Rabu, 09 Mei 2012

You Are The best Oppa #3


You Are The best Oppa #3




Semua kendali ada pada satu titik tumpu yang kini rapuh,
semua solusi ada padanya, namun aku tak mau bergantung,
apa yang harus ku lakukan sekarang, oppa?


Han ha gun PoV
Ada yang aneh dengan kondisi perusahaan seminggu belakangan ini. firasatku mengatakan buruk, tapi aku tidak ingin itu benar terjadi. Karena semua hal yang menunjukkan, seperti ada kegentingan dalam perusahaan ini.
Aku tidak terlalu mengetahui itu apa, tapi aku yakin. Ada sangkut pautnya dengan perubahan sikap jehee dan kyuhyun. Jehee sempat bercerita padaku waktu itu. Hanya sebatas kembalinya kedua orang tua dala kehidupannya yang membuatnya kembali terpuruk.
“pulang bersama mu lagi?” aku menaikkan sedikit alisku.  Meliriknya heran.
Dia masih dalam diam. Membuka pintu penumpang yg ada didepanku. Wajahnya berusaha terlihat tenang dan member tanda untuk menyuruhku masuk. “kau aneh.” Dengusku.
Jinho menatapku sejenak, kemudian taklama berlalu untuk memasuki mobil dan mengendarainya, dalam diam.
Sudah hampir satu minggu ini mengantarku ke kantor sekaligus menjemputku. Aku mengenalnya. Sesaat sebelum aku berangkat ke London untuk melanjutkan sekolah disana. Dia adik kelasku sewaktu SMA, tentu saja aku mengenalnya.
Seminggu yang lalu dia menemuiku. Lewat direct massage di mengajakku untuk mengobrol santai di sebuah café. Dia anak yang lumayan asik, sekarang. Berbeda dengannya dulu sewaktu SMA. Terlihat tertutup dan pendiam.
Tapi anehnya, setiap kali aku menanyakan alasannya mengantar jemputku kekantor, dia lebih suka terdiam, atau mengalihkan pembicaraan. Pernah sekali dia menjawab. Hanya untuk menjadi teman dekat saja, katanya.
“kau tinggal dimana sekarang?” aku akhirnya membuka pembicaraan dengan pertanyaan yg memang membuatku sedikit penasaran tentang itu.
“disebuah apartemen t kecil dekat namsan tower, mungkin lain kali kau bisa datang, hanya untuk sekedar adu games dengan ku?”
“cih, jangan tandingi kemampuan games mu denganku.”
“dan jangan juga remehkan kemampuan ku, eonnie.” Ujarnya dengan sedikit penekanan di kata terahir.
“jangan memanggilku eonnie lagi, kalau kepalamu tidak ingin kupenggal.”
Ada jeda tawa setelahnya. “gun~a. sejak kapan kau bergabung dengan GK cooperation?”
Aku sedikit berfikir, mengingat kapan aku mulai begabung. “cukup lama, sekitar dua tahun yang lalu, wae?”
“hanya basa basi saja, hahaha.” Aku hanya tersenyum menanggapinya.
“kalau kau? Bekerja dimana? Kau tahu,kau ini seperti orang tidak punya kerjaan.”
“bodoh sekali kalau kau menyangka aku seperti itu. Bagaimana bisa aku setiap sebulan sekali datang ke jepang untuk menemui appa. Dan bagaimana juga aku bisa hidup dengan kondisi seperti ini, huh?”
“mian. Lalu, kau bekerja dimana?”
“penulis. Kau tdk pernah membaca buku ku?”
“yang mana? Banyak buku yang aku baca, tanpa melihat pengarangnya. Karena kurasa itu kurang penting.”
“salah satunya yang paling popular damn house, mungkin kau pernah medengarnya.”
“oh! Aku tahu itu, dan aku sempat meminjamnya dari Jehee. Ceritanya keren.”
“jehee onnie? Dia mempunyainya?” suaranya sedikit bergetar saat mengatakannya.
“yah, memang kenapa?” ujarku dengan sedikit penasaran
“tidak apa apa, sepertinya kita sudah sampai.” Aku hanya tertegun melihat sikap dinginnya kali ini, entahlah. Dia selalu terlihat begitu kalau menyangkut tentang jehee.
                                                         ***
Cho Jinho PoV
“ne, appa”
Aku menutup sambungan telepon yang menyambungkan ku beberapa menit lalu dengan appa. Menjatuhkan tubuhku ke sofa empuk yang tertera pada ruang tamu kecilku di apartement yang aku diami. Mendesah pelan.
Ini sulit bagiku. Sangat. Tapi entahlah, mungkin untuk sekarang aku akan menuruti semua perkataan appa selama itu tidak membahayakan nyawa jehee eonnie.
“JinHo~a!” aku tersentak, saat suara ketukan pintu yang cukup keras terdengar dari sisi sebrangku.
Aku berjalan perlahan. Mendekatinya,  dengan perasaan sedikit gugup. Karena aku rasa, aku mengenal suara itu. Aku mengenal gaya amukan itu. Dan aku berharap bukan dia. Sungguh, ini bukan saat yang tepat untuk menemuinya.
Baru saja aku membuka pintu sedikit celah, pintuku terbanting seketika oleh sosok yang mengunjungiku. Aku berusaha tenang, menanggapinya. Memberikan tanda padanya untuk masuk dan duduk di sofa yang tadi aku tempati.
“apa kau gila?” aku mengernyit. Mencoba mengartikan maksud dari perkataannya.
“apa?” tanyaku akhirnya setelah menyerah untuk berpikir lebih jauh.
“untuk kembali ke seoul.”ujarnya dingin.
“aku memang sudah berada di korea dari tiga tahun yang lalu.” Sahutku, dan itu memang benar. Aku sudah kembali ke korea dari tiga tahun yang lalu. Dan baru saja aku kembali kehadapan kehidupan jehee, sekarang. Itu baru benar.
“cih, tidak bisakah kau bekerjasama denganku, huh?” sungutnya kemudian. Aku tertawa kecil. Kemudian terdiam, bepikir sejenak.
“otak jeniusmu tidak berungsi lagi? Samapai mengajakku bekerjasama denganmu.” Aku menyuguhkan sekaleng minuman ringan padanya.
“sekarang, kau tidak sedang berpihak pada ajjushi kan?” dia penuh penekanan dalam kalimat ini.
“maaf, kali ini aku berada dipihak appa.” Aku kembali merautkan wajah serius. “kau salah, kalau meminta bekerjasama denganku, cho kyuhyun.”
                                                                    ***
Aku melangkah kan kakiku mantap kepintu utama sebuah gedung beringkat sepuluh yang megah dihadapanku. Gedung ini tak kalah kerennya dengan gedung perusahaan GK cooperation. Letaknya pun tak jauh. LD Cooperation. Perusahaan milik Lee donghae.
Tidak sulit untuk mengetahuinya. Han ha gun cukup bisa menjadi sumber tepercaya. Dan tentunya, ini tanpa sepengetahuan Jehee. Mudah saja, katakan kalau aku sempat terlibat masalah dengan Jehee saat Jehee lulus SMA, dan kami tidak akan sanggup untuk bertemu kembali.
“sudah mempunyai janji?” tanya seorang resepsionis yang menyambutku tak jauh dari pintu masuk.
“belum, tapi kami akan membuat janji. Setelah ini.” yeoja itu sedikit mengernyit, menatapku bingung. Mungkin karena kata kataku.
Kemudian dia mulai menarik gagang telepon dan berbicara sedikit dengan orang disambunga telepon dengan sedikit serius. Tak jarang dia memangut mangutkan kepalanya, yang aku yakin itu tidak akan terlihat oleh peneleponnya.
“baiklah, apa anda tuan Cho JinHo?” ujarnya sesaat setelah menutup teleponnya.
Aku berusaha menyimpan keherananku, kemudian mengangguk. Dan resepsionis itu menuntunku menaiki lantai tiga kemudian mempersilahkan aku untuk masuk.
“donghae hyung.” Tegurku dingin.
                                                                   ***
Lee Donghae PoV
Sesulit apapun itu, aku yakin. GK Cooperation adalah perusahaan yang kuat. Sekalipun mereka mendapat kelemahan, aku harus membantunya.
“donghae hyung.” Seseorang telah memasuki ruangan kerjaku.
Aku membalikkan tubuhku yang sedaritadi menatap jendela besar ruangan. Menatap penuh simak pada namja yang bisa dibilang berdiri gagah dihadapanku. Dengan setelan jas rapihnya dan jam tangan bermerek yang aku ketahui itu bukan barang yang mudah dibeli dengan harga wajar.
Sejam yang lalu, kyuhyun menemuiku. Menceritakan semua hal atau kemungkinan yang akan terjadi. Kyuhyun tidak bodoh, tentu saja. Dia mempunyai pemata yang lebih terpercaya dan jalan pikir yang lebih menjebak dari pada yang dimiliki jinho.
Wajah JinHo terlihat sedikit lebih dewasa sekarang, walaupun tidak sepenuhnya dewasa. Dia masih terkadang berlagak kekanak kanakan sedikit.
“lama tak bertemu.” Sapaku kemudian menyilahkannya untuk duduk.
“yeah, lama tak bertemu.” Ujarnya dengan nada yang sedikit penuh arti.
“aku tidak punya banyak waktu, hyung. Hanya beberapa kalimat untuk menyampaikannya.”
Aku menagngguk, mempersilahkannya untuk berbicara.
“tinggalkan Jehee, karena itu akan berdampak buruk bagimu. Jehee atau perusahaanmu yang akan hancur. Bukan hanya dua pilihan, karena aku masih cukup baik padamu. Cho kyuhyun. Aku yakin kalian akan bekerjasama dalam menyelesaikan hal ini. tapi sungguh, kau akan melihat keterpurukanmu beberapa waktu lagi kalau kau masih ingin bekerja sama dengannya. Sunguh, aku tdk bergurau kali ini.”
                                                             ***
3 days latter~
12 – 04 - 2012
Namsan Tower, South Korean
19:00 PM
Tanganku menulis santai dalam selembar kertas kecil yang sudah aku siapkan sebelumnya. Dan sepasang gembok berwarna orange yang masing masingnya dilambangkan huruf kami. D~J. semua kalimat yang aku rangakai seindah mungkin.
Disampingku dia duduk tenang, dengan pena hitam digenggamannya. Menulis denan asiknya, tanpa menyadari helaian rambut panjangnya yang berterbangan tertiaup angin, membuatnya sedikit berantakan.
Tanganku terulur untuk merapihkan anak rambutnya. Dan dia mulai tersadar. Mendongakkan kepalanya yang sedari tertunduk ringan menata tulisannya, dan beralih menatapku dengan senyum simpulnya.
“oppa,” dia menghela napas setelahnya. “apa kau yakin, ini akan berhasil?”
Aku membenarkan dudukku menjadi lebih nyaman dan menatap manik matanya. Berusaha meyakinkan bahwa perkataanku serius.
“pasti, dan semoga saja.” Tanganku menyelipkan anak rambutnya ketelinga kirinya sebelum kemudian beralih menggenggam tangannya. “aku pergi hanya sebentar, tak lama. Sampai semua ini selesai, dan janji serta harapan kita akan terpenuhi secepatnya.”
Jehee sempat memanyunkan bibirnya, tapi setelahnya ia tersenyum, sangat manis. Dan mungkin ini menjadi senyuman termanis terakhirnya sebelum aku meninggalkan seoul. “gwenchana oppa, aku sama sekali tidak mempermasalahkan kepergianmu. Karena aku tahu, itu yang terbaik.”
“eo, jehee~a. apa kau ingin ikut denganku?” ujarku setelahnya.
“mwo?” dia membulatkan matanya. “maksudmu bukan untuk ikut pergi ke Jeju denganmu kan?”
Aku tertawa, nyaris terbahak. “bodoh, maksudku, apa kau mau ikut aku masuk dan mengelilingi namsan tower ini, je~a”
Dia mengercutkan bibirnya dan tertunduk malu. Dan aku menghentikan tawaku. “kajja.” Aku menarik jemari tangannya untuk mengikuti langkahku. Dan dia hanya berjalan membuntutiki dibelakang.
Kami melewati hari ini dengan semua canda dan tawanya. Ini kali pertama kami berjalan bersama hingga sejauh ini. mengitari kota seoul seharian. Aku tak peduli seberapa lelahnya setelah ini. mendapatkan kaki yang pegal karena berjalan terlalu banyak. Itu tidak terlalu penting. Yang aku butuhkan hari ini hanya satu. Membuat kenangan dengannya sebelum aku meninggalkan seoul yang aku sendiri takkan yakin, kapan aku kembali.
Malam sudah mulai datang. dan kami memutuskan untuk pulang dengan berjalan kaki dari halte bus yang letaknya tak cukup jauh dari rumah Jehee.
“oppa, kau ini seperti besok ingin mati saja.” Dia mengoceh sambil menyamakan langkahnya disampingku.
“kau tahu?” aku menghentikan langkahku kemudian menghadap kearahnya. “meninggalkanmu mulai besok, sama saja neraka bagiku.”
                                                         ***
Jeju Island, South Korea
15 – 04 - 2012
10:00 am
Donghae’s apartment
Nafasku berhenti terengah. Terlepas dari kejaran maut yang sangat membahayakan, aku tahu itu. Baru saja tiga hari aku menetap, kecurigaan itu mulai muncul. Mereka memang berpusat disini, pulau Jeju.
Tanganku segera menyambar ponsel yang ada di meja hadapanku. Mencari nama dalam kontak ponselku yang tersimpan. Dan segera meneleponnya tanpa perlu mengatur nafasku yang masih terengah akibat pelarian spontanku.
“kyu~a!” nafasku mulai teratur kali ini, dan segera saja tersambung.
“ne hae~a. otte?”
“mereka menyimpan semuanya dalam sebuah tempat yang tak jauh dari pantai utara Jeju.”
apa kau yakin kau aman sekarang?”
“entahlah, tadi ada tiga orang penjaga yang nyaris mengetahuiku.”
Belum sempat aku melanjutkan pembicaraanku dengan kyuhyun, pintu apartementku terketuk. Tanganku membeku, dan detak jantungku berdenyut lebih cepat. Tidak mungkin, takkan ada satu orang pun yang mengetahui keberadaanku disini. Selain kyuhyun, dan Jehee.
                                                                 ***
Author PoV
Seoul, South Korea
Kyuhyun’s House
15 – 04 -2012
21 :00 pm
Malam yang mencekam, sangat. Di kediaman rumah keluarga Cho yang berdiri megah ditengah kota Seoul. Lokasinya strategis dengan berbagai tempat. Tidak, bukan strategis, tapi semuanya memang ada didalam sana. Sungguh.
Lapangan parkir yang biasanya hanya untuk mengandangkan mobil, di dalam sana digunakan untuk tiga hal. Mobil, pesawat dan helicopter pribadi. Tamannya pun juga bukan sembarang taman orang kaya biasa yang hanya ada berbagai bunga dan labirin yang cukup besar. Disana, ada sekitar satu juta macam bunga yang beragam dari berbagai negara. Ditata dengan secantik mungkin yang jika dilihat dari atas menggunakan helicopter akan membentuk labirin silsilah keluarga Cho. Dan ditengahnya terdapat air mancur yang berada dalam tengah kolam yang menyerupai bentuk air terjun yang menurun kebawah tanah taman.
Jika ingin mencari bahan pangan, tak perlu lagi untuk mencari ke supermarket yang harus mengeluarkan tenaga untuk keluar rumah. Didalam sana sudah terdapat minimarket keluarga yang canggih. Hanya berbentuk petakan 10x10 meter, tapi semua yang diinginkan ada. tepatnya, ada dalam mesin pangan. Apa yang kita inginkan tulis saja dalam keyword yang ada. tak perlu menunggu sampai lebih dari tiga menit, yang kita inginkan akan keluar.
Tempat fitness atau kolam renang pun ada. lengkap dengan fasiltas canggihnya. Begitu juga dengan kebutuhan lainnya. Semua terpenuhi dengan mudahnya. Dan semua bersal dari satu. Cho kyuhyun. Dia mempunyai otak yang sangat amat jenius hingga mampu menyiptakan segala macam tegnologi yang ada dirumahnya, bahkan di korea.
Tak banyak yang tidak mengetahuinya. Dari kalangan pengusaha hingga anak anak pun mengenalnya. Dia sejujurnya belum dikatakan pemilik resmi GK cooperation. Karena sebenarnya masih ada campur tangan ayahnya yang berkuasa. Semua kendali ada padanya.
Tapi sungguh, mala mini sangat mencekam didalam kediaman keluarga Cho. Terutama dalam kamar utama. Kyuhyun berdiri tegang menatap sosok ayahnya yang masih terbaring tenanga dengan pemeriksaan dokter. Dan ibunya hanya terdiam dalam tangisnya.
Beberapa menit yang lalu ayah kyuhyun jatuh pingsan ambil memegangi dadanya yang sempat dikatakan sakit. Dia terjatuh sungguh tiba tiba membuat kyuhyun, Jehee dan istrinya terpaku kaget. Kyuhyun sempat menyuruh Jehee untuk segera tidur karena larut malam, jadi tak ada Jehee didalam sini. Karena kyuhyun tau, ini akan menambah kekhawatiran Jehee.
“saya kurang yakin dia bisa melewati masa kritisnya ini.” ada helaan nafas setelahnya. “kondisinya sangat lemah.”
Kyuhyun kemudian memberikan tanda kepada dokter pribadi keluarga Cho yang kebetulan sahabat karib ayahnya untuk berbicara diluar. Karena dia tahu, tidak baik jika hal yang lebh buruk yang akan disampaikannya terdengar sampai ketelinga ibunya. Ini akan menjadi beban hidup untuknya.
“apa selama ini dia tidak pernah memeberitahukanmu tentang penyakit dideritanya?” dokter itu melepaskan stetoskop yang sedari tadi melingkar dilehernya.
Kyuhyun menggeleng kemudian menatap serius kepada sosok dokter dihadapannya. “aniya, sama sekali tidak,” kyuhyun mengambil tempat duduk di sofa depan pintu masuk ruang tidur ayahnya. yah, tentu saja. Kamar ini dilapisi berbagai macam ruangan. “lalu, apa yang sebenarnya appa derita, ajjushi?”
Dokter yang biasa disapa ajjushi itu menghela nafas untuk kedua kalinya. Sepertinya ini terlalu berat untuk disampaikannya. Karena memang sebenarnya sahabat yang dikenal semenjak duduk dibangku smp ini tidak ingin menyampaikan kepada keluarganya, dan dia ingat pesan itu. Tapi penyakitnya harus segera disembuhkan. Karenanya dia akan memberitahukan hanya pada satu anggota keluarga Cho saja yang menurutnya akan membantu. Cho kyuhyunn.
“penyakit yang hanya diderita sedikit orang di dunia. Dan ini sangat membahayakan. Sungguh, aku tidak main-main dengan perkataanku. Dan, kyu~a” tangannya menepuk ringan pundak kyuhyun dengan tatapan mata penuh harap. “tolong jangan sampaikan penyakitnya dengan siapapun, karena ini keinginannya, kau juga kumohon berpura untuk tidak tahu dihadapannya. Dan satu lagi,” kini suaranya semakin bergetar putus asa. Kehilangan sahabat tedekatnya sama sekali bukan maunya. Dia sangat mengigiinkan kesembuhan, tapi semuanya tersa buntu. “jebalyeo kyuhyun~a. kali ini aku sangat membutuhkan bantuanmu.”
Cho Jehee PoV
Perasaanku begitu tergelitik untuk ingin tahu. Aku berjalan menuruni tangga lantai satu tempat kamarku berada menuju lantai dasar kamar utama Cho ajjushi. Dia jatuh sakit, dan aku sangat menghawatirkannya tentu saja. Tapi kyuhyun oppa menyarankanku untuk segera tidur. Aku hanya mengiyakan, tapi tidak sepenuhnya.
Karena ruang yang ada didalamnya berlapis aku hanya sempat untuk membuka pintu ke dua menuju ruang tidur. Seketika aku terlintas untuk membuat kejutan pada ajjushi. Aku menyempatkan diri untuk keruang makan dan membuatkan susu hangat dan roti panggang untuknya. Kemudian kembali berjalan. Tapi semuanya terhenti disana. Seperempat pintu terbukan pelan olehku, dan semua terasa mencekam.
Kakiku bergetar hebat, dan jantungku nyaris terjatuh dari tempatnya. Mataku menatap tak menentu. Kalau saja aku menuruti kata kyuhyun oppa kali ini untuk tidur dengan nyenyak dan dapat menyongsong pagi dengan baik esok. Namun semuanya sekarang sudah terlanjur. Aku medengarnya. Semua.
Nampan yang tadinya kau bawa dengan perasaan tenang kini seudah bergetar dan nyaris aku jatuhkan. Yang aku takuti bukan hanya penyakit yang diderita Cho ajjushi. Tapi juga GK cooperation yang ada di dalam kendalinya. Terlebih sekarang. Appa akan memulai permainannya.
                                                                ***
“babo!” akuu menghentakkan meja kerjaku kesal. Dan semua menatapku heran. Aku yakin, wajahku sudah tak kauan lagi ekspresinya. Ini karena ulahku semalam yang terlalu terkejut dan akhirnya menjatuhkan piring yang aku bawa. Kyuhyun oppa mendengarnya kemudian menatapku dengan kening berkerut. Tapi entah kenapa dia bukannya memarahiku seperti biasa, malah memelukku dengan mengucapkan kata kata yag sangat menyentuh. “bantu aku Jehee~a. semampu yang kamu bisa”
“wae, Jehee~?” Ha gun menatap datar diriku yang akhirnya menjatuhkan diri pada kursi kerjaku.
“tidak apa-apa, hanya sedang kesal.” Aku meletakkan barang barang bawaanku.
“dengan?”
“siapa lagi kalau bukan kyuhyun oppa”
“tumben”
“apa?”
“tidak biasanya kau merasa kesal dengannya”
“aku tidak marah. Hanya saja,” aku menghela napas sejenak. Mengingat manic mata kyuhyun oppa semalam saat aku ketahuan menguping tanpa sengaja. “dia terlalu menyayangiku, hingga aku merasa kecewa dengan diriku sendiri. Apa yang sepantasnya ku lakukan, gun~a?”
“menyayanginya dengan sangat.” Jawabnya cepat.
“maksudmu? Aku sudah, menyayanginya dengan sangat menurutku.”
“dengan baik? Melakukan apa yang seharusnya kau lakukan?” kau tersentak, karena menyadari hal itu belum kulakukan.
“gomawo” aku menepuk ringan pundak Ha gun sambil tersenyum jahil. “tidak salah aku merestuimu dengan kyuhyun oppa.”
“mwo? Apa maksudmu?” matanya mulai membulat dan menyadari ketidak beresan kalimatku.
“”karena kau bisa menyayanginya,” aku mengambil ancag ancang untuk berlalu pergi. “dengan baik”
“YAK!”

Cho Kyuhyun poV
Aku menggeram. Meremas kepala tangan dengan kuta. Mataku menatap marah pemandangan dihadapanku. Dan hatiku terasa luluh tersayat dan malah merasa sangat kecewa dengan diriku sendiri. Ini tidak mungkin. Han Ha gunku. Tidak mungkin dia bisa ada bersamanya lagi. Dan tidak mungkin juga aku terlalu lemah untuk hal ini.
Pikiran-pikiran buruk mulai menghantuiku. Terkahir kali aku bertanya pada Hagun saat melihat mereka sedang datang ke kantor bersama dihanya menjawab, “apa urusanmu? Dia hanya adik kelas ku sewaktu SMA. Dan baru akrab kembali sekarang tidak lebih. Kenapaa? Kau cemburu, cho kyuhyun~ssi?” walaupun diakhir katanya membuatku sedikit tersentak, tapi aku membuat senyum setelahnya. Dia menjelaskan semuanya padaku. Dan aku yakin, maksudnya agar aku tidak dipenuhi rasa cemburu karena mereka hanya berteman. Yah, sangat menenangkan saat itu.
Tapi ini sungguh berbeda. Mereka terlihat terlalu akrab. Entah apa yang membuatku khawatir. Aku takut ha gun akan menjauh dariku dan pergi dengan musuhku sendiri, tapi aku merasa sakit dan kecewa karena kebodohan Ha Gun yang tidak menyadari kondisiku sekarang.

Sial, Jinho tahu titik lemahku. Han Ha Gun.
                                                                                   TBC


annyeong! FADILLA................! AKHIRNYAAA! *lebay*
 maap telat ._.v internetnya engga friend sama authornya nih~ ini udah jadi kapan tau, tapi baru sempet sekarang di post. mianhae, chonmal mianhae *sujud-sujud* *lebay* wkwk.
yaudah, ini menurut kalian ceritanya gimana? nyambung gak? aneh gak? soalnya takutnya malah udah lama, cacat pula. wk. ditunggu komennya yaaaaaaa (;

1 komentar:

Anonim mengatakan...

wow..!! jdi titik kelemahan Kyu oppa ada di aku?
berarti aku spesial bgt dong bgi kyu oppa??
hehehe..
Daebak Chingu.. ditunggu kelanjutannya ya..