You Are The best Oppa #4
ini akhir yang baik, lumayan. Karena
takkan ada akhir cerita hidup yang seindah dalam cerita dongeng.
Walau semua terdengar baik, tapi akan
selalu ada beberapa hal yang masih menyesakkan dada. Diakhir sebuah cerita
kehidupan.
Author PoV
Pintu apartement
terbanting keras, tanpa sempat donghae bukakan. Dengan segera donghae bangkit
dari duduknya. Memasukkan hpnya kedalam kantung celananya. Berusaha bersikap
tenang. Membiarkan tiga orag berbadan besar datang menghampirinya. Ini hanya
sebuah permainan. Siapa yang paling tenang, dia pemenangnya. Begitu pikir
donghae.
“nugundae?” ujarnya
setelah tatapan mata mereka bertemu.
“tidak ingatkah? Betapa
bodohnya kau ini huh?” salah seorang darinya menjitak keras kepala bagian
belakang donghae yang kemudian di iringin tawa ketiganya.
“cih,” donghae mengelus
pelan dengan gerakan meremehkan. Ini hanya sekedar lelucon murahan. “masih ada
urusanmu kah?”
“hahahhaha,” satunya yang
berwajah bulat tertawa dengan sedikit berkesan sinis. “sungguh kau kelewat
bodoh, hae~a! urusan? Jelas banyak!” ada gertakan setelahnya.
“apa maksudmu untuk
datang ke Jeju? Mencari tempat persembunyian kami, huh?”
“kau salah,” timpal
donghae setelahnya. Tiga orang itu terlihat sedikit terkejut namun berusaha
untuk menutupinya. Donghae berjalan menuju pintu apartement. “urusanku bukan
dengan bos kalian, Jinho. Jadi, kalian lebih baik pulang saja!”
Mereka kembali
terbahak. “berusaha untuk mengelak? Kami tahu isi otak bodohmu itu!”
“tidak, aku tidak
mengelak. Karena aku memang tidak ingiin bertemu dengan Jinho kalian. Itu tidak
penting!” tangan donghae terlipat didepan dada. Menatap tantang ketiga wajah
bawahan Jinho yang sempat ditemuinya tadi saat pelarian spontannya.
“lalu?” yang ketiga
akhirnya angkat bicara. “apa yang kau inginkan? Pelajaran dari kami?”
Donghae tetap berkukuh
didepan pintu. Berdiri diam tanpa menanggapi. “katakana atau kami akan
menghabisimu!” mereka sudah siap mengambil barang pecah belah yang terpampang
di apartment donghae. Bersiap jikalauu donghae tetap tak bergeming.
“cepat, kami tak punya
banyak waktu, hae babo!” salah sorangnya menendang tulang kering kaki donghae,
namun donghae tetap terdiam. “katakan!”
Vas bunga yang ada di
atas meja tamu tersingkir pecah oleh mereka. Dan nyaris menjatuhi kaki donghae,
karena posisinya yang berdekatan.
“aku tidak ingin
bertemu dengan bos mu Jinho,” donghae akhirnya angkat bicara dengan nada
dinginnya. Ketiga wajah itu menatap nanar donghae.“tapi aku hanya ingin bertemu
ayah dari bos kalian. Aku tahu, dia tidak ada di Amerika bagian manapun. Karena
dia, ada disini!”
***
“kau bodoh atau apa,
huh?” kyuhyun mulai meninggikan nada suaranya
“aku tidak tuli! Tidak
usah meneriakiku seperti itu!” sungut Hagun dengan nada sedikit lebih tinggi
dari kyuhyun.
“yeah, kau tuli dan
bodoh!”
“apa?!” ha gun
bersedekap menatap kyuhyun tantang.
“kau,” kyuhyun
menggeram, namun berusaha meredan emosinya. Berhadapan dengan yeoja satu ini memang
sulit baginya. Banyak dampak yang dapat ditimbulkannya. “berteman dengan rival
perusahaan ini.”
Ha gun terdiam sejenak.
Kemudian mengeluarkan tawanya. “jinho? Hahaha, kau ini. dia saja baru tahu aku
bekerja disini beberapa minggu lalu. Dan lagi pula dia terlalu lugu untuk
menjadi rival”
“karena keluguan dan
kebodohan palsunya, hingga dia bisa menjadi rival perusahaan ini.” kyuhyun
menegapkan tubuhnya. “mendekatimu, teman karib kakaknya, adalah solusi termudah
untuk mendapatkan informasi yang dia inginkan.”
“kakak? Setahuku dia
anak tunggal. Dia tidak pernah menyeritakan adik atau pun kakaknya.”
“kali ini kau terlewat
bodoh. Apa kau tidak menyadari marganya?”
Ha gun terdiam untuk
berpikir sejenak. Matanya sedikit berputar, dan nalarnya nya mulai digunakan.
“cho? Maksudmu? Kau kakaknya?”
Kyuhyun berdecak,
mencoba sabar untuk menjelaskan pada lawan bicaranya kali ini. sungguh bodoh,
namun semakin menyadari kebodohannya mengapa bisa jatuh hati pada gadis sebodoh
ini. “bukan aku, tapi adikku.”
“mak..sudmu? Jehee?!”
suara Hagun terdengar sedikit tercekat. Sungguh, ini sangat mengejutkan
baginya. Yang dia ketahui hanya keluarga jehee yang bermasalah tanpa mengetahui
seluk beluk siapa keluarga jehee.
“ne,” kyuhyun berdehem.
“lalu? Apa kau masih ingin membuka mulut embermu ini pada Jinho?”
Ha Gun hanya menelan
ludahnya, menyadari kesalahan dan maksud kemarahan Kyuhyun padanya. Sungguh, aku merasakan kebodohan sangat. Desirnya
dalam hati. “aniya, aku berjanji. Akan membantu kalian.”
***
Five Month ago,
Jeju island, South
Korea
19 : 00 pm
Han Ha Gun PoV
Mataku terpejam
menghadap pantai biru dengan pasir putih yang mengalaskan tempat dudukku. Malam
yang indah dan aku sangat membutuhkan ketenangan. Berusaha mengurangi rasa
sesak di sasaku. Pertempuran baru saja berakhir, dan ini akhir yang baik,
sungguh. Tapi ada yang terburuk diantaranya.
Ini bodoh memang,
karena takkan jauh dari sosok namja yang entah kenapa menghantui kehidupanku
belakangan ini. awalmulanya aku sangat membencinya, sangat. Tapi entah magnet
apa yang menarikku, sehingga aku berpikir takkan ada nafasku tanpa
keberadaannya didekatku.
Cho kyuhyun. Dia akan
pergi esok pagi ke luar negeri, entah dimana aku tak mau tanyakan. Mendengar
kepergiannya saja sudah membuat sesak seakan nafasku terekut. Dia berusaha
menghilangkan dan menjauh dari semua memori buruknya di setiap sudut Negara
ini.
Kelumpuhan jehee karena
luka tembak yang berasal dari senapan pamannya, ayah Jehee sendiri sudah
membuatnya sangat meredam amarah. Kesal dan rasa pilu yang mendalam, aku tahu
itu. Kyuhyun sangat menyayangi Jehee, dan dia tak ingin kehilangan keceriaan
Jehee yang memudar disetiap harinya.
Kepergian Donghae yang
entah kemana. Terakhir kali dia pamit untuk menemui ibunya di Busan, namun tak
ada kabar kembali. Saat kami berusaha menghubungi rumah ibu donghae, dia mengatakan
donghae tidak ada disana, dan entah kemana anak itu menghilang. Dan kematian
appanya beberapa bulan yang lalu, menyisakan kepedihan tersendiri.
Memang, ini buruk
untuknya dan dia harus mencoba menghapus semua memori menyakitkan itu. Dan kembali
untuk mental yang lebih kuat, untuk membimbing Jehee kembali. Ini sangat baik
untuknya, tapi aku rasa sangat berdampak buruk bagiku. Sungguh.
“kau tidak pulang?”
mataku terbuka seketika mendengar sahutan suara yang kukenal.
“ne? eum.. aku hanya
ingin menikmati ketenangan, sejenak.”
“mianhae,” Jinho duduk
sila disampingku kemudian menunduk. “sungguh aku sangat meminta maaf padamu
atas semua ini. appa terlalu keras kepala.”
“gwenchana. Aku akan
memaafkanmu, dengan syarat yang harus kau penuhi.”
“apa? Aku berjanjin
akan memenuhinya dengan sungguh-sungguh” ujarya serius, membuat senyum simpul
dalam bibirnya.
***
Cho Jehee PoV
“kalian
pikir hanya ini, yang mampu membalas semua kesalahannya?” tawa appa
menggelegar, seakan sekumpulan orang jahat dalam drama korea yang aku tonton
sedang mendapat permainan baru.
Aku
hanya terdiam dalam tempatku. Berdiri terpaku, dan menguatkan mentalku. Ha gun
ada disampingku. Dia menggenggam erat pergelangan tanganku. Aku tahu, ini bukan
hal yang paling menakutkan baginya. Dan malah, ini menjadi hal terseru baginya.
Tapi dia sahabat yang baik, sama sayangnya dengan kyuhyun oppa padaku.Donghae
oppa berdiri dengan ancang ancang nya. Sesekali dia meihatku, dan berusaha
memastikan kalau aku akan baik baik saja.
Ini
semua bermula karena appa yang akhirnya turun tangan. Setelah kematian Cho
ajjushi, beberapa hari lalu, appa memberanikan diri untuk menunjukkan dirinya.
Tidak sia-sia kunjungan donghae oppa ke Jeju, yang akhirnya dapat memancingnya
keluar.
“pergi
dengan harga diri yang sebenarnya sudah jatuh, aku yakin itu. Dia mengucapkan
kata yang sungguh melecehkanku malam itu! Apa kalian mau, membayar rasa sakitku
akan perkataan, huh?” appa berujar kembali, dengan tawanya. Membuatku bergetar
hebat. “jehee! Itu ibumu, anak malang! Sama sepertimu! Menyusahkan dan tak tahu
diuntung.”
“sakit
jiwa!” Ha Gun menatap tantang appa yang akhirnya beralih menatap Ha Gun. Dia
tidak bergetar takut sedikitpun, dan aku salut untuk itu. “kau pikir, dengan
menyamakan darah dagingmu dengan seorang ibu yang kau pikir bejat itu baik?
Bodoh! Seharusnya kau berusaha menyelamatkannya dari kesamaan itu!”
“hah!
Jadi ini, pasukan baru kalian?” sudut tempat ini terlalu kecil, jadi tak ada
tempay untuk aku dan Ha Gun mundur saat dia memajukan tubuhnya mendekat pada
kami.
“jangan
sentuh dia, jika kau tidak ingin mati sekarang.” Aku menoleh, menatap kyuhyun
oppa dengan senyum simpulku. Hebat, dia akhirnya menunjukkan ke khawatirannya
disaat genting ini.
“mati?
Omong-omong mati, aku turut berduka cita dengan kematian kakakku.” Dia
tersenyum kecut, kemudian mengeluarkan sebuah benda dari saku celananya. Dengan
tatapan menyeramkan appa mendekatiku. Sebuah senatapan yang mulai terulur.
“siapa
yang inginkan mati terlebih dahulu? Kau? Kau? Atau kau, Cho kyuhyun?” donghae
mulai menatap awas padaku. Dia tahu apa yang dimaksudkan appa sepertinya, tapi
sayangnya aku sama seklai tidak mengerti isyaratnya.
“tidak,
sepertinya hanya satu orang yang dapat menyembuhkan dendamku.”
Dengan
cepat donghae oppa berlari, dan aku hanya menatap bingung, karena entah kenapa
perutku terasa mual dengan ini semua. Tempat ini, tempat yang sama ketika aku
ditinggal pergi eomma, dan semua pikiran itu berputar, mengganggu
konsentrasiku.
“JEHEE~A!” kyuhyun oppa menarik lengaku, berusaha menarikku kedalam
dekapannya. Tapi terlambat. Suara senapan itu terdegar. Kakiku melemah, dan aku
hanya bisa merintih. Rasanya sangat sakit dan aku tidak mampu melakukan apapun.
Kyuhyun
oppa menopongku dengan tubuh berggemetar, “gwenchana? Jeballyeo,, kau harus
bertahan, Je~a” dia membopongku masuk kedalam mobil, ketika semua terasa gelap,
dan aku merasakan rasa sakit itu lenyap, entah kemana.
“malam yang indah
bukan? Bintangnya sangat banyak.” Eomma duduk disudut kasur ruang inapku dengan
senyum manisnya, dan aku hanya terdiam. Menatap jendela ruangan dengan pilu.
“oppa,” suaraku
bergetar. Entah kenapa aku sangat ingin meneriaki sebutan itu. Mereka, oppa ku
yang terbaik. Yang dengan sabarnya menuntun jalan hidupku yang sempat tak
terarah, menyandangku sebagai predikat adik terhebat dalam dunia ini, dan
membuatku merasa sebagai orang yang paling beruntung karena memilikinya. Tapi
dimana mereka? Karena sungguh, hanya itu yang aku inginkan sekarang. Bukan
keindahan malam yang dilbih lebihkan eomma.
Sekarang aku lebih
merasakan posisi seorang oppa yang lebih berharga dibandingkan sosok eomma yang
dulu kutangisi. Aku menginginkan eomma ada disampingku, tapi aku lebih
mengingikan mereka, sungguh.
“kyuhyun oppa mu akan
datang sebentar lagi,” eomma sepertinya mengerti maksudku, dan aku menunggu
penjelasan selanjutya. “kamu makan dulu ya?”
“dongahe oppa.” Ujarku
akhirya, eomma selalu saja menghindar dengan pertanyaan itu. “dimana dia?”
Eomma tersenyum,
menatapku sabar. “dia ada, masih ada disekitarmu. Dan takdir yang akan
mempertemukan kalian kembali” aku terdiam, menyimak perkataan eomma. Ya, hanya
takdir yang menentukan. Karena takkan ada langkahku untuk mencarinya untuk saat
ini.
“adakah adikku disini?”
suara berat kyuhyun oppa terengar dari sudut ruangan. Dia datang dengan
tentengan ditangannya, dan aku tidak begitu tertarik dengan itu.
“tentu saja, oppa” aku
menoleh kearahnya, memeluknya dan memberikan ciuman singkat pada pipinya. “kau
bawa apa?” tanyaku akhirnya yang mulai penasaran dengan bawaannya.
“tara! Ini untukmu”
kyuhyun oppa mengeluarkan isi dari tas kertas yang dibawaya kemudian menyodorkan
sebuah novel padaku. “aku membelinya tadi, dan kupikir pengarangnya sangat
hebat! Aku menyukai gaya dia berbahasa dan menyampaikan cerita.”
Aku tertawa kecil
kemudian menjitak kening kyuhyun oppa. “kau bodoh, ini novelku!”
***
Cho kyuhyun PoV
Ini bukan akhir yang
menyakitkan tentunya. Hari ini memang pasti ada, dan memang harus ada. seusai
aku menemui Jehee diruangannya, aku menemui dokter yang menanganinya. Dan bukan
hasil yang buruk, ini sangat hebat! Jehee bisa berjalan kembali.
Aku membatalkan
penerbanganku untuk ke America segera, dan menyerahka semua perusahaanku
ketangan Jinho, dan berniat untuk menghabiskan waktuku beberapa bulan bersama
adikku yang sangat aku pertahankan dalam hidup ini.
Semua akhir buruk dalam
permasalahan ini terasa lenyap dan hilang begitu saja. Sungguh, aku sanat
berterima kasih kepada tuhan untuk ini semua.
“dia
sudah sembuh sepenuhnya,” dokter itu tersenyum. “hanya butuh berlatih kembali
untuk berjalan, karena tungkai kakinya sudah lama tak digunakan, jadi harus
dilatih kembali” kalimat itu sungguh jauh lebih berharga
dari pemujaan terhadap diriku tentang hal apapun.
Aku melangkah masuk
kembali kedalam ruang inap Jehee, dan menatapnya dengan senyum terulas dalam
bibirku.
“kau tahu? Mengapa aku
selalu bisa mengatasi banyak hal?” ujarku dengan nada sedikit berlagak. Dia
mengercutkan bibirnya kemudian menyahut dengan datarnya, “karena kau terlalu
jenius, cho kyuhyun-ssi”
“yak, apa yang sudah Ha
Gun ajarkan padamu, huh? Sejak kapan kau memanggilku tanpa sebutan oppa?”
sahutku protes saat mendengar namaku disebutkan dengan nada yang sama seperti
Ha Gun.
“mian, mungkin kau
marah karena aku menggunakan kalimat Han Ha Gun mu itu, haha” ujarnya yang
kemudian menertawaiku.
“adik bodoh, kau sudah
sembuh sekarang!” tanganku mengacak ringan rambutnya. Kalimat itu kahirnya aku
sampaikan segera, “ kau sudah bisa berjalan sekarang"
TBC
heiii, fad. mian yaa kalo rada aneh cerianya, sedikit gak nyambung._.v tapi yaa, tunggu end nya deh. aku bakal bikin special buat kamu (;. hehe, buat readers, thanks udah mau mampir. ditunggu komentarnya yaa.

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
