Kamis, 22 Maret 2012
komentar 3K
heiiii yang mau komen tentang laman laman aku disini yaw. terutama yang 3K. wajib itu dikomen *maksagitu* haha yaudah deh. ditunggu komennya ._.
Minggu, 11 Maret 2012
~WooBum Couple~ #part 3
~WooBum Couple~ #part 3
Perasaan itu mulai ada. Menghantuiku seakan itu menjadi hal yang menakutkan. Dan permasalan itu segera muncul. Disaat aku tidak bisa lari dari janjiku. Janji yang membuatku akan semakin jauh dengannya.
Lee Woori PoV
Tiga bulan berlalu begitu saja. Begitu juga dengan kelangsungan hidupku di seoul. Cukup menarik dan mengesankan. Teman temanku lebih bisa membuat kehidupanku lebih menyenangkan dan berarti, daripada di California.
Eomma benar, tanah air adalah tempat terbaik untuk kita. Seburuk apapun prestasi tanah air kita. Karena disana ada keluarga, peristiwa kehidupan kecil, dan hal hal yang menyatu dengan diri kita. Yang membuat perasaan menjadi lebih nyaman.
“woori~a” yoona melambaikan tangan singkat padaku, menandakan keberadaan dirinya. Hari ini kami ber empat mempunyai janji untuk makan bersama disalah satu foodcourt baru tak jauh dari sungai han.
“ne, kajjayeo!” aku menarik lengan Jehee dan menyelipkan lenganku kedalamnya. Berusaha untuk sedikit menjauh darinya.
“yak, bum-a. apa kau tidak mengajak temanmu seorang saja, huh?” jehee melirik kibum yang berjalan dengan tenang diantara kami.
“lalu? Kenapa kau tidak mengajak namja chingumu uuntuk menemaniku, eo?” ujarnya datar kemudian berjalan mendahului kami.
“aish, sinjja bocah ini.” umpat jehee sambil berlagak seperti ingin mencekiknya dari belakang. “kau kan temannya. Jadi seharus lebih baik kau yang mengajaknya.”
“kau yeoja chingunya, malahan.” Ujarnya kembali dengan nada datar.
“YAK! KIBUM-SSI! NEO..”
“nuna! Apa kau tidak datang ke rumah halmoni, siang ini?” kibum menepuk ringan bahu yeoja yang Nampak sekilas dari arah kami.
“memangnya ada apa? Aku sibuk, jadi tidak bisa datang. mianhae.” Dia menyingkap anak rambutnya yang sedikit tak beraturan. Matanya memincingkan kearah kami. Membuat kami akhirnya bisa melihat wajahnya dengan jelas.
“yeoja? Yak! Kim kibum!” tangannya menjitak pelan pada keningnya dan dia meringis pelan. “jangan bawa kebiasaanmu denganku. Tidak adakah teman namja huh?”
“appo nuna-a! aku mempunyainya, tapi hari ini mereka tidak bisa ikut. Itu saja! Annyeong!” dia kembali melanjutkan langkahnya, membiarkan yeoja yang disapanya “nuna” itu terdiam kaku, tanpa mengamukinya. Kupikir dia sudah terbiasa dengan sikap Kibum yang terbilang kurang sopan dengan lawan bicaranya.
“nugundae?” yoona menjajarkan langkahnya disamping Kibum.
“dia tetanggaku saat aku tinggal di California. Tapi dia juga orang asli korea. Kau tidak perlu tahu mengapa dan bagaimana aku dengannya. Tidak terlalu penting.” Dia memasukkan telapak tangannya kedalam saku jaket. Siang ini cukup cerah, dan musim dingin mulai berakhir. Kenapa dia memasukkan tangannya kedalam jaket, dan mengapa pula dia terlihaat.. sedikit aneh.
Kim KiBum PoV
Aku mendesah pelan, nyaris tidak terdengar siapapun. Sangkyung nuna tidak datang ke undangan halmoni. Itu berita yang cukup baik, karena dapat mencengah mulutnya yang nyaris tidak bisa terkendali kepada eomma yang kemungkinan sangat akan datang.
Tapi sungguh, hari ini perasaanku sedikit tak karuan. Siwon benar benar telah menjebakku. Sengaja saja, aku menolak untuk mengajak donghae, siwon, ataupun teman se “geng”ku yang lainnya. Mereka pastinya akan menagih janji yang tanpa sengaja ku ucapkan.
“kau merasa seorang namja? Are you gentleman? Not? Ck, apa yang bisa kau lakukan huh? Mendekati yeoja seeprti dia saja tidak bisa”
Kata kata itu cukup mengusikku. Aku tidak menyukainya. Semacam taruhan gila yang dibuat oleh temanku. Siapa yang kalah, dia harus menyatakan yeoja yang enurutnya paling cantik di kampus ini. mudah kukira, tapi ternyata malah aku terjebak.
Yeoja yang cantik menurutku memang bukan taeyeon. Bukan dia yang tercantik. Aku hanya menjawab asal, karena kukira setelah itu aku akan selamat. Emosiku memuncak dan aku merasa direndahkan dengan perkataan teman temanku.
“lihat sampai aku menembaknya, dan menjadikannya yeoja chinguku!”
Kim taeyeon. Aku mengenalnya sekitar seminggu belakangan ini. itupun dikarenakan saat aku sedang menghampiri leeteuk hyung yang kebetulan menjadi dosen dikelasnya. Hanya mengenal. Sekedar mengenal. Yeoja yang aku butuhkan, aku sukai, aku inginkan, aku katakana “cantik yang sesungguhnya” hanya satu. Lee woori.
Dia bukanlah tipe yeoja (wanita) yang mudah untuk didekati. Dia mempunyai namjachingu (boyfriend) aku tahu itu. Tanpa diberitahupun aku menyadarinya. Tak mungkin rasanya pula aku mendekatinya, selama dia bersetatus sahabat karib “yoona”.
Aku sudah mengetahuinya. Jauh sebelum aku mulai menaruh hati pada Woori. Dia terlalu ekspresif dalam menyimpan perasaan. Menurutku begitu atau paling tidak dia kurang bisa membekap mulut sahabatnya, jehee dan termasuk woori untuk tidak terlalu terbuka.
Drt.. ddrtt..
“kibum-a! kau sama sekali tidak mengejakku huh?” terdengar sungutan kecil suara lembut sungmin.
“wae?” aku berdehem seolah tidak menyadarinya.
“takutkah bertemu denganku huh? Aku sudah sampai tempat tujuanmu dan yang lain sekarang. Jadi kau mau kabur kemana, eo?” sepertinya mereka sedang bersama, karena sedikit ada keributan dan berikutnya, donghae yang angkat bicara.
Aku memutus sambungan dengan secepat mungkin kemudian berbalik menghadap para yeoja yang berjalan santai sambil bergurau daibelakangku sedaritadi. Semua sorot mata mereka tertuju padaku dengan tatapan heran.
“bagaimana kalau kita pergi kebandara saja? Eomma dan appaku datang ke seoul hari ini. apa kalian ingin ku kenalkan,eo?”
***
“bum-a! katanya kita mau kebandara menjemput eomma dan appamu. Kau mau membawa kita kemana huh?”
Aku tersenyum disudut bibirku. Terus mengendarai mobil dengan tenang. Aku mengajak mereka sebelum pergi untuk kerumahku sebentar. Mengambil mobil, untuk memudahkan perjalanan.
Gila saja kalau aku sampai beranii menemui eomma dan appaku ke bandara. Woori hanya terdiam duduk manis di jok tepat dibelakangku. Dia sepertinya mengetahui kalau aku tidak mungkin akan membawa mereka menemui eomma dan appaku.
Dia tahu semua. Semua yang kurahasiakan selama ini dengan banyak orang tentang banyak hal. Tapi tentu saja dia sama sekali tidak mengetahui rahasia besarku. Yaitu mencintainya dengan penuh resiko.
“molla.” Sahutku singkat, sambil melirik kearah kaca spion. Menyaksikan ekspresi eksta yang dikeluarkan yoona. Dia anak yang sangat ekspresif. Berbeda dengan woori yang terbiasa untuk menjadi anak yang penuh ketenangan. Melambangkan kedamaian dan kelembutan hati yang dimilikinya.
“MWOYA?!”
“yak, bum-a! jam berapa ini? dari tadi kau membawa kami kemana?”
“pukul delapan malam. Wae?” ujarku santai sambil melirik jam yang terpampang di mobil.
Aku sedikit melirik gerakan woori dibelakang. Dia terlihat sedikit berbeda beberapa jam belakang ini. terutama, saat kami kembali melanjutkan perjalanan. Dia terlihat sibuk dengan ponselnya. Beberapa kali terdengar nada panggilan yang tidak ia jawab. Sejujurnya, aku seidikit khawatir dengannya selama perjalanan.
“jeju island, friend! I think we can’t to meet my mom and dad now. Because they have one mistake to take off today.”
***
Tubuhku ku sandarkan sejenak kearah pohon yang tumbuh tak jauh dari halaman villa. Pagi cerah ini menyambut hari pertama kami berlibur di jeju. Sungguh gila rasanya jika mengingat tujuan awal kami yang hanya ingin mencicipi rasa makanan foodcourt baru dekat sungai han, malah beralih menjadi ke pulau Jeju.
Untung saja, sangkyung nuna dengan baik hati mau meminjamkan villanya disini. Kamar disini cukup banyak. Sekitar sepuluh atau sebelas. Karena jarang sekali dikunjungi, villa ini biasa dirawat dengan dua orang pesuruh nuna yang memang sudah dipercaya.
“hei!” aku sedikit tersentak dan terbangun dari mata yang terpejam. Menikmatisuara desiran ombak pantai yang berada tak jauh dari villa, dengan tepukan ringan dipundakku.
“eo? Woori ya? Ireonnna (sudah bangun) ?” dia mengangguk kecil kemudian duduk sila menghadapku.
Aku tersenyum singkat membalas tatapannya “apa yang sebenarnya terjadi, eo? Apa berniat menyembunyikan semuanya dariku?”
Dia tertuduk. Menatap jemari tangannya yang digerakkan ringan. Terdengar sedikit desahan pelan dan beberapa umpatan kecil yang keluar dari mulutnya. Kurang bisa terdengar jelas olehku.
***
Lee Woori PoV
Mataku mengerjap pelan. Entah kenapa pagi ini bisa terbangun dengan mudahhnya. Mungkin karena terpikir untuk menyelesaikan beban hatiku yang terasa semakin berat. Semalam tanpa sadar aku terlelap, dan bangun ketika sampai di villa dengan handphone yang akhirnya berhenti bergetar dengan 60 misscall darinya,
Tanganku melambaikan sejenak pada kedua sahabatku yang nampaknya bertahan untuk memelekkan mata selama berjam jam diperjalanan. Bahkan dikapal yang membuat ku ingin memuntahkan semua isi perutku. Kami memang sedang libur kuliah. Jadi tidak terlalu masalah jika harus menginap secara mendadak seperti ini.
Tanganku menarik tirai horden kamar. Sedikit mengerjap dengan cahaya matahari yang menyeruak masuk secara mendadak kearah mataku. Dengan sedikit menyipitkan mata, aku melihat sosok yang terduduk sendiri dengan tubuh yang disandarkan ke batang pohon dihalaman belakang villa.
Sedikit niat yang menggelitik untuk bercerita masalahku dengannya. Karena menurutku, dia teman yag sangat tepat untuk saat ini. aku dengannya sudah hampir mendekati sahabat dekat.
Langkah kakiku akhirnya tertuju kearah arahnya. Menyingkap sedikit anak rambutku yang tertiup terpaan angin yang cukup sejuk disini. Jeju memang kota indah yang penuh dengan ketenangan dan kesejukan.
“hei.” Aku menepuk ringan pundaknya. Menyadarkannya yang tengah terpejam dengan desiran pantai yang letaknya tak jauh dari villa yang kami datangi.
“eo? Woori ya? Ireonnna (sudah bangun) ?” aku mengangguk. Tersenyum sejenak, kemudian mengambil posisi duduk sila menghadapnya. Duduk tanpa beralaskan apapun diatas rumput basah, sepertinya terasa cukup alamiah.
Dia membalas senyumku, kemudian menatapku dengan sedikit tatapan mencari sesuatu dariku.
“apa yang sebenarnya terjadi, eo? Apa berniat menyembunyikan semuanya dariku?”
Aku sedikit terhenyak. Mendengar semua tebakan yang terluncur dari mulutnya. Sedikit tidak heran, setelah berfikir sikapku beberapa jam belakangan ini saat bersamanya sedikit berubah.
Jemariku bermain pelan dihadapan kedua bola mataku yang tertunduk kearahnya. Termenung sejenak. Mengumpulkan energy untuk menceritakan semua yang terjadi padaku. Kepadanya. Dari awal aku bertemunya, sungguh entah kenapa. Seperti ada magnet yang mengikat dalam benakku. Dia adalah oran yang selalu membuatku nyaman. Dimanapun dan bagaimanapun kondisinya.
“bum-a..” aku mulai berkata. Tanpa kembali menatap matanya. Dia terdiam. Seperti mengetahui saat yang tepat untuk menunggu kalimat selanjutnya. “na.. naneun.. (aku) mengakhiri semuanya dengan youghwa oppa.”
Air mataku tak terjatuh setetespun, seperti halnya para yeoja (wanita) yang tengah putus cinta. Hanya perasaan lelah yang ada di benakku sekarang. Dan aku kurang mengerti apa yang sebenarnya membuatku lelah.
“apa itu sebuah keputusan terbaik, eo?” dia sepertinya mengerti. Mengetahui tak ada tangisan yang keluar dari ekspresiku.
Aku mengangguk pelan. Kembali mentapnya. “sangat jarang ada komunikasi Diantara kita. Jarang sekali, nyaris tidk ada dalam seminggu.” Aku mendesah pelan. “dan.. aku merasa bahwa diriku hanya sebagai alat pelariannya. Tamengnya untuk menghindar dari serbuan yeoja yang mengaguminya.” Manik mataku menatap pasrah dirinya. Berharap ada solusi setelah aku menceritakan padanya. Walaupun itu hanya sebuah perasaan lega.
Drtt.. drrt..
Dia merogoh sakunya. Mengambil ponselnya kemudian mematikannya dengan cepat.
“nugundae? (siapa)” dia hanya tersenyum masam.
“hanya masalah kecil yang nyaris membuatku setengah gila. Sekita dua minggu lagi. Kalau aku berhasil untuk mengundurnya. Kau lihat saja nanti. Kesialan apa yang akan terjadi padaku.”
***
TBC
huaa ao~ thanks udah mau baca ff gagal tak jadiku XD kepalaku lagi mumeett bgtbgtan. banyak pikiran, gatau kenapa belakangan ini. *curcol* yasudahla, dari pada kelamaan, nanti yang ada isinya jadi curcolan aku semua. hehe. maaf jugaa kalo kependekan :D. insya allah, part 4 dan seterusnya aku panjangin deh.. oke, waktunya NUNGGU KOMEN DARI READERS!! thanks udah mau nyempetin baca :* wakaks
Jumat, 02 Maret 2012
~WooBum Couple~ #part 2
annyeong! ini part 2nya. dipart 2 ini aku baru dapet ide buat judul nih cerita #plak. hm.. terus ada foto editannya. kalo jong younghwa diganti jadi mukanya youngmin gapapa kan ya? *kabuuuuur* ya sudahlah, langsung aja. selamat membacaaa :o
~WooBum Couple~ #part 2
That’s true story in somegirl life. Just illustration but the mean is to same. Love him, but she can’t. because she have one mistake. Friend. The real friend in her life, and the best friend from all. Than, she just can feel. Nothing wish or want a be his girlfriend.
Kim Kibum PoV
Aku menghempaskan tubuhku disofa kamar yang menghadap jendela luar. Apartemant ini milik pamanku dari eomma yang untuk sementara waktu idak sedang berada di soul. Kalaupun dia sedang berda disini, dia lebih menyukai untuk tinggal bersama halmoni. Tadinya aku ingin memutuskan tinggal di rumah halmoni. Tapi pasti eomma akan mendapatkanku kembali dengan mudah.
Aku dengannya cukup akrab. Bahkan bisa dibilang apartement ini sratus persen milikku. Karena secara tidak langsung, dia sempat menawarkan apartement kecil ini padaku. Tidak besar, namun cukup layak dan sesuai dengan seleraku.
Hari ini sungguh, bukan hari yang baik bagiku. Dihari pertama kelasku. Bukannya aku meremehkan, tapi ini sungguh menjijikan. Banyak yeoja yang menatapku selama kelas berlangsung. Dan sebagian dari mereka yang mempunyai sedikit keberanian, mereka akan mendekatiku dan berkenalan dengan gaya genitnya.
Jujur aku menyukai pertemanan. Tapi aku paling tidak suka menjadi sorotan orang, atau menjadi sesuatu hal yang difavoritekan. Membayangkan teman temanku di seoul kali ini, menbuatku sedikit sulit untuk berfikiran baik akan mendapat teman yeoja baik seperti di Canada.
Teman yeoja bukan berarti yeoja chingu. Teman yang dapat kuanggap bisa dipercaya, menjadi teman untuk bertukar pikiran. Jujur saja, aku kurang menyukai namja untuk dijadikan tempat bertukar pikiran. Entah ini karena sudah terbiasa atau apa aku tidak tahu. Namja lebih asik jika dijadikan teman tawa, canda, atau membahas sesuatu yang disukai.
Sangkyung onnie. Mungkin itu yang menjadi alasanku terbiasa bertukar pikiran dengan yeoja. Dia lima tahun diatasku, dan sudah menikah. Sampai ia menikah saat ini pun, dia masih menganggapku adiknya. Benar benar seperti adiknya.
Dia anak tunggal, sama denganku. Dan rumah kami berseblahan. Walaupun umur kami yang lumayan jauh perbedaannya, kami merasa sudah cocok jika sedang memperbincangkan suatu hal.
Hari ini, niatnya aku akan mengunjungi namsan tower. Ada seorang teman yang aku janjikan untuk bertemu. Tapi sepertinya sedang hujan salju. Mungkin dia tdak akan jadi datang, dan janji kami akan ditunda. Aku merogoh saku celanaku. Mengecek handphoneku apakah ada telpon masuk atau tidak.
1 new massage
From : leeteuk
Bum~a, kau sedang di seoul, eo? Aku dan sangkyung berniat untuk kembali tinggal hari ini. tugasku di California sudah selesai. bisa kau menjemputku? Satu jam lagi aku akan sampai.
Aku mendesah sedikit kesal. Hujan salju, pasti akan terasa sangat dingin. Malas rasanya untuk berpergian. Tapi kalau tidak aku jemput, mungkin mereka akan mengamukiku jika bertemu. Aku menyambar jaket tebalku kemudian mengemudikan mobil menuju bandara.
***
Lee Woori PoV
Tanganku melepas kacamata hitam yang kugunakan untuk mengurangi pengelihatan banyak lalu lalang orang disekiraku, karena aku tidak menyukai keramaian. Akhirnya aku mendapatkan tempat untuk duduk setelah hampir setengah jam lebih berkeliaran disekiling bandara mencari eomma.
Eomma memaksaku untuk kembali ke Seoul, walaupun berat rasanya meninggalkan California. Tertamaa.. younghwa oppa. Tapi entah apa yang sebenarnya terjadi padanya, dia memohonku dengan sangat untuk kembali tinggal bersamanya dan melanjutkan kuliahku di Seoul
Eomma berjanji padaku untuk menjemputku paling terlambat sepuluh menit setelah pesawatku mendarat. Tapi nyatanya, sudah hampir satu jam aku menunggu, taidak ada tanda kedatangannya untuk menjemputku sampai sekarang.
Aku menyadari kehampaan yang mulai dirasakan oleh tanganku. Menyadari bingkisan kecil pemberian younghwa sebelum kepergianku kembali ke seoul, sudah menghilang dari genggamanku sesaat kemudian. Aku berniat untuk mencarinya, dengan kondisi sedikit terburu buru karena rasa panic ku terhadap barang itu.
Baru saja, sedetik aku bangkit dari kursi yang kududuki , tubuhku terbentur kasar dengan tubuh yang tingginya kurang lebih hampir sama dariku.
“I’m sorry miss..” ujarnya setelah menyadari benturan tubuhnya.
Aku sedikit mengernyit. Dia mempunyai wajah korea asli, tapi pengucapan bahasa inggrisnya terdengar sangat fasih. Seperti pengucapan yang keluar dari mulut orang asing.
“are you Korean people, right?” tanyaku kemudian dengan sedikit ragu. Kali ini dia yang mengeryitkan keningnya dan menatapku heran.
“wae? Apa urusanmu mengetahuiku orang korea atau bukan, eo?”
“pengucapan bahasa inggrismu terdengar lebih fasih daripada bahasa koreamu. Mengherankan saja, menurutku. Sekalipun orang korea pandai dalam bahasa inggris, tapi sungguh. Tidak ada yang sebagus dirimu untuk pendengaranku selama ini.” ujarku santai, tanpa memikirkan kecanggungan ataupun rasa takut dan asing dengan orang yang belum pernah sama sekali aku kenal ataupun temui. Entah kenapa, rasanya sangat nyaman.
“ck. Baboya. Apa kau sama sekali tidak merasa asing menguapkan hal yang sama sekali bukan perkataan sapaan pertama awal berjumpa atau perkenalan, Agassi?” dia tertawa ringan disudut bibirnya membuatku mengercut singkat bibirku, dan menatapnya kesal.
“kalau tidak mau menjelaskan juga tidak apa apa. Memangnya siapa kau, hingga aku wajib mengetahuinya? ” aku berlalu pergi meninggalkannya. Mengingat barang yang seharusnya aku cari, dan kembali dilliputi rasa gelisah.
Itu kado pemberian pertama darinya. Jadi itu sungguh berharga bagiku. Terlebih perkataan teralhirnya yang semakin menyesal jika aku tidak menemukannya.
“jaga dengan baik pemberianku ini, jagi. Hanya sebagai barang pengingat padaku dan mengingatkanmu bahwa masih ada aku disini. Yang menunggu dan menyayangimu. Annyeong, jangan lupa mengabariku sesampainya disana. I love you”
***
Aku terduduk kaku dalam kursi kelas baruku. Menatap sejenak kondisi kelas kemudian mulai merapihka barangku dilaci meja. Hari ini akan ada kelas sampai sore.
“annyeong, im yoona ibnida. Mahasiswi baru?” Seorang yeoja dengan kaus merah polos disertai gardigan berwarna merah muda dan rambut gelombangnya dibiarkan tergerai dengan selipan bando pinta berwarna kemerahan datang menghampiriku. Dia masih menyampingkan tasnya. Berarti bisa dikatakan dia baru saja tiba.
Aku tersenyum membalasnya. “lee woori ibnida.” Aku mengannguk saat menyadari isyaratnya yang ingin duduk disampingku.
“ini sebenarnya tempat kiBum. Apa mau kita pindah saja, eo?” dia melirik sekitar tempatnya.
“biarkan saja. Suruh saja dia mengalah. Aku sudah terlanjur cocok dengan sisi ini.” gumamku pelan sambil melanjutkan kegiatanku merapihkan barang barang.
“pindahan dari universitas mana?” yoona membalikka tubuhnya setelah menaruh tasnya dilaci meja menghadapku.
“barekly university, California.” Jawabku kemudian membalikkan tubuhnya, dan memutuskan untuk berbincang dengannya. Tidak buruk juga kupikir untuk mencoba berteman. “eomma menyuruhku untuk kembali ke seoul secara tiba tiba. Dan tanpa sepengetahuanku aku sudah didaftarkan untuk melanjutkan di seoul national university.”
“kurasa, kalau tidak salah mengingat. Ki bum oppa juga pindahan dari California. Tapi aku tidak mengetahui dimana universitasnya.”
“oppa?” aku mengernyit. “dan kenapa sedari tadi kau menyebut nyebut namanya, eo?”
Dia tersenyum simpul, walau kemerahan pipinya tidak dapat disembunyikan secara keseluruhan. “aku mahasiswi aksel. Jadi jelas dia lebih tua dariku. Eum.. yaa yaa mungkin karenaa kupikir ada hubungannya dengan itu.”
“sinjja?” aku sedikit menaikkan alisku dan mendominasikan nada menggoda. Baru saja yoona membuka mulutnya yang sepertinya ingin membantah perkataanku, sebuah tangan yang cukup panjang menyodorkan sebuah bungkusan kecil yang tak asing dari arah belakang.
“is yours? You left in airport yesterday. From your boyfriend? because it’s look so.. sweety.”
Aku membalikkan tubuhku. Terlihat sosok namja yang taka sing berdiri tegap menghadapku dengan bbungkusan kecil ditangannya yang tersodor untukku. Senyuman singkat disudut bibirnya tanda mengejek, membuatku kembali mengumpat kesal.
Dia menjatuhkan bungkusan itu dipangkuanku dengan santainya. Kemudian mengambil posisi duduk disampingku. Yoona hanya menatap kami heran. “eonnie-a.. neo..”
“aku juga mahasiswi aksel. Jadi, umur kita sama. Bahkan aku juga satu tahun lebih muda darimu, karena aku aksel dua kali. Jangan panggil aku dengan sebutan eonnie.” Sahutku cepat.
“Yoona-a. temani aku ke kantin sebentar yaa? Aku belum sarapan, eo?” seorang yeoja dengan ikatan rambut ikalnya yang terjuntai kebelakang dan kemeja berwarna cerah. Terlihat dari sisi ke unfeminimannya, namun gerakan nya masih seolah tingkah manis seoarang yeoja.
“jehee-a. tidak bisakah kau meminta untuk ditemani donghae oppa? Untuk apa mempunyai namja chingu jika tidak dimanfaatkan.” Sungut yoona yang sepertinya terlihat sedikit malas untuk keluar kelas. “jebalyeo.. dongahe oppa bukan teman yang tepat untuk jajan dikantin (*plak)” dia menarik tarik lengan baju yoona. Membuat yoona sedikit mendesah kemudian mengikuti ajakan temannya.
Aku melirik tanpa niat kearah namja itu. “kim Ki Bum, barekly university, california.” Ujarnya singkat tanpa menolehkan pandangannya kearahku.
Aku mengernyit, ada sesuatu hal yang mengganjal dari perkataannya. Membuatku terdiam sejenak dan sedikit berpikir. “no say thanks?” dia menganggkat alis tebalnya.
Aku menghela napas sehalus mungkin, meredakan kegeramanku padanya. “oke, thank you, kim ki bum-ssi.” Aku menghadap kearahnya sambil tersenyum sedikit memaksa.
“wait. Berekly university? Ypu transfer from there? Is it true? Really?” dia mengangguk dengan sedikit bingung menatapku.
“yes. Why?”
“because I also from there.”
***
TBC
seperti biasa, kalo udah selesai baca ngapain? waktunya comment (peleng-_-) haha yaudah, adminya lagi galau nih, jadi maklumin aja yaah, apalagi kalo ceritanya ngaco gimana gitu, LOL. udah ah, kelamaan, jadi curhat lagi. wk. thanks udah mampir. annyeong!
seperti biasa, kalo udah selesai baca ngapain? waktunya comment (peleng-_-) haha yaudah, adminya lagi galau nih, jadi maklumin aja yaah, apalagi kalo ceritanya ngaco gimana gitu, LOL. udah ah, kelamaan, jadi curhat lagi. wk. thanks udah mampir. annyeong!
Langganan:
Postingan (Atom)

