Kamis, 29 Desember 2011

Fanfiction Secret Love Story

Secret Love Story
annyeong! ini FF permintaan temenku lagi :D --> lirik Fadilla. maaf ya nunggu lama. dan maaf juga kalo hasilnya maksa. otak lagi mumet soalnya .
_. oiya , yang warna biru itu Flashbacknya hm.. sedikit ulasan ya! disini, Sung Jehee (aku) jadi adeknya kyuhyun oppa *ngarep* sebenernya adek sepupu. tapi aku adah dianggep kayak adek sendiri gitu deh. tinggal dirumah kyuhyun oppa. dan Ha gun, yang bakal ujungnya sama kyu oppa itu sebenernya temen kecilnya selama seminggu. pas dihari ulang tahunnya dia pindah ke Jepang. daripada penasaran, baca aja langasung dehh -->
Han Ha Gun PoV
Mataku berbinar melihat pemandangan di hadapanku. Toko Game. Yeah, surga dunia bagiku. Tidak ada yang bisa menggantikan semua yang berhubungan dengan game untuk kesenanganku. Minggu lalu, aku melihat di Internet ada game keluaran terbaru untuk bulan ini. karenanya, sebelum ke kampus, aku memutuskan untuk mampir ke toko game ini.
Tanpa memperdulikan Jehee yang masih berjalan jauh di belakangku, aku menarik gagang pintu toko. Dengan cepat, mataku mencari kaset game yang aku tuju, karena waktuku tidak banyak. Satu jam lagi kami ada kelas.
Gerakan tanganku seketika terkunci saat akan bergerak mengambil kaset game impianku itu. Sebuah tangan besar menahanku. Sudah bisa dipastikan itu seorang namja. Dan namja itu dengan cepat meraih kaset game itu kemudian membawanya kekasir setelah melepaskan cengkramannya dari tanganku.
“yak!” aku menghentakkan kaki tanda protes padanya dan berjalan menghampirinya yang sudah nyaris keluar dari pintu toko. Namja itu menggunakan masker dan topi yang diturunkannya. Membuatnya seperti seorang namja misterius.
Karena meresa dirinya di perhatikan oleh pengunjung toko, dan bahkan sebagian yeoja menunjuk tunjuknya sambil tersenyum senyum, membuatnya memberi tanda padaku agar mengikutinya keluar toko.
Dia membuka maskernya, membuatku sedikit terbengong. Sebuah pikiran melintas diotakku. Yu~a?
“mengalahlah untuk artismu yang satu ini. memang ini memalukan, tapi.. jebalyeo! Aku sangat membutuhkannya?!” wajahnya yang sebenarnya tidak menunjukkan kemelasan sedikitpun menatapku dengan penuh harap.
“artis?” tanpa sadar ucapan bodoh itu keluar dari mulutku.
“ne? yak! Kau tidak tahu aku?”
Aku menggelengkan kepalku dengan wajah bodohku yang masih terganggu oleh pikiranku itu.
Dia mendengus pasrah. “na, Cho Kyuhyun. Kau tidak tahu huh? Magnae Super Junior.” Dia mulai berjalan setelah mengumpat. “yeoja gila! Sudah beruntung, aku mau menampakkan mukaku dihadapannya secara dekat. Masih tidak mengetahuiku. Memalukan.”
Aku sempat melihatnya berhenti saat berpapasan dengan Jehee. Entah dia sudah mengenakan maskernya atau belum. Sepertinya jehee memang seorang K-POP sejati yang menegtahui semua artis di korea ini. atau, aku yang memang kurang menyukai dunia entertainment korea? Entahlah.
“yak! Kenapa kau meninggalkanku, huh?” protes jehee saat tiba di hadapanku.
“mianhae, cepatlah. Sepertinya kita akan terlambat masuk kelas jika berdebat disini.”
***
“sial. Kenapa kita harus bertemu namja setan itu, huh?!” aku menarik kursi dengan kesal. Jehee mengikuti di sampigku. Wajahnya tampak penuh dengan rasa penasaran
“namja setan? Maksudmu..”
“ne. dia sih mengakunya Cho Kyuhyun Super Junior. Tapi entahlah, kau kan tahu sendiri. Aku baru datang dari Jepang. Tidak menghubungi Korea sedikitpun.”
“lalu.. kenapa kau tau kalau itu julukannya?”
“julukannya? Maksudmu.. nama sapaannya memang ‘namja setan?’”
“aniya.. bukan itu maksudku.” Jehee melambaikan tangannya seolah bukan itu maksudnya. “ julukannya Evil Magnae Super Junior. Maksud evil disini, adalah sifat dingin, yang menakutkan, tapi membuat orang terpana, tapi..”
“aish. Sudahlah. Tidak penting membicarakan namja setan tidak tahu diri seperti dia. Jika dia artis, mana mungkin dia meminta belas kasihan padaku untuk meminta kaset game itu?”
Jehee segera membekap mulutnya, sebelum tawanya meledak. “mwoya? Jadi kalian tadi hanya memperebutkan sebuah kaset game? Dan Kyuhyun oppa meminta belas kasihan padamu hanya demi kaset game itu? Hahaha.. kyuhyun oppa memang ada ada saja caranya demi mempertahankan sebuah kaset game. Hhaha.”
“kau sepertinya sangat mengenal kyuhyun oppa?”
Seketika tawanya terhenti. “ne? eum.. aniya. Aku ini seorang E.L.F sejati, ha gun~a. tidak mungkin aku tidak mengenali semua sifat para member Super Junior.”
Aku mengangguk anggukkan kepalaku seolah paham. Aku memang baru mengenal Jehee beberapa bulan terakhir ini. walaupun, aku sudah kembali menetap di Korea satu tahun lalu.
Appa seorang pengusaha yang mempunyai perusahaan di Jepang. Dia mulai merintis karirnya di Jepang saat umurku menginjak 7 tahun. Tepat satu hari setelah ulang tahunku. Semenjak itu, aku tidak pernah menghubungi kerabat, keluarga atau apapun yang bersangkutan dengan Korea dan Nowon, tempat tinggalku sebelum aku pergi ke Jepang.
Yang masih terpikir dibenakku saat ini adalah kaset game itu, dan.. namja yang sebenarnya adalah seorang Cho Kyuhyun super Junior. Tapi.. kenapa wajahnya sangat membuatku teringat pada Yu? Matanya sediki berbeda. Tapi sorotan matanya lah sama.
Kyuhyun PoV
Pintu kamarku terbuka perlahan. Jehee melongokkan kepalanya didalam celah pintu yang di bukanya.
“wae? Masuklah.” Aku meletakkan pspku dan menepuk ringan sofa kamar yang aku duduki, memberi tanda padanya untuk duduk di sampingku.
Jehee adalah adik sepupu kesayangan aku dan ah ra onnie. Appa dan oummanya bercerai 15 tahun yang lalu, tepatnya saat dia berumur 5 tahun. Melihatnya menangis tak menerima kenyataan, membuatku dan Ah ra onnie meminta appa dan oumma untuk mengizinkannya tinggal di rumah kami. Aku dan Ah ra onnie tidak pernah menganggapnya sebagai sepupu lagi, tapi sebagai adik kandung. Begitu pula dengannya.  Cho Jino, Adiknya memutuskan untuk tinggal bersama appanya di Seoul, hingga akhirnya dia bergabung di SM saat ini.
“oppa, apa kau tadi bertemu dengan ha gun, di toko kaset game?”
“eo? Nugu? Yeoja tadi pagi di toko kaset game itu? Ck, ternyata di mengadu padamu?”
“aniya.. dia sama sekali tidak tahu kalau aku adalah adikmu, oppa.”
“baguslah. Lalu kenapa?”
Jehee mencubit lenganku, membuatku sedikit meringis. “kenapa? Yak! Oppa, kau ini seperti tidak punya perasaan. Mengalahlah sedikt pada yeoja!”
“maksudmu aku harus menyerahkan kaset game ini padanya? Shireo-a!” aku melipatkan kedua tanganku.
“shireo-a??” ujar jehee sambil memungut PSPku yang tergeletak di kasur dan mengayun ayunkannya seolah akan menghancurkannya.
“ck, serahkan padaku Jehee-a!” tangannya dengan sigap menghindar dari tanganku yang berusaha meraihnya.
“aku akan menyerahkannya jika oppa mau ikut denganku.”
Aku mendesah pasrah. “baiklah, aku menyerah.”
Senyuman Jehee terpancar sambil merogoh handphonenya dari kantung dan mengetik beberapa kalimat. Aku yakin, itu ditujukan untuk Ha gun.
***
Mataku menatap malas jendela café. Café ini, tempat dimana para artis biasa datang. Jadi tanpa menggunakan penyamaran lengkap, aku akan aman disini.
“Jehee-a, waktuku..”
“itu oppa, dia datang!” jehee menepuk ringan bahuku membuatku menoleh kearah yeoja yang ditunjuknya.
Yeoja yang di tunjuknya datang menghampiri kami setelah melihat lambaian tangan jehee. Dia mengenakan kaus berwarna putih yang sedikit kebesaran dengan celana jeans biru selutut, diikuti tas kecil disampingnya yang seirama dengan sepatu kets putihnya. Rambutnya yang sebahu dibiarkan tergerai dengan jepitan kecil diantaranya. Membuatku sedikit terpana beberapa detik.
Dia cantik. Satu kata terlintas dipikiranku saat melihatnya datang. tapi, ada sesuatu yang aneh darinya. Dia mengenakan kalung bunga yang seperti kepunyaan.. . aku menggelengkan kepalaku berusaha menjauhkan pikiran yang melintas di otakku.
Tangannya yang terjulur dihadapanku membuatku sadar dengan cepat. Tapi ada satu hal yang kembali membuatku sedikit terganggu. Dia mengenakan jam tangan adidas berwarna hitam yang persis kepunyaan seseorang yang yang selalu menetap dipikiranku. Tapi aku berusaha mengabaikannya.
“wae?”
Matanya menatapku dengan penuh tantangan. “berikan kaset game itu!”
“cih, enak saja.. aww! Yak, jehee –ssi.” Amukku pada jehee yang degan se enaknya menginjak kakiku.
“cepat berikan, oppa. Sebelum PSPmu hancur ditanganku.” Matanya menatapku mengancam. Membuatku sedikit khawatir dengan PSPku yang sedang diambang hancur.
“ck, apa kau sudah tertular dengan sifat yeoja setengah waras ini yang mempunyai separuh jiwa setan, huh?” keluhku.
“yak, oppa. Apa kau tidak sadar? Dirimu bahkan sudah seutuhnya berjiwa setan.”
“baiklah..baiklah..  igo.” Aku menyodorkan kaset game itu padanya. Dengan penuh menahan amarah.
Hancurlah sudah impianku untuk menjadi orang pertama yang menyelesaikan game keluaran terbaru bulan ini.
Seketika matanya menatap aneh padaku dan Jehee. Seperti baru menyadari sesuatu yang aneh dari kita berdua. Dia kemudian mengambil posisi duduk diantara aku dan Jehee menatap kami bergantian.
“waeyeo? Cepat ambil dan lekaslah pulang, sebelum dia berubah pikiran.” Ujar jehee sambil meneguk kopi dihadapnnya.
“chakkam.. jehee-a, bagaimana kau bisa mengenal seorang Cho Kyuhyun yang katanya adalah member super junior?”
Drrt.. drrt..
“yeob..”
“yak! Kyunnie, kau dimana huh? 1 jam lagi kita akan perfome dan kau belum kembali ke dorm?” aku sedikit menjauhkan handphoneku dari telingaku mendengar amukan leeteuk hyung dari sebrang.
“ne, hyung. Aku akan kesana.”
“cepatlah, kau ini sebenarnya ada dimana, huh?”
Aku segera menutup telepon darinya, meminimalkan perusakan telingaku.
“jehee-a, oppa harus pergi sekarang. Leeteuk hyung sepertinya sudah sanagt menghawatirkan untuk memulangkan oppa dengan selamat. Annyeong.”
Aku bangkit dari kursiku sambil menatap wajah jehee yang sepertinya sangat mengharapkan pertolonganku. Sebenarnya aku mengizinkan saja jika dia ingin berbicara jujur tentang hubungan kami. Tapi sepertinya dia tidak berniat untuk itu.
“hmm.. Jehee-a, mau aku antarkan pulang?”
Senyuman terulas dari wajahnya. Dia segera bangkit dan mengambil tasnya.
“ne oppa. Ha Gun-a, aku harus pulang sekarang. Sepertinya akan aku jelaskan dilain waktu. Annyeong!”
Ha gun hanya terperangah melihat kami bingung. Dia hanya mengangguk bodoh. Sepertinya dia masih sangat penasaran, namun diliputi rasa bingung. Biarlah, itu bukan urusanku. Biar Jehee yang menjelaskannya.
                                                            ***
Aku memainkan PSPku gusar. Sekelibat wajahnya yang diselingi wajah Hannieku membuatku sedikit penasaran. Kalung yang dia kenakan sama persis dengan kepunyaan Hannie. Jam tangannya pun sama.
Entah kenapa, semua yang terjadi padaku dengan Hannie beberapa belas tahun lalu terulas cepat dalam benakku seseudah melihatnya.
“kau sedang apa?” seorang yeoja mungil menghampiriku. Dia terlihat sedikit tertarik dengan apa yang sedang aku lakukan.
“aniya, hanya sekedar iseng saja.” Aku meletakkan bukuku, dan berbalas menatapnya.
“kau sedang mengerjakan matematika ya?” yeoja itu mengambil posisi duduk disampingku.
“eo. Aku sedang mengerjakan tugas liburan sekolahku. Memangnya kenapa?”
“apa pelajaran matematika itu seperti game?” aku tertawa kecil mendengar pertanyaanya.
“tentu saja. Ini sama seperti game. Kau menyukai games?”
Dia mengangguk pelan. “sangat menyukainya. Tapi eomma sering memarahiku karena terlalu menyukainya, katanya itu sangat mengganggu pelajaranku. Terutama pelajaran matematika yang membuatku pusing.”
“namamu siapa?” ujarnya setelah itu.
“ aku tidak terlalu suka jika namaku disebut lengkap. Panggil saja aku Yu. Kau?”
“aku juga. panggil saja aku Hannie. Kita berteman? Otte?”
Aku mengangguk pelan tanda persahabatan kami dimulai. Kesenangan kami sama. Game. Sebuah hal yang paling mengasyikkan didunia ini, menurutku dan menurutnya.
Aku menarik jas dan hpku secepat mungkin kemudian menuju pintu dan berlari kearah garasi mobil. Aku yakin dia pasti tahu sedikit tentang itu. Dengan cepat aku melajukan mobilku menuju apartementnya.
Tak lama aku sampai, dan dengan cepat memarkirkan mobil kemudian berlari kea rah lobby. Tanganku dengan cepat menahan lengan Jino yang ingin keluar dari loby, membuatnya sedikit tertoleh padaku.
“wae hyung?”
Jino membawaku untuk kembali ke apartementnya, dan membiarkanku masuk. Aku mengambil posisi duduk di sofa yang menghadap tv dan jino sedang berkutik didapur menyediakan minum untukku.
Tak lama dia datang dengan dua gelas ice lemon tea yang sedikit membuatku tehenyak.
“hyung tidak menyukianya? Baiklah akan ku buatkan yang lain untukmu.”
“aniya.” Aku menghentikan langkahnya yang ingin kembali kedapur. “aku menyukainya hanya saja ada sesuatu dibalik hal itu.”
                                                            ***
Jehee PoV
Aku memutar balikkan tubuhku di kasur sambil memeluk boneka kelinci kesayanganku. Aku sangat ingin memberitahukan Ha gun tentang hubunganku dengan kyuhyun oppa. Tapi aku sedikit ragu. Kyuhyun oppa seorag artis. Tidak mudah untuk memberitahukan identitasnya begitu saja.
Aku memutuskan untuk datang bertanya pada kyuhyun oppa. Mungkin dia ada di kamarnya. Aku tadi sempat melihatnya berkeliaran di rumah.
Tanganku meraih gagang pintu kamar kyuhyun oppa dan membukanya perlahan. Menyelipkan kepalaku diantara celah yang ada. Kyuhyun oppa tidak ada dikamar. Mungkin dia sudah kembali ke dorm.
Aku berniat untuk menutup kembali pintu kamarnya sebelum terhenti karena melihat sesuatu yang tergeletak di kasurnya selain PSPnya. Aku berjalan mendekati benda tersebut. Sebenarnya aku sedikit merasa bersalah karena memasuki kamarnya tanpa izin. Tapi rasa penasaranku lebih mendominasi.
Sebuah foto. Disana ada kyuhyun oppa yang saat itu berumur sekitar 8 tahun. Aku ingat sekali wajahnya. Dan disampingnya ada seorang yeoja yang sedang memluk boneka. Di kantung boneka itu tertulis kata “hannie” mungkin itu namanya.
Aku meletakkan kembali foto itu dan berjalan keluar dari kamar kyuhyun oppa sembari memutar otak. Apa yeoja itukah yang membuat kyuhyun oppa bersikap dingin dengan para yeoja? Atau.. kyuhyun oppa sedang menantinya? Dekat dengannya?
“aish!! Michiseo!” aku mengacak rambutku sendiri gusar kemudian kembali masuk kedalam kamar.
                                                            ***
Ha Gun PoV
Entah darimana namja itu tau dimana universitasku, dia datang. berdiri didepan mobilku sambil bersedekap. Penyamaran yang dia gunakan hanya sebuah topi yang sedikit diturunkan untuk menutupi wajahnya.
Jehee pergi entah kemana. Aku kehilangan jejaknya saat di aula tadi. Mungkin dia mempunyai acara sendiri. Aku terus berjalan seolah tidak menyadari kehadirannya.
“ikut aku.” Tangannya mencengkram kuat lenagnku.
“yak! Aku tidak ingin pulang denganmu, babo” aku memberontak dalam cengkramannya, tidak memperdulikan berpuluh pasang mata tertuju pada kami. Tapi dia menghiraukannya.
Dia segera membuka pintu mobilku kemudian duduk di bangku kemudi setelah memaksaku masuk kedalam mobil secara paksa.
“katanya kau seorang magnae super junior yang terkenal. Mau mengantarkanku saja menggunakan mobilku.” Sungutku sambil mengambil boneka teddy bear kesayanganku dari jok belakang kemudian memeluknya.
Pandangannya tertoleh sesaat padaku. Seperti ada ketertarikan sendiri pada boneka yang kupeluk.
“kau membelinya dimana?” ujarnya datar.
“ingin tahu saja.” Aku memutarkan kepalaku kearah kaca mobil tak peduli.
“jawab saja” ujarnya dingin dengan sedikit nada memaksa, membuatku terpaksa untuk menjawabnya.
“ ini, pemberian terakhir dari teman kecilku. Dihari ulang tahunku sebelum aku ke Jepang.”
Mataku menerawang melihat pemandangan di luar kaca mobil. Dia terdiam, tidak mengeluarkan sepatah katapun. Sepertinya ceritaku kurang menarik, mungkin.
Entah apa yang membuatku teringat, mungkin ini karena kyuhyun menanyakannya. Mengingat itu semua, membuatku semakin berpikir keras untuk mencari tahu keberadaan Yu sekarang. Terlebih, tatapan mata kyuhyun mempunyai arti yang sama dengan Yu.
“shireo-a appa. Andwe! Aku ingin disini dengan Yu, appa.” Aku melepas gandengan tangan appa yang menggiringku untuk masuk kedalam mobil.
“wae?” appa berlutut menyamakan tinggi badanku.
“kita tidak bisa tinggal disini lagi, Hannie-a. kita akan memulai hidup baru di Jepang. Disana kamu pasti juga akan menemukan teman seperti Yu.”  Appa menolehkan pandangannya pada Yu yang masih berdiri di tempatnya.
“Shireo! Kalau begitu aku akan tinggal disini bersama halmoni. Otte?” appa tersenyum sabar menghadapi egoku.
“halmoni akan tinggal bersama Ahjuma di Busan. Kamu mau tinggal bersama disana? Dengan SooKi yang katamu namja yang jorok, menyebalkan dan pengganggu?” aku menundukkan kepalaku, sambil memainkan telinga boneka Teddy Bear pemberian Yu.
“appa, boleh aku bebicara sebentar dengan Yu?” appa mengangguk, “appa tunggu di mobil, ya?” tangannya membelai ringan kepalaku kemudian mulai berjalan menuju mobil.
Aku membalikkan tubuhku menghadap Yu, dan menghampirinya. “wae?” ujarnya saat aku sampai dihadapannya.
“Yu-a, aku pasti akan menemuimu lagi. Setelah aku dewasa nanti. Setelah aku bisa berpergian sendiri, naik pesawat sendiri untuk kembali ke Nowon, dan mencarimu. ”
Yu tertawa kecil sambil mengacak pelan rambutku. “neee.. Hannie-a. aku akan menunggumu. Tapi, aku sarankan untuk kau mencariku di Seoul saja.”
“wae?” Yu menurunkan tangannya kemudian memasukkannya kedalam saku celananya.
“minggu depan aku akan kembali masuk sekolah. Eomma memutuskan untuk melanjutkan sekolahku ke Seoul. Jadi mungkin aku akan ke Seoul lusa.”
“Ne, Yu-a.. oppa?”
“kau memanggilku oppa? Eum.. baiklah.” Dia tersenyum simpul. “cepatlah appa sudah menunggumu di mobil. Nanti kau bisa tertinggal pesawat. Dan jaga baik baik boneka pemberian dariku. Sekedar untuk menunjukkan kalau kau adalah Hannieku.”
Aku mengagguk pelan kemudian berjalan menuju mobil. Dari kaca mobil, aku tak lepas memandang Yu hingga tubuh Yu terlihat mengecil sampai menghilang. Senyumannya, dan lambaian tangannya, sebuah tanda singkat perpisahanku dengannya. Sesinggkat aku mengenalnya. Hanya dalam waktu satu minggu.
                                                                        ***
Jehee duduk disampingku sambil memasang earphonenya dan mulai sibuk sendiri dengan video clip yang dilihatnya dari telepon genggamnya. Membuatku sedikit bosan karena tidak mempunyai teman berbicara.
Pikiranku kembali melayang. Semua perasaan saat aku bersama dengan Yu dan Kyuhyun sangatlah sama. Mungkin itu disebabkan oleh sorotannya yang sama. Membuat jantungku berkontraksi lebih cepat. Dan sulit untuk mencari oksigen untuk bernapas.
Kyuhyun seorang member Super Junior. Mungkin akan lebih mudah mencari tahu tentangnya. Aku mengeluarkan laptopku dan mulai mencari tentangnya di Internet. Yang pertama aku cari, profile tentangnya.
“3 Februari 1988?” gumamku. Bulan ulang tahunnya sama dengan Yu. Aku sempat menanyakan dengan Yu dulu, tapi dia hanya menyebutkan bulannya saja. Yu dua tahun lebih tua dariku. Aku lahir tahun 1990.
Aku menggelengkan kepalaku berusaha menjauhkan pikiran itu. Yang berulang tahun pada bulan February tidak hanya Yu saja.
Aku mendesah pelan saat melihat fotonya tertera pada blog yang kubaca. Dia terlalu mudah untuk dilihat, dan membuatku sulit untuk menghilangkannya dari pikiranku.
                                                                        ***
Aku membuka pintu kamarku kemudian merebahkan tubuhku di kasur, sambil membolak balik album yang ku beli. Tadi, saat perjalanan pulang aku melewati toko kaset. Dan memutuskan untuk membeli album ke 5 super Junior.
Tak berniat sedikit pun untuk membukanya. Aku jadi tidak habis pikir, kenapa tadi aku membawa kaset ini ke kasir dan membawanya pulang.
Akhirnya dengan malas aku membukanya. Sedikit canggung rasanya saat melihat gambar kyuhyun disalamnya. Dia terlihat sangat.. tampan?. Aku kembali membuang jauh semua perasaanku. Tujuanku kembali ke Korea untuk mencari Yu. Bukan bertemu dengan magnae super Junior yang kurang berguna bagi hidupku. Atau dalam arti lain, tidak penting.
Aku bangkit dari ranjangku, beranjak menuju temapt letak MP3 player di kamarku. Dengan malas aku menggonta ganti track di dalamnya. Membosankan, tidak ada yang membuatku tertarik sedikitpun. Hampir semua lagu bernada yang menurutku bising.
Tanganku terhenti untuk memencet tobol mengganti lagu pada remote. Pada track yang berjudul ‘my love my kiss my heart’ aliran lagunya tenang. Aku kembali terhenyak pada menit ke 01.11. suara kyuhyun. Aku tahu itu, karena tidak berbeda jauh dari suara saat dia berbicara.
Sangat mirip sekali saat Yu menyanyikan lagu Happy birthday saat aku berulang tahun. Lagu itu terputar damai. Telingaku mendengar seksama setiap bait yang dinyanyikannya.
Suara khasnya. Cho Kyuhyun, apa kau adalah Yu kecilku?. Tapi yang membuatku tidak yakin adalah sikapnya. Yu adalah sosok ramah dan lembut. Bertolak belakang dengan kyuhyun yang pendiam dan dingin.

Kyuhyun poV
“SUPER JUNIOR”
Teriakan itu berkali kali terulang dari mulut para E.L.F membuatku yang sedikit tidak bermood membuatku sedikit pusing. Suara teriakan yang biasanya akan memotivasi dan sebuah kebanggaan, berubah menjadi pengganggu.
Faktor Ha gun menjadi alasannya. Wajahnya tidak pernah lelah terputar dalam pikiranku, bersamaan dengan Hannie. Dua sosok yeoja yang memiliki banyak kemiripan. Membuatku penasaran dibuatnya.
“yak, kyunnie, bersemangatlah!”
Dong hae hyung mengambil posisi duduk di sofa seberangku sambil menepuk ringan bahuku, sebelumnya.
“aku tahu hyung, kau sedang bersuka cita atas peristiwa semalam. Jadi, jangan samakan kondisiku dengan mu.” Sungutku.
“oppa, annyeong!”
Jehee tiba tiba muncul dari balik pintu ruang tunggu kami. Membuatku menghentikan permainan game ku.
“hal apa yang membawamu kesini, jehee~a?”
Jehee tidak menjawab pertanyaanku. Langkahnya kemudian menuju sofa yang diduduki donghae hyung. Membuatku sedikit mendengus kesal.
“kau telah mmencuri adik perempuanku, hyung.”
Umpatku, kemudian kembali pada posisi semula. Sebelum berubah saat Jehee meluncurkan sebuah perkataan yang membuatku bergegas bangkit dan meninggalkan ruang tunggu.
“oppa, aku datang kesini bersama Ha Gun. Apa kau ingin menemuinya? Dia menunggu di luar.”
                                                            ***
Ha gun PoV
Kyuhyun terus mengikutiku beberapa hari belakangan ini. dengan penyamarannya tentunya. Hari ini, aku menonton Music Bank dan mencoba untuk datang ke Back Stage demi bertemu Hong Ki oppa. Karena aku bersama Jehee, entah kenapa kami diperbolehkan masuk.
Jehee memintaku untuk menemaninya sebentar ke ruang tunggu Super Junior. Aku tahu, dia seorang E.L.F. . Tapi aku tidak berniat untuk menyaksikan kehisterisannya nanti. Dan aku merasa malas untuk menyaksikan hal seperti itu.
Entah kenapa di benakku saat ini terganggu dengan Kyuhyun. Setiap melihat wajahnya, selalu terkilas wajah Yu kecil. Sorotan mata mereka sama. Cara mereka menatapku sama. Maka dari itu, aku ingin menjauh dari apapun yang berhubungan dengan kyuhyun. Terlebih menemuinya. Itu akan membuat system kerja otakku kacau. Dan akhirnya aku memutuskan untuk menunggu diluar sambil berharap HongKi oppa datang di hadapanku, walaupun kenyataannya yang aku inginkan adalah Kyuhyun.
Tak lama, pintu ruangan terbuka, yang kukira itu adalah Jehee. Tiba tiba tangan ku tertarik oleh genggaman tangan kuat ke salah satu sudut Back Stage yang lumayan sepi.
Wajah Kyuhyun tetapt beberapa senti dihadapanku sekarang. Membuatku sulit untuk bernapas dan sedikit tercekat. Wajahnya menatapku sangat lama dalam diam, sebelum dia angkat bicara.
“benarkah itu adalah kau?”
“ne?”
“kau.. kalungmu.. jam tangan dan.. boneka itu. Kau?”
Aku menatap tak mengerti. Kalung yang aku kenakan? Jam Tangan? Boneka? Boneka yang masih kusimpan hanya satu. Pemberian dari Yu.
“Kalungmu cantik sekali, hannie-a. Neomu Yepposeo. ” Yu menunjuk kalung bunga yang melinggar di leherku.


“ Gomawo. Ini hadiah ulang tahunku dari eomma.” Ujarku senang.
“em.. Hannie-a. aku juga mempunyai hadiah untukmu.” Yu merogoh saku celananya, kemudian menyodorkannya padaku. Betapa riangnya saat aku melihat benda itu sekarang ada dihadapanku.
“huaa.. gomawo, Yu-a. Shinjja gomawoyeo~” jam tangan pemberian halmoni yang hilang, kali ini kembali padaku. “kau menemukannya dimana?ini pemberian paling berharga dari halmoni.”
“kemarin lusa, aku sedang marah pada eomma dan berlari ketaman ini. tanpa sengaja aku menemukannya.” Yu menyulurkan tangannya. “sini aku pakaikan.”
“gomawo.” Ujarku sanagt berterima kasih. “Halmoni pasti akan sangat senang mendengar ini semua.”
“chakkam.. aku masih punya satu lagi untukmu.” Yu mengambil bungkusan yang lumayan besar dari belakang kursi taman.
“saeng il Chukkae Hannie-a.” dia menganggkat sebuah boneka teddy bear berukuran sedang dengan kantungnya yang bertuliskan namaku.
“huaa..  kyeopta. Gomaweo~” aku menepukkan tanganku.
“kita berfoto? Sekedar untuk kenangan.” Aku mengangguk dengan semangat. Hari ulang tahun terindahku, yang tidak akan pernah bisa kulupakan.
“Yu.. Yu-a?” entah kenapa kata itu terucap dari mulutku.
Mata kyuhyun menatapku lemah.  “jadi.. benarkah itu kau? Hannie-a?”
Kyuhyun memelukku. Itu adalah sebuah hal yang akan membuat jantungku meloncat keluar. Aku tidak bisa melakukan apapun. Dia, Cho Kyuhyun. Adalah seorang Yu kecil ku.
Tak lama setelah melepaskan pelukkannya dia berkata. “yak, kenpa kau tidak bilang padaku kalau kau sudah kembali, huh?”
Dengan cepat aku menjitak keras kepalanya membuatnya meringgis. “ baboya! Bagaimana mungkin aku terpikir kalau Kyuhyun super Junior adalah Yu?”
Kyuhyun tersenyum kemudian mengacak- acak rambutku. “ minggu depan hari ulang tahunmu, kan?”
Aku mendecak pelan. “ kenapa aku selalu bertemu denganmu setiap seminggu sebelum hari ulang tahunku?”
                                                            ***
Kyuhyun PoV
Sungguh ini seperti sebuah mimpi. Sama halnya ketika aku debut menjadi member super Junior. Lee Ha Gun. Yeoja yang sudah aku nanti 14 tahun itu akhirnya kembali.
Hari ini hari ulang tahunnya. Aku sudah memberi tahunya untuk datang ke konserku pukul 7 malam. Semua hadiah yang akan aku berikannya padanya sudah kupersiapkan.
19 : 15 PM @ konser Super Junior
Mataku mencari-carinya dia belum menampakkan diri dihadapnku. Ini sudah lewat 10 menit. Dong Hae Hyung yang melihatku sedari tadi gusar melihat jam bisa dibilang nyaris menertawaiku.
“kau Takut dia kabur lagi dihari ulang tahunnya?” donghae hyung menepuk ringan bahuku sambil tertawa kecil.
“diam saja kau, hyung!” ujarku yang sedikit terganggu dengan ucapannya.
Pintu ruangan terbuka. Jehee datang, membuatku memiringkan sedikit tubuhku untuk melihat kearah belakangnya. Nihil. Tidak ada ha gun di belakangnya, membuatku sedikit bingung.
“jehee-a, hannie odigaseo?”
Raut wajah Jehee berubah seketika. “oppa, Gun-a.. diaa..”
                                         ***
“oppa, mianhae. Semua ini salahku. Kalau saja aku tidak menyuruhnya menungguku ke supermarket sebentar. Kalau saja dia tidak menlindungiku saat menyebrang, kalau saja diaa..”
“sudahlah. Oppa juga mengerti kejadiannya. Jangan terus menyalahkan dirimu”
Jehee menundukkan kepalanya. Dirinya tetap berdiri di sampingku, sambil memegangi tali tas sampingnya, dan memainkan jemarinya khawatir.
Aku duduk menghadap kasur pasien. Mengenggam ringan tangannya.
“appa dan eommanya baru bisa datang 5 hari lagi. Mereka terlalu sibuk untuk itu. Jadi.. lima hari mendatang dia mungkin akan disini, Bersamaku.”
“aniya, biar aku saja yang menunggunya. Kau boleh pulang jika kau mau.”
“ani. Aku juga akan menunggunya, semua ini karena aku. Aku sangat merasa bersalah, oppa.”
“oumma..” desah Ha gun dengan sura yang terdengar serak. kepalanya bergeser pelan. Matanya mulai mengerjap, membiasakan dengan cahaya yang menerangi ruangan. Memberhentikan percakapanku dengan Jehee sejenak.
“ha gun-a” Jehee mengangkat kepalanya, dengan senyum lega di wajahnya.
Ha gun membalas senyumnya, kemudian mengalihkan pandangannya padaku. Kami terdiam sesaat, sebelum akhirnya dia angkat bicara.
“Yu-a. Mianhae.. aku kembali menghancurkan pertemuan kita di hari ulang tahunku.”
“gwenchana. Melihatmu kembali sadar sudah memperbaiki itu semua.”
                                                                        ***
3 hari kemudian ~
Ha Gun PoV
Aku duduk di tepi kasur sambil mengayun ayunkan kakiku bosan. Menatap kyuhyun yang hanya duduk terdiam dihadapanku sambil memainkan PSPnya dengan serius.
“yak! Yu-a, Apa ada kegiatan lain selain memperhatikanmu memainkan PSPmu dengan sibuknya, tanpa memberikanku kesempatan memainkannya?”
“sepertinya tidak.” Jawabnya datar tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun. Membuatku ingin mencabik cabik kepalanya. Tapi tak lama dia bangkit dari duduknya dan menghampiriku. Tangannya menyahut cepat leganku sambil sedikit menyeretku keluar, sambil tersenyum jahil.
“jangan salahkan aku jika kau dijuluki pasien nakal. Ini semua kemauanmu, Hannie~a.”
Aku hanya menatap bingung perlakuannya. Dia hampir bisa dibilang menculik pasien rumah sakit. Para perawat melihat kami dengan sangat heran. Tapi sepertinya mereka tidak bisa menghalangi kami. Kyuhyun tidak menggunakan penyamarannya sedikitpun. Mungkin itu alasan mereka.
“odiga?” tanyaku saat kami sudah sampai di tempat parker, dan masuk ke dalam mobil.
“sebuah tempat yang sangat ingin kau datangi.” Kyuhyun mulai mengemudikan mobilnya, dan membuatnya melaju sedikit kencang, membuatku berkali-kali protes karena merasakan hal yang mengerikan.
“ya, Yu-a. kau ini sedang membawa pasien rumah sakit. Jadi, perlambatlah sedikit!”
                                                            ***
“yu-a, apa kau pernah datang ke namsan Tower?”
“hmm.. sudah, liburan tahun lalu appa membawaku untuk berjalan jalan kesana. Wae?”
“aniya, aku hanya ingin menanyakannya saja. Appaku terlalu sibuk. Aku dari dulu ingin sekali kesana. Tapi.. appa selalu saja menolaknya. Katanya tidak ada waktu untuk itu.”
Aku memijakkan kaki, menghadap menara yang berdiri megah dihadapanku. Menatapnya penuh takjub. Kyuhyun di sampingku melipat kedua tangannya. Dan tersenyum bangga.
“jangan bilang, kalau kau sama sekali belum pernah kesini.”
Aku menyeringai kecil. Mengingat kalau selama satu tahun belakangan aku menetap di Seoul, belum pernah memijakkan kaki disini. “memangnya kenapa kalau belum?”
“tidak apa. Berarti, aku orang pertama yang mengajak Hannie kecilku ke Namsan Tower.”
Tanganku menyikutnya ringan. “tapi percuma saja kalau aku hanya diajak melihat dari luar tanpa memasukinya. Itu bahkan lebih menyedihkan dari pada aku tidak pernah mengijakkan kaki disini.”
“baiklah, kajja.” Kyuhyun mengandeng tanganku, kemudian membawaku kembali berjalan.
Bisa dipastikan kami menjadi pusat perhatian disini. Kyuhyun tidak menggunakan penyamarannya sedikitpun. Dan aku masih mengenakan pakaian Rumah sakit. Tapi sepertinya kyuhyun tidak memerdulikannya.
“tutup matamu.” Ujarnya ketika sudah sampai didalamnya, dan memutarkan sekelilingnya, kemudian berhenti di semacam teras balkon luar.
“wae?”
“ikuti saja perkataanku, kalau kau mau hadiah ulang tahunmu ini tidak hangus.”
“mwoya?” akhirnya aku menyerah dan menutup kedua mataku.
Selang beberapa detik, dia menyuhku untuk membuka mata. “buka matamu”
Seperti serangan jantung mendadak. Penyakit asma yang diderita berpuluh puluh tahun. Dia mencium kilat bibirku. Membuat kakiku melemas. Aku terdiam, dia pun mengalihkan pandangnnya kearah pemandangan di bawah.
“ehm.. em, mana hadiah ulang tahun yang kau janjikan, huh?” ujarku setelah beberapa saat mengendalikan diri.
“apa kau mau aku memberikannya sekali lagi?” ujarnya dingin.
“ne?” ujarku dengan sedikit nada menjerit. Mengetahui yang dimaksudkan olehnya kado ulang tahun untukku.
Tangannku kemudian memukul keras lengannya. “yak, neo michiseo!” umpatku.
“ne. na michiseo.” Dia kemudian membalikkan tubuhnya menghadapku. “sebelumnya tidak, tapi setelah bertemu denganmu, itu menimpaku. Ara?”
Mataku menatap heran. Dahiku sedikit mengerut, berusaha mencerna semu perkataan. Dalam kondisiku yang kurang meyakinkan. Perbuatannya tadi, membuatku hilang focus untuk beberapa saat ini.
“ck, babo. Kenapa aku harus jatuh cinta pada yeoja sebodoh ini, huh?” desahnya sambil mengacak-acak ringan rambutku. Aku semakin merasa aneh dan bingung.
“yak, yak, Yu-a. kau mau membuatku setengah mati karena dipenuhi rasa tak mengerti, huh?”
Kyuhyun tersenyum, kemudian menurunkan tubuhnya. Menjadi posisi berlutut menghadapku. Kepalanya terangkat menjajarkan wajahku. Membuatku sedikit mengerutkan keningku.
“wae?”
“hmm.. Hannie-a. maaf sebelumnya kalau aku tidak bisa secanggih donghae hyung memperlakukan yeojanya. Tapi sungguh, aku sangat ingin melakukannya dengan semua cara dan gayaku. Jadi.. tolong memahaminya.” Ujarnya sesaat. Manic matanya menatap sepasang mataku dengan penuh arti.
“saranghae. Chonmal saranghae hannie-a.” aku terdiam. Mulutku seakan membeku, menolak untuk digerakkan. Tangannya merogoh saku celananya, dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna putih.
“would you marry me?”
Aku berdecak pelan, setelah mengatur nafasku yang kekurangan oksigen, dan detak jantungku yang terpompa kencang secara paksa. “ck, apa kau tahu? Aku selalu berangan angan saat namja yang aku cintai melamarku. Membayangkan betapa romantisya suasana yang kuharapkan. Mengucapkannya dengan kalimat kalimat indah.”
Aku mendesah pelan. “tapi dengan mudahnya kau menghancurkan itu semua, yu-a. kau melamarku di salah satu ters namsan tower. Dengan pakaian rumah sakitku dank au dengan kaus santaimu. Ucapanmu juga terlalu standar.”
Kyuhyun tersenyum singat, dan sedikit menegluarkan tawa kecil. “aku sudah menjelaskanmu dari awal, kan? Dan sekarang hentikan protesmu Karena aku tidak akan mau mengulangnya. Ppaliwa, jawab saja. Apa kau tidak tahu, huh? Aku sudah sangat merasa berdebar.”
Aku tertawa ringan melihat ulahnya. Sedikit berdehem, memperbaiki pita suaraku. “nado saranghae Yu-a. and..  yes, I want marry you”
                                                            ***
END~
otte? maksa maksa gitu kan? maaf bgt bgtan buat Fadilla dan chingu yang baca ngerasa udah buang waktu. hmm kalo gitu aku butuh komennya. please jebalyeooo tinggalin jejaknya yaa. satu kata juga boleh kok :D

Rabu, 21 Desember 2011

(FF) My Best Friend is My Love

(BinHa Couple Story)
 My Best Friend is My Love
annyeong, yeorobeun! ini first post aku ;) #trus? . hmm FF ini mungkin sedikit beda. soalnya gak dimasukin artis K-pop di ceritanya. tapi janji deh, di FF selanjutnya bakalan ada artis K-popnya ._.V. oiya, cerinya aku bikin 2 part. jadi.. untuk part selanjutnya ditunggu yaa. SELAMAT MEMBACA~ Shin RaeBin PoV
“yak! shin raebin babo!” sebuah buku meluncur kearah kepalaku.
“appo, ha-ae ssi” ringisku sambil mengusap kepalaku yang sedikit sakit karena dilemparkan dengan buku yang cukup tebal. Mungkin sekitar, buku tulis 200 halaman.
“biarkan saja! Siapa suruh kau terus mengejekku dengan namanya”
“mwoya?”
“mwoya??? Igo busummaria?!” telunjuk tangannya menunjuk kasar kearah tulisan kecil dipojok buku yang tadi dia lemparkan.
‘SungHaAe ~ ChoSooKi Forever’
Aku menyeringai kecil “membang benar, kan?”
“yak! RaeBin-ssi, berhenti meledekiku dengan namanya”
“siapa? SooKi?” tanyaku dengan diselingi tawa kecil “SooKi-a” teriakku. “Cho Soo..” dengan cepat dia membekap mulutku.
“diam kau!” ujarnya singkat setelah melepaskan tagannya kemudian berjalan kearah tempat duduknya.
“CHO SOOKI!” teriakku lagi “SooKi..”
“YAK,RAEBIN-SSI! TUTUP MULUTMU!!” teriakannya membuat siswa yang masih tersisa dikelas pada saat jam istirahat ini, bergidik ngeri. Aku saja langsung lemas mendengarnya. “ne, Ha-Ae ssi..”
Dia temanku. Lebih tepatnya teman kecilku. Namanya Sung Ha-Ae. Sejak kami duduk di sekolah dasar, kami selalu bersama. Dan saat di sekolah menengah pertama, Sung JeHee bergabung bersama kami.  Teman teman biasa menyebut kami TBF (Trio Best Friend) keren, kan? ^^
                                                                        ***
“pulang bersama?” tawarku pada Ha-Ae saat kami sedang membereskan peralatan belajar, menunggu bel pulang berbunyi. Tempat duduk Ha-Ae dan aku bersebrangan, jadi mudah saja untuk kami berbicara.
“terserah kau saja” jawabnya ketus.
Tidak lama, bel pulang sekolah berbunyi. Semua murid berhambur keluar kelas.
“Ha-Ae ku masih marah, huh?” godaku sambil merangkulkan tangan di bahunya sembari berjalan keluar kelas.
“aku tidak marah. Cepat turunkan tanganmu!”
“wae?”
“kamu tidak sadar? Semua penggemarmu sedang melototiku tahu”
“penggemar? Ck, sejak kapan aku punya penggemar? Ada- ada saja kamu ini” aku menrunkan tanganku dari bahunya, kemudian memasukkannya kedalam saku celanaku.
“mollaseo? Hampir seluruh anak kelas 10 menyukaimu. Bahkan, anak kelas 11, angkatan kitapun juga ada.”
“sinjjayeo?” dia mengangguk kecil.
Aku memberhentikan langkahku, kemudian dengan otomatis diikuti olehnya.
“wae?”
“eummm.. kalau.. kamu menyukai..”
“annyeeooong chingudeul!! Yak, tega sekali kalian tidak menungguku huh?!”
Jehee datang dari arah belakang secara tiba-tiba. Mengambil posisi ditengah antara aku dengan Ha-Ae. Dia berhasil memotong perkataanku begitu saja. ‘Awas kau, jehee-ssi’
                                                            ***
“jehee-ssi, ppaliwa!”
Aku menutup buku yang sedang kubaca, kemudian beralih memperhatikan sumber suara yang sangat ku kenal. Sung Ha-Ae. Dia sedang berada di depan pintu kelas kemudian jehee menghampirinya.
“ne,ne,ne araseo.” Jehee mempercepat langkahnya.
“otte? Sudah dapat?” Tanya Ha-Ae setelah Jehee menghampirinya.
“eo, belum. Nanti aku tanyain deh, sama..” jehee tidak melanjutkan perkataannya. Arah pengelihatannya beralih padaku. Dengan cepat aku meraih buku yang tadi aku baca dan pura-pura membacanya.
“sama.. SANG GUNnya langsung” jehee sedikit menaikkan suaranya, sambil melirik kearahku.
“yak, jehee-ssi, pelankan suaramu.” Ha-Ae mencubit ringan lengannya.
“minhae” ujarnya smbil membekap mulutnya sendiri seolah itu tindakan yang tanpa sengaja dilakukannya.
‘Sang gun? Mungkin yang mereka maksud itu..KIM SANG GUN??’
                                                            ***
Sung Ha-Ae PoV
Kim Sang Gun. Mataku sedikit berbinar mengingatnya. Permainan basketnya sangat mengagumkan. Tapi, masih lebih mengagumkan permainannnya RaeBin, pastinya. ‘akh! Ha-ae ssi, apa yang kamu pikirkan? Ingat! KIM SANG GUN bukan SHIN RAEBIN.’ Aku menggelengkan kepalaku ringan.
“aish, sinjja! Mengapa sulit sekali menghilangkannya dari pikiranku”
                                                                        ***
“Shin RaeBin!Shin RaBin!”
“Kim Sang Gun!Kim Sang gun!”
Langkah kakiku sangat tertarik untuk mengarah menuju lapangan basket sekolah. Suasanya disana sangat ramai. Setiap siswa meneriaki jagoannya masing-masig. Sebenarnya hanya ada dua nama yang dominan di teriyaki. Shin raebin dan Kim Sang Gun.
“jehee-ssi, kamu disini?” tanyaku saat melihat jehee berada di sampingku.
“eo. Sebagai sahabat yang baik, aku harus tetap mendukungnya”
“kamu mendukung..”
“Raebin Dweji! Hwaigting!!” teriakknya. “kalau kamu siapa? Raebin dan Sang Gun. Mereka berbeda tim.”
“sahabat ? atau… orang yang kamu sukai?” lanjutnya.
Aku terdiam sejenak, sambil berfikir “SHIN RAEBIN BABO! Hwaighting!” teriakku lantang. Selang beberapa menit, raebin berhasil memasukkan bola pada ring lawan dan aku tersenyum puas. ‘raebinku yang bodoh memang selalu menang’.
                                                                        ***
RaeBin datang menghampiriku seusai pertandingan. Sesuai perkiraanku, dia menang. Pasti.
“keren, kan?”
“cih, percaya diri sekali.” Aku menyodorkan air mineral padanya.
“gomawo” ujarnya setelah meneguknya.
“itu sudah disediakan sekolah. Bukan aku yang membelikannya.”
“bukan terimakasih untuk minumnya, babo!”
“lalu?”
“untuk kata semangatmu, yang sangat berpengaruh dalam pertandinganku.” Ujarnya serius.
 “yaa.. walaupun aku sedikit sebal karena di iringi kata ‘babo’ mu itu, haha” lanjutnya dengan nada mencairkan suasana serius yang dibuatnya tadi.
“dasar kau!” dengusku sambil menjitak kepalanya.
                                                            ***
Semenjak perkenalanku dengan Sang Gun yang sudah aku rencanakan beberapa minggu yang lalu berhasil, RaeBin menjauh dariku. Memang, rencana aku mendekati Sang Gun berhasil, tapi sepertinya tidak akan pernah lengkap tanpa kehadiran RaeBin kapan pun.
Mungkin juga, bukan karena RaeBinnya yang menjauh tapi malahan aku? Entahlah. Semenjak aku mulai akrab dengan Sang Gun, dia sudah nyaris mengambil alih posisi Raebin selama ini.
“raebin-ssi, annyeong?” aku menghapirinya yang tengah membaca sebuah buku yang tidak aku ketahui judulnya.
“yak, Raebin babo!” ulangku.
Tidak ada jawaban darinya. Suasana hening sesaat sebelum dia menutup bukunya secara kasar, dan berjalan pergi meninggalkanku yang terpaku sendirian.
“yak,yak, shin raebin! Odiga?” teriakkannku tidak berhasil membuatnya memberhentikan langkahnya dan menoleh kepadaku.
“annyeong, Ha-Ae-ssi!” tidak lama, Sang Gun datang menghampiriku. Aku sempat melihatnya berpapasan dengan Raebin, dan dia sempat berhenti sejenak, saling menatap intens kemudian melanjutkan langkahnya masing-masing. Apa mereka mempunyai sebuah masalah? Entahlah.
“annyeong” jawabku seramah mungkin, menutupi semua kekhawatiranku dengan Raebin.
“sudah makan?” Sang Gun menyodorkan bekalnya padaku.
“eo? Gomawo, mianhae aku sudah makan” tolakku sebisa mungkin. Biasanya, RaeBin yang sering bertukar makanan padaku, tapi dia sekarang malah menjauh.
‘RaeBin-ssi, gwenchana? Neo apposeo?’ gumamku dalam hati.
                                                            ***
Sung JeHee PoV
“yak, yak! Shin Raebin!” geramku. “kau mau membunuhku secara paerlahan, huh? Memikirkan persoalan cintamu yang amat sangat sulit membuatku hampir mati, tahu”
“siapa suruh kau memikirkannya?” ujarnya santai, seolah tidak merasa bersalah sedikitpun, yang membuat tingkat kemarahanku naik sampai ke ubun-ubun.
“YAK!SHIN RAEBIN!! KAU MAU MENCARI MATI DENGANKU, HUH?” teriakku kesal. Kami sedang berada di sebuah taman cantik hasil penemuan aku dan Raebin yang hari ini sedang tidak ada arah tujuan, dan kebetulan pengunjungnya hanya kami berdua. Jadi, tidak perlu berfikir dua kali untuk meneriakinya seperti itu.
“eo? JeHee-ssi, ternyata kau sama saja dengan Ha-Ae” ujarnya ngeri.
“wae?” tanyaku masih dengan nada emosi. Berbicara dengan namja ini memang tidak akan pernah bisa sabar.
“sama-sama mempunyai teriakkan cempreng yang menyeramkan” dia berhenti sejenak, seolah berfikir sebelum melanjutkan perkataannya. “tapi.. sepertinya lebih menyeramkan teriakkanmu, JeHee-ssi”
Tanganku sudah tidak bisa lagi menahan untuk menjitakknya.
“appo, dweji!” dengusnya setelah mendapat jitakan keras dariku.
“yak! Neo..” aku berusaha menahan emosiku “lanjutkan ceritamu”
Raut wajah RaeBin berubah drastis. Baru kali ini aku melihat dia begitu serius. Aku saja hampir sangsi melihatnya bahwa itu ekspresi yang dikeluarkan olehnya.
“Diaaa Sung Ha-Aeku. Yang harus ada selalu bersamaku, dalam jarak pandangku. Bukan dalam jarak pandang, orang yang paling aku tidak sukai didunia ini. Ha-aeku tidak boleh dengannya”
“orang yang sudah merebut impianku, tidak akan ku perbolehkan mengambil Ha-Ae dariku. Yeoja yang sangat aku pertahankan didunia ini setelah eoumma. Dan yang aku khawatirkan, Sang Gun hanya memanfaatkannya. Bulan depan, ada pertandingan basket yang sangat bergengsi.”
“lalu.. kenapa kamu menghindar darinya?” tanyaku dengan sedikit berhati-hati agar tidak mengganggu suasana hatinya.
“eo. Karena aku tidak akan bisa tahan menahan sakitnya. Melihatnya, apalagi dengan namja itu. Neomu apposeo, jehee-a”
“chakkaman! Tadi, kamu sempat bilang kalau.. orang yang merebut mimpimu?” tanyaku setelah menyadari sesuatu yang kurang kumengerti dari perkataannya tadi “maksudmuuu..sang gun?”
“ne. impianku dimasa depan lebih tepatnya.”
“aku sangat menginginkan melanjutkan sekolah ke amerika. Masuk salah satu universitas disana. Tapi, mengingat kemampuanku yang biasa saja dalam bidang akademik, membuatku sedikit putus asa untuk mencari bea siswa.”
“tanpa sengaja, aku melihat tulisan kecil di pojok brosur. ‘siswa yang mempunyai prestasi di bidang non akademik, bisa mendapatkan beasiswa asalkan dia memenangkan juara satu pada salah satu perlombaan tingkat seoul.’ Semangatku seolah muncul kembali. Aku berusaha keras pada pertandingan penyeleksian basket yang nantinya akan dikirim ke pertandinan tingkat seoul itu”
“hasilnya sangat memuaskan. Aku bisa. Aku masuk final! Bayangkan, tinggal selangkah lagi aku mendapatkan beasiswa itu, jehee-ssi” dia menundukkan kepalanya. Mengayunkan kakinya ringan, sambil menatap sepasang sepatu kets coklatnya.
“Kim Sang gun” ujarnya sinis “cih, dengan mudahnya dia mengahancurkan itu semua.”
“lawan ku di pertandingan final nantinya adalah timnya dia. Yaah, aku belum mengenalnya sama sekali waktu itu. Jadi, aku tidak ada perasaan takut dan curiga sedikitpun dengannya”
“tepat satu malam sebelum pertandingan, sepulang aku membeli sepatu ini.” dia menatap sepatunya dengan iba. “dia menabrakku dengan sepeda motornya. Sangat kecang.. dan sakit.”
“tanganku mengalami patah tulang, dan kaki kiriku terkilir hebat. Membuatku tidak bisa datang pada pertandingan itu. Kau ingat? Aku sempat tidak masuk sekolah selama dua minggu tanpa memberi kabar padamu dan Ha-Ae? Malewatkan banyak pelajaran daann.. pertandingan itu. Sang Gun berhasil memenangkannya. Tentu saja itu sangat mudah baginya memenangkan pertandingan dengan timku tanpa kehadiranku”
Aku sempat melihat setetes air mata jatuh membasahi sepatunya. Yaa, raebin menangis. Aku tahu, itu pasti sangat menyakitkan. Apalagi, Sang Gun kembali mengulangnya sekarang.
“ngomong-ngomong.. kau tidak akan meneriakinya lagi dengan sebutan ‘Cho Sooki’ lagi, kan?” tanyaku dengan sedikit mencairkan suasana.
“emm.. sepertinya masih.” Dia mengangkat kepalanya dengan senyuman jahilnya.
“babo! Bangaimana dia bisa menyadari perasaanmu kalau kaunya saja malah meneriakinya nama namja yang lain” sungutku.
“biarkan saja. Haha”
“membuatku kesal saja” dengusku.
“ne? tadi kau mengatakan apa?” dia menatapku intens, mencoba mecari jawaban dari raut wajahku seusai aku dia mendengar dengusanku. ‘mati aku!’
“eo? Aniyaa..” sergahku dengan sedikit gelagapan.
“sudah lahh.. mengaku saja!” dia melipatkan kedua tangannya.
“mengaku apa?”
“kau.. menyukai SooKi, kan?” tanyanya dengan sedikit mencondongkan tubuhnya sambil menatapku tajam, membuatku sedikit menjauh dengan sedikit bergidik.
“tapi..” aku menggigit bibirku ragu.
“ayolaahh.. tidak ada yang boleh dirahasiakan dalam perjanjian persahabatan kita, bukan?” dia kembali menegakkan tubuhnya, membuat posisi duduk seperti semula.
“emm.. tapi, apa kamu bisa tutup mulut untuk hal ini?”
“tenang saja.”
“baiklahh.. aku bukan hanya menyukainya.  SooKi itu, namja chinguku” aku menunduk malu.
“hah, sudah aku duga.”
“ne?”
“yaa.. semuanya terlihat jelas, babo!” dia memberikan tatapan mengejek. “dari semua ekspresi yang kau keluarkan setiap aku menyebut kata ‘Sooki’ untuk Ha-ae, sewaktu nonton konser 2pm dengannya, nonton my kingdom, sampai belajar bareng di perpustakaan”
“mwo? Otte?”
“iyalahh.. kelihatan sekali. Makanya kalau gak bisa jadi penyamar, gak usah sok bisa dehh, dweji babo!”
“yak, neoo..!!” jeritku, dan tawanya meledak saat aku kemarahanku mulai meningkat.
                                                            ***
Sung Ha-Ae PoV
Mataku memperhatikan sepanjang jalan yang aku lewati melalui kaca mobil Sang Gun. Dia membawaku secara paksa sepulang sekolah tadi, tanpa memberitahuku kemana aku akan dibawa.
“sudahlah, tenang saja. Kamu tidak akan menyesal nantinya” desahnya saat melihat mataku yang sedari tadi tidak henti-hentinya mencari.
“cepat katakan padaku, kemana kita akan pergi?” tanyaku dengan sedikit nada paksaan.
“sebuah taman, yang sangat indah pemandangannya. Disana ada banyak bunga yang dibentuk atau disusun dalam bentuk yang unik. Sudah, lihat nanti saja”
“sinjjayeo?”
“ne.. Ha-Ae ssi” ujarnya sambil mengacak-acak Rambutku pelan, dan berhasil membuatku sedikit terkejut akan sikapya.
                                                            ***
Langkah kakiku diiringi olehnya menelusuri jalan pinggir taman. Mataku mentap sepasang orang yang tengah berbincang. Seolah aku mengenali satu diantara mereka. Jantungku seakan berhenti berdedak, mataku membelalak dan langkah kakiku terhenti. Menyadari identitas kedua orang tersebut.
“wae?” ujar sang gun.
“aniyaa.. gwenchana” jawabku asal, sambil terus memperhatikan orang itu.
Matanya mengikuti arah pandangku. Dia juga terlihat berubah suasana sejenak, entah itu suasana apa.
“mereka maksudmu?” tanyanya kemudian.
Aku mengangguk kecil. “ne, sudah biarkan saja. Kajjayeo!” ajakku padanya.
Perasaan yang hampir aku tidak ketahui kenapa sebabnya, dan apa ini. aku melihatnya, yaahh, mereka. Melihat disaat yang tepat!. Raebin mencondongkan  tubuhnya pada Jehee? Apa mereka berpacaran? Sejak kapan?
‘ayolah, Ha-ae untuk apa kamu merasa sakit melihatnya?’ gumamku dalam hati.
“Ha-Ae –a, aku pergi membeli minum disana. Kamu tunggu disini” Sang Gun berjalan meninggalkanku di bangku taman, sendiri.Membiarkanku melihat pemandangan itu.
Mereka saling bergurau, tertawa bersama, menukar senyum dan melakukan hal-hal bodoh lainnya yang berhasil membuatku sedikit iri dengan Jehee. Dia terlihat dekat dengan RaeBin belakangan ini. sedangkan aku? Semakin menjauh darinya.
‘RaeBin-ssi, apa Jehee alasan dari semua sikapmu? Kau ingin berusaha menjauh dariku agar kau bisa lebih leluasa dengan Jehee? Atau kau merasa bosan karena setiap hari aku selalu ada dalam jarak dekat tempatmu berdiri?’
                                                                        TBC otte? maksa maksa gitu ya? :D . sebenernya FF ini sepecial buat temen aku --> delvira (kalo lo baca wajib komen!) hmm.. karena ini FF pertama aku, jadi aku butuh banyak masukan. jadi, dari pada tanggepannya cuman di pendem mendingan langsung bilang ke akunya. okee annyeong!