Kamis, 03 Januari 2013

I Choose to Love You (part2)



Sometimes, I’ll choose to be calm.
But sometimes, I can’t be calm.
Because of you.
I must keep you in my life. I’ll protect you.
So, don’t ask me how much worried I get.

Byun BaekHyun PoV
Mataku menatap marah kearah dua sosok yang tengah berada dalam gurauan teman teman. Salah satu dari mereka, menampilkan senyuman. Tapi satu yang lainnya hanya terdiam. Aku tahu, dia masih diantara kebingungan.
Tapi melihatnya yang tidak bergeming dan menghindar semakin merasa membuatku takut. Dan aku hanya bisa seperti ini. menatapnya dari tempatku. Walau sebenarnya tempat duduk kami berdekatan. Aku dengan yeoja yang ada diantara gurauan teman – teman kelasku. Hanya terpisah oleh lantai yang memberi jarak setiap barisan meja.
“Kau tidak tertarik untuk.. bergabung?” Kai, menepuk pundakku kemudian duduk kursi sampingku.
“Sama sekali tidak,” Jawabku. “Memangnya apa mengasikkannya meledeki mereka?”
“Hey, kau tidak tahu? Mereka baru saja berpacaran. Kemarin EunHyuk menyatakan perasaannya didepan kelas. Dan sepertinya HyunSun baru memberikan jawaban sehari setelahnya di akun twitter.” Tutur Kai yang berusaha menjelaskan padaku. “Bagaimana menurutmu? Apa mereka cocok?”
“Tidak.” Jawabku singkat.
“Wae? Mereka berdua terlihat serasi menurutku.” Protes Kai.
“Kau memangnya tidak bisa melihat? HyunSun hanya terdiam sedang EunHyuk tersenyum senyum sendiri. Apanya yang serasi, hah?” aku berdiri dari dudukku. Kemudian berjalan keluar kelas untuk mencari suasana baru. Membiarkan Kai yang masih terdiam dalam keheranannya pada sikapku.
Sedikit merasa bersalah dan menyesal pada diriku senidiri. Kalau saja beberapa waktu lalu aku bisa menahan diri untuk tidak meluapkan ke cemburuanku saat matanya terus saja menatap HyunSun. Kalau saja saat itu aku tidak menyindirnya kalau dia menyukai HyunSun, mungkin dia tidak akan menyatakan perasaannya saat ulang tahun HyunSun. Dan aku, bisa bersamanya dengan tenang.
***

Sung HyunSun PoV
Tanganku membolak balik remot DVD yang hanya menyala begitu saja. Tanpa ada minat untuk aku tonton. Padahal, kalau dipikir – pikir biasanya aku akan mengulang sampai dua atau tiga puluh kali. Tapi kali ini, hanya sampai setengahnya, kemudian aku cepatkan. Seperempatnya, sampai akhirnya aku memutuskan untuk mematikannya.
Video ini bahkan sangat lagka. Hadiah ulang tahunku dari kyuhyun  oppa. D.O oppa menyemangatiku dengan memberikan suaranya secara Cuma – Cuma untukku. Dia bahkan berpakaian dengan gaya yang sangat aku sukai. Yang biasanya bisa membuatku tak berkedip berjam – jam. Sekarang, pikiranku malah melayang kearah lain.
Byun BaekHyun. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa setenang itu. Membiarkanku dan berjanji untuk tidak mengusik permasalahan dan berbagai urusanku dengan HyukJae. Tapi, tatapan mata terakhirnya membuatku sulit untuk terlepas darinya. Terbesit rasa kecewa dan marah yang bercampur dengan penyesalannya.
“Sejak kapan D.O menjadi membosankan untukmu?” Kyuhyun oppa masuk ke kamarku sembari melepar beberapa buku pelajaran ke lantai. Kemudian duduk dihadapanku.
“Apa aku masih harus belajar?” mataku mentap malas kearah tumpukan buku dan soal yang sudah siap. “Oppa, kenapa kau begitu semangat mengajariku sedang aku sendiri sedang tidak ada semangat belajar sedikitpun”
“Bukannya kau selalu ada alasan untuk mood belajarmu? Kau pikir aku tidak tahu?” Kyuhyun oppa menghiraukanku kemudian membuka beberapa buku untuk dibahasnya. “Aku hanya tidak ingin mempunyai saudara yang bodoh, itu saja.”
“Sinjjayeo oppa, aku benar – benar dalam keadaan tak bernyawa sekarang.” Ujarku dengan wajah memelas.
Mata kyuhyun oppa membulat. “Jadi? Kau sedari tadi sudah mati dan yang sekarang ini adalah.. arwah Sung HyunSun?”
Dengan cepat aku melesatkan jitakan pada keningnya. “Yak Kyuhyun oppa! Bukan itu maksudku!” hentakku kesal.
“Lalu kenapa?” tanyanya setelah ringisannya berhenti. “Kau sudah didatangi malaikat mautmu? Kau mendapat mimpi buruk tentang kematianmu atau kau.. sedang di terror oleh orang yang berniat untuk membunuhmu?”
“Ck, aku sampai tidak habis pikir, bagaimana bisa otak se krimanal sepertimu bisa ahli dalam bidang matematika?” dengsuku sembari mengambil asal buku dihadapanku. “Bahkan sekarang kau sudah mempunyai banyak penggemar? Sewaras apa penggemarmu itu samapi bisa tergila – gila denganmu, huh?”
“Itu memang khusus untuk orang jenius dan memesona sepertiku.” Sahutnya. “Ceritakan padaku sebelum kita belajar. Atau aku akan menyita semua barang yang bersangkutan dengan D.O dengan alasan pada ibumu kau malas belajar belakangan ini?”
“Ck, baiklah.” Aku meletakkan kembali buku yang kuambil. “Namja yang sewaktu itu menyatakan perasaannya saat ulang tahunku, kau ingat?”
***
Cho Jehee PoV
Mataku terbuka lebar. Entah bagaimana bisa aku baru menyadari sosok yang tengah duduk di kursi bar sedari tadi itu adalah orang yang kukenal. Sangat mengenalnya. Byun BaekHyun. Namja chingu asli HyunSun, sepupuku.
Aku pun akhirnya memustuskan untuk menghampirinya. “BaekHyun~a, apa yang kau lakukan disini,eo?”
Mata lelah BaekHyun membalas tatapan ku. Sedikit membuat diriku terkejut dengan melihat kondisi BaekHyun sekarang. Dia.. menangis?
“Hanya ingin menenangkan diri. Kau?” jawabnya dengan suara samarnya.
“Kebetulan Kyuhyun oppa sedang berkumpul dengan member Super Junior lainnya disini.” Jelasku. “Gwenchana? Sepertinya kau sedang.. tidak dalam kondisi yang baik.”
Dia tersenyum kecut. “Memangnya kapan aku bisa dalam kondisi baik?”
“Setiap hari. Dan setiap saat kalau kau mau.” Jawabku.
“Ck, omong kosong apa yang kau buat?” Desisnya, “Kau seperti tidak tahu aku saja, Jehee~a. hanya mengisi hari dengan kekosongan, duduk terdiam dikelas. Memilih untuk membaca buku atau berlatih dance atau bermain basket. Sendiri. Tidak ada yang mau menemaniku. Selain Kai yang mungkin sesekali mau menemaniku kalau dia ingin atau bisa.”
“Kau tidak akan merasa sendiri kalau kau mau mencoba terbuka dengan teman – teman lain.” Aku mengambil segelas jus yang sempat ku pesan sebelum menghampirinya.
“Jujur saja, aku sempat menemukan waktu terbahagiaku. Dimana ada sosok yang selalu mengisi waktu kosongku. Walaupun dia tak ada didekatku, tapi hatiku terasa penuh, otakku terasa penuh,diisi dengan semua tentangnya.” Dia menghela napas beratnya. “Tapi sayang itu tidak berlaku lama untukku. Hanya satu minggu.”
“HyunSun, maksudmu?” tanyaku dengan nada yang ragu.
Dia menegakkan tubuhnya spontan karena sepertinya terkejut. “Aku pikir.. dia bukan orang yang akan mudah bercerita dengan siapapun tentang.. apapun yang dia rasakan?”
“Kalau denganku, Kyuhyun oppa, tidak akan ada rahasia diantara kami. Sebisa apapun kami bertiga merahasiakannya, pasti akhirnya kami akan bertukar cerita. Itu kebiasaan kami.. dari kecil” Jelasku.
“Apa saja yang dia katakan padamu tentangku? Semuanya?”
Aku mengangguk kecil. “Tentu saja.”
***
Lagi, Hujan sangat berarti.
Membiarkan mereka yang takut menjadi aman.
Membiarkan mereka yang berlindung menjadi terlindungi.
Hujan boleh saja terkesan menangis.
Tapi hujan sebenarnya bebahagia.
Membiarkan mereka yang menyukai hujan
Mendapatkan sebuah kesenangan ditengah derasnya.

7 November 2012
19 : 19
Seoul, South Korea
Malam ini kembali hujan. Membasahi jalan setapak yang HyunSun lewati. Genangan air yang tertinggal pada beberapa jalan berlubang membuatnya sulit untuk berjalan cepat menghindari hujan.

Telapak tangannya digunakan sebagai peneduh kepalanya yang sebenarnya tidak terlalu membantu. Tapi itu adalah pilihan terakhirnya. Mau tidak mau dia harus merelakan pakaian dan tas kecilnya menjadi basah. Tapi tangan satunya berusaha mengapit selembar poster D.O yang sangat diamankannya dari hujan deras.
Sebenarnya salah dia sendiri yang tidak mau diantarkan oleh Kyuhyun oppa yang menawarkannya. Untuk mengantarkannya ke acara Fans clubya. Tapi setidaknya ini lebih baik menurutnya daripada mendengar ocehan Kyuhyun oppa yang selalu saja tidak menyukai kenyataan. Bahwa dia lebih mengidolakan D.O daripada dia atau member Super Junior lainnya.
Tiba – tiba langkahnya terhenti. Dihentikan oleh perasaannya yang cukup menghentakkannya. Bagaimana perasaan itu, sulit untuk digambarkan. Perasaan yang cukup membuatnya tenang dibawah derasnya hujan dan aman.
Tetesan air hujan mulai terhenti membasahi tubuhnya. Matanya teralih pada tangan yang menggenggam sebuah payung yang berukuran besar. Sosok yang cukup tinggi berdiri disampingnya. Butuh beberapa detik untuk dia mengenali sosok tersebut.
“Jangan merasa hebat untuk hujan – hujanan sendiri di tengah derasya hujan dan gelapnya malam.” Ujar sosok namja itu kemudian melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Mejajarkan langkah dengan yeoja disampingnya.
Sebenarnya dia hanya kebetulan lewat saja. Sepulang dari membeli beberapa makanan ringan untuk camilannya. Tapi firasatnya begitu kuat untuk bertemu yeoja disampingnya. Sampai dia merelakan diri ke minimarket terdekat.
Memang benar, mereka bertemu di jalan setapak menuju rumah masing – masing. Yang sebenarnya memang se arah.
“Kau bagaimana bisa ada disini?” Tanya HyunSun disampingnya yang masih saja memeluk rapat sebuah kertas berukuran besar.
“Hanya sedang keluar membeli camilan.” Jawab namja itu yang kemudian mengulurkan tangan satunya untuk membantu yeoja itu menutupi kertas tersebut dengan menarik rapat jaketnya.
“Keluar dengan dengan hujan sederas ini?” Tanya HyunSun yang membalas bantuan namja itu dengan ulasan senyumnya.
“Sebenarnya bukan sepenuhnya karena aku lapar,” Jelasnya. “Kau yakin dengan yang namanya sebuah firasat? Sesuatu perasaan yang berhubungan dengan hati. Kemampuan seseorang untuk merasakan hal yang akan terjadi.”
HyunSun mengangguk sebagai tanda dia mengerti.
“Dan aku keluar malam, dengan kondisi hujan deras ini karena firasat,” Lanjutnya. “Firasat yang menuntunku ke jalan sebuah takdir. Yaitu firasat untuk bertemu denganmu. Kau percaya dengan takdir?”
HyunSun terdiam sejenak sebelum akhirnya dia kembali mengangguk kecil.
“Kalau begitu, kau berarti juga mempercayai takdir kita. Antara kau, dan aku. Pasangan yang terikat kuat dalam takdir.”
Kala hujan menangis, hati mereka tersenyum.
Kala hujan terdiam dalam derasnya, mereka coba untuk mengerti.
Penjelasan dari setiap kata yang keluar.
Antara kau, dan aku. Antara hujan, dan takdir.
***
EunHyuk PoV
Kali ini tatapannya mengarah jelas padaku. Tapi bukan keadaan senang yang aku dapatkan. Malah ketakutan yang sangat menumpuk pada perasaanku. Perkiraan hanya ada dua.
Dia menatapku karena dia memang sudah mulai menyukaiku. Atau dia menatapku karena dia ingin mengatakan sesuatu hal yang sangat serius. Seperti meninggalkanku. Mengatakan selamat tinggal.
“Mianhae,” HyunSun mulai berbicara, “Untuk aku yang tidak bisa bertahan lama denganmu. Dua minggu. Adalah waktu yang cukup lama untukku.”
Dia terdiam sejenak sebelum melanjutkan perkataannya. “Untuk meninggalkan sebuah hal yang benar – benar menjadi alasanku hidup, alasanku tersenyum, dan alasanku untuk.. terus menjadi yeoja yang terbaik. Di matanya.”
“Kau..” aku berujar dengan sedikit ragu. “Sudah mempunyai.. Namja Chingu?”
HyunSun mengangguk sambil tersenyum. “Kemarin aku terlalu bingung untuk menolakmu, jadi.. maaf.”
“Gwenchana. lima hari menjadi namja bohonganmu saja sudah membuatku merasa senang.” Jawabku berusaha setenang mungkin. “Aku yang seharusnya meminta maaf padamu. Karena..”
“Tidak apa – apa, ini bukan salahmu.” Potong HyunSun cepat.
“Kalau boleh aku tau, siapa namja chingumu?”
“BaekHyun. Byun BaekHyun.”
***
All for you
It’s already been a few days since you haven’t called
Do you know that it’s my birthday soon?
But time keeps ticking without concern
Because I was more worried than annoyed
I went to the entrance of your street without planning it
I didn’t think I’d see you but you greeted me with a smile
Actually, I worried about this a lot
Because I had nothing I could do for you
Even though I lack so much and I don’t have much
Will you still accept me?
For you, only for you
I might not be able to give you the whole world but
Now I will promise only to you
I will be a person who is only for you
It’s only for you just wanna be for you
You just need to stay by my side just as you are right now
Even if I’m born again
I want to look at only you forever
You don’t know but it was a bit hard for me
Am I the right person for you?
And even if I’m not the one but it’s another person
I want to throw away that feeling now
Love  in my small heart  I want to fill it up with your scent
So even if I’m eternally trapped inside
I can be happy
For you
(Seo In Guk ft. Jung Eunji – All for you Eng.Translation)
Sung HyunSun PoV
Malam ini aku memutuskan untuk menemuinya kembali. Mengambil resiko untuk penolakannya bertatap muka dengan ku lagi. Entah dia marah denganku atau dia benar – benar menepati janjinya untuk tidak mengusik urusanku dengan EunHyuk.
Setelah lima hari penderitaanku. Mencoba bertahan dengan kondisi yang sangat sulit. Hanya bisa saling membalas tatapan dalam diam. Merespon segala hal hanya dengan tatapan singkat.
“BaekHyun~ssi,” sergahku saat melihatnya keluar dari tempat latihannya. “Boleh kita berbicara sebentar?”
Dia melangkah mendekat ke arahku. Mengangguk kecil, dan kemudian melakukan hal yang benar – benar diluar dugaanku. Dia menggenggam tanganku sambil meletakkan kepalanya bersandar dipundakku. Dan menyuruhku untuk duduk disalah satu kursi panjang yang ada.
“Kalau disini tidak apa – apa, kan?” ujarnya yang kemudian menghela napas beratnya. Menunjukkan betapa lelahnya dia saat ini. tangannya masih menggenggam erat tangaku.
Aku hanya bisa mengangguk kecil. Berusaha mengerti maksudnya dengan keadaanku yang tidak normal. Pikiranku kosong begitu saja, dan jantungku bekerja tanpa kendaliku.
“Tidak akan ada EunHyukmu, teman – teman sekelas yang mendukung EunSun couple, Jadi tidak apa – apa kan?” ujarnya lagi seolah mengerti aku yang masih kurang mengerti.
Aku mengangguk kembali. “Sekarang, kau kalau mau seperti ini di depan mereka juga bisa.” Aku sedikit mengumpat dalam hati, menyadari kebodohanku yang meluncurkan kalimat begitu saja.
BaekHyun kembali menghela napasnya. “Mianhae, ini salahku. Tidak seharusnya aku memojokkan EunHyuk sewaktu itu yang sama saja memaksanya untuk menyatakan perasaannya padamu. Ini semua kebodohanku, kalau saja aku bisa menahan kecemburuanku waktu itu, menahan ketakutan dan kemarahanku, akan matanya yang selalu saja menatapmu, nyaris sama seperti cara aku menatapmu, mungkin ini semua tidak akan terjadi.”
“Sewaktu kau memutuskan untuk menyutujuinya menjadi yeoja chingu palsunya, aku benar – benar marah. Marah pada diriku sendiri yang terlalu bodoh untuk menjagamu. Yang membiarkan dengan mudah menyerahkan sosok yang sangat aku pertahankan dalam hidupku pada seorang namja lain.”
Keadaan menjadi hening sejenak sebelum akhirnya aku mulai angkat bicara. “Dia tidak menatapku dengan tatapan yang nyaris sama denganmu. Sangat berbeda.”
BaekHyun mengangkat kepalanya dari pundakku, dan beralih menjadi menatapku. “Kalau tatapanmu, sanga sulit untuk digambarkan. Sekedar menggambarkan bagaimana cara mu menatapku, atau dampak dari tatapanmu padaku.” Lanjutku yang kemudian mulai membalas tatapannya. “Berbeda dengan dia yang sangat mudah dimengerti. Kalau dia benar – benar menginginkanku. Tatapan yang penuh ketertarikan, tapi lebih kepada tatapan kasar yang tak berbekas sama sekali.”
“Kau dengannya juga sangat berbeda. Dia akan dengan mudahnya menyerah dan merasa cukup hanya dengan lima hari menjadi namja chinguku. Tidak seperti kau yang diam, tapisebenarnya sangat mengusahakan untuk aku kembali.”
“Lalu?” dia menegakkan tubuhnya. “Apa kau sudah benar – benar memutuskan untuk kembali? Pada namja yang jauh lebihh menginginkanmu, membutuhkanmu dari namja –namja lain?”
Aku mengangguk mantap. “Kemarin aku sudah menyatakan putus sebagai yeoja chingu palsunya. Dan besok pagi, aku memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya. Sekaligus memberitahu mereka yang tidak tahu menjadi tahu kalau namja chingu asliku adalah.. kau.”
BaekHyun tersenyum sngkat hingga akhirnya dia mearikku dalam pelukan hangatnya. “Gomawo, sinjja gomawo jagiya~. Untuk hidup menjadi gadis terbaik untukku”
-END-
Kyaaa selesai :D akhirnya selesai juga, HyunSun~~a. thanks, udah mengispirasi aku buat bikin new FanFiction *halah-_- maaf juga nih, endingnya gak mirip sama aslinya cerita kamu. habis ceritanya telaaatt ffnya keburu jadi duluan kan-_-v 
Komen, aku tunggu yaaaa.

Tidak ada komentar: