That’s true story in somegirl life. Just illustration but the mean is to same. Love him, but she can’t. because she have one mistake. Friend. The real friend in her life, and the best friend from all. Than, she just can feel. Nothing wish or want a be his girlfriend.
Kim Kibum PoV
Aku menghempaskan tubuhku disofa kamar yang menghadap jendela luar. Apartemant ini milik pamanku dari eomma yang untuk sementara waktu idak sedang berada di soul. Kalaupun dia sedang berda disini, dia lebih menyukai untuk tinggal bersama halmoni. Tadinya aku ingin memutuskan tinggal di rumah halmoni. Tapi pasti eomma akan mendapatkanku kembali dengan mudah.
Aku dengannya cukup akrab. Bahkan bisa dibilang apartement ini sratus persen milikku. Karena secara tidak langsung, dia sempat menawarkan apartement kecil ini padaku. Tidak besar, namun cukup layak dan sesuai dengan seleraku.
Hari ini sungguh, bukan hari yang baik bagiku. Dihari pertama kelasku. Bukannya aku meremehkan, tapi ini sungguh menjijikan. Banyak yeoja yang menatapku selama kelas berlangsung. Dan sebagian dari mereka yang mempunyai sedikit keberanian, mereka akan mendekatiku dan berkenalan dengan gaya genitnya.
Jujur aku menyukai pertemanan. Tapi aku paling tidak suka menjadi sorotan orang, atau menjadi sesuatu hal yang difavoritekan. Membayangkan teman temanku di seoul kali ini, menbuatku sedikit sulit untuk berfikiran baik akan mendapat teman yeoja baik seperti di Canada.
Teman yeoja bukan berarti yeoja chingu. Teman yang dapat kuanggap bisa dipercaya, menjadi teman untuk bertukar pikiran. Jujur saja, aku kurang menyukai namja untuk dijadikan tempat bertukar pikiran. Entah ini karena sudah terbiasa atau apa aku tidak tahu. Namja lebih asik jika dijadikan teman tawa, canda, atau membahas sesuatu yang disukai.
Sangkyung onnie. Mungkin itu yang menjadi alasanku terbiasa bertukar pikiran dengan yeoja. Dia lima tahun diatasku, dan sudah menikah. Sampai ia menikah saat ini pun, dia masih menganggapku adiknya. Benar benar seperti adiknya.
Dia anak tunggal, sama denganku. Dan rumah kami berseblahan. Walaupun umur kami yang lumayan jauh perbedaannya, kami merasa sudah cocok jika sedang memperbincangkan suatu hal.
Hari ini, niatnya aku akan mengunjungi namsan tower. Ada seorang teman yang aku janjikan untuk bertemu. Tapi sepertinya sedang hujan salju. Mungkin dia tdak akan jadi datang, dan janji kami akan ditunda. Aku merogoh saku celanaku. Mengecek handphoneku apakah ada telpon masuk atau tidak.
1 new massage
From : leeteuk
Bum~a, kau sedang di seoul, eo? Aku dan sangkyung berniat untuk kembali tinggal hari ini. tugasku di California sudah selesai. bisa kau menjemputku? Satu jam lagi aku akan sampai.
Aku mendesah sedikit kesal. Hujan salju, pasti akan terasa sangat dingin. Malas rasanya untuk berpergian. Tapi kalau tidak aku jemput, mungkin mereka akan mengamukiku jika bertemu. Aku menyambar jaket tebalku kemudian mengemudikan mobil menuju bandara.
***
Lee Woori PoV
Tanganku melepas kacamata hitam yang kugunakan untuk mengurangi pengelihatan banyak lalu lalang orang disekiraku, karena aku tidak menyukai keramaian. Akhirnya aku mendapatkan tempat untuk duduk setelah hampir setengah jam lebih berkeliaran disekiling bandara mencari eomma.
Eomma memaksaku untuk kembali ke Seoul, walaupun berat rasanya meninggalkan California. Tertamaa.. younghwa oppa. Tapi entah apa yang sebenarnya terjadi padanya, dia memohonku dengan sangat untuk kembali tinggal bersamanya dan melanjutkan kuliahku di Seoul
Eomma berjanji padaku untuk menjemputku paling terlambat sepuluh menit setelah pesawatku mendarat. Tapi nyatanya, sudah hampir satu jam aku menunggu, taidak ada tanda kedatangannya untuk menjemputku sampai sekarang.
Aku menyadari kehampaan yang mulai dirasakan oleh tanganku. Menyadari bingkisan kecil pemberian younghwa sebelum kepergianku kembali ke seoul, sudah menghilang dari genggamanku sesaat kemudian. Aku berniat untuk mencarinya, dengan kondisi sedikit terburu buru karena rasa panic ku terhadap barang itu.
Baru saja, sedetik aku bangkit dari kursi yang kududuki , tubuhku terbentur kasar dengan tubuh yang tingginya kurang lebih hampir sama dariku.
“I’m sorry miss..” ujarnya setelah menyadari benturan tubuhnya.
Aku sedikit mengernyit. Dia mempunyai wajah korea asli, tapi pengucapan bahasa inggrisnya terdengar sangat fasih. Seperti pengucapan yang keluar dari mulut orang asing.
“are you Korean people, right?” tanyaku kemudian dengan sedikit ragu. Kali ini dia yang mengeryitkan keningnya dan menatapku heran.
“wae? Apa urusanmu mengetahuiku orang korea atau bukan, eo?”
“pengucapan bahasa inggrismu terdengar lebih fasih daripada bahasa koreamu. Mengherankan saja, menurutku. Sekalipun orang korea pandai dalam bahasa inggris, tapi sungguh. Tidak ada yang sebagus dirimu untuk pendengaranku selama ini.” ujarku santai, tanpa memikirkan kecanggungan ataupun rasa takut dan asing dengan orang yang belum pernah sama sekali aku kenal ataupun temui. Entah kenapa, rasanya sangat nyaman.
“ck. Baboya. Apa kau sama sekali tidak merasa asing menguapkan hal yang sama sekali bukan perkataan sapaan pertama awal berjumpa atau perkenalan, Agassi?” dia tertawa ringan disudut bibirnya membuatku mengercut singkat bibirku, dan menatapnya kesal.
“kalau tidak mau menjelaskan juga tidak apa apa. Memangnya siapa kau, hingga aku wajib mengetahuinya? ” aku berlalu pergi meninggalkannya. Mengingat barang yang seharusnya aku cari, dan kembali dilliputi rasa gelisah.
Itu kado pemberian pertama darinya. Jadi itu sungguh berharga bagiku. Terlebih perkataan teralhirnya yang semakin menyesal jika aku tidak menemukannya.
“jaga dengan baik pemberianku ini, jagi. Hanya sebagai barang pengingat padaku dan mengingatkanmu bahwa masih ada aku disini. Yang menunggu dan menyayangimu. Annyeong, jangan lupa mengabariku sesampainya disana. I love you”
***
Aku terduduk kaku dalam kursi kelas baruku. Menatap sejenak kondisi kelas kemudian mulai merapihka barangku dilaci meja. Hari ini akan ada kelas sampai sore.
“annyeong, im yoona ibnida. Mahasiswi baru?” Seorang yeoja dengan kaus merah polos disertai gardigan berwarna merah muda dan rambut gelombangnya dibiarkan tergerai dengan selipan bando pinta berwarna kemerahan datang menghampiriku. Dia masih menyampingkan tasnya. Berarti bisa dikatakan dia baru saja tiba.
Aku tersenyum membalasnya. “lee woori ibnida.” Aku mengannguk saat menyadari isyaratnya yang ingin duduk disampingku.
“ini sebenarnya tempat kiBum. Apa mau kita pindah saja, eo?” dia melirik sekitar tempatnya.
“biarkan saja. Suruh saja dia mengalah. Aku sudah terlanjur cocok dengan sisi ini.” gumamku pelan sambil melanjutkan kegiatanku merapihkan barang barang.
“pindahan dari universitas mana?” yoona membalikka tubuhnya setelah menaruh tasnya dilaci meja menghadapku.
“barekly university, California.” Jawabku kemudian membalikkan tubuhnya, dan memutuskan untuk berbincang dengannya. Tidak buruk juga kupikir untuk mencoba berteman. “eomma menyuruhku untuk kembali ke seoul secara tiba tiba. Dan tanpa sepengetahuanku aku sudah didaftarkan untuk melanjutkan di seoul national university.”
“kurasa, kalau tidak salah mengingat. Ki bum oppa juga pindahan dari California. Tapi aku tidak mengetahui dimana universitasnya.”
“oppa?” aku mengernyit. “dan kenapa sedari tadi kau menyebut nyebut namanya, eo?”
Dia tersenyum simpul, walau kemerahan pipinya tidak dapat disembunyikan secara keseluruhan. “aku mahasiswi aksel. Jadi jelas dia lebih tua dariku. Eum.. yaa yaa mungkin karenaa kupikir ada hubungannya dengan itu.”
“sinjja?” aku sedikit menaikkan alisku dan mendominasikan nada menggoda. Baru saja yoona membuka mulutnya yang sepertinya ingin membantah perkataanku, sebuah tangan yang cukup panjang menyodorkan sebuah bungkusan kecil yang tak asing dari arah belakang.
“is yours? You left in airport yesterday. From your boyfriend? because it’s look so.. sweety.”
Aku membalikkan tubuhku. Terlihat sosok namja yang taka sing berdiri tegap menghadapku dengan bbungkusan kecil ditangannya yang tersodor untukku. Senyuman singkat disudut bibirnya tanda mengejek, membuatku kembali mengumpat kesal.
Dia menjatuhkan bungkusan itu dipangkuanku dengan santainya. Kemudian mengambil posisi duduk disampingku. Yoona hanya menatap kami heran. “eonnie-a.. neo..”
“aku juga mahasiswi aksel. Jadi, umur kita sama. Bahkan aku juga satu tahun lebih muda darimu, karena aku aksel dua kali. Jangan panggil aku dengan sebutan eonnie.” Sahutku cepat.
“Yoona-a. temani aku ke kantin sebentar yaa? Aku belum sarapan, eo?” seorang yeoja dengan ikatan rambut ikalnya yang terjuntai kebelakang dan kemeja berwarna cerah. Terlihat dari sisi ke unfeminimannya, namun gerakan nya masih seolah tingkah manis seoarang yeoja.
“jehee-a. tidak bisakah kau meminta untuk ditemani donghae oppa? Untuk apa mempunyai namja chingu jika tidak dimanfaatkan.” Sungut yoona yang sepertinya terlihat sedikit malas untuk keluar kelas. “jebalyeo.. dongahe oppa bukan teman yang tepat untuk jajan dikantin (*plak)” dia menarik tarik lengan baju yoona. Membuat yoona sedikit mendesah kemudian mengikuti ajakan temannya.
Aku melirik tanpa niat kearah namja itu. “kim Ki Bum, barekly university, california.” Ujarnya singkat tanpa menolehkan pandangannya kearahku.
Aku mengernyit, ada sesuatu hal yang mengganjal dari perkataannya. Membuatku terdiam sejenak dan sedikit berpikir. “no say thanks?” dia menganggkat alis tebalnya.
Aku menghela napas sehalus mungkin, meredakan kegeramanku padanya. “oke, thank you, kim ki bum-ssi.” Aku menghadap kearahnya sambil tersenyum sedikit memaksa.
“wait. Berekly university? Ypu transfer from there? Is it true? Really?” dia mengangguk dengan sedikit bingung menatapku.
“yes. Why?”
“because I also from there.”
***
TBC
seperti biasa, kalo udah selesai baca ngapain? waktunya comment (peleng-_-) haha yaudah, adminya lagi galau nih, jadi maklumin aja yaah, apalagi kalo ceritanya ngaco gimana gitu, LOL. udah ah, kelamaan, jadi curhat lagi. wk. thanks udah mampir. annyeong!
seperti biasa, kalo udah selesai baca ngapain? waktunya comment (peleng-_-) haha yaudah, adminya lagi galau nih, jadi maklumin aja yaah, apalagi kalo ceritanya ngaco gimana gitu, LOL. udah ah, kelamaan, jadi curhat lagi. wk. thanks udah mampir. annyeong!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar