Sabtu, 26 Januari 2013

Teaser - Kyuhyun Birthday 2013

Guys, kayaknya aku emang gak bisa yang namanya break nulis FF-_-v jadi kalo sempet, ada waktu nyelip dikit bakalan nulis FF deh, hehe. berhubung sebentar lagi Kyuhyun bakalan ulang tahun, aku WAJIB untuk nulis FF special pake telor buat ultahnya. dan ini ada cuplikan teaser buat FF nantinya.

Happy Reading Guys!


TEASER CHO KYUHYUN BIRTHDAY 2013



Mereka yang menyimpan rahasia,
Mereka yang menyembunyikan perasaan,
Tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Cho Kyuhyun, namja yang terkenal sangat ‘anti’ dengan yeoja itu tiba – tiba saja menjadi cukup akrab denganku. Biasanya dia tidak akan menanggapi yeoja selain Jehee, karena mereka teman dari kecil, dan memilih untuk mengurung dirinya dengan game. Dan satu temannya lagi, Kim JongIn, yang sama saja tidak mempunyai daya tarik lain selain game.
Aku tidak tahu ini bermula sejak kapan, tapi ini benar – benar terjadi begitu saja. Belakangan ini aku menjadi terlalu dekat dengannya, bahkan nyaris tidak ada jarak sedikitpun.
Sejujurnya aku baru mengenalnya, sangat baru. Walaupun aku tahu dia adalah teman dekat sepupuku, Cho Jehee, tapi aku baru saja mengenalnya setelah kami duduk di bangku kelas tiga ini. Saat aku akhirnya satu kelas dengannya.
Begini, aku dengan saudara sepupuku cukup dekat, namun sebelumnya aku tinggal di daerah mokpo, dan sangat jarang untuk datang ke Seoul. Lalu sekarang, saat aku menginjak kelas tiga SMA, kedua orang tuaku sepakat memindahkanku untuk bersekolah ke Seoul, untuk memudahkan aku mendapat perguruan tinggi.
Jadi, aku hanya sering mendengar nama ‘Kyuhyun’ disebut – sebut oleh Jehee sebelumnya, tanpa tahu dan mengenal siapa Cho Kyuhyun sebenarnya.
“Gun~a,” Kyuhyun berjalan menghampiriku, dengan kemeja sekolah yang sudah tampak berantakan. Ini sudah siang, diakhir jam pelajaran tambahan yang kebetulan kosong. Sepertinya dia enggan untuk merapihkannya, tanpa menyadari seberapa besar dampak yang diberikannya padaku saat melihatnya tampil dengan gaya yang tak rapih, natural seperti ini. Itu membuatku benar – benar sulit untuk mencari oksigen untuk bernapas.
Kai ikut menolehkan pandangan dan berbalik mengarah meja yang aku duduki. Sedari tadi dia duduk didepanku dengan earphone yang menempel pada telinga. Dan sepertinya dia menghabiskan beberapa waktu sebelumnya untuk tertidur. Terlihat dari matanya yang masih mengantuk dan mencoba untuk beradaptasi dengan cahaya matahari yang terik dari jendela disampingnya.
“Kau sudah mencari puisi lama?” Kyuhyun memposisikan diri duduk diatas mejaku. Meja yang berhadapan langsung dengan kursi yang aku duduki. Kemudian dengan jahil tangannya memainkan botol minum Jehee yang tergeletak diatas mejaku. Karena sepertinya JeHee lupa menaruh kembali botol minumnya setelah makan bekal bersama tadi.
“Belum,” jawabku yang kemudian menutup laptop dan balas menatapnya, “karena yang lain belum mencari, aku juga belum.”
“Kenapa harus menunggu yang lain?” Protesnya yang mulai menatapku kesal, mengetahui tugas kelompok belum selesai ditangani.
“Lalu kenapa kau harus bertanya padaku tentang mencari puisi lama? Tayakan pada Kai, Jehee dan dirimu sendiri saja.”
“Aku tidak mengerti tentang puisi lama,” Kai menyahut, “karena aku tidak begitu tertarik dengan sastra.”
“Siapa bilang aku juga tertarik dengan sastra?” tanyaku kembali.
Mata Kyuhyun menunjukkan kearah novel sastra dipangkuanku. “Itu buktinya”
Aku mengerang kesal, menyadari keadaan bahwa aku sedang memegang buku sastra tebal, ah bukan. Novel sastra tebal. Aku tidak menyukai sastra, sangat membencinya. Apalagi novel sastra yang mengerikan dipangkuanku ini, yang selalu bisa membuat mataku menutup rapat setiap kali mencoba membacanya. Ini punya Jehee, bukan punyaku.
“Memangnya anggota kelompok kita hanya aku saja? Tanya kan pada yang lain saja Cho Kyuhyun~ssi” desisku dengan sedikit mencondongkan tubuh kearahnya.
Kyuhyun balas menatapku sengit. Tubuhnya ikut menunduk, membungkuk kearahku. Membuatku sedikit memundurkan tubuhku, mengurangi jarak kedekatan kami.
“Yang mengerti hanya kau, jadi tolong selesaikan dengan cepat, Gun~a”
“Ini bukan punyaku, kalau tidak percaya buka saja. Dihalaman depannya ada nama pemilik aslinya, dan itu tentu saja bukan aku, Cho-Kyu-Hyun-ssi” aku mengeja namanya sembari balas menatap sengit.
“tapi kau memegang bukunya, berarti sama saja kau juga tertarik dengan sastra?”
Suara kecil menyadarkan kami berdua. Kyuhyun kembali menegakkan tubuhnya dan aku menolehkan pandangan kearah suara berasal.
Aku nyaris terlonjak, terkejut saat menyadari Jehee sudah datang dengan novel tebal ditangan kirinya. Dia sudah kembali dari perpustakaan, dan datang memergokiku dengan Kyuhyun. Aku sempat melirik Kai. Sepertinya dia menyudahi untuk berbicara dengan kami sedaritadi, karena dia sudah kembali tertidur dengan earphone yang menempel dikedua telinganya.
“Seru sekali sepertinya,” komentarnya, “sampai ada yang harus duduk dengan manisnya dan memberi kesan yang membuatku begitu iri.”
Aku terdiam, merasa sedikit tersindir. Kyuhyun masih dalam posisinya yang kini lebih dekat dari awal padaku. Dia duduk diatas mejaku dengan kaki terayun pada sisi yang tersisa dari tempat yang aku pakai untuk duduk dikursi. Benar – benar duduk berhadapan diatas mejaku. Dan aku begitu sulit untuk mencari cara untuk keluar dari situasi ini. Karena Kyuhyun, masih nyaman untuk terdiam dalam tempatnya, dan menatapku dengan arti ‘lanjutkan saja, jangan hiraukan dia’ tanpa berniat beranjak dari tempatnya sedikitpun.
Aku dengan spotan berdiri. Tidak mengerti apa yang seharusnya aku lakukan, tapi aku mencoba untuk menghindar dan membuat jarak sejauh mungkin dari Kyuhyun. “Maaf,” aku bergumam kecil, “aku tidak sengaja, dia hanya datang begitu saja, jadi …”
“Sudahlah, santai saja.” JeHee menepuk pundakku ringan. “Aku tidak memersalahkan posisi dudukmu dengan Kyuhyun yang begitu … dekat? Tapi aku hanya ingin menyindir Kyuhyun. Botol minumku bisa rusak kalau terus dimainkan seprti itu, Kyu~a”
Kyuhyun menyeringai kecil kemudian meletakkan kembali botol minum Jehee. “Maaf,” matanya beralih kembali padaku, “lalu, apa kau berniat menyelesaikannya sore ini, nyonya Han?”
“kalau aku katakan tidak sendiri mengerjakan, ya, tidak.” Jawabku tajam, kembali duduk dikursiku setelah menenangkan diri dan menarik napas lega mengetahui Jehee sudah berpindah menuju bangku disamping Kai dan mulai merecokinya.
Mereka berdua selalu begitu, sedikit sering bertengkar, tapi yang aku herankan, mereka selalu terlihat akrab berdua, bahkan lebih akrab Jehee dengan Kai daripaa Jehee dengan Kyuhyun. Tidak peduli teman – teman lebih sering memojokkan KyuHee couple karena Kyuhyun dan Jehee sangat dekat dan berteman sedari kecil –ini yang membuatku sedikit iri, daripada JongHee couple –sebutan yang aku buat sendiri untuk mereka berdua.
“Kalau begitu nanti sore kita kerjakan bersama. Kau, dan aku.”
“Besok lusa saja, sore ini dan besok, aku ada urusan penting.”
“Urusan apa?”
“Bukan apa – apa, dan itu bukan urusanmu, tuan Cho.”

***
“Kalau begitu ajari aku bermain game!” Jehee menarik paksa stik ps dari tangan Kai.
“Tidak sekarang, aku sedang bertanding, apa kau tidak mengerti, ha?”
“Tidak, aku tidak mengerti sama sekali, Mr. Kkamjong!” tangan Jehee memencet asal tombol yang ada di stik ps Kai. Membuatku menahan tawa memerhatikannya yang memencet tombol untuk membuat pemain bola dilayar berputar – putar dilapangan tak mengarah.
“Jangan tekan tombol itu, sudah berapa kali aku bilang, kau tidak akan bisa bermain game, dan kau hanya berbakat dibidang sastra dan seni, ara?” Kai menarik dengan paksa kembali stik psnya, dan mencoba membenarkan permainannya.
JeHee menatap kesal Kai, “memangnya bermain game harus mempunyai bakat? Setahuku tidak” dia pun berdiri kemudian berjalan mmenghampiriku yang bersandar pada lemari buku diruangan ini.
Ruangan kami. Kami berempat tentunya. Ruangan yang sengaja kami buat untuk menghabiskan waktu bersama. Entah itu mengerjakan tugas kelompok ataupun sekedar bermain. Di ruangan ini, lantai paling atas gedung perusahaan ayah kyuhyun, tersedia semua hal yang kami sukai.
Tentu saja, yang pasti ada diruangan ini, alat untuk Kai, Kyuhyun, dan aku bertanding game. Sedang JeHee akan menyibukkan dirinya disini untuk membaca buku, menulis karya sastranya, atau menjadi penguntit Hangeng Oppa melalui akun twitter, kakak kelas yang baru saja lulus beberapa bulan lalu. melalui deretan buku bacaan dilemari yang aku sandarkan ini, dan laptop berkoneksi internet di meja sudut ruangan.
“Game butuh bakat, dan orang sepertimu tidak mempunyai bakat bermain game sedikitpun!” Ujar Kai dengan nada sedikit tinggi dan kesal, karena sudah bisa diduga, kali ini dia gagal lagi memenangkan pertandingan akibat direcoki Jehee.
“Lihat ulah temanmu, Gun~a. selalu saja seperti itu. Apa aku bermain game seburuk itu? Aku masih mempunyai kesempatan untuk berlatih, kan? Kyuhyun saja tidak pernah mengejek cara aku bermain game. Dia hanya cukup terdiam, menatapku pasrah kemudian pergi. Setidaknya itu lebih baik daripada aku harus bertengkar seperti ini.”
Jehee bertutur panjang, sesuai dengan kebiasaannya saat berbicara. Tidak mempunyai istilah titik, dan selalu mengenal kata koma dalam setiap perkataannya. Itulah dia, sahabat yang selalu bisa memancing mulut kami bertiga yang pendiam, untuk ikut berbicara panjang.
Aku hanya mengangguk kecil, “Kai~ssi, matikan dulu game mu, sudah kalah pula, kan? Ada yang ingin aku perbincangkan dengan kalian sebelum Kyuhyun mengetahui keberadaan kita bertiga disini dan datang untuk ikut bergabung.”
Semua merapat kearahku. Kai meletakkan stik psnya kemudian menyeret tubuhnya di lantai tanpa harus bangun untuk mendekat kearahku. Dan jehee memilih untuk duduk di kursi meja computer.
“Kalian ingat sekarang tanggal berapa?” Jehee melirik kearah kalender sesaat, kemudian matanya membulat setelah menyadari maksud perkataanku.
“Tanggal satu februari, itu artinya..” kalimatnya terpantung, telunjuknya terambang dalam udara.
“Kyuhyun dua hari lagi akan .. ulang tahun?” sambung Kai sembari menjentikkan jarinya, “kau sudah mempunyai rencana untuk itu?”
Aku mengangguk kecil, “tentu saja, aku mempunyai rencana besar yang keren.”
Mata Jehee menyipit menatapku. Terselip tatapan curiga dari matanya, yang memancing keningku berkerut, “kau … menyukai Kyuhyun?”
Bibirku membeku seketika, dihantam oleh pertanyaan maut yang sangat aku hindarkan. Terlebih pertanyaan itu keluar dari mulut Jehee, yang sedikit aku perkirakan kalau dia menyukai Kyuhyun.
“Mwo?” tanganku melambai dengan cepat, “tidak, aku tidak menyukainya, eng.. menyukainya sih iya, tapi hanya sebatas … teman?”
“Oh, kukira kau menyukainya,” Jehee ber ‘oh’ sembari menghela napas panjang, membuatku semakin berpikir kalau dia benar – benar mempunyai perasaan pada Kyuhyun. Tapi kalau dia menyukai Kyuhyun, lalu apa arti kedekatan dia dengan Kai selama ini? hanya pertemanan biasa? Aku rasa ada perasaan diantara keduanya, dan mereka sama sekali belum menyadarinya sedikitpun. Dan kalaupun Jehee menyukai Kyuhyun, aku sangat yakin itu hanya dampak pesona Kyuhyun yang luar biasa.
“Kita mulai rencana ini, besok” aku melanjutkan penuturan rencanaku, berusaha menghiraukan pikiran – pikiran bodoh yang menyerbuku, “kita bertingkah seperti biasa saja, sewajarnya. Dan usahakan untuk tidak mengeluarkan ekspresi – ekspresi yang mencurigakan. Dan satu hal yang sangat aku peringatkan, Cho Jehee, kunci rapat rapat mulut cerewetmu yang diluar kendali itu, ara?”
***

1 komentar:

Anonim mengatakan...

pertama:aku jadi penasaran
kedua: ditunggu kelanjutannya
ketiga: aku cuma mau ngasih pendapat ya, jgn marah. Tadi ada dialog "Nyonya Han" kalau blm nikah seharusnya "Nona Han"
keempat: tdi ada typo sedikit di akhir teaser ff ini "kunci rapat rapat mulut" kurang tanda (-) jadi "rapat-rapat"
Sekian chingu pendapatku.. Aku g bermaksud menggurui ya. ditunggu kelanjutan ff nya chingu

*oh ya aku mau nanya jdi Cho Jehee itu sepupunya cewe yg dipanggil Gun~a ya??*

FL