Sabtu, 19 Mei 2012

You Are The best Oppa #4


You Are The best Oppa #4



ini akhir yang baik, lumayan. Karena takkan ada akhir cerita hidup yang seindah dalam cerita dongeng.
Walau semua terdengar baik, tapi akan selalu ada beberapa hal yang masih menyesakkan dada. Diakhir sebuah cerita kehidupan.

Author PoV
Pintu apartement terbanting keras, tanpa sempat donghae bukakan. Dengan segera donghae bangkit dari duduknya. Memasukkan hpnya kedalam kantung celananya. Berusaha bersikap tenang. Membiarkan tiga orag berbadan besar datang menghampirinya. Ini hanya sebuah permainan. Siapa yang paling tenang, dia pemenangnya. Begitu pikir donghae.
“nugundae?” ujarnya setelah tatapan mata mereka bertemu.
“tidak ingatkah? Betapa bodohnya kau ini huh?” salah seorang darinya menjitak keras kepala bagian belakang donghae yang kemudian di iringin tawa ketiganya.
“cih,” donghae mengelus pelan dengan gerakan meremehkan. Ini hanya sekedar lelucon murahan. “masih ada urusanmu kah?”
“hahahhaha,” satunya yang berwajah bulat tertawa dengan sedikit berkesan sinis. “sungguh kau kelewat bodoh, hae~a! urusan? Jelas banyak!” ada gertakan setelahnya.
“apa maksudmu untuk datang ke Jeju? Mencari tempat persembunyian kami, huh?”
“kau salah,” timpal donghae setelahnya. Tiga orang itu terlihat sedikit terkejut namun berusaha untuk menutupinya. Donghae berjalan menuju pintu apartement. “urusanku bukan dengan bos kalian, Jinho. Jadi, kalian lebih baik pulang saja!”
Mereka kembali terbahak. “berusaha untuk mengelak? Kami tahu isi otak bodohmu itu!”
“tidak, aku tidak mengelak. Karena aku memang tidak ingiin bertemu dengan Jinho kalian. Itu tidak penting!” tangan donghae terlipat didepan dada. Menatap tantang ketiga wajah bawahan Jinho yang sempat ditemuinya tadi saat pelarian spontannya.
“lalu?” yang ketiga akhirnya angkat bicara. “apa yang kau inginkan? Pelajaran dari kami?”
Donghae tetap berkukuh didepan pintu. Berdiri diam tanpa menanggapi. “katakana atau kami akan menghabisimu!” mereka sudah siap mengambil barang pecah belah yang terpampang di apartment donghae. Bersiap jikalauu donghae tetap tak bergeming.
“cepat, kami tak punya banyak waktu, hae babo!” salah sorangnya menendang tulang kering kaki donghae, namun donghae tetap terdiam. “katakan!”
Vas bunga yang ada di atas meja tamu tersingkir pecah oleh mereka. Dan nyaris menjatuhi kaki donghae, karena posisinya yang berdekatan.
“aku tidak ingin bertemu dengan bos mu Jinho,” donghae akhirnya angkat bicara dengan nada dinginnya. Ketiga wajah itu menatap nanar donghae.“tapi aku hanya ingin bertemu ayah dari bos kalian. Aku tahu, dia tidak ada di Amerika bagian manapun. Karena dia, ada disini!”
                                                           ***
“kau bodoh atau apa, huh?” kyuhyun mulai meninggikan nada suaranya
“aku tidak tuli! Tidak usah meneriakiku seperti itu!” sungut Hagun dengan nada sedikit lebih tinggi dari kyuhyun.
“yeah, kau tuli dan bodoh!”
“apa?!” ha gun bersedekap menatap kyuhyun tantang.
“kau,” kyuhyun menggeram, namun berusaha meredan emosinya. Berhadapan dengan yeoja satu ini memang sulit baginya. Banyak dampak yang dapat ditimbulkannya. “berteman dengan rival perusahaan ini.”
Ha gun terdiam sejenak. Kemudian mengeluarkan tawanya. “jinho? Hahaha, kau ini. dia saja baru tahu aku bekerja disini beberapa minggu lalu. Dan lagi pula dia terlalu lugu untuk menjadi rival”
“karena keluguan dan kebodohan palsunya, hingga dia bisa menjadi rival perusahaan ini.” kyuhyun menegapkan tubuhnya. “mendekatimu, teman karib kakaknya, adalah solusi termudah untuk mendapatkan informasi yang dia inginkan.”
“kakak? Setahuku dia anak tunggal. Dia tidak pernah menyeritakan adik atau pun kakaknya.”
“kali ini kau terlewat bodoh. Apa kau tidak menyadari marganya?”
Ha gun terdiam untuk berpikir sejenak. Matanya sedikit berputar, dan nalarnya nya mulai digunakan. “cho? Maksudmu? Kau kakaknya?”
Kyuhyun berdecak, mencoba sabar untuk menjelaskan pada lawan bicaranya kali ini. sungguh bodoh, namun semakin menyadari kebodohannya mengapa bisa jatuh hati pada gadis sebodoh ini. “bukan aku, tapi adikku.”
“mak..sudmu? Jehee?!” suara Hagun terdengar sedikit tercekat. Sungguh, ini sangat mengejutkan baginya. Yang dia ketahui hanya keluarga jehee yang bermasalah tanpa mengetahui seluk beluk siapa keluarga jehee.
“ne,” kyuhyun berdehem. “lalu? Apa kau masih ingin membuka mulut embermu ini pada Jinho?”
Ha Gun hanya menelan ludahnya, menyadari kesalahan dan maksud kemarahan Kyuhyun padanya. Sungguh, aku merasakan kebodohan sangat. Desirnya dalam hati. “aniya, aku berjanji. Akan membantu kalian.”
                                                                ***
Five Month ago,
Jeju island, South Korea
19 : 00 pm
Han Ha Gun PoV
Mataku terpejam menghadap pantai biru dengan pasir putih yang mengalaskan tempat dudukku. Malam yang indah dan aku sangat membutuhkan ketenangan. Berusaha mengurangi rasa sesak di sasaku. Pertempuran baru saja berakhir, dan ini akhir yang baik, sungguh. Tapi ada yang terburuk diantaranya.
Ini bodoh memang, karena takkan jauh dari sosok namja yang entah kenapa menghantui kehidupanku belakangan ini. awalmulanya aku sangat membencinya, sangat. Tapi entah magnet apa yang menarikku, sehingga aku berpikir takkan ada nafasku tanpa keberadaannya didekatku.
Cho kyuhyun. Dia akan pergi esok pagi ke luar negeri, entah dimana aku tak mau tanyakan. Mendengar kepergiannya saja sudah membuat sesak seakan nafasku terekut. Dia berusaha menghilangkan dan menjauh dari semua memori buruknya di setiap sudut Negara ini.
Kelumpuhan jehee karena luka tembak yang berasal dari senapan pamannya, ayah Jehee sendiri sudah membuatnya sangat meredam amarah. Kesal dan rasa pilu yang mendalam, aku tahu itu. Kyuhyun sangat menyayangi Jehee, dan dia tak ingin kehilangan keceriaan Jehee yang memudar disetiap harinya.
Kepergian Donghae yang entah kemana. Terakhir kali dia pamit untuk menemui ibunya di Busan, namun tak ada kabar kembali. Saat kami berusaha menghubungi rumah ibu donghae, dia mengatakan donghae tidak ada disana, dan entah kemana anak itu menghilang. Dan kematian appanya beberapa bulan yang lalu, menyisakan kepedihan tersendiri.
Memang, ini buruk untuknya dan dia harus mencoba menghapus semua memori menyakitkan itu. Dan kembali untuk mental yang lebih kuat, untuk membimbing Jehee kembali. Ini sangat baik untuknya, tapi aku rasa sangat berdampak buruk bagiku. Sungguh.
“kau tidak pulang?” mataku terbuka seketika mendengar sahutan suara yang kukenal.
“ne? eum.. aku hanya ingin menikmati ketenangan, sejenak.”
“mianhae,” Jinho duduk sila disampingku kemudian menunduk. “sungguh aku sangat meminta maaf padamu atas semua ini. appa terlalu keras kepala.”
“gwenchana. Aku akan memaafkanmu, dengan syarat yang harus kau penuhi.”
“apa? Aku berjanjin akan memenuhinya dengan sungguh-sungguh” ujarya serius, membuat senyum simpul dalam bibirnya.
                                                               ***
Cho Jehee PoV
“kalian pikir hanya ini, yang mampu membalas semua kesalahannya?” tawa appa menggelegar, seakan sekumpulan orang jahat dalam drama korea yang aku tonton sedang mendapat permainan baru.
Aku hanya terdiam dalam tempatku. Berdiri terpaku, dan menguatkan mentalku. Ha gun ada disampingku. Dia menggenggam erat pergelangan tanganku. Aku tahu, ini bukan hal yang paling menakutkan baginya. Dan malah, ini menjadi hal terseru baginya. Tapi dia sahabat yang baik, sama sayangnya dengan kyuhyun oppa padaku.Donghae oppa berdiri dengan ancang ancang nya. Sesekali dia meihatku, dan berusaha memastikan kalau aku akan baik baik saja.
Ini semua bermula karena appa yang akhirnya turun tangan. Setelah kematian Cho ajjushi, beberapa hari lalu, appa memberanikan diri untuk menunjukkan dirinya. Tidak sia-sia kunjungan donghae oppa ke Jeju, yang akhirnya dapat memancingnya keluar.
“pergi dengan harga diri yang sebenarnya sudah jatuh, aku yakin itu. Dia mengucapkan kata yang sungguh melecehkanku malam itu! Apa kalian mau, membayar rasa sakitku akan perkataan, huh?” appa berujar kembali, dengan tawanya. Membuatku bergetar hebat. “jehee! Itu ibumu, anak malang! Sama sepertimu! Menyusahkan dan tak tahu diuntung.”
“sakit jiwa!” Ha Gun menatap tantang appa yang akhirnya beralih menatap Ha Gun. Dia tidak bergetar takut sedikitpun, dan aku salut untuk itu. “kau pikir, dengan menyamakan darah dagingmu dengan seorang ibu yang kau pikir bejat itu baik? Bodoh! Seharusnya kau berusaha menyelamatkannya dari kesamaan itu!”
“hah! Jadi ini, pasukan baru kalian?” sudut tempat ini terlalu kecil, jadi tak ada tempay untuk aku dan Ha Gun mundur saat dia memajukan tubuhnya mendekat pada kami.
“jangan sentuh dia, jika kau tidak ingin mati sekarang.” Aku menoleh, menatap kyuhyun oppa dengan senyum simpulku. Hebat, dia akhirnya menunjukkan ke khawatirannya disaat genting ini.
“mati? Omong-omong mati, aku turut berduka cita dengan kematian kakakku.” Dia tersenyum kecut, kemudian mengeluarkan sebuah benda dari saku celananya. Dengan tatapan menyeramkan appa mendekatiku. Sebuah senatapan yang mulai terulur.
“siapa yang inginkan mati terlebih dahulu? Kau? Kau? Atau kau, Cho kyuhyun?” donghae mulai menatap awas padaku. Dia tahu apa yang dimaksudkan appa sepertinya, tapi sayangnya aku sama seklai tidak mengerti isyaratnya.
“tidak, sepertinya hanya satu orang yang dapat menyembuhkan dendamku.”
Dengan cepat donghae oppa berlari, dan aku hanya menatap bingung, karena entah kenapa perutku terasa mual dengan ini semua. Tempat ini, tempat yang sama ketika aku ditinggal pergi eomma, dan semua pikiran itu berputar, mengganggu konsentrasiku.
JEHEE~A!” kyuhyun oppa menarik lengaku, berusaha menarikku kedalam dekapannya. Tapi terlambat. Suara senapan itu terdegar. Kakiku melemah, dan aku hanya bisa merintih. Rasanya sangat sakit dan aku tidak mampu melakukan apapun.
Kyuhyun oppa menopongku dengan tubuh berggemetar, “gwenchana? Jeballyeo,, kau harus bertahan, Je~a” dia membopongku masuk kedalam mobil, ketika semua terasa gelap, dan aku merasakan rasa sakit itu lenyap, entah kemana.
“malam yang indah bukan? Bintangnya sangat banyak.” Eomma duduk disudut kasur ruang inapku dengan senyum manisnya, dan aku hanya terdiam. Menatap jendela ruangan dengan pilu.
“oppa,” suaraku bergetar. Entah kenapa aku sangat ingin meneriaki sebutan itu. Mereka, oppa ku yang terbaik. Yang dengan sabarnya menuntun jalan hidupku yang sempat tak terarah, menyandangku sebagai predikat adik terhebat dalam dunia ini, dan membuatku merasa sebagai orang yang paling beruntung karena memilikinya. Tapi dimana mereka? Karena sungguh, hanya itu yang aku inginkan sekarang. Bukan keindahan malam yang dilbih lebihkan eomma.
Sekarang aku lebih merasakan posisi seorang oppa yang lebih berharga dibandingkan sosok eomma yang dulu kutangisi. Aku menginginkan eomma ada disampingku, tapi aku lebih mengingikan mereka, sungguh.
“kyuhyun oppa mu akan datang sebentar lagi,” eomma sepertinya mengerti maksudku, dan aku menunggu penjelasan selanjutya. “kamu makan dulu ya?”
“dongahe oppa.” Ujarku akhirya, eomma selalu saja menghindar dengan pertanyaan itu. “dimana dia?”
Eomma tersenyum, menatapku sabar. “dia ada, masih ada disekitarmu. Dan takdir yang akan mempertemukan kalian kembali” aku terdiam, menyimak perkataan eomma. Ya, hanya takdir yang menentukan. Karena takkan ada langkahku untuk mencarinya untuk saat ini.
“adakah adikku disini?” suara berat kyuhyun oppa terengar dari sudut ruangan. Dia datang dengan tentengan ditangannya, dan aku tidak begitu tertarik dengan itu.
“tentu saja, oppa” aku menoleh kearahnya, memeluknya dan memberikan ciuman singkat pada pipinya. “kau bawa apa?” tanyaku akhirnya yang mulai penasaran dengan bawaannya.
“tara! Ini untukmu” kyuhyun oppa mengeluarkan isi dari tas kertas yang dibawaya kemudian menyodorkan sebuah novel padaku. “aku membelinya tadi, dan kupikir pengarangnya sangat hebat! Aku menyukai gaya dia berbahasa dan menyampaikan cerita.”
Aku tertawa kecil kemudian menjitak kening kyuhyun oppa. “kau bodoh, ini novelku!”
                                                               ***
Cho kyuhyun PoV
Ini bukan akhir yang menyakitkan tentunya. Hari ini memang pasti ada, dan memang harus ada. seusai aku menemui Jehee diruangannya, aku menemui dokter yang menanganinya. Dan bukan hasil yang buruk, ini sangat hebat! Jehee bisa berjalan kembali.
Aku membatalkan penerbanganku untuk ke America segera, dan menyerahka semua perusahaanku ketangan Jinho, dan berniat untuk menghabiskan waktuku beberapa bulan bersama adikku yang sangat aku pertahankan dalam hidup ini.
Semua akhir buruk dalam permasalahan ini terasa lenyap dan hilang begitu saja. Sungguh, aku sanat berterima kasih kepada tuhan untuk ini semua.
“dia sudah sembuh sepenuhnya,” dokter itu tersenyum. “hanya butuh berlatih kembali untuk berjalan, karena tungkai kakinya sudah lama tak digunakan, jadi harus dilatih kembali” kalimat itu sungguh jauh lebih berharga dari pemujaan terhadap diriku tentang hal apapun.
Aku melangkah masuk kembali kedalam ruang inap Jehee, dan menatapnya dengan senyum terulas dalam bibirku.
“kau tahu? Mengapa aku selalu bisa mengatasi banyak hal?” ujarku dengan nada sedikit berlagak. Dia mengercutkan bibirnya kemudian menyahut dengan datarnya, “karena kau terlalu jenius, cho kyuhyun-ssi”
“yak, apa yang sudah Ha Gun ajarkan padamu, huh? Sejak kapan kau memanggilku tanpa sebutan oppa?” sahutku protes saat mendengar namaku disebutkan dengan nada yang sama seperti Ha Gun.
“mian, mungkin kau marah karena aku menggunakan kalimat Han Ha Gun mu itu, haha” ujarnya yang kemudian menertawaiku.
“adik bodoh, kau sudah sembuh sekarang!” tanganku mengacak ringan rambutnya. Kalimat itu kahirnya aku sampaikan segera, “ kau sudah bisa berjalan sekarang"
                                                                       TBC
heiii, fad. mian yaa kalo rada aneh cerianya, sedikit gak nyambung._.v tapi yaa, tunggu end nya deh. aku bakal bikin special buat kamu (;. hehe, buat readers, thanks udah mau mampir. ditunggu komentarnya yaa.

Selasa, 15 Mei 2012

dear, diary

really, you know what it feels guilty?
I feel it, really. 
tapi bukan sepenuhnya salahku. ini masalah perasaanku yang tidak bisa terus menerus kutahan. dan sekarang hanya bisa bisa memendam, karena dia sedang ada, dengan yang lain.

dia, dulu pernah ada dalam hariku, dulu pernah ada dalam kisahku, dan dulu pernah ada dalam cerita ceritaku. lalu kini? entah kemana ceritaku dengannya. dan ini menyakitkan. dia pergi dengannya, yang dulu pernah dikatakan 'terpaksa' tapi sekarang? sepertinya bukan kata terpaksa lagi yang pantas, melainkan dia yang memaksakan diri untuknya, sekarang. This is very bad for me. I feel the worse.
disisi lain hadir sosok lain, yang kupikir lebih baik. tapi sungguh, kehadirannya memang menghibur dan membuatku lupa akan dia sejenak. but not for long, and all my memories with herrepeated, again and again: (

Rabu, 09 Mei 2012

Cho Kyuhyun? ._.

hei~ cuman mau nge share, siapa kyuhyun dalam arti kehidupan gue, dan siapa itu kyuhyun yang gue kenal. nyepam dikit boleh yaa? hehe

Cho kyuhyun. tak jarang yang mengenalnya, pasti. tak jarang pula yang megaguminya dan menyandang namanya sebagai idola, tentu. tak terkecuali aku. dia yang mampu membuat gerakan tanganku terhenti di sebuah halaman majalah asia. waktu itu aku sama sekali belum mengetahui keberadaannya dalam Super Junior. gambaran wajahnya terpampang dalam gambar yang terbingkai. memperlihatkan bentuk wajahnya yang membuatku terhenti, sejenak. mencari nafas yang baik.

tapi tak hanya kemempesonaannya yang dimiliki.
suaranya. kau pernah mendengar? itu membuat nafasku terikat mati. hatiku bergetar dengan alunan indahnya dan jantungku nyaris mencolos dari tempatnya. 
gerakan dancenya yang mulai mahir, menggantikan posisi bias utamaku masa lampau, Hangeng oppa. 

kyuhyun memang termuda, tapi dia yang tebaik. menurutku.
terbaik dalam menarik hatiku untuk menjadi pengagumnya, terbaik dalam membuatku merasa sangat amat menyayanginya.
sedikit berlebihan, tapi memang itu yang ada. Cho Kyuhyun dalam Hidupku.
alasan untuk mengaguminya jujur, sangat banyak. karena dia sosok berbakat yang mempunyai banyak talenta.

hal apa yang membuatku tergila padanya?
saat dia bernyanyi dengan spontannya dan mengubah gaya rambutnya menjadi meninggikan poninya dan memperlihatkan keningnya.
hal tekeren dari seorang Cho Kyuhyun?
saat dia tampil diatas panggung dengan kemampuannya yang luar biasa


like it?




You Are The best Oppa #3


You Are The best Oppa #3




Semua kendali ada pada satu titik tumpu yang kini rapuh,
semua solusi ada padanya, namun aku tak mau bergantung,
apa yang harus ku lakukan sekarang, oppa?


Han ha gun PoV
Ada yang aneh dengan kondisi perusahaan seminggu belakangan ini. firasatku mengatakan buruk, tapi aku tidak ingin itu benar terjadi. Karena semua hal yang menunjukkan, seperti ada kegentingan dalam perusahaan ini.
Aku tidak terlalu mengetahui itu apa, tapi aku yakin. Ada sangkut pautnya dengan perubahan sikap jehee dan kyuhyun. Jehee sempat bercerita padaku waktu itu. Hanya sebatas kembalinya kedua orang tua dala kehidupannya yang membuatnya kembali terpuruk.
“pulang bersama mu lagi?” aku menaikkan sedikit alisku.  Meliriknya heran.
Dia masih dalam diam. Membuka pintu penumpang yg ada didepanku. Wajahnya berusaha terlihat tenang dan member tanda untuk menyuruhku masuk. “kau aneh.” Dengusku.
Jinho menatapku sejenak, kemudian taklama berlalu untuk memasuki mobil dan mengendarainya, dalam diam.
Sudah hampir satu minggu ini mengantarku ke kantor sekaligus menjemputku. Aku mengenalnya. Sesaat sebelum aku berangkat ke London untuk melanjutkan sekolah disana. Dia adik kelasku sewaktu SMA, tentu saja aku mengenalnya.
Seminggu yang lalu dia menemuiku. Lewat direct massage di mengajakku untuk mengobrol santai di sebuah café. Dia anak yang lumayan asik, sekarang. Berbeda dengannya dulu sewaktu SMA. Terlihat tertutup dan pendiam.
Tapi anehnya, setiap kali aku menanyakan alasannya mengantar jemputku kekantor, dia lebih suka terdiam, atau mengalihkan pembicaraan. Pernah sekali dia menjawab. Hanya untuk menjadi teman dekat saja, katanya.
“kau tinggal dimana sekarang?” aku akhirnya membuka pembicaraan dengan pertanyaan yg memang membuatku sedikit penasaran tentang itu.
“disebuah apartemen t kecil dekat namsan tower, mungkin lain kali kau bisa datang, hanya untuk sekedar adu games dengan ku?”
“cih, jangan tandingi kemampuan games mu denganku.”
“dan jangan juga remehkan kemampuan ku, eonnie.” Ujarnya dengan sedikit penekanan di kata terahir.
“jangan memanggilku eonnie lagi, kalau kepalamu tidak ingin kupenggal.”
Ada jeda tawa setelahnya. “gun~a. sejak kapan kau bergabung dengan GK cooperation?”
Aku sedikit berfikir, mengingat kapan aku mulai begabung. “cukup lama, sekitar dua tahun yang lalu, wae?”
“hanya basa basi saja, hahaha.” Aku hanya tersenyum menanggapinya.
“kalau kau? Bekerja dimana? Kau tahu,kau ini seperti orang tidak punya kerjaan.”
“bodoh sekali kalau kau menyangka aku seperti itu. Bagaimana bisa aku setiap sebulan sekali datang ke jepang untuk menemui appa. Dan bagaimana juga aku bisa hidup dengan kondisi seperti ini, huh?”
“mian. Lalu, kau bekerja dimana?”
“penulis. Kau tdk pernah membaca buku ku?”
“yang mana? Banyak buku yang aku baca, tanpa melihat pengarangnya. Karena kurasa itu kurang penting.”
“salah satunya yang paling popular damn house, mungkin kau pernah medengarnya.”
“oh! Aku tahu itu, dan aku sempat meminjamnya dari Jehee. Ceritanya keren.”
“jehee onnie? Dia mempunyainya?” suaranya sedikit bergetar saat mengatakannya.
“yah, memang kenapa?” ujarku dengan sedikit penasaran
“tidak apa apa, sepertinya kita sudah sampai.” Aku hanya tertegun melihat sikap dinginnya kali ini, entahlah. Dia selalu terlihat begitu kalau menyangkut tentang jehee.
                                                         ***
Cho Jinho PoV
“ne, appa”
Aku menutup sambungan telepon yang menyambungkan ku beberapa menit lalu dengan appa. Menjatuhkan tubuhku ke sofa empuk yang tertera pada ruang tamu kecilku di apartement yang aku diami. Mendesah pelan.
Ini sulit bagiku. Sangat. Tapi entahlah, mungkin untuk sekarang aku akan menuruti semua perkataan appa selama itu tidak membahayakan nyawa jehee eonnie.
“JinHo~a!” aku tersentak, saat suara ketukan pintu yang cukup keras terdengar dari sisi sebrangku.
Aku berjalan perlahan. Mendekatinya,  dengan perasaan sedikit gugup. Karena aku rasa, aku mengenal suara itu. Aku mengenal gaya amukan itu. Dan aku berharap bukan dia. Sungguh, ini bukan saat yang tepat untuk menemuinya.
Baru saja aku membuka pintu sedikit celah, pintuku terbanting seketika oleh sosok yang mengunjungiku. Aku berusaha tenang, menanggapinya. Memberikan tanda padanya untuk masuk dan duduk di sofa yang tadi aku tempati.
“apa kau gila?” aku mengernyit. Mencoba mengartikan maksud dari perkataannya.
“apa?” tanyaku akhirnya setelah menyerah untuk berpikir lebih jauh.
“untuk kembali ke seoul.”ujarnya dingin.
“aku memang sudah berada di korea dari tiga tahun yang lalu.” Sahutku, dan itu memang benar. Aku sudah kembali ke korea dari tiga tahun yang lalu. Dan baru saja aku kembali kehadapan kehidupan jehee, sekarang. Itu baru benar.
“cih, tidak bisakah kau bekerjasama denganku, huh?” sungutnya kemudian. Aku tertawa kecil. Kemudian terdiam, bepikir sejenak.
“otak jeniusmu tidak berungsi lagi? Samapai mengajakku bekerjasama denganmu.” Aku menyuguhkan sekaleng minuman ringan padanya.
“sekarang, kau tidak sedang berpihak pada ajjushi kan?” dia penuh penekanan dalam kalimat ini.
“maaf, kali ini aku berada dipihak appa.” Aku kembali merautkan wajah serius. “kau salah, kalau meminta bekerjasama denganku, cho kyuhyun.”
                                                                    ***
Aku melangkah kan kakiku mantap kepintu utama sebuah gedung beringkat sepuluh yang megah dihadapanku. Gedung ini tak kalah kerennya dengan gedung perusahaan GK cooperation. Letaknya pun tak jauh. LD Cooperation. Perusahaan milik Lee donghae.
Tidak sulit untuk mengetahuinya. Han ha gun cukup bisa menjadi sumber tepercaya. Dan tentunya, ini tanpa sepengetahuan Jehee. Mudah saja, katakan kalau aku sempat terlibat masalah dengan Jehee saat Jehee lulus SMA, dan kami tidak akan sanggup untuk bertemu kembali.
“sudah mempunyai janji?” tanya seorang resepsionis yang menyambutku tak jauh dari pintu masuk.
“belum, tapi kami akan membuat janji. Setelah ini.” yeoja itu sedikit mengernyit, menatapku bingung. Mungkin karena kata kataku.
Kemudian dia mulai menarik gagang telepon dan berbicara sedikit dengan orang disambunga telepon dengan sedikit serius. Tak jarang dia memangut mangutkan kepalanya, yang aku yakin itu tidak akan terlihat oleh peneleponnya.
“baiklah, apa anda tuan Cho JinHo?” ujarnya sesaat setelah menutup teleponnya.
Aku berusaha menyimpan keherananku, kemudian mengangguk. Dan resepsionis itu menuntunku menaiki lantai tiga kemudian mempersilahkan aku untuk masuk.
“donghae hyung.” Tegurku dingin.
                                                                   ***
Lee Donghae PoV
Sesulit apapun itu, aku yakin. GK Cooperation adalah perusahaan yang kuat. Sekalipun mereka mendapat kelemahan, aku harus membantunya.
“donghae hyung.” Seseorang telah memasuki ruangan kerjaku.
Aku membalikkan tubuhku yang sedaritadi menatap jendela besar ruangan. Menatap penuh simak pada namja yang bisa dibilang berdiri gagah dihadapanku. Dengan setelan jas rapihnya dan jam tangan bermerek yang aku ketahui itu bukan barang yang mudah dibeli dengan harga wajar.
Sejam yang lalu, kyuhyun menemuiku. Menceritakan semua hal atau kemungkinan yang akan terjadi. Kyuhyun tidak bodoh, tentu saja. Dia mempunyai pemata yang lebih terpercaya dan jalan pikir yang lebih menjebak dari pada yang dimiliki jinho.
Wajah JinHo terlihat sedikit lebih dewasa sekarang, walaupun tidak sepenuhnya dewasa. Dia masih terkadang berlagak kekanak kanakan sedikit.
“lama tak bertemu.” Sapaku kemudian menyilahkannya untuk duduk.
“yeah, lama tak bertemu.” Ujarnya dengan nada yang sedikit penuh arti.
“aku tidak punya banyak waktu, hyung. Hanya beberapa kalimat untuk menyampaikannya.”
Aku menagngguk, mempersilahkannya untuk berbicara.
“tinggalkan Jehee, karena itu akan berdampak buruk bagimu. Jehee atau perusahaanmu yang akan hancur. Bukan hanya dua pilihan, karena aku masih cukup baik padamu. Cho kyuhyun. Aku yakin kalian akan bekerjasama dalam menyelesaikan hal ini. tapi sungguh, kau akan melihat keterpurukanmu beberapa waktu lagi kalau kau masih ingin bekerja sama dengannya. Sunguh, aku tdk bergurau kali ini.”
                                                             ***
3 days latter~
12 – 04 - 2012
Namsan Tower, South Korean
19:00 PM
Tanganku menulis santai dalam selembar kertas kecil yang sudah aku siapkan sebelumnya. Dan sepasang gembok berwarna orange yang masing masingnya dilambangkan huruf kami. D~J. semua kalimat yang aku rangakai seindah mungkin.
Disampingku dia duduk tenang, dengan pena hitam digenggamannya. Menulis denan asiknya, tanpa menyadari helaian rambut panjangnya yang berterbangan tertiaup angin, membuatnya sedikit berantakan.
Tanganku terulur untuk merapihkan anak rambutnya. Dan dia mulai tersadar. Mendongakkan kepalanya yang sedari tertunduk ringan menata tulisannya, dan beralih menatapku dengan senyum simpulnya.
“oppa,” dia menghela napas setelahnya. “apa kau yakin, ini akan berhasil?”
Aku membenarkan dudukku menjadi lebih nyaman dan menatap manik matanya. Berusaha meyakinkan bahwa perkataanku serius.
“pasti, dan semoga saja.” Tanganku menyelipkan anak rambutnya ketelinga kirinya sebelum kemudian beralih menggenggam tangannya. “aku pergi hanya sebentar, tak lama. Sampai semua ini selesai, dan janji serta harapan kita akan terpenuhi secepatnya.”
Jehee sempat memanyunkan bibirnya, tapi setelahnya ia tersenyum, sangat manis. Dan mungkin ini menjadi senyuman termanis terakhirnya sebelum aku meninggalkan seoul. “gwenchana oppa, aku sama sekali tidak mempermasalahkan kepergianmu. Karena aku tahu, itu yang terbaik.”
“eo, jehee~a. apa kau ingin ikut denganku?” ujarku setelahnya.
“mwo?” dia membulatkan matanya. “maksudmu bukan untuk ikut pergi ke Jeju denganmu kan?”
Aku tertawa, nyaris terbahak. “bodoh, maksudku, apa kau mau ikut aku masuk dan mengelilingi namsan tower ini, je~a”
Dia mengercutkan bibirnya dan tertunduk malu. Dan aku menghentikan tawaku. “kajja.” Aku menarik jemari tangannya untuk mengikuti langkahku. Dan dia hanya berjalan membuntutiki dibelakang.
Kami melewati hari ini dengan semua canda dan tawanya. Ini kali pertama kami berjalan bersama hingga sejauh ini. mengitari kota seoul seharian. Aku tak peduli seberapa lelahnya setelah ini. mendapatkan kaki yang pegal karena berjalan terlalu banyak. Itu tidak terlalu penting. Yang aku butuhkan hari ini hanya satu. Membuat kenangan dengannya sebelum aku meninggalkan seoul yang aku sendiri takkan yakin, kapan aku kembali.
Malam sudah mulai datang. dan kami memutuskan untuk pulang dengan berjalan kaki dari halte bus yang letaknya tak cukup jauh dari rumah Jehee.
“oppa, kau ini seperti besok ingin mati saja.” Dia mengoceh sambil menyamakan langkahnya disampingku.
“kau tahu?” aku menghentikan langkahku kemudian menghadap kearahnya. “meninggalkanmu mulai besok, sama saja neraka bagiku.”
                                                         ***
Jeju Island, South Korea
15 – 04 - 2012
10:00 am
Donghae’s apartment
Nafasku berhenti terengah. Terlepas dari kejaran maut yang sangat membahayakan, aku tahu itu. Baru saja tiga hari aku menetap, kecurigaan itu mulai muncul. Mereka memang berpusat disini, pulau Jeju.
Tanganku segera menyambar ponsel yang ada di meja hadapanku. Mencari nama dalam kontak ponselku yang tersimpan. Dan segera meneleponnya tanpa perlu mengatur nafasku yang masih terengah akibat pelarian spontanku.
“kyu~a!” nafasku mulai teratur kali ini, dan segera saja tersambung.
“ne hae~a. otte?”
“mereka menyimpan semuanya dalam sebuah tempat yang tak jauh dari pantai utara Jeju.”
apa kau yakin kau aman sekarang?”
“entahlah, tadi ada tiga orang penjaga yang nyaris mengetahuiku.”
Belum sempat aku melanjutkan pembicaraanku dengan kyuhyun, pintu apartementku terketuk. Tanganku membeku, dan detak jantungku berdenyut lebih cepat. Tidak mungkin, takkan ada satu orang pun yang mengetahui keberadaanku disini. Selain kyuhyun, dan Jehee.
                                                                 ***
Author PoV
Seoul, South Korea
Kyuhyun’s House
15 – 04 -2012
21 :00 pm
Malam yang mencekam, sangat. Di kediaman rumah keluarga Cho yang berdiri megah ditengah kota Seoul. Lokasinya strategis dengan berbagai tempat. Tidak, bukan strategis, tapi semuanya memang ada didalam sana. Sungguh.
Lapangan parkir yang biasanya hanya untuk mengandangkan mobil, di dalam sana digunakan untuk tiga hal. Mobil, pesawat dan helicopter pribadi. Tamannya pun juga bukan sembarang taman orang kaya biasa yang hanya ada berbagai bunga dan labirin yang cukup besar. Disana, ada sekitar satu juta macam bunga yang beragam dari berbagai negara. Ditata dengan secantik mungkin yang jika dilihat dari atas menggunakan helicopter akan membentuk labirin silsilah keluarga Cho. Dan ditengahnya terdapat air mancur yang berada dalam tengah kolam yang menyerupai bentuk air terjun yang menurun kebawah tanah taman.
Jika ingin mencari bahan pangan, tak perlu lagi untuk mencari ke supermarket yang harus mengeluarkan tenaga untuk keluar rumah. Didalam sana sudah terdapat minimarket keluarga yang canggih. Hanya berbentuk petakan 10x10 meter, tapi semua yang diinginkan ada. tepatnya, ada dalam mesin pangan. Apa yang kita inginkan tulis saja dalam keyword yang ada. tak perlu menunggu sampai lebih dari tiga menit, yang kita inginkan akan keluar.
Tempat fitness atau kolam renang pun ada. lengkap dengan fasiltas canggihnya. Begitu juga dengan kebutuhan lainnya. Semua terpenuhi dengan mudahnya. Dan semua bersal dari satu. Cho kyuhyun. Dia mempunyai otak yang sangat amat jenius hingga mampu menyiptakan segala macam tegnologi yang ada dirumahnya, bahkan di korea.
Tak banyak yang tidak mengetahuinya. Dari kalangan pengusaha hingga anak anak pun mengenalnya. Dia sejujurnya belum dikatakan pemilik resmi GK cooperation. Karena sebenarnya masih ada campur tangan ayahnya yang berkuasa. Semua kendali ada padanya.
Tapi sungguh, mala mini sangat mencekam didalam kediaman keluarga Cho. Terutama dalam kamar utama. Kyuhyun berdiri tegang menatap sosok ayahnya yang masih terbaring tenanga dengan pemeriksaan dokter. Dan ibunya hanya terdiam dalam tangisnya.
Beberapa menit yang lalu ayah kyuhyun jatuh pingsan ambil memegangi dadanya yang sempat dikatakan sakit. Dia terjatuh sungguh tiba tiba membuat kyuhyun, Jehee dan istrinya terpaku kaget. Kyuhyun sempat menyuruh Jehee untuk segera tidur karena larut malam, jadi tak ada Jehee didalam sini. Karena kyuhyun tau, ini akan menambah kekhawatiran Jehee.
“saya kurang yakin dia bisa melewati masa kritisnya ini.” ada helaan nafas setelahnya. “kondisinya sangat lemah.”
Kyuhyun kemudian memberikan tanda kepada dokter pribadi keluarga Cho yang kebetulan sahabat karib ayahnya untuk berbicara diluar. Karena dia tahu, tidak baik jika hal yang lebh buruk yang akan disampaikannya terdengar sampai ketelinga ibunya. Ini akan menjadi beban hidup untuknya.
“apa selama ini dia tidak pernah memeberitahukanmu tentang penyakit dideritanya?” dokter itu melepaskan stetoskop yang sedari tadi melingkar dilehernya.
Kyuhyun menggeleng kemudian menatap serius kepada sosok dokter dihadapannya. “aniya, sama sekali tidak,” kyuhyun mengambil tempat duduk di sofa depan pintu masuk ruang tidur ayahnya. yah, tentu saja. Kamar ini dilapisi berbagai macam ruangan. “lalu, apa yang sebenarnya appa derita, ajjushi?”
Dokter yang biasa disapa ajjushi itu menghela nafas untuk kedua kalinya. Sepertinya ini terlalu berat untuk disampaikannya. Karena memang sebenarnya sahabat yang dikenal semenjak duduk dibangku smp ini tidak ingin menyampaikan kepada keluarganya, dan dia ingat pesan itu. Tapi penyakitnya harus segera disembuhkan. Karenanya dia akan memberitahukan hanya pada satu anggota keluarga Cho saja yang menurutnya akan membantu. Cho kyuhyunn.
“penyakit yang hanya diderita sedikit orang di dunia. Dan ini sangat membahayakan. Sungguh, aku tidak main-main dengan perkataanku. Dan, kyu~a” tangannya menepuk ringan pundak kyuhyun dengan tatapan mata penuh harap. “tolong jangan sampaikan penyakitnya dengan siapapun, karena ini keinginannya, kau juga kumohon berpura untuk tidak tahu dihadapannya. Dan satu lagi,” kini suaranya semakin bergetar putus asa. Kehilangan sahabat tedekatnya sama sekali bukan maunya. Dia sangat mengigiinkan kesembuhan, tapi semuanya tersa buntu. “jebalyeo kyuhyun~a. kali ini aku sangat membutuhkan bantuanmu.”
Cho Jehee PoV
Perasaanku begitu tergelitik untuk ingin tahu. Aku berjalan menuruni tangga lantai satu tempat kamarku berada menuju lantai dasar kamar utama Cho ajjushi. Dia jatuh sakit, dan aku sangat menghawatirkannya tentu saja. Tapi kyuhyun oppa menyarankanku untuk segera tidur. Aku hanya mengiyakan, tapi tidak sepenuhnya.
Karena ruang yang ada didalamnya berlapis aku hanya sempat untuk membuka pintu ke dua menuju ruang tidur. Seketika aku terlintas untuk membuat kejutan pada ajjushi. Aku menyempatkan diri untuk keruang makan dan membuatkan susu hangat dan roti panggang untuknya. Kemudian kembali berjalan. Tapi semuanya terhenti disana. Seperempat pintu terbukan pelan olehku, dan semua terasa mencekam.
Kakiku bergetar hebat, dan jantungku nyaris terjatuh dari tempatnya. Mataku menatap tak menentu. Kalau saja aku menuruti kata kyuhyun oppa kali ini untuk tidur dengan nyenyak dan dapat menyongsong pagi dengan baik esok. Namun semuanya sekarang sudah terlanjur. Aku medengarnya. Semua.
Nampan yang tadinya kau bawa dengan perasaan tenang kini seudah bergetar dan nyaris aku jatuhkan. Yang aku takuti bukan hanya penyakit yang diderita Cho ajjushi. Tapi juga GK cooperation yang ada di dalam kendalinya. Terlebih sekarang. Appa akan memulai permainannya.
                                                                ***
“babo!” akuu menghentakkan meja kerjaku kesal. Dan semua menatapku heran. Aku yakin, wajahku sudah tak kauan lagi ekspresinya. Ini karena ulahku semalam yang terlalu terkejut dan akhirnya menjatuhkan piring yang aku bawa. Kyuhyun oppa mendengarnya kemudian menatapku dengan kening berkerut. Tapi entah kenapa dia bukannya memarahiku seperti biasa, malah memelukku dengan mengucapkan kata kata yag sangat menyentuh. “bantu aku Jehee~a. semampu yang kamu bisa”
“wae, Jehee~?” Ha gun menatap datar diriku yang akhirnya menjatuhkan diri pada kursi kerjaku.
“tidak apa-apa, hanya sedang kesal.” Aku meletakkan barang barang bawaanku.
“dengan?”
“siapa lagi kalau bukan kyuhyun oppa”
“tumben”
“apa?”
“tidak biasanya kau merasa kesal dengannya”
“aku tidak marah. Hanya saja,” aku menghela napas sejenak. Mengingat manic mata kyuhyun oppa semalam saat aku ketahuan menguping tanpa sengaja. “dia terlalu menyayangiku, hingga aku merasa kecewa dengan diriku sendiri. Apa yang sepantasnya ku lakukan, gun~a?”
“menyayanginya dengan sangat.” Jawabnya cepat.
“maksudmu? Aku sudah, menyayanginya dengan sangat menurutku.”
“dengan baik? Melakukan apa yang seharusnya kau lakukan?” kau tersentak, karena menyadari hal itu belum kulakukan.
“gomawo” aku menepuk ringan pundak Ha gun sambil tersenyum jahil. “tidak salah aku merestuimu dengan kyuhyun oppa.”
“mwo? Apa maksudmu?” matanya mulai membulat dan menyadari ketidak beresan kalimatku.
“”karena kau bisa menyayanginya,” aku mengambil ancag ancang untuk berlalu pergi. “dengan baik”
“YAK!”

Cho Kyuhyun poV
Aku menggeram. Meremas kepala tangan dengan kuta. Mataku menatap marah pemandangan dihadapanku. Dan hatiku terasa luluh tersayat dan malah merasa sangat kecewa dengan diriku sendiri. Ini tidak mungkin. Han Ha gunku. Tidak mungkin dia bisa ada bersamanya lagi. Dan tidak mungkin juga aku terlalu lemah untuk hal ini.
Pikiran-pikiran buruk mulai menghantuiku. Terkahir kali aku bertanya pada Hagun saat melihat mereka sedang datang ke kantor bersama dihanya menjawab, “apa urusanmu? Dia hanya adik kelas ku sewaktu SMA. Dan baru akrab kembali sekarang tidak lebih. Kenapaa? Kau cemburu, cho kyuhyun~ssi?” walaupun diakhir katanya membuatku sedikit tersentak, tapi aku membuat senyum setelahnya. Dia menjelaskan semuanya padaku. Dan aku yakin, maksudnya agar aku tidak dipenuhi rasa cemburu karena mereka hanya berteman. Yah, sangat menenangkan saat itu.
Tapi ini sungguh berbeda. Mereka terlihat terlalu akrab. Entah apa yang membuatku khawatir. Aku takut ha gun akan menjauh dariku dan pergi dengan musuhku sendiri, tapi aku merasa sakit dan kecewa karena kebodohan Ha Gun yang tidak menyadari kondisiku sekarang.

Sial, Jinho tahu titik lemahku. Han Ha Gun.
                                                                                   TBC


annyeong! FADILLA................! AKHIRNYAAA! *lebay*
 maap telat ._.v internetnya engga friend sama authornya nih~ ini udah jadi kapan tau, tapi baru sempet sekarang di post. mianhae, chonmal mianhae *sujud-sujud* *lebay* wkwk.
yaudah, ini menurut kalian ceritanya gimana? nyambung gak? aneh gak? soalnya takutnya malah udah lama, cacat pula. wk. ditunggu komennya yaaaaaaa (;