You Are The best Oppa #2
Semuanya
bermula..
Penderitaan
yang kembali ada..
Dan
kuharap untuk cepat berakhir, sesulit apapun..
Karena
sungguh, ini menyakitkan.
Cho
Kyuhyun PoV
Dia tumbuh dengan baik. Dengan pertumbuhan secara
alami. Walaupun tak banyak perbedaan dengan sosoknya dulu yang sekali aku
tatap. Tatapan pertamaku dengannya, yang entah kenapa membuatku berpikir bahwa
dia, takdirku.
Sekitar delapan tahun yang lalu. Di hari ulang
tahunnya yang ke tujuh belas. Saat pertama kali kami bertemu, dan saling
bertatap. Wajah tegasnya, yang menegaskan kepribadiannya yang sungguh
memikatku.
Gaun coklat muda selutut membalut tubuhnya. Walaupun
dia terlihat sedikit memberontak dengan kostum malam itu. Dia sempat nyaris
menubrukku dengan high hils nya yang berkisar delapan senti itu. Dia sudah
cukup tinggi, tapi eommanya terlihat memaksakannya hingga menyiksanya dengan
kostum feminimnya malam itu.
“ini hari ulang tahunmu yang ketujuh belas. Bersikaplah seperti perempuan
sesungguhnya”
Aku tersenyum kecil mengingatnya. Waktu itu wajahnya
menampakkan ketidaksukaan, bahkan di menyebut ulang tahun ke tujuh belasnya
sebagai “kutukan”.
“oppa!” aku tersentak, dan seketika membuyarkan semu
lamunanku. Saat jehee menepuk pundakku dari belakang. Dia melingkarkan
lengannya keleherku dan sedikit bergelayut manja.
“jangan bertingkah seperti bocah berumur enam
tahun.” Dengusku sambil melirikknya meledek.
“umurku masih dua puluh lima tahun, oppa. Dan ku
rasa masih pantas untuk dikatakan bocah.” Dia melepaskan lingkaran lengannya
dari leherku, dan merosot menjadi dilenganku.
“bodoh.” Ujarku singgkat.
“siapa?” dia menaikkan alisnya dan menatapku aneh.
“kau.” Tukasku tajam.
“kenapa?”
“pikirkan saja sendiri”
“cih, berarti kau yang bodoh.” Dengusnya kemudian.
“kenapa?”
“tidak bisa berpikir, dan menyuruhku berpikir
sendiri.”
“tidak, aku hanya ingin mengetes keberadaan otakmu.”
“kurasa otakku tidak hilang. Tapi sepertinya otakkmu
yang hilang.”
“tidak. Otakku masih berada ditempatnya.”
“ya, masih ada. tapi pikiranmu sedang melayang.”
“kemana?”
“han. Ha. Gun. Benar tidak?” Jehee sedikit mengeja
namanya.
Aku terdiam sejenak. Tebakannya terlalu tepat. Debat
kami terhenti karenanya. Membuatku sedikit tercekat, namun berusaha
mengendalikan ekspresi wajahku.
“kau diam, berarti benar.”
“tidak juga.” aku membalikkan tubuhku yang
sedaritadi menghadap kearah jendelah besar diruanganku dan berjalan menuju meja
kerjaku dan menduduku sudut mejanya. Jehee membuntutiku, kemudian berdiri
dihadapanku, menanti jawaban selengkapnya.
“aku hanya sedang mengingatnya saja.” Jehee mulai
membuka mulutnya dan aku dengan cepat memotong nafasnya yang ingin mulai
berbicara. “itupun karena tadi aku baru saja menemuinya kembali. Dan aku pikir,
itu tidak terlalu buruk. Saat pertama kali aku menemuinya.”
“ kau berbicara melantur.”
“apa?”
“iya. Ngelantur.aku
hanya bertanya benar atau tidak, kau malah menjawabnya hingga pertemuanmu
dengan jehee. Bodoh!” dia bersedekap dihadapanku sembari sedikit mengeluarkan
tawa kemenangannya dan aku hanya mendengus.
Pintu ruanggan terbuka. Aku nyaris meneriaki yang
membuka untuk segera pergi, namun semua terasa tertahan. Kesenaganku dengan
jehee yang baru saja kami dapat akan dipastikan lenyap. Aku berusaha menahan
lengan jehee agar tetap menghadapku, dan tidak melihat sosok yang tenga berdiri
di ambang pintu.
“nugundae oppa, wae?” jehee berusaha melepaskan
cengkramanku. Namun aku segera menahannya. Ini tidak boleh terjadi. Sangat
tidak boleh.
Hening sejenak. Aku tidak tahu apa yang harus
kulakukan sekarang untuk menyelamatkan jehee dari sosok itu. Akhirnya aku
mengarahkannya untuk memasuki kamar mandi di ruanganku tanpa kuperbolehkan
menoleh sedikitpun.
“tidak bisakah kau meninggalkan ruanganku.
Se-ka-rang!” hentakku dengan suara sedikit rendah berusaha agar tak sampai
terdengar dari dalam kamar mandi.
Dia tersenyum. Kemudian menepukkan tanganya
dipundakku yang kemudian aku kibaskan untuk menghilangkan debut yang kemunkinan
dibuatnya. “terima kasih.” Ujarnya kemudian. “telah menjaga anakku ituu.” Dia
bersuara dengan sanagt bulat membuatku menahan geram.
“anak yang mempunyai kemiripan nyaris lebihdari lima
puluh persen ibunya. Menyusahkan!” ujarnya dengan penuh tekana diakhir
kalimatnya. Dia berujar sembari tersenyum bangga.
“bisa dikatakan aku sudah menganggapnya bukan anakku
lagi. Anakku cuman satu. Cho JinHo.”
Tanganku mengepal. Nyaris akan aku benturkan kalau
saja pintu kamar mandi tak terbuka dengan penuh dentuman keras. Wajah jehee
memerah dan mulai menangis menatap sosok dihadapanku.
“appa!” hentaknya.
“appa? Apa kau tidak mendengar nak, apa yang kami
bicarakan tadi?” dia mendekat kepada jehee kemudian berkata tepat dimanik
matanya. “kau-bukan lagi-anakku” tanpa ada kata pamit dia berjalan dengan
santai keluar ruanganku.
Jehee terjatuh. Aku yakin hatinya sedang sangat
bergejolak hari ini. dengan cepat aku menghampirinya dan memelukknya.
Mengurangi getaran hebat dalam tubuhnya.
“tenanglah.. aku masih dan selamanya menjadikanmu
keluargaku. Dan adikku.”
***
Cho
Jehee PoV
“ne?” suaraku tercekat saat melihat sosok yang berdiri diambang
pintu. Matanya menatap lembut diriku yang berdiri kaku dengan senyuman hangat
dibibirnya. Dia memajukan langkah mendekat padaku memelukku yang masih tak bergeming.
“kau tumbuh dengan sangat baik, nak.” Tangnnya menepuk tepuk ringan
pundakku. “eomma sangat berterima kasih pada keluarga kyuhyun.”
“eom.. mma?” dengan suara yang tercekat dan penuh getar, kata itu
akhirnya kembali terucap. Setelah dua puluh tahun lamanya tak pernah keluar
dari dalam mulutku, untuknya.
Dia melepaskan pelukkannya. Terus menatapku dengan semua
kelembutannya. “maafkan eomma, nak.”
Mataku memanas dan setetes air mata mulai jatuh. Membasahi pipiku.
Dia juga. dalam senyuman yang matanya berlinang air. Seakan berusaha ditahan
agar tidak mengotori pipinya.
“maafkan eomma. Telah meninggalkanmu waktu itu.” Kali ini suaranya
semakin bergetar padaku.
“eomma.” Aku menariknya kembali dalam pelukkanku. Entah kenapa
rasanya aku sangat ingin meneriakkan kata itu berulang ulang padanya.
Mengatakan kalau aku memilikinya. Mempunyai eomma, dan itu adalah dia.
“eomma seharusnya hidup dengan sangat bahagia sekarang. Tapi kenapa
eomma kenapa terlihat sangat rapuh? Sungguh aku menyesali telah menganggap eomma
akan menjjadi yeoja paling bahagia didunia ini.” mulutku akhirnya bisa mulai
berbicara walaupun di sela dengan isakan tangis.
“maafkan eomma nak. Urusi lah hidupmu. Jangan pernah khawatirkan
eomma, eomma baik baik saja.”
Aku. Entah kenapa seperti ini. dulu, aku berpikir dia sangat jahat
dan dia musuhku. Tapi sungguh, entah kenapa hatiku bisa luluh dan memaafkannya.
Saat melihat semua yang dia perlihatkan sekarang. Tulus, dan rapuh.
***
Mataku melirik tak berniat melihat wajah
disampingku.
“apa aku hari ini terlihat tidak keren?” dia
menaikkan alisnya dan mulai bergaya dengan penuh kepercaya dirian.
“cih” desisku dan menatapnya muak. “kapan kau
terlihat keren, huh?”
“setiap hari.” Jawabnya dengan penuh keyakinan.
Tak lama ketukan pintu terdengar dan sebuah kepala
mungil menelipkan diantaranya.
“sudah waktumu, untuk meeting kembali,hae~a”
sekertaris donghae yang terlihat cukup menarik dengan balutan pakaian dress
kerjanya akhirnya memasuki ruangan dan menatap donghae penuh peringatan.
“cepatlah, atau tender kita kali ini akan kalah
dengan perusahaan kyuhyun.” Dia berdecak sedejak, “lagi, tepatnya.”
Donghae oppa beranjak berdiri dari kursinya.
Mengulurkan tangannya untuk mengacak ringan rambutku. Dan.. sungguh, kalau yang
ini.. diluar kebiasaannya, setiap kali meninggalkanku. Diaa.. mencium singkat
pipiku yang seketika memerah.
“lain kali aku akan mengusulkan pada kyuhyun. Untuk
menarikmu dari perusahaan kyuhyun, dan menjadikanmu sebagai sekertaris
pribadiku.” Dia mendesah sambil sedetik mengalihakan pandangannya pada
sekertarisnya. “karena kupikir, kau akan lebih baik dan tidak segalak Ha-ae”
Mulut ha-ae mengercut, mendengar komentar atasannya
tentang dirinya. Donghae oppa kemudian tersenyum padaku kemudian mulai
mengikuti langkah Ha-ae menuju ruang rapat.
Baiklah, aku akan sedikit menjelaskan.
Donghae oppa dan kyuhyun oppa memang teman akrab.
Seingatku, teman kuliah yang kebetulan sangat awet sampai sekarang. Karena
tidak banyak yang sanggup untuk berteman dengan orang dingin dan galak seperti
kyuhyun oppa.
Mereka mempunyai perusahaan masing masing. Tadinya,
mereka ingin sekali membangun perusahaan bersama. Tapi, karena titah raja,
alias appa kyuhyun yang menyuruhnya untuk melanjutkan perusahaannya, ide itu
tak jadi terwujud.
Akhirnya, mereka memutuskan untuk bekerja sama dalam
membangun perusahaan masing masing. Kantornya pun berseblahan dan ada pintu
penayambungnya. Tapi, terkadang untuk mendapatkan tender besar, mereka saling
bersaing. Hanya saja sudah dipastikan kyuhyun oppa yang menang. Yah, hanya sebatas
permainan saja, kata kyuhyun oppa saat aku menanyakannya. Jadi, ujung ujung nya
tetap saja. Tender itu dikerjakan bersama.
Dan aku. Aku mengenal donghae oppa dua tahun yang
lalu. Saat kyuhyun oppa mengenalkannya padaku. Sebenarnya kami sudah sering tatap
muka, hanya sekedar melihat karena donghae oppa sering sekali datang kerumah.
Dan kuharap, kali ini aku tidak terjebak dengannya. Maksudku, terjebak dalam
cintanya.
Dongha oppa. Satu satunya namja yang membuat aku
percaya. Tidak semua namja yang ada didunia ini selain keluarga kyuhyun adalah
buruk. Entah apa yang membuatku percaya padanya. Tapi sungguh, semua tatapan,
kasih sayang, kepercayaan yang diaberikan seakan bertolak belakang dengan
gambaranku tentang namja didunia ini.
“Jehee~a!” aku tersentak saat pintu ruangan kembali
terbuka untuk kedua kalinya.
“yak, ha gun~a. kau ingin membuat jantungku terlepas
dari tempatnya, huh?” protesku saat ha gun mengambil posisi duduk disampinku,
tempat yang sebelumnya diduduki oleh hae oppa.
“sebenarnya apa yang terjadi dengan mu?”
Aku mengernyit. Menatap aneh ha gun sesaat.
“seharusnya aku yang bertanya. Apa yang terjadi denganmu sampai sampai
mengagetkanku dan datang se..”
“kau terlihat berbeda.” Aku mengehentikan kalimatku
saat ha gun memotongnya dengan kalimat yang membuatku sedikit tersentak.
“sifatmu lebih tertutup sekarang, wae?” ada jeda
setelah itu. “kau juga sering sekali bolos kerja, dan aku sangat yakin, itu
bukan jehee yang kukenal.”
Aku terdiam. Menyimaknya dengan baik tanpa berani
mengeuarkan kata kata. Kali ini dia berbicara dengan sosok ha gun yang lebih
dewasa, yah, bahkan aku melupakannya. Dia sudah tumbuh dengan dewasa dan baik,
sekarang.
“jehee yang biasanya selalu mengumbar cerita padaku,
jehee yang selalu mengumbar keceriaan pada semua orang, jehee yang biasa..”
“maaf” entah kenapa kalimat itu meluncur dari
mulutku begitu saja. “maaf, kalau aku bukan jehee yang dulu lagi, maaf.”
Ha gun berbalas diam, menunggu dengan tenang kalimat
selanjutnya yang akan aku keluarkan. Saat ini aku ingin sekali menangis dan
bercerita panjang lebar padanya. Tapi semua tersa begitu tertahan. Karena
setiap kata yang akan aku keluarkan tentang semua yang terjadi padaku, seakan
mengiris kembali kepedihan yang ada.
“dia kembali.” Mataku kembali memanas saat ini. tak
berani untuk menatap langsung sahabat yang tengah menunggu ceritaku. “eomma,
dia kembali dalam hidupku.” Mulutnya tercengang saat aku mengucapkannya. “dan
appa. Dia, dia.. datang kembali. Mewujudkan kebali sosoknya. Dihadapanku, hari
ini.”
***
Han
HaGun PoV
“yak! Neo michiseo!” aku menggeram melihat mejaku
terbengkalai setelah kutinggal sejenak untuk menemui jehee, dan aku melihatnya
yang melakukan. Cho kyuhyun.
Semua karyawan mengamati tinggkahku dengan saling
berbisik. Apapun itu, aku tidak memperdulikannya. Yang kuperdulikan sekarang
adalah, keselamatan meja kerjaku dari setan pengacau satu ini.
“tutup mulutmu, berisik sekali.” Dengusnya sembari
terus mengacaukan mejaku. Dia mengaduk auk semua berkas dimejaku, bahkan hiasan
hiasan yang ada dimeja.
“apa yang kau cari, huh?” aku melemparkan tasku
kearahnya, membuat pukulan sedikit keras kearah punggungnya.
Dia menghentkan tingkahnya. Tidak membalikkan
tubuhnya kearahku. Hanya menengokkan sedikit wajahnya. Tanpa meringis
sedikitpun. Wajahnyapun juga terlalu flat, menurutku. Tapi.. kenapa dia.. oh,
baiklah Hagun, hilangkan pikiran itu jauh jauh.
“lebih baik kau diam disana, biarkan aku mencari
disini, ara?” tegasnya dengan penuh penekanan. Dia kemabali mengacaukan mejaku
yang membuatku semakin geram.
“ck, apa kau
tidak sadar diri ini meja siapa?” mataku menatap tantang dirinya.
“aku tahu ini mejamu! Tapi..” dia membalikkan tubuhnya,
saat aku ingin menghapinrinya.
Nyaris, sangat pantas jika dikatakan kami nyaris
bertubrukan. Karena, wajah kami yang bertatap tak samapai tiga senti jaraknya.
Mataku membulat, sedang dia menatapku dengan.. caranya yang membuat sedikit
risih walaupun itu tidak benar benar membuatku risih.
Aku memundurkan tubuhku, saat otakku sudah mulai
lancar untuk berpikir jernih. Tapi matanya, terus saja menatapku dengan seperti
itu. Seperti melihat sesuatu yang sangat berharga dihaapannya. Entahlah, tapi
itu berhasil membuat jantunku berdetak sepuluh kali lebih cepat.
“baiklah, maaf telah mengacaukan mejamu. Karena aku
tidak menemukan barang kucari dimejamu.” Ujarnya kemudian smbari berlalu,
membuatku megernyit menganalisa perkataannya yang sangat aneh.
“YAK! CHO KYUHYUN!” jeritku, tanpa membuatnya
menghentikan langkahnya. meja ku sekarang sangat dekat dengan perkataan kapal
pecah. Semuanya berhamburan berantakan. Sebagian terjatuh dilantai tak karuan,
dan sebagian lainnya tergeletak tak karuan diatas meja dan kursi kerjaku.
***
Cho
Jehee PoV
One Week Later~
Aku tahu ini akan berakhir buruk, sangat
mengetahuinya. Kalau saja aku tidak kabur kerumah halmoni. Kalau saja aku
menuruti perkataan kyuhyun oppa untuk tidak mendengar semua perkataannya dengan
appa.
Hatiku tidak akan tersayat lagi. Untuk kali ini
rasanya seperti menumpuk dan menghantuiku sebagai hal yang paling menakutkan .
sungguh, itu sangat membuatku takut.
Eomma, yang sekarang kembali dalam hidupku dengan
kondisi yang rapuh. Appa yang kembali dengan emosi lamanya padaku. Dia, ingin
menghancurkan perusahaan kyuhyun. Itu yang terakhir kali aku dengar.
Walaupun kyuhyun oppa terus mengatakan ini bukan
salahku setiap kali aku merasa bersalah, tapi sungguh. Ini salah ku. Appa tidak
ingin melihatku bahagia. Tidak ingin melihat anak dari istri yang katanya telah
mencampakkannya tumbuh dengan baik. Lebih baik dari yang dianggapnya anak, Cho
JinHo.
Itu yang menjadi alasan appa untuk menghancurkan
semua yang kumiliki, sata ini. menghancurkan kebahagiaan yang kumiliki saat
ini. dan satu hal yang akan selalu aku simpan agar appa tak mengetahuinya.
Kali ini aku akan melindunginya dari ancaman appa.
Terlanjur jika melindungi kyuhyun oppa sekarang, karena appa mengetahui tiang
kehidupanku sekarang. Tapi aku akan tetap melindunginya, sebisaku. Pasti.
Donghae oppa. Appa tidak mengetahui bahkan
mengenalnya. Jangan sampai, itu harapanku. Dia yang ingin aku lindungi saat
ini. belakangan ini, semenjak dia mengetahui permasalahnku dengan eomma dan
appa, dia sangat menjagaku. Lebih dari cukup. Jelasnya, dia menjaga perasaanku
yang sering bergejolak.
TBC
annyeong (; ini maaf yaaaa, maaf bgt kalo rada maksa gimana gitu :D dan maaf juga kalo kependekan *plakk*
ditunggu komennya deh, jangan jadi silent reader yaaa. kalo bisa malahan jadi member disini *maksagitu* yodah, aku tunggu komennya.

2 komentar:
yang part 1 nya mana :3
ada, kamu cari aja di bagian bawahnya ;)
Posting Komentar