halohaa~ wakaks. udah lama yaa gak ngepost ff ._. ini ff special buat temen aku yang ultah (kayaknya semua ff gue spceial gitu). tapinya tuh sebenernya telaaaaat banget. nyaris dibilang basi. wk. ._.v ultahnya tanggal 14 february, aku ngepostnya tanggal 20 an-_- *curhat* yaudah lah yaaa ini masi tbc. jadi yang sabar ajaa buat nunggu kelanjutannya. wk. trusnyaa ki bum cuman orang biasa. bukan member suju disini. ini juga gak ada judul karena aku lagi gak punya ide buat namain. *kabuuur*
selamat membacaaaa!
~WooBum Couple~ #part 1
That’s you..
My one and oly..
You always my baby..
“saranghaeyeo~”
Lee WooRi PoV
Langkah kakiku tersentak oleh sosok tubuh yang sangat ingin ku hindari dihadapanku. “oppa?” aku mendesah sambil menatapnya putus asa. Kemudian membalikkan tubuhku kelain arah, dan mulai melanjutkan kembali langkahku.
Tangannya mencengkram cepat lenganku. Membuatku menghentikan gerakanku, dan terpaksa oleh cengraman yang dibuatnya untuk menghadap kearahnya. Dia terlalu tinggi untukku. Sehingga aku harus sedikit menaikkan kepalaku untuk menatapnya.
“kau marah, hm?”dia memincingkan matanya, berusaha untuk membaca wajahku. Aku berdecak pelan. “aniya. Gwenchana.” Jawabku asal dan mengalihkan pandanganku malas.
“sinjja? Kurasa kau berbohong.” Dia melepaskan cengkramannya perlahan kemudian memasukkan tangannya kedalam saku celana jinsnya.
“terserah kau saja mau menganggapku marah atau tidak. Aku tidak mempunyai waktu untuk mendebatkannya.” Aku kembali melanjutkan langkahku.
Belum ada sepuluh langkah aku berjalan, sebuah perkataan yang meluncur santai dari mulutnya membuatku kembali tersentak dan berhenti. “bagaimana kalau kita benaran berpacaran? Ehm, maksudku, kau dan aku benar benar berpacaran, bukan hanya dari lisanku saja. Otte? Sejujurnya, aku sangat menyukaimu. Jauh sebelum aku lulus SMA.”
Aku membalikkan tubuhku dan berjalan kembali kearahnya. Dan berhenti tepat dihadapannya. Jarak kaki kami hanya sejengkal. Membuatku dengan mudah menjitak keras kepalanya mengeluarkan ide gila itu. “yak, oppa! Neo michiseo?shireoya!”
Tanpa terduga olehku, dia mengangkat tangannya. Mengeluarkan dari skau celananya kemudian melingkarkan ringan di pinggangku. Membuatku tersentak dan otomatis sedikit terhuyung. Aku terhujung kebelakang, dan dia menahanku. Membuatku tertarik lebih dekat dengannya.
Dia menundukkan kepalanya. Menjajarkan wajahnya dengan wajahku. Nyaris tak ada 5 senti untuk jarak wajah kami. “ sinjja? Aku benar bersungguh sungguh dengan perkataanku tadi. Dan kuharap kau juga menyukaiku. Karena aku tak suka penolakan, maka hari ini juga, kita sudah resmi berpacaran.”
Dia menurunkan tangannya, alih alih mengacak acak ringan kepalaku, sambil tersenyum manis. Senyuman yang sangat langka diberikan untuk sembarang yeoja.
Dia sepertinya tidak memperdulikan kondisiku yang masih sangat syok dan terhenyak dibuatnya. “sepertinya aku tidak takut dengan penolakanmu, aku jamin kau tidak akan menolakku, hm? Wajah mu merah sekali, Woori-a. yepposeo.” Kali ini dia mencubit ppiku.
Kemudian beranjak pergi setelah mengucapkan kalimat yang semakin membuatku terhenyak. “aku pergi dulu, jagiya. Saranghaeyeo.”
Aku hanya bisa terbengong melihatnya pergi menjauh, sambil mendesah pasrah kemudian mengacak gusar rambut ikalku. “sakit jiwa jika aku jadian dengannya seperti ini. memalukan.” Kemudian aku mengercutkan bibirku kesal. “tapi aku memang menginginkannya. Aaish! Michiseo!”
Hai, perkenalkan, Lee Woori ibnida. Aku asli orang Korsel. Tapi aku melanjutkan kuliahku di California. Hanya menjauh dari kekangan eommaku, itu saja. Dia selalu memprotectku setelah appa meninggal beberapa tahun lalu. Tapi itu sungguh menggangguku.
Aku dan Jong YoungHwa. Namja gila yang dengan mudahnya menaklukkanku. Dia seniorku sewaktu SMA dan sekarang. Dia melanjutkan kuliah di universitas yang sama denganku. Di berekely, universitas of California.
Sialnya, dia adalah pangeran kampus di sana. Dan dia selalu mengalihkan dengan menjawab pada setiap yeoja yang mengganggunya. “I’m sorry, I have girlfriend. Lee Woori”
Dengan sendirinya, mereka yang mengetahui atau pun mengenalku, bahkan sampai yang sama sekali tidak aku kenal –benar benar tidak pernah tahu- sekalipun, memusuhiku. Entah itu hanya tatapan persaingan, ataupun tidak suka. Bahkan, bisa dipastikan setiap minggunya aku mendapat bullyan dari para penggemarnya.
Entahlah, aku tidak tahu harus merespon nya dengan apa. Itu yang membuatku marah. Tapi setidaknya, dia sudah memberikanku kepastian, sekarang.
Kim Ki Bum PoV
“shireoya appa!” hertakku. Aku menghela napas kasar. Namja separruh baya dihadapanku hanya terdiam dengan Koran di tangannya.
“wae?” jawabnya datar. Membuat emosiku semakin naik ke ubun ubun.
“appa. Aku mempunyai mimpiku sendiri. Okeh, intinya aku tidak ingin dimimpikan karena aku bisa mencapai mimpiku sendiri, ara?” aku beranjak pergi dari sofa yang kududuki. Dengan perasaan penuh amarah yang meluap.
“capai saja mimpi yang tak bertujuanmu itu. Appa tidak perduli lagi. Lanjutkan perusahaan appa, atau kau kembali ke korea.” Ujarnya dingin namun penuh dengan penegasan.
“aku akan kembali ke korea. Hari ini juga kalau appa mau.” Jawabku sambil berjalan menuju kamarku kembali.
Dia appaku. Terlalu tidak pantas sejujurnya untuk menyebutnya seperti itu. Dia selalu saja mengatur hidupku. Dari mulai aku melangkah, dia yang menentukan langkahku, hingga aku berlari sekalipun, dia yang melarikanku.
Aku bergegas menaiki tangga menuju kamarku. Mengepakkan pakaian dan barang barang berhargaku. Aku tidak pernah bermain main dengan kata kataku. Sekalipun aku bilang akan pergi, tidak aka nada yang bisa mencegahku.
Ketukan pintu kamarku mulai berbunyi. Suara eomma mulai terdengar. “bum-a, gwenchana? Kau tidak akan pergi, kan nak?”
Aku hanya terdiam. Tidak menyahut sama sekali, dan terus terfocus dengan barang barangku. Eomma terus mengetuki pintu kamarku. Membuatku sedikit mendesah dan beranjak untuk membukakan pintu.
“wae, eomma?” ujarku datar.
Dia sedikit mengerut, melihat kondisi kamarku yang mulai terkosongi oleh barang. “bum-a, eomma akan berusaha sebisa mungkin untuk membujuk appamu. Jadi kau tidak perlu pergi. Hm?” dia menatapku penuh harap.
“mianhae eomma. Appa mempunyai sifat yang sama denganku, keras kepala. Jika tidak ada yang ingin mengalah, mungkin akan semakin hebat, tapi sayangnya aku tidak mau mengalah dengan appa. Perbisnisan sama sekali bukan masa depanku.”
Aku mengangkat ranselku kemudian mengecup ringan pipi eomma kemudian beranjak pergi. “aku sudah selesai mengepakkan barang. Mungkin aku akan tinggal dirumah halmoni. Jaga dirimu baik baik eomma.”
***
“annyeonghaseo, Kim ki bum ibnida. Pindahan dari California, dengan jurusan yang sama. Kau bisa memanggilku cukup dengan ki bum. Jangan pernah sebutkan marga ku kalau itu tidak terpaksa.” Aku tersenyum simpul kemudian membungkukkan tubuhku ringan, tanda emberi salam.
Seosangnim mempersilahkanku duduk setelah perkenalan ‘singkat’ ku selesai. Aku hanya memilih tempat asal, yang menurutku nyaman. Pinggir kelas yang bersampingan dengan dinding dan jendela ruangan.
“ki bum oppa.” Desahan kecil dari belakangku, membuatku menolehkan arah apndangku. Mengehentikan gerakanku sesaat. “boleh aku memanggilmu oppa? Aku mahasiswi aksel disini.” Aku mengangguk ringan padanya.
“siapa namamu?” tanyaku kemudian sambil tersenyum singkat.
“Yoona, Im Yoona.” Jawabnya sembari membalas senyumku.
***
-TBC-
sekali lagi maaaff banget yaaa pit *mukamelas* baru ngepostnya sekarang. yaudah ah.. nungu commentnya aja deh, aku. thanks udah mau mampir! annyeong!
ini lanjutan ceritaku, maksudnya nyambung gitulah intinya. dan maaf yaa postnya telat. langsung aja. selamat membaca!!
Cho Jehee PoV
Han geng oppa. Member super junior pertama yang paling kukenal. Yang paling ku kagumi. Aku menyukainya, jauh sebelum aku mengidolakan donghae oppa. Tepatnya saat pertama kali aku tahu tentang super junior. Saat kepulangan kyuhyun oppa yang pertama kerumah setelah lama tinggal ke dorm. Aku sangat menyukai seni tari, dan aku menyukai tariannya. Ceritanya sangat panjang, dan aku tidak berniat untuk mengulasnya lagi *plak
Sungguh, dia sosok yang sangat aku kagumi. Sosok yang patut diancungkan 10 jempol kalau bisa. Terutama, saat ia menghadapi masalahnya dengan SM Entertaiment. Dia memilih jalan yang menurutnya adalah yang terbaik. Dan aku yakin dia memlih jalan yang tepat. Sesuai nalurinya, walaupun dia harus bersedih meninggalkan para member super junior yang sudah memberikan banyak kenangan untuknya.
Kau tahu? Apa yang aku lakukan saat dia ‘minggat’ dari dorm?. Saat itu aku sedang ingin menemuinya. Sangat bersemangat menemuinya, entah kenapa. Seperti ada beberapa hal yang yang harus aku sampaikan. Aku nyaris dikatakan terburu buru, tapi entah kenapa aku harus sampai di dorm lebih pagi.
Sangat disayangkan. Aku sampai di dorm stengah jam setelah kepergiannya. Terduduk lemas didepan lemari pakaiannya yang kosong. Donghae oppa menopangku yang nyaris tak berdaya. Dia. Han Geng oppaku. Yang sudah aku anggap sebagai kakak laki laki keduaku setelah kyuhyun oppa harus pergi begitu saja.
Menangis. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Tidak sanggup untuk melakukan apapun. Bahkan untuk berdiri dari dudukku saja harus dibantu oleh donghae dan kyuhyun oppa. Berlebih saat aku menge check handphoneku.
-1 new message-
From : hangeng oppa
Mianhae. Chonmal mianhae. Mungkin hanya kata maaf yang bisa ku ucapkan. Maaf jika aku tidak sempat berpamitan padamu, maaf jika aku sering melakukan kesalahn padamu. Aku memutuskan untuk kembali ke China. Memulai hidupku kembali disana. Terima kasih, sudah menjadi temanku selama di seoul. Dan terima kasih sudah menjadi penggemarku. Gomawo. Mianhae jehee-a. annyeong!
Oke, anggap itu sebagai hari terlukaku. Walaupun tidak mudah untuk dilupakan. Hari ini tanggal 9 february 2012. Mengingat hari ini hari ulang tahunnya. Dimana seharusnya di tahun tahun sebelumnya, aku selalu memutar otak untuk mencari ide ide konyol untuk memberikan kejuatan untukknya. Tepatnya, aku, siwon oppa dan heechul oppa.
Aku menghela napas ringan. Menatap kearah luar kaca bus yang kunaiki. Tidak ada kejutan hebat yang akan kubuat untuk hari ini. tidak ada ulah yang kubuat untukknya hari ini. tidak ada masakan yang kutagih darinya dalam rangka merayakannya.
Sedih, tentu saja aku sangat sedih. Terlebih dengan masalah baruku ini. dia tidak ada disampngku sekarang. Sulit rasanya untuk menerima ini semua. Walaupun donghae oppa selalu ada untukku. Donghae oppa tak tahu dan tak mengerti awal kisahku dengan Sooki. Hanya Han Geng oppa yang tahu semuanya.
Drtt.. drtt..
Aku merogoh handphonku dari tas sampingku. Sambil berharap itudarinya. Sangat mengharapkannya. Tapi hasilnya aku hanya perpikir heran. Tidak biasanya siwon oppa meneleponku.
“ne, oppa?” sahutku setelah memasang earphone hpku. Aku tidak begitu suka untuk menempelkan handphone di telinga.
“apa kau mempunyai banyak kelas hari ini?” aku mengetuk ketuk ringan tali tas sampingku, sembari berfikir. Mengingat jadwalku hari ini.
“hm.. tidak. Pagi ini aku akan menyelesaikan kelasku. Wae?”
“bisa datang ke Dorm sepulang darinya?”
“akan aku usahakan. Memangnya ada apa oppa?”
“kau datang saja. Aku sangat mengharapkan kedatanganmu. Hm, chakkman. Jam berapa tepatnya kau pulang?”
“jam sebelas. Baiklah. Annyeong oppa.”
Aku melangkah turun dari bus. Sebenearnya aku sama sekali tidak mempunyai kelas hari ini. dosenku sedang ada urusan untuk tiga hari kedepan.
Yang aku lakuakn sekarang hanya mencari cara untuk tetap merayakan ulang tahun Hangeng oppa tahun ini. tak peduli dia perduli tau tidak terhadap kado ulang tahunku.
Studio Jinho, adikku. Tempat pertama yang akan ku kunjungi. Masih sepi. Aku sudah berjanji padanya untuk datang pukul 8 pagi. Dan sekarang baru pukul setengah 8. Mungkin dia belum bangun atau belum datang, entahlah. Aku memutuskan untuk menunggunya di sofa depan.
“onnie-a, kau datang terlalu pagi.” Tak lama terdengar suara dari balik pintu masuk studio. Studio ini milik keluarga kami. Tepatnya hadiah ulang tahun jinho dari appa.
“memangnya kenapa? Aku terlalu bersemangat untuknya.”
“sendiri?” dia melangkah ke arahku. Memberi tanda untuk masuk ke ruang dalam.
“eo. Wae? Apa ada aturan untuk tidak boleh datang sendiri, hm?” aku mengikuti langkahnya sambil melihat kesekeliling ruangan yang kumasuki.
Dia tampak tertawa ringan. “aniya. Hanya heran saja. Biasanya kau akan datang bersama kyuhyun hyung atau paling tidak donghae hyung.”
“lama aku tidak kesini, banyak sekali perubahannya.” Tanganku mengotak atik isi ruangan. Aku berusaha menghiraukan pertanyaan. Tidak penting bagiku untuk diperdepatkan.
“tentu saja. Lalu? Apa rencana jahil yang kan eonnie lakukan?jangan libatkan studio ini kalau itu membahayakan.”
“cih, kau kira aku akan nekat membuat video sensor disini, huh?”
Dia kembali tertawa. Tawa manisnya yang akan membuat para yeoja di manapun akan meleleh melihatnya. Terkecuali aku. Sudah terbiasa melihat mimic lucunya itu.
“aku hanya ingin merekam suaraku. Hmm.. dan membuat beberapa video untukknya.
“kajja. Kita mulai saja, eonni.”
***
Tanganku mengetuk ringan pintu dorm. Tanpa menunggu lama siwon oppa sudah muncul dari balik pintu untuk membukakanku.
“kau datang lebih awal, Jehee-a. itu lebih baik.” Dia member jalan padaku untuk masuk kedalam ruangan.
Mataku mencari cari para member di dalam, karena kelihatannya terlalu sepi. Langkah kakiku menuju sofa yang menghadap TV yang menyala.
“donghae hyung sedang ada pemotretan, sungmin hyung sedang syuting iklan, dan yesung hyung dengan kyuhyun sedang show suju K.R.Y”
“oppa, kenapa kau tidak mengabsen semuanya? Apa ryeowook oppa absen dalam show suju K.R.Y?”
Dia tertawa ringan, menyuguhkan minuman dihadapanku. “karena mereka yang biasanya kau cari.”
“ck, lalu apa maksudmu mengundangku ke dorm, sedangkan mereka semua sedang sibuk?”
“tidak semua, eunhyuk hyung sedang tidur didalam. Dan sungmin akan pulang setengah jam lagi.”
“ikuti saja perintahku, kalau kau ingin tidak kecewa hari ini” lanjutnya.
***
Mataku sedikit membelalak. Melihat situasi disampingku. Bandara, tempat turun landasnya pesawatku, yang tidak aku mengerti kemana aku dibawa pergi oleh siwon oppa dan sungmin oppa.
Terlihat disetiap sudutnya bertuliskan tulisan hanse china. Membuatku menumbuhkan sebuah harapan. Berharap kalau ini adalah negeri china, dan berharap kalau aku akan menemuinya.
“siwon oppa.. apa ini..”
Siwon oppa mengangguk, menyimpulkan sebuah senyuman disudut bibirnya. “baiklah, sepertinya rencananku sudah terbaca. Hahaha. Apa kau sudah bisa menebaknya, Jehee-a?”
Dahiku sedikit mengernyit. Berusaha untuk tidak membayangkan hal mustahil terjadi. Hingga akhirnya aku menggeleng menyerah. “molla.”
“hm.. aku berniat untuk merayakan ulang tahun hangeng hyung, karena kyuhyun, dan yesung hyung sudah berangkat terlebih dahulu, aku mencari teman untuk ke china. Sepertinya kau orang yang tepat.”
Aku nyaris meloncat loncat girang di perjalanan menuju pintu luar bandara. Sungguh ini bahkan lebih mengejutkan daripada kejutan ulang tahunku tahun lalu.
Kehisterisanku tidak bisa tertahankan. Membuatku terlonjak senang dan memeluknya. “kyaaaaa!! Sinjjayeo? GOMAWOYEO si.. ups, mian oppa.” Aku segera menutup mulutku. Yaah setidaknya menahan diri untuk menyebut namanya kalau tidak ingin diserbu oleh E.L.F di China.
***
Aku melangkah sembari memperhatikan sekelilingku. Sdikit mnegrnyit ketika melihat sosok yang tengah meringkuk dibalik selimut, di salah satu sofa.
“oppa, kyuhyun, yesung dan ryeowook oppa tidak sedang disini, kan?” tanganku meletakkan tas keciku kesalah satu meja di sudut dinding dorm yang kami datangi.Ini tempat peristirahatan super junior selama di China. Aku hanay pernah mendatanginya sekali sebelumnya. Saat ikut Super Show 2 waktu itu.
Siwon oppa mengangguk. Dia sedang berada di dapur yang menghadap kearah tempatku. Menyiapkan minuman untukku. “eo, tentu saja. Memangnya kenapa?”
“lalu? Nugundae?” aku mengoyak oyak tubuh yang terbaring di sofa. Wajahnya di telengkupkan kedalam bantal yang dipeluknya erat. Dia saa sekali tidak menyahut, atau pun sekedar mengolet sebagai responnya.
Belum sempat siwon oppa datang menghampiri ku, pintu utama dorm terbuka. Kyuhyun, yesung dan ryeowook oppa masuk dari balik pintu. Sepertinya mereka sudah pulang.
“dia Ha-Gun ku.” Gumam kyuhyun oppa tiba tiba saat melirikku yang tengah menatap heran sosok di hadapanku. Aku membelalak kaget. “MWOYA? Sejak kapan dia ada di sini, oppa?”
“aku yang mengajaknya. Mungkin dia tadi kelelahan setelah ku ajak mengitari kota Beijing seharian.”
Kyuhyun oppa sepertinya tidak sedang ingin menjelaskan panjang lebar. “apa dia ikut datang untuk merayakan ulang tahun hangeng oppa?”
Dia mengangguk, kemudian mengambil posisi duduk di sampingku. “memangnya kenapa? Aku sudah memberikan semua yang kuketahui tentang hangeng padanya.”
“sebaiknya kau bangunkan dari sekarang, oppa. Dia itu tidur seperti babi. Yaa kalau tidak ingin terlambat.”
“biarkan saja dia tidur seperti babi. Asalkan itu adalah Ha Gun.” Ujarnya datar, menaggapiku.
“yak, oppa. Tidak baik untuk seorang yeoja tidur seperti itu.”
“memangnya siapa disini yang menjadi namja chingunya, hm? Aku kan? Bagiku tidak masalah.”
“yak,yak,yak. Kyuhyun-a, jehee-a. jangan lanjutkan debat kalian sekarang. Sebaiknya kau mandi sekarang, hee-a.” siwon oppa menepuk tepukkan tangannya, seolah sedang mengomandokan kami. Aku hanya mendengus kesal, kemudian bankit dari dudukku.
“untuk masalh bangun membangunkan Ha Gun, mungkin kyuhyun lebih ahli daripada kita.” Siwon oppa segera berlari kecil menuju kamarnya setalah mengakhiri ucapannya. Di ikuti oleh yesung dan ryeowook oppa. “aku setuju, sepertinya dia memang SANGAT ahli.” Sepertinya mereka akan mengetahui efek dari ucapannya.
“YAK, HYUNG! APA KALIAN INGIN MENCARI MATI, HUH?” geram kyuhyun oppa kemudian. Membuatku sedikit bergidik dan menutup telinga.
“sungguh menyeramkan jika sifat Ha Gun yang tak jauh berbeda darinya tak diubah . akan menjadi kacau rumahku nanti dan berubah menjadi rumah suram yang di iringi jeritan mengerikan seperti itu” gumamku sendiri sembari mengambil handuk kecil yang disdiakan siwon oppa tadi.
Kyuhyun oppa sepertinya mendengar gumaman kecilku. Dia beralih menatapku nanar. “yak, cho Jehee. Apa yang tadi kau ucapakan, hm?”
Dengan cepat aku menggelengkan kepala. “aniya oppa. Gwenchana.” Kemudian melarikan diri menuju kamar mandi.
***
Hangeng PoV
Jadwalku dihari ulang tahunku yang seharusnya ku nikmati, malah menjadi hari yang melelahkan. Tepatnya sangat meelahkan. Banyak show yang harus aku datangi. Mereka semua ingin merayakannya. Berlomba tepatnya. Terutama para Fans.
Satu hal yang kuingat di hari ulang tahunku. Walaupun banyak kejutan dan hadiah di hari ini. Cho Jehee. Tidak ada ulahnya yang dia buat untuk memberikanku sebuah kejutan ulang tahun. Tidak seperti hari ulang tahunku yang sesungguhnya kalau tidak ada ulahnya.
Biasanya, setiap tahun aku selalu berfikir, apa lagi yang dilakukannya. Tapi sayangnya aku tidak pernah bisa menebaknya. Dan tahun ini, di malam ulang tahunku tahun 2012. Tidak ada dia. Ingin aku meneleponnya, tapi semua kontakku dengannya sudah terputus.
Malam ini, pukul 7. Show terakhirku dihari ulang tahunku. Show terakhir yang aka nada kejutan untukku. Tidak ada harapan lagi untuk dia datang. dan tidak mungkin.
***
Seketika lampu studio padam. Pembawa acara sedikit Nampak terhenyak. Para penonton terdiam seketika setelah mengeluarkan kepanikannya yang hanya sementara. Membuatku berfikir kalau ini adalah sebuah kesalahn teknis.
Baru saja aku ingin mengangkat micku untuk memperbaiki suasana. Sebuah alunan lagu dari suara yang ku kenali berputar. Aku sedikit terhenyak mendengarnya. Sambil terus berharap kalau dia menyanyikannya secara langsung untukku. Tapi nyatanya tidak. Hingga lagu itu berakhir dia sama sekali tidak muncul. Dia menyanyikan laguku say no. suaranya semakin membaik. Mungkin karena kyuhyun yang melatihnya dengan sanagt teliti.
Tak lama, lampu layar dibelakangku menyala. Membuatku membalikkan tubuhku menghadapnya. Terpampang wajahnya disana. Tengah menduduki kursi yang aku ketahui tempatnya. Studio JinHo, tempat yang sering kukunjungi denganya untuk berlatih menari.
“annyeonghaseo hangeng oppa. Cho Jehee ibnida.” Dia membungkukkan badannya kearahku. “hanya mengingatkan namaku padamu. Karena mungkin kau melupakannya. Walaupun aku tahu. Kau pasti tidak akan mungkin melupakanku. Gadis konyol yang selalu membuat ulah di dorm. Hahaha.”
“apa kau tahu sekarang tanggal berapa? Pastinya kau akan mengingatnya. 9 February 2012. Hari ulang tahunmu oppa. Aku tahu, tanpa aku yang mengingatkan, pasti akan ada banyak fans yang sudah menyerbumu. Jadi, intinya, ini bukan termasuk sebuah kejutan, mungkin.”
“hm.. aku kembali membuat ulah untuk mempersiapkan ini semua. Yaa walaupun tidak senekat tahun tahun sebelumnya. Aku hanya memaksa jino untuk mengosongkan jadwalnya, demi membantuku membuat video dan merekam suaraku di studionya. Menyeret kyuhyun oppa yang kelelahan setiap harinya untuk mengajariku menyanyi. Hahaha, terdengar memaksakan bukan? Yaah setidaknya, suaraku tadi cukup baik. Tidak terlalu memalukan. Dan memaksa ryeowook oppa untuk membantuku kembali membuat kue ulang tahun.”
“kita langsung ke intinya saja oppa. Waktuku tidak banyak. Aku mempunyai janji dengan siwon oppa setelah ini.” dia memungut barang yang tidak tertangkap kamera. “tara! Saeng il chukkae hangeng oppa! Saranghaeyeo!!”
Dia menyodorkan kue ulang tahunnya dihadapan kamera yang menyorotnya. “kau boleh mengucapkan harapanmu. Aku akan menunggumu sebentar, kemudian meniuapkan kue ulang tahun ini atas namamu.”
Aku terdiam. Terdiam dalam uraian air mataku yang terus mengalir. Ini adalah ritual yang tak pernah terlewatkan olehku dengannya setiap tahunnya. Dia selalu membuatkanku kue ulang tahun yang sama, dengan merepotkan ryeowook. Kemudian dia akan meniupkan kue ulang tahunku, sebagai bentuk rasa persaudaraan kami setelah aku mengucapkan harapanku. Harapanku hanya satu. Bertemu dengannya di hari special ini. walaupun itu kurasa akan sangat mustahil.
“sudah selesai, hm? Ppaliwa. Aku sudah pegal membawanya hangeng oppa.” Aku menolehkan pandanganku kea rah suara yang terdengar mendekat. Membuatku terhenyak kaget. Diaa Cho Jehee. Datang menemuiku dengan kue ulang ditangannya dan lilin yang menyala diatasnya.
Lampu seketika menyala. Menunjukkan lebih jelas wajahnya. “saeng il chukka hamnida, saeng il chukka hamnida. Sarang hangun hangeng oppa.. saeng il chukka hamnida.” Dia meniupkan lilin dihadapnnya. Kemudian meletakkannya ke tanagn kyuhyun yang berdiri dismpinya. Berlalri mengahampiriku, dan memelukku. “saeng il chukka oppa! Bogoshipta!”
Air mataku tak bisa berhenti jatuh. Sungguh, ini adalah tahun yang sangat membuatku merasa sangat istimewa. “gomawoyeo1 nado bogoshipta.” Dia melepaskan pelukknnya. Membiarkanku melihat sosok dibelakangnya.
“hyung! Chukka!” siwon memelukku singkat. Tersenyum simpul. Tak lama, suara riuh peonton terdengar kembali. “dia adalah Cho Jehee. Adik yang sangat kusayangi.”
Siwon terlihat melirikkan sesuatu. Terlihat kyuhyun yang tengah terdiam dengan seorang yeoja disampingnya. “nugundae?” gumamku pada jehee. Dia hanya tersenyum jahil padaku. “nanti akan aku ceritakan di backstage, oppa.”
“gomawoyeo, sinjja gomawo. Sungguh ini adalah kejutan yang paling aku sukai dari semua kejutan konyol yang perrnah diabuat Jehee untukku,gomawo.” Aku mencak acak ringan rambutnya. Dan dia menanggapinya dengan dengusan kesal singkat.
Pembawa acara hanya menepuk tepukkan tangan nya kagum. “sungguh ini adalah acara yang mengharukan!” bisiknya padaku.
END
gak mau banyak ngomong deh, aku nunggu komennya aja. saeng il chukkae hangeng oppa. i miss you! :*
annyeong! ini ff special ulang tahun kyuhyun. berhubung karena dadakan *plak aku jadinya bikinya dimasukin kedalam ceritaku sama donghae ._. mianhae kalo kalo sedikit maksa. dan ini ff bakal ada lanjutannya lagi, pastinya ._.
hm.. buat kyuhyun oppa, aku mau ngucapin "saeng il chukka hamnida oppa!! saranghaeyeo"
udah deh, cukup sekian. wakaks. oiya, yang tulisan merah itu flash back yaa. selamat membacaa!!
Jehee PoV
“ANDWE!” tukasku tajam. Kyuhyun oppa segera menahan lenganku untuk menahan tubuhku yang ingin bangkit dari dudukku. Sekarang aku terjebak. Yeah, dalam sebuah perjodohan konyol seperti ini. kim sooki. Namja itu hadir krmbali dihadapanku. Dan dengan mudahnya orang tuanya menginginkannya diperjodohkan denganku.
“Neo!” aku mengangkat telunjukku tepat dihadapannya. “Michiseo!”
Kali ini kyuhyun oppa sudah tidak bisa lagi menahanku. Aku berlari meninggalkan ruang tamu dengan perasaan yang sangat marah. Ini bisa dikatakan sebagai penghinaan bagiku.
Pagi tadi, aku sama sekali tidak mengerti. Ahjuma membangunkanku lebih awal. Menyuruhku bersiap, mengenakan gaun salem selutut. Rambut ikalku digerai kesamping. Ahjuma juga menyuruhku menggunakan sedikit make up.
Hingga tiba saatnya aku datang keruang pertemuan keluarga. Kyuhyun oppa sudah duduk terlebih dahulu. Matanya menatap tajam sosok dihadapannya. Ah ra Onnie duduk dengan sedikit gugup di samping ahjuma. Dia juga terlihat sangat rapih saat ini. gaun ungu mudanya yang sedikit diatas lutut dengan sedikit hiasan bunga di bahunya.
Aku memilih untuk duduk disamping Kyuhyun oppa. Entah kenapa aku akan merasa tebih aman berada di sampingnya. Dengan sedikit penasaran dengan kondisi menegangkan yang dibuat oleh kedua kakakku.
Entah bagaimana aku mengungkapkannya, hatiku sungguh sangat marah diliputi rasa sakit. Tubuhnya dengan tegap duduk dihadapanku. Raut wajahnya memberikan sebuah keramahan. Seolah kejadian tiga tahun lalu tidak pernah terjadi.
20 oktober, hari yang paling sempurna dalam setiap tahunnya. Anniversary day Aku dan Sooki. Dia temanku sewaktu di SMA. Karena kelas kami berseblahan, membuat hubungan kami semakin dekat, hingga akhirnya kami mempunyai hubungan yang melibihi sebatas teman. Tahun ini, hari jadi kami yang ke 3. Dan yang aku tahu, sooki sangat menyukai semua hal yang berhubungan dengan angka 3, semakin membuat hari ini menjadi semakin special. Aku tentunya sudah menyiapkan hadiah untuknya. Karena hal ini yang sering kami lakukan.
“ jagiya, jam 4 di taman bunga. Oke?” dia mengacak acak rambutku sambil tersenyum senang. “happy anniversary. I love you.” Bisiknya di telingaku sebelum dia meninggalkanku.
“ne, Jagi! Annyeong!” ujarku dengan sedikit berteriak padanya yang mulai berjalan pergi. Aku dengannya berbeda universitas. Aku di KyungHee university jurusan post modern music dan dia di Seoul National University jurusan desain interior.
***
18:00 pm.
@Taman Bunga
Aku mengayunkan kakiku ringan. Mataku terus menatap pintu masuk taman. Sudah hampir 2 jam aku menunggunya disini. Matahari mulai berganti dengan bulan. Para pengunjung sudah banyak yang meninggalkan tempat ini. ditambah dengan buruknya cuaca. Awan terlihat mendung, dan angin kencang yang membuat udara dingin. Membuatku merapatkan gardigan tipis yang aku kenakan.
Sama sekali belum ada tanda dia datang. berkali kali aku melihat ke hpku. Tidak ada satu pesan ataupun telfon darinya. Karenanya, aku yakin. Dia pasti akan datang. ya, sooki pasti datang. pasti.
Hujan turun beberapa waktu kemudian. Membasahi pakaian yang kukenakan. Sebisa mungkin aku menyelamatkan kado yang kubawa untuknya agar tidak rusak.
Orang orang berlarian meninggalkan tempat ini, dan mencari tempat untuk berteduh. Hanya aku, mungkin yang masih duduk di tempat semula. Karena aku tidak ingin sooki kebingungan mencariku.
Dua puluh menit, setelah hujan berlangsung. Ketika aku menundukkan kepalaku, sepasang kaki yang aku kenal datang. dengan cepat aku mengangkat kepalaku.
“jagi, akhirnya kau datang juga. aku yakin kau pasti akan datang.” ujarku dengan penuh kelegaan saat melihatnya datang.
Tak lama, seperti ada yang menyenggol tangannya dari samping, sooki mulai angkat bicara.
“jehee-a.. na..” mataku membulat. Mendengarnya tidak memanggilku dengan sebutan jagi lagi.
“eng.. eum.. sepertinya” ujarnya ragu. “kita harus mengakhiri semuanya. Cukup sampai disini saja hubungan kita.”
Mataku mulai memerah. Jantungku seakan terlepas dari tubuhku. Aku tolehkan arah pandanganku kea rah sampingnya. Ya, dia ternyata tidak sendiri. Dia didampingi dengan seorang yeoja cantik yang tidak kukenal.
“jehee-a. chonmal mia..”
“oppa! Bajuku sudah hampir basah, karena payung yang kita gunakan hanya satu. Sudah selesai,kan? Kajja.”
Yeoja itu dengan tidak pedulinya meninggalkanku. Dengan cepat, sooki menggikuti yeoja tersebut, kemudian kembali memayunginya, agar tidak kebasahan.
Ck, mengucap kata maaf saja tidak sempat. Namja macam apa dia? Ah, ani. Aku sepertinya yang terlalu bodoh. Terlalu percaya semua padanya. Sampai sampai aku tidak tahu ahwa dia sudah mempunyai yeoja lain, dan sudah tidak mencintaiku.
Tapi.. mengingat ucapannya tadi pagi? Akh! Jehee-a, sadar. Semua orang dapat mengucapkannya. Itu bukan hal yang special. Ara? Tangisku dalam hati.
Langkahku berlari meninggalkan taman. Kado yang aku bawa, ku biarkan basah begitu saja. Air mataku seolah mengiringi turunya hujan yang tak kunjung henti. Cuaca hari ini begitu bersahabat denganku. Mempunyai perasaan yang sama denganku.
Wae? Waeguraeyeo? Kenapa ini harus terjadi di hari ini? satu hari dari 365 hari yang kunanti
Kim sooki. Tidak ada lagi nama namja itu sekarang di otakku.
Cho ahjuma dan ahjussi pun kemudian memperkenalkanku pada dua orang paruh baya yang mengapit SooKi. Bisa dipastikan mereka adalah kedua orang tua Sooki.
Hingga akhirnya pembicaraan ini berujung pada inti persoalan. Mereka menjodohkanku dengan Sooki. Dengan alasan memper erat persaudaraan bisnis appaku dan ayah SooKi. Sungguh, saat itu juga ingin rasanya aku mengamuk pada appa. Tapi sayangnya appa tidak berada disini. Sifat appa memang tidak pernah berubah. Sepertinya itu adalah alasan mengapa eomma menggugat cerai appa. Tidak pernah mempunyai hati nurani ataupun kemanusiaan saat berhadapan dengan bisnis.
Aku mempercepat langkahku menuju kamar. Sebelum ada yang menarikku untuk kembali kehadapan namja itu. Aku menangis bukan karenanya. Tapi karena diriku senidiri. Mengapa aku terlalu bodoh hingga selalu ada dalam permainannya? Dan mengapa selalu aku yang harus menjadi bahan permainannya?
tubuhku terbentur ringan pada sebuah lengan yang kemudian menahanku. Bisa dikatakan sedikit mencekram, membuatku menegang. Berharap bahwa dia bukanlah Kim Sooki yang membuatku kabur dari ruang pertemuan keluarga.
“Jehee-a, wae?”
Aku menganggkat kepalaku. Sedikit tenang setelah mendengar suara itu. Mencium aroma tubuhnya yang aku yakin adalah dia. Sosok yang sangat aku butuhkan saat ini.
“oppa, tolong bawa aku menjauh dari rumah. Kemanapun, aku mau. Untuk penjelasannya nanti akan aku jelaskan diperjalanan.”
***
Donghae PoV
Leeteuk hyung sudah mengganggu jadwal tidurku pagi ini. membuatku mengumpat setengah mati padanya. Kemarin aku baru menyelesaikan jadwal pemotretanku yang menumpuk, serta melunasi jadwal panggung yang padat bersama super junior. Kami semua sama sama lelah. Tapi mengapa harus aku yang dipilih? Sedangkan aku adalah yang paling lelah diantara yang lain.
“kyuhyun-a. awas saja kau!” dengusku sambil melajukan mobilku dengan kecepatan diatas rata rata. Leeteuk hyung menyuruhku membawa kyuhyun kembali ke dorm. Handphonenya tidak diangkat, sedangkan managernya kelimpungan dengan jadwal yang sepertinya dihiraukan.
Diantara member super junior tidak ada yang berani melangkah masuk kerumah kyuhyun jika kyuhyun tidak mengangkat teleponnya. Karena kami semua terauma akan pengusiran beberapa waktu lalu saat dia sedang membuat sebuah kejutan di hari ulang tahun eommanya yang kemudian berantakan karena kehadiran kami. Semua amukannya yang mengerikan masih terngiang jelas di ingatan kami.
***
Aku mengernyitkan keningku. Pintu rumah terbuka, dan Nampak sebuah mobil yang tak ku kenal parkir di dalam rumah kyuhyun. Sepertinya ada tamu khusus. Terlihat dari mobil yang terparkir disana. Bukan sembarang orang untuk memiliki sebuah mobil trend baru yang hanya ada 5 mobil seperti itu di dunia.
Aku menyelinap masuk dari pintu belakang. Karena pintu itu terlihat terbuka lebar. Entah apa yang mendorongku untuk segera masuk. Seolah sebuah keharusan yang sangat untuk bergegas masuk tanpa berpikir dua kali untuknya.
Sedikit menyipitkan mataku. Melihat, dan memastikan bahwa aku mataku tidak salah melihat. Balutan dress salem selututnya, rambut ikalnya yang digerai kesamping. Make up ringan alami yang dikenakannya. Membuat langkahku terhenti. Memperhatikanya dengan jelas dari tempatku berdiri.
Dia terlihat tergesa gesa keluar dari ruang pertemuan keluarga cho. Make upnya ternoda dengan tetesan air mata yang terus jatuh kepipi mungilnya. Membuatku sedikit kecewa. Kecewa dengan hal yang membuatnya menangis. Tidak seharusnya Cho Jehee. Yeoja yang manis, yang selalu memperlihatkan senyumnya disetiap harinya. Ternodai dengan tetesan air matanya.
Tanpa berpikir panjang, aku menghapirinya. Ini bisa dikatakan sebuah tabrakan kecil. Karena di luar dugaanku, dia berjalan lebih cepat dari awal. Dengan cepat aku menahan lengannya yang goyah dan energinya yang seakan rapuh, hanya dengan sedikit benturan ringan dariku.
“jehee-a, wae?” ujarku kemudian sambil memopohnya untuk tegak. Keapanya terangkat. Menatapku dengan penuh harapan dan tak berdaya.
“oppa, tolong bawa aku menjauh dari rumah. Kemanapun, aku mau. Untuk penjelasannya nanti akan aku jelaskan diperjalanan.”
***
Sorotan mataku sesekali mengarah padanya sembari mengemudikan mobil. Entah kemana aku harus membawanya pergi. Tidak sanggup rasanya menganggu kondisinya yang kurang memungkinkan untuk diaja bicara sekarang.
“oppa..” ujarnya kemudian dengan suara sedikit serak. Membuatku sedikit lega dengan reaksinya.
“wae?” aku memarkirkan mobilku ketepi jalan, kemudian menatapnya dengan penuh perhatian. Siap untuk mendengarkan ceritanya bahkan isak tangisnya, kalu itu yang membuatnya nyaman.
“apa ada hal yang lebih menyakitkan dari sebuah peristiwa berpisahnya pasangan di hari anniversarynya, kemudian salah satu dari pasangan mereka kembali dengan sebuah paksaan padahal dia yang menghancurkannya yang bisa dibilang itu adalah sebuah penghinaan terhadap pasangannya?” ujarnay dengan diiringi isakan tangis.
Aku membalikkan tubuhku menghadapnya yang terus menatap kosong pemandangan didepannya dengan mata yang sembab karena tetesan air matanya yang tak kunjung henti. Menggenggam ringan tangannya yang terkulai lemas di sampingnya.
“tentu saja. Banyak hal yang jauh menyakitkan dari hal itu. Sama halnya saat appaku pergi meninggalkan keluargaku untuk selamanya. Aku selalu bertanya tanya. Apa ada hal yang lebih menyakitkan daripada yang kualami? Karena aku tidak ingin menjadi orang yang paling menderita di dunia ini.”
Tatapan matanya tertoleh padaku, kemudian aku menyambutnya dengan senyuman simpul. “tapi aku kemudian mengubah pola pikirku menghadapi ini semua. Teringat pada kata kata appaku sewaktu aku gagal dalam audsi pertamaku. ‘selalu ada sebuah kejutan indah setelah kita melewati penderitaan dengan penuh kekuatan dan kesabaran’ jadi jangan pernah berfikir kau adalah orang yang paling menderita. Kau seharusnya berfikir kau adalah orang yang beruntung. Karena mungkin sebentar lagi akan ada sebuah kejutan indah untukmu.”
Dia masih terdiam. Menatapku dengan lemah. Tak lama dia menarik tangannya dari genggamanku, dan menganggkatnya ke pelupuk matanya. Menghapus semua air mata yang membasahi pipinya. “gomawo oppa. Kau selalu bisa membuatku lebih baik. Sinjja gomawoyeo!” dia dengan spontan memelukku. Membuatku sedikit terhenyak diabuatnya. Sungguh degupan jantungku tidak bisa diminimalisirkan.
***
Kim Sooki PoV
Bukan hal yang sulit ternyata untuk menaklukan MC cooperation agar jatuh ditangannku. Sedikit menyesal kenapa aku tidak memanfaatkannya dari dulu. Cho Jehee, yeoja polos dan bodoh yang sangat mudah untuk di bohongi.
Tapi, aku sedikit tidak mengira dengan sikapnya tadi saat appa dan eomma menyebutkan kata pejodohan. Sepertinya bukanlah hal yang mudah untuk membuatnya kembali tergila gila padaku.
Tadi saat langkah kakiku ingin mengejar arah perginya Jehee terhenti. Saat melihat sosok namja yang sepertinya bisa menganggu rencanaku. Lee Donghae. Aku mengenalnya. Jelas karena dia salah satu member dari Super Junior yang sangat terkenal di seluruh penjuru Korea.
Aku tidak terlalu terkejut melihatnya berada di rumah Jehee. Kyuhyun adalah rekannya dan aku tahu, Jehee sangat mengidolakannya. Bukan hal yang tidak mungkin kalau Jehee menyukainya.
***
Aku membungkukkan tubuhku memberikan hormat pada Cho MinChul. Pemilik perusahaan incaranku, sekaligus calon mertuaku. Sore ini aku khusus menemuinya secara pribadi. Berhubungan dengan perjodohanku dengan Jehee.
“sungguh saya sangat membutuhkan restu dari anda.” Ujarku sesopan mungkin.
Dia tertawa kecil kemudian tersenyum. “tentu saja aku akan merestuimu. Meskipun Jehee menolak sekeras apapun, saya bisa pastikan dia akan tetap menikah denganmu.”
Senyuman puas terpancar dariku. Bukan senang untuk dapat menikah dengan Jehee. Tapi untuk rencanaku yang berjalan lancar. “lalu, bagaimana dengan kuliah Jehee?”
“hmm.. itu hal yang mudah untuk diurus. Lagipula, jehee tinggal dua semester lagi.” Dia meneguk secangkir kopi hangat dihadapannya sebelum berkata. “sebutkan saja nama orang yang bisa menghalangimu untuk bersama dengan jehee.”
Senyumanku kembali terulas. “lee Donghae. Member Super Junior.”
***
Kyuhyun PoV
Aku menggertakkan gigiku kesal sembari melembar bantal kearah tembok kamarku. Apa lagi yang akan dilakukannya? Sudah cukup dia membuat adikku tersiksa selama bertahun tahun lamanya hanya untuk melupakannya.
“kim sooki” tukasku tajam. “lihat saja nanti. Kau harus membayar semua rasa sakit yang dirasakan adikku.”
Drrtt.. drrt..
“kyuhyun-a, cepat ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi pada Jehee huh?”
“yak, hyung! Tau apa kau tentang masalahnya?”
“dia menangis tadi pagi dihadapanku. Saat aku datang kerumahmu dan masuk lewat pintu belakang.”
“hyung! Sejak kapan kau menjadi pengendap dirumahku, huh?”
“ani. Ani. Mianhae kyu-a. tapi tadi aku sangat terburu buru. Cepat ceritakan!”
“chakkaman. Berarti, jehee ada bersamamu sekarang?”
“aniya. Dia sudah kuantar pulang tadi. Apa dia belum menemuimu?”
“mwo? Hyung antar sampai mana?”
“depan pintu. Wae?”
“dia belum terlihat dari tadi. Seisi rumah panik dibuatnya.”
“MWO? Sinjja? Aish.. anak itu. Baiklah, kau ceritakan lain kali saja. Aku ingin mencarinya.”
***
Jehee PoV
Aku melihatnya sampai mobilnya hilang di salah satu tikungan. Kemudian melangkah pergi kearah lain. Entah kemana, aku tidak tahu. Tidak ada minat sama sekali untuk menginjakkan kakiku kerumah dalam waktu dekat.
Ha gun sedang sibuk dengan gamenya. Membuatnya sama sekali dengan enggan menjawab teleponku dan mengatakan sedang tidak ingin diganggu. Sang kyung, teman satu kuliahku yang cukup dekat juga sedang sibuk. Cih, mengapa semua orang terlalu sibuk saat ini? saat aku sangat membutuhkan perhatian.
Donghae oppa memang sudah membuatku lebih tenang sekarang, sangat. Tanpa dia berkata apapun sudah membuatku merasa lebih baik. Tatapan mata teduhnya dan senyuman khas yang sangat membuatku seperti terlepas dari semua beban. Tapi sayangnya sekarang tidak seperti itu. Perasaanku membaik, tapi tidak sebaik seperti sediakalanya.
Stidaknya, hari ulang tahun kyuhyun oppa akan membantu, besok. Aku mengerjap. Mengingat akan hari penting esok. Berjalan sambil memikirkan semua rencana yang akan mengejutkannya.
Aku seketika mengangkat kepalaku saat ada seseorang yang menepuk ringan bahuku darii belakang. Sambil berharap dia bukanlah salah satu dari orang rumah yang ditugaskan untuk mencariku.
“Jehee-a, kau mau pergi kemana?”
Aku membalikkan tubuhku menghadap suara itu berasal. Mendesah lega mengetahui bahwa dia bukan utusan orang rumah untukku.
“yak, aku kasihan melihatmu berjalan sendiri. Tadi aku berniat membeli ramyeon karena kelaparan seharian bermain game. Ikut aku saja.”
***
“Ha Gun-a!! ireona!” suaraku sudah mulai meninggikan suaraku. Sudah hampir 15 menit aku meneriakinya untuk bangun. “yak! Aku tidak menyangka akan mempunyai kakak ipar yang tidurnya seperti babi ini!”
Tanganku meraih jam weker kecil dari sudut meja kecil disamping kasur. Membunyikannay dengan volume maksimal dan menempatkannya tepat disamping telinganya.
“YAK! CHO JEHEE!!! KAU MAU MENCARI MATI HUH?”
Aku tertawa kecil. Berusaha mengalihkan rasa merindingku mendengar amukannya. Sungguh ini bahkan lebih menakutkan dibandingkan aku harus menemui 50 kucing sekalipun.
Dengan mengumpulkan keberanianku, aku menyeretnya turun dari kasur dan membawanya dengan paksa ke depan pintu kamar mandi.
Tangannya melipat didepan tubuhnya. Menatapku garang. Membuatku sedikit bergidik. “apa maksudmu membangunkanku sepagi ini? tahu seperti ini aku tidak akan membawamu kabur kerumahku.”
Dengan cepat aku menjitak kepalanya. Yang terjadi malah matanya semakin menatap garang padaku. Membuatku sedikit mendengus. “tidak pernah melihat tanggal? Sekalipun diponselmu?”
Dia menggeleng pelan. Membuatku berdecak. “sangat gawat, jika aku menyerahkan kyuhyun oppa padamu nantinya.”
“yak, wae? Jangan sangkut pautkan kyuhyun pagi pagi seperti ini. cepat jelaskan, atau aku akan kembali tidur tanpa mau tahu alasanmu.”
“kau tahu tanggal ulang tahun kyuhyun oppa?”
Dahinya mengernyit. Arah matanya melirik kearah kalender yang bergantung disalah satu sudut dinding apartemennya. “hari apa ini?” tanyanya singkat. “jum’at.”
Dengan cepat dia menyambar handuk didekatnya kemudian memasuki kamrmandi. Membiarkanku yangterbengong melihat tingkahnya. “sungguh gila jika dia tidak merubah sikapya saat menjadi kakak iparku!”
***
Donghae PoV
Sudut bibitku menyimpul sebuah senyuman. Mataku terus terarah menatap jalan dihadapanku. Begumam pelan. “dia selalu saja bisa mencari sisi menarik. Walaupun disaat genting yang menentukan masa depannya.”
Kemarin, saat aku memergokiya berada di halte bus bersama ha gun, dia menceritakan semua rencananya. Hari ini ulang tahun kyuhyun. Dan dia sudah menyiapkan rencananya. Setidaknya aku bisa melihatnya tersenyum hari ini. mengingat kejadian kemari yang sangat membuatku khawatir.
Pagi ini, dia menyuruhku untuk datang ke apartement ha gun. Hanya mengikuti perintahnya saja, katanya. Sepertinya sebuah recana yang menarik.
Semalam, semua member super junior sudah memberikan selamat ulang tahun, bertubi tubi. Tepat pukul 12 malam. Walaupun hanya lewat telefon. Karena dia bilang, tidak menginginkan kembali ke dorm bebrapa waktu ini.
Aku juga sudah mengecek akun twitternya. Semua fans menyerbunya. Berharap menjadi yang pertama untuk memberikan selamat ulang tahun padanya.
Tanganku mengetuk ringan pintu apartement Ha Gun. Tak lama pintunya pun terbuka. “mianhae oppa, mungkin kau harus menunggu sekitar 15 menit.” Dia menyeringai kecil kemudian menpersilahkan masuk dan menyuruhku untuk duduk disalah satu sofa ruang tamu.
“Ha gun masih bersiap. Dia tidur seperti babi. Sulit sekali untuk dibangunkan.” Dumelnya sembari melangkah kearah dapur, menyiapkan minum untukku.
Aku tersenyum kecil. “dia akan menjadi kakak iparmu juga, kan?”
“tentu. Tapi aku tidak akan menyerahkan kyuhyun oppa kepadanya begitu saja. Dia harus melewati tes dariku dulu.”
“lalu? Apa aku juga harus melewati tes kyuhyun oppa mu nanti?”
“ne?”
***
Han Ha Gun PoV
Bodoh. Sungguh bodoh. Tidak selayaknya aku berlaku bodoh seperti ini. sungguh memalukan untuk seorang namja chingu yang menghiraukan hari ulang tahun namjanya. Aku sudah sekeras mungkin mengingatnya. Dan aku ingat tanggalnya. 3 february. Tapi aku selalu tidak mengingat tanggal berapa sekarang.
Langkahku berjalan gontai tak jauh dari kedua orang yang terlihat seperti pasangan tapi nyatanya tidak –mereka benar benar terlihat seperti pasangan- . yang membuatku bosan adalah Jehee menyeretku ketoko kado yang biasa menjual barang pasangan. Itu benar bukan gayaku.
Aku benar benar sangat ingin memuntahkan semua isi perutku sekarang. Melihat benda dengan warna yang menurutku terlalu norak. Juka kata kata yang sangat membuat ku muak. Kata kata cinta yang menurut orang sangat manis dan membuat orang berbunga bunga.
“yak, Jehee-a. apa tidak ada toko yang lebih bagus dari ini?” protesku saat kami sudah mengitari toko yang ke enam.
“ini sangat lucu Gun-a. kau tidak lihat? Sangat cocok untuk seorang pasangan.”
Aku menatap tak minat benda yang berada di tangan Jehee. “menjijikan!” aku melangkah pergi dari toko. Memutuskan untuk mencari sendiri kado untuk kyuhyun. Dan membiarkan mereka yang saling menatap heran diriku.
Aku berhenti disebuah toko counter E.L.F entah kenapa aku sangat ingin mengunjunginya. Ada barang yang melintas begitu saja di benakku. Dan sepertinya aku harus membelinya. Sebagai kado pengiring kado special yang sudah aku siapkan.
***
“apa kau yakin, villa appa mu aman? Dari jangkauan SooKi sekalipun?” tanyaku yang merasa sedikit khawatir dengan ide yang diberikannya.
Dia menolehkan kepalanya kearah jok belakang, tempat aku berada. “tidak mungkin mereka akan kesana. Appa pernah mengatakan padaku, dia lebih menyukai Villanya di Busan.”
“lalu? Apa itu akan menutup kemungkinan untuk dia tidak datang, hm?”
“tutup mulutmu, ikuti saja rencanaku.” Tukasnya. Membuatku sedikit mengumpat kecil.
“chakkam, Jehee-a. kenapa aku mengajak Dong hae oppa juga?” selidikku. Dia terdiam untuk beberapa saat.
“wae? Aku sangat mengidolakannya. Apa kau masih belum paham?”
“cih, menjijikan”
“kau tidak mengidolakan kyuhyun mu?” donghae akhirnya angkat bicara. Membuat tawa Jehee meledak.
“asal kau tahu oppa. Mereka kalau disatukan seperti tikus dan kucing, tapi kalau di jauhkan akan seperti orang sakit jiwa.”
“yak! Cho Jehee! Tutup mulut mu kalau ingin hidup lebih lama.”
***
Kyuhyun PoV
Aku tidak berniat sedikit pun memperdulikan ucapan bertubi dari fans. Para member pun hanya ku tanggapi biasa. Tidak perduli dengan hari ulang tahunku sekalipun. Jehee tidak pulang semalam. Dong hae hyung mengatakan tidak menemukannya dan dia dengan begitu saja menyerah. Eomma juga sudah menghubungi beberapa kerabat dekatnya, tapi hasilnya tetap nihil.
Seharusnya, hari ini akan menjadi moment terindah dari 365 hari dalam setahun. Biasanya, Jehee yang akan menjadi orang pertama member selamat kepdaku. Entah bagaimana caranya. Seperti tahun lalu. Dia menungguiku sambil terkantuk kantuk di depan pintu dorm. Saat itu sudah hampir pukul satu pagi. Dan dia menungguku yang baru pulang show saat itu. Dia memelukku kemudian mengucapkan dengan suara berbisik padaku.
Tidak usah memikirkan jauh tentang Jehee. Dia sedang dalam masalah. Tidak sepantasnya aku menyalahkannya karena tidak menjadi orang yang pertama. Han Ha gun, yeoja chinguku sendiri. Tidak ada tanda sedikitpun untuk sekedar memberikan ucapan untukku.
Drrt.. Drrt..
Aku menarik malas ponsel disampingku. Nomor tak dikenal. Sedikit mengeluarkan desahan kecil, kemudian memutuskan untuk mengangkatnya.
“yeob..”
“OPPA!! Jebalyeo.. tolong aku. Aku berada di villa appa di jeju sekarang. Aku.. aku..” belum sempat suara yang kukenal melanjutkan ucapannya, seperti terjadi sesuatu disana. Terdengar jeritan, dan tak lama sambungannya terputus.
Dengan cepat aku menyambar jaket dan kunci mobilku. Melirik jam dinding di kaarku. Pukul 4 sore. Tidak terlalu terlambat untuk samai disana terlalu larut.
***
Aku memarkirkan mobilku sedikit menjauh dari tempat yang kutuju. Agar tidak telalu terlihat oleh orang suruhan appa jehee yang kemungkinan ada. Dan aku memutuskan untuk berjalan kaki.
Tak lama, aku sampai di pintu gerbang villa yang di maksud jehee. Aku pernah dua kali kesini debelumnya. Saat liburan musim panas dan tahun baru. Mudah saja bagiku mengingatnya.
Gelap, dan sunyi. Mungkin ini sengaja untuk mengecohku menganggpa mereka tidak lagi disini. Pintu gerbang terbuka. Mudah untukku memasukinya.
Tiba sampai aku dihalaman depan. Lampu taman mati. Keadaan disini sungguh gelam. Sangat sulit untuk mencari jalan yang benar menuju pintu utama.
DARR!!
Seperti suara petasan terdengar dari kejauahan. Hanya tiga kali terdengar. Kemudiam keadaan menjadi sunyi kembali. Tak lama, suara itu kembali terdengar. Kali ini dua kali. Kemudian keaadan menjadi sunyi kembali. Aku sedikit berjaga di buatnya.
“THAT’S 3TH FEBRUARY!!!”triakan suara yang taka sing terdengar. Lampu taman kemudian menyala. Membuatku sedikit terkejut di buatnya.
Dong hae hyung, Ha Gun, dan Jehee. Mereka muncul dari balik dinding villa. Dengan cepat aku melangkah menuju Jehee. Melepas rasa khawatirku sekaigus kemarahanku karena ulahnya.
“yak, Cho Jehee! Kau sudah hampir membuatku gila, ara?” tanganku mencengkram salah satu lengannya.
“mianhae oppa. Na gwenchana. Saeng il chukkae!” dia mencium pipiku kemudian melepas cengkramanku perlahan. Memundiurkan langkahnya sedikit. Melirik sosok disampingnya. Seperti menyuruhku untuk melihatnya.
Ha Gun terpantung diam di hadapanku. Dengan kue ulang tahun ditangannya disertai lilin yang menyala. “yak, hannie-a. kenapa kau mau bersekongkol dengan adik nakalku ini, huh?” jehee terlihat mendengus mendengar ucapanku. Ha gun hanya mengernyit.
“memangnya kenapa?”
“apa kau tidak mempunyai kejutan special untukku, hm?”
“cih, masih untung aku mau ikut berpartisipasi dengan acara ini, walaupun sesungguhnya kau enggan.”
Aku tertawa ringan. Menepukkan kedua tanganku dihadapan kue yang dibawanya. Mengucapkan dalam hati semua harapan hidupku ditahun ini. kemudian meniup lilinnya.
Tangannku menyingkirkan kue yang menghalangi jarakku dengan ha gun. Memberikannya pada dong hae hyung yang terlihat bingung ingin melakukan apa. Mnarik ha gun dalam pelukkanku.
“apa kau tidak ingin mengucapkan selamat ulang tahun untukku?” ujarku sambil menahan rasa harapku. Menunggu kalimat pertama yang akan kudengar darinya.
“saeng il chukka Yu-a” gumamnya sambil membalas pelukkanku.
“gomawo, hannie-a”
TBC
._.v kalau maksa sekali lagi tolong maklumin yaaa. hehe. buat fadilla, utang ff special ultah kyuhyun udah aku lunasin yaa. haha. *tenangajagakbakaladayangkenallo* trus trus, tadinya aku mau ngedit foto kamu sama kyuhyun, tapi gak sempet .-. mian yaa. okeh ditunggu komennya yaa.
-foto yang berhasil gue edit, tapi jadinya biasa aja gara gara gak sempet-