Minggu, 28 Oktober 2012

Share Your FF?

annyeonghaseo!!!! guys, aku disini mau nyaranin buat readers yag tertarik untuk bikin FF, tapi masih galau kalo harus bikin blog sendiri, bisa kirim ke blog aku kok :) bagi yang tertarik, kirim ke e-mail aku aja yaaa di kyuhyunjeheedonghae@yahoo.com terus kalo udah ngirim, tinggal kontak ke twitter aku di @aqilazhafirah soalnya aku jarang ngecek e-mail :D
peraturannya gampang kok._. :
1) FFnya bebas mau nayntumin bias siapa aja. bahkan kalauu kalian mau masukin nama korea kalian sendiri boleh kok. :) tapi yang penting artis K-Pop dan masih berlatang belakang korea.
2) sangat tidak diperbolehkan FF yadong-_- karena itu dianggap seperti menjatuhkan nama baik bias.
3) menggunakan bahasa baku. maksunya tuh gak pake bahasa 'gue' atau bahasa gaul lainnya dalam ff.
4) kalau mau yang FF part aku saranin buat nyelesaian satu part lebih dulu sebelum dikirim.
5) nanti mungkin akan ada beberapa kata yang aku edit buat sedikit nyempurnain, tapi tetep kok, nama outhornya nama kalian.
6) jangan lupa nyantumin nama, usern twitter atau fb dan hal - hal semacam rating, genre, main cast, note dari outhor * kalo perlu.
7) kalau ada gambarnya, jangan disatuin di mc.word yaah, dipisah ngirimnya. 
8) yang terakhir, ffnya minimal 5 halaman mc. word. dengan font 13. soalnya kalo dibawah itu kayaknya kependekkan deh._.

okeeeh, selamat mencoba dan aku tunggu FF keren dari kalian yaa  chingu :)

I’m Begging Thou (One Shoot)


I’m Begging Thou (One Shoot)

Main Cast :
- Sung Hyun Sun
- Byun Baek Hyun
- Lee Kikwang
- Han Ha Gun
- Cho Kyuhyun
- Kai (EXO K)
- Cho Jehee

Bagaimanapun takdirmu..
Dalam situasi apapun itu..
Dia tetap tidak bisa kau biarkan..
Dengan segores luka sekecil apapun.
Karena dia,
Memang benar – benar membutuhkanmu..

Sung HyunSun PoV
Sore ini begitu terasa sepi dari biasanya. Jauh lebih sepi dari ketika aku terbiasa berdiam diri dirumah dengan kedua orang tuaku yang sibuk dengan pekerjaan masing – masing. Suasana camping disini cukup ramai tapi entah kenapa aku berasa begitu tersingkirkan. Teman sekelasku sibuk dengan permainan mereka , terlebih teman yeoja yang sibuk dengan gossip baru mereka, dan guru – guru ku memanfaatkan kebebasan mereka dengan obrolan yang terlihat sangat heboh.
Aku sebenarnya bukan tergolong anak pendiam dikelas. Hanya berbicara sewajarnya dan terdiam sewajarnya. Bukan terbandel atau terheboh bukan juga terdiam atau pemalu atau bahkan kutu buku, bahkan aku sendiri tidak terlalu menyukai buku. Aku tidak mengasingkan diri tapi mereka yang mengasingkanku.
Semenjak kejadian satu bulan lalu tentang protesku pada kepala sekolah. Mereka terus berfikir aku adalah siswa pembangkang. Aku adalah siswa terlancang yang tidak memiliki tata karma. Apa yang salah dari kejadian satu bulan lalu? aku hanya tidak tahan dengan sikap appaku yang semena – mena. Dan aku tidak tahu bagaiman cara dia mengubah sifat semua temanku menjadi begitu patuh dengannya.
Ne, dia appaku. Kepala sekolah tempat aku besekolah. Aku sangat membenci appaku yang mempunyai sifat ambisius tinggi dan tidak bisa membedakan mana hal pribadi dan hal pekerjaan. Tidak ada yang mengetahui kalau aku adalah putri kandungnya. Itu dikarenakan aku bersikeras untuk berusaha diperlakukan normal dan dia tidak mengusikku dengan embel – embel membawa nama dia saat aku melakukan kesalahan sedikitpun disekolah.
Saat itu aku hanya membantahnya dengan dilarangnya untuk kami, siswa kelas tiga mengikuti ekstrakulikuler atau pertandingan – pertandingan diluar sana. Terutama ekskul kesenian. Dia terlalu menekankan hal itu dalam pidatonya. Dia memang melarang keras untukku  menekuni dibidang seni. Entah kenapa dia selalu membenci hal yang aku suka. Dan selalu ingin mengubahnya menjadi lebih buruk.
“kau tidak ikut bermain dengan temanmu?” Kikwang menghampiriku. dengan segera aku bergeser tempat membeikannya tempat untuk duduk disampingku. Dia siswa pindahan dari Jepang satu semester lalu. belum terlalu banyak teman yang mengenalnya. Terlebih sepertinya dia adalah orang yang tertutup.
“tidak terlalu tertarik. Lagipula untuk apa aku ikut dengan mereka?” aku menggedikkan bahu sambil terus memperhatikan tingkah – tingkah temanku di tengah tanah lapang tak jauh dari tenda.
“kau yang tidak tertarik atau mereka yang tidak mau menarikmu?” sahut kikwang cepat membuatku terdiam sejenak. “satu bulan bukan waktu yang singkat untuk memaafkan,bukan? Lagipula aku rasa tindakanmu pasti ada alasannya. Keluar dari aula sebelum kepala sekolah selesai berdebat denganmu kemudian membanting pintu dengan kerasnya. Itu cukup keren, kurasa.”
“tapi tidak terlalu keren dengan efeknya” jawabku. “kau sendiri? Tidak ada niat untuk berbaur dengan yang lain?”
“aku ingin mencoba untuk menjadi anak pendiam. Entah kenapa aku sangat tertarik untuk mencoba menjadi anak pendiam.” Ujarnya yang kemudian dilanjutkan dengan gumaman pelan yang nyaris tak terdengar. Sehingga aku mengira salah dengar, “menemanimu”
“kau lapar? Aku masih ada dua ramen yang siap disantap” tawarku kemudian. Memecah keheningan yang sempat tercipta beberapa saat setelahnya karena tatapan kami yang saling beradu. Entah apa yang sebenarnya yang terjadi, dia sering sekali memperlakukanku seperti itu.
***
Lee Kikwang PoV
Awalnya aku sama sekali tidak tertarik dengan yeoja yang suka menyendiri, mengurung diri dengan kediamannya. Tapi dikarenakan HyunSunku berubah menjadi anak pendiam, mau tidak mau aku harus menemaninya. Memberikannya sebuah pengisian dihari sepinya.
Sung HyunSun. Yeoja yang sudah berhasil menarik perhatianku saat pertama kali menginjakkan kaki di kelas baruku. Kelas yang aku anggap sebagai kelas pendaur ulangan sikapku tiga tahun yang lalu. saat sebelum aku menjadi anak Bengal di sekolah lamaku.
“tidak terlalu lapar. Tapi kalau kau butuh teman untuk makan, baiklah.” HyunSun menyodorkan ramen yang masih sedikit mengeluarkan asapnya kepadaku dan aku menerimanya dengan tangan yang tanpa sengaja menyetuh telapak tangannya. Dengan segera dia melepaskan tangannya dan membuang tatapan kearah lain. Aku hanya menyimpan senyum terkulumku.
“kalau tidak salah dengar, kau sangat menyukai bidang seni?” aku kembali bertanya. Mencoba sebisa mungkin menghilangkan rasa canggung diantara kami.
“ne, tapi sayangnya banyak yang tidak setuju kalau aku menyukai kesenian.” Jawabnya setelah menelan ramen dalam mulutnya.
“wae? Aku rasa setiap orang punya hak untuk menyukai apapun” sahutku dengan sedikit mengernyitkan kening.
“mollaseo. Semua orang beranggapan aku tidak begitu berbakat dalam hal seni. Bahkan ada beberapa orang yang mengatakan kalau aku lebih baik menekuni bidang olah raga, dan sama sekali tidak pantas untuk belajar seni” HyunSun menjerit setelah menyelesaikan kalimatnya, “YAIKS! YAK, NEO!” satu bola sepak menerjangnya hingga menjatuhkan ramen yang ada ditangannya dan menumpahi pakaiannya. Dia menatap marah kearah namja yang hendak mengambil bola itu kembali.
“kalau ingin makan jangan dipinggir lapangan, sudah dipastikan akan terkena bola” tutur namja yang aku kurang tahu siapa namanya. Sepertinya dia bukan anak dari kelas yang satu lantai dengan kelasku. Sekitar kelas 3-6 atau 3-7.
“mwo? Sudah bersalah masih saja menyalahkanku?” HyunSun bangkit dari duduknya. Menjajarkan diri dengan namja didepannya. “Yak, Byun Baekhyun, kau tidak mau mengucapkan kata maaf sekalipun?”
“mengatakan kata maaf? Kau sendiri tidak mau mengaku kalau kau salah saat menentang kepala sekolah. Lalu kau menyuruhku untuk mengakui kesalahan? Koreksi dirimu dulu, Hyu~a” namja yang aku rasa bernama BaekHyun itu berlalu pergi. Membiarkan HyunSun yang masih terpantug kaku kemudian menjatuhkan tubuhnya kembali ke kursi tempat kami duduk.
“gwenchana?” tanyaku kemudian sambil menyodorkan sapu tangan dari saku ku untuk membantunya membersihkan pakaiannya yang basah oleh kuah ramen.
“ige mwoya?” dia belum meresponku. Menundukkan kepalanya sambil berdesis. “sahabatku sendiri juga menyingkirkanku. Lalu siapa yang akan benar – benar disampingku, huh?”
“aku,” sahutku cepat yang membuatnya menoleh kearahku. “aku akan mencobanya. Ah, ani. Memang menginginkannya. Aku tidak setuju dengan ketidak sukaan teman – teman, dan aku yakin kau melakukan ini dengan mempunyai alasan.”
“neo.. gomawo, Kikwang~ssi. Sinjja gomawoyeo.” Suara HyunSun mulai terdengar serak karena air mata yang mulai menetesi wajahnnya.
“uljima, aku sudah mengatakan akan selalu berada disampingmu. Jangan takutkan hal apapun lagi, eo?”
***
Byun BaekHyun PoV
Aku menatapnya sesekali dari tempat aku bermain. Memastikan kalau dia baik – baik saja. Aku sangat mengharapkan kekuatannya dalam kondisi seperti ini. karena aku yakin menjadi siswa tersingkir adalah hal yang paing menyakitkan dan terasa membunuh.
Sejujurnya aku sama sekali tidak berniat untuk ikut menyisihkannya atau bahkan memojokkannya seperti tadi. Aku sendiri juga tidak terlalu sanggup untuk memperlakukannya seperti itu. Kami sudah berteman lama. Lebih dari sepuluh tahun. Dan itu adalah penghalang bagiku untuk ikut membencinya.
Tapi aku tentu tidak bisa tidak ikut memperlakukannya seperti itu. Semua temanku memperlakukannya seperti itu. Walaupun rasanya ingin sekali aku meninju mulut setiap orang yang mencibir dan mengosipkannya. Tapi aku rasa itu sangat percuma. Diam lebih baik, dan berharap bahwa dia benar – benar akan kuat menghadapi satu semester terakhir ini.
“yak, Baekhyun~a apa yang kau lihat, hah? Kita sudah nyaris kalah dan kau malah melamun” dengus Suho menghampiriku.
“bisa tidak aku keluar dari permainan saja?” tawarku kemudian.
“mwo? Memangnya kenapa? Permainan belum selesai.” Suho menatap aneh diriku yang belum pernah sebelumnya untuk mau mengakhiri pertandingan sebelum aku yang menang.
“aku ada sedikit urusan yang harus segera diselasaikan, mian” tanganku menepuk ringan pundaknya sebelum akhirnya berlari kecil keluar lapangan.
“apa maumu, hah?” Kyuhyun hyung menatap marah kearah HyunSun yang berdiri kaku. “kau mengganggu yeojaku sama saja kau mengundangku untuk membunuhmu.”
“oppa, aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya….” HyunSun berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi yang sebenarnya kurang aku ketahui karena aku baru saja lewat.
“aku tidak mau dengar alasan darimu.” Potong kyuhyun hyung. “segaris luka yang kau buat ditubuhnya, membuatku semakin tidak memaaafkanmu, HyunSun~a. tidak peduli kau masih saudaraku dengan Jehee atau bukan. Aku semakin khawatir dengan Jehee yang sering bermain denganmu. Aku harap aku bisa membawanya menyingkir darimu sebelum dia tertular olehmu.” Kyuhyun Hyung berlalu. Membiarkan HyunSun menunduk lemas menatap sepasang kakinya. Gertakan kyuhyun hyung yang terdengar begitu menakutkannya membuat orang disekeliling tak berani menatap dan hanya bergumam mengomentari buruk tetangnya.
Aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Ini sudah kesekian kalinya aku melihatnya menangis. Batinku begitu tertahan oleh luka yang menumpuk. Aku mengambil langkah untuk menghampirinya. Mungkin menjaganya secara terang – terangan untuk sekarang adalah hal yang baik.
“HyunSun~a” aku menghentikan langkahku. Mendengar suara yang terdengar begitu Khawatir memanggil sosok yang dihampirinya. Dia menarik tubuh HyunSun yang bergetar akibat isakannya kedalam dekapannya. “Gwenchana?”
Aku hanya terdiam. Menatap miris mereka bedua yang terlihat begitu dekat. Dan aku lihat HyunSun begitu nyaman dan tenang dalam dekapannya. Ige mwoya? Kenapa semua ini terasa menyakitkan? Sepuluh tahun bukan waktu yang lama untuk tahap….. menyukainya?
***
“ByunBaekHyun,Lee Kikwang,Cho Kyuhyun, Kai, kalian ada dalam satu tim yang akan berjalan bersama tim yeoja yaitu, Cho Jehee, SungHyunSun, Han Ha Gun, dan Yura, kalian akan bisa mengikuti petunjuk dari peta yang akan saya berikan.”
Aku berjalan malas kearah barisan yang sudah ditentukan. Hal yang paling tidak aku sukai dalam perjalanan camping. Mencari jejak. Tapi mau tidak mau aku harus ikut. Bagaimanapun juga hyunSun akan dipastikan ada dalam barisan pada awal. Dia sangat menyukai bagian ini dalam camping.
“eo, baeksun~a? kau yakin akan ikut? Minatmu hanya dua puluh persen aku rasa.” Kai menepuk pundakku ringan sambil menatapku heran dan mengambil posisi barisan disampingku.
“wae? Memangnya mencoba hal baru tidak boleh?” sungutku.
“HyunSun~a, kau lupa untuk memasang sarung tanganmu,eo?” mataku melirik segan kearah sosok yang baris dibagian depanku. Lee Kikwang dan Sung HyunSun. Bocah berwajah baru di sekolah itu masih berani mau merebut yeojaku, sial. Aku terlalu bodoh untuk tidak memperkirakan hal itu.
“gomawoyeo.” HyunSun mengulas senyum setelah kikwang memasang rapih sarung tangan pada telapak tangan HyunSun.
“yak, kau lihat tingah dua bocah itu? Anak buangan dan anak baru mereka bersatu? Begitu menjijikan” komentar kai yang menatap aneh ke arah depan sebelum akhirnya mundur kebarisan belakang. Mencari keberadaan yeoja – yeoja lain untuk dijadikan sasaran tembaknya.
Aku masih terdiam, berusaha menormalkan kondisiku yang tak karuan. Membuang tatapanku kearah lain dan berharap untuk tidak menemukan alasan untuk menoleh kembali kearah mereka.
“eng.. Bae~a” suara kecil yang terdenar ragu – ragu itu mendekat kearahku setelah aku berada alam posisiku sekitar sepuluh menit. “maaf, kalau….” Tangannya menjulurkan selembar kertas kecil. “dalam satu kelompok akan dbagi lagi menjadi berpasangan untuk berpencar mengumpulkan petunjuk dan sekali lagi maaf karena kebodohan tanganku yang tanpa sengaja… memilih… kertas yang bertuliskan namamu.” Dia menundukkan kepalanya sejenak dengan tatapan maata yang memelas.
Aku menyimpan senyumku sebisa mungkin. Berusaha menunjukkan sikap dinginku. “mau tidak mau. Harus mau, kurasa itu perinsip pembimbing kita.” Gumamku.
HyunSun mengangkat kembali kepalanya. “jadi.. kau tidak keberatan? Tidak apa – apa kalau kau ingin bertukar dengan Kikwang”
Aku hanya menggedikkan bahu kemudian berjalan mendahuluinya. Mengikuti arahan berikutnya yang sepertinya sudah disuarakan oleh pembimbing kami. “percepat jalanmu, kalau tidak ingin tertinggal rombongan.”
***
SungHyunSun PoV
Aku sesekali menoleh kearah belakangku yang sudah terlihat berjalan dengan penuh niat malasnya. Memastikan kalau dia tidak benar – benar tertinggal jauh dariku. Khawatir dia tidak mempunyai kemampuan untuk kembali ke pos awal.
“eodiga? Apa kita sama sekali belum menemukan petunjuk?” keluhnya yang mulai berjalan mendekatiku. “sebodoh ini kah kau sampai tidak bisa menemukannya?”
“yak, kitakan satu tim. Seharusnya bukan hanya aku mencari, kau juga.” dengusku kesal kemudian kembali berjalan mendahulinya. Mencari jejak yang mungkin saja menjadi clue untuk petunjuk selanjutnya.
“cih, terus saja salahkan aku. Kau sendiri tidak pernah menyadari kesalahanmu sampai detik ini.” aku berhenti sejenak saat mendengarnya mengatakan hal yang menyinggung permasalahan itu kembali.
Aku membalikkan tubuh kearahnya yang nyaris menubruknya karena ternyata dia sudah berjalan mendekat kearahku. “apa sebegitu besarnya kesalahanku sampai semua orang membenciku? Hanya berteriak didepan kepala sekolah kemudian meninggalkan ruangan dengan membanting pintu? Sebegitu bertata kramanya kah, kalian? Hah?” ujarku dengan sedikit meninggikan suaraku, frustasi.“waeyeo? Sahabat ku sendiri tidak mau mempercayaiku? Hah, tidak perlu mempunyai sahabat kalau berujung pada permusuhan. Lebih baik aku mempuyai mantan namja chingu sekalian yang membuatku punya alasan untuk benar – benarr membencinya.”
Dia terdiam. Dengan raut wajah yang sulit kubaca, sebelum akhirnya dia bergumam dengan kalimat yang nyaris aku kira salah dengar. “mianhae, chonmal mianhae. Maaf kalau kehadiranku mempersulit keadaanmu. Karena hanya itu yang bisa aku lakukan sekarang… Hyu~a.”
“eo?” aku menyadarkan diri setelah kami beradu tatap dalam jarak dekat cukup lama. Setelah dia menyelesaikan kalimatnya yang membuatku merasa seperti dalam alam bawah sadarku.
“lupakan.” Elaknya kemudian yang berubah kembali menjadi dingin. “lanjutkan saja pencariannya. Aku tidak suka terjebak terlalu lama dalam hutan.”
***
Aku terduduk dengan tangan yang sibuk memainkan ranting pohon tanpa arah. Menatap api unggun didepanku dengan tatapan kosong. Pikiranku melambung ulang kepada perkataannya saat di hutan. Masih belum mengerti dan berharap pengertianku saat ini tidak salah. Kalau.. dia sebenarnya tidak memusuhiku?
Entah apa yang membuatku merasa lega mengetahui kalau dia sama sekali tidak membenciku. Berbeda dengan kerelaan ku atas pembencian teman – teman satu sekolah yang sebenarnya juga menyiksaku. Aku merasa jauh lebih tersiksa ketika mengetahui dia juga membenciku. Seakan tidak ada lagi harapan yang bisa aku gapai. Pegangan hidup.
Kehadiran kikwang disampingku memang cukup mengisi. Membantu menutup luka setiap kali tergores. Hanya saja belum mampu untuk menutup luka dalamku. Yang kebetulan baru mulai membaik. Saat dia menggumamkan kalimat tadi. Dan aku harap aku tidak mempunyai masalah dalam pendengaran.
“kau mau coba?” kikwang duduk disampingku kemudian menyodorkan jagung panggang yang masih berasap dihadapanku. “cuaca disini cukup dingin. Mungkin ini akan sedikit menghangatkan.”
Aku hanya mengangguk setelah kembali pada kesadaranku kemudian menerima jangung bakarnya. Belum sempat aku membuka mulutku untuk mencoba memakan, sebuah tangan menarik paksa jangung panggang dari hadapanku.
“jangan dimakan,” sergah suara yang terasa begitu nyaman ditelingaku. “jangan paksakan diri hanya untuk menyenangkannya. Kau lupa kalau kau mempunyai kelemahan pada papilamu? Kau tidak bisa memakan sesuatu makanan panas?”
Aku terperangah saat melihat baekhyun yang berujar dengan datarnya tapi aku mengerti maksudnya. “k..kau? bae~a, aku.. hanya..”
“jangan sebut namaku saat kau bertemu dengan dokter Choi lagi karena lidahmu kembali mati rasa. Aku tidak ingin menjadi sasaran amarahnya untuk.. kesekian kalinya” sungutnya yang membuatku sulit untuk menyembunyikan senyuman.
“kau.. benar sudah kembali.. padaku?”
***
Lee Kikwang PoV
“kau.. benar sudah kembali.. padaku?” tubuhku membelu seketika saat mendengar kalimat sumringah dari mulut HyunSun untuk namja yang sedang beradu tatap dengannya. Byun BaekHyun.
Tidak berniat untuk memusuhi, tapi sepertinya dia datang untuk menjai penghalang. Perasaan takut terus menyelimutiku saat BaekHyun mulai kembali memperlihatkan perhatiannya hari ini pada HyunSun. Bukan berarti aku tidak menerima kalau sahabatnya kembali untuknya. Tapi aku tidak terima jika.. sahabat nya datang kembali untuk.. merebutnya dariku?
BaekHyun masih dalam raut yang tak terbaca. Seolah memberikan sedikit harapan palsu agar HyunSun terus memaksanya berbicara. Dan lebih lama.. untuk beradu pandang, mungkin.
“tidak sepenuhnya.” Sahut baekhyun cepat. Yang membuat HyunSun sedikit sulit menahan kesenanggannya. “jangan senang dulu, aku belum selesai berbicara.”
“wae?”
“kau harus ceritakan padaku sepenuhnya apa yang sebenarnya terjadi?” BaekHyun berdiri dari duduknya. Mengulurkan tangan untuk member tanda HyunSun juga harus mengikutinya. Ada jeda untuk HyunSun berfikir sejenak, sebelum akhirnya menerima uluran tangan dan ikut berdiri.
“dan untuk kau,” arah pandang baekhyun beralih padaku. Membuatku membalas tatapannya dengan enggan. “kamsha hamnida, untuk menjaga… yeojaku selama aku belum siap untuk… menariknya kembali dalam medanku, dan.. maaf. Karena aku rasa kau butuh jarak dengannya setelah ini.”
Kening HyunSun mengerut. Mengartikan kalimatt Baekhyun yang sepertinya terdengar sulit dimengerti untuknya. “mwoya? Dia sekarang juga sahabatku.” Protesnya.
“kau masih tidak mengerti maksudku?” Baekhyun mengela nafas beratnya dan menatap HyunSun sesabar mungkin. “tidak mengerti bagaimana kedua orang tuamu mengasah kemampuan otakmu saat balita, tapi kalau boleh jujur, kau terlau bodoh, Hyu~a”
ByunBaekHyun PoV
“memangnya kenapa kalau aku bodoh? Setidaknya itu juga salahmu karena tidak mengajariku untuk menjadi pintar selama kita berteman” HyunSun melipat tangannya dan menjulurkan lidah membalas ejekanku.
Memang sedikit sulit, untuk menjelaskan pada yeoja yang sudah mempuyai kedekatan lebih dari sahabat. Dia bisa menganggap kita hanya bergurau, tidak mengerti atau berpura untuk tidak mengerti dan mengacu kearah pemikiran lain. Dan lebih buruknya kalau.. dia sama sekali tidak mempunyai perasaan yang sama.
Sahabat tetap sahabat. Teman tetap teman. Tapi takdir.. tetap pada aturannya.
“baiklah, sepertinya kau membutuhkan sedikit penjelasan bertaraf anak yang duduk ditaman kanak – kanak karena tidak mengerti.”
“terserah kau, yang penting aku mengerti.”
“tapi.. kau bisa untuk menjelaskan secara singkat padaku bagaimana kau bisa melakukan hal yang diluar batas saat pertemuan di aula?” aku mengangkat alisku, meminta sedikit penjelasan langsung yang keluar dari mulutnya. Kesempatan ini aku gunakan saat acara api unggun bebas berlangsung. Saat semua siswa bekumpul mengelilingi hangatnya api diantara kami. Dan berusaha menarik perhatian HyunSun agar tidak menyadari keadaan.
HyunSun terdiam, seolah sedang memilih kata – kata yang mudah untuk dimengerti sebelum menjelaskan. “tn.Sung, kepala sekolah kita.. dia.. sangat membenciku. Jauh sebelum kejadian di aula itu terjadi. Bahkan sebelum aku masuk kesekolah ini.”
“dia selalu menolakku untuk menentukan jalan hidupku sendiri. Menahanku dengan target – target hidupnya sendiri, dan entah kenapa selalu menyimpang dari keinginanku, kesukaanku dan kemampuanku. Sampai akhirnya aku tidak sanggup menahan semua bebanku dan meluapkannya saat semua terasa memuncak, di aula. Dia begitu menekankan pada ekskul kesenian yang aku ikuti dan aku sukai. Terlalu memojokkanku dengan tatapannya yang menyindir. Aku tidak kuat untuk tinggal diam. Itu sama saja.. menjatuhkan harga diriku sebagai anaknya.”
“anak?” aku nyaris terperangah mendengar kata terakhir yang keluar dari mulutnya. Sepuluh tahun berteman tapi bodohnya aku hanya mengenal ibunya tanpa mengenal ayahnya. dengan ibunya pun hanya dalam hitungan jari aku bertemu. Karena yang aku tahu kedua orang tuanya terlalu sibuk.
“eo, anak. Aku.. anak dari sosok yang kau patuhi, dan aku membenci kenyataan itu.” Dia menundukkan kepalanya lemas, mengingat kembali apa yang telah dirasakannya selama ini. HyunSun bukan tipe orang yang dengan mudah membuka mulut. Termasuk denganku, sahabatt kecilnya sendiri.
Langkah kaki terdengar mendekat. Ha Gun menarik HyunSun dalam pelukannya. “maaf, kalau aku mengira buruk tentangmu.” Yeoja dingin itu melepaskan pelukannya diringi ulasan senyum teman – teman sekolah yang ada disekitar perkemahan. HyunSun menatap tak percaya pemandangan di hadapannya. Semua tersenyum. Dan itu.. untuknya. “kami akan menjagamu, untuk jauh dari target hidup kepala sekolah untukmu.”
***
“aaaaa” ringisku spontan saat tangan mungilnya mencubit lenganku. “mwoya? Neo michiseo? Neomu appaseo”
“kau yang gila, bukan aku.” Sungutnya. Membuang tatapannya kearah langit gelap tanpa bintang diatasnya. “tidak kusangka aku mempunyai teman senakal kau.”
“aku tidak nakal, hanya pintar mencari kesempatan” sambungku yang disahut dengan seringai enggannya.
“ngomong –ngomong.. kau masih berhutang penjelas padaku.” Aku membeku seketika saat dia kembali membahasnya. Nyaris saja aku berhasil membuatnya lupa untuk menyuruhku menjelaskan kalimat tadi. Cukup sulit hanya dengan berbicara dengannya.
“apa?”
“jangan pura – pura tidak tahu jika tidak ingin mendapat cubitan kedua.”
“ara,” aku mengambil posisi duduk santai disampingnya. Berusaha merilekskan tubuhku yang cukup gugup hanya untuk memberinya penjelasan. Sepuluh tahun bersama, baru kali ini aku merasa keringat dingin berbicara padanya. “maksud perkataanku tadi…”
“yeojaku. Apa itu? Sahabat yeojamu? Kau kurang menambahkan kata sahabat didepannya untuk mudah dimengerti.” Potong HyunSun yang kemudian mengembalikan tatapan kearahku.
“ani, aku tidak salah mengatakan. Karena.. kau memang yeojaku. Yeoja yang daridulu hanya milikku. Tanpa ada campur tangan orang lain.” Ujarku. “ Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat untuk aku menyadari.. arti kehadiranmu. Arti mengapa aku selalu bisa tertawa bersamamu, arti mengapa aku begitu manati hari esok yang sudah dipastikan bersamamu, dan arti mengapa aku.. begitu tidak kuat untuk melihatmu terluka.”
Dia terdiam dengan mulut yang terkatup rapat. Raut wajah yang kalau aku tidak salah lihat.. merona?
“berteman belum tentu sahabat. Dan sahabat belum tentu.. takdir. Semua mempunyai ikatannya sendiri, dengan taraf yang berbeda. Teman hanya sekedar saling mengenal, sahabat hanya sekedar dekat. Tapi takdir.. tidak ada yang bisa menebak, hanya bisa bisa mengetahui seberapa besar ikatan yang dibuatnya. Dan aku harap, otak bodohmu bisa mengerti itu.”
“yak, kau tidak bisa membuat suasanya seperti tadi sedikit lebih lama?” gumamnya pelan yang membuatku nyaris sulit mendengar.
“wae?” tanyaku, “kalau begitu aku…”
“langsung pada intiya.” Potongnya lagi.
“baiklah. Intinya, kau adalah takdirku.”
“mwo?” matanya seidkit membulat, refleks dari perkataanku. “bagaimana kau bisa memutuskan dengan mudahnya?”
“takdir tidak perlu dicari, karena sebenarnya sudah mengikat. Tapi hanya butuh sedikit waktu untuk menyadarinya.”
“lalu? kalau aku menolak untuk menjadi takdirmu?” sergahnya dengan nada yang sedikit berantakan, membuatku menahan senyum.
“terserah kau, itupun kalau bisa.”
“baiklah, aku menolaknya.” Sahutnya cepat membuatku terdiam sejenak. Berharap akan ada kalimat lagi dibelakangnya. Hening. Dalam waktu yang terasa begitu lama hanya untuk menanti jawabannya. “menolak untuk ditakdirkan menjadi sahabatmu.”
“tapi menerima untuk?” aku sedikit mencobanya agar memperjelas.
“kau katakan satu kalimat untuk meyakinkanku.”
Aku menenagkan diriku sejenak. Setelah kringat yang begitu dingin membanjiri tubuhku malam ini. “kau.. eng.. baiklah, aku.. menyukaimu. Saranghae , Hyu~a.”
Dia terdiam, menatapku dengan tatapan kosongnya yang aku tidak tahu jalan pikiranya melambung kemana. Tapi aku selalu menyukai tatapannya. Bola mata berwarna coklat pekatnya itu dan kepolosannya saat menatapku.. aku tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaanku setiap sorot matanya mengarah padaku. Hanya padaku.
“baiklah, aku.. menerima takdir, karena aku sendiri.. memang tidak bisa menggelak.”
“untuk?”
“menjadi.. yak, kenapa daritadi aku saja yang kau pojokkan, hah?” HyunSun mulai kembali dalam kesadarannya dan ini membuatku menghela nafas, menyingkirkan harapan untuk kembali pada kondisi sebelumnya. Tindakannya memnag sering diluar perkiraan.
“memangnya kenapa?”
“sebenarnya yang ingin menyatakan perasaanya itu siapa,eo? Kau atau aku?”
“aku tidak menyatakan perasaanku padamu.. hanya.. menceritakan sedikit tentang takdir hidup.” Sahutku santai sambil mengalihkan pandangan kearah lain. Lama – lama menatapnya akan memberikan dampak buruk untuk untukku. Terutama, pada jantungku.
“YAK! BYUN BAEKHYUN!”
END
Huaaa selesai juga akhirnya *ngelap kringet* ternyata susah ya, bikin ff kalo lagi gak galau (?) bingung sendiri jadinya. Yaah, tapi gapapalah, ngisi free time aku yang semakin menyempit karena UN semakin mendekat-__-
Jadi maklum yah, kalo ceritanya kependekan dan gak danta-_-“ ini tapi kayaknya masih mending karena si hyunsunya gak aku pasangin sama DongHae :p *lirik Hyunsun* akhir ceritanya tapi agak gantuung yah? Kalo masalah itu aku sengaja, pengen nyoba bikin akhir yang tersirat (?)
Yak. SungHyunSun, otte? Aku gamau tau dikau harus komennnn… wajib! Ini aku bikin dengan pengorbanan yang amat sangat langka aku lakuin hanya buat bikin ff  *halah* soalnya mesti bikin alur cerita cinta segitiga, karena Hyunsun terlalu narsis untuk mau diperebutkan dua namja -___-
kalau kamu masih bingung sama masalah cara ninggalin komen, gampang, aku kasih tau caranya. Tulis aja komennya terus masukin alamat e-mail dan nama. Terserah mau ngasih nama apaan. Gak mesti punya blog juga kok. Dan buat readers yang lain juga gitu yaaah, plus jangan bingung kalo komentarnya gak langsung muncul di blog. Soalnya harus nunggu moderasi atau persetujuan dari akunya dulu. Tapii tenang kok, semua komen bakal aku terima ;)
Karena aku masih butuh belajar, aku butuh komentarnya yaaaaaaa. Ditunggu chingu!!

Rabu, 24 Oktober 2012

Game in mistake? :/ Part 3


Game in Mistake (Part 3)
Permainan berlum selesai. Tapi aku harap sudah benar – benar selesai. Saat ini sudah terasa aman dan tentram. Tanpa pengetahuan sebuah ancaman
Semua akan baik – baik saja. Satu kata yang sangat aku nanti darinya. Bukan perkataan panjang lebar yang tak berarah.

Han Ha Gun PoV
Baru ada sepuluh hari aku menetap di Amerika. Menikmati kesibukkan kuliah ku yang membuat sedikit hilang rasa sesak yang terus memburu. Eomma dan appa menyuruhku untuk datang kembali ke Korea. Hanya untuk pertemuan keluarga selama tiga hari. Aku tidak yakin akan sanggup untuk itu.
Aku tidak tahu apakah rasa sakit itu akan kemabali, atau rasa sakit itu datang kembali dengan kondisi yang lebih parah. Aku mengharapkan untuk menjadi orang yang hilang ingatan daripada harus mengingat semua itu. Cho kyuhyun.
Semua barang sudah aku masukkan kembali kea lam koperku. Hanya beberapa pakaian saja karena aku yakin tidak terlalu lama dan membutuhkan banyak pakaian untuk tiga hari di korea.
Pesawatku akan berangkat siang ini pukul dua. Dan aku sama sekali tidak menghubungi Jehee sekalipun. Pemutusan sambungan terlfonku waktu itu menjadi hari terahir aku mendengar suaranya, mungkin. Mereka juga sudah tidak berusaha untuk menghubungiku lagi.
Jadi aku putuskan untuk kembali ke Korea tanpa sepengetahuan keluarga Cho. Beramah tamah dengan keluarga besarku selama tiga hari, kemudain kembali meneruskan hidupku ke Amerika tanpa perlu mengingat masa laluku di Korea. Itu saja, yang kuharapkan dan sudah aku rencanakan.
“Ha Gun~ssi” Baekhyun, teman dekatku dari Korea yang juga mendapat beasiswa ke Amerika datang menghampiriku. Selama sepuluh hari ini dia yang menemani dan menuntunku untuk kembali ke kepribadian biasaku. “kau benar ingin kembali ke Seoul?”
“hanya tiga hari, setelah itu aku kembali” jawabku sambil membalikkan tubuh kearahnya.
“bagus kalau begitu.”
“apa?” aku sedikit mengernyitkan keningku.
“dengan begitu aku tidak butuh waktu terlalu lama untuk hanya merindukanmu.”
***
Mataku membelalak ketika mobil yang membawa keluargaku melaju melewati arah jalan sebuah tempat yang sangat tak asing olehku.  Tempat dimana semua itu bermula. Tempat dimana aku merasa dialah takdir hidupku. dan tempat dimana dia menarikku dalam jurang takdirnya. Yang sekarang aku akui aku jatuh terlalu dalam. Dan dipenuhi rasa enggan yang sangat untuk bangkit.
“eodiga?” aku mengeluarkan suaraku yang sedikit tersendat. Melirik kearah penumpang dalam mobil yang lainya. Aku terpisah dari eomma dan appa. Disini hanya ada aku dengan sepupuku yang seumuran denganku.
“aku rasa tempat yang akan kita kunjungi akan baik untuk kita berkumpul. Tempat yang indah bukan? Udara di daerah sini sangat baik untuk kau yang belakangan ini sering mengurung diri” Sooyoung Eonni, sepupu dekatku memaparkan alasan dia memilih tempat ini.
Aku hanya bisa mengatup rapat mulutku. Kembali dengan posisi diamku dan melempar pandangan kearah luar jendela. Menahan rasa sesak yang entah kenapa terasa seperti menerorku.
“Ha Gun~a, kalau aku tidak salah dengar kau adalah yeoja chingunya kyuhyun oppa, eo? Anak pemilik perusahaan besar keluar Cho?” Sooyoung Eonni berujar tanpa menoleh kearahku. Jadi cukup baik karena dia tidak melihat ekspresi wajahku yang seakan ingin membunuhnya karena membahas permasalahan ini.
“Kau yakin, tidak mencari jalan maut dengan memilihnya menjadi namjamu? Kurasa kau akan sangat tidak disukai oleh keluarga Cho” aku mencoba menahan diriku yang ingin segera mencabik – cabik mulut Sooyoung eonnie yang tidak bisa diam dan berhenti membahasnya. “Mereka.. sangat memusuhi perusahaan kakek, eo?”
Deg..
“apa maksudmu?” ujarku kemudian dengan suara yang sedikit terputus.
“ternyata kau tidak mengetahuinya?” Kai sepupuku yang berumur sama denganku, yang mengendarai mobil kami ikut dalam perbincanganku dengan Sooyoung Eonni. Dia sesekali melihat kearah jok belakang lewat kaca spion depannya untuk memperjelas kontak kami. “Haraboji yang membangun peusahaan keluarga kita. Dia yang memegang kekuasaan besar dalam perusahaan.”
“lalu?”
“seperti yang kau tahu, perusahaan kita berjalan dalam bidang music dan perusahaan keluarga cho berjalan dalam bidang entertain seperti drama, variety show dan sebagainya. Dan.. kau tahu actor yang sangat terrkenal beberapa tahun lalu? Kangta? Dia mempunyai potensi yang besar dalam memajukan dunia music korea dan Haraboji menariknya dalam perusahaan saat itu. Tapi entah apa yang membuat perusahaan keluarga Cho juga tertarik dengan Kangta dan membuat beberapa skandal untuk menarik secara paksa Kangta dari perusahaan.”  JongIn menggendikkan bahu. “berawal dari permasalahan itu, perusahaan kami selalu saja berebut artis dengan perusahaan keluarga Cho. Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi. Tapi setidaknya gambaran besarnya seperti itu.”
Aku hanya melongo mendengar penuturan Kai tentang permasalahn Perusahaan yang sama sekali belum pernah aku dengar. Aku yang tidak peduli atau memang tidak ada yang ingin memberitahuku? Entahlah.
“itu yang menjadi salah satu faktor yang memaksaku untuk mengakhiri hubungan dengan salah satu anggota keluarga Cho” Kai berujar dengan sedikit pelan dan tertahan. Sooyoung Eonnie sedikit mengernyitkan keningnya. “nugu?”
“adik kandung kyuhyun Hyung, Cho Jehee”
Aku nyaris terlonjak dari dudukku mendengarnya. Aku memang tidak tahu banyak tentang Kai karena kami sangat jarang bertemu. Terlebih pengangsingan dirinya akibat kecelakaan yang menimpanya beberapa waktu lalu yang membuatnya harus disibukkan oleh beberapa terapi pengobatan untuk kembali pulih. Semenjak itu komikasi diantara kami sangat jarang dan minim.
“Mwo? Brarti.. kau mengenal Kyuhyun oppa?” Sooyoung Eonnie terlihat sedikit antusias dengan perbincangan kali ini. “kau sering bertatap muka dengannya? Banyak orang yang mengatakan dia adalah namja yang sangat tampan, aku sangat mengidamkan untuk bertemu dengannya, Kai~a”
Aku hanya bisa menahan diri dengan raut wajah yang sedikit malas dan merasa menggelikan melihat ekspresi yang dikeluarkan oleh Sooyoung Eonnie. “lama – lama melihatnya kau akan terkena serangan jantung, kurasa” gumamku pelan tanpa bisa terdengar oleh Kai dan Sooyoung Eonnie.
“tidak terlalu sering, tapi kami selalu saja kontak. Entah itu melalui telfon atau sms, atau bahkan bertatap muka. Setiap kali aku akan berpergian berdua dengan Jehee. Aku sampai tidak menyangka ada seorang kakak laki – laki yang begitu menyayangi dan menjaga adik yeojanya”
“kau sudah bertemu dengannya, sekarang?” entah apa yang membuat mulutku meluncurkan pertanyaan bodoh. Tapi aku sangat ingin tahu hubungan mereka yag sebenarnya. Jehee selalu tertutup untuk masalah masa lalunya.
“kemarin aku bertemu dengannya. Kerabat dekatnya yang kebetulan sahabatku juga mempertemukan kami kembali. Dia.. masih terlihat manis seperti dulu. Tapi sedikit berbeda dengan sikapnya yang terlihat murung hari itu. Aku tidak tahu, mungkin ada sedikit masalah dengannya.”
Aku kembali terdiam. Hal yang membuat Jehee termurung atau tak berdaya hanya tiga hal. Cho Kyuhyun. Hangeng, idolanya. Dan.. Donghae. Kyuhyun aku rasa dia baik – baik saja. Hangeng? Aku tidak mendengar berita buruk tentangnya. Dan.. Donghae? Lee donghae, apa karena itu?
Aku sangat penasaran dan khawatir dengan kondisinya sekarang. Tapi aku tidak mungkin menghubunginya lagi. Kalau aku berhubungan dengannya, sama saja aku membuka kontak lagi dengan kakak laki – lakinya yang sangat aku hindari.
***
14 October 2012
22 : 00 pm
Cho Jehee’s bedroom
Cho Jehee PoV
Mataku mengerjap berkali kali. Menatap langit langit kamar dengan mata yang sudah terasa memanas. Hampir tiga manit aku sulit berkedip. Dan itu terulang berkali kali. Tubuhku berbalik kanan dan kiri sudah kesekian kalinya.
Tidak bisa memejamkan mata. Dan itu sangat menyiksa. Hari ini aku sangat lelah karena harus menyelsaikan skripsiku seharian. Tubuhku lelah, tapi mata tak mau terpejam. Sudah lewat dari dua jam aku berusaha untuk tidur tapi selalu saja gagal.
Lee donghae. Kenapa namja itu selalu saja menghantuiku? Apa dia mempunyai jimat tersendiri untuk mengikatku? Aku rasa aku butuh jimat penolak yang super untuknya. Dan aku rasa itu mustahil untuk ada.
Kejadian sewaktu aku bertemu kembali dengan Kai saja sudah dengan mudah terlupakan olehku. Aku hanya terkejut denga kehadirannya. Bukan ada perasaan senang atau rindu dengannya. Padahal aku sempat menjalin hubungan dengannya cukup lama. Hampir sepuluh bulan.
Besok.. eng, tidak. Beberapa jam dari sekarang. Donghae oppa akan ulang tahun. Dan aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Bukan masalah kado atau sesuatu hal special yang harus aku persiapkan untuknya. Tapi sikap apa yang harus aku tunjukkan padanya.
Dua hari yang lalu aku mengakhiri hubungan kami. Terputus. Tanpa kabar. Berarti sama saja donghae oppa juga menyetujui untuk mengakhirinya. Sakit memang, tapi aku rasa itu adalah jalan yang terbaik. Lalu bagaimana cara aku menyikapi hari ulang tahunnya?
Kalau saja kyuhyun oppa tidak memaksaku untuk menemaninya ke acara perayaan ulang tahun perusahaan donghae oppa besok, aku tidak akan dipusingkan dengan permasalahan itu. Cukup acuh dan pura –pura tidak mementingkannya. Tapi bagaimana kalau harus bertatap muka dengannya?
Mustahil kalau kyuhyun oppa tidak akan bertemu dengan donghae oppa besok. Dan mustahil pula kyuhyun oppa tidak menyinggung permasalaha ulang tahun namja itu. Aih, sudah aku katakan dia benar – benar kejam padaku. Sebegitu tidak relanya kah dia kalau aku sampai memutus hubungan dengan donghae oppa?
“kau memikirkannya?” aku menolehkan pandangan kearah pintu kamarku yang tiba – tiba terbuka. Menurunkan selimut ku agar bisa mengetahui sosok yang sudah berdiri disudut pintuku.
Ah – ra eonnie menyalakan lampu kamarku kemudian berjalan menghampiriku. “aku dengar dari kyuhyun kalau kua putus dengannya. Apa karena itu kemarin kau bertahan untuk mengurung diri dikamar walaupun hanya… dua belas jam?”
Aku mendudukkan tubuhku. Membalas tatapan ah –ra eonnie yang sudah duduk disudut kasurku dengan wajah datar. “dua belas jam adalah waktu yang cukup lama. Tidak terlalu buruk, eonnie”
“lalu bagaimana dengan besok?” ah –ra eonnie menyingkap helaian rambutku kebalik telinga. Sikapnya yang keibuan menggantikan posisi eomma yang sangat jarang berada disisiku. “kau pasti akan bertemu dengannya kan? Dihari ulang tahunnya?”
“mollaseo. Aku tidak tahu bagaimana harus bersikap untuk besok.” Aku menghela afasku sejenak sebelum kembali berujar. “eonnie, apa kau mau membantuku besok?”
“untuk apa?” ah-ra eonnie mengernyitkan keningnya.
“balas dendam untuk kyuhyun oppa.”
***
15 October 2012
Cho Kyuhyun PoV
Pertemuan kali ini, perayaan ulang tahun perusahaan Donghae, sengaja aku ajak Jehee untuk ikut hadir. Karena tidak mungkin aku membawa yeoja selain dia dan.. Ha Gun untuk acara perusahaan. Sebenarnya niatku bukan ingin menjebaknya dalam hari ulang tahun donghae hyung. Aku hanya ingin membantu donghae hyung menunjukkan kondisinya sekarang. Bahwa dia benar – benar sibuk untuk memperjuangkan suatu hal. Bukan sibuk mencari yeoja lain.
“oppa, kau tahu toilet wanita dimana?” jehee menatapku dengan tatapan melasnya.
“yak, kau sudah berapa kali ke toilet untuk pagi ini hah? Tadi saja kita sudah nyaris terlambat hanya karena kau yang meminta berhenti beberapa kali di pombensin untuk ke toilet. Lalu sekarang?” ujarku dengan nada sedikit frustasi. “aku tahu kau begitu panic kali ini. tapi tidak bisakah kau mengontrol dirimu, eo?”
“entahlah oppa, aku benar – benar tidak menyangka akan sepanik ini. dan asal kau tahu, ini semua karena kau.” Dengusnya sambil menyikut lenganku. “aih, kenapa yeoja tengil itu ada disini?”
Aku mengernyitkan keningku mendengar umpatan yang seperti keluar secara spontan dari mulut jehee ketika arahan matannya mengarah pada satu titik. “nugu?”
“HyunSun. Kau masih ingat? Yeoja yang selalu menempel denganmu setiap saat sewaktu kecil? Asal kau tahu, sekarang dia sepertinya akan beralih ke Donghae oppa” Jehee mengambil secangkir minuman soda dihadapannya sambil berujar dengan kesalnya.
“jadi? Kau cemburu?” tanyaku dengan sedikit nada meledek.
“a.. ani. Lagi pula aku dengan donghae oppa sudah tidak ada hubungan apapun” aku hanya tertawa kecil menanggapinya. “yak, hentikan tawamu. Atau.. kau boleh saja sekarang tertawa. Tapi jangan salahkan aku kalau kau akan membeku nantinya.”
“wae? Sepertinya kau duluan yang akan membeku.” Sahutku cepat karena aku melihat donghae hyung yang datang dari arah belakang Jehee mendekat.
“memangnya kau kira…..” Jehee mengehentikan ucapannya setelah merasa sebuah tangan hangat yang menarik lengannya hingga tubuhnya terhuyung dalam dekapan Donghae hyung.
Aku hanya terdiam memasang wajah datarku melihat aksinya. Menahan perasaanku yang merasa sedikit merasa iri. Andai sekarang dia masih ada disampingku. Aku akan benar – benar mendekapnya dengan erat. Tidak mau terjadi perpisahan kedua. Karena aku sudah memikirkannya seribu kali. Lebih baik aku terseok dalam mengurusi perusahaan, daripada harus menyingkir dari hadapanya.
“tidak ada yang ingin kau katakan?” ujar donghae hyung setelah sekitar satu menit mereka dalam posisinya. Jehee terlihat masih sedikit terkejut dan canggung dalam dekapannya. Walaupun wajahnya sedikit tertutup oleh lengan donghae hyung, tapi tangan dinginnya yang sempat menyentuhku, tidak bisa menutupi.
“saeng il.. chukkae.. oppa.”  Desis Jehee pelan.
“tidak ada yang lain?”
“sepetinya.. belum.”
***
Han Ha Gun PoV
Aku berdiri resah didalam ruangan yang cukup ramai dengan pendiri atau kerabat – kerabat dekat perusahan kyuhyun. Ini adalah hal yang paling aku benci. Berdiri ditengah kerumunan banyak orang yang tak kukenal.
Aku sudah menolak keseratus kali untuk tidak hadir. Tapi tiga orang menyerangku mebuatku pasrah dan terpaksa datang ke acara ini. pertemuan antara para pemiliik perusahaan dalam rangka ulang tahun perusahaan Donghae yang seingatku bertepatan dengan ulang tahunnya sendiri.
Pagi tadi Ah-ra eonnie datang kerumahku. Meminta izin pada eomma yang sialnya dengan segera di perbolehkan untuk membawaku, ah, tidak. Menculikku tepatnya ke acara yang sama sekali tidak berarti untukku. Terlebih datang dengan dandanan yang sefeminim ini.
Siwon oppa, namja chingu ah-ra eonni membantu menyediakan udangan khusus untukku. Dan satu hal lagi. Cho Jehee. Aku tidak tahu seberapa canggihnya mesin otak yang ada dikepalanya. Dia bisa dengan cepat mengetahui keberadaanku di korea. Setengah hari setelah aku sampai di seoul.
“omo! Ige mwoya?” aku menutup sebelah telingaku mendengar pekikkan yang cukup keras dari mulut yeoja yang berdiri disampingku. “dia yang berjanji untuk mendekatkanku dengan donghae oppa tapi……. Sungguh tidah bisa dipercaya”
“apanya yang tidak bisa dipecaya?” aku akhirnya memutuskan untuk angkat bicara. Mendengar sepertinya ini ada sangkut pautnya dengan Jehee.
“Lee donghae, calon namja chinguku. Yeoja yang bernama cho jehee itu sepertinya juga mengejarnya.” Jawab yeoja itu dengan nada tidak terima.
“mwo?” aku nyaris kesulitan menahan tawa. “calon namja chingumu? Jehee mengejarnya? Neo mollaseo? Cho Jehee, adalah yeoja chingu ‘asli’ Lee Donghae sejak satu tahun lalu. Dan itu bukan karena Jehee yang mengejarnya. Tapi donghae yang mengejarnya.”
“apa yang kau katakan, hah? Memangnya siapa kau sampai berani – beraninya mengarang cerita.” Yeoja itu mulai menoleh kearahku dengan tatapan tidak sukanya.
“mengarang kau bilang? Itu memang fakta, ahjuma.” Jawabku datar menanggapinya.
“ahjuma? Setelah kau mengarang cerita tentang namjaku kau memanggilku ahjuma?” mata yeoja itu membulat. “kau tidak tahu berapa umurku?”
“tidak, hanya mengira dari wajahmu saja. Dan baguslah kalau ternyata tebakkanku benar.”
“yaiks, neo..” tangan yeoja itu yang tadinya ingin meluncur kearah bagian wajahku, terhenti seketika. Dengan gerakan tangan yang menguncinya. Membuatku sedikit tercenggang melihatnya.
“yak, hyunsun~a, sampai kapan kau mau terus menggangguku?” suara berat namja itu kembali terdengar ditelingaku. Suara yang benar – benar menjadi terasa asing sekarang. “menganggu yeojaku sama saja mengangguku” gumam kyuhyun pelan yang nyaris aku berfikir aku salah mendengar.
“oppaaaa!!” yeoja itu entah kenapa langsung menghambur kedalam dekapan kyuhyun. Kyuhyun hanya bisa menganggkat tangannya dan berusaha melepaskan lingkaran tangannya. Butuh sepuluh detik yang menyiksa untuk melihatnya. Sampai akhirnya kyuhyun berhasil melepaskan dirinya. “yak kyuhyun oppa, neomu bogoshipo”
Kyuhyun masih menatap aneh yeoja dihadapannya yang kurasa mereka saling mengenal. “aih, dosa besar apa yang aku lakukan sampai bisa bertemu denganmu lagi” dengusnya. “bisa tolong kau menyingkir?”
“apa?” yeoja itu mengernyit.
“aku ingin bicara dengan yeojaku.” Aku sedikit tersentak dengan perkataannya.
“yeojamu? Nugu?”
“yeoja yang berdiri dibelakangmu.” Nyaris saja aku kehabisan nafas saat dia melirik kearahku.
“MWO?”
***
Lee DongHae PoV
“sepertinya… belum” ujarnya pelan menjawab pertanyaanku. Aku hanya bisa mengehela nafasku menahan perasaan sakit masih begitu menumpuk. Aku tahu dia pasti mengerti maksud pertanyaanku. Dan menjawab sesuai kenyataan hatinya.
Aku  melepaskan dekapanku setelah menyadari mulai banyak rekan bisnisku yang tertarik untuk melihat apa yang terjadi diantara kami. Dengan tatapan yang masih terus mengarah padanya. “kau yakin belum ingin untuk kembali?”
Jehee menundukkan kepalanya. “mollaseo oppa.” Ujarnya kembali dengan suara rendahnya. Aku rasa dia memang masih belum meikirkan hal itu. Dua hari bukan waktu yang lama untuk seseorang menenangkan diri.
“kau mau aku tunjukan sesuatu?” seketika sebuah ide terbesit diotakku. Karena keinginanku yang kuat untuk meyakinkannya.
“apa?” dia hanya kembali menatapku dengan polosnya.
Dengan segera aku menarik lengannya kearah titik tengah ruangan. Titik dimana semua tamu yang hadir bisa melihat keberadaan kami berdua. Jehee hanya menatapku bingung sambil terus menggenggamku dengan tangn yang sangat dingin.
“maaf, aku menyita waktu kalian sejenak.” Ujarku lantang yang membuat semuua mata tertuju kearah kami berdua. “tidak lama, hanya sekitar tiga menit dari sekarang.”
Suara perbincangan atau ocehan berhenti seketika. Semua tamu menatap kami dalam keadaan diam. Menandai penantian kalimat berikutnya yang akan meluncur dari mulutku. “kalian semua adalah tamu yang terhormat, rekan bisnis terpercaya dan kerabat – kerabat dekatku. Aku yakin kalian semua bisa membantuku. Tapi bukan dalam hal bisnis atau perusahaan. kali ini dalam hal menjaga yeojaku. Cho Jehee.” Aku menariknya mendekat kesampingku. Membiarkan semua orang melihat sosok Jehee seutuhnya. “aku hanya ingin menunjukkan padanya. Pekerjaanku bukan penghalangku. Penghalang untuk menjadikannya nomor dua dalam hidupku setelah tuhan. Penghalang bertemu dengannya untuk membayar rindu atau bahkan penghalang untuk menjaganya.”
“hari ini hari ulang tahunku. Aku tidak mengharapkan pada hadiah apapun dari kalian. Kecuali satu hal. Cho Jehee yang bisa tenang dan merasa aman disampingku. Cho Jehee yang tersenyum karena keberadaanku. Bukan Cho Jehee yang terluka karenaku.” Aku berdehem sejenak sebelum akhirnya kembalii melanjutkan, “jadi apa kalian bisa membantuku? Meyakinkannya kalau aku benar – benar tidak mengutamakan perusahaan dan membantuku untuk menjaganya agar tetap aman disampingku?”
Ruangan terasa hening sejenak. Mulut para tamu masih terkatup. Butuh waktu satu menit untuk mendengar jawaban mereka. Tepuk tangan dan ulasan senyum tercipta sebelum kata “arasseo” dan “ne” terucap dari mulut mereka.
***
Cho Kyuhyun PoV
Sedikit ada kesulitan untuk menyingkirkan hyunsun dari hadapan kami. Tingkahnya yang cukup fanatic denganku membuatku semakin merasa terjebak. Hingga akhirnya aku berhasil membawa Ha Gun menjauh dari kerumunan banyak orang dan pergi ke atap gedung.
 Jehee benar – benar bertindak diluar dugaanku.Tadi pagi dia sempat menyinggung sedikit tentang perasaanku dengan Ha Gun sekarang. Dan dia sempat mengatakan akan mempertemukan kami berdua kembali. Aku pikir itu hanya gurauannya saja. Atau kalaupun iya aku berfikir tidak dalam waktu dekat ini.
“wae?” satu kata yang terdengar seperti keluhan meluncur dari mulutku. Sebenarnya banyak sekali yang ingin aku keluhkan padanya. Aku limpahkan semua perasaan lelahku. Lelah karena berusaha tetap bertahan hidup tanpa ada kehadirannya disampinggu, dalam genggamku dan dalam jarak pandangku. Tapi bodohnya hanya satu kata pendek dan tatapan dalamku yang bisa aku lakukan.
Menatapnya adalah kegiatan favoriteku. Asupan gizi terbaik untuk tubuh dan jiwaku. Entah ada enzim apa yang mencerna gambaran wajah yang kutangkap dari mataku menjadi energy yang luar biasa. Semangat hidup yang lebih tinggi dan degupan jantung yang terasa memburu.
“aku.. aku..” Ha Gun sedikit tergagap menanggapiku. Tubuhnya yang terlihat lebih ringkih dari terakhir kali aku melihatnya itu menegang. Sedikit terlihat bergetar dan emnahan air mata dengan mata yang memanas.
Tanpa perlu menunggu lama aku menariknya dalam dekapku. Melepas semua beban yang begitu terasa berat belakangan ini dalam peluknya. Terdiam untuk beberapa saat. Membiarkannya kembali terbiasa dengan dekapan hangatku.
“mianhae, chonmal mianhae.” Ujarku kemudian ttanpa melepas pelukanku. “aku tidak, sama sekali tidak ingin mengucapkan kalimat maaf untuk yang kedua kalinya. Untuk masalah yang mungkin aka nada berikutnya.”
“seohyun sudah dengan mudah aku putuskan.” Lanjutku. “tanpa sepengetahuan appa, beberapa waktu lalu aku menemuinya bersama appanya. Memohon maaf dan menolakya. Satu alasan untuk aku melakukan ini. kau. Dan untuk perusahaan appa yang sebenarnya akan terancam kalau saja jatuh ditangan siwon hyung, aku sudah meminta bantuan pada donghae hyung untuk mengatasinya. Satu alasan untuk aku memohon ini dengan sangat pada hae hyung. Kau.”
“mungkin selama ini kau fikir memang aku yang mencampakkanmu. Menjauh darimu dan berusaha menyingkirkanu perlahan.” Suaraku mulai terasa melemah, “aku sangat merasa bersalah jika kau terus berfikiran seperti itu. Bisakah kau hanya menyimpan pikiran baik tentangku? Pikirkan bagaimana kondisi aku disaat bernafas tanpamu dan bagaimana aku mempertahankan pedang dalam gameku. Jangan pikirkan bagaimana cara aku menghiraukan rasa sakit yang terus datang karena pedang yang sudah tidak bersatu denganku. karena aku juga hanya akan berfikir bagaimana cara menjagamu agar tidak terluka. Tergores oleh pedang lawan walau hanya satu inci.”
Ha Gun melepaskan dekapanku satu detik kemudian. Membalas tatapanku dengan ekspresi wajah yang sulit dibaca. Terlalu lama berada jauh disampingnya banyak membuat kesulitan walaupun hanya untuk mengertinya.
Tangannya meraih ponsel yang berada didala tasnya. Sebenarnya sudah berkali – kali bordering sedari tadi. Raut wajahnya sedikit berubah saat membaca kontak nama yang menelfonnya. Entah apa yang membuatku mearasa tidak aman untuk mengenggamnya. Merasa seperti ada ancaman luar yang ingin membuatnya semakin jauh dariku.
“eo? Baekhyun~a?”
TBC