Selasa, 04 Desember 2012

Game In Mistake (Part 4)


Game In Mistake (Part 4)

Jangan samakan aku dengan jam tanganmu.
Yang selalu bisa memberikan kepastian waktu.
Tapi samakan aku dengan sepatumu
Yang selalu bisa memberikan kepastian langkah

Jangan sama kan aku dengan bibirmu,
Yang bisa saja berujar tanpa kejujuran
Tapi samakan aku pada perutmu,
Yang akan berbunyi jujur saat kosong

Jangan salah kan aku kalau langitku menangis
Jangan salahkan aku kalau mathariku tersenyum
Karena yang menggiring duniaku,
Hanya kau.


Cho Kyuhyun PoV
“Apa maksudmu memutuskan hubungan yang sudah menuju jenjang pertunangan ini, Cho Kyuhyun~ssi?” Appa menatapku tajam dihadapan meja kerja kantor. Dia sepertinya mengetahui tindak lanjutku dari keluarga Seohyun langsung dan membuatnya malu setengah mati.
“Seperti yang sudah aku katakan. Aku tidak ingin beribicara denganmu lagi.” Jawabku dingin sambil kembali memfokuskan diri dengan berkas – berkas ku.
“Hanya kali ini. Kau sungguh tidak mengerti perusahaan, anak kecil.” Appa mulai menunjukkan raut amarahnya. “ Kau kira makanan yang kau telan berasal dari jerih payah yang mudah? Semua berasal dari perusahaan ini. Dan asal kau tahu. Aku masih terlalu baik karena sudah memberimu peringatan berkali – kali padamu, dan sekarang kau hanya menunggu waktu.”
“wae? Kau ingin membunuhku, huh?”
“Tidak sampai itu. Hanya membuat sisa hidupmu terasa lebih menyakitkan dari ini. Akan aku usahakan lebih sakit daripada teretembak peluru.” Raut wajah nya berubah menjadi datar. Menyimpan kesungguhan yang ada dan membuatku sulit untuk membacanya.
“Kau mau berbuat apa?” Aku mengernyitkan kening. Berusaha mencerna kondisi saat ini.
“Hanya memperlakukan yeoja kalian, sama seperti keluarganya memperlakukan keluarga Cho.”
Aku terdiam. Meletakkan pena dan kertas dari genggamku. “Kalian? Maksud appa?”
“Tidak perlu aku jelaskan panjang lebar. Karena sepertinya kau teralu pintar untuk mencari tahunya sendiri.”
***
Aku melangkah ragu ke ruangan yang sangat jarang untuk aku datangi. Bisa dihitung oleh satu jari untuk berapa kali aku datang kesini setelah seumur hidupku yang biasa bermain di daerah perusahaan appa. Keluar masuk seakan gedung ini adalah rumah keduaku.
Perpusatakaan Kantor. Tempat dimana semua arsip sejarah perusahaan ini. dari mulai berdiri sampai detik ini. aku sempat mempelajarinya sekilas saat memutuskan untuk bergabung dalam persusahaan ini. hanya membaca bebearpa buku yang menceritakan singkat sejarah didirikannya. Tidak sampai mendetail.
Perkataan appa tadi memang sudah membuatku terpojok dengan rasa penasaran yang memuncak. Dengan segeranya aku meninggalkan pekerjaanku yang menumpuk hanya karena satu hal. Memiliki Ha Gun sepenuhnya tanpa ada gangguan dari luar lagi.
Langkahku terhenti dalam sebuah lorong yang bertulikan ‘1976-1981’ yang menandakan buku – buku yang berisikan sejarah perusahaan sekitar tahun tersebut.Tanganku menyapu beberapa buku yang terlihat berdebu karena sudah berumur.  Lembarannya terlihat menguning dan rapuh.
Dengan perlahan aku mengambil sebuah buku dari deretan buku tua lainnya. Buku yang berhasil menarik minatku dengan judul ‘The Leader’ . ini pasti berisi tentang kakak kandung kakekku yang mendirikan perusahaan keluarga Cho. Aku sangat mengaguminya. Dari pola pikir yang sangat menakjubkan dan respon dia pada sebuah masalah. Tidak heran kalau perusahaan keluarga Cho bisa menjadi sebesar ini.
Cho HuangJu’ tiada batas untuk maju,, tiada alasan untuk menyerah’adalah pesan terakhirdarinya  yang membangun semangat baru setelah kematiannya.walaupun masih ada beberapa pegawai yang masih tidak menerima keyataan dengan kematian pemimpinnya yang begitu tersa singkat dan tragis.
Aku terdiam sejenak setelah membaca pada halaman pertama buku itu. Tragis? Aku memang beluum pernah dengar cerita bagaimana dia meninggal. Hanya setahuku saat itu dia menjadi korban kecelakaan lalu lintas. Aku mengenalnya puun hanya lewat buku – buku yang terbuat dari tulisan tangannya. Tidak pernah bertatapan langsung.
Tidak banyak yang tahu dengan semua hal dibalik ini. karena mereka lebih memilih untuk terdiam dan melanjutkan pekerjaannya daripada mencari tahu dengan ancamaman…. Mati.
Tubuhku menegang saat membaca paragraph kedua. Aku memutuskan untuk menutup buku itu dan membawanya pulang untuk aku baca dirumah. Tidak akan sempat jika aku terlalu lama disini.
***
Lee DongHae PoV
Senyumku terulas saat mendapatkan hasil print ditanganku. Sebuah bukti kelemahan perusahaan Choi yang sudah nyaris satu bulan lebih aku cari, Akhirnya berada ditanganku. Satu hentakan lagi, perusahaan itu akan hancur.
Drrt.. drrt..
“Nuguseo?”
“Kau.. apa benar – benar ingin menjatuhan semua milikku?” Aku mengernyitkan keningku, berusaha mengenali sekaligus memaknai perkataannya.
“Mwoya? Nuguseo?”
“Tidak peduli siapa aku, tapi kau akan jatuh sebelum aku terjatuh. Arasseo?”
“Aku sangat membenci semua hal yang terdengar misterius, nuguseo? Yak, katakan saja siapa kau sebelum aku melacak siapa dirimu.”
“siapa aku? Aku, orang yang benar – benar kau rugikan dalam permainanmu, Lee DongHae~ssi.”
Sambungan telfon terputus seketika saat aku mulai membuka mulutku untuk kembali membalasnya. Suaranya terlalu asing untuk aku kenali. Choi Siwon? Tapi aku rasa.. dia sama sekali tidak mengetahui semua ini. Dan kalaupun ia tau, bukan gayanya untuk melakukan tindakan meneror atau apapun itu. Biasanya dia lebih memilih diam dan seketika datang dihadapan setelah kami benar – benar tersingkir.
Tak lama ponselku kembali bergetar. Satu pesan singkat masuk dan nyaris membuatku kembai terperangah.
“kau lebih baik diam. Tutup mulutmu. Dan jauhkan diri dari tiga hal. Perusahaan keluarga Choi, Cho Kyuhyun, dan Cho Jehee.”
***
Lee DongHae’s Room
12:05 PM
Seoul, Sout Korea

Kyuhyun sulit dihubungi beberapa jam belakangan ini. Tidak tahu dia terlalu sibuk dengan Ha Gunnya atau masalah perusahaan. Tapi saat ini aku benar – benar membutuhkannya. Penelpon misterius itu pastilah dalang dibalik semua ini.
Bisa saja bukan appa kyuhyun yang melakukannya. Memaksa kyuhyun dalam kendalinya. Atau.. bisa saja ini bukan ulah Choi Siwon untuk mendapatkan perusahan appa Kyuhyun.
Aku kemudian memutuskan untuk menghubungi Jehee untuk mencari tahu keberadaan Kyuhyun.
“Jagiya, kau tahu dimana kakakmu berada?”
“Wae? Aku hari ini sedang sibuk menyelesaikan skripsiku. Belum sempat bertemu dengan kyuhyun oppa. Terakhir kali aku menghubunginya saat makan siang.”
“Aku hanya ingin bertemu dengannya saja. Tadi siang kau tahu dia makan dimana? Di kantor atau diluar?”
“Sepertinya di luar. Memangnya kenapa oppa?ada hal penting yang harus kau sampaikan?”
“Ne, seperti biasa, masalah perusahaan. Hari ini kau bagaimana? Baik – baik saja kan?”
“Kau tidak ingin menitipkan pesan padaku? Mungkin nanti malam aku bisa sampaikan pada Kyuhyun oppa?”
“Tidak perlu, nanti akan aku coba untuk mencarinya.”
“Ck, sebegitu rahasianya kah? Apa kau tidak ingin membocorkannya sedikit padaku? Eum.. inti permasalahannya saja? Bagaimana?”
Aku tertawa kecil menanggapinya yang berusaha untuk aku membocorkan sebuah rahasia besar untuknya. “kau ingin tahu? Intinya?”
“Saaaaaangaaaaaaaat. Jadi, kau berniat untuk membritahuku?”
“Ani, tanyakan saja pada oppa mu.”
“Yak! Lee DongHae”
***
Cho Jehee PoV
KyungHee University’s Library
13:43 PM
Seoul, South Korea

Keningku berkerut saat melihatnya berjalan mengarah padaku. Aku sangat mengharapkan kesalahan dalam melihat kali ini. karena aku benar – benar ingin menghindarinya. Dia terkesan begitu memaksaku untuk kembali mendekat belakangan ini.

“Kau sibuk?” Aku menahan kekecewaan ku karena dia benar – benar datang untuk ku. Duduk di kursi samping sambil menunjukkan wajah perhatiannya. Dulu memang, aku begitu terpesona dengan wajahnya yang seperti ini. Tapi sekarang, tidak ada perasaan sedikitpun yang tersisa hanya untuk sekedar tertarik dengan wajah tampannya.
“Sangat.” Jawabku sekenanya. Berharap dia akan segera pergi setelah mendengar jawabanku.
“Mau aku bantu?” Aku mengeluh kesal sembari mengumpat dalam hati. Sial, dia sepertinya tidak akan menyerah untuk mendekatiku.
“Tidak perlu. Memangnya kau tidak punya pekerjaan lain?” Ujarku dengan nada yang mula menunjukkan kekesalanku. “Aku tidak suka kalau sedang sibuk seperti ini didatangi oleh.. kau.”
“Wae? Kau takut karena tidak bisa konsentrasi?” Dia tersenyum disudut bibirnya. Menunjukkan sisi ketampanan nya yang lain. Yang lagi- lagi tidak berkesan apapun olehku.
“Cih, memangnya sehebat apa kau sampai mengganggu konsentrasiku? Pergi sekarang juga atau aku akan panggilkan DongHae oppa untuk mengusirmu.”
“Memanggil DongHae oppamu?” alisnya terangkat sebelah. Dan dia pun sedikit mengeluarkan tawa. “Dia tidak akan datang, Jehee~a. aku yakin itu. Karena perusahaan dalam keadaan genting tidak bisa dinomor duakan hanya untuk menolongmu.”
“Keadaan genting?” aku akhirnya terpaksa untuk menoleh kearahnya. “Apa maksudmu?”
“Kau terlalu polos untuk menanyakan itu padaku.”
***
Cho Jehee’s bedroom
17:14 PM
Seoul, South Korea

HyunSun menghubungiku berkali – kali yang hanya aku respon dengan tombol merah. Mengingatya yang begitu menyukai DongHae oppa membuatku mencantumkan namanya dalam daftar orang orang yang akan aku matikan kalau saja Undang – Undang tentang pembunuhan dihilangkan.

Sampai akhirnya Ah-Ra eonni menyadarinya. Dia yang sedang berada di kamarku mulai merasa terusik dengan bunyi ponselku yang terus berdering. Aku sebenarnya tidak mengerti dengan ulahnya yang belakangan ini sering sekali mendatangi kamarku dan mengerecoki semua isinya.
“Yak, kau tidak berniat untuk mengangkatnya?” Ah-Ra eonni berdiri dari posisinya yang semula terduduk di lantai kamarku sambil membaca beberapa majalahku.
“Tidak sama sekali.” Sahutku cepat kemudian menyingkirkan ponselku menjauh dan melangkah menuju kasur untuk merebahkan diri.
Ah-Ra eonni melangkah menuju meja tempat aku meletakkan ponselku. Dia mengambilnya dan dengan cepat menyodorkannya ke telingaku setelah dia menekan tombol untuk menerima terfon tersebut.
Aku hanya bisa menatap kesal ke arahnya karena suara cempreng HyunSun sudah terdengar dari sambungan teleponnya.
“Kau nyaris terlambat untuk mengangkat telfon dariku, Jehee~a” Aku hanya mencibir tak bersuara setelah mendengarya.
“Memangnya kenapa? Apartemnt mu kebakaran? Atau.. Malaikat maut sudah ada didepan pintu rumahmu?” sahutku sekenanya. Yang direspon dengan mata Ah-Ra eonni yang membulat kearahku. Dia terlalu baik menjadi manusia sepertinya. Kalau kyuhyun oppa yang disampingku, pasti akan tersenyum puas melihat ulahku.
“Aniya. Ini masalah DongHae oppa.” Ujarnya yang mebuatku semakin memuncakan kekesalan padanya.
“Apa lagi? Kau kemarin tidak mendengar perkataan Ha Gun? Kalau aku..”
“Yeoja Chingunya? Hah, lelucon macam apa yang kau buat, Cho Jehee? Bahkan kalau kau benar – benar yeoja chingunya, lalu untuk apa dia berjalan bersama yeoja lain selainmu dengan sangat mesranya?bahkan dia bersedia untuk datang ke apartement yeoja itu”
Aku terdiam. Nyaris membeku mendengar perkataannya. “Yeoja lain? Maksudmu..?”
“Aku menghubungimu karena sekedar ingin menanyakan padamu. Minuman kesukaannya itu apa? Dan.. hal apa yang dia suka lakukan di waktu lenggangnya?”
“Apa maksudmu?” tanyaku yang masih dibingungkan dengan maksudnya.
“DongHae oppa datang ke apartementku. Dan kami sedang bersama. Kau.. tidak akan datang untuk bergabungkan? Karena itu akan merusak suasana kami berdua.”
“MWOYA?! Yak! Sung HyunSun, aku tidak tertarik dengan leluconmu.” Geramku kesal.
“aku tidak bergurau. Ini kenyataan. Kalau kau tidak percaya ya.. datang saja ke apartementku. Kali ini akan aku relakan untuk kau menghancurkan moment bahagiaku. Tapi kau harus menjawab pertanyaanku tadi, eo?”
“Strawberry juice, ice cream, menonton film.” Desisku dengan suara ku yang tersisa.
***
Cho Kyuhyun PoV
Aku terhenyak saat mendengar suara dentuman pintu yang terdengar dari pintu kamar Jehee. Membuatku yang baru saja berniat memasuki kamar terperangah olehnya. Kamar kami berhadapan, jadi aku sangat bisa mengontrol dan mengetahui apa saja yang dilakukannya.
Wajah mungilnya terlihat dipenuhi oleh air mata yang sepertinya diusapnya dengan asal. Wajahnya yang tertunduk dan rambut ikal panjangnya yang tergerai berantakan. Menunjukkan hal yang membuatku sangat menghawatirkannya. Dia bahkan tidak menyadari keberadaanku saat berjalan cepat keluar kamar.
Aku akhirnya memutuskan untuk mengikutinya dari belakang. Menyingkirkan rasa lelahku yang menumpuk untuk mengawasinya. Langkahnya menuju garasi rumah dan dia memasuki mobilnya kemudian mulai mengemudi dengan arah yang sedikit kacau.
Aku bergegas mengambil kunci mobil disakuku. Mengikutinya dari belakang. Aku bahkan mengikutinya dari jarak yag bisa dibilang mudah dijangkau dengan kaca spionnya. Tapi dia tidak menyadarinya sepertinya. Dia terus mengemudi dengan cepat dan berarah. Dan mulai menuju.. apartement HyunSun?
Sial, ini pasti ulah anak nakal itu lagi yang mencoba membuat Jehee berfikir yang tidak tidak. Dia pasti mencoba menjebak DongHae hyung dalam perangkapnya. Tadi sore aku sempat melihatnya ikut dalam mobil DongHae hyung. Dan sepertinya donghae hyung terlalu ramah untuk orang sepertinya. Yang bisa sewaktu waktu menjebaknya dalam kondisi yang sangat parah. Kehilangan yeoja dari genggamannya.
***
Lee DongHae PoV
Perasaanku mulai bercampur aduk. Entah kenapa firasatku berubah menjadi buruk ketika melihat HyunSun menutup sambungan telfon sambil tersenyum puas. Sepertinya ada hal yang membuatnya senang saat aku tinggal ke toilet tadi.
Malam ini dia hanya menawarkan untukku bertamu dengannya. Hanya ingin menjadi tetangga yang baik. Itu alasannya yang membuatku berfikir tidak ada salahnya untuk datang.
“Kau menyukai ice cream?” Tawarya sambil melangkah kearah dapur apartemennya. Yang hanya terpisah dengan meja bar panjang dari ruang tamu tempat aku duduk.
“Sangat. Kau.. bagaimana bisa mengetahuinya?” jawabku sambil memperhatikannya yang mengeluarkan ice cream dari lemari esnya.
“Hanya sekedar menebak dan menawarkan yang ada dalam lemari esku.” Ujarnya sambil tersenyum. Dia cukup manis. Tapi tidak begitu menarik untuk aku pandangi. Aku baru menyadari betapa tertariknya aku untuk sekedar menatap mata Jehee.
“Sangat jarang untuk seorang namja begitu menyukai ice cream. Bagaimana kau bisa menyukainya?” tanyanya
“Cho Jehee. Dia sangat menyukainya.” Jawabku singkat.
“Kau selalu menyukai hal yang disukainya, ya?” dia melangkah kea rah sofa disampingku dengan dua gelas yang sudah berisi ice cream.
Aku mengangguk kecil sambil menerima gelas yang disorokannya.
***
Cho Jehee PoV
Aku melangkah dengan berat menuju apartement HyunSun. Sebelumnya, aku sempat melewati apartment Donghae oppa yang sepertinya masih terkunci dan belum dimasuki olehnya.
Sebuah tangan menahanku saat aku akan menekan tombol bel apartement HyunSun.
“Kau sudah gila kalau mencoba masuk” Desis kyuhyun oppa yang tanpa aku sadari sudah berada dibelakangku. Dengan tangannya yang mencekram kuat lenganku.
“Wae? Aku hanya memastikan omongan HyunSun. Kalau salah aku akan pulang kalau benar…”
“Kalau benar? Kau akan apa? Ini hanya jebakan konyolnya saja, Jehee~a.”
“lepaskankan, oppa. Aku akan membuktikannya sendiri.” Aku berusaha membrontak dari cengkramannya. Yang sebenarnya akan sia sia karena tenaganya jauh lebih kuat dariku.
“Tidak perlu kau buktikan sekarang. Itu hanya akan membuat kesalah pahaman. Kau ikut aku pulang dengan tenang atau aku akan menyeretmu dengan paksa?”
“oppa, kalau kau benar ingin melindungiku, biarkan aku menegtahui semuanya. Atau.. kau sebenarnya sudah tahu dan hanya ingin membantunya?”
“Alasan apa yang tepat untuk aku melakukan itu padamu? Dia temanku? Sebaik apapun temanku, bahkan Lee Donghae sekalipun, kalau dia membuatmu menderita karena perlakuannya akan ku jadikan dia sperti makhluk hidup tak bernyawa.” Jelas Kyuhyun oppa. “sekarang, kau ikut aku pulang. Disini hanya akan membuang waktumu saja”
“Shireo~ya. Aku akan tetap membuktikannya.”
“CHO JEHEE!”
***
Han Ha Gun PoV
“Jangan terlalu sering berterima kasih kemudian tersenyum padaku. Aku tidak akan mungkin bisa terhidar dari dampaknya”
“Yepposeo, kau tetap cantik dengan pakaian apapun.. dimataku”
Kalimat itu selalu saja tergiang diantara kegiatan kosongku. Sangat mengganggu. Berkali – kali aku berusaha untuk berfikiran jernih dan menyadarkan diri dari kondisiku yang bisa dibilang sangat terlewat batas normal
Padahal baru saja aku kembali dari Korea setelah bertemu Kyuhyun sekitar dua hari yang lalu. seharusnya wajahnya, seharusnya senyumnya, seharusnya perkataannya yang menempel di otakku. Dan seingatku perkataan Kyuhyun jauuuhh lebih berarti dan keren. Tapi kenapa jadi perkataan Baekhyun yang terngiang?
Sahabat tidak berkemungkinan kecil untuk berubah menjadi pacar.
Sial. Perkataan Jehee sewaktu dulu saat dia bersama Kai menjadi pendukungku untuk berfikir bahwa..
“Kau kenapa?” wajah itu tiba tiba datang disaat yang menurutku sangat tidak tepat. Aku sedang terduduk dengan penuh ekspresi yang memalukan. Sebenarnya ini dampak dari kekesalanku yang mulai terkena pesona namja tampan dihadapanku.
“eo? Aniya, gwenchana” aku segera merubah rautku kembali dingin. Berusaha untuk tidak membalas tatapannya yang benar – benar terasa intens dihadapanku.
“Kau sudah makan?” tanyanya.
Sial, sial, sial. Kenapa aku malah mulai berfikir untuk membandingkannya dengan Kyuhyun yang tidak pernah menanyakan isi perutku?
“Belum.” Jawabku, “Mau makan siang bersama?”
Bodoh, Han Ha Gun kau terlalu bodoh, untuk apa kau menawarkan makan bersama? Semakin lama kau bersamanya, itu artinya.. tidak mengecilkan kemungkinan untuk.. semakin sulit mengatasi pesonanya?
***
                                                       TBC

selesaaaaaaaaaaaaaaaaaiii untuk part 4 :D maaf buat kalian nunggu lama ya. dan maaf juga. udah bikin nunggu lama, ffnya rada - rada-_-v
di part ini emang agak atau mungkin emang banyakan tentang Jehee & DongHaenya. tapi nanti di part selanjutnya, dijamin. DongJe couplennya sedikit tersingkir. soalnya ntar yg dipermasalahin urusan Ha Gun sama Kyuhyun yang gak selesai - selesai ._.v
yaudah deh, tunggu komen ajaaaa

1 komentar:

KyuMinJae mengatakan...

Annyeong Eonni.. ffnya keren seperti biasa. tpi tdi ada satu kata yg agak asing bagi ku "disorokannya" (Lee DOnghae's POV) kenapa g di ganti pake "disodorkannya", ini cuma saran ya jgn marah.
btw kasihan bgt masalah Kyu-Ha couple g selesai2 but i'll still waiting until the end of this fanfiction.
Finghting!!!