarang memutuskan untuk tampil duet, dan aku setuju itu. Tapi sialnya aku sedikit merasa terbuang kalau sedang berada di ruang tunggu.
“maaf membuatmu lama menunggu.” Donghae oppa keluar dari balik pintu. “kau sudah mengantuk? Mau aku antarkan pulang?”
“memangnya kyuhyun oppa kemana?”
“entahlah, kurasa dia sedang menemui seseorang setelah turun panggung. Terlihat sedikit sangat pentiing.” Donghae oppa mengangkat kedua pundaknya.
“oppa.” Aku menarik lengan kemeja yang dipakai donghae oppa untuk tampil malam ini. “apa kau tidak melihat sedikit keanehan darinya?”
“apa maksudmu?” dongahae oppa sedikit menyipitkan mata.
“waktu itu dia yang menceramahiku mati matian tentang arti sebuah keberadaan orang yang dicinta. Lalu, sewaktu pameran, dia berkeliaran disekitar kemudian mendatangiku dengan panic meminta obat merah. Dan sekarang? Apa dia terlihat sangat bahagia malam ini, oppa?”
Donghae oppa terlihat sedikit berpikir sejenak. “dia juga menasihatiku beberapa waktu lalu sebelum aku menemuimu. Lalu, maksudmu.. dia..?”
“benar-benar sudah mempunyai yeoja chingu!” aku menepuk ringan pundak donghae oppa.
“omo! Kyuhyun ternyata waras juga. kupikir dia tidak menyukai lawan jenis.” Dengan cepat aku menjitak kening donghae oppa.
“jaga mulutmu, dia kakak ku, kau tahu?” donghae oppa hanya tertawa kecil sambil sedikit meringis.
“lalu, kau mau kita melakukan apa untuk memergokinya?” donghae oppa mengeluarkan mimiknya yang kurasa itu sedikit menyeramkan. Dia mungkin mempunyai rencana hebat untuk itu. “kurasa, aku tahu kita harus melakukan apa.”
                                                                                    ***
When I act like this I realize I’m actually young
[She’s] right in front of me but I don’t know what to do
How do did you start love?
People who have loved please tell me
Will there be a day when I hold her hand?
Will there be a day when I kiss her above her closed eyes?

Hello Hello I acted confidently
Hello Hello I want to talk to you for a moment
Hello Hello I might stutter a little, though
Who knows we might actually be together

Should I confront [her]
Should I wait [for her]?
It’s harder when everyone else says something different (You can’t believe it right?)
Having high standards, this isn’t a usual thing for me
Please believe in me yeah
Will there be a day when I hug her freely
I believe that what we think can come true

Hello Hello I acted confidently
Hello Hello I want to talk to you for a moment
Hello Hello I might stutter a little, though
Who knows we might actually… oh yeah

This is not the first time
Truthfully I’ve loved and parted
But it’s hard, please believe in me
You are different

Hello Hello This time I’ll put myself out there
Hello Hello Ooh yeah~ Baby Baby Baby girl
Hello Hello I don’t know how you’re feeling now
Who knows we might actually…

Hello Hello
                                                                                                                                                (SHINee – Hello)

“kau menyukaiku, eh?” kyuhyun oppa menundukkan kepalanya, sedikit menjajarkan wajah mereka. Kyuhyun oppa terlihat sedikit puas mendengar ucapan Han Ha gun eonni –namanya baru aku ketahui tadi setelah kyuhyun oppa berkali kali menyebutnya-
“katakana sekali lagi, karena aku tidak ingin salah dengar” Han Ha gun eonni hanya terdiam. Menahan rona pipi yang memerah, aku tahu itu. “kau tadi mengatakan kalau, aku…”
“lupakan itu” Ha gun eonni mengelak dengan cepat akhirnya. “aku tadi hanya spontanitas saja mengatakan kalau kau terlihat sedikit eng.. yah seperti itu lah. Hanya spontanitas saja, bukan dari hati. Kau jangan terlalu percaya diri kyuhyun~a”
“mengatakan kalau aku tampil menankjubkan malam ini, menatapku dengan ekspresi wajah terpesonamu malam ini. dan kau tidak menyukai seohyun karena dia sempat tampil duet denganku, kan?” kyuhyun oppa memaparkan dengan penuh penekanan disetiap perkataannya. “ kau masih mau mengelaknya Han Ha Gun-ssi?.”
“terserah kau mau mengatakan apapun. Bahkan kalau kau mau memojokkanku tentang hal buruk apapun aku masih bisa aku terima. Tapii..” Ha Gun eonni sedikit menghela napasnya sejenak. “jangan pernah memojokkanku tentang hal kalau seolah olah aku menyukaimu , seolah olah aku tergila-gila padamu, seolah olah hanya aku yang seperti itu.”
“wae?” kyuhyun oppa membuat suasanya menjadi semakin serius oleh nada bicaranya. “kau malu untuk mengakuinya?”
“jangan mengurusi hal pribadiku. Kau sendiri bagaimana? Kau sama gilanya denganku kan? Dan aku.. aku sebenarnya tidak terlalu yakin, tapi karena kau mengira aku menyukaimu.. ehm, boleh juga kan aku mengatakan kau menyukaiku? Kau kira aku..”
“kalau aku menyukaimu memangnya kenapa, eo?” mata Ha Gun mengerjap seketika saat kyuhyun oppa mengatakan kalimat tersebut dengan hentakan jarak wajah mereka yang mendekat.  “aku tahu kau yeoja bodoh, aku tahu kau yeoja dingin, aku tahu kau yeoja yang tidak menyukai ke feminiman, aku tahu kau bukan yeoja seperti yang aku katakana di media tentang yeoja idealku.”
“tapi aku bahkan merasa jauh lebih bodoh darimu, Gun~a.” suara kyuhyun oppa melemah. “bodoh karena tidak menyadarimu secepatnya, tidak secpatnya mengartikan perasaanku padamu. Dan sedikit terasa konyol karena aku bisa jatuh hati pada yeoja sepertimu.”
“kau ingat tipe yeoja idealku? Berkaki jenjang, mempunyai kepribadian seoarang yeoja sungguhan. Karena aku sangat ingin seorang yeoja yang benar-benar menjadi yeoja chingu seperti yang lainnya. Tapi sialnya aku malah mendapatkan kau.” Dengus kyuhyun oppa. Tapi setelah mengatakan itu, kyuhyun oppa menariknya dalam pelukkannya. “tapi aku sadar. Kalau sebenarnya tipe yeoja idealku bukan speerti itu. Yeojaku hanya kau, yang bernama Han Ha Gun. Entah seburuk apapun kau, tapi kau adalah yeojaku. Sosok yang ditakdirkan untuk menjadi tulang rusuk kehidupanku.”
Ha Gun eonni terperangah. Dia terlihat sedang berusaha mencerna perkataan kyuhyun oppa yang begitu sulit untuk saat ini. terlebih dalam kondisinya yang sedang berada dalam dekapan kyuhyun oppa. aku bahkan yakin seratus persen dia sedang menahan gejolak bahagia dihatinya. Aku saja sampai terpesona melihat kyuhyun oppa yang begitu luar biasa dalam menarik takdirnya.
“aku juga bisa seperti kyuhyun.” Donghae oppa mendengus disampingku. Tangannya sedikit diregangkan dari handycam yang dipegangnya. Sepertinya dia terlihat pegal memegang kamera untuk meliput kejadian spektakuler malam ini. “aku bahkan sudah melakukannya padamu, kan Je~a?”
Donghae oppa berujar seperti itu mungkin karena melihat ekspresi wajahku yang seperti tersanjung melihat adegan kyuhyun oppa dengan Ha Gun onnie. “sewaktu aku pulang, aku memelukmu. Dan aku juga mengatakan kalimat yang jauh lebih keren dari kyuhyun oppamu.” Donghae oppa terus bersungut seperti tak mau kalah. Membuatku sedikit terganggu karenanya.
“kau jangan seperti anak kecil oppa. Kau tahu? Ini akan menjadi adegan dalam drama korea terkeren yang pernah aku lihat.” Aku berkata tanpa menoleh sedikitpun kearah donghae oppa. Berusaha menatap focus dan menanti kejadian selanjutnya.
“yak, Je~a.” entah apa yang emmbuat donghae oppa terlihat seperti anak kecil sekarang ini. “kau harus mengakuinya. Aku lebih…”
“YAK! DONGHAE OPPA TUTUP MULUTMU!” akhirnya aku menyerah mendengar semua rengekan dan ocehannya yang tidak mau kalah. Membuatku sangat terganggu.
Donghae oppa hanya mengerjapkan matanya kaget. Kemudian dengan tindakan yang amat-sangat terlambat menurutku. Dia membekap mulutku. Menoleh kearah kyuhyun oppa dan Ha gun eonni yang sudah menatap intens kami berdua.
“kau melakukan tindakan bodoh yang membuat kita akan masuk kedalam neraka, Je~a.” donghae oppa berbisik ditelingaku sembari melepaskan bekapannya.
Aku dan donghae oppa menatap ngeri sepasang mata yang mendekat kearah kami berdua. Aku menggigit bibir bawahku, dan donghae oppa menggenggam tanganku. “kau yang mencari mati, hae oppa” balasku menyikut lengan donghae oppa.
“cho jehee? Lee donghae hyung?” kyuhyun oppa memincingkan matanya. Mendekat kemudian berdiri dengan badan bersedekap didada. Ha Gun eonni tetap berdiri ditempatnya sembari mencoba melihat apa yang dilakukan kyuhyun oppa. “apa yang kalian lakukan disini?”
“eo? Kyuhyun~a. kami tidak bermaksud.. eng.. kami hanya ingin..” dongahe oppa memamerkan sebaris gigi rapihnya dan senyuman mohon ampun pada kyuhyun oppa.
“kami hanya.. kebetulan lewat, oppa.” Aku menyahut sekenanya.
“lalu untuk apa kau bawa bawa handycam hyung?” kyuhyun oppa menunjuk kearah tangan donghae oppa yang dengan cepatnya donghae oppa menyembunyikan dibalik punggungnya.
“tidak, kami tadi hanya sedang mencari…” donghae oppa berujar masih dalam cengirannya. “mencari.. kai! Yah, benar kami sedang mencari Kai. Kau tahu? Dia sekarang sudah debut dengan boyband EXOnya. Dan.. eng.. Jehee sangat menyukainya. Jadi.. kupikir alangkah baiknya kalau..”
“kalau aku mengabadikan perkenalanku dengan kai nantinya di handycam ini.” Aku kembali menyahut dengan sekenanya. Karena aku tahu ini aalah kondisi yang sangat gawat.
“boleh aku lihat?” kyuhyun oppa mendekat dan berusaha menagmbil handycam dari dongahae oppa yang terus mengelak. Dan akhirnya dengan tatapan evil sebagai senjaa terkuat kyuhyun oppa, donghae oppa menyerahkan handycam itu. Aku hanya menatap pasrah ketika melihat handycam itu beralih ketangan kyuhyun oppa.
Kami dalam diam sekitar lima menit setelahnya. Aku dan donghae oppa berusaha tidak berkata apa-aapa. Hanya berdoa dalam hati untuk kyuhyun oppa tidak benar-benar melihatnya.
“kerja yang bagus, hyung!” kyuhyun oppa menemuk pundak donghae oppa yang membuatnya sedikit terkejut. “gomawo, otak mu cukup cermelang juga untuk merekam semua ini.”
Deg..
Aku merasa cukup berada di ujung bahaya malam ini. kyuhyun oppa sering sekali mengatakan sebuah pujian sebelum membawa kami keambang maut. Aku dan donghae oppa hanya tersenyum sejenak. Dan donghae oppa menatapku dengan tatapan tidak-akan-terjadi-apa-apa-selama-ada-aku. Dan aku hanya membalas dengan senyuman kau-memang-harus-bertanggung-jawab-untuk melingdungiku-karenaini-ulahmu-.
“jangan dihapus, aku akan membunuhmu kalau sampai dokumentasi ini hilang.” Kyuhyun mengembalikan handycam itu. “aku akan menyelesaikanya sendiri. Dan kalian tinggal menunggu saja. Aku pasti akan benar-benar menikahi yeoja itu.”
Aku dan donghae oppa masih sedikit ragu dengan kyuhyun oppa. “aku tidak marah, jehee~a, donghae hyung~. Tenang saja. Aku tidak akan memakan kalian bulat-bulat. Jadi jangan menatapku seperti itu, ara?”
Aku dan dan donghae oppa hanya mengangguk sekenanya saja. Kemudian donghae oppa menarikku dalam dekapannya setelah kyuhyun oppa pergi menghampiri ha gun eonni kembali.
“kita selamat dari malaikat maut kali ini, Je~a” donghae oppa mendesah. “Seharusnya kan kita yang memergoki mereka berdua, bukan malah kita yang tertangkap mati olehnya.”
                                                                        ***
Dear Je~a..
Wae? Kenapa aku harus memanggil ikanku dengan sebutan ‘Je~a’ ?
Kau tahu nama panggilanku kan? Hae~a.
Lalu, apa kedua panggilan itu tidak terucap jauh berbeda?
Je~a dan Hae~a. tapi aku mau hanya aku yang memanggilmu seperti itu.
Aku mau hanya aku yang memanggilmu dengan panggilan yang tak jauh dari namaku.
Itu terasa seperti memanggil diriku sendiri.
Karena aku memang kau. Dan kau itu aku. Kita sama. Kita mempunyai ikatan yang sama.
Ikan dan air.
Dan takdir.
Je~a..
Please give me strength to face my life tomorrow,
With your smile, your laugh, and your happy life with me.
I am begging thou..
To make my life very important and impressed,
To make me want to life long time tomorrow, and sure, it will be with you.
You’re who I’m thinking of
Je~a,  you aint my runner up
And no matter what you’re always number one
You’re my fish.. I Love you~~~~~~~

Dear DongHae oppa…
Aku sempat berpikir, betapa sialnya aku karena dipertemukan denganmu.
Betapa jahatnya tuhan menakdirkan pertemuan kita berdua.
Pertemuan antara sebuah ikan dan air yang ku pikir tidak akan pernah bersatu.
Yang kupikir aku hanya ikan yang tersasar sampai dalam arus airmu,oppa.
Tapi semua pemikiran itu lenyap entah kemana.
Sekarang aku tahu arti sebuah air dalam kehidupan ikan dibawah laut, sungai, atau bahkan aquarium.
Sama halnya dengan arti kehadiranmu untukku.
Walaupun kau sempat membuatku setengah gila karena menunggumu dalam jangka waktu empat tahun.
Membuatku kesal karena kau tidak pernah menghubungiku setelah itu.
Membuatku sesak karena menahan rasa rindu yang memupuk.
Oppa,
You’re my destiny, you’re my water where the fish live.
I love you~
                                                                                    ~END~