Minggu, 07 Oktober 2012

Game in Mistake? :/ (part2)

annyeong, aku kembali dengan ff KyuHa part 2. thanks buat yang kemaren udah baca part 1nyaaaa. yang belom? baca dulu part 1 baru ke part 2 yah, nanti takutnya bingung. oiya, di part ini kayaknya lebih banyak nyeritain masalah Jehee sama Donghae. Jeheenya jadi ikutan galau kayak Ha Gun deh :( *galau* . yodah deh, langsung ajaaa, selamat baca dan maaf yah kalo masih ada bagian yang typo. aku masih butuh belajar. dan karena itu aku butuh komentar kalian :)

Game In Mistake Part 2

Game Is You. 
Aku lebih baik menjadi pedang dalam game mu. Yang selalu melindungi dari ancaman luar. Dan hal yang sangat kau pertahankan dalam permainanmu. Walaupun terkadang tergores dan lecet. Daripada menjadi musuhmu. Sosok yang kau benci dan kau singkirkan. Karena kau tahu? Itu sama saja membuatku kalah sebelum bertanding.

Cho Jehee PoV
Tanganku terlipat didepan dada. Tubuhku aku sandarkan dipagar pembatas sungai Han. Mulutku menggembung yang sesekali menghembuskan nafas membuat rambut poni diatasnya sedikit berterbangan. Mataku menatap tak berniat ke arah sosok dihadapanku.
“Jadi?” ujarku kemudian. Memotong kesunyian setelah kalimat tak jelasnya yang disampaikan olehnya. “kau mau aku membantumu untuk dekat dengan donghae oppaku?”
Dia mengangguk dengan senyum terkulum. Menarikku kemudian memberikan pelukkan singkat yang membuatku sedikit enggan membalasnya. “gomawoyeo, Jehee~a. kau sangat menologku kalau kau benar membantuku kali ini untuk dekat dengannya.”
Aku menlepaskan diri dari pagar pembatas. Melepaskan tanganku dari lipatan dan mulai berdiri dengan benar. “maaf, aku tidak..”
Drrt.. drrt..
“Jehee~a, aku sepertinya harus pergi. Eomma menelefonku sedaritadi. Dan terima kasih akan bantuanmu. Sinjja Gomawo. Kau memang teman terbaikku.” Dia kembali menyisakan pelukan sebelum akhirnya berlalri keci meninggalkanku.
“yak, HyunSun~a, aku belum selesai bicara!” ujarku yang sepertinya sangat percuma.
HyunSun adalah kerabat dekatku sewaktu keluarga ku masih tinggal di Busan. Dia datang ke Seoul karena sekarang bekerja di salah satu perusahaan yang berdiri di sini. Dan baru saja dia mengatakan kalau dia.. menyukai DongHae oppa.
Aku tidak tahu mereka saling mengenal sejak kapan. Tapi dari penuturan yang tadi kudengar, mereka tinggal berdekatan. Apartment DongHae oppa berseblahan dengan Apartementnya.
Aku tahu, namja chinguku memang selalu ramah terhadap siapapun. Memberikan senyumannya dengan mudah, dan sapaan yang ramah. Dan aku mengerti, tidak mungkin bagi yeoja normal yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari namja yang berwajah cukup tampan tidak jatuh hati?
“ige mwoya? Aku harus membantunya untuk dekat dengan namja chinguku sendiri? Aku rasa aku tidak akan waras kalau menanggapinya.” Dengusku kesal. Tanganku kemudian meraih ponsel yang aku simpan dalam saku.
“kyuhyun oppa, eodiga?”
waeyeo? Aku ada dirumah.”
“kau tahu dimana DongHae oppa berada?”
sepertinya.”
“bisa tolong kau antarkan?”
memangnya kenapa?”
“aku hanya ingin bertemu namja chinguku saja. Memangnya tiak boleh?”
tapi aku rasa sepertinya dia sedang sibuk, jadi..”
“yasudah, aku tidak jadi.” Dengan cepat aku mematikan sambungan telfonku.
“cih, sesibuk apa dia sampai bisa benar – benar mencampakkanku satu minggu belakangan ini?”
***
Lee DongHae PoV
Tubuhku aku rebahkan diatas ranjang kamarku. Menatap langit – langit kamar yang polos. Membiarkan pikiranku berputar begitu saja. Tuntutan kerja yang lebih berat dari biasanya membuat tubuhku lelah. Aku harus benar – benar berusaha untuk bisa menjatuhkan perusahan Choi. Ini semua aku lakukan hanya karenanya.
Dengan jatuhnya perusahan keluarga Choi dan Siwon tidak mempunyai kekuatan untuk membeli perusahaan keluarga Cho, Jehee tidak perlu bersusah payah berusaha mencari jalan keluar untuk kyuhyun dan Ha Gun. Dan dengan seperti itu pula, kuharap perkataan kyuhyun kemarin bersungguh – sungguh. Kyuhyun akan membiarkanku dekat dengan Jehee seutuhnya. Tanpa campur tangannya sedikitpun. Dan benar – benar melepaskannya untukku.
Kesibukkan dengan perusahaan sejujurnya adalah sebuah hal yang paling aku benci. Terlebih dengan kesibukkanku yang membuat jarak dengannya semakin jauh. Menghilangkan kesempatanku untuk hanya sekedar menatap matanya. Atau bahkan menghilangkan kesempatan untukku hanya untuk sekedar mendengar suaranya.
Kyuhyun benar untuk memilih sikap acuh kali ini dihadapan Ha Gun , kurasa. Karena memang hanya itu yang bisa dilakukan. Membiarkan yeoja terbiasa dengan rasa sakitnya. Itu terdengar kejam. Tapi sepertinya itu jalan keluar yang baik. Karena namja butuh waktu sendiri untuk sebuah perjuangan. Yang tak jauh dari memperjuangkan hidup dengan yeojanya.
Chagia, kau ada waktu untuk makan malam?
Aku mengirimkan pesan untuknya. Melihat kesibukkanku mala mini tidak terlalu parah dan masih bisa ditinggalkan. Aku benar – benar sudah sangat ingin bertemu dengannya. Walau hanya untuk beberapa menit.
Kau sepertinya sibuk, jadi aku tidak mau mengganggumu, maaf. Aku bisa menghabiskan makan malam ku dengan kyuhyun oppa.
Aku sedikit mengernyitkan keningku. Apa yang terjadi dengannya? Ini mungkin menjadi pertama kali penolakkannya untuk makan malam dengan ku.
Gwenchana, aku ada waktu sekarang. Jeballyeo Jehee~a, chonmal bogoshipo
Sepuluh menit kemudian pesanku baru dibalas olehnya. Membuatku sedikit merasa gugup hanya untuk menunggu jawaban ‘ne’ darinya. Dan dia menjawab dengan kalimat yang sedikit meragukan kedatangannya.
Arasseo.
Tidak peduli maksudnya adalah mengerti kalau aku merindukannya, atau mengerti  untuk datang. aku memberitahunya kemana dia harus datang, dan kuharap dia benar – benar akan datang.
Dua puluh menit dari sekarang, rumah makan ramen favorite mu. Aku akan menunggumu di meja nomor 14.
***
Author PoV
“Perusahan keluarga.. Han? Sebuah perusahaan musical yang cukup mempunyai sejarah baik dalam dunia perbisnisan korea. Yang sudah cukup lama berdiri dengan gagah tanpa ada sedikit masalah.” Kyuhyun bergumam membaca sebaris artikel yang tanpa sengaja dia temukan saat mencari informasi tentang perusahaan besar di Korea.
“jadi, maksud appa tidak menyukai Ha Gun karena…” dengan cepat kyuhyun beranjak dari meja kerja nya kemudian berjalan cepat kearah tempat yang benar –benar menjadi sasaran pertamanya untuk menanyakan hal ini.
“oppa, apakau bisa mengantarku…” Jehee sedikit terperangah melihat wajah kyuhyun oppanya yang terlihat sangat serius dan sedikit amarah terbesit diraut wajahnya. Jehee hanya bisa menggumam kecil tanpa memperdulikan kyuhyun oppanya yang memang seperti tidak memperdulikannya juga. “baiklah, aku bisa berangkat sendiri.”
BRAKKK
Pintu ruang kerja terbesar yang ada didalam kediaman rumah keluarga kyuhyun terbanting dengan kerasnya. Seiring dengan langkah keras kyuhyun yang datang.
“appa, aku benar – benar tidak bisa mentoleransikan kali ini. dan aku mohon kau jawab dengan jujur.”
Laki laki paruh baya yang sedang disbukkan dengan Koran dihadapannya menolehkan sedikit pandangan kearah anak kandungnya yang sudah berdiri didepan meja kerjanya. “wae?”
“kau membencinya karena satu hal kan? Kau menyuruhku berpisah dengannya karena satu hal kan? Dan kau mengancamku hanya karena satu hal kan? Perusahaanmu. Hanya itu yang kau jaga?” nafas kyuhyun mulai terengah karena emosinya mulai meluap. “kau bahkan tidak memikirkan nasib dan pendritaan yang didapat anak kandungmu sendiri? Apa ini yang disebut dengan sosok appa?”
“kalau memang ‘iya’ kau mau berbuat apa? Menggelakku? Silahkan, tinggalkan rumah ini.” appa kyuhyun menggedikkan bahu dengan tangan diangkat. Menandakan ketidak beratannya.
“kalau hanya karena masalah pergi, aku sanggup. Tapi tidak jika aku harus menyerahkan perusahaan appa ke tangan orang yang salah. Dan membiarkan adikku hidup sendiri dengan appa yang tidak mengerti anaknya”
“terserah kau, tapi keputusanku sudah bulat.”
“perusahaan musical yang dimiliki keluarga Han. Apa yang dilakukan mereka?” kyuhyun menyambar kalimat solah tidak terlalu ingin mempermasalahkan perbincagan tadi. Membuat appa kyuhyun terdiam sejenak sebelum kembali berujar.
“ternyata kau sebegitu sangat ingin tahu? Baiklah, kurasa anakku cukup pintar untuk mencari tahu. Jadi kau selidiki sendiri permasalahan ini. dan jangan sekali kali kau merecokiku lagi kalau kau masih menjadi anak pembangkang.”
“kurae, aku tidak akan menganggumu lagi. Cukup kali ini menjadi akhir perbincangan kita. Aku juga segan untuk berbicara terlalu lama denganmu, appa.””
Kyuhyun melangkah keluar kemudian kembali membanting pintu ruangan. Menghasilkan bunyi dntuman yang cukup memekakkan telinga. Batinnyaa begitu tersiksa kali ini. dan dia benar dalam permainan permasalahan appanya.
***
Cho Kyuhyun PoV
Telapak tanganku mendorong pintu kaca rumah makan ramen yang aku kunjungi. Melangkah masuk dan berjalan kearah tempat favorite yang biasa aku duduki. Perutku selalu terasa lapar sehabis menguras energiku dengan emosi. Dirumah tidak ada makanan karena seperti Jehee juga sedang keluar. Tidak ada yang bisa memasakkan makanan untukku. Jadi aku memutuskan untuk makan ramen dirumah makan ramen kesukaanku.
“aku hanya butuh kau berbicara jujur. Itu saja.” Aku menoleh kearah sumber suara yang sangat ku kenal. Memperhatikannya dari tempat dudukku. Jehee sedang bersama Donghae hyung dan aku rasa hubungan mereka terlihat tidak cukup baik.
“Je~a, aku hanya butuh waktu sementara untuk memperkuat perusahaanku dan setelah itu perusahaanku akan mampu menjatuh...”
“perusahaan? Kenapa semua namja itu sama? Mementingkan benda mati yang terlihat seperti menjadikannya berhala. Sebegitu hebatnya kah perusahaanmu?”
“bukan itu maksudku. Kau jauh lebih berharga dari semua yang aku miliki. Ini aku lakukan untukmu, percaya padaku. Tak butuh waktu yang lama untuk ini semua”
“onje? Satu tahun? Dua tahun? Selamanya? Aku tidak menginginkan untuk menjadi pendamping yang seperti patung. Hanya dilihat jika kau bosan dan terkadang teringat.”
“tidak selamanya.” Donghae hyung terlihat sedikit menekankan kalimatnya. “kau juga akan mengerti nantinya dan aku tidak bisa menceritakan padamu untuk sekarang ini. terlalu sulit untuk diceritakan. Jeballyeo, aku akan masih menghubungimu.”
“seingatmu? Atau ketika pekerjaan tak ada hentimu itu sedikit reda? Aku tidak yakin untuk itu.” Jehee terdiam untuk beberapa saat. Seperti mempertimbangkan suatu hal yang aku yakin sepertinya akan membuat suasana menjadi semakin memburuk. “lebih baik kita.. mengakhiri hubungan ini saja. Daripada hanya menjaga jarak atau terpisah dalam jangka waktu lama. Ini akan lebih baik, kurasa.”
“tapi tidak akan baik untukku.” Donghae hyung menyahut dengan cepatnya. “kau pikir aku akan sanggup untuk berjarak dengan mu? Kau pikir aku akan sanggup tertahan untuk tidak bisa menemuimu dalam sehari? Kau pikir aku bisa bernafas dengan baik dengan oksigenku yang terluka diluar sana? Itu sangat menyiksaku, Je~a. tapi aku yakin setelah ini akan menjadi akhir yang baik. Aku melakukan ini untukmu, percaya padaku, jeballyeo”
Jehee terdiam. Sedikit menundukkan kepalanya seperti ingin menyimpan wajah yang menahan tangisnya. “arasseo, tapi aku rasa aku butuh waktu. Kita akhiri saja itu lebih baik, dan sedikit lebih ringan rasa sakitnya daripada aku diacuhkan olehmu. Gomawo oppa untuk semua hal sebelum ini, aku pamit” jehee beranjak dari duduknya kemudian melangkah keluar rumah makan. Membiarkan donghae hyung yang masih terpantung kaku tak percaya ditempatnya.
Aku beranjak dari dudukku segera kemudian berlari mengejarnya. Menarik lengannya yang membuatnya yang membuatnya berbalik menghadapku. “ige mwoya?”
Jehee masih terdiam dalam isaknya dan menatapku dengan tatapan lemahnya. Sebelum akhirnya dia mulai berujar dengan nafas yang berburu oleh tangisnya. “dia bilang aku akan mengerti, dia bilang ini semua untukku. Kurae, naega ottokae ara?”
Aku menarikknya dalam dekapanku. Memberinya sedikit penenangan karena sepertinya tubuhnya begitu bergetar. Entah itu menunjukkan ketakutannya yang sangat atau kekhawatirannya akan permasalahan kali ini. “gwenchana, semua akan baik baik saja.”
***
“kyuhyun~a, tolong bukakan pintu Siwon oppa, untuk apa kau masih terdiam disini sedangkan bel sudah berbunyi berkali kali?” aku meletakkan berkasku disofa tempat aku duduk kemudian beranjak dari tempatku.
“kenapa tidak kau saja yang membukakan pintu? Menggangguku saja” dengusku.
“aku masih harus berganti pakaian, sangat memalukan jika aku menemuinya dengan pakaian seperti ini, cepat bukakan.” Ah-ra nuna berlari kecil menaiki tangga menuju kamarnya. Dan aku dengan sdikit terpaksa membukakan pintu untuk.. baiklah, musuh utamaku. Choi Siwon.
“Annyeong, Kyuhyun~ssi.” Siwon hyun sdikit membungkuk memberikan salam singkat dengan senyum yang menampilkan lesung pipi nya. Aku menanggapinya dengan tatapan dan senyuman dinginku.
“kau duduk saja. Ah–ra nuna sedang berganti pakaian.” Ujarkus ingkat kemudian mengambil berkasku dan beranjak pergi.
“kau tidak mau menemaniku mengobrol sebentar?” siwon hyung berujar seperti mencegahku untuk pergi.
“tidak, aku tidak punya banyak waktu untukmu.”
“aigoo, ternyata kau sangat sibuk sekarang. Perusahaan appamu masih butuh bantuan dari namja kecil sepertimu?”
Aku menghentikan langkahku. Sedikit menahan emosi dengan mengepalkan tanganku disamping. Berbalik dan menatapnya dengan tatapan yang terbesit dengan kemarahanku. Aku sempat melihatnya bergidik sejenak walaupun setelah itu dia terlihat seperti kemabli normal.
“yak, choi siwon. Bisa kau jaga perkataanmu?”
“perkataan? Yang mana?” dia menganggat kedua bahu sambil menampakkan ketakpeduliannya.
“terserah kau ingin menganggapku masih terlalu kecil dan bodoh dalam bekerja dibidang bisnis. Tapi jangan sesali kalau kau akan takluk ditanganku.”
Siwon hyung tertawa, tawa yang kurasa meremehkan perkataanku. Membuatku semakin memuncak. “mwo? Menaklukankanku? Hahaha, kau kira kau sehebat apa, eo?”
“CHOI SIWON~SSI, TUTUP MULUTMU SEBELUM AKU MENYUMPALNYA DENGAN KEPALAN TANGAKU!” hentakku yang sulit menahan kemarahan yang sangat. Aku tidak habis pikir kenapa nunaku bisa jatuh cinta pada namja Bengal ini.
“yak, kyuhyun~a, apa yang kau lakukan?” ah-ra nuna datang mengahmpiri kami berdua dan menatap cemas namja disampingnya, siwon hyung. “gwencahana? Maafkan adikku yang selalu berlaku kasar padamu”  Dia bahkan lebih mementingkan kondisi namja nya daripada adiknya? Baiklah, aku memang sudah benar – benar tersingkir. Lebih baik aku pergi daripada membuang energyku lebih banyak untuk menghajarnya.
***
Cho Jehee PoV
Seharian ini aku lebih memilih untuk mengurung diri dikamar. Lagipula tidak ada yang memperdulikanku sekarang. Appa selalu sibuk dengan perusahaannya, kyuhyun oppa juga sepertinya sibuk membantu appa mengurusi perusahaannya, dan donghae oppa, lebih memilih untuk mengurusi perusahaannya aripada menemaniku.
Sekarang aku mengerti apa yang dirasakan Ha Gun. Lebih baik terdiam, tidak banyak bergerak dan berbicara untuk menyimpan energy. Karena semua akan terkuras untuk menangis. Mulut menolak untuk mengunyah, dan perutku seakan mati rasa. Tidak membutuhkan asupan makanan sedikitpun.
Pintu kamarku tiba tiba terbuka dengan sangat kasar. Kyuhyun oppa datang kemudian membanting pintu itu kembali sebelum akhirnya dia duduk disampingku. “namja kecil? Sehebat apa? Aku, Cho Kyuhyun, akan benar – benar menjatuhkanmu, Choi Siwon. Tinggal butuh waktu, kau akan lenyap.” Kyuhyun oppa mengumpat sendiri membuatku menatapnya aneh.
“nunaku mempunyai namja chingu Bengal sepertinya tidak pernah putus dan sepertinya sangat awet. Lalu adikku? Mempunyai namja yang sempurna malah cepat mengakhirinya. Aigoo, aku benar – benar tidak habis pikir.” Dia menolehkan pandangan kearahku. Membuatku sedikit mengercutkan bibir merasa tersindir. “waeyeo? Kau mau mengikuti jejak Ha Gun? Mengurung diri dikamar tanpa mau makan?”
“setidaknya DongHae oppa masih lebih punya perasaan daripada kau, oppa.” Cibirku. Aku menarik selimut kemudian menenggelamkan tubuhku dibaliknya.
“yak, Cho Jehee, kau sendiri yang bilang padaku untuk tidak putus asa. Lalu kau? Aku tidak yakin kau akan jauh lebih kuat dari Ha Gun.” Kyuhyun oppa berusaha menarik kembali selimutku. “cepat keluar dan makan. Aku lapar, kalau kau sendiri tidak mau makan, lalu siapa yang akan memasak untukku, huh?”
Aku mendudukkan tubuhku kemudian menatapnya dengan sedikit kesal. “kau tidak bisa menahan lapar hanya untuk satu hari, eo? Beri aku waktu untuk menenagkan diri, kau mengangguku saja.”
“satu hari terlalu lama. Cukup satu menit kurasa untuk memulihkannya kalau tipe yeoja sepertimu.”
“yak! Kau pikir aku setakpeduli itu, hah? Aih, apa kau tidak bisa keluar saja, eo? Aku butuh waktu untuk menenangkan diri”
“tidak mau, kau buatkan dulu aku makanan, aku lapar.”
“makan diluar saja.”
“tidak mau turun, karena ada Siwon hyung yang memuakkan itu.”
“tidak usah melihatnya kemudian kau berlari pergi.”
“aku tadi habis bertengkar dengannya, mana bisa kabur begitu saja.”
“yasudah, kau tidak usah makan.”
“yak! Kau ingin membuatku mati kelaparan?”
Aku beranjak turun dari kasur kemudian berjalan gontai kearah pintu. “oppa jebal, aku sangat butuh waktu untuk sendiri. Setelah aku buatkan makanan, kau bisa untuk tidak menggangguku lagi?” ujarku dengan sedikit nada memelas.
“arasseo, tapi aku tidak yakin kalau perutku lapar kembali tidak merecokimu.”
“yaiks, kau ini!”
***
Sore ini aku terpaksa keluar hanya karena HyunSun yang terus menghubungiku. Ck, untuk menyendiri saja sulit sekali. Ini memang bukan kebiasaanku untuk terdiam satu hari. Aku hanya ingin mencoba seperti yeoja yeoja yang lainnya saat mengakhiri huubngan mereka.
Tapi sayangnya aku begitu berbeda. Sesak itu masih ada. tapi sialnya, wajah namaj itu masih selalu berputar dipikiranku dan itu.. membuatku sedikit merasa lebih baik. Hanya dengan melihat wajahnya sudah cukup untukku. Entah kenapa itu begitu mudah. Wajahnya selalu bisa menyihirku dalam waktu sekejap.
“kau sudah datang?” HyunSun membukakan pintu apartmentnya kemudian mempersilahkan masuk. “yak, ada yang ingin aku kenalkan padamu. Aku harap kalian bisa kembali seperti dulu.”
Aku mengikuti langkahnya dari belakang dengan sedikit malas. Entah kenapa semenjak dia bercerita kalau dia menyukai DongHae oppa, menurunkan niatku banyak untuk berteman dengannya.
“JongIn~ssi, kau lihat siapa yang datang?” HyunSun mendorong sosok namja yang cukup tinggi kearrahku. Butuh waktu satu menit untuk aku mengenalinya.
Deg..
“Kai, neo.. kapan kau kembali?”
TBC

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Absent.. dulu ah
*Lovtasya