Sometimes, I’ll choose to be calm.
But sometimes, I can’t be calm.
Because of you.
I must keep you in my life. I’ll protect you.
So, don’t ask me how much worried I get.
Byun BaekHyun PoV
Mataku menatap marah
kearah dua sosok yang tengah berada dalam gurauan teman teman. Salah satu dari
mereka, menampilkan senyuman. Tapi satu yang lainnya hanya terdiam. Aku tahu,
dia masih diantara kebingungan.
Tapi melihatnya yang
tidak bergeming dan menghindar semakin merasa membuatku takut. Dan aku hanya
bisa seperti ini. menatapnya dari tempatku. Walau sebenarnya tempat duduk kami
berdekatan. Aku dengan yeoja yang ada diantara gurauan teman – teman kelasku.
Hanya terpisah oleh lantai yang memberi jarak setiap barisan meja.
“Kau tidak tertarik
untuk.. bergabung?” Kai, menepuk pundakku kemudian duduk kursi sampingku.
“Sama sekali tidak,”
Jawabku. “Memangnya apa mengasikkannya meledeki mereka?”
“Hey, kau tidak tahu?
Mereka baru saja berpacaran. Kemarin EunHyuk menyatakan perasaannya didepan
kelas. Dan sepertinya HyunSun baru memberikan jawaban sehari setelahnya di akun
twitter.” Tutur Kai yang berusaha menjelaskan padaku. “Bagaimana menurutmu? Apa
mereka cocok?”
“Tidak.” Jawabku
singkat.
“Wae? Mereka berdua
terlihat serasi menurutku.” Protes Kai.
“Kau memangnya tidak
bisa melihat? HyunSun hanya terdiam sedang EunHyuk tersenyum senyum sendiri.
Apanya yang serasi, hah?” aku berdiri dari dudukku. Kemudian berjalan keluar
kelas untuk mencari suasana baru. Membiarkan Kai yang masih terdiam dalam
keheranannya pada sikapku.
Sedikit merasa bersalah
dan menyesal pada diriku senidiri. Kalau saja beberapa waktu lalu aku bisa
menahan diri untuk tidak meluapkan ke cemburuanku saat matanya terus saja
menatap HyunSun. Kalau saja saat itu aku tidak menyindirnya kalau dia menyukai
HyunSun, mungkin dia tidak akan menyatakan perasaannya saat ulang tahun
HyunSun. Dan aku, bisa bersamanya dengan tenang.
***
Sung HyunSun PoV
Tanganku membolak balik
remot DVD yang hanya menyala begitu saja. Tanpa ada minat untuk aku tonton.
Padahal, kalau dipikir – pikir biasanya aku akan mengulang sampai dua atau tiga
puluh kali. Tapi kali ini, hanya sampai setengahnya, kemudian aku cepatkan.
Seperempatnya, sampai akhirnya aku memutuskan untuk mematikannya.
Video ini bahkan sangat
lagka. Hadiah ulang tahunku dari kyuhyun
oppa. D.O oppa menyemangatiku dengan memberikan suaranya secara Cuma –
Cuma untukku. Dia bahkan berpakaian dengan gaya yang sangat aku sukai. Yang
biasanya bisa membuatku tak berkedip berjam – jam. Sekarang, pikiranku malah
melayang kearah lain.
Byun BaekHyun. Aku
tidak tahu bagaimana dia bisa setenang itu. Membiarkanku dan berjanji untuk
tidak mengusik permasalahan dan berbagai urusanku dengan HyukJae. Tapi, tatapan
mata terakhirnya membuatku sulit untuk terlepas darinya. Terbesit rasa kecewa
dan marah yang bercampur dengan penyesalannya.
“Sejak kapan D.O
menjadi membosankan untukmu?” Kyuhyun oppa masuk ke kamarku sembari melepar
beberapa buku pelajaran ke lantai. Kemudian duduk dihadapanku.
“Apa aku masih harus
belajar?” mataku mentap malas kearah tumpukan buku dan soal yang sudah siap.
“Oppa, kenapa kau begitu semangat mengajariku sedang aku sendiri sedang tidak ada
semangat belajar sedikitpun”
“Bukannya kau selalu
ada alasan untuk mood belajarmu? Kau pikir aku tidak tahu?” Kyuhyun oppa
menghiraukanku kemudian membuka beberapa buku untuk dibahasnya. “Aku hanya
tidak ingin mempunyai saudara yang bodoh, itu saja.”
“Sinjjayeo oppa, aku
benar – benar dalam keadaan tak bernyawa sekarang.” Ujarku dengan wajah
memelas.
Mata kyuhyun oppa
membulat. “Jadi? Kau sedari tadi sudah mati dan yang sekarang ini adalah..
arwah Sung HyunSun?”
Dengan cepat aku
melesatkan jitakan pada keningnya. “Yak Kyuhyun oppa! Bukan itu maksudku!”
hentakku kesal.
“Lalu kenapa?” tanyanya
setelah ringisannya berhenti. “Kau sudah didatangi malaikat mautmu? Kau
mendapat mimpi buruk tentang kematianmu atau kau.. sedang di terror oleh orang
yang berniat untuk membunuhmu?”
“Ck, aku sampai tidak
habis pikir, bagaimana bisa otak se krimanal sepertimu bisa ahli dalam bidang
matematika?” dengsuku sembari mengambil asal buku dihadapanku. “Bahkan sekarang
kau sudah mempunyai banyak penggemar? Sewaras apa penggemarmu itu samapi bisa
tergila – gila denganmu, huh?”
“Itu memang khusus
untuk orang jenius dan memesona sepertiku.” Sahutnya. “Ceritakan padaku sebelum
kita belajar. Atau aku akan menyita semua barang yang bersangkutan dengan D.O
dengan alasan pada ibumu kau malas belajar belakangan ini?”
“Ck, baiklah.” Aku
meletakkan kembali buku yang kuambil. “Namja yang sewaktu itu menyatakan
perasaannya saat ulang tahunku, kau ingat?”
***
Cho Jehee PoV
Mataku terbuka lebar.
Entah bagaimana bisa aku baru menyadari sosok yang tengah duduk di kursi bar
sedari tadi itu adalah orang yang kukenal. Sangat mengenalnya. Byun BaekHyun.
Namja chingu asli HyunSun, sepupuku.
Aku pun akhirnya
memustuskan untuk menghampirinya. “BaekHyun~a, apa yang kau lakukan disini,eo?”
Mata lelah BaekHyun
membalas tatapan ku. Sedikit membuat diriku terkejut dengan melihat kondisi
BaekHyun sekarang. Dia.. menangis?
“Hanya ingin
menenangkan diri. Kau?” jawabnya dengan suara samarnya.
“Kebetulan Kyuhyun oppa
sedang berkumpul dengan member Super Junior lainnya disini.” Jelasku.
“Gwenchana? Sepertinya kau sedang.. tidak dalam kondisi yang baik.”
Dia tersenyum kecut.
“Memangnya kapan aku bisa dalam kondisi baik?”
“Setiap hari. Dan
setiap saat kalau kau mau.” Jawabku.
“Ck, omong kosong apa
yang kau buat?” Desisnya, “Kau seperti tidak tahu aku saja, Jehee~a. hanya
mengisi hari dengan kekosongan, duduk terdiam dikelas. Memilih untuk membaca
buku atau berlatih dance atau bermain basket. Sendiri. Tidak ada yang mau
menemaniku. Selain Kai yang mungkin sesekali mau menemaniku kalau dia ingin
atau bisa.”
“Kau tidak akan merasa
sendiri kalau kau mau mencoba terbuka dengan teman – teman lain.” Aku mengambil
segelas jus yang sempat ku pesan sebelum menghampirinya.
“Jujur saja, aku sempat
menemukan waktu terbahagiaku. Dimana ada sosok yang selalu mengisi waktu
kosongku. Walaupun dia tak ada didekatku, tapi hatiku terasa penuh, otakku
terasa penuh,diisi dengan semua tentangnya.” Dia menghela napas beratnya. “Tapi
sayang itu tidak berlaku lama untukku. Hanya satu minggu.”
“HyunSun, maksudmu?”
tanyaku dengan nada yang ragu.
Dia menegakkan tubuhnya
spontan karena sepertinya terkejut. “Aku pikir.. dia bukan orang yang akan
mudah bercerita dengan siapapun tentang.. apapun yang dia rasakan?”
“Kalau denganku,
Kyuhyun oppa, tidak akan ada rahasia diantara kami. Sebisa apapun kami bertiga
merahasiakannya, pasti akhirnya kami akan bertukar cerita. Itu kebiasaan kami..
dari kecil” Jelasku.
“Apa saja yang dia
katakan padamu tentangku? Semuanya?”
Aku mengangguk kecil.
“Tentu saja.”
***
Lagi,
Hujan sangat berarti.
Membiarkan
mereka yang takut menjadi aman.
Membiarkan
mereka yang berlindung menjadi terlindungi.
Hujan
boleh saja terkesan menangis.
Tapi
hujan sebenarnya bebahagia.
Membiarkan
mereka yang menyukai hujan
Mendapatkan
sebuah kesenangan ditengah derasnya.
7 November 2012
19 : 19
Seoul, South Korea
Malam ini kembali hujan. Membasahi jalan setapak yang HyunSun
lewati. Genangan air yang tertinggal pada beberapa jalan berlubang membuatnya
sulit untuk berjalan cepat menghindari hujan.
Telapak
tangannya digunakan sebagai peneduh kepalanya yang sebenarnya tidak terlalu
membantu. Tapi itu adalah pilihan terakhirnya. Mau tidak mau dia harus
merelakan pakaian dan tas kecilnya menjadi basah. Tapi tangan satunya berusaha
mengapit selembar poster D.O yang sangat diamankannya dari hujan deras.
Sebenarnya
salah dia sendiri yang tidak mau diantarkan oleh Kyuhyun oppa yang
menawarkannya. Untuk mengantarkannya ke acara Fans clubya. Tapi setidaknya ini
lebih baik menurutnya daripada mendengar ocehan Kyuhyun oppa yang selalu saja
tidak menyukai kenyataan. Bahwa dia lebih mengidolakan D.O daripada dia atau
member Super Junior lainnya.
Tiba – tiba
langkahnya terhenti. Dihentikan oleh perasaannya yang cukup menghentakkannya.
Bagaimana perasaan itu, sulit untuk digambarkan. Perasaan yang cukup membuatnya
tenang dibawah derasnya hujan dan aman.
Tetesan air
hujan mulai terhenti membasahi tubuhnya. Matanya teralih pada tangan yang
menggenggam sebuah payung yang berukuran besar. Sosok yang cukup tinggi berdiri
disampingnya. Butuh beberapa detik untuk dia mengenali sosok tersebut.
“Jangan
merasa hebat untuk hujan – hujanan sendiri di tengah derasya hujan dan gelapnya
malam.” Ujar sosok namja itu kemudian melanjutkan langkahnya yang sempat
terhenti. Mejajarkan langkah dengan yeoja disampingnya.
Sebenarnya
dia hanya kebetulan lewat saja. Sepulang dari membeli beberapa makanan ringan
untuk camilannya. Tapi firasatnya begitu kuat untuk bertemu yeoja disampingnya.
Sampai dia merelakan diri ke minimarket terdekat.
Memang benar,
mereka bertemu di jalan setapak menuju rumah masing – masing. Yang sebenarnya
memang se arah.
“Kau
bagaimana bisa ada disini?” Tanya HyunSun disampingnya yang masih saja memeluk
rapat sebuah kertas berukuran besar.
“Hanya sedang
keluar membeli camilan.” Jawab namja itu yang kemudian mengulurkan tangan
satunya untuk membantu yeoja itu menutupi kertas tersebut dengan menarik rapat
jaketnya.
“Keluar
dengan dengan hujan sederas ini?” Tanya HyunSun yang membalas bantuan namja itu
dengan ulasan senyumnya.
“Sebenarnya
bukan sepenuhnya karena aku lapar,” Jelasnya. “Kau yakin dengan yang namanya
sebuah firasat? Sesuatu perasaan yang berhubungan dengan hati. Kemampuan
seseorang untuk merasakan hal yang akan terjadi.”
HyunSun
mengangguk sebagai tanda dia mengerti.
“Dan aku
keluar malam, dengan kondisi hujan deras ini karena firasat,” Lanjutnya.
“Firasat yang menuntunku ke jalan sebuah takdir. Yaitu firasat untuk bertemu
denganmu. Kau percaya dengan takdir?”
HyunSun
terdiam sejenak sebelum akhirnya dia kembali mengangguk kecil.
“Kalau
begitu, kau berarti juga mempercayai takdir kita. Antara kau, dan aku. Pasangan
yang terikat kuat dalam takdir.”
Kala
hujan menangis, hati mereka tersenyum.
Kala
hujan terdiam dalam derasnya, mereka coba untuk mengerti.
Penjelasan
dari setiap kata yang keluar.
Antara
kau, dan aku. Antara hujan, dan takdir.
***
EunHyuk PoV
Kali ini tatapannya
mengarah jelas padaku. Tapi bukan keadaan senang yang aku dapatkan. Malah
ketakutan yang sangat menumpuk pada perasaanku. Perkiraan hanya ada dua.
Dia menatapku karena
dia memang sudah mulai menyukaiku. Atau dia menatapku karena dia ingin
mengatakan sesuatu hal yang sangat serius. Seperti meninggalkanku. Mengatakan
selamat tinggal.
“Mianhae,” HyunSun
mulai berbicara, “Untuk aku yang tidak bisa bertahan lama denganmu. Dua minggu.
Adalah waktu yang cukup lama untukku.”
Dia terdiam sejenak
sebelum melanjutkan perkataannya. “Untuk meninggalkan sebuah hal yang benar –
benar menjadi alasanku hidup, alasanku tersenyum, dan alasanku untuk.. terus
menjadi yeoja yang terbaik. Di matanya.”
“Kau..” aku berujar
dengan sedikit ragu. “Sudah mempunyai.. Namja Chingu?”
HyunSun mengangguk
sambil tersenyum. “Kemarin aku terlalu bingung untuk menolakmu, jadi.. maaf.”
“Gwenchana. lima hari
menjadi namja bohonganmu saja sudah membuatku merasa senang.” Jawabku berusaha
setenang mungkin. “Aku yang seharusnya meminta maaf padamu. Karena..”
“Tidak apa – apa, ini
bukan salahmu.” Potong HyunSun cepat.
“Kalau boleh aku tau,
siapa namja chingumu?”
“BaekHyun. Byun
BaekHyun.”
***
All for you
It’s already been a few days since you haven’t called
Do you know that it’s my birthday soon?
But time keeps ticking without concern
Because I was more worried than annoyed
I went to the entrance of your street without planning it
I didn’t think I’d see you but you greeted me with a smile
It’s already been a few days since you haven’t called
Do you know that it’s my birthday soon?
But time keeps ticking without concern
Because I was more worried than annoyed
I went to the entrance of your street without planning it
I didn’t think I’d see you but you greeted me with a smile
Actually, I worried about this a lot
Because I had nothing I could do for you
Even though I lack so much and I don’t have much
Will you still accept me?
Because I had nothing I could do for you
Even though I lack so much and I don’t have much
Will you still accept me?
For you, only for you
I might not be able to give you the whole world but
Now I will promise only to you
I will be a person who is only for you
I might not be able to give you the whole world but
Now I will promise only to you
I will be a person who is only for you
It’s only for you just wanna be for you
You just need to stay by my side just as you are right now
Even if I’m born again
I want to look at only you forever
You just need to stay by my side just as you are right now
Even if I’m born again
I want to look at only you forever
You don’t know but it was a bit hard for me
Am I the right person for you?
And even if I’m not the one but it’s another person
I want to throw away that feeling now
Am I the right person for you?
And even if I’m not the one but it’s another person
I want to throw away that feeling now
Love in my small heart I want to fill it up with your scent
So even if I’m eternally trapped inside
I can be happy
So even if I’m eternally trapped inside
I can be happy
For you
(Seo In Guk ft. Jung Eunji – All for you
Eng.Translation)
Sung HyunSun PoV
Malam ini aku
memutuskan untuk menemuinya kembali. Mengambil resiko untuk penolakannya
bertatap muka dengan ku lagi. Entah dia marah denganku atau dia benar – benar
menepati janjinya untuk tidak mengusik urusanku dengan EunHyuk.
Setelah lima hari
penderitaanku. Mencoba bertahan dengan kondisi yang sangat sulit. Hanya bisa
saling membalas tatapan dalam diam. Merespon segala hal hanya dengan tatapan
singkat.
“BaekHyun~ssi,”
sergahku saat melihatnya keluar dari tempat latihannya. “Boleh kita berbicara
sebentar?”
Dia melangkah mendekat
ke arahku. Mengangguk kecil, dan kemudian melakukan hal yang benar – benar
diluar dugaanku. Dia menggenggam tanganku sambil meletakkan kepalanya bersandar
dipundakku. Dan menyuruhku untuk duduk disalah satu kursi panjang yang ada.
“Kalau disini tidak apa
– apa, kan?” ujarnya yang kemudian menghela napas beratnya. Menunjukkan betapa
lelahnya dia saat ini. tangannya masih menggenggam erat tangaku.
Aku hanya bisa
mengangguk kecil. Berusaha mengerti maksudnya dengan keadaanku yang tidak
normal. Pikiranku kosong begitu saja, dan jantungku bekerja tanpa kendaliku.
“Tidak akan ada
EunHyukmu, teman – teman sekelas yang mendukung EunSun couple, Jadi tidak apa –
apa kan?” ujarnya lagi seolah mengerti aku yang masih kurang mengerti.
Aku mengangguk kembali.
“Sekarang, kau kalau mau seperti ini di depan mereka juga bisa.” Aku sedikit
mengumpat dalam hati, menyadari kebodohanku yang meluncurkan kalimat begitu
saja.
BaekHyun kembali
menghela napasnya. “Mianhae, ini salahku. Tidak seharusnya aku memojokkan
EunHyuk sewaktu itu yang sama saja memaksanya untuk menyatakan perasaannya
padamu. Ini semua kebodohanku, kalau saja aku bisa menahan kecemburuanku waktu
itu, menahan ketakutan dan kemarahanku, akan matanya yang selalu saja
menatapmu, nyaris sama seperti cara aku menatapmu, mungkin ini semua tidak akan
terjadi.”
“Sewaktu kau memutuskan
untuk menyutujuinya menjadi yeoja chingu palsunya, aku benar – benar marah.
Marah pada diriku sendiri yang terlalu bodoh untuk menjagamu. Yang membiarkan
dengan mudah menyerahkan sosok yang sangat aku pertahankan dalam hidupku pada
seorang namja lain.”
Keadaan menjadi hening
sejenak sebelum akhirnya aku mulai angkat bicara. “Dia tidak menatapku dengan
tatapan yang nyaris sama denganmu. Sangat berbeda.”
BaekHyun mengangkat
kepalanya dari pundakku, dan beralih menjadi menatapku. “Kalau tatapanmu, sanga
sulit untuk digambarkan. Sekedar menggambarkan bagaimana cara mu menatapku,
atau dampak dari tatapanmu padaku.” Lanjutku yang kemudian mulai membalas
tatapannya. “Berbeda dengan dia yang sangat mudah dimengerti. Kalau dia benar –
benar menginginkanku. Tatapan yang penuh ketertarikan, tapi lebih kepada
tatapan kasar yang tak berbekas sama sekali.”
“Kau dengannya juga
sangat berbeda. Dia akan dengan mudahnya menyerah dan merasa cukup hanya dengan
lima hari menjadi namja chinguku. Tidak seperti kau yang diam, tapisebenarnya
sangat mengusahakan untuk aku kembali.”
“Lalu?” dia menegakkan
tubuhnya. “Apa kau sudah benar – benar memutuskan untuk kembali? Pada namja
yang jauh lebihh menginginkanmu, membutuhkanmu dari namja –namja lain?”
Aku mengangguk mantap.
“Kemarin aku sudah menyatakan putus sebagai yeoja chingu palsunya. Dan besok
pagi, aku memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya. Sekaligus memberitahu
mereka yang tidak tahu menjadi tahu kalau namja chingu asliku adalah.. kau.”
BaekHyun tersenyum
sngkat hingga akhirnya dia mearikku dalam pelukan hangatnya. “Gomawo, sinjja
gomawo jagiya~. Untuk hidup menjadi gadis terbaik untukku”
-END-
Kyaaa selesai :D
akhirnya selesai juga, HyunSun~~a. thanks, udah mengispirasi aku buat bikin new
FanFiction *halah-_- maaf juga nih, endingnya gak mirip sama aslinya cerita kamu. habis ceritanya telaaatt ffnya keburu jadi duluan kan-_-v
Komen, aku tunggu
yaaaa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar