You Are The best Oppa #3
Semua kendali ada pada satu titik tumpu yang kini rapuh,
semua solusi ada padanya, namun aku tak mau bergantung,
apa yang harus ku lakukan sekarang, oppa?
Han ha gun PoV
Ada yang aneh dengan kondisi
perusahaan seminggu belakangan ini. firasatku mengatakan buruk, tapi aku tidak
ingin itu benar terjadi. Karena semua hal yang menunjukkan, seperti ada
kegentingan dalam perusahaan ini.
Aku tidak terlalu
mengetahui itu apa, tapi aku yakin. Ada sangkut pautnya dengan perubahan sikap
jehee dan kyuhyun. Jehee sempat bercerita padaku waktu itu. Hanya sebatas
kembalinya kedua orang tua dala kehidupannya yang membuatnya kembali terpuruk.
“pulang bersama mu
lagi?” aku menaikkan sedikit alisku.
Meliriknya heran.
Dia masih dalam diam.
Membuka pintu penumpang yg ada didepanku. Wajahnya berusaha terlihat tenang dan
member tanda untuk menyuruhku masuk. “kau aneh.” Dengusku.
Jinho menatapku
sejenak, kemudian taklama berlalu untuk memasuki mobil dan mengendarainya,
dalam diam.
Sudah hampir satu
minggu ini mengantarku ke kantor sekaligus menjemputku. Aku mengenalnya. Sesaat
sebelum aku berangkat ke London untuk melanjutkan sekolah disana. Dia adik
kelasku sewaktu SMA, tentu saja aku mengenalnya.
Seminggu yang lalu dia
menemuiku. Lewat direct massage di mengajakku untuk mengobrol santai di sebuah
café. Dia anak yang lumayan asik, sekarang. Berbeda dengannya dulu sewaktu SMA.
Terlihat tertutup dan pendiam.
Tapi anehnya, setiap
kali aku menanyakan alasannya mengantar jemputku kekantor, dia lebih suka
terdiam, atau mengalihkan pembicaraan. Pernah sekali dia menjawab. Hanya untuk
menjadi teman dekat saja, katanya.
“kau tinggal dimana
sekarang?” aku akhirnya membuka pembicaraan dengan pertanyaan yg memang
membuatku sedikit penasaran tentang itu.
“disebuah apartemen t
kecil dekat namsan tower, mungkin lain kali kau bisa datang, hanya untuk
sekedar adu games dengan ku?”
“cih, jangan tandingi
kemampuan games mu denganku.”
“dan jangan juga
remehkan kemampuan ku, eonnie.” Ujarnya dengan sedikit penekanan di kata
terahir.
“jangan memanggilku
eonnie lagi, kalau kepalamu tidak ingin kupenggal.”
Ada jeda tawa
setelahnya. “gun~a. sejak kapan kau bergabung dengan GK cooperation?”
Aku sedikit berfikir,
mengingat kapan aku mulai begabung. “cukup lama, sekitar dua tahun yang lalu,
wae?”
“hanya basa basi saja,
hahaha.” Aku hanya tersenyum menanggapinya.
“kalau kau? Bekerja
dimana? Kau tahu,kau ini seperti orang tidak punya kerjaan.”
“bodoh sekali kalau kau
menyangka aku seperti itu. Bagaimana bisa aku setiap sebulan sekali datang ke
jepang untuk menemui appa. Dan bagaimana juga aku bisa hidup dengan kondisi
seperti ini, huh?”
“mian. Lalu, kau
bekerja dimana?”
“penulis. Kau tdk
pernah membaca buku ku?”
“yang mana? Banyak buku
yang aku baca, tanpa melihat pengarangnya. Karena kurasa itu kurang penting.”
“salah satunya yang
paling popular damn house, mungkin kau pernah medengarnya.”
“oh! Aku tahu itu, dan
aku sempat meminjamnya dari Jehee. Ceritanya keren.”
“jehee onnie? Dia
mempunyainya?” suaranya sedikit bergetar saat mengatakannya.
“yah, memang kenapa?”
ujarku dengan sedikit penasaran
“tidak apa apa,
sepertinya kita sudah sampai.” Aku hanya tertegun melihat sikap dinginnya kali
ini, entahlah. Dia selalu terlihat begitu kalau menyangkut tentang jehee.
***
Cho Jinho PoV
“ne, appa”
Aku menutup sambungan
telepon yang menyambungkan ku beberapa menit lalu dengan appa. Menjatuhkan
tubuhku ke sofa empuk yang tertera pada ruang tamu kecilku di apartement yang
aku diami. Mendesah pelan.
Ini sulit bagiku.
Sangat. Tapi entahlah, mungkin untuk sekarang aku akan menuruti semua perkataan
appa selama itu tidak membahayakan nyawa jehee eonnie.
“JinHo~a!” aku
tersentak, saat suara ketukan pintu yang cukup keras terdengar dari sisi
sebrangku.
Aku berjalan perlahan.
Mendekatinya, dengan perasaan sedikit
gugup. Karena aku rasa, aku mengenal suara itu. Aku mengenal gaya amukan itu.
Dan aku berharap bukan dia. Sungguh, ini bukan saat yang tepat untuk menemuinya.
Baru saja aku membuka
pintu sedikit celah, pintuku terbanting seketika oleh sosok yang mengunjungiku.
Aku berusaha tenang, menanggapinya. Memberikan tanda padanya untuk masuk dan
duduk di sofa yang tadi aku tempati.
“apa kau gila?” aku
mengernyit. Mencoba mengartikan maksud dari perkataannya.
“apa?” tanyaku akhirnya
setelah menyerah untuk berpikir lebih jauh.
“untuk kembali ke
seoul.”ujarnya dingin.
“aku memang sudah
berada di korea dari tiga tahun yang lalu.” Sahutku, dan itu memang benar. Aku
sudah kembali ke korea dari tiga tahun yang lalu. Dan baru saja aku kembali
kehadapan kehidupan jehee, sekarang. Itu baru benar.
“cih, tidak bisakah kau
bekerjasama denganku, huh?” sungutnya kemudian. Aku tertawa kecil. Kemudian
terdiam, bepikir sejenak.
“otak jeniusmu tidak
berungsi lagi? Samapai mengajakku bekerjasama denganmu.” Aku menyuguhkan
sekaleng minuman ringan padanya.
“sekarang, kau tidak
sedang berpihak pada ajjushi kan?” dia penuh penekanan dalam kalimat ini.
“maaf, kali ini aku
berada dipihak appa.” Aku kembali merautkan wajah serius. “kau salah, kalau
meminta bekerjasama denganku, cho kyuhyun.”
***
Aku melangkah kan
kakiku mantap kepintu utama sebuah gedung beringkat sepuluh yang megah
dihadapanku. Gedung ini tak kalah kerennya dengan gedung perusahaan GK
cooperation. Letaknya pun tak jauh. LD Cooperation. Perusahaan milik Lee
donghae.
Tidak sulit untuk
mengetahuinya. Han ha gun cukup bisa menjadi sumber tepercaya. Dan tentunya, ini
tanpa sepengetahuan Jehee. Mudah saja, katakan kalau aku sempat terlibat
masalah dengan Jehee saat Jehee lulus SMA, dan kami tidak akan sanggup untuk
bertemu kembali.
“sudah mempunyai
janji?” tanya seorang resepsionis yang menyambutku tak jauh dari pintu masuk.
“belum, tapi kami akan
membuat janji. Setelah ini.” yeoja itu sedikit mengernyit, menatapku bingung.
Mungkin karena kata kataku.
Kemudian dia mulai
menarik gagang telepon dan berbicara sedikit dengan orang disambunga telepon
dengan sedikit serius. Tak jarang dia memangut mangutkan kepalanya, yang aku
yakin itu tidak akan terlihat oleh peneleponnya.
“baiklah, apa anda tuan
Cho JinHo?” ujarnya sesaat setelah menutup teleponnya.
Aku berusaha menyimpan
keherananku, kemudian mengangguk. Dan resepsionis itu menuntunku menaiki lantai
tiga kemudian mempersilahkan aku untuk masuk.
“donghae hyung.”
Tegurku dingin.
***
Lee Donghae PoV
Sesulit apapun itu, aku
yakin. GK Cooperation adalah perusahaan yang kuat. Sekalipun mereka mendapat
kelemahan, aku harus membantunya.
“donghae hyung.”
Seseorang telah memasuki ruangan kerjaku.
Aku membalikkan tubuhku
yang sedaritadi menatap jendela besar ruangan. Menatap penuh simak pada namja
yang bisa dibilang berdiri gagah dihadapanku. Dengan setelan jas rapihnya dan
jam tangan bermerek yang aku ketahui itu bukan barang yang mudah dibeli dengan
harga wajar.
Sejam yang lalu,
kyuhyun menemuiku. Menceritakan semua hal atau kemungkinan yang akan terjadi. Kyuhyun
tidak bodoh, tentu saja. Dia mempunyai pemata yang lebih terpercaya dan jalan
pikir yang lebih menjebak dari pada yang dimiliki jinho.
Wajah JinHo terlihat
sedikit lebih dewasa sekarang, walaupun tidak sepenuhnya dewasa. Dia masih
terkadang berlagak kekanak kanakan sedikit.
“lama tak bertemu.”
Sapaku kemudian menyilahkannya untuk duduk.
“yeah, lama tak
bertemu.” Ujarnya dengan nada yang sedikit penuh arti.
“aku tidak punya banyak
waktu, hyung. Hanya beberapa kalimat untuk menyampaikannya.”
Aku menagngguk, mempersilahkannya
untuk berbicara.
“tinggalkan Jehee, karena
itu akan berdampak buruk bagimu. Jehee atau perusahaanmu yang akan hancur.
Bukan hanya dua pilihan, karena aku masih cukup baik padamu. Cho kyuhyun. Aku
yakin kalian akan bekerjasama dalam menyelesaikan hal ini. tapi sungguh, kau
akan melihat keterpurukanmu beberapa waktu lagi kalau kau masih ingin bekerja
sama dengannya. Sunguh, aku tdk bergurau kali ini.”
***
3 days latter~
12 – 04 - 2012
Namsan Tower, South
Korean
19:00 PM
Tanganku menulis santai
dalam selembar kertas kecil yang sudah aku siapkan sebelumnya. Dan sepasang
gembok berwarna orange yang masing masingnya dilambangkan huruf kami. D~J.
semua kalimat yang aku rangakai seindah mungkin.
Disampingku dia duduk
tenang, dengan pena hitam digenggamannya. Menulis denan asiknya, tanpa
menyadari helaian rambut panjangnya yang berterbangan tertiaup angin,
membuatnya sedikit berantakan.
Tanganku terulur untuk
merapihkan anak rambutnya. Dan dia mulai tersadar. Mendongakkan kepalanya yang
sedari tertunduk ringan menata tulisannya, dan beralih menatapku dengan senyum
simpulnya.
“oppa,” dia menghela
napas setelahnya. “apa kau yakin, ini akan berhasil?”
Aku membenarkan dudukku
menjadi lebih nyaman dan menatap manik matanya. Berusaha meyakinkan bahwa
perkataanku serius.
“pasti, dan semoga
saja.” Tanganku menyelipkan anak rambutnya ketelinga kirinya sebelum kemudian
beralih menggenggam tangannya. “aku pergi hanya sebentar, tak lama. Sampai
semua ini selesai, dan janji serta harapan kita akan terpenuhi secepatnya.”
Jehee sempat
memanyunkan bibirnya, tapi setelahnya ia tersenyum, sangat manis. Dan mungkin
ini menjadi senyuman termanis terakhirnya sebelum aku meninggalkan seoul.
“gwenchana oppa, aku sama sekali tidak mempermasalahkan kepergianmu. Karena aku
tahu, itu yang terbaik.”
“eo, jehee~a. apa kau
ingin ikut denganku?” ujarku setelahnya.
“mwo?” dia membulatkan
matanya. “maksudmu bukan untuk ikut pergi ke Jeju denganmu kan?”
Aku tertawa, nyaris
terbahak. “bodoh, maksudku, apa kau mau ikut aku masuk dan mengelilingi namsan
tower ini, je~a”
Dia mengercutkan
bibirnya dan tertunduk malu. Dan aku menghentikan tawaku. “kajja.” Aku menarik
jemari tangannya untuk mengikuti langkahku. Dan dia hanya berjalan membuntutiki
dibelakang.
Kami melewati hari ini
dengan semua canda dan tawanya. Ini kali pertama kami berjalan bersama hingga
sejauh ini. mengitari kota seoul seharian. Aku tak peduli seberapa lelahnya
setelah ini. mendapatkan kaki yang pegal karena berjalan terlalu banyak. Itu
tidak terlalu penting. Yang aku butuhkan hari ini hanya satu. Membuat kenangan
dengannya sebelum aku meninggalkan seoul yang aku sendiri takkan yakin, kapan
aku kembali.
Malam sudah mulai
datang. dan kami memutuskan untuk pulang dengan berjalan kaki dari halte bus
yang letaknya tak cukup jauh dari rumah Jehee.
“oppa, kau ini seperti
besok ingin mati saja.” Dia mengoceh sambil menyamakan langkahnya disampingku.
“kau tahu?” aku
menghentikan langkahku kemudian menghadap kearahnya. “meninggalkanmu mulai
besok, sama saja neraka bagiku.”
***
Jeju Island, South
Korea
15 – 04 - 2012
10:00 am
Donghae’s apartment
Nafasku berhenti
terengah. Terlepas dari kejaran maut yang sangat membahayakan, aku tahu itu.
Baru saja tiga hari aku menetap, kecurigaan itu mulai muncul. Mereka memang
berpusat disini, pulau Jeju.
Tanganku segera
menyambar ponsel yang ada di meja hadapanku. Mencari nama dalam kontak ponselku
yang tersimpan. Dan segera meneleponnya tanpa perlu mengatur nafasku yang masih
terengah akibat pelarian spontanku.
“kyu~a!” nafasku mulai
teratur kali ini, dan segera saja tersambung.
“ne
hae~a. otte?”
“mereka menyimpan
semuanya dalam sebuah tempat yang tak jauh dari pantai utara Jeju.”
“apa kau yakin kau aman sekarang?”
“entahlah, tadi ada
tiga orang penjaga yang nyaris mengetahuiku.”
Belum sempat aku
melanjutkan pembicaraanku dengan kyuhyun, pintu apartementku terketuk. Tanganku
membeku, dan detak jantungku berdenyut lebih cepat. Tidak mungkin, takkan ada
satu orang pun yang mengetahui keberadaanku disini. Selain kyuhyun, dan Jehee.
***
Author PoV
Seoul, South Korea
Kyuhyun’s House
15 – 04 -2012
21 :00 pm
Malam yang mencekam,
sangat. Di kediaman rumah keluarga Cho yang berdiri megah ditengah kota Seoul.
Lokasinya strategis dengan berbagai tempat. Tidak, bukan strategis, tapi
semuanya memang ada didalam sana. Sungguh.
Lapangan parkir yang
biasanya hanya untuk mengandangkan mobil, di dalam sana digunakan untuk tiga
hal. Mobil, pesawat dan helicopter pribadi. Tamannya pun juga bukan sembarang
taman orang kaya biasa yang hanya ada berbagai bunga dan labirin yang cukup
besar. Disana, ada sekitar satu juta macam bunga yang beragam dari berbagai
negara. Ditata dengan secantik mungkin yang jika dilihat dari atas menggunakan
helicopter akan membentuk labirin silsilah keluarga Cho. Dan ditengahnya
terdapat air mancur yang berada dalam tengah kolam yang menyerupai bentuk air
terjun yang menurun kebawah tanah taman.
Jika ingin mencari bahan
pangan, tak perlu lagi untuk mencari ke supermarket yang harus mengeluarkan
tenaga untuk keluar rumah. Didalam sana sudah terdapat minimarket keluarga yang
canggih. Hanya berbentuk petakan 10x10 meter, tapi semua yang diinginkan ada.
tepatnya, ada dalam mesin pangan. Apa yang kita inginkan tulis saja dalam
keyword yang ada. tak perlu menunggu sampai lebih dari tiga menit, yang kita
inginkan akan keluar.
Tempat fitness atau
kolam renang pun ada. lengkap dengan fasiltas canggihnya. Begitu juga dengan kebutuhan
lainnya. Semua terpenuhi dengan mudahnya. Dan semua bersal dari satu. Cho
kyuhyun. Dia mempunyai otak yang sangat amat jenius hingga mampu menyiptakan
segala macam tegnologi yang ada dirumahnya, bahkan di korea.
Tak banyak yang tidak
mengetahuinya. Dari kalangan pengusaha hingga anak anak pun mengenalnya. Dia
sejujurnya belum dikatakan pemilik resmi GK cooperation. Karena sebenarnya
masih ada campur tangan ayahnya yang berkuasa. Semua kendali ada padanya.
Tapi sungguh, mala mini
sangat mencekam didalam kediaman keluarga Cho. Terutama dalam kamar utama.
Kyuhyun berdiri tegang menatap sosok ayahnya yang masih terbaring tenanga
dengan pemeriksaan dokter. Dan ibunya hanya terdiam dalam tangisnya.
Beberapa menit yang
lalu ayah kyuhyun jatuh pingsan ambil memegangi dadanya yang sempat dikatakan
sakit. Dia terjatuh sungguh tiba tiba membuat kyuhyun, Jehee dan istrinya
terpaku kaget. Kyuhyun sempat menyuruh Jehee untuk segera tidur karena larut
malam, jadi tak ada Jehee didalam sini. Karena kyuhyun tau, ini akan menambah
kekhawatiran Jehee.
“saya kurang yakin dia
bisa melewati masa kritisnya ini.” ada helaan nafas setelahnya. “kondisinya
sangat lemah.”
Kyuhyun kemudian
memberikan tanda kepada dokter pribadi keluarga Cho yang kebetulan sahabat
karib ayahnya untuk berbicara diluar. Karena dia tahu, tidak baik jika hal yang
lebh buruk yang akan disampaikannya terdengar sampai ketelinga ibunya. Ini akan
menjadi beban hidup untuknya.
“apa selama ini dia
tidak pernah memeberitahukanmu tentang penyakit dideritanya?” dokter itu melepaskan
stetoskop yang sedari tadi melingkar dilehernya.
Kyuhyun menggeleng
kemudian menatap serius kepada sosok dokter dihadapannya. “aniya, sama sekali
tidak,” kyuhyun mengambil tempat duduk di sofa depan pintu masuk ruang tidur
ayahnya. yah, tentu saja. Kamar ini dilapisi berbagai macam ruangan. “lalu, apa
yang sebenarnya appa derita, ajjushi?”
Dokter yang biasa
disapa ajjushi itu menghela nafas untuk kedua kalinya. Sepertinya ini terlalu
berat untuk disampaikannya. Karena memang sebenarnya sahabat yang dikenal
semenjak duduk dibangku smp ini tidak ingin menyampaikan kepada keluarganya,
dan dia ingat pesan itu. Tapi penyakitnya harus segera disembuhkan. Karenanya
dia akan memberitahukan hanya pada satu anggota keluarga Cho saja yang
menurutnya akan membantu. Cho kyuhyunn.
“penyakit yang hanya
diderita sedikit orang di dunia. Dan ini sangat membahayakan. Sungguh, aku
tidak main-main dengan perkataanku. Dan, kyu~a” tangannya menepuk ringan pundak
kyuhyun dengan tatapan mata penuh harap. “tolong jangan sampaikan penyakitnya
dengan siapapun, karena ini keinginannya, kau juga kumohon berpura untuk tidak
tahu dihadapannya. Dan satu lagi,” kini suaranya semakin bergetar putus asa.
Kehilangan sahabat tedekatnya sama sekali bukan maunya. Dia sangat mengigiinkan
kesembuhan, tapi semuanya tersa buntu. “jebalyeo kyuhyun~a. kali ini aku sangat
membutuhkan bantuanmu.”
Cho Jehee PoV
Perasaanku begitu
tergelitik untuk ingin tahu. Aku berjalan menuruni tangga lantai satu tempat
kamarku berada menuju lantai dasar kamar utama Cho ajjushi. Dia jatuh sakit,
dan aku sangat menghawatirkannya tentu saja. Tapi kyuhyun oppa menyarankanku
untuk segera tidur. Aku hanya mengiyakan, tapi tidak sepenuhnya.
Karena ruang yang ada
didalamnya berlapis aku hanya sempat untuk membuka pintu ke dua menuju ruang
tidur. Seketika aku terlintas untuk membuat kejutan pada ajjushi. Aku
menyempatkan diri untuk keruang makan dan membuatkan susu hangat dan roti
panggang untuknya. Kemudian kembali berjalan. Tapi semuanya terhenti disana.
Seperempat pintu terbukan pelan olehku, dan semua terasa mencekam.
Kakiku bergetar hebat,
dan jantungku nyaris terjatuh dari tempatnya. Mataku menatap tak menentu. Kalau
saja aku menuruti kata kyuhyun oppa kali ini untuk tidur dengan nyenyak dan dapat
menyongsong pagi dengan baik esok. Namun semuanya sekarang sudah terlanjur. Aku
medengarnya. Semua.
Nampan yang tadinya kau
bawa dengan perasaan tenang kini seudah bergetar dan nyaris aku jatuhkan. Yang
aku takuti bukan hanya penyakit yang diderita Cho ajjushi. Tapi juga GK
cooperation yang ada di dalam kendalinya. Terlebih sekarang. Appa akan memulai
permainannya.
***
“babo!” akuu
menghentakkan meja kerjaku kesal. Dan semua menatapku heran. Aku yakin, wajahku
sudah tak kauan lagi ekspresinya. Ini karena ulahku semalam yang terlalu
terkejut dan akhirnya menjatuhkan piring yang aku bawa. Kyuhyun oppa
mendengarnya kemudian menatapku dengan kening berkerut. Tapi entah kenapa dia
bukannya memarahiku seperti biasa, malah memelukku dengan mengucapkan kata kata
yag sangat menyentuh. “bantu aku Jehee~a.
semampu yang kamu bisa”
“wae, Jehee~?” Ha gun
menatap datar diriku yang akhirnya menjatuhkan diri pada kursi kerjaku.
“tidak apa-apa, hanya
sedang kesal.” Aku meletakkan barang barang bawaanku.
“dengan?”
“siapa lagi kalau bukan
kyuhyun oppa”
“tumben”
“apa?”
“tidak biasanya kau
merasa kesal dengannya”
“aku tidak marah. Hanya
saja,” aku menghela napas sejenak. Mengingat manic mata kyuhyun oppa semalam
saat aku ketahuan menguping tanpa sengaja. “dia terlalu menyayangiku, hingga
aku merasa kecewa dengan diriku sendiri. Apa yang sepantasnya ku lakukan,
gun~a?”
“menyayanginya dengan
sangat.” Jawabnya cepat.
“maksudmu? Aku sudah,
menyayanginya dengan sangat menurutku.”
“dengan baik? Melakukan
apa yang seharusnya kau lakukan?” kau tersentak, karena menyadari hal itu belum
kulakukan.
“gomawo” aku menepuk
ringan pundak Ha gun sambil tersenyum jahil. “tidak salah aku merestuimu dengan
kyuhyun oppa.”
“mwo? Apa maksudmu?” matanya
mulai membulat dan menyadari ketidak beresan kalimatku.
“”karena kau bisa
menyayanginya,” aku mengambil ancag ancang untuk berlalu pergi. “dengan baik”
“YAK!”
Cho Kyuhyun poV
Aku menggeram. Meremas
kepala tangan dengan kuta. Mataku menatap marah pemandangan dihadapanku. Dan
hatiku terasa luluh tersayat dan malah merasa sangat kecewa dengan diriku
sendiri. Ini tidak mungkin. Han Ha gunku. Tidak mungkin dia bisa ada bersamanya
lagi. Dan tidak mungkin juga aku terlalu lemah untuk hal ini.
Pikiran-pikiran buruk
mulai menghantuiku. Terkahir kali aku bertanya pada Hagun saat melihat mereka
sedang datang ke kantor bersama dihanya menjawab, “apa urusanmu? Dia hanya adik kelas ku sewaktu SMA. Dan baru akrab
kembali sekarang tidak lebih. Kenapaa? Kau cemburu, cho kyuhyun~ssi?” walaupun
diakhir katanya membuatku sedikit tersentak, tapi aku membuat senyum
setelahnya. Dia menjelaskan semuanya padaku. Dan aku yakin, maksudnya agar aku tidak
dipenuhi rasa cemburu karena mereka hanya berteman. Yah, sangat menenangkan
saat itu.
Tapi ini sungguh
berbeda. Mereka terlihat terlalu akrab. Entah apa yang membuatku khawatir. Aku
takut ha gun akan menjauh dariku dan pergi dengan musuhku sendiri, tapi aku
merasa sakit dan kecewa karena kebodohan Ha Gun yang tidak menyadari kondisiku
sekarang.
TBC
annyeong! FADILLA................! AKHIRNYAAA! *lebay*
maap telat ._.v internetnya engga friend sama authornya nih~ ini udah jadi kapan tau, tapi baru sempet sekarang di post. mianhae, chonmal mianhae *sujud-sujud* *lebay* wkwk.
yaudah, ini menurut kalian ceritanya gimana? nyambung gak? aneh gak? soalnya takutnya malah udah lama, cacat pula. wk. ditunggu komennya yaaaaaaa (;

1 komentar:
wow..!! jdi titik kelemahan Kyu oppa ada di aku?
berarti aku spesial bgt dong bgi kyu oppa??
hehehe..
Daebak Chingu.. ditunggu kelanjutannya ya..
Posting Komentar