Selasa, 04 Desember 2012

I Choose to Love You


Judul                    : “I Choose to Love You”
Main Cast   : Sung HyunSun, Byun BaekHyun, Lee HyukJae (Eunhyuk), D.O (EXO K) , Cho Kyuhyun, Cho Jehee, Kai (EXO K)
Genre          : Romace? Gatau deh, menurut reader aja deh-_-v
Rating         : Semua Umur!! Dijamin, gak ada yadong – yadongnya.-.
Soundtrack/Songlist :
*note : disini, anggota SuJunya terkecuali EunHyuk. Anggep aja EunHyuk seumuran sama Kai, BaekHyun yang masih SMA (kemudaan si EunHyuknya yah?-_-) . Terus D.O itu penyanyi solo yang di idolain abis – abisan sama HyunSun. Kyuhyun itu kakaknya Jehee. Sepupunya HyunSun. 


Terkadang, hujan itu terkesan indah.
Dengan bau tanah yang membuat hidung membau senang.
Dengan basahnya bumi seolah bersuci diri
Dan dengan air yang berjatuhan dengan irama yang kompak
Serta kehadiran sebuah payung yang sangat berarti
Menyisakan sebuah kenangan yang menjadi sebuah permulaan
Antara kau. Dan aku.

5 November 2012
13 : 20
Seoul, South Korea
Author PoV
Siang yang gelap. Dengan lagit yang memudar. Menjadi campuran warna kelabu – hitam dan butiran kecil air yang mulai berjatuhan. Membasahi seragam dan tasnya.
Matanya terus saja terpaku pada sosok yang tengah sibuk dengan seragam yang basah. Berkali – kali mengusap seragamnya dengan kasar dan terlihat kesal. Tali tasnya beberapa kali merusut jatuh dari pundaknya akibat tangan yang selalu bergerak. Dan kakinya yang menghentak kesal pada trotoar jalan.
Dia memakai seragam yang sama dengannya. Menggunakan jaket yang sama pula dengannya. Jaket baseball kelas. Yang kebetulan hari ini sepakat untuk mereka kenakan bersama satu kelas. Untuk membedakan diri saat pertandingan antar kelas yang baru saja berlangsung tadi pagi.
Seketika dirinya melangkah tanpa berfikir. Merasakan sebuah gerakan refleks yang mendorong tubuhnya tanpa kendali. Membuka payungnya kemudian mendekat kearah yeoja itu. Memberikannya tumpangan kecil dibawah payungnya.
Yeoja tersebut hanya menanggapi dengan senyuman singkatnya. Mengikuti langkahnya yang mulai melaju. Berjalan beriringan. Seolah dalam diam mereka saling tahu. Dan seolah dalam diam mereka saling mengerti. Kemana arah yang benar untuk sekedar berteduh. Bersama.
***
Lee HyukJae (Eunhyuk) PoV
Siang yang kelam. Cukup untuk menyisakan sebuah kenangan kecil. Yang menyenangkan dan mungkin akan sulit untuk aku hilangkan. Dari memori otakku yang mulai tersihir dengannya. Oleh semua gerak geriknya. Dan semua ekspresi yang dikeluarkannya.
Pertandingan hari ini yang diawali dengan pagi yang cerah. Dan diakhiri oleh siang yang menangis. Tapi beruntungnya hujan hari ini tidak seirama dengan hatiku. Hujan yang menangis deras, dan aku yang tersenyum puas.
Hari ini aku mendapatkan tim yang sama dengannya. Mendapat kesempatan untuk bekerja sama dengannya. Dalam perlombaan lari estafet. Tanganku yang tanpa sengaja mengenggam tangannya. Dan lenganku yang sudah berhasil menjadi penopangnya disaat dia merasa letih dan sulit berjalan.
Tangan ku julurkan pada sisi tempat ku berteduh yang tak beratap. Sedikit menjulurkan tubuhku dan mencoba untuk mendekat dengan air hujan yang sesekali terpecik kearahku. Dan pikiranku melayang jauh. Kembali pada memori barusan yang berhasil membuatku senang tak karuan. Dan semua hal yang bersangkutan dengannya.
Perkataan banyak orang memang benar. Seorang pria yang tengah jatuh hati terlihat seperti orang gila. Jauh dan bertolak belakang dengan sikap aslinya, terkadang. Seperti diriku yang tanpa kusadari mulai berubah.
Dulu, sebelum aku mengenalnya. Akan ada banyak wanita disekelilingku. Mereka yang selalu menjadi bahan lelucon atau sebagai pengisi waktu luangku sekedarnya. Dan aku akan memilih untuk menjadi namja yang banyak tingkah dan berulah. Walaupun aku masih bisa meraup rangking sepuluh besar ditangan.
Tapi setelah aku mulai mengenalnya dekat. Jauh lebih dekat dari sebelumnya. Sampai aku sulit memisahkan jarak dengannya. Sejauh apapun itu. Aku tidak ingin jarakku berkurang satu senti dengannya. Aku menjadi sangat jarang bergurau dengan banyak yeoja. Mempermainkan beberapa dari mereka yang terpikat dengan ketampananku seperti biasanya.
Sangat jarang sekali bagiku untuk sekedar membalas senyuman setiap yeoja yang menyapaku. Hanya sebuah tatapan datar tak beminatku yang menjadi jawaban. Dan aku, menjadi sosok yang lebih suka untuk terdiam kala waktu senggang. Mencuri kesempatan untuk sekedar menatapnya yang sedang bertingkah, bergerak, dan bahkan berkedip dan hembusan napas yang selalu aku perhatikan. Setiap detik, dan waktu. Memastikan bahwa dia baik – baik saja.
Author PoV
Matanya mengerjap bekali kali. Berusaha untuk bertahan terbuka selama mungkin. Walaupun beban matanya semakin terasa berat. Kecil kemungkinan untuknya bertahan sampai lima belas menit lagi. Kondisinya cukup parah. Dan sosok dihadapannya hanya terus berujar serius panjang dan lebar.
Pena ditangannya mulai tejatuh bangun. Dan kertas selembar untuk catatannya mulai terlipat dan lecek oleh tubuhnya yang menindih meja dan menjepit selembar kertas dihadapannya.
“Kau mendengarkanku?” Kyuhyun mulai menyadari kondisi sepupunya yang berada diambang pintu nyawa. Antara dunia mimpi dan nyata.
“eo?” dia menegakkan tubuhnya. Sedikit tersentak dengan pertanyaan Kyuhyun yang cukup terdengar menyeramkan. Nadanya yang penuh penekanan, dan matanya yang menatap intens dirinya. “Tentu saja”
Kyuhyun meletakkan penanya. Melipatkan kedua tangannya didepan dada. “Kalau begitu, ulangi”
“Apa?” alis tipisnya terangkat. Membuat kacamata yang bertengger di hidungnya bergerak keatas.
“Ulangi apa yang tadi sudah aku sampaikan, Sung-Hyun-Sun-ssi” ujar Kyuhyun dengan penuh penekanan pada namanya.
HyunSun menyeringai kecil. Menunjukkan ekspresinya yang berusaha menghindar dan mencairkan suasana. “Oppa, kau kan tahu aku.. kurang begitu pintar, jadi mana mungkin aku bisa mengulangi semua yang kau katakan panjang lebar dengan benar dan cepat. Aku sendiri.. masih belum terlalu paham.”
Kyuhyun menghela napasnya kasar. Mulai menatap marah sosok dihadapannya. “Belum mengerti katamu? Hah, aku tahu kau bodoh, tapi sebodoh – bodohnya kau, kalau kau tidak mengantuk, pasti akan mengerti setelah aku ajarkan hampir sepuluh kali lebih hanya untuk satu rumus matematika!”
HyunSun bergidik, menghadapi saudara sepupunya yang mulai meluapkan kekesalannya. Namja dihadapannya memang mudah sekali meluapkan amarahnya. Sikapnya yang dingin dan.. aura yang cukup menyeramkan. Akan membuatmu enggan untuk berdebat terlalu lama dengannya.
“Mianhae, Kyuhyun oppa.”
“Maaf? Kau meminta maaf padaku?” kyuhyun menegakkan tubuhnya kembali. “Apa yang sebenarnya kau lakukan semalaman suntuk kemarin? Matamu terlihat lingkaran hitam? Jangan katakan padaku kalau kau hanya membuang waktu mu untuk…”
“Oppa, kemarin adalah acara variety show yang hanya akan disiarkan satu kali oleh TV. Dan tidak akan diulang di Channel manapun. Jadi, mana mungkin aku melewatkan kehadiran D.O oppa yang malam itu hadir dalam Variety Show?”
Kyuhyun menatap pasrah yeoja yang duduk dihadapannya ini. “Apa kau membutuhkan D.O oppa mu itu untuk menemanimu belajar? Untuk membantumu membuka mata beratmu itu, huh?”
Wajah HyunSun berubah berseri. Matanya mengerjap penuh harap. Dan senyumnya terulas dibibirnya. “Kau.. benar ingin memanggilkannya untukku? Oppa, sinjja gomawo~yeo. Kenapa kau tidak menawarkannya dari kemarin? Aku yakin kau mengenalnya. Kalian kan satu managemant,eo?”
Kyuhyun tersenyum disudut bibirnya. “Tidak. Aku tidak akan memanggilkannya untukmu.”
Bibir Hyunsun mengercut. Tubuhnya kembali lemas dan rasa kantuknya kembali datang.
“Tapi aku akan usahakan menyuruhnya untuk membuat video singkat. Untuk menyemangatimu belajar, mungkin?”
Mata HyunSun membulat. “Kyaaaa!! Oppa, sejak kapan kau menjadi baik seperti ini?”
***
Lee HyukJae (EunHyuk) PoV
Tingkahnya belakangan ini semakin membuatku merasa tertarik untuk mengetahuinya. Dia datang pagi dengan wajah yang terkadang terlihat mengantuk lelah, tapi di iringi dengan senyuman senangnya.
Duduk dengan semangat dan mulai berceloteh ria dengan teman sebangkunya. Tidak tahu apa yang mereka perbincangkan. Tapi terlihat dari rautnya yang begitu ceria dan menyukai kondisinya.
“HyukJae!” BaekHyun menepuk pundakku. Menyadarkan lamunanku yang terarh padanya. “Kau.. tidak sedang memperhatikannya, kan?” tanya BaekHyun dengan penuh selidik. Matanya menatap curiga ke arahku.
“Nugundae?” tanya ku balik, berusaha menutupinya.
“HyunSun. SungHyun. Kau menyukainya?” Sindiran BaekHyun yang tepat sasaran itu terucap dengan cukup lantang. Membuat beberapa orang disekitar kelas mendengarnya. Mereka mulai menunjukkan ketertarikannya dan berniat untuk mengrubungiku.
Aku hanya bangkit dari kursi kemudian menyelipkan tangan dalam saku celana. Berjalan keluar kelas tanpa menghiraukan teman – teman yang terlihat penasaran denganku. Dan HyunSun yang terlihat masih bingung dengan apa yang terjadi.
Sial, sebegitu bodohnya kah aku? Sampai terlihat bahwa aku menyukainya?
***
Sung HyunSun PoV
Seminggu terakhirku berlalu dengan hal – hal tak jelas yang terjadi di kelas. Semua teman sekelasku sibuk membicarakan gossip antara aku dengan EunHyuk, namja yang sepertinya menyukaiku. Entah benar atau tidak, tapi gossip yang ku dengar seperti itu.
Byun BaekHyun. Namja kalem itu tiba – tiba menanyakan hal spontan yang membuat seisi kelas terkejut. Aku memang merasakan sebuah kerisihan darinya. Matanya yang selalu saja mengarah padaku. Dan tingkahnya yang begitu berubah drastic belakangan ini. aku bahkan bisa dikatakan sebagai yeoja satu – satunya yang ditanggapi. Dari sekian banyak yeoja yang biasanya menggelilinginya.
Dulu, aku masih sering bergurau atau bertukar tawa. Bahkan sempat menjadi rekan kerja kelompok dengannya. Tapi dengan sikap anehnya yang membuat beberapa teman sekelasku curiga, aku menjadi sedikit menghindar darinya. Dan puncaknya adalah sekarang. Setelah BaekHyun memergokinya yang sedang menatapku.
12 November 2012
Cho Jehee’s Bedroom
18:45PM
Seoul, South Korea

Aku melangkah masuk ke kamar Jehee yang tidak terkunci itu. Dia hanya tersenyum menyapaku tanpa beranjak dari posisinya. Duduk didepan layar monitor dengan sibukya.
“Kau sangat sibuk sepertinya, maaf mengganggu.” Ujarku. Rumah kami berdekatan. Hanya berbatas pintu kecil di halaman belakang. Yang biasa aku terobos dengan mudah untuk bermain atau sekedar belajar dengan Kyuhyun oppa atau Jehee, sepupuku.
“Tidak terlalu. Aku hanya sedang mengisi waktu luang saja. Menuliskan beberapa ide yang kurasa sangat menumpuk diotakku.” Cengirnya yang kemudian membalikkan kursinya kearahku. Cho Jehee sepupu yang seumuran denganku ini memang menyukai hal apapun yang berbentuk tulisan. Kecuali satu. Tulisan yang tertera pada buku pelajaran.
“Baguslah kalau begitu. Ada yang ingin aku ceritakan.” Akupun merebahkan tubuh diatas kasurnya. Mengambil salah satu bonekanya sebagai mainan saat aku bercerita nanti. Jehee pun beranjak dari duduknya keudian mengambil posisi disampingku.
“Ceritakan saja, aku pasti mendengarkannya.” Jehee mengikutiku dengan mengambil boneka domba kesayangannya kemudian mendekapnya. “Siapa yang ingin kau ceritakan? D.O oppa? Atau.. kau jangan – jangan sudah mulai menyukai DongHae oppa ku?”
“Bukan masalah K-pop atau apapun itu yang bersangkutan dengan D.O oppa.” Potongku.
“Lalu? tentang apa?” kening Jehee mengerut. Menatapku dengan wajah penasarannya.
“Namja. Na namja”
***
Author PoV
13 November 2012
At Senior High School
10 : 10 AM
Seoul, South Korea

Tangannya tersimpan dalam saku. Senyumnya terbuang pada sosok dihadapannya. Dan pundaknya bersandar pada dinding lorong sekolah yang sepi.
“Saeing il Chukkae, Hyu~a” ujarnya. Tangannya pun meraih tangan yeoja dihadapannya untuk menyisipkan sebuah bungkus kecil yang berpita. Hadiah ulang tahun.
“Gomawo~yeo” Yeoja itu tersenyum singkat kemudian menundukkan kepalanya. Menyembunyikan rona pipinya dan meminimalkan ekspresi konyol yang mungkin saja dia keluarkan disaat yang tidak tepat. “Boleh aku buka sekarang?”
Namja itu menggeleng. Menjulurkan tangannya kearah kepala yeoja tersebut kemudian mengacak rambutnya pelan. “Nanti saja, saat kau sampai dirumah.”
***
Suasana kelas begitu ricuh. Baru saja HyunSun melangkahkan kaki memasuki ruang kelas, semua mata seketika mengarah padanya. Dengan ekspresi gembira dan hebohnya.
HyunSun menatap aneh tingkah teman – temannya. Arah matanyapun mengarah pada Jehee. Dia hanya terdiam, menggigit bibir bawahnya. Yang menunjukkan kepanikkannya yang sangat amat. Membuat HyunSun semakin dibingungkan.
Jehee berlari kecil kearah HyunSun. Menemani HyunSun yang semula hanya beridiri sendiri didepan kelas. Jehee sebenarnya berbeda kelas dengan HyunSun. Hanya karena kepanikkannya, dia membranikan diri untuk menghampiri kelas HyunSun setelah berita menghebohkan dari kelas HyunSun sampai pada telinganya.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” bisik HyunSun sambil menyikut lengan Jehee.
“Lihat saja apa yang akan terjadi nanti.” Jehee mengalungkan lengannya pada lengan HyunSun.
Entah bagaimana HyunSun merasakan firasat  buruk ketika EunHyuk mulai melangkah ke arahnya. Dengan kedua tangan yang tersimpan dibelakang. Jantungnya terus saja terpacu cepat. Entah karena rasa penasarannya atau dampak dari kegrogiannya untuk firasat buruknya.
“HyunSun~a” seketika kelas menjadi hening. Ketika EunHyuk mulai menyebut namaku. “Maaf kalau aku mengejutkanmu. Hanya saja..” kalimatnya terpantung.
“Sudah cepat, katakana saja, HyukJae!” celetuk salah seoarang penghuni kelas yang menjadi penonton.
“Eng.. ini untuk mu.” EunHyuk menyodorkan sebuah boneka beruang kecil berwarna merah muda pada HyunSun yang masih terpantung bingung. “Saeng Il Chukkae”
HyunSun hanya menerimanya sambil tersenyum kecil, “Gomawo”
“Yak, cepat katakan jangan bertele – tele, EunHyuk~a” protes salah seorang lagi.
“Kau.. aku.. ehm, lama aku menatap dan.. memperhatikanmu. Mengganti kebiasaan burukku dengan kebiasaan baru yang bodoh. Hanya sekedar menatap dan memperhatikanmu itu.. bisa membuatku sangat puas setiap harinya.”
“lalu?” HyunSun menaikkan alisnya merasa bingung.
“Kau mau tidak menjadi.. yeoja chinguku?”
***
Sung HyunSun PoV
DAARRR!!!
Sebuah kejutan kecil yang mengejutkanku saat melangkah masuk ke kamarku. Baiklah, setidaknya aku mendapatkan dua kejutan setelah membuka pintu hari ini. darinya dan.. dari keluargaku yang bertingkah cukup ke kanak – kanakan.
Menghias kamarku penuh dengan balon warna – warni. Menempelkan kertas crap pada dindingku. Dan menggantungkan tulisan “Happy Birthday” pada langit – langit kamarku.
Aku menghela napasku yang sempat terhenti akibat kejutan yang memang ku akui benar – benar mengejutkanku. Aku melangkah masuk kedalam rumah sambil tersenyum sekedarnya. Mendudukkan tubuhku pada sofa kamarku.
Kakak perempuanku duduk disamping sambil membawa kue ulang tahun dengan senyum yang menyindirnya, memohon ditanggapi. Sedang eomma masih heboh dengan berceloteh ria memberiku sebuah ucapan selamat dan beberapa penuturann tentang kejutannya.
Disudut ruang kamar, ada tiga namja yang duduk dengan tenang didepan layar monitor komputerku. Kedua adik laki – lakiku dan Cho Kyuhyun. Aku rasa Kyuhyun telah menghipnotis kedua adikku untuk jatuh cinta pada game. Dan membiarkan kedua wanita dihadapanku menjadi heboh sendiri.
“Gomawo eomma, eonni.” Jawabku sambil tersenyum dan menerima beberapa jepretan kamera yang mulai mengarah padaku. Mustahil untuk seoarang seperti eommaku melewatkan masa seperti ini tanpa berfoto.
“Kau kenapa? Sepertinya tidak begitu menyukai kejutan kali ini?” HyoSup eonni, kakak perempuanku menyadari raut wajah ku yang kurang begitu tulus.
“Tidak apa – apa. Hanya ada sedikit masalah tadi saat disekolah.” Jawabku.
Drrt.. (1 New Massage)
Mataku melirik sekilas kearah ponsel yang kubiarkan disamping tempat aku duduk. Melihat nama yang tercantum. Dan hanya melengos malas.
Drrtt.. (2 New Massage)
Aku kembali melirik kearah ponselku. Menatapnya sedikit lama dan mendapatkan ponselku yang kembali menerima pesan.
Drrtt.. (3 New Massage)
“Nugundae?” HyoSup eonni melirik kearahku curiga. “Sepertinya kau tidak begitu berniat untuk membukanya?” tangannya mulai mengarah untuk mengambil ponselku. Tapi dengan cepat aku mencegahnya dan mengambil ponselku lebih dulu.
“Siapa yang bilang tidak berniat untuk membuka? Akan ku buka.” Jawabku. Kemudian memulai untuk membuka pesan yang masuk.
*From : EunHyuk
Jebalyeo HyunSun~a, aku benar – benar butuh bantuanmu. Bagaimana kalau mereka nanti menertawakanku? Menganggapku namja yang memalukan? Hanya satu cara untuk membantuku. Kau. Menjadi yeoja chinguku.
*From : EunHyuk
Tidak usah menjadi yeoja chingu asli. Hanya berlagak kalau kau menerimaku. Bagaimana?
*From : EunHyuk
Aku sangat memohon padamu, Sung HyunSun~a. dua minggu. Bagaimana?
Aku menghela napas sejenak. Menegakkan kepalaku yang telah usai menunduk untuk membaca pesan yang masuk. “Naega ottokae?” keluhku.
“Ada apa memangnya?” tanya eomma yang mulai merasakan ketidak nyamanan ku sekarang.
Drrtt.. (1 New Message)
Aku mengumpat kesal dan kembali membuka pesan masuk.
Kau sedang sibuk? Apa kau belum membaca pesanku? Jebalyeo, aku butuh jawaban cepatmu
Drrtt.. ( 1 New Message)
Belum sempat aku mengetik untuk membalasnya, pesan berikutnya kembali masuk.
Sung HyunSun~aaaaaa, ku mohon, balas pesankuuuu. Hanya dua minggu setelah itu kita tidak ada hubungan apapun. Bagaimana?
“Siapa itu?” Eomma masih merasa penasaran dengan pengirim pesanku. Aku hanya menatap pasrah kemudian menyerahkan ponselku padanya. Bercerita singkat padanya daan meminta sedikit sarannya.
Drrt.. (1 New Message)
Kau masih memikirkannya atau bagaimana? Ayolahhh bantu aku kali ini. menembakmu didepan kelas sungguh memlukan kalau sampai teman teman tahu kau menolaknya.
“Wow,” HyoSup Eonnie mentap tak percaya kearahku. “Dia namja yang cukup keren untuk menembakmu didepan kelas. Tapi.. cukup memalukan untuk tidak menerima kenyataan kalau dia ditolak olehmu. Bahkan dia tidak tahu harus menaruh mukanya dimana untuk esok hari.”
“Lalu? aku harus bagaimana?” pundakku aku sandarkan pada dinding sofa kemudian merosotkan tubuh dan meniup poniku sembari menghela napas.
“Terima saja,” Eomma ikut ambil pendapat. “Kasian sekali kalau sampai dia dipermalukan oleh teman – teman satu kelasmu. Lagipula itu cara tersingkatnya untuk menghentikannya menerormu dengan pesan singkat berturutnya.”
Mataku membulat, “Menerimanya? Lalu? aku menjadi yeoja chingunya, seperti itu?”
“Ya, memangnya kenapa? Kau kan juga sudah SMA, jadi mungkin eomma memperbolehkannya untuk kau berpacaran. Hanya asalkan masih dalam kendali.”
“Aku tahu. Tapi..”
“Jangan katakan kalau kau sebenarnya sudah mempunyai namja chingu, HyunSun~aaa?”  HyoSup eonni menatapku dengan penuh selidik.
“Diam kau!”
Drrtt.. (1 New message )
Kau belum tidurkan? Ayolah, hanya dua mingku untuk kau berlagak seolah menjadi yeoja chinguku, otte? Besok aku akan mengulang untuk menyatakan perasaan pada.. akun twitter mungkin? Biar mereka tahu kalau kau dan aku sepertinya berpacaran.
***
15 November 2012
12 : 14 PM
Seoul, South Korea

Author PoV
Namja itu terdiam. Menatap yeoja yang menjadi lawan bicaranya dalam diam. Membisu setelah kata – kata yang cukup membuatnya terdiam terlontarkan.
“Maaf,” yeoja itu kembali berujar dengan wajah bersalahnya. “Aku hanya bisa menurutinya untuk saat ini. Mungkin kalau kau yang ada pada posisinya, kau akan seperti itu.”
“Tidak” namja itu angkat bicara. “Aku tidak pernah akan mau untuk memaksakan yeoja yang kucintai menjadi milikku secara terpaksa, situasi, dan alasan lainnya. Kecuali satu alasan. Dia benar – benar mencintaiku juga.”
Yeoja dihadapannya terdiam. Sempat menunduk untuk merenungkan perkataan namja tersebut. Dia terpojok dengan fakta yang benar – benar menyulitkannya. Namja yang dia sukai sedang berdiri dihadapannya. Cukup tidak menyukai keputusannya untuk menerima seorang namja yang berada dalam kegentingan yang memintanya untuk membantu menjadi yeoja chingunya sementara.
“Ini semua keputusanmu, jadi terserah kau saja.” Namja itu menghela napas pelan, “Tapi kau ingat perkataanku. Aku akan menjaga jarak padamu selama kalian dalam ikatan. Dan aku, tidak akan mengusik kalian berdua. Sama sekali, dan tidak akan”
***

                                                                TBC
ini FF sebenernya pengen di jadiin oneshoot. tapi aku pikir - pikir kayaknya bakal panjang deh._. jadinya dua part yaah. oiya, ini terinspirasi dari cerita HyunSun loh~~ *lirik HyunSun :D
ditunggu komennya :)

Game In Mistake (Part 4)


Game In Mistake (Part 4)

Jangan samakan aku dengan jam tanganmu.
Yang selalu bisa memberikan kepastian waktu.
Tapi samakan aku dengan sepatumu
Yang selalu bisa memberikan kepastian langkah

Jangan sama kan aku dengan bibirmu,
Yang bisa saja berujar tanpa kejujuran
Tapi samakan aku pada perutmu,
Yang akan berbunyi jujur saat kosong

Jangan salah kan aku kalau langitku menangis
Jangan salahkan aku kalau mathariku tersenyum
Karena yang menggiring duniaku,
Hanya kau.


Cho Kyuhyun PoV
“Apa maksudmu memutuskan hubungan yang sudah menuju jenjang pertunangan ini, Cho Kyuhyun~ssi?” Appa menatapku tajam dihadapan meja kerja kantor. Dia sepertinya mengetahui tindak lanjutku dari keluarga Seohyun langsung dan membuatnya malu setengah mati.
“Seperti yang sudah aku katakan. Aku tidak ingin beribicara denganmu lagi.” Jawabku dingin sambil kembali memfokuskan diri dengan berkas – berkas ku.
“Hanya kali ini. Kau sungguh tidak mengerti perusahaan, anak kecil.” Appa mulai menunjukkan raut amarahnya. “ Kau kira makanan yang kau telan berasal dari jerih payah yang mudah? Semua berasal dari perusahaan ini. Dan asal kau tahu. Aku masih terlalu baik karena sudah memberimu peringatan berkali – kali padamu, dan sekarang kau hanya menunggu waktu.”
“wae? Kau ingin membunuhku, huh?”
“Tidak sampai itu. Hanya membuat sisa hidupmu terasa lebih menyakitkan dari ini. Akan aku usahakan lebih sakit daripada teretembak peluru.” Raut wajah nya berubah menjadi datar. Menyimpan kesungguhan yang ada dan membuatku sulit untuk membacanya.
“Kau mau berbuat apa?” Aku mengernyitkan kening. Berusaha mencerna kondisi saat ini.
“Hanya memperlakukan yeoja kalian, sama seperti keluarganya memperlakukan keluarga Cho.”
Aku terdiam. Meletakkan pena dan kertas dari genggamku. “Kalian? Maksud appa?”
“Tidak perlu aku jelaskan panjang lebar. Karena sepertinya kau teralu pintar untuk mencari tahunya sendiri.”
***
Aku melangkah ragu ke ruangan yang sangat jarang untuk aku datangi. Bisa dihitung oleh satu jari untuk berapa kali aku datang kesini setelah seumur hidupku yang biasa bermain di daerah perusahaan appa. Keluar masuk seakan gedung ini adalah rumah keduaku.
Perpusatakaan Kantor. Tempat dimana semua arsip sejarah perusahaan ini. dari mulai berdiri sampai detik ini. aku sempat mempelajarinya sekilas saat memutuskan untuk bergabung dalam persusahaan ini. hanya membaca bebearpa buku yang menceritakan singkat sejarah didirikannya. Tidak sampai mendetail.
Perkataan appa tadi memang sudah membuatku terpojok dengan rasa penasaran yang memuncak. Dengan segeranya aku meninggalkan pekerjaanku yang menumpuk hanya karena satu hal. Memiliki Ha Gun sepenuhnya tanpa ada gangguan dari luar lagi.
Langkahku terhenti dalam sebuah lorong yang bertulikan ‘1976-1981’ yang menandakan buku – buku yang berisikan sejarah perusahaan sekitar tahun tersebut.Tanganku menyapu beberapa buku yang terlihat berdebu karena sudah berumur.  Lembarannya terlihat menguning dan rapuh.
Dengan perlahan aku mengambil sebuah buku dari deretan buku tua lainnya. Buku yang berhasil menarik minatku dengan judul ‘The Leader’ . ini pasti berisi tentang kakak kandung kakekku yang mendirikan perusahaan keluarga Cho. Aku sangat mengaguminya. Dari pola pikir yang sangat menakjubkan dan respon dia pada sebuah masalah. Tidak heran kalau perusahaan keluarga Cho bisa menjadi sebesar ini.
Cho HuangJu’ tiada batas untuk maju,, tiada alasan untuk menyerah’adalah pesan terakhirdarinya  yang membangun semangat baru setelah kematiannya.walaupun masih ada beberapa pegawai yang masih tidak menerima keyataan dengan kematian pemimpinnya yang begitu tersa singkat dan tragis.
Aku terdiam sejenak setelah membaca pada halaman pertama buku itu. Tragis? Aku memang beluum pernah dengar cerita bagaimana dia meninggal. Hanya setahuku saat itu dia menjadi korban kecelakaan lalu lintas. Aku mengenalnya puun hanya lewat buku – buku yang terbuat dari tulisan tangannya. Tidak pernah bertatapan langsung.
Tidak banyak yang tahu dengan semua hal dibalik ini. karena mereka lebih memilih untuk terdiam dan melanjutkan pekerjaannya daripada mencari tahu dengan ancamaman…. Mati.
Tubuhku menegang saat membaca paragraph kedua. Aku memutuskan untuk menutup buku itu dan membawanya pulang untuk aku baca dirumah. Tidak akan sempat jika aku terlalu lama disini.
***
Lee DongHae PoV
Senyumku terulas saat mendapatkan hasil print ditanganku. Sebuah bukti kelemahan perusahaan Choi yang sudah nyaris satu bulan lebih aku cari, Akhirnya berada ditanganku. Satu hentakan lagi, perusahaan itu akan hancur.
Drrt.. drrt..
“Nuguseo?”
“Kau.. apa benar – benar ingin menjatuhan semua milikku?” Aku mengernyitkan keningku, berusaha mengenali sekaligus memaknai perkataannya.
“Mwoya? Nuguseo?”
“Tidak peduli siapa aku, tapi kau akan jatuh sebelum aku terjatuh. Arasseo?”
“Aku sangat membenci semua hal yang terdengar misterius, nuguseo? Yak, katakan saja siapa kau sebelum aku melacak siapa dirimu.”
“siapa aku? Aku, orang yang benar – benar kau rugikan dalam permainanmu, Lee DongHae~ssi.”
Sambungan telfon terputus seketika saat aku mulai membuka mulutku untuk kembali membalasnya. Suaranya terlalu asing untuk aku kenali. Choi Siwon? Tapi aku rasa.. dia sama sekali tidak mengetahui semua ini. Dan kalaupun ia tau, bukan gayanya untuk melakukan tindakan meneror atau apapun itu. Biasanya dia lebih memilih diam dan seketika datang dihadapan setelah kami benar – benar tersingkir.
Tak lama ponselku kembali bergetar. Satu pesan singkat masuk dan nyaris membuatku kembai terperangah.
“kau lebih baik diam. Tutup mulutmu. Dan jauhkan diri dari tiga hal. Perusahaan keluarga Choi, Cho Kyuhyun, dan Cho Jehee.”
***
Lee DongHae’s Room
12:05 PM
Seoul, Sout Korea

Kyuhyun sulit dihubungi beberapa jam belakangan ini. Tidak tahu dia terlalu sibuk dengan Ha Gunnya atau masalah perusahaan. Tapi saat ini aku benar – benar membutuhkannya. Penelpon misterius itu pastilah dalang dibalik semua ini.
Bisa saja bukan appa kyuhyun yang melakukannya. Memaksa kyuhyun dalam kendalinya. Atau.. bisa saja ini bukan ulah Choi Siwon untuk mendapatkan perusahan appa Kyuhyun.
Aku kemudian memutuskan untuk menghubungi Jehee untuk mencari tahu keberadaan Kyuhyun.
“Jagiya, kau tahu dimana kakakmu berada?”
“Wae? Aku hari ini sedang sibuk menyelesaikan skripsiku. Belum sempat bertemu dengan kyuhyun oppa. Terakhir kali aku menghubunginya saat makan siang.”
“Aku hanya ingin bertemu dengannya saja. Tadi siang kau tahu dia makan dimana? Di kantor atau diluar?”
“Sepertinya di luar. Memangnya kenapa oppa?ada hal penting yang harus kau sampaikan?”
“Ne, seperti biasa, masalah perusahaan. Hari ini kau bagaimana? Baik – baik saja kan?”
“Kau tidak ingin menitipkan pesan padaku? Mungkin nanti malam aku bisa sampaikan pada Kyuhyun oppa?”
“Tidak perlu, nanti akan aku coba untuk mencarinya.”
“Ck, sebegitu rahasianya kah? Apa kau tidak ingin membocorkannya sedikit padaku? Eum.. inti permasalahannya saja? Bagaimana?”
Aku tertawa kecil menanggapinya yang berusaha untuk aku membocorkan sebuah rahasia besar untuknya. “kau ingin tahu? Intinya?”
“Saaaaaangaaaaaaaat. Jadi, kau berniat untuk membritahuku?”
“Ani, tanyakan saja pada oppa mu.”
“Yak! Lee DongHae”
***
Cho Jehee PoV
KyungHee University’s Library
13:43 PM
Seoul, South Korea

Keningku berkerut saat melihatnya berjalan mengarah padaku. Aku sangat mengharapkan kesalahan dalam melihat kali ini. karena aku benar – benar ingin menghindarinya. Dia terkesan begitu memaksaku untuk kembali mendekat belakangan ini.

“Kau sibuk?” Aku menahan kekecewaan ku karena dia benar – benar datang untuk ku. Duduk di kursi samping sambil menunjukkan wajah perhatiannya. Dulu memang, aku begitu terpesona dengan wajahnya yang seperti ini. Tapi sekarang, tidak ada perasaan sedikitpun yang tersisa hanya untuk sekedar tertarik dengan wajah tampannya.
“Sangat.” Jawabku sekenanya. Berharap dia akan segera pergi setelah mendengar jawabanku.
“Mau aku bantu?” Aku mengeluh kesal sembari mengumpat dalam hati. Sial, dia sepertinya tidak akan menyerah untuk mendekatiku.
“Tidak perlu. Memangnya kau tidak punya pekerjaan lain?” Ujarku dengan nada yang mula menunjukkan kekesalanku. “Aku tidak suka kalau sedang sibuk seperti ini didatangi oleh.. kau.”
“Wae? Kau takut karena tidak bisa konsentrasi?” Dia tersenyum disudut bibirnya. Menunjukkan sisi ketampanan nya yang lain. Yang lagi- lagi tidak berkesan apapun olehku.
“Cih, memangnya sehebat apa kau sampai mengganggu konsentrasiku? Pergi sekarang juga atau aku akan panggilkan DongHae oppa untuk mengusirmu.”
“Memanggil DongHae oppamu?” alisnya terangkat sebelah. Dan dia pun sedikit mengeluarkan tawa. “Dia tidak akan datang, Jehee~a. aku yakin itu. Karena perusahaan dalam keadaan genting tidak bisa dinomor duakan hanya untuk menolongmu.”
“Keadaan genting?” aku akhirnya terpaksa untuk menoleh kearahnya. “Apa maksudmu?”
“Kau terlalu polos untuk menanyakan itu padaku.”
***
Cho Jehee’s bedroom
17:14 PM
Seoul, South Korea

HyunSun menghubungiku berkali – kali yang hanya aku respon dengan tombol merah. Mengingatya yang begitu menyukai DongHae oppa membuatku mencantumkan namanya dalam daftar orang orang yang akan aku matikan kalau saja Undang – Undang tentang pembunuhan dihilangkan.

Sampai akhirnya Ah-Ra eonni menyadarinya. Dia yang sedang berada di kamarku mulai merasa terusik dengan bunyi ponselku yang terus berdering. Aku sebenarnya tidak mengerti dengan ulahnya yang belakangan ini sering sekali mendatangi kamarku dan mengerecoki semua isinya.
“Yak, kau tidak berniat untuk mengangkatnya?” Ah-Ra eonni berdiri dari posisinya yang semula terduduk di lantai kamarku sambil membaca beberapa majalahku.
“Tidak sama sekali.” Sahutku cepat kemudian menyingkirkan ponselku menjauh dan melangkah menuju kasur untuk merebahkan diri.
Ah-Ra eonni melangkah menuju meja tempat aku meletakkan ponselku. Dia mengambilnya dan dengan cepat menyodorkannya ke telingaku setelah dia menekan tombol untuk menerima terfon tersebut.
Aku hanya bisa menatap kesal ke arahnya karena suara cempreng HyunSun sudah terdengar dari sambungan teleponnya.
“Kau nyaris terlambat untuk mengangkat telfon dariku, Jehee~a” Aku hanya mencibir tak bersuara setelah mendengarya.
“Memangnya kenapa? Apartemnt mu kebakaran? Atau.. Malaikat maut sudah ada didepan pintu rumahmu?” sahutku sekenanya. Yang direspon dengan mata Ah-Ra eonni yang membulat kearahku. Dia terlalu baik menjadi manusia sepertinya. Kalau kyuhyun oppa yang disampingku, pasti akan tersenyum puas melihat ulahku.
“Aniya. Ini masalah DongHae oppa.” Ujarnya yang mebuatku semakin memuncakan kekesalan padanya.
“Apa lagi? Kau kemarin tidak mendengar perkataan Ha Gun? Kalau aku..”
“Yeoja Chingunya? Hah, lelucon macam apa yang kau buat, Cho Jehee? Bahkan kalau kau benar – benar yeoja chingunya, lalu untuk apa dia berjalan bersama yeoja lain selainmu dengan sangat mesranya?bahkan dia bersedia untuk datang ke apartement yeoja itu”
Aku terdiam. Nyaris membeku mendengar perkataannya. “Yeoja lain? Maksudmu..?”
“Aku menghubungimu karena sekedar ingin menanyakan padamu. Minuman kesukaannya itu apa? Dan.. hal apa yang dia suka lakukan di waktu lenggangnya?”
“Apa maksudmu?” tanyaku yang masih dibingungkan dengan maksudnya.
“DongHae oppa datang ke apartementku. Dan kami sedang bersama. Kau.. tidak akan datang untuk bergabungkan? Karena itu akan merusak suasana kami berdua.”
“MWOYA?! Yak! Sung HyunSun, aku tidak tertarik dengan leluconmu.” Geramku kesal.
“aku tidak bergurau. Ini kenyataan. Kalau kau tidak percaya ya.. datang saja ke apartementku. Kali ini akan aku relakan untuk kau menghancurkan moment bahagiaku. Tapi kau harus menjawab pertanyaanku tadi, eo?”
“Strawberry juice, ice cream, menonton film.” Desisku dengan suara ku yang tersisa.
***
Cho Kyuhyun PoV
Aku terhenyak saat mendengar suara dentuman pintu yang terdengar dari pintu kamar Jehee. Membuatku yang baru saja berniat memasuki kamar terperangah olehnya. Kamar kami berhadapan, jadi aku sangat bisa mengontrol dan mengetahui apa saja yang dilakukannya.
Wajah mungilnya terlihat dipenuhi oleh air mata yang sepertinya diusapnya dengan asal. Wajahnya yang tertunduk dan rambut ikal panjangnya yang tergerai berantakan. Menunjukkan hal yang membuatku sangat menghawatirkannya. Dia bahkan tidak menyadari keberadaanku saat berjalan cepat keluar kamar.
Aku akhirnya memutuskan untuk mengikutinya dari belakang. Menyingkirkan rasa lelahku yang menumpuk untuk mengawasinya. Langkahnya menuju garasi rumah dan dia memasuki mobilnya kemudian mulai mengemudi dengan arah yang sedikit kacau.
Aku bergegas mengambil kunci mobil disakuku. Mengikutinya dari belakang. Aku bahkan mengikutinya dari jarak yag bisa dibilang mudah dijangkau dengan kaca spionnya. Tapi dia tidak menyadarinya sepertinya. Dia terus mengemudi dengan cepat dan berarah. Dan mulai menuju.. apartement HyunSun?
Sial, ini pasti ulah anak nakal itu lagi yang mencoba membuat Jehee berfikir yang tidak tidak. Dia pasti mencoba menjebak DongHae hyung dalam perangkapnya. Tadi sore aku sempat melihatnya ikut dalam mobil DongHae hyung. Dan sepertinya donghae hyung terlalu ramah untuk orang sepertinya. Yang bisa sewaktu waktu menjebaknya dalam kondisi yang sangat parah. Kehilangan yeoja dari genggamannya.
***
Lee DongHae PoV
Perasaanku mulai bercampur aduk. Entah kenapa firasatku berubah menjadi buruk ketika melihat HyunSun menutup sambungan telfon sambil tersenyum puas. Sepertinya ada hal yang membuatnya senang saat aku tinggal ke toilet tadi.
Malam ini dia hanya menawarkan untukku bertamu dengannya. Hanya ingin menjadi tetangga yang baik. Itu alasannya yang membuatku berfikir tidak ada salahnya untuk datang.
“Kau menyukai ice cream?” Tawarya sambil melangkah kearah dapur apartemennya. Yang hanya terpisah dengan meja bar panjang dari ruang tamu tempat aku duduk.
“Sangat. Kau.. bagaimana bisa mengetahuinya?” jawabku sambil memperhatikannya yang mengeluarkan ice cream dari lemari esnya.
“Hanya sekedar menebak dan menawarkan yang ada dalam lemari esku.” Ujarnya sambil tersenyum. Dia cukup manis. Tapi tidak begitu menarik untuk aku pandangi. Aku baru menyadari betapa tertariknya aku untuk sekedar menatap mata Jehee.
“Sangat jarang untuk seorang namja begitu menyukai ice cream. Bagaimana kau bisa menyukainya?” tanyanya
“Cho Jehee. Dia sangat menyukainya.” Jawabku singkat.
“Kau selalu menyukai hal yang disukainya, ya?” dia melangkah kea rah sofa disampingku dengan dua gelas yang sudah berisi ice cream.
Aku mengangguk kecil sambil menerima gelas yang disorokannya.
***
Cho Jehee PoV
Aku melangkah dengan berat menuju apartement HyunSun. Sebelumnya, aku sempat melewati apartment Donghae oppa yang sepertinya masih terkunci dan belum dimasuki olehnya.
Sebuah tangan menahanku saat aku akan menekan tombol bel apartement HyunSun.
“Kau sudah gila kalau mencoba masuk” Desis kyuhyun oppa yang tanpa aku sadari sudah berada dibelakangku. Dengan tangannya yang mencekram kuat lenganku.
“Wae? Aku hanya memastikan omongan HyunSun. Kalau salah aku akan pulang kalau benar…”
“Kalau benar? Kau akan apa? Ini hanya jebakan konyolnya saja, Jehee~a.”
“lepaskankan, oppa. Aku akan membuktikannya sendiri.” Aku berusaha membrontak dari cengkramannya. Yang sebenarnya akan sia sia karena tenaganya jauh lebih kuat dariku.
“Tidak perlu kau buktikan sekarang. Itu hanya akan membuat kesalah pahaman. Kau ikut aku pulang dengan tenang atau aku akan menyeretmu dengan paksa?”
“oppa, kalau kau benar ingin melindungiku, biarkan aku menegtahui semuanya. Atau.. kau sebenarnya sudah tahu dan hanya ingin membantunya?”
“Alasan apa yang tepat untuk aku melakukan itu padamu? Dia temanku? Sebaik apapun temanku, bahkan Lee Donghae sekalipun, kalau dia membuatmu menderita karena perlakuannya akan ku jadikan dia sperti makhluk hidup tak bernyawa.” Jelas Kyuhyun oppa. “sekarang, kau ikut aku pulang. Disini hanya akan membuang waktumu saja”
“Shireo~ya. Aku akan tetap membuktikannya.”
“CHO JEHEE!”
***
Han Ha Gun PoV
“Jangan terlalu sering berterima kasih kemudian tersenyum padaku. Aku tidak akan mungkin bisa terhidar dari dampaknya”
“Yepposeo, kau tetap cantik dengan pakaian apapun.. dimataku”
Kalimat itu selalu saja tergiang diantara kegiatan kosongku. Sangat mengganggu. Berkali – kali aku berusaha untuk berfikiran jernih dan menyadarkan diri dari kondisiku yang bisa dibilang sangat terlewat batas normal
Padahal baru saja aku kembali dari Korea setelah bertemu Kyuhyun sekitar dua hari yang lalu. seharusnya wajahnya, seharusnya senyumnya, seharusnya perkataannya yang menempel di otakku. Dan seingatku perkataan Kyuhyun jauuuhh lebih berarti dan keren. Tapi kenapa jadi perkataan Baekhyun yang terngiang?
Sahabat tidak berkemungkinan kecil untuk berubah menjadi pacar.
Sial. Perkataan Jehee sewaktu dulu saat dia bersama Kai menjadi pendukungku untuk berfikir bahwa..
“Kau kenapa?” wajah itu tiba tiba datang disaat yang menurutku sangat tidak tepat. Aku sedang terduduk dengan penuh ekspresi yang memalukan. Sebenarnya ini dampak dari kekesalanku yang mulai terkena pesona namja tampan dihadapanku.
“eo? Aniya, gwenchana” aku segera merubah rautku kembali dingin. Berusaha untuk tidak membalas tatapannya yang benar – benar terasa intens dihadapanku.
“Kau sudah makan?” tanyanya.
Sial, sial, sial. Kenapa aku malah mulai berfikir untuk membandingkannya dengan Kyuhyun yang tidak pernah menanyakan isi perutku?
“Belum.” Jawabku, “Mau makan siang bersama?”
Bodoh, Han Ha Gun kau terlalu bodoh, untuk apa kau menawarkan makan bersama? Semakin lama kau bersamanya, itu artinya.. tidak mengecilkan kemungkinan untuk.. semakin sulit mengatasi pesonanya?
***
                                                       TBC

selesaaaaaaaaaaaaaaaaaiii untuk part 4 :D maaf buat kalian nunggu lama ya. dan maaf juga. udah bikin nunggu lama, ffnya rada - rada-_-v
di part ini emang agak atau mungkin emang banyakan tentang Jehee & DongHaenya. tapi nanti di part selanjutnya, dijamin. DongJe couplennya sedikit tersingkir. soalnya ntar yg dipermasalahin urusan Ha Gun sama Kyuhyun yang gak selesai - selesai ._.v
yaudah deh, tunggu komen ajaaaa