Judul
: Fussy Girl! [Special Ulang Tahun Kai EXO]
Cast
: Cho Jehee, Kai (Kim JongIn) Exo, Cho Kyuhyun, Cho Ah-Ra, Kris Exo, Sehun Exo,
Suho Exo, Han Ha Gun.
Genre
: Romance
Rating
: G
Note
: Ini aku buat untuk merayakan hari ulang tahun Kai Exo 14 Januari 2013 yang ke
19 tahun. Jadinya, walaupun aku break nulis FF, ini tetep aku post karena udah selesai sebelum tugas menumpuk dateng-_-v Saeng il chukka Kim JongIn oppa~ semoga makin sukses bareng EXO
kedepannya, amin J
Happy reading!!
Yeoja
mungil dengan suara nyaring dan kalimat panjangnya. Menutupi semua kepribadian
Kai yang terkadang lebih memilih untuk terdiam. Walaupun terkadang dia menyerah
untuk menjadi diam ketika bersama Jehee. Persiapan malam pesta dansa yang
mengesankan. Membuat mereka yang awalnya selalu bertukar debat tak penting dan
selalu ribut, menjadi sebuah keakraban tersendiri yang tercipta.
Kim
JongIn (Kai) PoV
Kemarin hanya
kebetulan. Kemarin lusa juga hanya kebetulan. Dan kemarin sebelum lusa juga
hanya kebetulan. Tiga kali kebetulan yang aku temui. Jangan sampai ada yang
keempat. Itu sama saja membuat aku untuk menarik kesimpulan bahwa ini semuan
adalah.. Pertanda takdir?
“Kai~ssi?” Aku menoleh
ke arah orang yang menepuk ringan pundakku. Dia tersenyum kecil menahan tawa
saat melihat ekspresiku yang mungkin menurutnya aneh. Entah kenapa aku malah
berpikiran orang yang menepuk pundakku adalah dia, yeoja yang aku temui
beberapa hari belakangan ini. Dan aku menjadi menoleh dengan perasaan berharap.
“Wae? Apa kau begitu merindukanku, eo?”
Aku menggeleng cepat.
“Setidaknya aku masih ada perasaan senang saat melihat yeoja – yeoja berkumpul
didepan mataku, Hyung” Elakku yang berusaha memberhentikan tawanya.
“Baiklah, aku akui kau
masih menyukai yeoja.” Suho Hyung menghentikan tawanya, “Aku menemuimu hanya
sedikit penasaran, sekaligus mengetes kewarasanmu sebagai namja. Kau sudah
menemukan pasangan untuk pesta dansa malam lusa?”
Sedikit membuatku
terlonjak, mengingat aku yang sudah melupakan undangan pesta itu. Sebuah acara
tidak penting yang dibuat oleh kampus untuk merayakan ulang tahun kampusku. “Ah!
Aku hampir saja lupa Hyung, jadi maaf. Aku belum bisa memberikanmu bocoran
tetang yeoja yang akan aku ajak.”
“Katakan saja kalau kau
memang tidak tertarik untuk datang,” Suho Hyung berujar dengan sedikit
menyindir. “Aku tidak memaksamu untuk datang, hanya saja jangan salahkan aku
kalau.. kau menjadi topik terheboh di kampus setelahnya. Papan madding akan
dipenuhi berita tentang “Namja popular di kampus tidak datang pesta dansa.
Mungkin, tidak ada yang berminat dengannya.””
“YAK, hyung! Hentikan
omong kosongmu. Baiklah, akan ku usahakan datang. Setidaknya aku akan membawa
yeoja istimewa untuk malam lusa.” Ujarku yang kemudian memutuskan untuk berlalu
pergi meninggalkannya.
***
Aku tersenyum singkat,
menyambut hangat kedatangan keluarga Cho yang datang mengunjungi rumahku. Teman
kerja appa yang dulunya adalah teman sewaktu SMA, sudah lama di inginkan appa
untuk makan malam bersama keluarga. Sekedar bertukar cerita dan saling
bernostalgia, katanya.
Kami sudah berada dalam
meja makan di ruang pertemuan. Ruangan ini sengaja di buat appa untuk menjamu
tamu – tamu penting. Aku duduk diantara kedua kakak perempuanku. Dan Ah-ra
nuna, putri sulung keluarga Cho duduk bersebelahan dengan Kyuhyun Hyung. Entah
kenapa mereka menyisakan bangku dihadapanku. Apa diantara mereka tidak ada yang
ingin duduk berhadapan denganku?
“Dimana Jehee?” Cho
Ajjushi menolehkan pandangannya pada Kyuhyun.
“Dia izin ke kamar
kecil. Tadinya ingin aku antarkan, tapi dia bersikeras untuk mencari sendiri.
Jadi mungkin dia tersesat,” Jawab kyuhyun hyung dengan nada datarnya. “Tapi aku
yakin, dia tidak akan mungkin di culik oleh penjahat konyol dirumah ini.”
Aku menahan tawa yang
nyaris keluar begitu saja. Yang kukira Kyuhyun Hyung dengan wajah dinginnya
akan menakutkan, tapi kurasa dia tidak seseram itu. Masih ada selera humor yang
cukup tinggi.
“Maaf, tadi aku sedikit
keliru dengan jalan menuju kamar kecil, jadi aku terlambat.” Gadis mungil
dengan kaos berlengan panjang orange dan gardigan tak berlengan berwarna kelabu
datang menghampiri meja makan. Duduk di bangku hadapanku. Cukup dengan celana
jeans dan gayanya yang santai, tapi tidak mengurangi kesopanannya sebagai tamu.
Kalung panjangnya berbentuk bunga tergantung cukup cantik menghiasi lehernya.
Rambut panjang
bergelombangnya dibiarkan tergerai rapih. Walaupun tetap terlihat berbeda jauh
dengan Ah-ra nuna yang terlihat begitu feminim malam ini dengan gaunnya. Dan..
aku rasa ada sedikit kesalahan disini. Wajahnya lama kelamaan terasa begitu
tidak asing bagiku.
“Baiklah, sekarang
sudah lengkap dan aku bisa memperkenalkan anak – anakku padamu.” Ujar Cho
ajjushi yang diiringi oleh cengiran kecilnya. “Dia Cho Ah-Ra, putri sulungku.
Mungkin JongIn pernah bertemu sebelumnya dalam beberapa acara. Begitu juga
dengan Cho Kyuhyun. Mereka yang selalu aku ajak untuk pertemuan pertemuan
penting dan bersangkutan dengan perusahaan.”
“Dan Cho Jehee, adalah
putri kecil kami. Dia kami anggap terlalu kecil untuk mengetahui urusan
perusahaan. Jadi, dia sampai sekarang tidak mempunyai daya tarik apapun dengan
perusahaan,” Cho Ajjushi tertawa sejenak sebelum kembali melanjutkan, “Dia
memilih dunianya sendiri, di dunia Jurnalistik. Aku sendiri tidak mengerti dari
mana datangnya bakat menulis pada anak ini.”
Aku menyeringai kecil
mendengar penjelasan Cho Ajjushi. Telingaku mendengarkan dengan baik
tentangnya. Dan mataku menatap lurus kearahnya. Dia terlalu menyimpan misteri
sepertinya. Wajahnya memang benar – benar tidak asing bagiku.
“Chakkaman, maaf kalau
aku menyela pembicaraan ini,” Jehee akhirnya menyuarakan diri. “Apa aku pernah
bertemu denganmu sebelumnya? Sepertinya kau tidak terlalu asing bagiku dan..”
Dia berujar ke arahku, padaku. Membuatku sedikit sulit mengontrol
keterkejutanku.
“Pemberhentian bus
dekat kereta bawah tanah. Dan saat hujan.” Kami berujar dengan kata yang tepat
dan bersamaan. Membuat semua orang yang ada di dalam ruangan bertukar pandang
heran.
***
Cho Jehee PoV
Aku hanya terdiam
menatap suasana ramai dari balik jendela mobil. Ah-Ra eonni masih terkadang
melirikku dengan senyuman anehnya. Dan Kyuhyun oppa masih sibuk dengan PSPnya.
Aku harap mereka tidak akan membahas kembali kejadian barusan yang cukup
memalukan.
Ucapan bodoh yang
keluar bersamaan. Kehisterisanku spontan setelah menyadari Kai adalah orang
yang pernah bertemu denganku. Dan sikap bodohku yang mengambil jatah ayam goreng
Kai, yang sebenarya boleh – boleh saja kalau aku mengambilnya. Hanya saja dia
terlalu mengincar ayam itu. Dan terjadilah keributan ketiga antara aku
dengannya.
“Dia menyukaimu,”
Kyuhyun Oppa berujar tanpa menolehkan padangan dari PSPnya. “Aku bisa melihat
dari sorot matanya. Kalau Kai menyukaimu.”
“Kau berbicara
denganku?” Tanyaku dengan sedikit segan. Mendengar kalimat Kyuhyun Oppa yang
benar – benar tak logis. “Aku rasa kau salah mengerti. Kami selalu bertengkar
disetiap kami bertemu.”
“Kyuhyun sepertinya
benar,” Ah-Ra eonni ikut ambil suara. “Kau dan Kai membuatku iri.”
“Mwo?” Aku membalikkan
tubuh kearah Kyuhyun oppa dan Ah-Ra eonnni. “Kalian gila kalau sampai
berpikiran seperti itu. Asal kalian tahu. Dia yang sudah membuat kacau
kedatanganku pada acara pernikahan senior kampusku, Taeyeon eonni. Pakaian ku
basah semua karena dia mengambil paksa payungku, dan aku terpaksa harus membeli
pakaian disebuah toko kemudian menggantinya.”
“Yang kedua, aku
tertinggal kereta bawah tanah yang menjadi alternative terakhirku untuk pulang
saat hujan deras karenanya. Dia mencegatku dengan mengira kalau aku adalah
teman yang ditunggunya. Kami berdebat panjang sampai aku melupakan waktu. Yang
ketiga, aku sedang menunggu di pemberhentian bus dekat stasiun kereta bawah
tanah. Dan dia datang dengan payung basah yang diletakkan dekat buku kampusku.
Dia membasahinya. Lalu yang ke empat? Aku bertemu dengannya pada jamuan makan
malam hari ini dan dia mengacaukannya! Dan sialnya ternyata aku satu kampus
dengannya.”
Aku menghempaskan tubuh
pada sandaran jok tengah. Appa dan eomma hanya menyeringai kecil menanggapi ocehanku.
Terlihat dari kaca spion tengah yang
bisa aku lihat dari sisi dudukku.
Ah-Ra eonni menepukkan
tangannya dan menatapku dengan wajah berseri. “Hebat! Kalian bertemu pada waktu
yang sama. Hujan. Dan pada lokasi yang berdekatan.”
“Kebetulan sampai lebih
dari empat kali, menurut ilmu psikologi, itu adalah takdir.” Ujar Kyuhyun Oppa
***
“Kau datang dengan
siapa pada malam pesta dansa besok?” Ha Gun menyikut lenganku. Menyadarkanku
yang masih terpaku dengan layar laptopku.
“Molla. Sepertinya aku
tidak berminat untuk datang.” Jawabku. “Kau tahu? Datang pada acara pesta dansa
sama saja aku masuk ke dalam nerakaku. Mengenakan gaun, make up, rambutku yang
harus diacak – acak menyesuaikan gaun, dan sepatu high heels. Kau seharusnya
tahu aku. Tidak mungkin untuk seorang Cho Jehee mengenakan itu semua.”
“Kau pikir aku juga
betah dengan pakaian seperti itu?” Dengus Ha Gun sembari menyeruput minuman
hangatnya. “Ini akan aku jadikan sebagai hadiah 1st anniversary ku
dengan Kyuhyun. Setidaknya dia harus pernah melihatku berdandan.”
“Ck, aku rasa Kyuhyun
oppa akan mati kaku besok malam.” Sahutku. “Tapi kalau kau datang dengan
Kyuhyun oppa, pasti aku akan ikut terseret dalam pesta dansa itu. Dan sialnya,
sampai sekarang aku belum memutuskan dengan siapa akan datang.”
“MinHyuk bukannya
mengajakmu?” Aku menggelengkan kepala.
“Dia terlalu baik, dan
sepertinya akan mengekor denganku terus kemanapun aku pergi.”
“Siwon oppa juga
menawarkanmu kan?”
“Dia mempunyai fans
terlalu banyak. Kalau aku dengannya, sepulang pesta aku akan dihabisi oleh
semua fansnya.”
“Eum.. Bagaimana dengan
Kris? Kau masih menyukainya?”
“Tutup mulutmu! Kau
kira aku mau mencari mati dengan datang bersamanya, hah? Sudahlah, aku juga
sudah melupakannya. Dia hanya mantan kekasiku yang begitu terobsesi denganku.”
“Yak! Kau ini! pantas
saja sampai sekarang belum mempunyai pasangan untuk datang ke pesta dansa. Kau
terlalu mencari kelemahan setiap namja yang mengajakmu datang ke pesta dansa
besok malam.” Ha Gun mengertakkan mejanya. “Untuk tawaran terakhirku. Aku akan
mencobanya membuat dia mau dan kau juga harus mau.”
“Terserah kau sajalah.
Aku sudah tidak berniat mencari namja untuk pesta dansa besok malam.”
“Kai. alias Kim JongIn.
Namja jurusan kedokteran. Otte?”
“YAK HAN HA GUN KAU MAU
MENCARI MATI DENGANKU, HAH?!”
***
Kim JongIn (Kai) PoV
Aku meletakkan sumpit
disamping ramenku. Memperhatikan Jehee yang makan dengan lahapnya dihadapanku.
Dia terlihat begitu menikmati ramennya siang ini. Atau entah karena memang
kebiasaan makannya yang sangat mengkhawatirkan. Melahap semua makanan
dihadapannya tanpa bernapas.
“Kau lapar?” Tanyaku
yang hanya ditanggapi dengan anggukan kecilnya sebelum dia menyelesaikan
makanannya secara kilat. Kemudian meletakkan sumpitnya dan mulai berceloteh
panjang.
“Bayangkan saja. Hari
ini aku harus menyerahkan laporan dua puluh lima berita pada dosen. Aku sendiri
tidak yakin dia akan membacanya semua. Tapi yang aku dengar, dia akan membaca
secara detail berita yang kita berikan. Bahkan dia tidak jarang mengecek
langsung ke aktualan beritanya. Dan mencari berita actual itu melelahkan.”
“Habiskan dulu makanan
dalam mulutmu baru bicara.” Aku menyentuh pipinya menggunakan sumpitku.
Membuatnya sedikit mengercut kesal.
“Biarkan saja.”
Dengusnya yang kemudian menyambar jus strawberrynya.
“Kau tidak menyadari
cara makanmu yang bisa saja membuatmu jatuh sakit?” Ujarku akhirnya, “Makan
dengan kecepatan tinggi kemudian dengan cepat menyambar minuman tanpa diberikan
jarak. Apa kau belum pernah mendapatkan dampak buruk dari kebiasaan makanmu?”
“Yak, aku tahu kau
calon dokter Kai~a. Tapi sepanjang hidupku, aku belum pernah mengalami dampak
buruk apapun dari kebiasaan makanku. Karena selama ini Kyuhyun oppa melototiku
setiap kali aku makan seperti ini.”
“Lalu? Apa kau butuh
untuk aku pelototi agar makan dengan baik?”
“Tidak, terima kasih”
Jawabnya dengan raut wajah menolak. “Aku lebih suka makan dengan gayaku seperti
ini. perutku tidak perlu menunggu lama untuk terisi.”
“Tapi itu sama saja kau
mencoba melukai dirimu. Perutmu bukannya senang, malah menjadi stress
karenamu.”
“Tidak akan, karena aku
tidak memberikan tugas dateline pada perutku.”
“Mungkin saja, karena
mencerna makananmu sama saja seperti dikejar dateline.”
“Kau bisa berhenti
merecoki urusan makanku? Aku rasa kau tidak ada hak untuk melarangku sedikitpun.”
“Aku punya hak, karena
aku calon dokter. Dan aku harus mencoba mempraktekkan penyuluhan pada makhluk –
makhluk sepertimu.”
“Kau pikir aku makhluk
seperti apa, hah?”
“Makhluk tak tahu diri.
Masih untung aku mentraktirmu ramen dan menasihatimu.”
“Kalau kau mau menyuruhku
bayar sendiri aku juga bisa. Kau saja yang terlalu gengsi mentraktirku.”
“Sudah, habiskan
minummu kemudian kita bicarakan permasalahan Ha Gun barusan.”
Dia nyaris tersedak
saat aku menyebutkan perkataan terakhir. Matanya sempat membulat dan wajahnya
berubah menjadi pucat seketika.
“Aku tidak yakin yeoja
sepertimu tidak akan mempermalukanku pada pesta dansa besok malam” Tuturku
setelah melihatnya selesai meminum habis jatah minumannya.
“Aku juga tidak yakin kalau
kau akan membuatku tenang selama pesta dansa besok.” Sahutnya. “Lagipula aku
sedikit meragukan.. kau untuk bisa berdansa?”
Aku menyeringai kecil.
“Kau pikir aku makhluk sebodoh apa? Jangan remehkan aku dalam hal menari. Aku
sangat ahli dalam hal dance, tarian Jazz, popping, dan looking dance. Jadi aku
tentu tidak akan diragukan lagi dalam hal berdansa.”
“Cih, percaya diri
sekali kau.” Cibirnya sembari melipatkan tangannya, “Aku tidak bisa berdansa.
Itu adalah fakta tersialku. Kalau kau benar – benar ahli, setidaknya ajari aku
dulu sebelum aku menjadi orang yang memalukan besok malam”
“Jadi? Kita sepakat
untuk datang bersama pada pesta dansa besok malam?” Tanyaku untuk memastikannya.
Ha Gun, temannya yang menyodorkanku beberapa waktu lalu. Hingga akhirnya aku
bisa mendiskusikan dengannya dengan makan siang bersama.
“Mau tidak mau. Karena
aku tidak punya pilihan lain.”
***
Dia mengumpat kesal
setiap kali mendapat kesulitan dalam mempelajari gerakan yang aku ajarkan. Aku
hanya memberikannya arahan tiga empat kali. Kemudian dia melanjutkan dengan
berlatih sendiri. Mengulang sesuka dirinya.
Terkadang aku tertawa
geli melihatnya yang begitu kualahan mempelajarinya. Sesekali aku mengerjainya
dengan memberikan gerakan sulit. Dan segera diprotes olehnya. Dengan alasan
‘Gerakan dansa tidak mungkin sesulit itu’
Dia terlihat begitu
manis hanya dengan kaos panjang berwarna coklat muda bergambar beruang dan
celana jinsnya. Jehee sepertinya menyukai pakaian santai dan simple. Rambut
panjang bergelompangnya pun dibiarkan tergerai bagitu saja tanpa ada selaan
pita ataupun ikat rambut satupun. Dan aku menyukai sikapnya yang natural.
“Kau mengerjaiku lagi
ya? Gerakan ini sulit sekali.” Keluhnya yang kemudian datang menghampiriku.
“Kakiku sepertinya tidak akan aman jika terus – menerus seperti ini.”
“Tidak. Hanya saja ini akan
mudah dipelajari jika kita berlatih bersama. Berdansa itu harus ada
pasangannya. Jadi akan sulit jika kau hanya mempelajarinya sendiri.”
“Bersama? Maksudmu..
kita berlatih berdua?” Matanya sedikit membulat setelah mengerti maksud
ucapanku.
“Memangnya besok malam
kau mau berdansa dengan siapa? Denganku kan? Berarti kau harus mencoba berdansa
denganku terlebih dahulu.” Aku berdiri dari dudukku. “Tapi kau jangan berpikir
yang macam – macam karenanya.”
“Yak! Kau pikir aku
yeoja murahan yang mudah mengira perasaan orang, hah?” Gerutunya yang kemudian
membuntutiku ke tengah ruang latihan. “Setidaknya kau yang harus berjanji untuk
tidak bermacam – macam atau mencari kesempatan padaku.”
“Cih, kesempatan apa
yang bisa diambil? Lagipula tidak ada hal yang menarik darimu.”
“Tutup mulutmu,
kemudian cepat ajari aku.” Dengusnya yang mulai kesal denganku.
***
Cho Jehee PoV
Kedua tanganku sempat
merasa pegal untuk menutupi kedua telingaku. Lagi. Mereka yang lewat dihadapanku
ataupun yang ada disebrang manapun, sibuk membicarakan pesta dansa nanti malam.
Semuanya tersenyum senang sembari terus berceloteh ria tentang rencanya nanti
malam.
Banyak diantara para
yeoja yang sibuk membincangkan gaun dan sepatu terbaiknya yang akan dikenakan.
Dan diantara para namja, sibuk membicarakan yeoja yang akan digandengnya.
Saling membanggakan kecantikan yeojanya nanti malam.
Untukku, semua hal
seperti itu sangat menjijikan. Aku tidak tahu sebenarnya aku ditakdirkan
menjadi manusia normal atau tidak. Gaun ataupun sepatu high heels adalah benda
terlangkaku. Pesta dansa atau pesta semacamnya juga sangat jarang aku datangi.
Karena mau tidak mau aku harus ber make up ria. Atau ini dampak dari eomma dan
appa yang tidak terbiasa membawaku ke acara – acara besarnya dari kecil?
Lagipula percuma saja
kalau aku ikut membincangkan hal itu.
Gaun. Aku tidak punya banyak gaun untuk aku banggakan. Sepatu ber hak. Aku
tidak punya koleksi berderet untuk itu. Dan namja. Aku rasa Kai tidak akan
pernah menceritakan atau bahkan membanggakanku dihadapan teman – temannya. Kami
sama – sama menjadi pilihan terakhir dan pasangan terpaksa.
“Jehee~ssi.” Kris
melangkah menghampiriku. Membuatku sedikit terkejut dengan kedatangannya yang
tiba – tiba berdiri dihadapanku. “Maaf, mengejutkanmu.”
“Gwenchana. Ada apa?”
Tanyaku dengan sedikit memalingkan wajah.
“Kau, sudah mendapatkan
pasangan untuk.. nanti malam?” Dia berujar sembari menggaruk bagian belakang
kepalanya yang sepertinya sama sekali tidak gatal.
“Sudah. Memangnya
kenapa?”
“Kalau boleh aku tahu,
dengan siapa?” Kris bertanya dengan sedikit ragu.
“Dengan ku.” Kai datang
dengan mengejutkannya entah dari mana. Dia segera merangkulku sambil tersenyum
menyeringai.
“Oh, denganmu.” Kris
terlihat sedikit canggung sesaat, “Baguslah kalau seperti itu. Aku permisi.
Sampai jumpa Jehee~a”
Aku mengangguk kecil
dan memberikan senyuman singkat padanya. Sebelum dia melangkah pergi dari
hadapanku dan Kai. Mungkin maksudnya ingin menawarkanku datang bersamanya. Atau
sekedar ingin tahu siapa namja yang akan bersamaku?
“Yak, lepaskan!” Aku
melepaskan diri dari rangkulan Kai. “Apa yang kau lakukan hah? Dan sejak kapan
kau berkeliaran di lingkungan fakultasku?”
“Melindungimu dari namja
lain, yang bisa saja merebut pasangan untuk pesta dansaku.” Jelasnya yang
kemudian menyelipkan tangan dalam saku celananya. “Dan aku kesini sengaja,
Ah-Ra nuna barusan meneleponku. Dan satuhal yang ingin kutanyakan sebelumnya.
Apa kau selalu menceritakan pada kakak – kakakmu apa yang terjadi setiap harinya?”
Aku mengangguk mantap.
“Memangnya kenapa? Kyuhyun Oppa adalah orang yang tidak terlalu banyak bicara.
Dan Ah-Ra eonni orang yang cukup ekspresif. Jadi, aku sudah terbiasa dari kecil
untuk bercerita pada mereka. Apapun yang terjadi hari itu. Baik hal sekecil
apapun, pasti mereka senang mendengarkannya.”
“Oh, begitu.” Ujar Kai.
“Apa kau tidak bisa menutup mulut cerewetmu ini tentangku? Aku tidak tahu
cerita apa yang kau sampaikan pada kedua kakakmu. Hanya saja, aku tidak ingin
dibuat malu olehmu.”
“Aku tidak bisa janji.
Karena aku tidak akan membuat janji kalau aku sendiri belum tentu sanggup
menepatinya.” Jawabku, “Jadi, sekarang katakan apa yang dikatakan Ah-Ra eonni
padamu.”
“Ck, aku harap kau lupa
untuk bercerita tentangku.” Kai kemudian mengeluarkan tangannya satu dari saku,
kemudian berpindah pada lenganku dan menariknya. “Ah-Ra nuna menyuruhku untuk
menemanimu memilih gaun dan sepatu untuk nanti malam. Sebenarnya aku ingin
menolak dan memilih untuk tidur nyenyak. Tapi sialnya aku mengangkat telepon
tepat didepan eomma. Jadi mau tidak mau, aku harus melakukannya.”
“Kalau aku tidak mau?”
“Akan ku telepon
Kyuhyun Hyung untuk menyeretmu dan memintanya yang menemanimu.”
“Jangan sampai kau
melakukan itu. Karena berburu pakaian dan sepatu dengannya, akan membuatku
patah tulang. Seleranya terlalu tinggi, dan aku bisa cepat mati karena
mengellingi banyak mall.”
***
Kim JongIn (Kai) PoV
Jehee mencoba beberapa
pakaian pada sebuah butik langganan nunaku. Ini adalah satu – satunya tempat
yang aku ketahui ketika ingin mencari pakaian. Tidak ada yang lain, karena
butik yang biasa aku kunjungi adalah butik khusus namja.
Sebenarnya aku ingin
sekali menunggunya sembari tertidur. Sofa ruang tunggu butik ini cukup nyaman.
Tapi bodohnya, rasa kantukku hilang begitu saja. Mataku malah terbuka lebar.
Jantungku bekerja melebihi batas. Sekedar menunggu penampilannya setiap kali
mencoba mengenakan gaun gaun cantik.
Aku menyukai semua gaun
yang dikenakannya. Tubuhnya begitu ideal untuk semua gaun. Atau mungkin karena
aku yang mulai menyukainya? Sampai sulit mencari waktu kapan dia terlihat jelek
ataupun buruk.
“Aku suka yang ini.
bagaimana menurutmu?” Jehee menyadarkan lamunanku sejenak. Terpesona dengan
gaun keenam yang dia coba. Membuatku kembali sulit melihat mencari bagian
terburuknya. Gaun orange yang sederhana tapi terlihat begitu indah karena
sangat pas ditubuhnya dan sepatunya yang seragam yang dipilihnya membuatku
nyaris sulit mengontrol ekpresiku.
“Eo?” Aku sedikit
terperanjat, “Lumayan dan sepertinya cocok denganmu.”
“Hanya itu?” Dia
berjalan mendekat ke arahku. Membuat kondisi semakin kacau. Aku sulit
mengontrol kefokusan dan detak jantungku. Dia sempat berputar, memperlihatkan
semua sisi gaunnya padaku sesaat.
“Memangnya harus
bagaimana?”
“Kau tidak mempunyai kalimat
panjang atau alasan logis yang sangat objektif, huh? Komentarmu terlalu pendek,
dan mau kau suka ataupun tidak, tidak ada bedanya.” Ocehnya sembari merengut
kesal.
“Haruskah? Lagipula
yang mengenakan gaun itu kau.”
“Tapi yang melihatnya
kan kau.”
“Memangnya kau tidak
bisa melihat gaumu sendiri?”
“Bisa, tapi tidak bisa
menilai secara umum kalau saja dilihat banyak orang.”
“Memangnya siapa yang
ingin melirikmu?”
“YAK Kai~ssi!”
“Waeyeo?” Aku
menatapnya segan, karena dia kembali mengeluarkan amarahnya. “Bisa tolong
kecilkan suaramu?”
“Terserah maumu apa.”
Dia meninggalkanku begitu saja setelah memanggil salah satu penjaga butik.
“Agasshi, aku kira ini cocok untukku. Bisa tolong kau bawa gaun dan sepatu ini
ke kasir?”
***
Aku melangkah turun
dari mobil. Berjalan memasuki halaman depan rumah Jehee. Sedikit tidak percaya
diri karena datang dengan kondisi kurang persiapan. Entah kenapa ini terasa
seperti dalam drama korea. Ketika seorang namja mendatangi rumah
yeojachingunya. Yang berkemungkinan besar untuk bertemu dengan salah satu
anggota keluarganya.
Aih,
Kai. Apa yang kau pikirkan sekarang, huh? Benar benar menggelikan!
“Kau sudah datang?”
Kyuhyun Hyung membukakan pintu untukku.
Aku tersenyum singkat
kemudian mengikutinya masuk kedalam ruang tamu. “Kau juga datang, hyung?”
“Alumni masih
dibutuhkan untuk datang sepertinya,” Kyuhyun kemudian seperti beranjak kearah
kuar. “Dan sepertinya aku terlambat untuk menjemput yeoja chinguku. Karena kau
saja sudah sampai dirumahku.”
Aku menyeringai kecil
memberikan salam singkat pada Kyuhyun Hyung yang beranjak keluar rumah. Dan tak
lama, suara langkah kaki terdengar mengarah menuju ruang tamu tempat aku
berada. Jehee menuruni tangga dengan sepasang sepatu yang mengantung
ditangannya.
“Maaf, aku membuatmu
menunggu. Ah-Ra eonni menyeretku ke hadapan meja riasnya. Jadi, habislah aku
malam ini olehnya. Kau tahu? Rasa lipstick ini tidak enak. Aku tidak yakin akan
makan dengan nikmat nanti. Dan bedaknya sedikit membuatku kurang percaya diri.
Lalu rambutku? Entahlah, bagaimana jadinya. Aku tidak berniat melihat cermin
setelah didandani olehnya.”
Dia kembali berbicara
panjang sembari menghampiriku. Dan aku hanya tersenyum kecil menanggapinya. Dia
terlihat begitu memesona malam ini. Sepertinya Ah-Ra nuna adalah perias handal.
Atau memang dia yang terlalu cantik? Sampai hanya dengan sentuhan bedak tipis
dan lipstick tak terlalu merah bisa membuatnya terlihat sangat memesona. Aku
menyembunyikan kesenanganku karena melihatnya berdandan seperti ini.
“Kau tidak mengenakan
sepatunya?” Tanyaku sembari menunjuk kearah sepatu yang tertenteng pada tangan
kirinya.
“Nanti saja, kalau
sudah sampai. Aku tidak ingin terlalu lama mengenakan benda mengerikan ini.”
“Oh, yasudah. Kita
berangkat sekarang” Aku berjalan keluar menuju tempat aku memarkirkan mobilku.
Dan dia mengikuti dari belakang. Bodohnya, aku berniat untuk membukakannya
pintu. Tapi dia dengan santainya memasuki mobilku tanpa menunggu aba – aba
dariku. Sial, dia terlalu tidak peka sepertinya.
“Kau lumayan juga
dengan jas hitam. Apa karena aku jarang atau bahkan tidak pernah melihatmu
serapih ini? Apa kau sendiri yang memilih jas ini? Atau eomma mu mungkin?”
“Tidak mungkin untuk
aku bertanya soal pakaian dengan eomma.” Jawabku. “Dan kau,” Aku sedikit
mencondongkan tubuhku kearahnya. Ketika lampu merah menahan mobilku untuk
melaju. “Bisa tidak menutup mulut berisikmu itu?”
Jehee sedikit
memundurkan tubuhnya, “Baiklah, setidaknya kau butuh alat penyumpal untuk itu.”
Aku menegakkan kembali
tubuhku. Kembali melajukan mobilku karena lampu sudah hijau. “Aku punya coklat
yang ku taruh di jok belakang. Ambil saja, dan anggap itu sebagai penyumpal
mulutmu.”
“Aaaa, ide yang
cermelang! Karena aku sangat menyukai coklat.”
***
“Kai~ssi” Sehun
menghampiriku. “Pilihan yang keren”
“Apa?” Tanyaku yang masih
kurang mengerti dengan maksudnya.
“Pasangan dansamu. Dia
terlihat sangat cantik. Apa kau menyelidiki setiap anak kampus sampai bisa
mendapatkan yeoja secantik itu,eo?”
“Cantik? Kalau kau
sudah mendengar suara cempreng dan ributnya, aku yakin kau akan menarik kembali
ucapanmu.” Ujarku dengan sedikit kesal. Semua kerabatku memujinya. Dan mereka
terlihat begitu menyukai Jehee. Dan bodohnya, aku merasa kesal karena takut
mereka akan mencoba menarik perhatian Jehee dan merebutnya dariku.
“Apa kau tidak merasa
ada ketertarikan sedikitpun? Aku lihat saat kau berdansa tadi dengannya, kalian
terlihat keren. Seperti ada chemistry tersendiri diantara kalian.” Sehun
tertawa kecil sembari menepuk – tepukkan tangannya kepundakku.
“Ck, kau sama
menyebalkannya dengan yang lain.” Gerutuku.
“Apa jangan – jangan
kau kesal karena kami memujinya? Aku dengan Hyung-Hyung mu tertarik dengannya
dan kau takut?” Sehun mengehentikan tawanya kemudian menatapku penuh selidik.
“Tidak mungkin, dan
tidak akan.” Jawabku. Berusaha menutupi perasaan yang sebenarnya. “Lihat, dia
datang. Tutup mulutmu jika kau berniat untuk mengolokku.”
“Kai~ssi! Apa kau masih
ingin berlama – lama disini? Kalau masih, aku sepertinya ikut pulang dengan
Kyuhyun oppa dan Ha Gun. Aku sudah merasa bosan disini. Dan kakiku mulai terasa
patah karena mengenakan High Heels menyebalkan ini. Jadi, kau mau pulang
sekarang atau tidak?”
Aku melirik kearah
Sehun kemudian membisikkannya pelan. “Kau lihat? Seberapa panjang kalimatnya?”
Sehun tersenyum kecil,
“Tapi dia terlihat manis saat berbicara. Apa kau tidak memerhatikannya?”
Aku menyikut lengannya.
Sebagai pengganti pelampiasan kekesalanku. Kenapa semua orang bisa melihatnya?
Sisi baik dan menarik darinya. Atau mungkin dia terlalu polos untuk menunjukkan
sisi menariknya?
“Kau pulang denganku
saja. Tidak baik kalau aku yang menjemputmu, tapi tidak mengantarkanmu pulang”
Jawabku pada pertanyaan panjangnya.
“Baiklah, tapi
setidaknya aku akan menunggumu dalam waktu sepuluh menit. Kalau kau masih tidak
berniat pulang, aku akan pulang sendiri dengan taksi. Jadi, kalau kau sudah
berniat pulang, hubungi atau hampiri aku. Aku ada disekitar anak – anak
fakultas komunikasi.” Setelah dia menyelesaikan kalimatnya, dia melangkah pergi
dari hadapan aku dengan Sehun.
“Yak, sepertinya dia
begitu mandiri. Dan kau menyukai tipikal yeoja seperti itu kan?” Sehun menyikut
lenganku.
“Aku sepertinya belum
pernah menyebutkan tipe yeojaku padamu.”
“Tapi aku bisa tahu
tipe yeoja yang cocok denganmu.”
“Maksudmu?”
“Yeoja yang manis,
sangat pas dengan kau yang cukup tampan. Yeoja yang banyak bicara, sangat pas
dengan kepribadianmu yang terkadang pendiam. Yeoja yang mandiri, sangat pas
dengan ketidak pedulianmu, mungkin ketika kau lebih memilih untuk tidur
daripada menemani yeojamu berbelanja. Bagaimana? Pendapatku benar kan?”
“Yak! Sehun~a, kenapa
kau berubah menjadi seperti peramal jodoh seperti ini?”
***
Cho Jehee PoV
Malam yang keren. Aku
nyaris sulit menuliskan semua perasaanku dalam buku harian. Sulit di gambarkan
memang. Perasaan senang yang meluap ketika melihatnya datang menjemputku. Dan
perasaan yang menakjubkan ketika melihatnya berpakaian rapih dengan jas
hitamnya. Dia benar – benar terlihat tampan dan keren kemarin malam.
Berdansa dengannya
adalah bagian yang paling aku sukai. Dia benar – benar ahli dalam menari.
Semalam, ketika aku mendapat kesulitan ketika harus berdansa dengan sepatu ber
hak tinggi, dia bisa mengatasinya dengan baik. Dan membuatku begitu menikmati
berdansa dengannya.
Aku sebenarnya masih
belum terlalu yakin. Dengan perasaan yang sebenarnya amat sangat menunjukkan
bahwa aku mulai menyukainya. Perasaan nyaman ketika bersamanya. Tapi aku masih
belum sanggup untuk menyukainya lebih dalam. Karena keraguanku dengannya.
Kris masih saja
terkadang datang dalam hariku. Dan aku masih belum bisa benar – benar
melupakannya. Dia terlalu baik sampai meninggalkan banyak kenangan manis
dengannya. Dan aku masih terlalu takut untuk berpindah hati.
Kris mungkin masih
menyukaiku, bisa terlihat dari tingkahnya yang masih berkeliaran
disekelilingku. Tapi mungkin juga, dia hanya sekedar ingin menjadi mantan yang
baik. Dan anehnya, aku sempat berpikir kalaupun dia memintaku untuk kembali,
aku akan menolaknya. Dengan alasan lain yang sulit di jelaskan. Karena aku sendiri
bimbang, aku akan menolaknya kembali karena traumaku dengannya atau karena Kai
yang mulai mengisiku.
“Kau sepertinya
menjatuhkan ini semalam di mobilku.” Kai menghampiriku dengan sebuah buku kecil
ditangannya. “Buku catatan beritamu?”
“Aah! Hampir saja aku
melupakannya. Gomawo, aku kira aku sudah menghilangkannya. Dan maaf telah
merepotkanmu untuk mengembalikannya padaku. Dan satu lagi.. Kau tidak membaca
isinya kan? Maksudku, kau tidak.. membuka buku ini selembarpun kan? Hanya
menyimpannya untukku?” Aku sedikit khawatir kalau saja dia membaca isi buku
ini. Berita – berita gagalku yang dipenuhi coretan tak karuan bisa menjadi hal
yang memalukan kalau sampai dia membukanya. Terlebih aku kadang senang mencoret
– coret bukuku dengan nama ‘Kris’ tanpa ingat untuk menghapusnya.
“Tidak. Hanya sempat
melirik halaman awal yang tertulis nama.. Kris?” Dia menjawab pertanyaanku
dengan sedikit penuh penekan pada nama Kris.
Sial, kenapa dia harus
membukanya? Setidaknya tidak pada halaman yang ada tulisan nama ‘Kris’. Karena
sudah dipastikan aku menuliskannya dengan gambar – gambar hati atau apapun itu
yang cukup memalukan kalau dibaca.
“Yak, kenapa kau
terlalu ingin tahu barang pribadi ku? Kau kan bisa saja menyimpannya tanpa
harus membuka isinya. Aku paling tidak nyaman dengan orang yang membuka barang
pribadiku.” Aku merebut buku kecil itu darinya.
“Kau menyukai Kris?
Atau sangat menyukainya? Sepertinya ada banyak namanya di dalam buku catatan
beritamu.” Kai berujar sembari memasang wajah meledek.
“Memangnya kenapa?
Wajar saja aku menyukainya. Tapi aku rasa itu coretan lama. Karena aku sudah
putus hubungan dengannya beberapa bulan lalu. jadi kau jangan berpikir yang
macam – macam dan menyebarkan beritanya pada orang lain. Itu akan membuatnya
salah paham.”
“Kau pernah berpacaran
dengannya? Selama dua tahun lebih?”
Aku mengernyitkan
kening. Darimana dia tahu berapa lama aku berpacaran dengan Kris? “Kau..
mengetahuinya darimana?”
Kai menunjuk kearah
tanganku yang sedang memeluk beberapa buku. “Bagian paling depan bukumu ada
sebuah lukisan kecil. Kau dan Kris. Sepertinya itu hadiah dari Kris? Terbaca
sekali kalau dari dekat seperti ini.”
Bodoh, aku lupa
membalikkan lukisan itu untuk tertutup. Aku baru saja turun dari mobil Kyuhyun
Oppa setelah melihat – lihat kembali barang – barang simpananku beberapa bulan
lalu yang sengaja aku tinggalkan dalam mobilnya. Saat aku putus dengan Kris,
Kyuhyun Oppa lah yang menyimpankan barang – barangku di dalam bagasi mobilnya.
Lukisan ini sengaja
dibuat Kris sebagai hadiah anniversary kami yang kedua. Dan aku yang sangat
menyukai lukisan, begitu senang dan sangat sayang untuk membuangnya. Jadi hanya
aku simpan begitu saja dalam bagasi mobil Kyuhyun oppa dan baru kulihat kembali
pagi ini.
Tanganku segera
membalikkan lukisan itu. “Matamu terlalu jahil,” Sungutku. “Tidak bisakah kau
tidak memperhatikan atau bahkan mencaritahu tentangku? Itu sangat membuatku
terganggu, dan maaf, aku terburu – buru masuk kelas sekarang. Sampai jumpa,
semoga kita tidak bertemu lagi, mungkin?”
“Terburu – buru saja
masih menoceh panjang,” Dengusan Kai yang sempat terdengar oleh telingaku
membuatku berbalik arah dan menghentikan langkahku. “Apa kau tidak pernah
mencoba berceloteh setidaknya tentang hari esok yang special bagiku yang akan
datang?”
“Apa yang kau katakan
barusan?”
“Tidak, hanya sepatah
kata penyesalan untukku bertemu denganmu.”
***
Kakiku cukup pegal
untuk sekedar berkeliling mall berjam – jam. Sebenarnya sudah menjadi
kebiasaanku untuk mengelilingi mall. Tapi tidak se semangat dan seheboh ini. sampai
setiap toko yang tertangkap oleh mataku, aku masuki. Mau itu penting atau
tidak, aku hanya memikirkan kemungkinan akan ada barang yang mungkin disukai
Kai.
Siang ini aku cukup
dikejutkan setelah membaca majalah kampus. Sebuah artikel yang membahas tentang
dirinya. Aku bahkan tidak mengetahui kepopulerannya di kampus sampai sehebat
itu. Mungkin karena kehebatannya dalam segala bidang serta wajah yang lumayan,
menjadi faktor pendukung.
Dan aku merasa sangat
bersalah ketika baru mengetahui hari ulang tahunnya. 14 Januari. Dan itu
berarti besok adalah hari ulang tahunnnya. Pantas saja dia sempat mendengus
kesal tadi pagi. Hampir setiap yeoja dikampus sudah menyiapkan kado istimewa
untuknya, sepertinya. Karena aku sempat mendengar beberapa rumpian yeoja dikampusku
yang membicarakan hari esok.
Sialnya, sampai detik
inipun aku masih belum bisa menemukan hadiah ulang tahun yang terbaik untuknya.
Mengenalnya pun baru beberapa hari belakangan ini. Aku tidak tahu banyak apa yang
dia sukai. Hanya sebatas tahu kalau dia menyukai ayam goreng dan dance.
Drrt..
“Ne, Kyuhyun Oppa?” Aku
mengangkat ponselku kemudian menempelkannya pada telinga. Sembari terus
berjalan mengelilingi mall kemudian membuang pandangan jeli pada setiap barang
yang aku lihat.
“Neo
eodiga? Apa kau melupakan acara keluarga sore ini?” Aku
menepukkan telapak tangan pada kening dan mengumpat kesal. Mengingat akan ada
jadwal pertemuan keluarga yang akan menghambat pencarian kadoku.
“Ah, mian oppa.
Sepertinya aku melupakannya. Jam berapa acaranya? Apa boleh kalau aku tidak
ikut untuk sekali ini saja? Aku rasa aku mempunyai kepentingan mendesak.”
“Kepentingan
apa? Jam empat sore acaranya”
“Kepengtingan.. eng..
temanku ada yang ulang tahun besok dan aku sama sekali belum mempunyai hadiah
untuknya. Jadi aku harus mencarinya sekarang.”
“Nugu? Kai?” Aku nyaris terperanjat. Kyuhyun Oppa selalu bisa
menebak apa yang ada dalam pikiranku.
“Eng.. emm.. sepertinya
kau menebak dengan benar.” Sial, kenapa aku harus gugup hanya untuk
mengakuinya? Tidak masalahkan untuk aku mencarikan kado ulang tahun pada Kai?
“Tidak
usah gugup Jehee~a, itu akan memperjelas kalau kau mulai menyukainya. Benar
kan?”
“Bisa tutup mulutmu
dulu tentang itu? Aku mohon padamu untuk aku diizinkan tidak ikut acara
keluarga kali ini. yaaa? Jebalyeo oppa~~”
“Tidak
bisa. Halmoni akan kecewa kalau kau tidak datang. Kita sudah terlalu lama tidak
menjenguknya bersama saudara lain.”
“Baiklah, aku pulang
sekarang. Tapi.. apa kau bisa menjemputku? Aku rasa aku tidak membawa ongkos
yang cukup untuk sampai rumah.”
***
14
Januari 2013
09
: 19 a.m
Seoul,
South Korea
Cho
Jehee PoV
“Jangan tanyakan aku tentang
kenapa aku datang kembali ke lingkungan fakultasmu. Hanya ikuti saja aku, dan
tutup mulutmu sementara sampai kita tiba.”
Aku mengernyitkan
keningku saat melihat Kai menarik lenganku kemudian menuntunku berjalan
disampingnya. “Tiba? Tiba dimana? Kau sebenarnya mau membawaku kemana, hah? Aku
masih harus mengumpulkan tugas kelompok pada temanku untuk mengeditnya sebelum
dikumpulkan pada dosen. Dan aku..”
Kai menghentikan
langkahnya. membuatku yang berjalan dengan tuntunannya nyaris menubruknya yang
mengerem secara mendadak. Dia berbalik badan menghadap kearahku. Dengan tatapan
matanya yang masih belum aku mengerti maksudnya. Hanya saja, tatapan itu
berhasil membuatku terdiam dan tidak berpikir untuk membuka mulut lagi.
Sebenarnya, aku memilih
untuk diam karena takut dia akan menatapku seperti itu lagi. Yang aku yakin
dalam hitungan detik wajahku akan memerah seperti kepiting rebus. Dan tidak
baik juga sepertinya pada kerja jantungku.
Butuh waktu sekitar
sepuluh menit untuk aku berjalan mengikutinya. Ingin rasanya aku memuntahkan
kekesalanku karena rasa pegal yang bertubi. Kemarin saja, pegalku belum lama
hilang sekarang sudah ditambah lagi olehnya. Tapi aku terlalu takut untuk
membuka mulut untuk sepatah katapun.
“Sampai, dan kau boleh
duduk disitu,” Kai menunjuk kearah sebuah batu besar yang bisa aku duduki. Batu
itu bisa mencakup dua sampai tiga orang.
“Kalau.. berbicara,
sudah boleh belum?” Tanyaku dengan sedikit ragu.
Dia terdiam sejenak.
Kemudian meledakkan tawanya yang membuatku terheran. “Apa sebegitu gatalnya
lidahmu untuk tidak berbicara selama sepuluh menit?”
“Memangnya kenapa? Aku
sendiri tidak tahu mulutku itu sebenarnya terbuat dari apa. Yang tidak bisa
tahan untuk tidak bicara. Apa kau tahu? Sewaktu aku lulus sd kemudian masuk
SMP, aku berniat untuk menjadi anak pendiam. Penyendiri yang tidak banyak
bicara. Aku ingin teman – teman baruku mengenalku sebagai Cho Jehee yang tidak
banyak bicara. Tapi sialnya, hanya berhasil selama tiga bulan pertama. Dan
mereka mengira itu hanya sebagai adaptasiku dilingkungan baru.” Tanganku mulai
memukul – mukul ringan kedua kakiku yang terasa sangat pegal.
“Dan kau Kai~ssi. Apa
kau tidak tahu kalau kemarin aku mengitari dua mall dengan lima putaran lebih
setiap mallnya? Aku kemarin sudah seperti pengintai toko yang tidak jelas. Dan
sekarang kau mengerjaiku dengan berjalan selama sepuluh menit lamanya. Aku rasa
kakiku akan patah sepulang ini. yah, walaupun aku tahu, pemandangan ini cukup
indah”
“Aku akan menggendongmu
kalau kau lelah nanti,” Aku membulatkan mata dan mengarahkan pandangan fokus
padanya. Mengecek apakah pendengaranku memang sudah rusak atau dia benar –
benar berbicara seperti itu. “Kalau kau lelah, aku bisa menggendongmu. Karena
aku juga bisa menjadi kakimu. Menjadi mulutmu juga bisa kalau kau memang sudah
lelah untuk berbicara panjang.”
Kai mengambil posisi
duduk disampingku. Dengan kepala yang menoleh padaku. Dan tatapan mata yang
cukup membuatku keringat dingin dan nyaris melakukan hal – hal memalukan. “Apa..
maksudnya.. kau..”
“Kau tidak mau
mengucapkan kata special hari ini untukku?” Kai menghiraukan perkataan raguku.
“Apa?”
“Kata yang seharusnya
kau katakan hari ini padaku. Aku sudah menutup telingaku pada setiap orang yang
ingin mengatakan itu padaku. Karena aku ingin kau yang pertama kali mengatakannya.”
Aku tersenyum simpul,
mengerti maksudnya. Tanganku membuka tas yang aku bawa. Mengeluarkan sesuatu
yang sudah aku siapkan untuknya. “Saeng il Chukake Kim JongIn~ssi. Semoga kau
bisa menjadi orang yang lebih menakjubkan di umurmu sekarang. Menjadi sosok Kai
yang bisa membuat semua orang senang dan bahagia melihat kehadiranmu yang
berarti. Dan.. ini. tadi pagi aku sengaja membuatkan ini padamu. Karena hanya
ini yang aku tahu tentang kesukaanmu.”
Kai tersenyum lebar
dengan sedikit mengeluarkan tawanya. “Gomawo Jehee~ssi. Sinjja gomawo~”
Tangannya beranjak untuk mengacak ringan rambutku. “Terima kasih untuk fried
chicken special ala chef Jehee pagi ini. Dan terima kasih untuk doamu.”
“Apa kau ingin
mencobanya?”
“Nanti setelah aku
menanya kan beberapa hal padamu.” Kai menyimpan ayam gorengnya disamping kiri.
“Menanyakan beberapa
hal? Apa itu?”
“Tentang kau, dan aku.
Kita berdua.” Aku terdiam, berusaha untuk mengerti maksudnya. “Apa kau tidak
merasakan hal aneh ketika kita.. sedang bersama? Seperti saat ini. Aku sangat
merasakan hal yang tidak wajar. Dan sepertinya aku sakit.”
“Sakit?”
“Ya, aku sakit. Aku
harus segera masuk kerumah sakit khusus penanganan jantung. Dan aku harus
membawamu sebagai bukti. Karena gejala jantungku yang berdetak kencang itu
ketika kau bersamamu. Penyakit pernapasan juga mulai aku rasakan. Tapi ketika
kau berada dalam jarak jauh, tidak disampingku. Aku merasa sesak dan sulit
bernapas. Menyadari oksigenku yang hilang, yaitu kau. Apa kau merasakannya
juga? Kalau kau tidak merasakan ke anehan itu, berarti aku yang salah.”
“Tapi aku tidak mungkin
salah,” sambungnya, “karena aku yakin, tuhan benar – benar mengirimkanmu
untukku. Sebagai peri takdirku.”
“Aku tahu, kau mungkin
belum mengerti maksud pembicaraanku yang tak mengarah sedari tadi. Yah, anggap
saja itu karena.. kegugupanku mungkin? Untuk.. mengatakan hal sebenarnya.”
“Apa? Aku mungkin bisa
berbicara panjang, tapi aku sulit mengerti kalimat panjang, Kai~ssi” Protesku
padanya yang masih memutar – putarkan kalimatnya tanpa intin yang jelas.
“Baiklah, aku.. Hanya
ingin kado ulang tahun darimu.”
“Aku sudah membawakan
ayam goreng sebagai hadiah ulang tahun. Dan kalau kau mau yang lebih baik..
nanti aku akan usahakan untuk mencarinya. Tapi tidak sekarang, aku masih belum
tahu banyak tentang yang kau inginkan. Atau.. kau sebutkan saja apa
keinginanmu”
“Dan kau yakin akan
memberikannya untukku?”
Aku mengangguk, “Tentu
saja. Memangnya apa yang kau inginkan? Sepatu untuk kau dance? Sendok makan
terkeren untuk membantumu makan dengan cepat dan bisa menyaingiku? Aku teraktir
untuk nonton, makan dan jalan – jalan sesukamu bersamaku? Atau apa?”
“Kau.”
“Apa?”
“Aku ingin Kau.” Aku
terdiam kemudian membalas tatapan matanya yang mulai menatapku dengan penuh
arti. “ Aku hanya ingin kau yang selalu ada disampingku. Tersenyum bahagia dan
menjadi milikku selamanya. Karena hanya dengan kau, aku bisa melakukan semua
hal bodoh yang sebelumnya tidak pernah aku lakukan, dan aku menyukai itu.”
“Ketika aku lebih
memilih untuk menunggumu mencoba gaun dan sepatu dengan mata terbuka, bukan
tertidur. Karena sebelumya aku memang lebih suka untuk tidur dikesempatan
lenggang apapun. Ketika aku dengan cepat memutuskan kau, sebagai yeoja yang
akan aku ajak pada malam pesta dansa.
Karena banyak yeoja yang menawarkanku, tapi aku tahu, tidak ada yang lebih
istimewa darimu.”
“Mungkin hanya aku saja
yang merasa kenyamanan dan kesenagan tersendiri ketika kita bersama. Dan
mungkin pula hanya aku yang berharap untuk pertemuan – pertemuan berikutnya.
Mulutku memang selalu mengumpat setiap kali harus berhadapan denganmu. Tapi
hatiku selalu tersenyum ketika tahu akan ada kesempatan untuk melihat wajahmu.
Tapi.. kalau kau keberatan untuk.. memenuhi permintaanku tidak apa. Aku tahu,
dan aku mengerti. Masih ada Kris yang tersimpan jauh didalam hatimu.”
“Kau sepertinya sudah
tertular olehku,” Ujarku kemudian. “Bicaramu sudah bisa melebihi panjang
kalimat biasaku.”
Dia tersenyum kecil dan
aku hanya membalas senyumannya sejenak, sebelum aku kembali berbicara. “Memang,
sepertinya hanya kau yang mengharapkan itu. Aku sama sekali tidak mengharapkan
untuk melihat wajahmu lagi dipertemuan berikutnya.”
Senyumnya menghilang.
Tatapannya semakin mendalam dan penuh harap padaku. “Tapi itu yang sebenarnya
yang aku inginkan. Untuk terus membenci setiap pertemuan kita. Membenci setiap
kesialan yang aku dapat setiap bertemu denganmu.”
“Bodohnya aku, aku
malah mulai menyukainya. Aku mungkin tidak mengharapkan wajahmu, tapi aku
mengharapkan kehadiranmu. Kehadiran yang bisa membuat jantungku bekerja keras,
napasku yang tercekat, darahku yang terasa mengalir lebih cepat dari biasanya,
dan aku menyukai itu. Perubahan – perubahan yang terjadi padaku setiap kali kau
datang menghampiriku dan berada didekatku.”
“Mungkin kau tidak
sebaik Kris saat sedang mengomentari penampilanku, gaunku, dan sepatuku. Karena
aku tahu, Kris memang orang yang sangat menyukai Fashion sedang kau adalah
orang yang tidak banyak bicara. Mungkin juga kau tidak sebaik Kris yang senang
membagi perhatian padaku. Karena kau sepertinya tipe namja yang cuek, tidak
terlalu peduli.”
“Tapi asal kau tahu,
aku sebenarnya menyukai namja yang cuek. Namja yang jarang sekali menunjukkan
ketertarikan dan kepeduliannya. Tapi sebenarnya dia sangat berusaha untuk
peduli. Sekali dia menunjukkan perhatiannya, itu akan sangat terasa lebih
berkesan.”
“Jadi? Apa aku masuk
dalam tipikal namja mu? Namja yang kau harapkan?”
“Menurutmu?”
“Kalau kau bertanya
pendapatku, tentu saja aku jawab iya. Karena aku memang menginginkanmu. Yeoja
bawel dengan mulut tak bisa disuruh diam sepertimu, sepertinya masuk dalam
tipikal yeojaku. Karena hanya kau yang bisa membuatku berbicara dengan panjang
dan menjadi sosok Kai yang lebih hidup dari biasanya.”
“Jadi?”
“Kau sah, menjadi
takdir hidupku mulai hari ini. Dan tidak ada batas waktu. Kalau Kris masih
menganggumu, itu urusanmu. Yang penting kau sudah berjanji untuk menyanggupi keinginanku
hari ini. dan kalau kau berani untuk menanggapi Kris, jangan salahkan aku kalau
kau masuk dalam perangkapku. Dan kau, akan aku penjara” tangannya mengarah pada
ujung kepalaku, dan sekali lagi dia mencak ringan rambutku. Sebelum akhirnya
kami berebut ayam goreng yang aku bawakan sebagai hadiah ulang tahunnya.
END
2 komentar:
Kyaaa.. ternyata Ha Gun masih dipasangkan dgn Kyu.. ini aku Han Ha Gun.. btw aku janji ke Kai, Kris g bakal ganggu Jehee lgi deh.. nnti aku marahin Kris oppa kalo sampe gangguin Jehee
(aku ini adenya Kris kkekke
Iyalah, pasti Ha Gun bakal selalu sama Kyuhyun. emangnya Jehee, lagi move on bentar ke Kai exo-_-v Jehee kan bandel jai maklumin aja, hehe.
okeee marahin gih~ biar Kai bisa hidup dengan tenang (?)
Posting Komentar