Minggu, 28 Oktober 2012

I’m Begging Thou (One Shoot)


I’m Begging Thou (One Shoot)

Main Cast :
- Sung Hyun Sun
- Byun Baek Hyun
- Lee Kikwang
- Han Ha Gun
- Cho Kyuhyun
- Kai (EXO K)
- Cho Jehee

Bagaimanapun takdirmu..
Dalam situasi apapun itu..
Dia tetap tidak bisa kau biarkan..
Dengan segores luka sekecil apapun.
Karena dia,
Memang benar – benar membutuhkanmu..

Sung HyunSun PoV
Sore ini begitu terasa sepi dari biasanya. Jauh lebih sepi dari ketika aku terbiasa berdiam diri dirumah dengan kedua orang tuaku yang sibuk dengan pekerjaan masing – masing. Suasana camping disini cukup ramai tapi entah kenapa aku berasa begitu tersingkirkan. Teman sekelasku sibuk dengan permainan mereka , terlebih teman yeoja yang sibuk dengan gossip baru mereka, dan guru – guru ku memanfaatkan kebebasan mereka dengan obrolan yang terlihat sangat heboh.
Aku sebenarnya bukan tergolong anak pendiam dikelas. Hanya berbicara sewajarnya dan terdiam sewajarnya. Bukan terbandel atau terheboh bukan juga terdiam atau pemalu atau bahkan kutu buku, bahkan aku sendiri tidak terlalu menyukai buku. Aku tidak mengasingkan diri tapi mereka yang mengasingkanku.
Semenjak kejadian satu bulan lalu tentang protesku pada kepala sekolah. Mereka terus berfikir aku adalah siswa pembangkang. Aku adalah siswa terlancang yang tidak memiliki tata karma. Apa yang salah dari kejadian satu bulan lalu? aku hanya tidak tahan dengan sikap appaku yang semena – mena. Dan aku tidak tahu bagaiman cara dia mengubah sifat semua temanku menjadi begitu patuh dengannya.
Ne, dia appaku. Kepala sekolah tempat aku besekolah. Aku sangat membenci appaku yang mempunyai sifat ambisius tinggi dan tidak bisa membedakan mana hal pribadi dan hal pekerjaan. Tidak ada yang mengetahui kalau aku adalah putri kandungnya. Itu dikarenakan aku bersikeras untuk berusaha diperlakukan normal dan dia tidak mengusikku dengan embel – embel membawa nama dia saat aku melakukan kesalahan sedikitpun disekolah.
Saat itu aku hanya membantahnya dengan dilarangnya untuk kami, siswa kelas tiga mengikuti ekstrakulikuler atau pertandingan – pertandingan diluar sana. Terutama ekskul kesenian. Dia terlalu menekankan hal itu dalam pidatonya. Dia memang melarang keras untukku  menekuni dibidang seni. Entah kenapa dia selalu membenci hal yang aku suka. Dan selalu ingin mengubahnya menjadi lebih buruk.
“kau tidak ikut bermain dengan temanmu?” Kikwang menghampiriku. dengan segera aku bergeser tempat membeikannya tempat untuk duduk disampingku. Dia siswa pindahan dari Jepang satu semester lalu. belum terlalu banyak teman yang mengenalnya. Terlebih sepertinya dia adalah orang yang tertutup.
“tidak terlalu tertarik. Lagipula untuk apa aku ikut dengan mereka?” aku menggedikkan bahu sambil terus memperhatikan tingkah – tingkah temanku di tengah tanah lapang tak jauh dari tenda.
“kau yang tidak tertarik atau mereka yang tidak mau menarikmu?” sahut kikwang cepat membuatku terdiam sejenak. “satu bulan bukan waktu yang singkat untuk memaafkan,bukan? Lagipula aku rasa tindakanmu pasti ada alasannya. Keluar dari aula sebelum kepala sekolah selesai berdebat denganmu kemudian membanting pintu dengan kerasnya. Itu cukup keren, kurasa.”
“tapi tidak terlalu keren dengan efeknya” jawabku. “kau sendiri? Tidak ada niat untuk berbaur dengan yang lain?”
“aku ingin mencoba untuk menjadi anak pendiam. Entah kenapa aku sangat tertarik untuk mencoba menjadi anak pendiam.” Ujarnya yang kemudian dilanjutkan dengan gumaman pelan yang nyaris tak terdengar. Sehingga aku mengira salah dengar, “menemanimu”
“kau lapar? Aku masih ada dua ramen yang siap disantap” tawarku kemudian. Memecah keheningan yang sempat tercipta beberapa saat setelahnya karena tatapan kami yang saling beradu. Entah apa yang sebenarnya yang terjadi, dia sering sekali memperlakukanku seperti itu.
***
Lee Kikwang PoV
Awalnya aku sama sekali tidak tertarik dengan yeoja yang suka menyendiri, mengurung diri dengan kediamannya. Tapi dikarenakan HyunSunku berubah menjadi anak pendiam, mau tidak mau aku harus menemaninya. Memberikannya sebuah pengisian dihari sepinya.
Sung HyunSun. Yeoja yang sudah berhasil menarik perhatianku saat pertama kali menginjakkan kaki di kelas baruku. Kelas yang aku anggap sebagai kelas pendaur ulangan sikapku tiga tahun yang lalu. saat sebelum aku menjadi anak Bengal di sekolah lamaku.
“tidak terlalu lapar. Tapi kalau kau butuh teman untuk makan, baiklah.” HyunSun menyodorkan ramen yang masih sedikit mengeluarkan asapnya kepadaku dan aku menerimanya dengan tangan yang tanpa sengaja menyetuh telapak tangannya. Dengan segera dia melepaskan tangannya dan membuang tatapan kearah lain. Aku hanya menyimpan senyum terkulumku.
“kalau tidak salah dengar, kau sangat menyukai bidang seni?” aku kembali bertanya. Mencoba sebisa mungkin menghilangkan rasa canggung diantara kami.
“ne, tapi sayangnya banyak yang tidak setuju kalau aku menyukai kesenian.” Jawabnya setelah menelan ramen dalam mulutnya.
“wae? Aku rasa setiap orang punya hak untuk menyukai apapun” sahutku dengan sedikit mengernyitkan kening.
“mollaseo. Semua orang beranggapan aku tidak begitu berbakat dalam hal seni. Bahkan ada beberapa orang yang mengatakan kalau aku lebih baik menekuni bidang olah raga, dan sama sekali tidak pantas untuk belajar seni” HyunSun menjerit setelah menyelesaikan kalimatnya, “YAIKS! YAK, NEO!” satu bola sepak menerjangnya hingga menjatuhkan ramen yang ada ditangannya dan menumpahi pakaiannya. Dia menatap marah kearah namja yang hendak mengambil bola itu kembali.
“kalau ingin makan jangan dipinggir lapangan, sudah dipastikan akan terkena bola” tutur namja yang aku kurang tahu siapa namanya. Sepertinya dia bukan anak dari kelas yang satu lantai dengan kelasku. Sekitar kelas 3-6 atau 3-7.
“mwo? Sudah bersalah masih saja menyalahkanku?” HyunSun bangkit dari duduknya. Menjajarkan diri dengan namja didepannya. “Yak, Byun Baekhyun, kau tidak mau mengucapkan kata maaf sekalipun?”
“mengatakan kata maaf? Kau sendiri tidak mau mengaku kalau kau salah saat menentang kepala sekolah. Lalu kau menyuruhku untuk mengakui kesalahan? Koreksi dirimu dulu, Hyu~a” namja yang aku rasa bernama BaekHyun itu berlalu pergi. Membiarkan HyunSun yang masih terpantug kaku kemudian menjatuhkan tubuhnya kembali ke kursi tempat kami duduk.
“gwenchana?” tanyaku kemudian sambil menyodorkan sapu tangan dari saku ku untuk membantunya membersihkan pakaiannya yang basah oleh kuah ramen.
“ige mwoya?” dia belum meresponku. Menundukkan kepalanya sambil berdesis. “sahabatku sendiri juga menyingkirkanku. Lalu siapa yang akan benar – benar disampingku, huh?”
“aku,” sahutku cepat yang membuatnya menoleh kearahku. “aku akan mencobanya. Ah, ani. Memang menginginkannya. Aku tidak setuju dengan ketidak sukaan teman – teman, dan aku yakin kau melakukan ini dengan mempunyai alasan.”
“neo.. gomawo, Kikwang~ssi. Sinjja gomawoyeo.” Suara HyunSun mulai terdengar serak karena air mata yang mulai menetesi wajahnnya.
“uljima, aku sudah mengatakan akan selalu berada disampingmu. Jangan takutkan hal apapun lagi, eo?”
***
Byun BaekHyun PoV
Aku menatapnya sesekali dari tempat aku bermain. Memastikan kalau dia baik – baik saja. Aku sangat mengharapkan kekuatannya dalam kondisi seperti ini. karena aku yakin menjadi siswa tersingkir adalah hal yang paing menyakitkan dan terasa membunuh.
Sejujurnya aku sama sekali tidak berniat untuk ikut menyisihkannya atau bahkan memojokkannya seperti tadi. Aku sendiri juga tidak terlalu sanggup untuk memperlakukannya seperti itu. Kami sudah berteman lama. Lebih dari sepuluh tahun. Dan itu adalah penghalang bagiku untuk ikut membencinya.
Tapi aku tentu tidak bisa tidak ikut memperlakukannya seperti itu. Semua temanku memperlakukannya seperti itu. Walaupun rasanya ingin sekali aku meninju mulut setiap orang yang mencibir dan mengosipkannya. Tapi aku rasa itu sangat percuma. Diam lebih baik, dan berharap bahwa dia benar – benar akan kuat menghadapi satu semester terakhir ini.
“yak, Baekhyun~a apa yang kau lihat, hah? Kita sudah nyaris kalah dan kau malah melamun” dengus Suho menghampiriku.
“bisa tidak aku keluar dari permainan saja?” tawarku kemudian.
“mwo? Memangnya kenapa? Permainan belum selesai.” Suho menatap aneh diriku yang belum pernah sebelumnya untuk mau mengakhiri pertandingan sebelum aku yang menang.
“aku ada sedikit urusan yang harus segera diselasaikan, mian” tanganku menepuk ringan pundaknya sebelum akhirnya berlari kecil keluar lapangan.
“apa maumu, hah?” Kyuhyun hyung menatap marah kearah HyunSun yang berdiri kaku. “kau mengganggu yeojaku sama saja kau mengundangku untuk membunuhmu.”
“oppa, aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya….” HyunSun berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi yang sebenarnya kurang aku ketahui karena aku baru saja lewat.
“aku tidak mau dengar alasan darimu.” Potong kyuhyun hyung. “segaris luka yang kau buat ditubuhnya, membuatku semakin tidak memaaafkanmu, HyunSun~a. tidak peduli kau masih saudaraku dengan Jehee atau bukan. Aku semakin khawatir dengan Jehee yang sering bermain denganmu. Aku harap aku bisa membawanya menyingkir darimu sebelum dia tertular olehmu.” Kyuhyun Hyung berlalu. Membiarkan HyunSun menunduk lemas menatap sepasang kakinya. Gertakan kyuhyun hyung yang terdengar begitu menakutkannya membuat orang disekeliling tak berani menatap dan hanya bergumam mengomentari buruk tetangnya.
Aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Ini sudah kesekian kalinya aku melihatnya menangis. Batinku begitu tertahan oleh luka yang menumpuk. Aku mengambil langkah untuk menghampirinya. Mungkin menjaganya secara terang – terangan untuk sekarang adalah hal yang baik.
“HyunSun~a” aku menghentikan langkahku. Mendengar suara yang terdengar begitu Khawatir memanggil sosok yang dihampirinya. Dia menarik tubuh HyunSun yang bergetar akibat isakannya kedalam dekapannya. “Gwenchana?”
Aku hanya terdiam. Menatap miris mereka bedua yang terlihat begitu dekat. Dan aku lihat HyunSun begitu nyaman dan tenang dalam dekapannya. Ige mwoya? Kenapa semua ini terasa menyakitkan? Sepuluh tahun bukan waktu yang lama untuk tahap….. menyukainya?
***
“ByunBaekHyun,Lee Kikwang,Cho Kyuhyun, Kai, kalian ada dalam satu tim yang akan berjalan bersama tim yeoja yaitu, Cho Jehee, SungHyunSun, Han Ha Gun, dan Yura, kalian akan bisa mengikuti petunjuk dari peta yang akan saya berikan.”
Aku berjalan malas kearah barisan yang sudah ditentukan. Hal yang paling tidak aku sukai dalam perjalanan camping. Mencari jejak. Tapi mau tidak mau aku harus ikut. Bagaimanapun juga hyunSun akan dipastikan ada dalam barisan pada awal. Dia sangat menyukai bagian ini dalam camping.
“eo, baeksun~a? kau yakin akan ikut? Minatmu hanya dua puluh persen aku rasa.” Kai menepuk pundakku ringan sambil menatapku heran dan mengambil posisi barisan disampingku.
“wae? Memangnya mencoba hal baru tidak boleh?” sungutku.
“HyunSun~a, kau lupa untuk memasang sarung tanganmu,eo?” mataku melirik segan kearah sosok yang baris dibagian depanku. Lee Kikwang dan Sung HyunSun. Bocah berwajah baru di sekolah itu masih berani mau merebut yeojaku, sial. Aku terlalu bodoh untuk tidak memperkirakan hal itu.
“gomawoyeo.” HyunSun mengulas senyum setelah kikwang memasang rapih sarung tangan pada telapak tangan HyunSun.
“yak, kau lihat tingah dua bocah itu? Anak buangan dan anak baru mereka bersatu? Begitu menjijikan” komentar kai yang menatap aneh ke arah depan sebelum akhirnya mundur kebarisan belakang. Mencari keberadaan yeoja – yeoja lain untuk dijadikan sasaran tembaknya.
Aku masih terdiam, berusaha menormalkan kondisiku yang tak karuan. Membuang tatapanku kearah lain dan berharap untuk tidak menemukan alasan untuk menoleh kembali kearah mereka.
“eng.. Bae~a” suara kecil yang terdenar ragu – ragu itu mendekat kearahku setelah aku berada alam posisiku sekitar sepuluh menit. “maaf, kalau….” Tangannya menjulurkan selembar kertas kecil. “dalam satu kelompok akan dbagi lagi menjadi berpasangan untuk berpencar mengumpulkan petunjuk dan sekali lagi maaf karena kebodohan tanganku yang tanpa sengaja… memilih… kertas yang bertuliskan namamu.” Dia menundukkan kepalanya sejenak dengan tatapan maata yang memelas.
Aku menyimpan senyumku sebisa mungkin. Berusaha menunjukkan sikap dinginku. “mau tidak mau. Harus mau, kurasa itu perinsip pembimbing kita.” Gumamku.
HyunSun mengangkat kembali kepalanya. “jadi.. kau tidak keberatan? Tidak apa – apa kalau kau ingin bertukar dengan Kikwang”
Aku hanya menggedikkan bahu kemudian berjalan mendahuluinya. Mengikuti arahan berikutnya yang sepertinya sudah disuarakan oleh pembimbing kami. “percepat jalanmu, kalau tidak ingin tertinggal rombongan.”
***
SungHyunSun PoV
Aku sesekali menoleh kearah belakangku yang sudah terlihat berjalan dengan penuh niat malasnya. Memastikan kalau dia tidak benar – benar tertinggal jauh dariku. Khawatir dia tidak mempunyai kemampuan untuk kembali ke pos awal.
“eodiga? Apa kita sama sekali belum menemukan petunjuk?” keluhnya yang mulai berjalan mendekatiku. “sebodoh ini kah kau sampai tidak bisa menemukannya?”
“yak, kitakan satu tim. Seharusnya bukan hanya aku mencari, kau juga.” dengusku kesal kemudian kembali berjalan mendahulinya. Mencari jejak yang mungkin saja menjadi clue untuk petunjuk selanjutnya.
“cih, terus saja salahkan aku. Kau sendiri tidak pernah menyadari kesalahanmu sampai detik ini.” aku berhenti sejenak saat mendengarnya mengatakan hal yang menyinggung permasalahan itu kembali.
Aku membalikkan tubuh kearahnya yang nyaris menubruknya karena ternyata dia sudah berjalan mendekat kearahku. “apa sebegitu besarnya kesalahanku sampai semua orang membenciku? Hanya berteriak didepan kepala sekolah kemudian meninggalkan ruangan dengan membanting pintu? Sebegitu bertata kramanya kah, kalian? Hah?” ujarku dengan sedikit meninggikan suaraku, frustasi.“waeyeo? Sahabat ku sendiri tidak mau mempercayaiku? Hah, tidak perlu mempunyai sahabat kalau berujung pada permusuhan. Lebih baik aku mempuyai mantan namja chingu sekalian yang membuatku punya alasan untuk benar – benarr membencinya.”
Dia terdiam. Dengan raut wajah yang sulit kubaca, sebelum akhirnya dia bergumam dengan kalimat yang nyaris aku kira salah dengar. “mianhae, chonmal mianhae. Maaf kalau kehadiranku mempersulit keadaanmu. Karena hanya itu yang bisa aku lakukan sekarang… Hyu~a.”
“eo?” aku menyadarkan diri setelah kami beradu tatap dalam jarak dekat cukup lama. Setelah dia menyelesaikan kalimatnya yang membuatku merasa seperti dalam alam bawah sadarku.
“lupakan.” Elaknya kemudian yang berubah kembali menjadi dingin. “lanjutkan saja pencariannya. Aku tidak suka terjebak terlalu lama dalam hutan.”
***
Aku terduduk dengan tangan yang sibuk memainkan ranting pohon tanpa arah. Menatap api unggun didepanku dengan tatapan kosong. Pikiranku melambung ulang kepada perkataannya saat di hutan. Masih belum mengerti dan berharap pengertianku saat ini tidak salah. Kalau.. dia sebenarnya tidak memusuhiku?
Entah apa yang membuatku merasa lega mengetahui kalau dia sama sekali tidak membenciku. Berbeda dengan kerelaan ku atas pembencian teman – teman satu sekolah yang sebenarnya juga menyiksaku. Aku merasa jauh lebih tersiksa ketika mengetahui dia juga membenciku. Seakan tidak ada lagi harapan yang bisa aku gapai. Pegangan hidup.
Kehadiran kikwang disampingku memang cukup mengisi. Membantu menutup luka setiap kali tergores. Hanya saja belum mampu untuk menutup luka dalamku. Yang kebetulan baru mulai membaik. Saat dia menggumamkan kalimat tadi. Dan aku harap aku tidak mempunyai masalah dalam pendengaran.
“kau mau coba?” kikwang duduk disampingku kemudian menyodorkan jagung panggang yang masih berasap dihadapanku. “cuaca disini cukup dingin. Mungkin ini akan sedikit menghangatkan.”
Aku hanya mengangguk setelah kembali pada kesadaranku kemudian menerima jangung bakarnya. Belum sempat aku membuka mulutku untuk mencoba memakan, sebuah tangan menarik paksa jangung panggang dari hadapanku.
“jangan dimakan,” sergah suara yang terasa begitu nyaman ditelingaku. “jangan paksakan diri hanya untuk menyenangkannya. Kau lupa kalau kau mempunyai kelemahan pada papilamu? Kau tidak bisa memakan sesuatu makanan panas?”
Aku terperangah saat melihat baekhyun yang berujar dengan datarnya tapi aku mengerti maksudnya. “k..kau? bae~a, aku.. hanya..”
“jangan sebut namaku saat kau bertemu dengan dokter Choi lagi karena lidahmu kembali mati rasa. Aku tidak ingin menjadi sasaran amarahnya untuk.. kesekian kalinya” sungutnya yang membuatku sulit untuk menyembunyikan senyuman.
“kau.. benar sudah kembali.. padaku?”
***
Lee Kikwang PoV
“kau.. benar sudah kembali.. padaku?” tubuhku membelu seketika saat mendengar kalimat sumringah dari mulut HyunSun untuk namja yang sedang beradu tatap dengannya. Byun BaekHyun.
Tidak berniat untuk memusuhi, tapi sepertinya dia datang untuk menjai penghalang. Perasaan takut terus menyelimutiku saat BaekHyun mulai kembali memperlihatkan perhatiannya hari ini pada HyunSun. Bukan berarti aku tidak menerima kalau sahabatnya kembali untuknya. Tapi aku tidak terima jika.. sahabat nya datang kembali untuk.. merebutnya dariku?
BaekHyun masih dalam raut yang tak terbaca. Seolah memberikan sedikit harapan palsu agar HyunSun terus memaksanya berbicara. Dan lebih lama.. untuk beradu pandang, mungkin.
“tidak sepenuhnya.” Sahut baekhyun cepat. Yang membuat HyunSun sedikit sulit menahan kesenanggannya. “jangan senang dulu, aku belum selesai berbicara.”
“wae?”
“kau harus ceritakan padaku sepenuhnya apa yang sebenarnya terjadi?” BaekHyun berdiri dari duduknya. Mengulurkan tangan untuk member tanda HyunSun juga harus mengikutinya. Ada jeda untuk HyunSun berfikir sejenak, sebelum akhirnya menerima uluran tangan dan ikut berdiri.
“dan untuk kau,” arah pandang baekhyun beralih padaku. Membuatku membalas tatapannya dengan enggan. “kamsha hamnida, untuk menjaga… yeojaku selama aku belum siap untuk… menariknya kembali dalam medanku, dan.. maaf. Karena aku rasa kau butuh jarak dengannya setelah ini.”
Kening HyunSun mengerut. Mengartikan kalimatt Baekhyun yang sepertinya terdengar sulit dimengerti untuknya. “mwoya? Dia sekarang juga sahabatku.” Protesnya.
“kau masih tidak mengerti maksudku?” Baekhyun mengela nafas beratnya dan menatap HyunSun sesabar mungkin. “tidak mengerti bagaimana kedua orang tuamu mengasah kemampuan otakmu saat balita, tapi kalau boleh jujur, kau terlau bodoh, Hyu~a”
ByunBaekHyun PoV
“memangnya kenapa kalau aku bodoh? Setidaknya itu juga salahmu karena tidak mengajariku untuk menjadi pintar selama kita berteman” HyunSun melipat tangannya dan menjulurkan lidah membalas ejekanku.
Memang sedikit sulit, untuk menjelaskan pada yeoja yang sudah mempuyai kedekatan lebih dari sahabat. Dia bisa menganggap kita hanya bergurau, tidak mengerti atau berpura untuk tidak mengerti dan mengacu kearah pemikiran lain. Dan lebih buruknya kalau.. dia sama sekali tidak mempunyai perasaan yang sama.
Sahabat tetap sahabat. Teman tetap teman. Tapi takdir.. tetap pada aturannya.
“baiklah, sepertinya kau membutuhkan sedikit penjelasan bertaraf anak yang duduk ditaman kanak – kanak karena tidak mengerti.”
“terserah kau, yang penting aku mengerti.”
“tapi.. kau bisa untuk menjelaskan secara singkat padaku bagaimana kau bisa melakukan hal yang diluar batas saat pertemuan di aula?” aku mengangkat alisku, meminta sedikit penjelasan langsung yang keluar dari mulutnya. Kesempatan ini aku gunakan saat acara api unggun bebas berlangsung. Saat semua siswa bekumpul mengelilingi hangatnya api diantara kami. Dan berusaha menarik perhatian HyunSun agar tidak menyadari keadaan.
HyunSun terdiam, seolah sedang memilih kata – kata yang mudah untuk dimengerti sebelum menjelaskan. “tn.Sung, kepala sekolah kita.. dia.. sangat membenciku. Jauh sebelum kejadian di aula itu terjadi. Bahkan sebelum aku masuk kesekolah ini.”
“dia selalu menolakku untuk menentukan jalan hidupku sendiri. Menahanku dengan target – target hidupnya sendiri, dan entah kenapa selalu menyimpang dari keinginanku, kesukaanku dan kemampuanku. Sampai akhirnya aku tidak sanggup menahan semua bebanku dan meluapkannya saat semua terasa memuncak, di aula. Dia begitu menekankan pada ekskul kesenian yang aku ikuti dan aku sukai. Terlalu memojokkanku dengan tatapannya yang menyindir. Aku tidak kuat untuk tinggal diam. Itu sama saja.. menjatuhkan harga diriku sebagai anaknya.”
“anak?” aku nyaris terperangah mendengar kata terakhir yang keluar dari mulutnya. Sepuluh tahun berteman tapi bodohnya aku hanya mengenal ibunya tanpa mengenal ayahnya. dengan ibunya pun hanya dalam hitungan jari aku bertemu. Karena yang aku tahu kedua orang tuanya terlalu sibuk.
“eo, anak. Aku.. anak dari sosok yang kau patuhi, dan aku membenci kenyataan itu.” Dia menundukkan kepalanya lemas, mengingat kembali apa yang telah dirasakannya selama ini. HyunSun bukan tipe orang yang dengan mudah membuka mulut. Termasuk denganku, sahabatt kecilnya sendiri.
Langkah kaki terdengar mendekat. Ha Gun menarik HyunSun dalam pelukannya. “maaf, kalau aku mengira buruk tentangmu.” Yeoja dingin itu melepaskan pelukannya diringi ulasan senyum teman – teman sekolah yang ada disekitar perkemahan. HyunSun menatap tak percaya pemandangan di hadapannya. Semua tersenyum. Dan itu.. untuknya. “kami akan menjagamu, untuk jauh dari target hidup kepala sekolah untukmu.”
***
“aaaaa” ringisku spontan saat tangan mungilnya mencubit lenganku. “mwoya? Neo michiseo? Neomu appaseo”
“kau yang gila, bukan aku.” Sungutnya. Membuang tatapannya kearah langit gelap tanpa bintang diatasnya. “tidak kusangka aku mempunyai teman senakal kau.”
“aku tidak nakal, hanya pintar mencari kesempatan” sambungku yang disahut dengan seringai enggannya.
“ngomong –ngomong.. kau masih berhutang penjelas padaku.” Aku membeku seketika saat dia kembali membahasnya. Nyaris saja aku berhasil membuatnya lupa untuk menyuruhku menjelaskan kalimat tadi. Cukup sulit hanya dengan berbicara dengannya.
“apa?”
“jangan pura – pura tidak tahu jika tidak ingin mendapat cubitan kedua.”
“ara,” aku mengambil posisi duduk santai disampingnya. Berusaha merilekskan tubuhku yang cukup gugup hanya untuk memberinya penjelasan. Sepuluh tahun bersama, baru kali ini aku merasa keringat dingin berbicara padanya. “maksud perkataanku tadi…”
“yeojaku. Apa itu? Sahabat yeojamu? Kau kurang menambahkan kata sahabat didepannya untuk mudah dimengerti.” Potong HyunSun yang kemudian mengembalikan tatapan kearahku.
“ani, aku tidak salah mengatakan. Karena.. kau memang yeojaku. Yeoja yang daridulu hanya milikku. Tanpa ada campur tangan orang lain.” Ujarku. “ Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat untuk aku menyadari.. arti kehadiranmu. Arti mengapa aku selalu bisa tertawa bersamamu, arti mengapa aku begitu manati hari esok yang sudah dipastikan bersamamu, dan arti mengapa aku.. begitu tidak kuat untuk melihatmu terluka.”
Dia terdiam dengan mulut yang terkatup rapat. Raut wajah yang kalau aku tidak salah lihat.. merona?
“berteman belum tentu sahabat. Dan sahabat belum tentu.. takdir. Semua mempunyai ikatannya sendiri, dengan taraf yang berbeda. Teman hanya sekedar saling mengenal, sahabat hanya sekedar dekat. Tapi takdir.. tidak ada yang bisa menebak, hanya bisa bisa mengetahui seberapa besar ikatan yang dibuatnya. Dan aku harap, otak bodohmu bisa mengerti itu.”
“yak, kau tidak bisa membuat suasanya seperti tadi sedikit lebih lama?” gumamnya pelan yang membuatku nyaris sulit mendengar.
“wae?” tanyaku, “kalau begitu aku…”
“langsung pada intiya.” Potongnya lagi.
“baiklah. Intinya, kau adalah takdirku.”
“mwo?” matanya seidkit membulat, refleks dari perkataanku. “bagaimana kau bisa memutuskan dengan mudahnya?”
“takdir tidak perlu dicari, karena sebenarnya sudah mengikat. Tapi hanya butuh sedikit waktu untuk menyadarinya.”
“lalu? kalau aku menolak untuk menjadi takdirmu?” sergahnya dengan nada yang sedikit berantakan, membuatku menahan senyum.
“terserah kau, itupun kalau bisa.”
“baiklah, aku menolaknya.” Sahutnya cepat membuatku terdiam sejenak. Berharap akan ada kalimat lagi dibelakangnya. Hening. Dalam waktu yang terasa begitu lama hanya untuk menanti jawabannya. “menolak untuk ditakdirkan menjadi sahabatmu.”
“tapi menerima untuk?” aku sedikit mencobanya agar memperjelas.
“kau katakan satu kalimat untuk meyakinkanku.”
Aku menenagkan diriku sejenak. Setelah kringat yang begitu dingin membanjiri tubuhku malam ini. “kau.. eng.. baiklah, aku.. menyukaimu. Saranghae , Hyu~a.”
Dia terdiam, menatapku dengan tatapan kosongnya yang aku tidak tahu jalan pikiranya melambung kemana. Tapi aku selalu menyukai tatapannya. Bola mata berwarna coklat pekatnya itu dan kepolosannya saat menatapku.. aku tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaanku setiap sorot matanya mengarah padaku. Hanya padaku.
“baiklah, aku.. menerima takdir, karena aku sendiri.. memang tidak bisa menggelak.”
“untuk?”
“menjadi.. yak, kenapa daritadi aku saja yang kau pojokkan, hah?” HyunSun mulai kembali dalam kesadarannya dan ini membuatku menghela nafas, menyingkirkan harapan untuk kembali pada kondisi sebelumnya. Tindakannya memnag sering diluar perkiraan.
“memangnya kenapa?”
“sebenarnya yang ingin menyatakan perasaanya itu siapa,eo? Kau atau aku?”
“aku tidak menyatakan perasaanku padamu.. hanya.. menceritakan sedikit tentang takdir hidup.” Sahutku santai sambil mengalihkan pandangan kearah lain. Lama – lama menatapnya akan memberikan dampak buruk untuk untukku. Terutama, pada jantungku.
“YAK! BYUN BAEKHYUN!”
END
Huaaa selesai juga akhirnya *ngelap kringet* ternyata susah ya, bikin ff kalo lagi gak galau (?) bingung sendiri jadinya. Yaah, tapi gapapalah, ngisi free time aku yang semakin menyempit karena UN semakin mendekat-__-
Jadi maklum yah, kalo ceritanya kependekan dan gak danta-_-“ ini tapi kayaknya masih mending karena si hyunsunya gak aku pasangin sama DongHae :p *lirik Hyunsun* akhir ceritanya tapi agak gantuung yah? Kalo masalah itu aku sengaja, pengen nyoba bikin akhir yang tersirat (?)
Yak. SungHyunSun, otte? Aku gamau tau dikau harus komennnn… wajib! Ini aku bikin dengan pengorbanan yang amat sangat langka aku lakuin hanya buat bikin ff  *halah* soalnya mesti bikin alur cerita cinta segitiga, karena Hyunsun terlalu narsis untuk mau diperebutkan dua namja -___-
kalau kamu masih bingung sama masalah cara ninggalin komen, gampang, aku kasih tau caranya. Tulis aja komennya terus masukin alamat e-mail dan nama. Terserah mau ngasih nama apaan. Gak mesti punya blog juga kok. Dan buat readers yang lain juga gitu yaaah, plus jangan bingung kalo komentarnya gak langsung muncul di blog. Soalnya harus nunggu moderasi atau persetujuan dari akunya dulu. Tapii tenang kok, semua komen bakal aku terima ;)
Karena aku masih butuh belajar, aku butuh komentarnya yaaaaaaa. Ditunggu chingu!!

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Ehm..ehm Absen dulu ah.. kkekkekke
oke menurut ku ff ini udh bgs kok, tpi karakter si cewe agak sedikit kurang kuat. yap itu aja coment ku