Without any of you that always protects ...
Without any of you that always loved me ...
Probably not going to make me stand straight facing this cruel world.
Whether in the difficult conditions of any kind, anywhere,
You will always be there for me, oppa.
Sarangahae, you are the best oppa.
Without any of you that always loved me ...
Probably not going to make me stand straight facing this cruel world.
Whether in the difficult conditions of any kind, anywhere,
You will always be there for me, oppa.
Sarangahae, you are the best oppa.
Author PoV
Kyuhyun terdiam. Menatap lekat lawan bicaranya. Arah pandang mereka beradu. Tangan kyuhyun bergetar, merasakan rasa bersalah yang cukup mendalam.
“ARASSEO, OPPA?! Jangan pernah mengatakannya lagi!” gertak yeoja yang tengah berdiri dihadapan kyuhyun. Bukan berniat untuk menyakiti kyuhyun. Sugguh tak enak hati untuk membentaknya. Namja yang sudah menganggap dan dianggapnya sebagai saudara kandungnya sendiri.
Tapi emosi sudah membakar kemarahannya. Hal yang sama sekali tidak ingin dibahasnya kini disinggung oleh kyuhyun. Membuat luka lamanya kembali di goreskan kembali.
“mianhae.” Kyuhyun akhirnya bersuara dengan nada rendahnya yang sedikit bergetar. Masih dalam pemikirannya yang tidak menyangka canda annya beberapa menit lalu telah membuatnya terpacu untuk marah.
Jehee menghela nafasnyan alih alih mengembungkan pipi kemudian menyemburkan nafasnya. Membuat helaian poni yang berada diatas matanya sedikit berterbangan. Dia meluruskan tangan yang sempat digunakannya untuk bertolak pinggang.pada kyuhyun. Kemudia memutuskan untuk duduk dihadapan kyuhyun dan membalas tatapan serius darinya.
Sedikit mendesah, untuk meredam emosinya. “maaf, oppa. Tidak seharusnya aku membentakmu. Kau tidak teralu bersalah. Aku hanya terbawa emosi masalaluku saja.”
Kyuhyun memjukan tubuhnya. Kemudian memeluk dengan penuh kasih sayang seorang kakak laki laki pada adiknya, jehee. “sungguh. Aaku yang seharusnya meminta maaf. Tidak baik, untuk menyinggung masalah itu kembali.”
Jehee mengercutkan bibirnya kesal. Menghadapi kyuhyun yang bersikeras bahwa itu adalah kesalahannya. Dia melepaskan pelukan kyuhyun kemudian menatap bodoh dirinya. “oppa, kau itu bodoh atau apa?” telunjuk jehee terpantuk didepan bibirnya. Menimbang nimbang beberapa pemikiran tentang kyuhyun.
Kyuhyun menaikkan alisnya. Bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh adiknya ini. “wae?”
“kalau orang sampai bertekuk lutut demi meminta maaf, itu karena korban permasalahannya bersikeras tidak mau memaafkannya.” Ada sedikit jeda dari ucapan jehee dengan desahan. “tapi kenapa kau, oppa. Sudah aku maafkan, dan mengatakan itu salahku juga, kau malah bersikeras untuk mengatakan itu salahmu. Itukan bodoh!”
Kyuhyun tertawa ringan. Menatap sesaat manic mata yeoja mungil dihadapannya. “kau yang bodoh!” dengusnya kemudian. Jehee berbalik menatap heran. “wae?” dan kyuhyun mengakhirinya dengan jitakan kilatnya di kening jehee. “karena kau memikirkan hal itu.”
***
Han Ha Gun PoV
“Han HaGun, Cho Jehee, Sung Hae, Lee Donghae, Kim Sanggun. Kalian Tim inti.” Ujar namja bertubuh tegap dihadapn kami semua. Ada sedikit jeda setelahnya. “pemimpin kalian, adalah calon penerus perusahaan ini. cho kyuhyun.”
“are you sure?” jeritku spontan saat nama itu disebutkan.
Semua menatapku. Sedikit heran dan sedikit menatap wajar. Mungkin para yeoja yang sangat amat mendambakan bisa dibawah pimpinan kyuhyun, yeoja yang mempunyai nyali besar-walaupun aku tidak yakin- sangat heran melihatku. Dan sebagian karyawan yang mengetahui maksudku, menatapku wajar.
Jehee terkikik disampingku. Seperti orang yang paling bahagia saat itu. Menatapku dengan penuh kemenangan. “aku, satu tim dengan DongHae oppa, dan kau, dengan kyuhyun oppa” dia terus menahan tawanya sebisa mungkin. Walaupun aku yakin itu akan sulit baginya.
“hei. Kau juga, dengan kyuhyun.” Ingatku sambil menatapnya tajam.
“biarkan saja. Dia kakak ku. Dan dia tidak mungkin melakukan hal kejam padaku.” Dia menyikutku dan tertawa dengan kemenangan. Sungguh, itu sangat menyebalkan-_-“
“baiklah. Aku akui. Aku kalah” aku memutarkan kursi kerjaku kemudian kembali memperhatikan pengumuman. Menunggu, jadwalku. Untuk bertemu dengan. Cho kyuhyun.
***
“kau, terlambat 10 menit.” Sembur sosok yang sudah berdiri di hadapan kami, saat aku menginjakkan kaki keruangan ini. sungguh, aku terlalu nyenyak tidur semalam-mungkin.
“maaf.” Aku masih menundukkan kepalaku. Tak beranikan diri untuk menatap wajahnya. Hanya sekilas melihat style pakaiannya. Mengenakan jas hitam rapih dengan kemeja putih bergaris sebagai dalamannya.
“siapa namamu?” tanyanya setelah itu. Baiklah, aku menyerah. Menegakkan wajahku untuk menatap wajah lawan bicaraku.
Sedikit dengan kondisi tercekat yang amat sangat. Aku berusaha sebisa munkin untuk mengontrol diriku. Tapi nyatanya ini sangat sulit untuk sekarang. “han.. hagun imnida.”
Aku pernah menemuinya. Sekali, dan waktu itu aku masih duduk dibangku SMA. Dia tidak berubah. Sama sekali. Wajahnya terlalu memikat. Bagi siapapun yang mengenalnya. Tapi yang membuatku berubah pikiran saat mengenalnya. Dan nyaris jatuh hati padanya hanya satu. Sifat dingin dan keras kepalanya.
“baiklah. Satu kali lagi kau mengulanginya. Tidak akan ada maaf untukmu. Han hagun-ssi” ujarnya tajam.
Tubuku mendelik membalas tatapannya dengan malas, kemudian duduk dikursiku. Aku melirik kursi dimeja sampingku. Cho jehee. Dia kembali mengulangnya. Entah apa yang terjadi belakangan ini padanya. Tapi sungguh, bolos datang kerja sama sekali bukan dirinya. Ingin sekali aku bertanya padanya. Tapi sepertinya bukan sekarang waktu yang tepat untuk dia bercerita.
Cho Jehee PoV
Mataku membengkak. Aku baru menyadarinya setelah menatapkan wajahku pada cermin meja rias kamar yang kutempati. Ini sudah bisa dipastikan dampak tangisanku semalaman. Tentu saja aku menagis tanpa diketahui kyuhyun oppa .
Sengaja aku tidak pulang kerumah, semalam. Mengangsingkan diri untuk menenangkan diri. Semua kejadian itu terulang kembali dalam benakku. Itu yang membuatku sempat marah dengan kyuhyun oppa. Dan lagi. Eomma kembali mendatangi rumah ini.
Bukan mendapat ketenangan, hatiku semakin tersayat. Melihatnya terjatuh lemas. Berlutut sembari memeluk kaki halmoni. Dia menagis, tersedu. Memperlihatkan betapa menderitanya ia selama dua puluh tahun ini.
Bukan pertama kali aku melihatnya seperti ini. dua bulan yang lalu dia juga kembali datang kerumah halmmoni dengan perilaku yang sama. Menangis. Dan berlutut.
Aku tidak ingin bertanya. Karena aku tidak ingin mengetahuinya. Sakit memang. Melihat kenyataan pahit kalau dia hidup tak bahagia selama dua puluh tahun silam ini. setelah meninggalkanku dan appa, juga jinho. Meninggalkanku dengan appa yag tak menyayangiku.
“eomma akan kembali, annyeong” eomma mencium kening Jehee dan melepaskan genggaman tangan kecilnya kemudian beranjak pergi.
“pergilah kemanapun kau mau. Tapi jangan. Jangan kembali kerumah ini!.” seru appa jehee dari balik pintu. Tanpa mau melihat sedikitpun wajah yeoja yang selama ini telah mendampinginya kurang lebih enam tahun. Itu bukan waktu yang singkat, tentunya.
“eommaaaaa..” raung jehee sambil berlari ke pekarangan rumah, berusaha mengejar eommanya yang mulai menjauh dengan mobil sedan berwarna hitap pekat yang membawanya.
Jinho, adiknya terdiam. Masih tenang dengan mainan pemberian terakhir dari eomma. Dia terlalu kecil untuk mengerti. Dan dia terlalu tidak perduli dengan apa yang terjadi. Hati kecilnya sebenarnya ingin menangis. Menangis sekerasnya.
Diumurnya yang beranjak empat tahun membuatnya sedikit mengerti. Walaupun yang ia tahu hanya eommanya yang berlalu meninggalkan keluarga mereka setelah pertengkaran hebat yang terjadi dengan appanya. Dan dia tahu. Dia mendengar. Kalimat janji yang terucap dari eomma. Bahwa eomma tidak akan kembali dalam keluarganya lagi.
Dia terdiam tenang agar tidak memperkeruh suasana. Walaupun batinnya sangat tersikksa.
“eomma berjanji akan pulang.. dia pasti pulang..” isak jehee yang mulai terjatuuh lemas di rumput pekarangan rumah. “tapi kalau.. kalau eomma akan pulang.. kenapa dia harus membawa semua barangnya?”
Dibalik pintu appanya termenung. Menatap marah dari sudut jendela pada jehee. Dia menangisi eommanya. Dan menatap bangga pada jinho yang masih terlihat tak peduli.
Appa selalu saja menganggapku bersifat sama dengan eomma dan dia membenci itu. Dia sangat menyayangi jinho yang terlihat lebih dewasa daripadaku. Walaupun umurnya satu tahun dibawahku.
“untuk apa kau menangisi perempuan tak bermoral seperti itu? Merepotkan saja, sama sepertinya.”
Dia selalu saja membandingkan ku dengan jinho. Walaupun aku tahu, jinho menyayangiku. Dan dia tidak suka perlakuan appa terhadapku.
“jinho terlihat lebih dewasa menghadapi ini. lihat dirimu, jehee~a! tak ada sifat kedewasaan mu sedikitpun. Menyusahkan!”
Sampai akhirnya aku menyerah kemudian memutuskan untuk kabur dari rumah. Saat itu umurku delapan tahun. Tiga tahun aku mencoba bertahan dengan semua perilaku appa. Jinho sempat mencegahku. Tapi itu terlambat. Karena batinku sudah terasa teriris pilu.
Saat itu yang aku ketahui hanya tiga jalan. Menuju rumah, sekolah dan rumah kyuhyun oppa. Kyuhyun oppa adalah sepupu terdekatku dari appa. Kami sering bermain. Dengan Ahra eonni juga tentunya. Kakak perempuan kyuhyun oppa yang sering sekali membuatkanku baju boneka Barbie.
Aku tergeletak lemas di halaman depan rumahnya. Yang kuingat saat itu adalah kyuhyun oppa yang berlalri menghampiriku yang menanyakan hal kedatanganku. Sebelum pengelihatanku buram kemudian terjatuh. Akibat kelelahan mencapai rumahnya dengan langkah kaki kecilku, selama tiga jam. Tanpa berhenti untuk makan.
Alasan kyuhyun oppa sangat menyayangiku karena itu. Dia melihat semua penderitaan yang aku miliki dua puluh tahun silam. Dan dia berjanji untuk terus menjagaku. Menjauh kanku dari kedua orang tuaku yang telah menghancurkan kehidupan masa kecilku.
Keluarga kyuhyun oppa akhirnya menganggkatku menjadi anak ketiganya yang sah. Mereka merawatku dengan baik. Sangat baik. Walaupun terkadang aku masih merindukannya. Mata yang bulat dan kecoklatan. Mempunyai mimik yang lembut. Eomma.
Tak lama pintuku terketuk. Aku melangkah untuk meraih gagang pintu dan membukakannya. Aku sudah menyiapkan beribu alasan untuknya. Karena aku yakin kyuhyun oppa lah yang menjemputku datang.
Tubuhku kaku. Beridiri dengan kaki yang bergetar dan mulutku membeku. Dia. Dia berdiri dihadapanku sekarang. Dan aku nyaris untuk berlari untuk menghindarinya.
Cho Kyuhyun POV
Tanganku menyambar jas diatas kursiku. Sesaat setelah menutup telfon, dan mendapat kabar dari halmoni. Aku tahu, dia pasti aka nada disitu. Tapi firasat yang aku rasa berbeda. Walaupun halmoni berkata kalau Jehee baik baik saja disana.
“odiga?” donghae melihatku bingung. Dengan setumpuk berkas yang nyaris dijatuhkannya karena tertabrak tubuhku yang tergesa.
“ mencari jehee” jawabku sekenanya, kemudian berlari menuju tempat parkir. Mengemudikan nya dengan penuh rasa takut yang melekat. Nafasku terasa tercekat. Berusaa membuang jauh jauh pikiran pikiran burukku.
Tak sampai lima belas menit lewaat aku sampai. Memarkirkan mobilku sedikit tak rapih didepan rumah halmoni.
“cucuku sudah tumbuh besar dengan baik ternyata.” Sambut halmoni saat aku sudah berdiri didepan pintu yang segera dibukakannya. Aku hanya tersenyum membalas sambutannya.
“halmoni, dimana Jehee?” ujarku tanpa membuat basa basi.
Halmoni tertunduk sejenak, sesaat sebelum dia menatapku kembali. “dia ada, dikamar lantai dua.” Diselakan dengan hembusan nafasnya, yang aku yakin ini bukanlah berita yang baik. “bersama ibunya.”
TBC
Aku lagi gak ada mood buat bikini ff lanjutan love in seoul._. soalnya itukan ff nyaris nyata, nah dalam kenyataannya tuh udah pada jadian. kan bingung aku bikinnya gimana ._.jadi maaf yaa, aku lebih mau focus buat ff yang ini. thanks udah mau mapir._. komen yaw, jangann lupa.

1 komentar:
aaahhh... keren.. ditunggu kelanjutannya chingu.....!!! :)
Posting Komentar