Sabtu, 19 Mei 2012

You Are The best Oppa #4


You Are The best Oppa #4



ini akhir yang baik, lumayan. Karena takkan ada akhir cerita hidup yang seindah dalam cerita dongeng.
Walau semua terdengar baik, tapi akan selalu ada beberapa hal yang masih menyesakkan dada. Diakhir sebuah cerita kehidupan.

Author PoV
Pintu apartement terbanting keras, tanpa sempat donghae bukakan. Dengan segera donghae bangkit dari duduknya. Memasukkan hpnya kedalam kantung celananya. Berusaha bersikap tenang. Membiarkan tiga orag berbadan besar datang menghampirinya. Ini hanya sebuah permainan. Siapa yang paling tenang, dia pemenangnya. Begitu pikir donghae.
“nugundae?” ujarnya setelah tatapan mata mereka bertemu.
“tidak ingatkah? Betapa bodohnya kau ini huh?” salah seorang darinya menjitak keras kepala bagian belakang donghae yang kemudian di iringin tawa ketiganya.
“cih,” donghae mengelus pelan dengan gerakan meremehkan. Ini hanya sekedar lelucon murahan. “masih ada urusanmu kah?”
“hahahhaha,” satunya yang berwajah bulat tertawa dengan sedikit berkesan sinis. “sungguh kau kelewat bodoh, hae~a! urusan? Jelas banyak!” ada gertakan setelahnya.
“apa maksudmu untuk datang ke Jeju? Mencari tempat persembunyian kami, huh?”
“kau salah,” timpal donghae setelahnya. Tiga orang itu terlihat sedikit terkejut namun berusaha untuk menutupinya. Donghae berjalan menuju pintu apartement. “urusanku bukan dengan bos kalian, Jinho. Jadi, kalian lebih baik pulang saja!”
Mereka kembali terbahak. “berusaha untuk mengelak? Kami tahu isi otak bodohmu itu!”
“tidak, aku tidak mengelak. Karena aku memang tidak ingiin bertemu dengan Jinho kalian. Itu tidak penting!” tangan donghae terlipat didepan dada. Menatap tantang ketiga wajah bawahan Jinho yang sempat ditemuinya tadi saat pelarian spontannya.
“lalu?” yang ketiga akhirnya angkat bicara. “apa yang kau inginkan? Pelajaran dari kami?”
Donghae tetap berkukuh didepan pintu. Berdiri diam tanpa menanggapi. “katakana atau kami akan menghabisimu!” mereka sudah siap mengambil barang pecah belah yang terpampang di apartment donghae. Bersiap jikalauu donghae tetap tak bergeming.
“cepat, kami tak punya banyak waktu, hae babo!” salah sorangnya menendang tulang kering kaki donghae, namun donghae tetap terdiam. “katakan!”
Vas bunga yang ada di atas meja tamu tersingkir pecah oleh mereka. Dan nyaris menjatuhi kaki donghae, karena posisinya yang berdekatan.
“aku tidak ingin bertemu dengan bos mu Jinho,” donghae akhirnya angkat bicara dengan nada dinginnya. Ketiga wajah itu menatap nanar donghae.“tapi aku hanya ingin bertemu ayah dari bos kalian. Aku tahu, dia tidak ada di Amerika bagian manapun. Karena dia, ada disini!”
                                                           ***
“kau bodoh atau apa, huh?” kyuhyun mulai meninggikan nada suaranya
“aku tidak tuli! Tidak usah meneriakiku seperti itu!” sungut Hagun dengan nada sedikit lebih tinggi dari kyuhyun.
“yeah, kau tuli dan bodoh!”
“apa?!” ha gun bersedekap menatap kyuhyun tantang.
“kau,” kyuhyun menggeram, namun berusaha meredan emosinya. Berhadapan dengan yeoja satu ini memang sulit baginya. Banyak dampak yang dapat ditimbulkannya. “berteman dengan rival perusahaan ini.”
Ha gun terdiam sejenak. Kemudian mengeluarkan tawanya. “jinho? Hahaha, kau ini. dia saja baru tahu aku bekerja disini beberapa minggu lalu. Dan lagi pula dia terlalu lugu untuk menjadi rival”
“karena keluguan dan kebodohan palsunya, hingga dia bisa menjadi rival perusahaan ini.” kyuhyun menegapkan tubuhnya. “mendekatimu, teman karib kakaknya, adalah solusi termudah untuk mendapatkan informasi yang dia inginkan.”
“kakak? Setahuku dia anak tunggal. Dia tidak pernah menyeritakan adik atau pun kakaknya.”
“kali ini kau terlewat bodoh. Apa kau tidak menyadari marganya?”
Ha gun terdiam untuk berpikir sejenak. Matanya sedikit berputar, dan nalarnya nya mulai digunakan. “cho? Maksudmu? Kau kakaknya?”
Kyuhyun berdecak, mencoba sabar untuk menjelaskan pada lawan bicaranya kali ini. sungguh bodoh, namun semakin menyadari kebodohannya mengapa bisa jatuh hati pada gadis sebodoh ini. “bukan aku, tapi adikku.”
“mak..sudmu? Jehee?!” suara Hagun terdengar sedikit tercekat. Sungguh, ini sangat mengejutkan baginya. Yang dia ketahui hanya keluarga jehee yang bermasalah tanpa mengetahui seluk beluk siapa keluarga jehee.
“ne,” kyuhyun berdehem. “lalu? Apa kau masih ingin membuka mulut embermu ini pada Jinho?”
Ha Gun hanya menelan ludahnya, menyadari kesalahan dan maksud kemarahan Kyuhyun padanya. Sungguh, aku merasakan kebodohan sangat. Desirnya dalam hati. “aniya, aku berjanji. Akan membantu kalian.”
                                                                ***
Five Month ago,
Jeju island, South Korea
19 : 00 pm
Han Ha Gun PoV
Mataku terpejam menghadap pantai biru dengan pasir putih yang mengalaskan tempat dudukku. Malam yang indah dan aku sangat membutuhkan ketenangan. Berusaha mengurangi rasa sesak di sasaku. Pertempuran baru saja berakhir, dan ini akhir yang baik, sungguh. Tapi ada yang terburuk diantaranya.
Ini bodoh memang, karena takkan jauh dari sosok namja yang entah kenapa menghantui kehidupanku belakangan ini. awalmulanya aku sangat membencinya, sangat. Tapi entah magnet apa yang menarikku, sehingga aku berpikir takkan ada nafasku tanpa keberadaannya didekatku.
Cho kyuhyun. Dia akan pergi esok pagi ke luar negeri, entah dimana aku tak mau tanyakan. Mendengar kepergiannya saja sudah membuat sesak seakan nafasku terekut. Dia berusaha menghilangkan dan menjauh dari semua memori buruknya di setiap sudut Negara ini.
Kelumpuhan jehee karena luka tembak yang berasal dari senapan pamannya, ayah Jehee sendiri sudah membuatnya sangat meredam amarah. Kesal dan rasa pilu yang mendalam, aku tahu itu. Kyuhyun sangat menyayangi Jehee, dan dia tak ingin kehilangan keceriaan Jehee yang memudar disetiap harinya.
Kepergian Donghae yang entah kemana. Terakhir kali dia pamit untuk menemui ibunya di Busan, namun tak ada kabar kembali. Saat kami berusaha menghubungi rumah ibu donghae, dia mengatakan donghae tidak ada disana, dan entah kemana anak itu menghilang. Dan kematian appanya beberapa bulan yang lalu, menyisakan kepedihan tersendiri.
Memang, ini buruk untuknya dan dia harus mencoba menghapus semua memori menyakitkan itu. Dan kembali untuk mental yang lebih kuat, untuk membimbing Jehee kembali. Ini sangat baik untuknya, tapi aku rasa sangat berdampak buruk bagiku. Sungguh.
“kau tidak pulang?” mataku terbuka seketika mendengar sahutan suara yang kukenal.
“ne? eum.. aku hanya ingin menikmati ketenangan, sejenak.”
“mianhae,” Jinho duduk sila disampingku kemudian menunduk. “sungguh aku sangat meminta maaf padamu atas semua ini. appa terlalu keras kepala.”
“gwenchana. Aku akan memaafkanmu, dengan syarat yang harus kau penuhi.”
“apa? Aku berjanjin akan memenuhinya dengan sungguh-sungguh” ujarya serius, membuat senyum simpul dalam bibirnya.
                                                               ***
Cho Jehee PoV
“kalian pikir hanya ini, yang mampu membalas semua kesalahannya?” tawa appa menggelegar, seakan sekumpulan orang jahat dalam drama korea yang aku tonton sedang mendapat permainan baru.
Aku hanya terdiam dalam tempatku. Berdiri terpaku, dan menguatkan mentalku. Ha gun ada disampingku. Dia menggenggam erat pergelangan tanganku. Aku tahu, ini bukan hal yang paling menakutkan baginya. Dan malah, ini menjadi hal terseru baginya. Tapi dia sahabat yang baik, sama sayangnya dengan kyuhyun oppa padaku.Donghae oppa berdiri dengan ancang ancang nya. Sesekali dia meihatku, dan berusaha memastikan kalau aku akan baik baik saja.
Ini semua bermula karena appa yang akhirnya turun tangan. Setelah kematian Cho ajjushi, beberapa hari lalu, appa memberanikan diri untuk menunjukkan dirinya. Tidak sia-sia kunjungan donghae oppa ke Jeju, yang akhirnya dapat memancingnya keluar.
“pergi dengan harga diri yang sebenarnya sudah jatuh, aku yakin itu. Dia mengucapkan kata yang sungguh melecehkanku malam itu! Apa kalian mau, membayar rasa sakitku akan perkataan, huh?” appa berujar kembali, dengan tawanya. Membuatku bergetar hebat. “jehee! Itu ibumu, anak malang! Sama sepertimu! Menyusahkan dan tak tahu diuntung.”
“sakit jiwa!” Ha Gun menatap tantang appa yang akhirnya beralih menatap Ha Gun. Dia tidak bergetar takut sedikitpun, dan aku salut untuk itu. “kau pikir, dengan menyamakan darah dagingmu dengan seorang ibu yang kau pikir bejat itu baik? Bodoh! Seharusnya kau berusaha menyelamatkannya dari kesamaan itu!”
“hah! Jadi ini, pasukan baru kalian?” sudut tempat ini terlalu kecil, jadi tak ada tempay untuk aku dan Ha Gun mundur saat dia memajukan tubuhnya mendekat pada kami.
“jangan sentuh dia, jika kau tidak ingin mati sekarang.” Aku menoleh, menatap kyuhyun oppa dengan senyum simpulku. Hebat, dia akhirnya menunjukkan ke khawatirannya disaat genting ini.
“mati? Omong-omong mati, aku turut berduka cita dengan kematian kakakku.” Dia tersenyum kecut, kemudian mengeluarkan sebuah benda dari saku celananya. Dengan tatapan menyeramkan appa mendekatiku. Sebuah senatapan yang mulai terulur.
“siapa yang inginkan mati terlebih dahulu? Kau? Kau? Atau kau, Cho kyuhyun?” donghae mulai menatap awas padaku. Dia tahu apa yang dimaksudkan appa sepertinya, tapi sayangnya aku sama seklai tidak mengerti isyaratnya.
“tidak, sepertinya hanya satu orang yang dapat menyembuhkan dendamku.”
Dengan cepat donghae oppa berlari, dan aku hanya menatap bingung, karena entah kenapa perutku terasa mual dengan ini semua. Tempat ini, tempat yang sama ketika aku ditinggal pergi eomma, dan semua pikiran itu berputar, mengganggu konsentrasiku.
JEHEE~A!” kyuhyun oppa menarik lengaku, berusaha menarikku kedalam dekapannya. Tapi terlambat. Suara senapan itu terdegar. Kakiku melemah, dan aku hanya bisa merintih. Rasanya sangat sakit dan aku tidak mampu melakukan apapun.
Kyuhyun oppa menopongku dengan tubuh berggemetar, “gwenchana? Jeballyeo,, kau harus bertahan, Je~a” dia membopongku masuk kedalam mobil, ketika semua terasa gelap, dan aku merasakan rasa sakit itu lenyap, entah kemana.
“malam yang indah bukan? Bintangnya sangat banyak.” Eomma duduk disudut kasur ruang inapku dengan senyum manisnya, dan aku hanya terdiam. Menatap jendela ruangan dengan pilu.
“oppa,” suaraku bergetar. Entah kenapa aku sangat ingin meneriaki sebutan itu. Mereka, oppa ku yang terbaik. Yang dengan sabarnya menuntun jalan hidupku yang sempat tak terarah, menyandangku sebagai predikat adik terhebat dalam dunia ini, dan membuatku merasa sebagai orang yang paling beruntung karena memilikinya. Tapi dimana mereka? Karena sungguh, hanya itu yang aku inginkan sekarang. Bukan keindahan malam yang dilbih lebihkan eomma.
Sekarang aku lebih merasakan posisi seorang oppa yang lebih berharga dibandingkan sosok eomma yang dulu kutangisi. Aku menginginkan eomma ada disampingku, tapi aku lebih mengingikan mereka, sungguh.
“kyuhyun oppa mu akan datang sebentar lagi,” eomma sepertinya mengerti maksudku, dan aku menunggu penjelasan selanjutya. “kamu makan dulu ya?”
“dongahe oppa.” Ujarku akhirya, eomma selalu saja menghindar dengan pertanyaan itu. “dimana dia?”
Eomma tersenyum, menatapku sabar. “dia ada, masih ada disekitarmu. Dan takdir yang akan mempertemukan kalian kembali” aku terdiam, menyimak perkataan eomma. Ya, hanya takdir yang menentukan. Karena takkan ada langkahku untuk mencarinya untuk saat ini.
“adakah adikku disini?” suara berat kyuhyun oppa terengar dari sudut ruangan. Dia datang dengan tentengan ditangannya, dan aku tidak begitu tertarik dengan itu.
“tentu saja, oppa” aku menoleh kearahnya, memeluknya dan memberikan ciuman singkat pada pipinya. “kau bawa apa?” tanyaku akhirnya yang mulai penasaran dengan bawaannya.
“tara! Ini untukmu” kyuhyun oppa mengeluarkan isi dari tas kertas yang dibawaya kemudian menyodorkan sebuah novel padaku. “aku membelinya tadi, dan kupikir pengarangnya sangat hebat! Aku menyukai gaya dia berbahasa dan menyampaikan cerita.”
Aku tertawa kecil kemudian menjitak kening kyuhyun oppa. “kau bodoh, ini novelku!”
                                                               ***
Cho kyuhyun PoV
Ini bukan akhir yang menyakitkan tentunya. Hari ini memang pasti ada, dan memang harus ada. seusai aku menemui Jehee diruangannya, aku menemui dokter yang menanganinya. Dan bukan hasil yang buruk, ini sangat hebat! Jehee bisa berjalan kembali.
Aku membatalkan penerbanganku untuk ke America segera, dan menyerahka semua perusahaanku ketangan Jinho, dan berniat untuk menghabiskan waktuku beberapa bulan bersama adikku yang sangat aku pertahankan dalam hidup ini.
Semua akhir buruk dalam permasalahan ini terasa lenyap dan hilang begitu saja. Sungguh, aku sanat berterima kasih kepada tuhan untuk ini semua.
“dia sudah sembuh sepenuhnya,” dokter itu tersenyum. “hanya butuh berlatih kembali untuk berjalan, karena tungkai kakinya sudah lama tak digunakan, jadi harus dilatih kembali” kalimat itu sungguh jauh lebih berharga dari pemujaan terhadap diriku tentang hal apapun.
Aku melangkah masuk kembali kedalam ruang inap Jehee, dan menatapnya dengan senyum terulas dalam bibirku.
“kau tahu? Mengapa aku selalu bisa mengatasi banyak hal?” ujarku dengan nada sedikit berlagak. Dia mengercutkan bibirnya kemudian menyahut dengan datarnya, “karena kau terlalu jenius, cho kyuhyun-ssi”
“yak, apa yang sudah Ha Gun ajarkan padamu, huh? Sejak kapan kau memanggilku tanpa sebutan oppa?” sahutku protes saat mendengar namaku disebutkan dengan nada yang sama seperti Ha Gun.
“mian, mungkin kau marah karena aku menggunakan kalimat Han Ha Gun mu itu, haha” ujarnya yang kemudian menertawaiku.
“adik bodoh, kau sudah sembuh sekarang!” tanganku mengacak ringan rambutnya. Kalimat itu kahirnya aku sampaikan segera, “ kau sudah bisa berjalan sekarang"
                                                                       TBC
heiii, fad. mian yaa kalo rada aneh cerianya, sedikit gak nyambung._.v tapi yaa, tunggu end nya deh. aku bakal bikin special buat kamu (;. hehe, buat readers, thanks udah mau mampir. ditunggu komentarnya yaa.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

next part ditunggu..
special? pake Telur ya?? hehehe