Sabtu, 21 April 2012

You Are The best Oppa #2


You Are The best Oppa #2


Semuanya bermula..
Penderitaan yang kembali ada..
Dan kuharap untuk cepat berakhir, sesulit apapun..
Karena sungguh, ini menyakitkan.

Cho Kyuhyun PoV
Dia tumbuh dengan baik. Dengan pertumbuhan secara alami. Walaupun tak banyak perbedaan dengan sosoknya dulu yang sekali aku tatap. Tatapan pertamaku dengannya, yang entah kenapa membuatku berpikir bahwa dia, takdirku.
Sekitar delapan tahun yang lalu. Di hari ulang tahunnya yang ke tujuh belas. Saat pertama kali kami bertemu, dan saling bertatap. Wajah tegasnya, yang menegaskan kepribadiannya yang sungguh memikatku.
Gaun coklat muda selutut membalut tubuhnya. Walaupun dia terlihat sedikit memberontak dengan kostum malam itu. Dia sempat nyaris menubrukku dengan high hils nya yang berkisar delapan senti itu. Dia sudah cukup tinggi, tapi eommanya terlihat memaksakannya hingga menyiksanya dengan kostum feminimnya malam itu.
“ini hari ulang tahunmu yang ketujuh belas. Bersikaplah seperti perempuan sesungguhnya”
Aku tersenyum kecil mengingatnya. Waktu itu wajahnya menampakkan ketidaksukaan, bahkan di menyebut ulang tahun ke tujuh belasnya sebagai “kutukan”.
“oppa!” aku tersentak, dan seketika membuyarkan semu lamunanku. Saat jehee menepuk pundakku dari belakang. Dia melingkarkan lengannya keleherku dan sedikit bergelayut manja.
“jangan bertingkah seperti bocah berumur enam tahun.” Dengusku sambil melirikknya meledek.
“umurku masih dua puluh lima tahun, oppa. Dan ku rasa masih pantas untuk dikatakan bocah.” Dia melepaskan lingkaran lengannya dari leherku, dan merosot menjadi dilenganku.
“bodoh.” Ujarku singgkat.
“siapa?” dia menaikkan alisnya dan menatapku aneh.
“kau.” Tukasku tajam.
“kenapa?”
“pikirkan saja sendiri”
“cih, berarti kau yang bodoh.” Dengusnya kemudian.
“kenapa?”
“tidak bisa berpikir, dan menyuruhku berpikir sendiri.”
“tidak, aku hanya ingin mengetes keberadaan otakmu.”
“kurasa otakku tidak hilang. Tapi sepertinya otakkmu yang hilang.”
“tidak. Otakku masih berada ditempatnya.”
“ya, masih ada. tapi pikiranmu sedang melayang.”
“kemana?”
“han. Ha. Gun. Benar tidak?” Jehee sedikit mengeja namanya.
Aku terdiam sejenak. Tebakannya terlalu tepat. Debat kami terhenti karenanya. Membuatku sedikit tercekat, namun berusaha mengendalikan ekspresi wajahku.
“kau diam, berarti benar.”
“tidak juga.” aku membalikkan tubuhku yang sedaritadi menghadap kearah jendelah besar diruanganku dan berjalan menuju meja kerjaku dan menduduku sudut mejanya. Jehee membuntutiku, kemudian berdiri dihadapanku, menanti jawaban selengkapnya.
“aku hanya sedang mengingatnya saja.” Jehee mulai membuka mulutnya dan aku dengan cepat memotong nafasnya yang ingin mulai berbicara. “itupun karena tadi aku baru saja menemuinya kembali. Dan aku pikir, itu tidak terlalu buruk. Saat pertama kali aku menemuinya.”
“ kau berbicara melantur.”
“apa?”
“iya. Ngelantur.aku hanya bertanya benar atau tidak, kau malah menjawabnya hingga pertemuanmu dengan jehee. Bodoh!” dia bersedekap dihadapanku sembari sedikit mengeluarkan tawa kemenangannya dan aku hanya mendengus.
Pintu ruanggan terbuka. Aku nyaris meneriaki yang membuka untuk segera pergi, namun semua terasa tertahan. Kesenaganku dengan jehee yang baru saja kami dapat akan dipastikan lenyap. Aku berusaha menahan lengan jehee agar tetap menghadapku, dan tidak melihat sosok yang tenga berdiri di ambang pintu.
“nugundae oppa, wae?” jehee berusaha melepaskan cengkramanku. Namun aku segera menahannya. Ini tidak boleh terjadi. Sangat tidak boleh.
Hening sejenak. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang untuk menyelamatkan jehee dari sosok itu. Akhirnya aku mengarahkannya untuk memasuki kamar mandi di ruanganku tanpa kuperbolehkan menoleh sedikitpun.
“tidak bisakah kau meninggalkan ruanganku. Se-ka-rang!” hentakku dengan suara sedikit rendah berusaha agar tak sampai terdengar dari dalam kamar mandi.
Dia tersenyum. Kemudian menepukkan tanganya dipundakku yang kemudian aku kibaskan untuk menghilangkan debut yang kemunkinan dibuatnya. “terima kasih.” Ujarnya kemudian. “telah menjaga anakku ituu.” Dia bersuara dengan sanagt bulat membuatku menahan geram.
“anak yang mempunyai kemiripan nyaris lebihdari lima puluh persen ibunya. Menyusahkan!” ujarnya dengan penuh tekana diakhir kalimatnya. Dia berujar sembari tersenyum bangga.
“bisa dikatakan aku sudah menganggapnya bukan anakku lagi. Anakku cuman satu. Cho JinHo.”
Tanganku mengepal. Nyaris akan aku benturkan kalau saja pintu kamar mandi tak terbuka dengan penuh dentuman keras. Wajah jehee memerah dan mulai menangis menatap sosok dihadapanku.
“appa!” hentaknya.
“appa? Apa kau tidak mendengar nak, apa yang kami bicarakan tadi?” dia mendekat kepada jehee kemudian berkata tepat dimanik matanya. “kau-bukan lagi-anakku” tanpa ada kata pamit dia berjalan dengan santai keluar ruanganku.
Jehee terjatuh. Aku yakin hatinya sedang sangat bergejolak hari ini. dengan cepat aku menghampirinya dan memelukknya. Mengurangi getaran hebat dalam tubuhnya.
“tenanglah.. aku masih dan selamanya menjadikanmu keluargaku. Dan adikku.”
                                                            ***
Cho Jehee PoV
“ne?” suaraku tercekat saat melihat sosok yang berdiri diambang pintu. Matanya menatap lembut diriku yang berdiri kaku dengan senyuman hangat dibibirnya. Dia memajukan langkah mendekat padaku memelukku yang masih tak bergeming.
“kau tumbuh dengan sangat baik, nak.” Tangnnya menepuk tepuk ringan pundakku. “eomma sangat berterima kasih pada keluarga kyuhyun.”
“eom.. mma?” dengan suara yang tercekat dan penuh getar, kata itu akhirnya kembali terucap. Setelah dua puluh tahun lamanya tak pernah keluar dari dalam mulutku, untuknya.
Dia melepaskan pelukkannya. Terus menatapku dengan semua kelembutannya. “maafkan eomma, nak.”
Mataku memanas dan setetes air mata mulai jatuh. Membasahi pipiku. Dia juga. dalam senyuman yang matanya berlinang air. Seakan berusaha ditahan agar tidak mengotori pipinya.
“maafkan eomma. Telah meninggalkanmu waktu itu.” Kali ini suaranya semakin bergetar padaku.
“eomma.” Aku menariknya kembali dalam pelukkanku. Entah kenapa rasanya aku sangat ingin meneriakkan kata itu berulang ulang padanya. Mengatakan kalau aku memilikinya. Mempunyai eomma, dan itu adalah dia.
“eomma seharusnya hidup dengan sangat bahagia sekarang. Tapi kenapa eomma kenapa terlihat sangat rapuh? Sungguh aku menyesali telah menganggap eomma akan menjjadi yeoja paling bahagia didunia ini.” mulutku akhirnya bisa mulai berbicara walaupun di sela dengan isakan tangis.
“maafkan eomma nak. Urusi lah hidupmu. Jangan pernah khawatirkan eomma, eomma baik baik saja.”
Aku. Entah kenapa seperti ini. dulu, aku berpikir dia sangat jahat dan dia musuhku. Tapi sungguh, entah kenapa hatiku bisa luluh dan memaafkannya. Saat melihat semua yang dia perlihatkan sekarang. Tulus, dan rapuh.
                                                                        ***
Mataku melirik tak berniat melihat wajah disampingku.
“apa aku hari ini terlihat tidak keren?” dia menaikkan alisnya dan mulai bergaya dengan penuh kepercaya dirian.
“cih” desisku dan menatapnya muak. “kapan kau terlihat keren, huh?”
“setiap hari.” Jawabnya dengan penuh keyakinan.
Tak lama ketukan pintu terdengar dan sebuah kepala mungil menelipkan diantaranya.
“sudah waktumu, untuk meeting kembali,hae~a” sekertaris donghae yang terlihat cukup menarik dengan balutan pakaian dress kerjanya akhirnya memasuki ruangan dan menatap donghae penuh peringatan.
“cepatlah, atau tender kita kali ini akan kalah dengan perusahaan kyuhyun.” Dia berdecak sedejak, “lagi, tepatnya.”
Donghae oppa beranjak berdiri dari kursinya. Mengulurkan tangannya untuk mengacak ringan rambutku. Dan.. sungguh, kalau yang ini.. diluar kebiasaannya, setiap kali meninggalkanku. Diaa.. mencium singkat pipiku yang seketika memerah.
“lain kali aku akan mengusulkan pada kyuhyun. Untuk menarikmu dari perusahaan kyuhyun, dan menjadikanmu sebagai sekertaris pribadiku.” Dia mendesah sambil sedetik mengalihakan pandangannya pada sekertarisnya. “karena kupikir, kau akan lebih baik dan tidak segalak Ha-ae”
Mulut ha-ae mengercut, mendengar komentar atasannya tentang dirinya. Donghae oppa kemudian tersenyum padaku kemudian mulai mengikuti langkah Ha-ae menuju ruang rapat.
Baiklah, aku akan sedikit menjelaskan.
Donghae oppa dan kyuhyun oppa memang teman akrab. Seingatku, teman kuliah yang kebetulan sangat awet sampai sekarang. Karena tidak banyak yang sanggup untuk berteman dengan orang dingin dan galak seperti kyuhyun oppa.
Mereka mempunyai perusahaan masing masing. Tadinya, mereka ingin sekali membangun perusahaan bersama. Tapi, karena titah raja, alias appa kyuhyun yang menyuruhnya untuk melanjutkan perusahaannya, ide itu tak jadi terwujud.
Akhirnya, mereka memutuskan untuk bekerja sama dalam membangun perusahaan masing masing. Kantornya pun berseblahan dan ada pintu penayambungnya. Tapi, terkadang untuk mendapatkan tender besar, mereka saling bersaing. Hanya saja sudah dipastikan kyuhyun oppa yang menang. Yah, hanya sebatas permainan saja, kata kyuhyun oppa saat aku menanyakannya. Jadi, ujung ujung nya tetap saja. Tender itu dikerjakan bersama.
Dan aku. Aku mengenal donghae oppa dua tahun yang lalu. Saat kyuhyun oppa mengenalkannya padaku. Sebenarnya kami sudah sering tatap muka, hanya sekedar melihat karena donghae oppa sering sekali datang kerumah. Dan kuharap, kali ini aku tidak terjebak dengannya. Maksudku, terjebak dalam cintanya.
Dongha oppa. Satu satunya namja yang membuat aku percaya. Tidak semua namja yang ada didunia ini selain keluarga kyuhyun adalah buruk. Entah apa yang membuatku percaya padanya. Tapi sungguh, semua tatapan, kasih sayang, kepercayaan yang diaberikan seakan bertolak belakang dengan gambaranku tentang namja didunia ini.
“Jehee~a!” aku tersentak saat pintu ruangan kembali terbuka untuk kedua kalinya.
“yak, ha gun~a. kau ingin membuat jantungku terlepas dari tempatnya, huh?” protesku saat ha gun mengambil posisi duduk disampinku, tempat yang sebelumnya diduduki oleh hae oppa.
“sebenarnya apa yang terjadi dengan mu?”
Aku mengernyit. Menatap aneh ha gun sesaat. “seharusnya aku yang bertanya. Apa yang terjadi denganmu sampai sampai mengagetkanku dan datang se..”
“kau terlihat berbeda.” Aku mengehentikan kalimatku saat ha gun memotongnya dengan kalimat yang membuatku sedikit tersentak.
“sifatmu lebih tertutup sekarang, wae?” ada jeda setelah itu. “kau juga sering sekali bolos kerja, dan aku sangat yakin, itu bukan jehee yang kukenal.”
Aku terdiam. Menyimaknya dengan baik tanpa berani mengeuarkan kata kata. Kali ini dia berbicara dengan sosok ha gun yang lebih dewasa, yah, bahkan aku melupakannya. Dia sudah tumbuh dengan dewasa dan baik, sekarang.
“jehee yang biasanya selalu mengumbar cerita padaku, jehee yang selalu mengumbar keceriaan pada semua orang, jehee yang biasa..”
“maaf” entah kenapa kalimat itu meluncur dari mulutku begitu saja. “maaf, kalau aku bukan jehee yang dulu lagi, maaf.”
Ha gun berbalas diam, menunggu dengan tenang kalimat selanjutnya yang akan aku keluarkan. Saat ini aku ingin sekali menangis dan bercerita panjang lebar padanya. Tapi semua tersa begitu tertahan. Karena setiap kata yang akan aku keluarkan tentang semua yang terjadi padaku, seakan mengiris kembali kepedihan yang ada.
“dia kembali.” Mataku kembali memanas saat ini. tak berani untuk menatap langsung sahabat yang tengah menunggu ceritaku. “eomma, dia kembali dalam hidupku.” Mulutnya tercengang saat aku mengucapkannya. “dan appa. Dia, dia.. datang kembali. Mewujudkan kebali sosoknya. Dihadapanku, hari ini.”
                                                            ***
Han HaGun PoV
“yak! Neo michiseo!” aku menggeram melihat mejaku terbengkalai setelah kutinggal sejenak untuk menemui jehee, dan aku melihatnya yang melakukan. Cho kyuhyun.
Semua karyawan mengamati tinggkahku dengan saling berbisik. Apapun itu, aku tidak memperdulikannya. Yang kuperdulikan sekarang adalah, keselamatan meja kerjaku dari setan pengacau satu ini.
“tutup mulutmu, berisik sekali.” Dengusnya sembari terus mengacaukan mejaku. Dia mengaduk auk semua berkas dimejaku, bahkan hiasan hiasan yang ada dimeja.
“apa yang kau cari, huh?” aku melemparkan tasku kearahnya, membuat pukulan sedikit keras kearah punggungnya.
Dia menghentkan tingkahnya. Tidak membalikkan tubuhnya kearahku. Hanya menengokkan sedikit wajahnya. Tanpa meringis sedikitpun. Wajahnyapun juga terlalu flat, menurutku. Tapi.. kenapa dia.. oh, baiklah Hagun, hilangkan pikiran itu jauh jauh.
“lebih baik kau diam disana, biarkan aku mencari disini, ara?” tegasnya dengan penuh penekanan. Dia kemabali mengacaukan mejaku yang membuatku semakin geram.
 “ck, apa kau tidak sadar diri ini meja siapa?” mataku menatap tantang dirinya.
“aku tahu ini mejamu! Tapi..” dia membalikkan tubuhnya, saat aku ingin menghapinrinya.
Nyaris, sangat pantas jika dikatakan kami nyaris bertubrukan. Karena, wajah kami yang bertatap tak samapai tiga senti jaraknya. Mataku membulat, sedang dia menatapku dengan.. caranya yang membuat sedikit risih walaupun itu tidak benar benar membuatku risih.
Aku memundurkan tubuhku, saat otakku sudah mulai lancar untuk berpikir jernih. Tapi matanya, terus saja menatapku dengan seperti itu. Seperti melihat sesuatu yang sangat berharga dihaapannya. Entahlah, tapi itu berhasil membuat jantunku berdetak sepuluh kali lebih cepat.
“baiklah, maaf telah mengacaukan mejamu. Karena aku tidak menemukan barang kucari dimejamu.” Ujarnya kemudian smbari berlalu, membuatku megernyit menganalisa perkataannya yang sangat aneh.
“YAK! CHO KYUHYUN!” jeritku, tanpa membuatnya menghentikan langkahnya. meja ku sekarang sangat dekat dengan perkataan kapal pecah. Semuanya berhamburan berantakan. Sebagian terjatuh dilantai tak karuan, dan sebagian lainnya tergeletak tak karuan diatas meja dan kursi kerjaku.
                                                                        ***
Cho Jehee PoV
One Week Later~
Aku tahu ini akan berakhir buruk, sangat mengetahuinya. Kalau saja aku tidak kabur kerumah halmoni. Kalau saja aku menuruti perkataan kyuhyun oppa untuk tidak mendengar semua perkataannya dengan appa.
Hatiku tidak akan tersayat lagi. Untuk kali ini rasanya seperti menumpuk dan menghantuiku sebagai hal yang paling menakutkan . sungguh, itu sangat membuatku takut.
Eomma, yang sekarang kembali dalam hidupku dengan kondisi yang rapuh. Appa yang kembali dengan emosi lamanya padaku. Dia, ingin menghancurkan perusahaan kyuhyun. Itu yang terakhir kali aku dengar.
Walaupun kyuhyun oppa terus mengatakan ini bukan salahku setiap kali aku merasa bersalah, tapi sungguh. Ini salah ku. Appa tidak ingin melihatku bahagia. Tidak ingin melihat anak dari istri yang katanya telah mencampakkannya tumbuh dengan baik. Lebih baik dari yang dianggapnya anak, Cho JinHo.
Itu yang menjadi alasan appa untuk menghancurkan semua yang kumiliki, sata ini. menghancurkan kebahagiaan yang kumiliki saat ini. dan satu hal yang akan selalu aku simpan agar appa tak mengetahuinya.
Kali ini aku akan melindunginya dari ancaman appa. Terlanjur jika melindungi kyuhyun oppa sekarang, karena appa mengetahui tiang kehidupanku sekarang. Tapi aku akan tetap melindunginya, sebisaku. Pasti.
Donghae oppa. Appa tidak mengetahui bahkan mengenalnya. Jangan sampai, itu harapanku. Dia yang ingin aku lindungi saat ini. belakangan ini, semenjak dia mengetahui permasalahnku dengan eomma dan appa, dia sangat menjagaku. Lebih dari cukup. Jelasnya, dia menjaga perasaanku yang sering bergejolak.
                                                                 TBC
annyeong (; ini maaf yaaaa, maaf bgt kalo rada maksa gimana gitu :D dan maaf juga kalo kependekan *plakk*
ditunggu komennya deh, jangan jadi silent reader yaaa. kalo bisa malahan jadi member disini *maksagitu* yodah, aku tunggu komennya.

2 komentar:

namika mengatakan...

yang part 1 nya mana :3

Cho jehee mengatakan...

ada, kamu cari aja di bagian bawahnya ;)