I’m Begging Thou (One
Shoot)
Main Cast :
- Sung Hyun Sun
- Byun Baek Hyun
- Lee Kikwang
- Han Ha Gun
- Cho Kyuhyun
- Kai (EXO K)
- Cho Jehee
Bagaimanapun
takdirmu..
Dalam
situasi apapun itu..
Dia tetap
tidak bisa kau biarkan..
Dengan
segores luka sekecil apapun.
Karena
dia,
Memang
benar – benar membutuhkanmu..
Sung
HyunSun PoV
Sore ini begitu terasa sepi dari biasanya. Jauh
lebih sepi dari ketika aku terbiasa berdiam diri dirumah dengan kedua orang
tuaku yang sibuk dengan pekerjaan masing – masing. Suasana camping disini cukup
ramai tapi entah kenapa aku berasa begitu tersingkirkan. Teman sekelasku sibuk
dengan permainan mereka , terlebih teman yeoja yang sibuk dengan gossip baru
mereka, dan guru – guru ku memanfaatkan kebebasan mereka dengan obrolan yang
terlihat sangat heboh.
Aku sebenarnya bukan tergolong anak pendiam dikelas.
Hanya berbicara sewajarnya dan terdiam sewajarnya. Bukan terbandel atau
terheboh bukan juga terdiam atau pemalu atau bahkan kutu buku, bahkan aku
sendiri tidak terlalu menyukai buku. Aku tidak mengasingkan diri tapi mereka
yang mengasingkanku.
Semenjak kejadian satu bulan lalu tentang protesku
pada kepala sekolah. Mereka terus berfikir aku adalah siswa pembangkang. Aku
adalah siswa terlancang yang tidak memiliki tata karma. Apa yang salah dari
kejadian satu bulan lalu? aku hanya tidak tahan dengan sikap appaku yang semena
– mena. Dan aku tidak tahu bagaiman cara dia mengubah sifat semua temanku
menjadi begitu patuh dengannya.
Ne, dia appaku. Kepala sekolah tempat aku besekolah.
Aku sangat membenci appaku yang mempunyai sifat ambisius tinggi dan tidak bisa
membedakan mana hal pribadi dan hal pekerjaan. Tidak ada yang mengetahui kalau aku
adalah putri kandungnya. Itu dikarenakan aku bersikeras untuk berusaha
diperlakukan normal dan dia tidak mengusikku dengan embel – embel membawa nama
dia saat aku melakukan kesalahan sedikitpun disekolah.
Saat itu aku hanya membantahnya dengan dilarangnya
untuk kami, siswa kelas tiga mengikuti ekstrakulikuler atau pertandingan –
pertandingan diluar sana. Terutama ekskul kesenian. Dia terlalu menekankan hal
itu dalam pidatonya. Dia memang melarang keras untukku menekuni dibidang seni. Entah kenapa dia
selalu membenci hal yang aku suka. Dan selalu ingin mengubahnya menjadi lebih
buruk.
“kau tidak ikut bermain dengan temanmu?” Kikwang
menghampiriku. dengan segera aku bergeser tempat membeikannya tempat untuk duduk
disampingku. Dia siswa pindahan dari Jepang satu semester lalu. belum terlalu
banyak teman yang mengenalnya. Terlebih sepertinya dia adalah orang yang
tertutup.
“tidak terlalu tertarik. Lagipula untuk apa aku ikut
dengan mereka?” aku menggedikkan bahu sambil terus memperhatikan tingkah –
tingkah temanku di tengah tanah lapang tak jauh dari tenda.
“kau yang tidak tertarik atau mereka yang tidak mau
menarikmu?” sahut kikwang cepat membuatku terdiam sejenak. “satu bulan bukan
waktu yang singkat untuk memaafkan,bukan? Lagipula aku rasa tindakanmu pasti
ada alasannya. Keluar dari aula sebelum kepala sekolah selesai berdebat
denganmu kemudian membanting pintu dengan kerasnya. Itu cukup keren, kurasa.”
“tapi tidak terlalu keren dengan efeknya” jawabku.
“kau sendiri? Tidak ada niat untuk berbaur dengan yang lain?”
“aku ingin mencoba untuk menjadi anak pendiam. Entah
kenapa aku sangat tertarik untuk mencoba menjadi anak pendiam.” Ujarnya yang
kemudian dilanjutkan dengan gumaman pelan yang nyaris tak terdengar. Sehingga
aku mengira salah dengar, “menemanimu”
“kau lapar? Aku masih ada dua ramen yang siap
disantap” tawarku kemudian. Memecah keheningan yang sempat tercipta beberapa
saat setelahnya karena tatapan kami yang saling beradu. Entah apa yang
sebenarnya yang terjadi, dia sering sekali memperlakukanku seperti itu.
***
Lee
Kikwang PoV
Awalnya aku sama sekali tidak tertarik dengan yeoja
yang suka menyendiri, mengurung diri dengan kediamannya. Tapi dikarenakan
HyunSunku berubah menjadi anak pendiam, mau tidak mau aku harus menemaninya.
Memberikannya sebuah pengisian dihari sepinya.
Sung HyunSun. Yeoja yang sudah berhasil menarik
perhatianku saat pertama kali menginjakkan kaki di kelas baruku. Kelas yang aku
anggap sebagai kelas pendaur ulangan sikapku tiga tahun yang lalu. saat sebelum
aku menjadi anak Bengal di sekolah lamaku.
“tidak terlalu lapar. Tapi kalau kau butuh teman
untuk makan, baiklah.” HyunSun menyodorkan ramen yang masih sedikit
mengeluarkan asapnya kepadaku dan aku menerimanya dengan tangan yang tanpa
sengaja menyetuh telapak tangannya. Dengan segera dia melepaskan tangannya dan
membuang tatapan kearah lain. Aku hanya menyimpan senyum terkulumku.
“kalau tidak salah dengar, kau sangat menyukai
bidang seni?” aku kembali bertanya. Mencoba sebisa mungkin menghilangkan rasa
canggung diantara kami.
“ne, tapi sayangnya banyak yang tidak setuju kalau
aku menyukai kesenian.” Jawabnya setelah menelan ramen dalam mulutnya.
“wae? Aku rasa setiap orang punya hak untuk menyukai
apapun” sahutku dengan sedikit mengernyitkan kening.
“mollaseo. Semua orang beranggapan aku tidak begitu
berbakat dalam hal seni. Bahkan ada beberapa orang yang mengatakan kalau aku
lebih baik menekuni bidang olah raga, dan sama sekali tidak pantas untuk
belajar seni” HyunSun menjerit setelah menyelesaikan kalimatnya, “YAIKS! YAK,
NEO!” satu bola sepak menerjangnya hingga menjatuhkan ramen yang ada
ditangannya dan menumpahi pakaiannya. Dia menatap marah kearah namja yang
hendak mengambil bola itu kembali.
“kalau ingin makan jangan dipinggir lapangan, sudah
dipastikan akan terkena bola” tutur namja yang aku kurang tahu siapa namanya.
Sepertinya dia bukan anak dari kelas yang satu lantai dengan kelasku. Sekitar
kelas 3-6 atau 3-7.
“mwo? Sudah bersalah masih saja menyalahkanku?”
HyunSun bangkit dari duduknya. Menjajarkan diri dengan namja didepannya. “Yak,
Byun Baekhyun, kau tidak mau mengucapkan kata maaf sekalipun?”
“mengatakan kata maaf? Kau sendiri tidak mau mengaku
kalau kau salah saat menentang kepala sekolah. Lalu kau menyuruhku untuk mengakui
kesalahan? Koreksi dirimu dulu, Hyu~a” namja yang aku rasa bernama BaekHyun itu
berlalu pergi. Membiarkan HyunSun yang masih terpantug kaku kemudian
menjatuhkan tubuhnya kembali ke kursi tempat kami duduk.
“gwenchana?” tanyaku kemudian sambil menyodorkan
sapu tangan dari saku ku untuk membantunya membersihkan pakaiannya yang basah
oleh kuah ramen.
“ige mwoya?” dia belum meresponku. Menundukkan
kepalanya sambil berdesis. “sahabatku sendiri juga menyingkirkanku. Lalu siapa
yang akan benar – benar disampingku, huh?”
“aku,” sahutku cepat yang membuatnya menoleh
kearahku. “aku akan mencobanya. Ah, ani. Memang menginginkannya. Aku tidak
setuju dengan ketidak sukaan teman – teman, dan aku yakin kau melakukan ini dengan
mempunyai alasan.”
“neo.. gomawo, Kikwang~ssi. Sinjja gomawoyeo.” Suara
HyunSun mulai terdengar serak karena air mata yang mulai menetesi wajahnnya.
“uljima, aku sudah mengatakan akan selalu berada
disampingmu. Jangan takutkan hal apapun lagi, eo?”
***
Byun
BaekHyun PoV
Aku menatapnya sesekali dari tempat aku bermain. Memastikan
kalau dia baik – baik saja. Aku sangat mengharapkan kekuatannya dalam kondisi
seperti ini. karena aku yakin menjadi siswa tersingkir adalah hal yang paing
menyakitkan dan terasa membunuh.
Sejujurnya aku sama sekali tidak berniat untuk ikut
menyisihkannya atau bahkan memojokkannya seperti tadi. Aku sendiri juga tidak
terlalu sanggup untuk memperlakukannya seperti itu. Kami sudah berteman lama.
Lebih dari sepuluh tahun. Dan itu adalah penghalang bagiku untuk ikut membencinya.
Tapi aku tentu tidak bisa tidak ikut
memperlakukannya seperti itu. Semua temanku memperlakukannya seperti itu.
Walaupun rasanya ingin sekali aku meninju mulut setiap orang yang mencibir dan
mengosipkannya. Tapi aku rasa itu sangat percuma. Diam lebih baik, dan berharap
bahwa dia benar – benar akan kuat menghadapi satu semester terakhir ini.
“yak, Baekhyun~a apa yang kau lihat, hah? Kita sudah
nyaris kalah dan kau malah melamun” dengus Suho menghampiriku.
“bisa tidak aku keluar dari permainan saja?” tawarku
kemudian.
“mwo? Memangnya kenapa? Permainan belum selesai.”
Suho menatap aneh diriku yang belum pernah sebelumnya untuk mau mengakhiri
pertandingan sebelum aku yang menang.
“aku ada sedikit urusan yang harus segera
diselasaikan, mian” tanganku menepuk ringan pundaknya sebelum akhirnya berlari
kecil keluar lapangan.
“apa maumu, hah?” Kyuhyun hyung menatap marah kearah
HyunSun yang berdiri kaku. “kau mengganggu yeojaku sama saja kau mengundangku
untuk membunuhmu.”
“oppa, aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu.
Aku hanya….” HyunSun berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi yang
sebenarnya kurang aku ketahui karena aku baru saja lewat.
“aku tidak mau dengar alasan darimu.” Potong kyuhyun
hyung. “segaris luka yang kau buat ditubuhnya, membuatku semakin tidak
memaaafkanmu, HyunSun~a. tidak peduli kau masih saudaraku dengan Jehee atau
bukan. Aku semakin khawatir dengan Jehee yang sering bermain denganmu. Aku
harap aku bisa membawanya menyingkir darimu sebelum dia tertular olehmu.”
Kyuhyun Hyung berlalu. Membiarkan HyunSun menunduk lemas menatap sepasang
kakinya. Gertakan kyuhyun hyung yang terdengar begitu menakutkannya membuat
orang disekeliling tak berani menatap dan hanya bergumam mengomentari buruk
tetangnya.
Aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Ini sudah
kesekian kalinya aku melihatnya menangis. Batinku begitu tertahan oleh luka
yang menumpuk. Aku mengambil langkah untuk menghampirinya. Mungkin menjaganya
secara terang – terangan untuk sekarang adalah hal yang baik.
“HyunSun~a” aku menghentikan langkahku. Mendengar suara
yang terdengar begitu Khawatir memanggil sosok yang dihampirinya. Dia menarik
tubuh HyunSun yang bergetar akibat isakannya kedalam dekapannya. “Gwenchana?”
Aku hanya terdiam. Menatap miris mereka bedua yang
terlihat begitu dekat. Dan aku lihat HyunSun begitu nyaman dan tenang dalam
dekapannya. Ige mwoya? Kenapa semua ini terasa menyakitkan? Sepuluh tahun bukan
waktu yang lama untuk tahap….. menyukainya?
***
“ByunBaekHyun,Lee Kikwang,Cho Kyuhyun, Kai, kalian
ada dalam satu tim yang akan berjalan bersama tim yeoja yaitu, Cho Jehee,
SungHyunSun, Han Ha Gun, dan Yura, kalian akan bisa mengikuti petunjuk dari
peta yang akan saya berikan.”
Aku berjalan malas kearah barisan yang sudah
ditentukan. Hal yang paling tidak aku sukai dalam perjalanan camping. Mencari
jejak. Tapi mau tidak mau aku harus ikut. Bagaimanapun juga hyunSun akan
dipastikan ada dalam barisan pada awal. Dia sangat menyukai bagian ini dalam
camping.
“eo, baeksun~a? kau yakin akan ikut? Minatmu hanya
dua puluh persen aku rasa.” Kai menepuk pundakku ringan sambil menatapku heran
dan mengambil posisi barisan disampingku.
“wae? Memangnya mencoba hal baru tidak boleh?”
sungutku.
“HyunSun~a, kau lupa untuk memasang sarung
tanganmu,eo?” mataku melirik segan kearah sosok yang baris dibagian depanku.
Lee Kikwang dan Sung HyunSun. Bocah berwajah baru di sekolah itu masih berani
mau merebut yeojaku, sial. Aku terlalu bodoh untuk tidak memperkirakan hal itu.
“gomawoyeo.” HyunSun mengulas senyum setelah kikwang
memasang rapih sarung tangan pada telapak tangan HyunSun.
“yak, kau lihat tingah dua bocah itu? Anak buangan
dan anak baru mereka bersatu? Begitu menjijikan” komentar kai yang menatap aneh
ke arah depan sebelum akhirnya mundur kebarisan belakang. Mencari keberadaan
yeoja – yeoja lain untuk dijadikan sasaran tembaknya.
Aku masih terdiam, berusaha menormalkan kondisiku
yang tak karuan. Membuang tatapanku kearah lain dan berharap untuk tidak menemukan
alasan untuk menoleh kembali kearah mereka.
“eng.. Bae~a” suara kecil yang terdenar ragu – ragu
itu mendekat kearahku setelah aku berada alam posisiku sekitar sepuluh menit.
“maaf, kalau….” Tangannya menjulurkan selembar kertas kecil. “dalam satu kelompok
akan dbagi lagi menjadi berpasangan untuk berpencar mengumpulkan petunjuk dan
sekali lagi maaf karena kebodohan tanganku yang tanpa sengaja… memilih… kertas
yang bertuliskan namamu.” Dia menundukkan kepalanya sejenak dengan tatapan
maata yang memelas.
Aku menyimpan senyumku sebisa mungkin. Berusaha
menunjukkan sikap dinginku. “mau tidak mau. Harus mau, kurasa itu perinsip
pembimbing kita.” Gumamku.
HyunSun mengangkat kembali kepalanya. “jadi.. kau
tidak keberatan? Tidak apa – apa kalau kau ingin bertukar dengan Kikwang”
Aku hanya menggedikkan bahu kemudian berjalan
mendahuluinya. Mengikuti arahan berikutnya yang sepertinya sudah disuarakan
oleh pembimbing kami. “percepat jalanmu, kalau tidak ingin tertinggal
rombongan.”
***
SungHyunSun
PoV
Aku sesekali menoleh kearah belakangku yang sudah
terlihat berjalan dengan penuh niat malasnya. Memastikan kalau dia tidak benar
– benar tertinggal jauh dariku. Khawatir dia tidak mempunyai kemampuan untuk
kembali ke pos awal.
“eodiga? Apa kita sama sekali belum menemukan
petunjuk?” keluhnya yang mulai berjalan mendekatiku. “sebodoh ini kah kau
sampai tidak bisa menemukannya?”
“yak, kitakan satu tim. Seharusnya bukan hanya aku
mencari, kau juga.” dengusku kesal kemudian kembali berjalan mendahulinya.
Mencari jejak yang mungkin saja menjadi clue untuk petunjuk selanjutnya.
“cih, terus saja salahkan aku. Kau sendiri tidak
pernah menyadari kesalahanmu sampai detik ini.” aku berhenti sejenak saat
mendengarnya mengatakan hal yang menyinggung permasalahan itu kembali.
Aku membalikkan tubuh kearahnya yang nyaris
menubruknya karena ternyata dia sudah berjalan mendekat kearahku. “apa sebegitu
besarnya kesalahanku sampai semua orang membenciku? Hanya berteriak didepan
kepala sekolah kemudian meninggalkan ruangan dengan membanting pintu? Sebegitu
bertata kramanya kah, kalian? Hah?” ujarku dengan sedikit meninggikan suaraku,
frustasi.“waeyeo? Sahabat ku sendiri tidak mau mempercayaiku? Hah, tidak perlu
mempunyai sahabat kalau berujung pada permusuhan. Lebih baik aku mempuyai mantan
namja chingu sekalian yang membuatku punya alasan untuk benar – benarr
membencinya.”
Dia terdiam. Dengan raut wajah yang sulit kubaca,
sebelum akhirnya dia bergumam dengan kalimat yang nyaris aku kira salah dengar.
“mianhae, chonmal mianhae. Maaf kalau kehadiranku mempersulit keadaanmu. Karena
hanya itu yang bisa aku lakukan sekarang… Hyu~a.”
“eo?” aku menyadarkan diri setelah kami beradu tatap
dalam jarak dekat cukup lama. Setelah dia menyelesaikan kalimatnya yang
membuatku merasa seperti dalam alam bawah sadarku.
“lupakan.” Elaknya kemudian yang berubah kembali
menjadi dingin. “lanjutkan saja pencariannya. Aku tidak suka terjebak terlalu
lama dalam hutan.”
***
Aku terduduk dengan tangan yang sibuk memainkan
ranting pohon tanpa arah. Menatap api unggun didepanku dengan tatapan kosong.
Pikiranku melambung ulang kepada perkataannya saat di hutan. Masih belum
mengerti dan berharap pengertianku saat ini tidak salah. Kalau.. dia sebenarnya
tidak memusuhiku?
Entah apa yang membuatku merasa lega mengetahui kalau
dia sama sekali tidak membenciku. Berbeda dengan kerelaan ku atas pembencian teman
– teman satu sekolah yang sebenarnya juga menyiksaku. Aku merasa jauh lebih
tersiksa ketika mengetahui dia juga membenciku. Seakan tidak ada lagi harapan
yang bisa aku gapai. Pegangan hidup.
Kehadiran kikwang disampingku memang cukup mengisi.
Membantu menutup luka setiap kali tergores. Hanya saja belum mampu untuk
menutup luka dalamku. Yang kebetulan baru mulai membaik. Saat dia menggumamkan
kalimat tadi. Dan aku harap aku tidak mempunyai masalah dalam pendengaran.
“kau mau coba?” kikwang duduk disampingku kemudian
menyodorkan jagung panggang yang masih berasap dihadapanku. “cuaca disini cukup
dingin. Mungkin ini akan sedikit menghangatkan.”
Aku hanya mengangguk setelah kembali pada
kesadaranku kemudian menerima jangung bakarnya. Belum sempat aku membuka
mulutku untuk mencoba memakan, sebuah tangan menarik paksa jangung panggang
dari hadapanku.
“jangan dimakan,” sergah suara yang terasa begitu nyaman
ditelingaku. “jangan paksakan diri hanya untuk menyenangkannya. Kau lupa kalau
kau mempunyai kelemahan pada papilamu? Kau tidak bisa memakan sesuatu makanan
panas?”
Aku terperangah saat melihat baekhyun yang berujar
dengan datarnya tapi aku mengerti maksudnya. “k..kau? bae~a, aku.. hanya..”
“jangan sebut namaku saat kau bertemu dengan dokter
Choi lagi karena lidahmu kembali mati rasa. Aku tidak ingin menjadi sasaran
amarahnya untuk.. kesekian kalinya” sungutnya yang membuatku sulit untuk
menyembunyikan senyuman.
“kau.. benar sudah kembali.. padaku?”
***
Lee
Kikwang PoV
“kau.. benar sudah kembali.. padaku?” tubuhku
membelu seketika saat mendengar kalimat sumringah dari mulut HyunSun untuk
namja yang sedang beradu tatap dengannya. Byun BaekHyun.
Tidak berniat untuk memusuhi, tapi sepertinya dia
datang untuk menjai penghalang. Perasaan takut terus menyelimutiku saat
BaekHyun mulai kembali memperlihatkan perhatiannya hari ini pada HyunSun. Bukan
berarti aku tidak menerima kalau sahabatnya kembali untuknya. Tapi aku tidak
terima jika.. sahabat nya datang kembali untuk.. merebutnya dariku?
BaekHyun masih dalam raut yang tak terbaca. Seolah
memberikan sedikit harapan palsu agar HyunSun terus memaksanya berbicara. Dan
lebih lama.. untuk beradu pandang, mungkin.
“tidak sepenuhnya.” Sahut baekhyun cepat. Yang
membuat HyunSun sedikit sulit menahan kesenanggannya. “jangan senang dulu, aku
belum selesai berbicara.”
“wae?”
“kau harus ceritakan padaku sepenuhnya apa yang
sebenarnya terjadi?” BaekHyun berdiri dari duduknya. Mengulurkan tangan untuk
member tanda HyunSun juga harus mengikutinya. Ada jeda untuk HyunSun berfikir
sejenak, sebelum akhirnya menerima uluran tangan dan ikut berdiri.
“dan untuk kau,” arah pandang baekhyun beralih
padaku. Membuatku membalas tatapannya dengan enggan. “kamsha hamnida, untuk
menjaga… yeojaku selama aku belum siap untuk… menariknya kembali dalam medanku,
dan.. maaf. Karena aku rasa kau butuh jarak dengannya setelah ini.”
Kening HyunSun mengerut. Mengartikan kalimatt
Baekhyun yang sepertinya terdengar sulit dimengerti untuknya. “mwoya? Dia
sekarang juga sahabatku.” Protesnya.
“kau masih tidak mengerti maksudku?” Baekhyun
mengela nafas beratnya dan menatap HyunSun sesabar mungkin. “tidak mengerti
bagaimana kedua orang tuamu mengasah kemampuan otakmu saat balita, tapi kalau
boleh jujur, kau terlau bodoh, Hyu~a”
ByunBaekHyun
PoV
“memangnya kenapa kalau aku bodoh? Setidaknya itu
juga salahmu karena tidak mengajariku untuk menjadi pintar selama kita
berteman” HyunSun melipat tangannya dan menjulurkan lidah membalas ejekanku.
Memang sedikit sulit, untuk menjelaskan pada yeoja
yang sudah mempuyai kedekatan lebih dari sahabat. Dia bisa menganggap kita
hanya bergurau, tidak mengerti atau berpura untuk tidak mengerti dan mengacu
kearah pemikiran lain. Dan lebih buruknya kalau.. dia sama sekali tidak
mempunyai perasaan yang sama.
Sahabat tetap sahabat. Teman tetap teman. Tapi
takdir.. tetap pada aturannya.
“baiklah, sepertinya kau membutuhkan sedikit
penjelasan bertaraf anak yang duduk ditaman kanak – kanak karena tidak mengerti.”
“terserah kau, yang penting aku mengerti.”
“tapi.. kau bisa untuk menjelaskan secara singkat
padaku bagaimana kau bisa melakukan hal yang diluar batas saat pertemuan di
aula?” aku mengangkat alisku, meminta sedikit penjelasan langsung yang keluar dari
mulutnya. Kesempatan ini aku gunakan saat acara api unggun bebas berlangsung.
Saat semua siswa bekumpul mengelilingi hangatnya api diantara kami. Dan
berusaha menarik perhatian HyunSun agar tidak menyadari keadaan.
HyunSun terdiam, seolah sedang memilih kata – kata
yang mudah untuk dimengerti sebelum menjelaskan. “tn.Sung, kepala sekolah
kita.. dia.. sangat membenciku. Jauh sebelum kejadian di aula itu terjadi.
Bahkan sebelum aku masuk kesekolah ini.”
“dia selalu menolakku untuk menentukan jalan hidupku
sendiri. Menahanku dengan target – target hidupnya sendiri, dan entah kenapa
selalu menyimpang dari keinginanku, kesukaanku dan kemampuanku. Sampai akhirnya
aku tidak sanggup menahan semua bebanku dan meluapkannya saat semua terasa
memuncak, di aula. Dia begitu menekankan pada ekskul kesenian yang aku ikuti
dan aku sukai. Terlalu memojokkanku dengan tatapannya yang menyindir. Aku tidak
kuat untuk tinggal diam. Itu sama saja.. menjatuhkan harga diriku sebagai
anaknya.”
“anak?” aku nyaris terperangah mendengar kata
terakhir yang keluar dari mulutnya. Sepuluh tahun berteman tapi bodohnya aku
hanya mengenal ibunya tanpa mengenal ayahnya. dengan ibunya pun hanya dalam
hitungan jari aku bertemu. Karena yang aku tahu kedua orang tuanya terlalu
sibuk.
“eo, anak. Aku.. anak dari sosok yang kau patuhi,
dan aku membenci kenyataan itu.” Dia menundukkan kepalanya lemas, mengingat
kembali apa yang telah dirasakannya selama ini. HyunSun bukan tipe orang yang
dengan mudah membuka mulut. Termasuk denganku, sahabatt kecilnya sendiri.
Langkah kaki terdengar mendekat. Ha Gun menarik
HyunSun dalam pelukannya. “maaf, kalau aku mengira buruk tentangmu.” Yeoja
dingin itu melepaskan pelukannya diringi ulasan senyum teman – teman sekolah
yang ada disekitar perkemahan. HyunSun menatap tak percaya pemandangan di hadapannya.
Semua tersenyum. Dan itu.. untuknya. “kami akan menjagamu, untuk jauh dari
target hidup kepala sekolah untukmu.”
***
“aaaaa” ringisku spontan saat tangan mungilnya
mencubit lenganku. “mwoya? Neo michiseo? Neomu appaseo”
“kau yang gila, bukan aku.” Sungutnya. Membuang
tatapannya kearah langit gelap tanpa bintang diatasnya. “tidak kusangka aku
mempunyai teman senakal kau.”
“aku tidak nakal, hanya pintar mencari kesempatan”
sambungku yang disahut dengan seringai enggannya.
“ngomong –ngomong.. kau masih berhutang penjelas
padaku.” Aku membeku seketika saat dia kembali membahasnya. Nyaris saja aku
berhasil membuatnya lupa untuk menyuruhku menjelaskan kalimat tadi. Cukup sulit
hanya dengan berbicara dengannya.
“apa?”
“jangan pura – pura tidak tahu jika tidak ingin
mendapat cubitan kedua.”
“ara,” aku mengambil posisi duduk santai
disampingnya. Berusaha merilekskan tubuhku yang cukup gugup hanya untuk memberinya
penjelasan. Sepuluh tahun bersama, baru kali ini aku merasa keringat dingin
berbicara padanya. “maksud perkataanku tadi…”
“yeojaku. Apa itu? Sahabat yeojamu? Kau kurang
menambahkan kata sahabat didepannya untuk mudah dimengerti.” Potong HyunSun
yang kemudian mengembalikan tatapan kearahku.
“ani, aku tidak salah mengatakan. Karena.. kau
memang yeojaku. Yeoja yang daridulu hanya milikku. Tanpa ada campur tangan
orang lain.” Ujarku. “ Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat untuk aku
menyadari.. arti kehadiranmu. Arti mengapa aku selalu bisa tertawa bersamamu,
arti mengapa aku begitu manati hari esok yang sudah dipastikan bersamamu, dan
arti mengapa aku.. begitu tidak kuat untuk melihatmu terluka.”
Dia terdiam dengan mulut yang terkatup rapat. Raut
wajah yang kalau aku tidak salah lihat.. merona?
“berteman belum tentu sahabat. Dan sahabat belum
tentu.. takdir. Semua mempunyai ikatannya sendiri, dengan taraf yang berbeda.
Teman hanya sekedar saling mengenal, sahabat hanya sekedar dekat. Tapi takdir..
tidak ada yang bisa menebak, hanya bisa bisa mengetahui seberapa besar ikatan
yang dibuatnya. Dan aku harap, otak bodohmu bisa mengerti itu.”
“yak, kau tidak bisa membuat suasanya seperti tadi
sedikit lebih lama?” gumamnya pelan yang membuatku nyaris sulit mendengar.
“wae?” tanyaku, “kalau begitu aku…”
“langsung pada intiya.” Potongnya lagi.
“baiklah. Intinya, kau adalah takdirku.”
“mwo?” matanya seidkit membulat, refleks dari
perkataanku. “bagaimana kau bisa memutuskan dengan mudahnya?”
“takdir tidak perlu dicari, karena sebenarnya sudah
mengikat. Tapi hanya butuh sedikit waktu untuk menyadarinya.”
“lalu? kalau aku menolak untuk menjadi takdirmu?”
sergahnya dengan nada yang sedikit berantakan, membuatku menahan senyum.
“terserah kau, itupun kalau bisa.”
“baiklah, aku menolaknya.” Sahutnya cepat membuatku
terdiam sejenak. Berharap akan ada kalimat lagi dibelakangnya. Hening. Dalam
waktu yang terasa begitu lama hanya untuk menanti jawabannya. “menolak untuk
ditakdirkan menjadi sahabatmu.”
“tapi menerima untuk?” aku sedikit mencobanya agar
memperjelas.
“kau katakan satu kalimat untuk meyakinkanku.”
Aku menenagkan diriku sejenak. Setelah kringat yang
begitu dingin membanjiri tubuhku malam ini. “kau.. eng.. baiklah, aku..
menyukaimu. Saranghae , Hyu~a.”
Dia terdiam, menatapku dengan tatapan kosongnya yang
aku tidak tahu jalan pikiranya melambung kemana. Tapi aku selalu menyukai
tatapannya. Bola mata berwarna coklat pekatnya itu dan kepolosannya saat
menatapku.. aku tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaanku setiap sorot
matanya mengarah padaku. Hanya padaku.
“baiklah, aku.. menerima takdir, karena aku
sendiri.. memang tidak bisa menggelak.”
“untuk?”
“menjadi.. yak, kenapa daritadi aku saja yang kau
pojokkan, hah?” HyunSun mulai kembali dalam kesadarannya dan ini membuatku
menghela nafas, menyingkirkan harapan untuk kembali pada kondisi sebelumnya.
Tindakannya memnag sering diluar perkiraan.
“memangnya kenapa?”
“sebenarnya yang ingin menyatakan perasaanya itu
siapa,eo? Kau atau aku?”
“aku tidak menyatakan perasaanku padamu.. hanya..
menceritakan sedikit tentang takdir hidup.” Sahutku santai sambil mengalihkan
pandangan kearah lain. Lama – lama menatapnya akan memberikan dampak buruk
untuk untukku. Terutama, pada jantungku.
“YAK! BYUN BAEKHYUN!”
END
Huaaa selesai juga akhirnya *ngelap
kringet* ternyata susah ya, bikin ff kalo lagi gak galau (?) bingung sendiri
jadinya. Yaah, tapi gapapalah, ngisi free time aku yang semakin menyempit
karena UN semakin mendekat-__-
Jadi maklum yah, kalo ceritanya
kependekan dan gak danta-_-“ ini tapi kayaknya masih mending karena si
hyunsunya gak aku pasangin sama DongHae :p *lirik Hyunsun* akhir ceritanya tapi
agak gantuung yah? Kalo masalah itu aku sengaja, pengen nyoba bikin akhir yang
tersirat (?)
Yak. SungHyunSun, otte? Aku gamau tau
dikau harus komennnn… wajib! Ini aku bikin dengan pengorbanan yang amat sangat
langka aku lakuin hanya buat bikin ff *halah* soalnya mesti bikin alur cerita cinta segitiga, karena Hyunsun terlalu
narsis untuk mau diperebutkan dua namja -___-
kalau kamu
masih bingung sama masalah cara ninggalin komen, gampang, aku kasih tau
caranya. Tulis aja komennya terus masukin alamat e-mail dan nama. Terserah mau
ngasih nama apaan. Gak mesti punya blog juga kok. Dan buat readers yang lain
juga gitu yaaah, plus jangan bingung kalo komentarnya gak langsung muncul di
blog. Soalnya harus nunggu moderasi atau persetujuan dari akunya dulu. Tapii
tenang kok, semua komen bakal aku terima ;)
Karena aku
masih butuh belajar, aku butuh komentarnya yaaaaaaa. Ditunggu chingu!!

1 komentar:
Ehm..ehm Absen dulu ah.. kkekkekke
oke menurut ku ff ini udh bgs kok, tpi karakter si cewe agak sedikit kurang kuat. yap itu aja coment ku
Posting Komentar