Rabu, 21 Desember 2011

(FF) My Best Friend is My Love

(BinHa Couple Story)
 My Best Friend is My Love
annyeong, yeorobeun! ini first post aku ;) #trus? . hmm FF ini mungkin sedikit beda. soalnya gak dimasukin artis K-pop di ceritanya. tapi janji deh, di FF selanjutnya bakalan ada artis K-popnya ._.V. oiya, cerinya aku bikin 2 part. jadi.. untuk part selanjutnya ditunggu yaa. SELAMAT MEMBACA~ Shin RaeBin PoV
“yak! shin raebin babo!” sebuah buku meluncur kearah kepalaku.
“appo, ha-ae ssi” ringisku sambil mengusap kepalaku yang sedikit sakit karena dilemparkan dengan buku yang cukup tebal. Mungkin sekitar, buku tulis 200 halaman.
“biarkan saja! Siapa suruh kau terus mengejekku dengan namanya”
“mwoya?”
“mwoya??? Igo busummaria?!” telunjuk tangannya menunjuk kasar kearah tulisan kecil dipojok buku yang tadi dia lemparkan.
‘SungHaAe ~ ChoSooKi Forever’
Aku menyeringai kecil “membang benar, kan?”
“yak! RaeBin-ssi, berhenti meledekiku dengan namanya”
“siapa? SooKi?” tanyaku dengan diselingi tawa kecil “SooKi-a” teriakku. “Cho Soo..” dengan cepat dia membekap mulutku.
“diam kau!” ujarnya singkat setelah melepaskan tagannya kemudian berjalan kearah tempat duduknya.
“CHO SOOKI!” teriakku lagi “SooKi..”
“YAK,RAEBIN-SSI! TUTUP MULUTMU!!” teriakannya membuat siswa yang masih tersisa dikelas pada saat jam istirahat ini, bergidik ngeri. Aku saja langsung lemas mendengarnya. “ne, Ha-Ae ssi..”
Dia temanku. Lebih tepatnya teman kecilku. Namanya Sung Ha-Ae. Sejak kami duduk di sekolah dasar, kami selalu bersama. Dan saat di sekolah menengah pertama, Sung JeHee bergabung bersama kami.  Teman teman biasa menyebut kami TBF (Trio Best Friend) keren, kan? ^^
                                                                        ***
“pulang bersama?” tawarku pada Ha-Ae saat kami sedang membereskan peralatan belajar, menunggu bel pulang berbunyi. Tempat duduk Ha-Ae dan aku bersebrangan, jadi mudah saja untuk kami berbicara.
“terserah kau saja” jawabnya ketus.
Tidak lama, bel pulang sekolah berbunyi. Semua murid berhambur keluar kelas.
“Ha-Ae ku masih marah, huh?” godaku sambil merangkulkan tangan di bahunya sembari berjalan keluar kelas.
“aku tidak marah. Cepat turunkan tanganmu!”
“wae?”
“kamu tidak sadar? Semua penggemarmu sedang melototiku tahu”
“penggemar? Ck, sejak kapan aku punya penggemar? Ada- ada saja kamu ini” aku menrunkan tanganku dari bahunya, kemudian memasukkannya kedalam saku celanaku.
“mollaseo? Hampir seluruh anak kelas 10 menyukaimu. Bahkan, anak kelas 11, angkatan kitapun juga ada.”
“sinjjayeo?” dia mengangguk kecil.
Aku memberhentikan langkahku, kemudian dengan otomatis diikuti olehnya.
“wae?”
“eummm.. kalau.. kamu menyukai..”
“annyeeooong chingudeul!! Yak, tega sekali kalian tidak menungguku huh?!”
Jehee datang dari arah belakang secara tiba-tiba. Mengambil posisi ditengah antara aku dengan Ha-Ae. Dia berhasil memotong perkataanku begitu saja. ‘Awas kau, jehee-ssi’
                                                            ***
“jehee-ssi, ppaliwa!”
Aku menutup buku yang sedang kubaca, kemudian beralih memperhatikan sumber suara yang sangat ku kenal. Sung Ha-Ae. Dia sedang berada di depan pintu kelas kemudian jehee menghampirinya.
“ne,ne,ne araseo.” Jehee mempercepat langkahnya.
“otte? Sudah dapat?” Tanya Ha-Ae setelah Jehee menghampirinya.
“eo, belum. Nanti aku tanyain deh, sama..” jehee tidak melanjutkan perkataannya. Arah pengelihatannya beralih padaku. Dengan cepat aku meraih buku yang tadi aku baca dan pura-pura membacanya.
“sama.. SANG GUNnya langsung” jehee sedikit menaikkan suaranya, sambil melirik kearahku.
“yak, jehee-ssi, pelankan suaramu.” Ha-Ae mencubit ringan lengannya.
“minhae” ujarnya smbil membekap mulutnya sendiri seolah itu tindakan yang tanpa sengaja dilakukannya.
‘Sang gun? Mungkin yang mereka maksud itu..KIM SANG GUN??’
                                                            ***
Sung Ha-Ae PoV
Kim Sang Gun. Mataku sedikit berbinar mengingatnya. Permainan basketnya sangat mengagumkan. Tapi, masih lebih mengagumkan permainannnya RaeBin, pastinya. ‘akh! Ha-ae ssi, apa yang kamu pikirkan? Ingat! KIM SANG GUN bukan SHIN RAEBIN.’ Aku menggelengkan kepalaku ringan.
“aish, sinjja! Mengapa sulit sekali menghilangkannya dari pikiranku”
                                                                        ***
“Shin RaeBin!Shin RaBin!”
“Kim Sang Gun!Kim Sang gun!”
Langkah kakiku sangat tertarik untuk mengarah menuju lapangan basket sekolah. Suasanya disana sangat ramai. Setiap siswa meneriaki jagoannya masing-masig. Sebenarnya hanya ada dua nama yang dominan di teriyaki. Shin raebin dan Kim Sang Gun.
“jehee-ssi, kamu disini?” tanyaku saat melihat jehee berada di sampingku.
“eo. Sebagai sahabat yang baik, aku harus tetap mendukungnya”
“kamu mendukung..”
“Raebin Dweji! Hwaigting!!” teriakknya. “kalau kamu siapa? Raebin dan Sang Gun. Mereka berbeda tim.”
“sahabat ? atau… orang yang kamu sukai?” lanjutnya.
Aku terdiam sejenak, sambil berfikir “SHIN RAEBIN BABO! Hwaighting!” teriakku lantang. Selang beberapa menit, raebin berhasil memasukkan bola pada ring lawan dan aku tersenyum puas. ‘raebinku yang bodoh memang selalu menang’.
                                                                        ***
RaeBin datang menghampiriku seusai pertandingan. Sesuai perkiraanku, dia menang. Pasti.
“keren, kan?”
“cih, percaya diri sekali.” Aku menyodorkan air mineral padanya.
“gomawo” ujarnya setelah meneguknya.
“itu sudah disediakan sekolah. Bukan aku yang membelikannya.”
“bukan terimakasih untuk minumnya, babo!”
“lalu?”
“untuk kata semangatmu, yang sangat berpengaruh dalam pertandinganku.” Ujarnya serius.
 “yaa.. walaupun aku sedikit sebal karena di iringi kata ‘babo’ mu itu, haha” lanjutnya dengan nada mencairkan suasana serius yang dibuatnya tadi.
“dasar kau!” dengusku sambil menjitak kepalanya.
                                                            ***
Semenjak perkenalanku dengan Sang Gun yang sudah aku rencanakan beberapa minggu yang lalu berhasil, RaeBin menjauh dariku. Memang, rencana aku mendekati Sang Gun berhasil, tapi sepertinya tidak akan pernah lengkap tanpa kehadiran RaeBin kapan pun.
Mungkin juga, bukan karena RaeBinnya yang menjauh tapi malahan aku? Entahlah. Semenjak aku mulai akrab dengan Sang Gun, dia sudah nyaris mengambil alih posisi Raebin selama ini.
“raebin-ssi, annyeong?” aku menghapirinya yang tengah membaca sebuah buku yang tidak aku ketahui judulnya.
“yak, Raebin babo!” ulangku.
Tidak ada jawaban darinya. Suasana hening sesaat sebelum dia menutup bukunya secara kasar, dan berjalan pergi meninggalkanku yang terpaku sendirian.
“yak,yak, shin raebin! Odiga?” teriakkannku tidak berhasil membuatnya memberhentikan langkahnya dan menoleh kepadaku.
“annyeong, Ha-Ae-ssi!” tidak lama, Sang Gun datang menghampiriku. Aku sempat melihatnya berpapasan dengan Raebin, dan dia sempat berhenti sejenak, saling menatap intens kemudian melanjutkan langkahnya masing-masing. Apa mereka mempunyai sebuah masalah? Entahlah.
“annyeong” jawabku seramah mungkin, menutupi semua kekhawatiranku dengan Raebin.
“sudah makan?” Sang Gun menyodorkan bekalnya padaku.
“eo? Gomawo, mianhae aku sudah makan” tolakku sebisa mungkin. Biasanya, RaeBin yang sering bertukar makanan padaku, tapi dia sekarang malah menjauh.
‘RaeBin-ssi, gwenchana? Neo apposeo?’ gumamku dalam hati.
                                                            ***
Sung JeHee PoV
“yak, yak! Shin Raebin!” geramku. “kau mau membunuhku secara paerlahan, huh? Memikirkan persoalan cintamu yang amat sangat sulit membuatku hampir mati, tahu”
“siapa suruh kau memikirkannya?” ujarnya santai, seolah tidak merasa bersalah sedikitpun, yang membuat tingkat kemarahanku naik sampai ke ubun-ubun.
“YAK!SHIN RAEBIN!! KAU MAU MENCARI MATI DENGANKU, HUH?” teriakku kesal. Kami sedang berada di sebuah taman cantik hasil penemuan aku dan Raebin yang hari ini sedang tidak ada arah tujuan, dan kebetulan pengunjungnya hanya kami berdua. Jadi, tidak perlu berfikir dua kali untuk meneriakinya seperti itu.
“eo? JeHee-ssi, ternyata kau sama saja dengan Ha-Ae” ujarnya ngeri.
“wae?” tanyaku masih dengan nada emosi. Berbicara dengan namja ini memang tidak akan pernah bisa sabar.
“sama-sama mempunyai teriakkan cempreng yang menyeramkan” dia berhenti sejenak, seolah berfikir sebelum melanjutkan perkataannya. “tapi.. sepertinya lebih menyeramkan teriakkanmu, JeHee-ssi”
Tanganku sudah tidak bisa lagi menahan untuk menjitakknya.
“appo, dweji!” dengusnya setelah mendapat jitakan keras dariku.
“yak! Neo..” aku berusaha menahan emosiku “lanjutkan ceritamu”
Raut wajah RaeBin berubah drastis. Baru kali ini aku melihat dia begitu serius. Aku saja hampir sangsi melihatnya bahwa itu ekspresi yang dikeluarkan olehnya.
“Diaaa Sung Ha-Aeku. Yang harus ada selalu bersamaku, dalam jarak pandangku. Bukan dalam jarak pandang, orang yang paling aku tidak sukai didunia ini. Ha-aeku tidak boleh dengannya”
“orang yang sudah merebut impianku, tidak akan ku perbolehkan mengambil Ha-Ae dariku. Yeoja yang sangat aku pertahankan didunia ini setelah eoumma. Dan yang aku khawatirkan, Sang Gun hanya memanfaatkannya. Bulan depan, ada pertandingan basket yang sangat bergengsi.”
“lalu.. kenapa kamu menghindar darinya?” tanyaku dengan sedikit berhati-hati agar tidak mengganggu suasana hatinya.
“eo. Karena aku tidak akan bisa tahan menahan sakitnya. Melihatnya, apalagi dengan namja itu. Neomu apposeo, jehee-a”
“chakkaman! Tadi, kamu sempat bilang kalau.. orang yang merebut mimpimu?” tanyaku setelah menyadari sesuatu yang kurang kumengerti dari perkataannya tadi “maksudmuuu..sang gun?”
“ne. impianku dimasa depan lebih tepatnya.”
“aku sangat menginginkan melanjutkan sekolah ke amerika. Masuk salah satu universitas disana. Tapi, mengingat kemampuanku yang biasa saja dalam bidang akademik, membuatku sedikit putus asa untuk mencari bea siswa.”
“tanpa sengaja, aku melihat tulisan kecil di pojok brosur. ‘siswa yang mempunyai prestasi di bidang non akademik, bisa mendapatkan beasiswa asalkan dia memenangkan juara satu pada salah satu perlombaan tingkat seoul.’ Semangatku seolah muncul kembali. Aku berusaha keras pada pertandingan penyeleksian basket yang nantinya akan dikirim ke pertandinan tingkat seoul itu”
“hasilnya sangat memuaskan. Aku bisa. Aku masuk final! Bayangkan, tinggal selangkah lagi aku mendapatkan beasiswa itu, jehee-ssi” dia menundukkan kepalanya. Mengayunkan kakinya ringan, sambil menatap sepasang sepatu kets coklatnya.
“Kim Sang gun” ujarnya sinis “cih, dengan mudahnya dia mengahancurkan itu semua.”
“lawan ku di pertandingan final nantinya adalah timnya dia. Yaah, aku belum mengenalnya sama sekali waktu itu. Jadi, aku tidak ada perasaan takut dan curiga sedikitpun dengannya”
“tepat satu malam sebelum pertandingan, sepulang aku membeli sepatu ini.” dia menatap sepatunya dengan iba. “dia menabrakku dengan sepeda motornya. Sangat kecang.. dan sakit.”
“tanganku mengalami patah tulang, dan kaki kiriku terkilir hebat. Membuatku tidak bisa datang pada pertandingan itu. Kau ingat? Aku sempat tidak masuk sekolah selama dua minggu tanpa memberi kabar padamu dan Ha-Ae? Malewatkan banyak pelajaran daann.. pertandingan itu. Sang Gun berhasil memenangkannya. Tentu saja itu sangat mudah baginya memenangkan pertandingan dengan timku tanpa kehadiranku”
Aku sempat melihat setetes air mata jatuh membasahi sepatunya. Yaa, raebin menangis. Aku tahu, itu pasti sangat menyakitkan. Apalagi, Sang Gun kembali mengulangnya sekarang.
“ngomong-ngomong.. kau tidak akan meneriakinya lagi dengan sebutan ‘Cho Sooki’ lagi, kan?” tanyaku dengan sedikit mencairkan suasana.
“emm.. sepertinya masih.” Dia mengangkat kepalanya dengan senyuman jahilnya.
“babo! Bangaimana dia bisa menyadari perasaanmu kalau kaunya saja malah meneriakinya nama namja yang lain” sungutku.
“biarkan saja. Haha”
“membuatku kesal saja” dengusku.
“ne? tadi kau mengatakan apa?” dia menatapku intens, mencoba mecari jawaban dari raut wajahku seusai aku dia mendengar dengusanku. ‘mati aku!’
“eo? Aniyaa..” sergahku dengan sedikit gelagapan.
“sudah lahh.. mengaku saja!” dia melipatkan kedua tangannya.
“mengaku apa?”
“kau.. menyukai SooKi, kan?” tanyanya dengan sedikit mencondongkan tubuhnya sambil menatapku tajam, membuatku sedikit menjauh dengan sedikit bergidik.
“tapi..” aku menggigit bibirku ragu.
“ayolaahh.. tidak ada yang boleh dirahasiakan dalam perjanjian persahabatan kita, bukan?” dia kembali menegakkan tubuhnya, membuat posisi duduk seperti semula.
“emm.. tapi, apa kamu bisa tutup mulut untuk hal ini?”
“tenang saja.”
“baiklahh.. aku bukan hanya menyukainya.  SooKi itu, namja chinguku” aku menunduk malu.
“hah, sudah aku duga.”
“ne?”
“yaa.. semuanya terlihat jelas, babo!” dia memberikan tatapan mengejek. “dari semua ekspresi yang kau keluarkan setiap aku menyebut kata ‘Sooki’ untuk Ha-ae, sewaktu nonton konser 2pm dengannya, nonton my kingdom, sampai belajar bareng di perpustakaan”
“mwo? Otte?”
“iyalahh.. kelihatan sekali. Makanya kalau gak bisa jadi penyamar, gak usah sok bisa dehh, dweji babo!”
“yak, neoo..!!” jeritku, dan tawanya meledak saat aku kemarahanku mulai meningkat.
                                                            ***
Sung Ha-Ae PoV
Mataku memperhatikan sepanjang jalan yang aku lewati melalui kaca mobil Sang Gun. Dia membawaku secara paksa sepulang sekolah tadi, tanpa memberitahuku kemana aku akan dibawa.
“sudahlah, tenang saja. Kamu tidak akan menyesal nantinya” desahnya saat melihat mataku yang sedari tadi tidak henti-hentinya mencari.
“cepat katakan padaku, kemana kita akan pergi?” tanyaku dengan sedikit nada paksaan.
“sebuah taman, yang sangat indah pemandangannya. Disana ada banyak bunga yang dibentuk atau disusun dalam bentuk yang unik. Sudah, lihat nanti saja”
“sinjjayeo?”
“ne.. Ha-Ae ssi” ujarnya sambil mengacak-acak Rambutku pelan, dan berhasil membuatku sedikit terkejut akan sikapya.
                                                            ***
Langkah kakiku diiringi olehnya menelusuri jalan pinggir taman. Mataku mentap sepasang orang yang tengah berbincang. Seolah aku mengenali satu diantara mereka. Jantungku seakan berhenti berdedak, mataku membelalak dan langkah kakiku terhenti. Menyadari identitas kedua orang tersebut.
“wae?” ujar sang gun.
“aniyaa.. gwenchana” jawabku asal, sambil terus memperhatikan orang itu.
Matanya mengikuti arah pandangku. Dia juga terlihat berubah suasana sejenak, entah itu suasana apa.
“mereka maksudmu?” tanyanya kemudian.
Aku mengangguk kecil. “ne, sudah biarkan saja. Kajjayeo!” ajakku padanya.
Perasaan yang hampir aku tidak ketahui kenapa sebabnya, dan apa ini. aku melihatnya, yaahh, mereka. Melihat disaat yang tepat!. Raebin mencondongkan  tubuhnya pada Jehee? Apa mereka berpacaran? Sejak kapan?
‘ayolah, Ha-ae untuk apa kamu merasa sakit melihatnya?’ gumamku dalam hati.
“Ha-Ae –a, aku pergi membeli minum disana. Kamu tunggu disini” Sang Gun berjalan meninggalkanku di bangku taman, sendiri.Membiarkanku melihat pemandangan itu.
Mereka saling bergurau, tertawa bersama, menukar senyum dan melakukan hal-hal bodoh lainnya yang berhasil membuatku sedikit iri dengan Jehee. Dia terlihat dekat dengan RaeBin belakangan ini. sedangkan aku? Semakin menjauh darinya.
‘RaeBin-ssi, apa Jehee alasan dari semua sikapmu? Kau ingin berusaha menjauh dariku agar kau bisa lebih leluasa dengan Jehee? Atau kau merasa bosan karena setiap hari aku selalu ada dalam jarak dekat tempatmu berdiri?’
                                                                        TBC otte? maksa maksa gitu ya? :D . sebenernya FF ini sepecial buat temen aku --> delvira (kalo lo baca wajib komen!) hmm.. karena ini FF pertama aku, jadi aku butuh banyak masukan. jadi, dari pada tanggepannya cuman di pendem mendingan langsung bilang ke akunya. okee annyeong!

Tidak ada komentar: