Game In Mistake (Part 4)
Jangan
samakan aku dengan jam tanganmu.
Yang
selalu bisa memberikan kepastian waktu.
Tapi
samakan aku dengan sepatumu
Yang
selalu bisa memberikan kepastian langkah
Jangan
sama kan aku dengan bibirmu,
Yang
bisa saja berujar tanpa kejujuran
Tapi
samakan aku pada perutmu,
Yang
akan berbunyi jujur saat kosong
Jangan
salah kan aku kalau langitku menangis
Jangan
salahkan aku kalau mathariku tersenyum
Karena
yang menggiring duniaku,
Hanya
kau.
Cho Kyuhyun PoV
“Apa maksudmu
memutuskan hubungan yang sudah menuju jenjang pertunangan ini, Cho Kyuhyun~ssi?”
Appa menatapku tajam dihadapan meja kerja kantor. Dia sepertinya mengetahui
tindak lanjutku dari keluarga Seohyun langsung dan membuatnya malu setengah
mati.
“Seperti yang sudah aku
katakan. Aku tidak ingin beribicara denganmu lagi.” Jawabku dingin sambil
kembali memfokuskan diri dengan berkas – berkas ku.
“Hanya kali ini. Kau
sungguh tidak mengerti perusahaan, anak kecil.” Appa mulai menunjukkan raut
amarahnya. “ Kau kira makanan yang kau telan berasal dari jerih payah yang
mudah? Semua berasal dari perusahaan ini. Dan asal kau tahu. Aku masih terlalu
baik karena sudah memberimu peringatan berkali – kali padamu, dan sekarang kau
hanya menunggu waktu.”
“wae? Kau ingin
membunuhku, huh?”
“Tidak sampai itu. Hanya
membuat sisa hidupmu terasa lebih menyakitkan dari ini. Akan aku usahakan lebih
sakit daripada teretembak peluru.” Raut wajah nya berubah menjadi datar.
Menyimpan kesungguhan yang ada dan membuatku sulit untuk membacanya.
“Kau mau berbuat apa?” Aku
mengernyitkan kening. Berusaha mencerna kondisi saat ini.
“Hanya memperlakukan
yeoja kalian, sama seperti keluarganya memperlakukan keluarga Cho.”
Aku terdiam. Meletakkan
pena dan kertas dari genggamku. “Kalian? Maksud appa?”
“Tidak perlu aku
jelaskan panjang lebar. Karena sepertinya kau teralu pintar untuk mencari
tahunya sendiri.”
***
Aku melangkah ragu ke
ruangan yang sangat jarang untuk aku datangi. Bisa dihitung oleh satu jari
untuk berapa kali aku datang kesini setelah seumur hidupku yang biasa bermain
di daerah perusahaan appa. Keluar masuk seakan gedung ini adalah rumah keduaku.
Perpusatakaan Kantor.
Tempat dimana semua arsip sejarah perusahaan ini. dari mulai berdiri sampai
detik ini. aku sempat mempelajarinya sekilas saat memutuskan untuk bergabung
dalam persusahaan ini. hanya membaca bebearpa buku yang menceritakan singkat
sejarah didirikannya. Tidak sampai mendetail.
Perkataan appa tadi
memang sudah membuatku terpojok dengan rasa penasaran yang memuncak. Dengan
segeranya aku meninggalkan pekerjaanku yang menumpuk hanya karena satu hal.
Memiliki Ha Gun sepenuhnya tanpa ada gangguan dari luar lagi.
Langkahku terhenti
dalam sebuah lorong yang bertulikan ‘1976-1981’ yang menandakan buku – buku
yang berisikan sejarah perusahaan sekitar tahun tersebut.Tanganku menyapu
beberapa buku yang terlihat berdebu karena sudah berumur. Lembarannya terlihat menguning dan rapuh.
Dengan perlahan aku
mengambil sebuah buku dari deretan buku tua lainnya. Buku yang berhasil menarik
minatku dengan judul ‘The Leader’ . ini pasti berisi tentang kakak kandung
kakekku yang mendirikan perusahaan keluarga Cho. Aku sangat mengaguminya. Dari
pola pikir yang sangat menakjubkan dan respon dia pada sebuah masalah. Tidak
heran kalau perusahaan keluarga Cho bisa menjadi sebesar ini.
Cho
HuangJu’ tiada batas untuk maju,, tiada alasan untuk menyerah’adalah pesan
terakhirdarinya yang membangun semangat
baru setelah kematiannya.walaupun masih ada beberapa pegawai yang masih tidak
menerima keyataan dengan kematian pemimpinnya yang begitu tersa singkat dan
tragis.
Aku terdiam sejenak
setelah membaca pada halaman pertama buku itu. Tragis? Aku memang beluum pernah
dengar cerita bagaimana dia meninggal. Hanya setahuku saat itu dia menjadi
korban kecelakaan lalu lintas. Aku mengenalnya puun hanya lewat buku – buku
yang terbuat dari tulisan tangannya. Tidak pernah bertatapan langsung.
Tidak
banyak yang tahu dengan semua hal dibalik ini. karena mereka lebih memilih
untuk terdiam dan melanjutkan pekerjaannya daripada mencari tahu dengan
ancamaman…. Mati.
Tubuhku menegang saat
membaca paragraph kedua. Aku memutuskan untuk menutup buku itu dan membawanya
pulang untuk aku baca dirumah. Tidak akan sempat jika aku terlalu lama disini.
***
Lee DongHae PoV
Senyumku terulas saat
mendapatkan hasil print ditanganku. Sebuah bukti kelemahan perusahaan Choi yang
sudah nyaris satu bulan lebih aku cari, Akhirnya berada ditanganku. Satu
hentakan lagi, perusahaan itu akan hancur.
Drrt.. drrt..
“Nuguseo?”
“Kau..
apa benar – benar ingin menjatuhan semua milikku?” Aku
mengernyitkan keningku, berusaha mengenali sekaligus memaknai perkataannya.
“Mwoya? Nuguseo?”
“Tidak
peduli siapa aku, tapi kau akan jatuh sebelum aku terjatuh. Arasseo?”
“Aku sangat membenci
semua hal yang terdengar misterius, nuguseo? Yak, katakan saja siapa kau
sebelum aku melacak siapa dirimu.”
“siapa
aku? Aku, orang yang benar – benar kau rugikan dalam permainanmu, Lee
DongHae~ssi.”
Sambungan telfon terputus
seketika saat aku mulai membuka mulutku untuk kembali membalasnya. Suaranya
terlalu asing untuk aku kenali. Choi Siwon? Tapi aku rasa.. dia sama sekali
tidak mengetahui semua ini. Dan kalaupun ia tau, bukan gayanya untuk melakukan
tindakan meneror atau apapun itu. Biasanya dia lebih memilih diam dan seketika
datang dihadapan setelah kami benar – benar tersingkir.
Tak lama ponselku
kembali bergetar. Satu pesan singkat masuk dan nyaris membuatku kembai
terperangah.
“kau
lebih baik diam. Tutup mulutmu. Dan jauhkan diri dari tiga hal. Perusahaan
keluarga Choi, Cho Kyuhyun, dan Cho Jehee.”
***
Lee
DongHae’s Room
12:05
PM
Seoul,
Sout Korea
Kyuhyun
sulit dihubungi beberapa jam belakangan ini. Tidak tahu dia terlalu sibuk
dengan Ha Gunnya atau masalah perusahaan. Tapi saat ini aku benar – benar membutuhkannya.
Penelpon misterius itu pastilah dalang dibalik semua ini.
Bisa saja bukan appa
kyuhyun yang melakukannya. Memaksa kyuhyun dalam kendalinya. Atau.. bisa saja
ini bukan ulah Choi Siwon untuk mendapatkan perusahan appa Kyuhyun.
Aku kemudian memutuskan
untuk menghubungi Jehee untuk mencari tahu keberadaan Kyuhyun.
“Jagiya, kau tahu
dimana kakakmu berada?”
“Wae?
Aku hari ini sedang sibuk menyelesaikan skripsiku. Belum sempat bertemu dengan
kyuhyun oppa. Terakhir kali aku menghubunginya saat makan siang.”
“Aku hanya ingin
bertemu dengannya saja. Tadi siang kau tahu dia makan dimana? Di kantor atau
diluar?”
“Sepertinya
di luar. Memangnya kenapa oppa?ada hal penting yang harus kau sampaikan?”
“Ne, seperti biasa,
masalah perusahaan. Hari ini kau bagaimana? Baik – baik saja kan?”
“Kau
tidak ingin menitipkan pesan padaku? Mungkin nanti malam aku bisa sampaikan
pada Kyuhyun oppa?”
“Tidak perlu, nanti
akan aku coba untuk mencarinya.”
“Ck,
sebegitu rahasianya kah? Apa kau tidak ingin membocorkannya sedikit padaku?
Eum.. inti permasalahannya saja? Bagaimana?”
Aku tertawa kecil
menanggapinya yang berusaha untuk aku membocorkan sebuah rahasia besar
untuknya. “kau ingin tahu? Intinya?”
“Saaaaaangaaaaaaaat.
Jadi, kau berniat untuk membritahuku?”
“Ani, tanyakan saja
pada oppa mu.”
“Yak!
Lee DongHae”
***
Cho Jehee PoV
KyungHee
University’s Library
13:43
PM
Seoul,
South Korea
Keningku
berkerut saat melihatnya berjalan mengarah padaku. Aku sangat mengharapkan
kesalahan dalam melihat kali ini. karena aku benar – benar ingin menghindarinya.
Dia terkesan begitu memaksaku untuk kembali mendekat belakangan ini.
“Kau sibuk?” Aku
menahan kekecewaan ku karena dia benar – benar datang untuk ku. Duduk di kursi
samping sambil menunjukkan wajah perhatiannya. Dulu memang, aku begitu terpesona
dengan wajahnya yang seperti ini. Tapi sekarang, tidak ada perasaan sedikitpun
yang tersisa hanya untuk sekedar tertarik dengan wajah tampannya.
“Sangat.” Jawabku
sekenanya. Berharap dia akan segera pergi setelah mendengar jawabanku.
“Mau aku bantu?” Aku
mengeluh kesal sembari mengumpat dalam hati. Sial, dia sepertinya tidak akan
menyerah untuk mendekatiku.
“Tidak perlu. Memangnya
kau tidak punya pekerjaan lain?” Ujarku dengan nada yang mula menunjukkan
kekesalanku. “Aku tidak suka kalau sedang sibuk seperti ini didatangi oleh..
kau.”
“Wae? Kau takut karena
tidak bisa konsentrasi?” Dia tersenyum disudut bibirnya. Menunjukkan sisi
ketampanan nya yang lain. Yang lagi- lagi tidak berkesan apapun olehku.
“Cih, memangnya sehebat
apa kau sampai mengganggu konsentrasiku? Pergi sekarang juga atau aku akan
panggilkan DongHae oppa untuk mengusirmu.”
“Memanggil DongHae
oppamu?” alisnya terangkat sebelah. Dan dia pun sedikit mengeluarkan tawa. “Dia
tidak akan datang, Jehee~a. aku yakin itu. Karena perusahaan dalam keadaan
genting tidak bisa dinomor duakan hanya untuk menolongmu.”
“Keadaan genting?” aku
akhirnya terpaksa untuk menoleh kearahnya. “Apa maksudmu?”
“Kau terlalu polos
untuk menanyakan itu padaku.”
***
Cho
Jehee’s bedroom
17:14
PM
Seoul,
South Korea
HyunSun
menghubungiku berkali – kali yang hanya aku respon dengan tombol merah.
Mengingatya yang begitu menyukai DongHae oppa membuatku mencantumkan namanya
dalam daftar orang orang yang akan aku matikan kalau saja Undang – Undang
tentang pembunuhan dihilangkan.
Sampai akhirnya Ah-Ra
eonni menyadarinya. Dia yang sedang berada di kamarku mulai merasa terusik
dengan bunyi ponselku yang terus berdering. Aku sebenarnya tidak mengerti
dengan ulahnya yang belakangan ini sering sekali mendatangi kamarku dan
mengerecoki semua isinya.
“Yak, kau tidak berniat
untuk mengangkatnya?” Ah-Ra eonni berdiri dari posisinya yang semula terduduk
di lantai kamarku sambil membaca beberapa majalahku.
“Tidak sama sekali.”
Sahutku cepat kemudian menyingkirkan ponselku menjauh dan melangkah menuju
kasur untuk merebahkan diri.
Ah-Ra eonni melangkah
menuju meja tempat aku meletakkan ponselku. Dia mengambilnya dan dengan cepat
menyodorkannya ke telingaku setelah dia menekan tombol untuk menerima terfon
tersebut.
Aku hanya bisa menatap
kesal ke arahnya karena suara cempreng HyunSun sudah terdengar dari sambungan
teleponnya.
“Kau
nyaris terlambat untuk mengangkat telfon dariku, Jehee~a”
Aku hanya mencibir tak bersuara setelah mendengarya.
“Memangnya kenapa? Apartemnt
mu kebakaran? Atau.. Malaikat maut sudah ada didepan pintu rumahmu?” sahutku
sekenanya. Yang direspon dengan mata Ah-Ra eonni yang membulat kearahku. Dia
terlalu baik menjadi manusia sepertinya. Kalau kyuhyun oppa yang disampingku,
pasti akan tersenyum puas melihat ulahku.
“Aniya.
Ini masalah DongHae oppa.” Ujarnya yang mebuatku semakin
memuncakan kekesalan padanya.
“Apa lagi? Kau kemarin
tidak mendengar perkataan Ha Gun? Kalau aku..”
“Yeoja
Chingunya? Hah, lelucon macam apa yang kau buat, Cho Jehee? Bahkan kalau kau
benar – benar yeoja chingunya, lalu untuk apa dia berjalan bersama yeoja lain
selainmu dengan sangat mesranya?bahkan dia bersedia untuk datang ke apartement
yeoja itu”
Aku terdiam. Nyaris
membeku mendengar perkataannya. “Yeoja lain? Maksudmu..?”
“Aku
menghubungimu karena sekedar ingin menanyakan padamu. Minuman kesukaannya itu
apa? Dan.. hal apa yang dia suka lakukan di waktu lenggangnya?”
“Apa maksudmu?” tanyaku
yang masih dibingungkan dengan maksudnya.
“DongHae
oppa datang ke apartementku. Dan kami sedang bersama. Kau.. tidak akan datang
untuk bergabungkan? Karena itu akan merusak suasana kami berdua.”
“MWOYA?! Yak! Sung
HyunSun, aku tidak tertarik dengan leluconmu.” Geramku kesal.
“aku
tidak bergurau. Ini kenyataan. Kalau kau tidak percaya ya.. datang saja ke
apartementku. Kali ini akan aku relakan untuk kau menghancurkan moment
bahagiaku. Tapi kau harus menjawab pertanyaanku tadi, eo?”
“Strawberry juice, ice
cream, menonton film.” Desisku dengan suara ku yang tersisa.
***
Cho Kyuhyun PoV
Aku terhenyak saat
mendengar suara dentuman pintu yang terdengar dari pintu kamar Jehee. Membuatku
yang baru saja berniat memasuki kamar terperangah olehnya. Kamar kami
berhadapan, jadi aku sangat bisa mengontrol dan mengetahui apa saja yang
dilakukannya.
Wajah mungilnya
terlihat dipenuhi oleh air mata yang sepertinya diusapnya dengan asal. Wajahnya
yang tertunduk dan rambut ikal panjangnya yang tergerai berantakan. Menunjukkan
hal yang membuatku sangat menghawatirkannya. Dia bahkan tidak menyadari
keberadaanku saat berjalan cepat keluar kamar.
Aku akhirnya memutuskan
untuk mengikutinya dari belakang. Menyingkirkan rasa lelahku yang menumpuk
untuk mengawasinya. Langkahnya menuju garasi rumah dan dia memasuki mobilnya
kemudian mulai mengemudi dengan arah yang sedikit kacau.
Aku bergegas mengambil
kunci mobil disakuku. Mengikutinya dari belakang. Aku bahkan mengikutinya dari
jarak yag bisa dibilang mudah dijangkau dengan kaca spionnya. Tapi dia tidak
menyadarinya sepertinya. Dia terus mengemudi dengan cepat dan berarah. Dan
mulai menuju.. apartement HyunSun?
Sial, ini pasti ulah
anak nakal itu lagi yang mencoba membuat Jehee berfikir yang tidak tidak. Dia
pasti mencoba menjebak DongHae hyung dalam perangkapnya. Tadi sore aku sempat
melihatnya ikut dalam mobil DongHae hyung. Dan sepertinya donghae hyung terlalu
ramah untuk orang sepertinya. Yang bisa sewaktu waktu menjebaknya dalam kondisi
yang sangat parah. Kehilangan yeoja dari genggamannya.
***
Lee DongHae PoV
Perasaanku mulai
bercampur aduk. Entah kenapa firasatku berubah menjadi buruk ketika melihat
HyunSun menutup sambungan telfon sambil tersenyum puas. Sepertinya ada hal yang
membuatnya senang saat aku tinggal ke toilet tadi.
Malam ini dia hanya
menawarkan untukku bertamu dengannya. Hanya ingin menjadi tetangga yang baik.
Itu alasannya yang membuatku berfikir tidak ada salahnya untuk datang.
“Kau menyukai ice
cream?” Tawarya sambil melangkah kearah dapur apartemennya. Yang hanya terpisah
dengan meja bar panjang dari ruang tamu tempat aku duduk.
“Sangat. Kau..
bagaimana bisa mengetahuinya?” jawabku sambil memperhatikannya yang
mengeluarkan ice cream dari lemari esnya.
“Hanya sekedar menebak
dan menawarkan yang ada dalam lemari esku.” Ujarnya sambil tersenyum. Dia cukup
manis. Tapi tidak begitu menarik untuk aku pandangi. Aku baru menyadari betapa
tertariknya aku untuk sekedar menatap mata Jehee.
“Sangat jarang untuk
seorang namja begitu menyukai ice cream. Bagaimana kau bisa menyukainya?”
tanyanya
“Cho Jehee. Dia sangat
menyukainya.” Jawabku singkat.
“Kau selalu menyukai
hal yang disukainya, ya?” dia melangkah kea rah sofa disampingku dengan dua
gelas yang sudah berisi ice cream.
Aku mengangguk kecil
sambil menerima gelas yang disorokannya.
***
Cho Jehee PoV
Aku melangkah dengan
berat menuju apartement HyunSun. Sebelumnya, aku sempat melewati apartment
Donghae oppa yang sepertinya masih terkunci dan belum dimasuki olehnya.
Sebuah tangan menahanku
saat aku akan menekan tombol bel apartement HyunSun.
“Kau sudah gila kalau
mencoba masuk” Desis kyuhyun oppa yang tanpa aku sadari sudah berada
dibelakangku. Dengan tangannya yang mencekram kuat lenganku.
“Wae? Aku hanya
memastikan omongan HyunSun. Kalau salah aku akan pulang kalau benar…”
“Kalau benar? Kau akan
apa? Ini hanya jebakan konyolnya saja, Jehee~a.”
“lepaskankan, oppa. Aku
akan membuktikannya sendiri.” Aku berusaha membrontak dari cengkramannya. Yang
sebenarnya akan sia sia karena tenaganya jauh lebih kuat dariku.
“Tidak perlu kau
buktikan sekarang. Itu hanya akan membuat kesalah pahaman. Kau ikut aku pulang
dengan tenang atau aku akan menyeretmu dengan paksa?”
“oppa, kalau kau benar
ingin melindungiku, biarkan aku menegtahui semuanya. Atau.. kau sebenarnya
sudah tahu dan hanya ingin membantunya?”
“Alasan apa yang tepat
untuk aku melakukan itu padamu? Dia temanku? Sebaik apapun temanku, bahkan Lee
Donghae sekalipun, kalau dia membuatmu menderita karena perlakuannya akan ku
jadikan dia sperti makhluk hidup tak bernyawa.” Jelas Kyuhyun oppa. “sekarang,
kau ikut aku pulang. Disini hanya akan membuang waktumu saja”
“Shireo~ya. Aku akan
tetap membuktikannya.”
“CHO JEHEE!”
***
Han Ha Gun PoV
“Jangan terlalu sering berterima kasih kemudian tersenyum
padaku. Aku tidak akan mungkin bisa terhidar dari dampaknya”
“Yepposeo, kau tetap cantik dengan pakaian apapun.. dimataku”
Kalimat itu selalu saja
tergiang diantara kegiatan kosongku. Sangat mengganggu. Berkali – kali aku
berusaha untuk berfikiran jernih dan menyadarkan diri dari kondisiku yang bisa
dibilang sangat terlewat batas normal
Padahal baru saja aku
kembali dari Korea setelah bertemu Kyuhyun sekitar dua hari yang lalu.
seharusnya wajahnya, seharusnya senyumnya, seharusnya perkataannya yang
menempel di otakku. Dan seingatku perkataan Kyuhyun jauuuhh lebih berarti dan
keren. Tapi kenapa jadi perkataan Baekhyun yang terngiang?
Sahabat
tidak berkemungkinan kecil untuk berubah menjadi pacar.
Sial. Perkataan Jehee
sewaktu dulu saat dia bersama Kai menjadi pendukungku untuk berfikir bahwa..
“Kau kenapa?” wajah itu
tiba tiba datang disaat yang menurutku sangat tidak tepat. Aku sedang terduduk
dengan penuh ekspresi yang memalukan. Sebenarnya ini dampak dari kekesalanku
yang mulai terkena pesona namja tampan dihadapanku.
“eo? Aniya, gwenchana”
aku segera merubah rautku kembali dingin. Berusaha untuk tidak membalas
tatapannya yang benar – benar terasa intens dihadapanku.
“Kau sudah makan?”
tanyanya.
Sial,
sial, sial. Kenapa aku malah mulai berfikir untuk membandingkannya dengan
Kyuhyun yang tidak pernah menanyakan isi perutku?
“Belum.” Jawabku, “Mau
makan siang bersama?”
Bodoh,
Han Ha Gun kau terlalu bodoh, untuk apa kau menawarkan makan bersama? Semakin
lama kau bersamanya, itu artinya.. tidak mengecilkan kemungkinan untuk..
semakin sulit mengatasi pesonanya?
***
TBC
di part ini emang agak atau mungkin emang banyakan tentang Jehee & DongHaenya. tapi nanti di part selanjutnya, dijamin. DongJe couplennya sedikit tersingkir. soalnya ntar yg dipermasalahin urusan Ha Gun sama Kyuhyun yang gak selesai - selesai ._.v
yaudah deh, tunggu komen ajaaaa
1 komentar:
Annyeong Eonni.. ffnya keren seperti biasa. tpi tdi ada satu kata yg agak asing bagi ku "disorokannya" (Lee DOnghae's POV) kenapa g di ganti pake "disodorkannya", ini cuma saran ya jgn marah.
btw kasihan bgt masalah Kyu-Ha couple g selesai2 but i'll still waiting until the end of this fanfiction.
Finghting!!!
Posting Komentar