Game in Mistake (part1)
Maaf yang kemaren ffnya gagal dan typo abis. Mianhae~.
Dan sekarang gue tobat deh. Gamau lagi masangin donghae oppa sama yang lain-_-
gue gak biasa, dan itu jadinya aneh. Sekarang gue bikin ff part KyuHa Couple
again J
selamat membacaaaaa. Tuunggu komennya yaah, and thanks udah mau mampir.
Rintangan
dalam game kali ini,
Aku
yakin ini menjadi level tersulit dalam hidup.
Menang
atau kalah.
Terjebak
atau menjebak.
Mati
atau Berjaya.
Han
Ha Gun PoV
Mataku membengkak parah dua hari belakangan ini.
entah ini karena debu yang sering beradu dengan mataku, atau tangisanku setiap
malam yang tak henti. Aku benar – benar tidak yakin akan sanggup melewati masa
ini. dan aku memang sudah mengatakan padanya dari awal. Tapi apa? Dia sama
sekali tidak mau mendengarkanku.
Bodoh. Ini benar – benar keputusan bodoh yang dia
ambil. Memilih untuk menolak beasiswa ke Amerika, yang sudah dia perjuangkan
bersama ku secara Cuma – Cuma hanya untuk datang ke acara wisuda yeoja itu dan
merayakannya. Eo, yeoja yang sepertinya sangat akrab dengannya belakangan ini.
sampai dia sanggup untuk mengacuhkanku dan memilih untuk menghentikan hubungan
kami.
Cho Kyuhyun. Makhluk yang aku tidak tahu datangnya
dari planet mana sampai bisa benar – benar menarikku jatuh terlalu jauh kedalam
jurangnya. Aku tidak tahu bertemu dengannya adalah sebuah keajaiban atau
penderitaan. Perasaanku sekarangpun juga tak menentu. Antara menderita atau
bahagia.
Menderita karena kehilangan asupan gizi hidupku.
yang membuatku terus bertahan hidup. Atau bahagia karena terlepas darinya.
Semua penderitaan yang aku rasa nyaris tidak kurasa selama aku bersamanya.
Enath apa yang membuatku berfikir tidak ada kesalahan yang dibuatnya sekarang
ini. dan aku selalu berfikir itu adalah salahku. Sampai saat ini dia pergi
meninggalkankupun, aku rasa dia tidak bersalah.
Itu pilihannya, dan aku hanya salah satu dari seribu
jawaban persoalan cintanya, mungkin. Hanya menjadi salah satu batu loncatannya.
Yang mungkin saja akan dia tinggal pergi ke pijakan lain. Menyisakan bekas
telapaknya yang begitu mendalam.
“Ha Gun~a, kau yakin tidak akan makan?” Jehee
menatapku dengan penuh ke khawatiran. Tangannya terus menyodorkan makanan
kearahku. Berusaha untuk membuatku makan.
“hentikan, itu hanya akan membuang waktu mu saja.”
Sahutku. Mataku masih terus menatap kosoh kearah lain. Entah hilang kemana
nyawaku belakangan ini. “karena aku tidak akan mau makan”
“kau pikir perutmu terbuat dari baja dan tidak butuh
makan?” jehee meletakkan piring yang sedaritadi disodorkan padaku kemudian
mulai menatapku frustasi. Sudah hampir dua jam dia duduk dihadapanku hanya
untuk menyuruhku makan.
“mungkin.”
“aku tahu, ini karena ulah kakak ku, maaf. Aku
mewakilinya untuk mengatakan maaf padamu” Jehee masih terus menatapku. Berusaha
mendapat perhatian dariku. “tapi tolong Ha Gun~a, pikirkan dengan logika. Kau
masih butuh makan.”
“aku tidak butuh makan,” jawabku. “karena aku tidak
membutuhkan energy untuk sekarang. Percuma, dan hanya akan kubuang sia – sia.”
“sekarang terserah maumu saja. Kau pilih memakan
satu suap tanpa kupaksa, atau aku menyuruhmu makan habis secara paksa?”
“aku pilih tidak makan”
“yak! Aih,” Jehee berdiri dari duduknya. Menatapku
dengan tatapan frustasinya. “aku menyerah untuk membuatku makan hari ini. tapi
aku akan benar – benar membuatmu membukan mulut walau hanya satu suap, besok!”
***
Aku hanya bisa menyandarkan tubuhku kearah sandaran
kasur yang terbuat dari kayu dikamarku. Menatap bisu eomma yang sedang sibuk
mengepakkan barangku. Yang aku lihat sedikit menahan tangisnya. Aku tahu ini
akan membuatnya ikut terluka. Tapi maaf, eomma. Aku jauh lebih terluka saat
ini.
Eomma dan appa berniat mengirimku ke Amerika. Appa sudah
mengurus kembali surat – surat beasiswaku ke Amerika yang sudah aku robek tak
beraturan beberapa hari lalu. tepat ketika pendengaranku menangkap gelombang
suara yang paling menyakitkan dalam hidupku. penolakkannya untuk melanjutkan
sekolah ke Amerika.
“Ha Gun~a, sampai kapan kau mau seperti ini?” eomma
beranjak duduk ditepi ranjangku. Mengelus helaian rambutku sambil menatapaku
dengan kekhawatirannya. “masih ada banyak orang diluar sana yang sangat
membutuhkanmu sekarang.”
“ani, sudah tidak ada dan tidak akan perah ada lagi
yang membutuhkanku.” Ujarku dengan setetes air mata untuk kesekian kalinya
dipipiku. “kalau dia tidak membutuhkanku, berarti yang lain tidak.”
“apa maksudmu berbicara seperti itu? Eomma dan appa
membutuhkanmu, sayang”
“tidak, bukan membutuhkan dalam artian itu, eomma.”
Aku menjatuhkan diri kedalam pelukan eomma dan mulai kembali terisak.
“membutuhkan dalam hal takdir hidup. Aku salah menilai takdirku, eomma. Dia
bukan takdirku. Dan aku terlanjur jatuh terlalu dalam ke dalam permaian
gamenya. Dia hanya bermain, eomma. Bermain dan dia ingin menjadi pemenangnya.
Menaklukkanku yang mungkin dimatanya adalah level tersulit dalam hidupnya. Dan
dia menang, eomma. Lalu aku? Tersungkur mati dalam permainannya.”
Eomma terdiam sejenak. Hembusan nafas hangatnya
begitu terasa dalam dekapnya. “kau salah.” Eomma kembali angkat bicara. “dia
yang mendapat kata ‘game over’ bukan kamu, Ha Gun~a. karena eomma tahu. Siapa
yang sengaja dia ikat dalam permainan barunya, akan membuatnya jatuh berlutut.
Kekalahan dalam hidup untuk pertama kalinya.”
“dan takdir. berbeda dengan permainannya, walau itu
nyaris tak berbeda. Takdir akan mengikat kedua pihak menjadi satu. Dan
permainan akan memecah kedua pihak menjadi tangguh dan lemah”
***
Cho
Kyuhyun PoV
Jehee mendobrak pintu kamarku tanpa mengetuk
terlebih dahulu. Membuatku terlonjak dari dudukku. Aku memutar kursi rodaku
yang sedari tadi menghadap meja komputerku menjadi kearah pintu kamarku. Tempat
yang searah dengan berdirinya jehee.
“kau sudah tak waras, hah?” aku mengernyit. Menyimak
perkataan yang dilontarkan jehee seketika.
“apa?”
“Han Ha Gun.” Sahutnya cepat. “kau lebih takut
kehilangan perusahaan appa daripada Ha Gun? Kau gila!” Jehee melempar tak arah
tasnya, kemudian menjatuhkan tubuhnya terduduk di sofa kamarku.
“lebih gila kalau aku lebih memilihnya.” Jawabku
dingin.
Jehee membulatkan matanya dan mulai menatapku
curiga. “apa saja yang sudah dikatakan appa padamu, oppa? Apa dia benar – benar
sudah mengancammu hidup dan mati?”
“tidak, aku hanya merasa perkataan appa benar.”
“yak, oppa, kau sama sekali tidak memikirkan dampak
pada Ha Gun? Kalau saja tadi kau melihat seberapa meneritanya dia, seberapa
hilangnya kemampuan untuk beraktifitas, dan seberapa lemahnya dia hanya untuk
membuka mulut untuk makan. Kau sama sekali tidak memikirkannya?”
“itu bukan urusanku.”
“apanya yang bukan urusanmu, hah? Dia.. dia yeojamu.
Dulu. Tapi kuharap kau masih menganggapnya..” Aku memalingkan wajahku kearah
lain. Menunjukkan padanya sikap untuk berhenti membahasnya. “baiiklah, itu
terserah kau, oppa. Tapi jangan sesali nanti kalau ternyata appa hanya
mempermainkanmu.”
Aku menunggu sampai Jehee benar – benar hilang dari
kamarku. Kemudian menjatuhkan beberapa peralatan hias dia meja komputerku asal
sambil menjerit frustasi. Aku dalam ambang setengat maut dalam hidupku. ini
benar – benar bukan inginku.
Appa memberikanku pilihan. Meneruskan perusahaannya
dengan serius dan akan memberikanku kesempatan untuk menikah nantinya dengan
pilihannya, tentunya. Atau aku melanjutkan beasiswa ke Amerika bersama Ha Gun,
dengan ancaman keluar dari rumah tanpa selembar uang tabunagnku sekalipaun dan
menjauh dari semua keluargaku. Termasuk bagian keluarga yang paling aku
sayangkan. Adikku, Cho Jehee.
Perusahaan appa akan jatuh ketangan Siwon Hyung
kalau aku benar – benar melepaskannya, namja chingu Ah-ra eonni yang sangat
diperkirakan appa menajdi menantunya sebentar lagi. Dan yang membuatku takut
bukan karena ketidak sanggupanku untuk tinggal lepas tanpa sepersen uang pun
dari kedua orang tuaku. Aku yakin, aku masih bisa bertahan hidup. Itu pilihan
yang mudah untukku.Tapi ketidak sanggupanku menyerahkan perusahaan ketangan
Siwon Hyung lah yag membuatku sangat berat.
Bukan berarti aku gila kekuasaan. Tapi ini masalah
kepercayaan. Siwon Hyung sangat diragukan untuk memipin perusahaan appa. Dan
aku yakin, tidak akan ada satu tahun perusahaan appa tetap dalam genggam
keluargaku. Dia terlalu licik untuk membalikkan nama perusahaan itu menjadi
milikknya. menambah koleksi perusahaan yang sudah banyak dia punya. Yang tak
jauh dari hasil pembelian yang kuyakin itu hasil rampasannya.
Perusahaan appa adalah aset terbesar keluarga Cho.
Tidak mungkin dengan mudahnya aku lepaskan begitu saja. Dan Han Ha Gun adalah aset
terbesar dalam hidupku. tidak mungkin aku hilangkan dengan mudah dari
genggamanku.
Aku masih tidak mengerti tentang ketidak sukaannya
appa dengan Ha Gun. Dia yeoja terhormat, dari keluarga yang cukup kaya dan
ternama. Mempunyai kecerdasaan yang sama denganku dan kepribadian yang cukup
baik. Walaupun tingkahnya yang cukup terkesan kurang sopan padaku, tapi sewaktu
dia bertatap muka dengan appa, dia menunjukkan tata karma nya yang baik. Han Ha
Gun yeojaku. Dan Han Ha Gun milikku. Seberapa kuat appa menentangku, akan aku
pastikan dia masih dalam genggamku.
Aku memutuskan untuk mengikuti kemauan appa
sementara waktu. Sembari mencari tahu penyebab ketidak sukaannya appa, dan tipu
muslihat yang sedang dirancag Siwon Hyung untuk megambil alih perusahaan appa.
Termasuk untuk menjalankan hubungan dengan yeoja bernama SeoHyun, putri dari
keluarga rekan kerja appa. Karena aku yakin penolakkanku sekarang akan sia –
sia.
Memang sulit dan sangat berat. Tapi aku berusaha
bisa untuk melakukannya. Berusaha menyimpan airmataku sendiri. Menyimpan
perasaan pedihku sendiri. Dan membiarkan Ha Gun menjadi seperti itu. Itu bukan
mauku. Hatiku juga menolak dan menangis saat mendengar penuturan Jehee tentang
kerapuhannya. Tapi hanya itu yang bisa aku lakukan sekarang. Membuatnya
terbiasa dengan rasa sakit itu.
***
“kau mau seperti ini terus?” donghae hyung meletakkan
secangkir kopi dihadapanku. Kemudian duduk disampingku sambil menatapku iba.
“jangan beri tatapan seperti aku adalah orang yang
paling menyedihkan didunia ini, hyung.”
“tapi kau benar – benar menyedihkan kyuhyun~a.”
ujarnya yang membuatku seidkit membulatkan mataku marah. Sekaligus memberikan
tanda untuk menghentikan perkataannya.
“arasseo. Itu hanya gurauanku saja.” Donghae hyung
menggeser posisi duduk menjauh. Takut aku bertindak lebih parah lagi
setelahnya. “tapi sungguh, kau kali ini sangat melibatkan bayak orang untuk
menderita, kyuhyun~a”
“apa maksudmu?”
“kau saja sudah membuat yeojaku menjadi bocah
kelimpungan setiap harinya. Kau tahu? Hampir setiap hari dia merusuhi wookie
hyung untuk membuat makanan yang kemudian dia berikan pada Ha Gun. Lalu dia akan
kembali dengan wajah frustasinya setelah berjam jam bertatap muka degan Ha Gun,
dan menyuruhku dengan diiringi omelannya menghabiskan makanan yang sama sekali
belum disentuh.”
“mwo? Apa adikku sekeras kepala itu? Sudah berapa
lama dia melakukannya?”
“satu minggu.”
“yak! Sungguh, dia benar – benar luar biasa”
“apa nya yang luar biasa? Itu hanya akan menambah
kekhawatiranku. Beraktivitas seperti biasa saja sudah membuatku khawatir setiap
harinya. Takut dia terluka karena kecerobohannya. Lalu sekarang? Dia harus ikut
menanggung masalah ini. kyuhyun~a, tolong hentikan dia.”
“kau tahu? Mungkin ini akan menjadi rekornya.
Setahuku dia tidak akan mungkin bertahan untuk sesuatuhal lebih dari satu hari.
Lewat dari itu, dia akan menyerah”
“lalu, kau berniat untuk membiarkanya?”
“mungkin.”
“kau terlalu kejam Kyuhyun~a” donghae hyung
menatapku pasrah kemudian memilih untuk meminum kopinya. “walaupun seperti itu
dia yeojaku. Aku tetap tidak mengizinkan dia berletih letih setiap harinya.”
“hyung”
“apa?”
“aku sebenarnya ingin meminta bantuan padamu.”
“katakan saja”
“kau kan tergolong kaya dan berkemampuan, bisa
tolong kau beli perusahaan terkuat yang dimiliki keluarga Choi?”
Donghae hyung mendapat kesulitan untuk menelan
kopinya. Membuatnya tersedak dan terbatuk beberapa kali setelah ucapanku
terlontar. “yak, neo michiseo?”
“ini akan membantu menyelamatkan perusahaan appa
kuyakin.” Ujarku. “dengan melemahnya perusahaan yang dia miliki, dia tidak akan
mempunyai kemampuan untuk membeli perusahaan appa atau apapun itu dalam waktu
dekat.”
“tapi menjatuhkan perusahaan keluarga Choi adalah
pilihan maut dalam perbisnisan di korea, kau tahu itu hah?”
“aku tahu, tapi aku yakin kau bisa.”
“pengalamanku baru tujuh tahun. Dan perusahaan itu
sudah berdiri jauh lebih dulu dari perushaanku.”
“aku pasti akan membantumu hyung, tenang saja”
“kau pikir itu akan mudah? Otak tentang bisnis dalam
hidupmu masih seumur jagung, kyuhyun~a”
Aku menepukkan tanganku kearah pundak donghae hyung.
Memberinya sedikit cengkraman kuat. “selama masih ada keyakinan kurasa itu
tidak akan mustahil, hyung. Anggap ini sebagai pembayaran aku melepaskan Jehee
untukmu.”
***
Cho
Jehee PoV
Aku memberanikan diri melangkah masuk ke ruang kerja
appa. Dengan perasaan yang cukup mengerikan sejujurnya. Ini kali pertamaku untuk
mengeluarkan pembrontakkanku pada appa. Aku sebenarnya termasuk anak penurut.
Jauh berbeda dengan kyuhyun oppa yang sering membangkang keinginannya.
Memilih keputusan ini memang sudah aku pikirkan
sangat matang. Ini jalan terakhir yang aku punya untuk menyelesaikan masalah.
Setidaknya kuharap akan membuahkan sedikit hasil. Aku berani melakukan ini demi
kyuhyun oppa.
Aku tahu dia selama ini hanya menyimpan perasaan
tersiksanya. Dan aku yakin, dia sama sekali tidak ingin berniat untuk menyakiti
Ha Gun. Karena aku tahu, seberapa berartinya Ha Gun dalam hidupnya dan seberapa
pentingnya perusahaan appa dalam keluarga Cho.
Permasalahan siwon oppa aku mengetahuinya setelah
tanpa sengaja membaca pesan singkat kyuhyun oppa yang dikirim untuk donghae
oppa. Membuatku sempat terhenyak seketika. Wajah tampan nan baik Siwon oppa
sama sekali tidak menggambarkan sifat aslinya.
“appa, boleh aku berbicara sebentar?”
Appa mengangguk sambil member tanda padaku untuk
emndekat dan duduk dihadapannya.
“maaf kalau aku mengganggu.”
“tidak,” suara berat appa yang serupa dengan kyuhyun
oppa mulai terdengar. “katakana saja apa maumu, Jehee~a”
“itu.. em, appa. Kapan kau akan menetukan tanggal
pertungan kyuhyun oppa dengan SeoHyun?”
“kurasa dalam waktu dekat ini. wae? Kau menyukai SeoHyun?”
“tidak terlalu.” Aku sedikit memelankan suara di
kalimatku tadi. “hanya sepertinya tidak terlalu.. buruk”
“ya, kurasa begitu.” Appa meletakkan kacamatanya
diatas meja setelah melepasnya dari pangguan hidung mancungnya. “karena appa
yakin, keluarga SeoHyun akan berdampak besar dalam pembangunan perusahaan
keluarga kita. Mereka cukup banyak memegang saham dalam perusahan – perusahaan
besar di korea.”
“jadi.. appa hanya menginginkan itu?”
“menginginkan apa?”
“bantuan untuk memanjukan perusahaan appa dari
keluarga SeoHyun.”
“memangnya apalagi?”
“appa tidak memikirkan kebahagiaan kyuhyun oppa?”
ujarku dengan nada sedikit melemah mengetahui keinginan appa. Terlalu egois dan
tak peduli, bahkan dengan anak kandungnya sendiri.
“ck, kyuhyun? Apa dia masih tidak bahagia aku
jodohkan dengan SeoHyun? Dia yeoja yang sempurna kurasa.”
“tidak sesempurnya Ha Gun, karena kyuhyun oppa tidak
menyukainya sedikitpun. Tertarikpuun tidak.”
“Ha Gun? Sudah berapa kali appa katakan untuk tidak
menyebut nama itu lagi, Jehee~a” nada pembicaraan appa mulai mendingin. Ini
yang membuatku semakin penasaran dengan sikap appa setiap kali nama Ha Gun
disebutkan dihadapannya.
“waeyo appa?”
“karena.. lupakan. Kau bisa keluar sekarang dari
ruangan appa? Appa rasa masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan” appa
mengambil map di hadapannya kemudian terlihat menyibukkan diri. Membuatku
sedikit merasa tersisihkan dan memutuskan untuk beranjak pergi.
“kamashamnida appa, untuk appa yang sudah
menawarakan calon yang baik dan pantas untuk kyuhyun oppa. Tapi apa pantaskah
seorang appa menghiraukan alasan dan keinginan anaknya begitu saja hanya untuk
sebuah benda mati, yaitu perusahaan,eo?” aku menutup pintu ruangan kerja appa
dengan menimbulkan suara yang sedikit kencang.
***
“kau mau mati kapan, hah?” pekikku yang sudah nyaris
kehilangan kesabaran secara penuh dihadapannya. “besok? Lusa? Atau dalam minggu
ini? jangan bertingkah bodoh dan menyamai diri dengannya. Apa kalian ingin mati
bersama dengan cara tidak makan?”
Kyuhyun oppa masih terdiam dibalik komputernya. Satu
hari ini dia hanya berkutik dengan benda mati dihadapannya tanpa bergerak. Dari
pagi sampai malam tidak ada sesuap nasi atau sepotong roti yang masuk kedalam
perutnya. “aih, aku bisa gila mengurusi dua bocah yang sama sekali tidak mau
membuka mulut untuk makan. Biasanya mereka yang melahap cepat jatah makan.
Sekarang? Aih.. mollaseo!” aku mengehempaskan tubuhku diatas sofa yang berahadapan
dengan meja computer kyuhyun oppa.
“daripada kau gila, mending kau berhenti mengurusi
kami, Jehee~a”
“mwo? Aku urusi saja kalian seperti ini. apa lagi
tidak, huh?”
“sekarang kau mempunyai orang yang lebih membutuhkan
perhatianmu, Jehee~a. jangan terlalu menyamakan kondisimu dulu dengan
sekarang.” Kyuhyun oppa mengehentikan pekerjaannya dan mulai menatapku. “belajarlah
untuk mulai lepas dariku dan berlari dalam genggamnya. Karena tidak mungkin
selamanya aku berada disisimu. Tapi dia, mungkin, dan sangat mungkin untuk
selamanya ada dalam sisimu”
Aku terdiam sejenak. Mencerna perkataan kyuhyun oppa
yang kurasa memang benar. “dia?” ujarku kemudian. Menyadari kekurang
mengertinya aku di kata ‘dia’ dalam perkataannya.
“lee donghae hyung.” Jawabnya.
“eo? Apa dia mengatakan sesuatu padamu hari ini? apa
kalian bertemu?”
“memangnya kenapa?”
“aku sulit menghubunginya beberapa hari belakangan
ini, sebenarnya oppa.” Ujarku dengan sedikit nada yang melemah.
“ sinjja? Tapi dia terlihat.. dia mengatakan padaku
kalau kau selalu menyuruhnya menghabiskan makanan yang kau bawa pulang setiap
kali Ha Gun tidak memakannya. Berarti setidaknya kupikir kalian masih sering
bertemu.”
“ani, itu hanya satu kali. Sebelum setelahnya
berlalu begitu saja. Hari ku kuhabiskan begitu saja, tanpa ada kehadirannya.”
Aku sedikit menundukkan kepalaku. “aku yang terlalu sibuk atau dia yang memang
menjauh dariku.. aku tidak tahu itu.”
Kyuhyun oppa beranjak dari kursinya kemudian duduk
disampingku. “permasalahanmu sendiri belum terselesaikan kau malah mengurusiku.
Gadis bodoh.” Tangannya mengacak ringan helaian rambut bagian atas kepalaku.
“gwenchana. Aku hanya ingin meyelesaikan masalah
yang kurasa lebih sulit. Itu akan sedikit membantu ku untuk menyelesaikan
masalah yang mempunyai kesulitan dibawahnya.”
“aigoo, adikku sudah dewasa sekarang.” Kyuhyun oppa
menarikku dalam dekapan hangatnya. “tak kusangka bocah ceroboh sepertimu
mempunyai perhatian yang besar padaku. Gomawo”
“aku juga berterima kasih padamu, oppa. Appa dan
eomma terlalu sibuk sampai tidak terlalu mengurusi permasalahan pribadiku, tapi
kau selalu ada untuk itu, oppa. Sinjja gomawo”
“eo, kau terlalu membuatku melayang terlalu tinggi,
Jehee~a”
“cih, sepertinya aku salah bicara” umpatku. “oppa..”
“wae?”
“sebenarnya..
ada yang aku ingin beritahu, tapi suasana hatimu tidak akan benar benar
hancurkan setelahnya?”
“mwoya?”
“kau berjanji untuk tetap mau makan dan tersenyum
selama menghadapinya?”
“sudah, cepat katakana saja”
“Ha Gun memutuskan untuk menerima beasiswa itu
kembali dan sekarang dia sudah berada di amerika. Sekaligus eomma dan appanya
menjalankan terapi untuknya disana.”
***
Han
Ha Gun PoV
Aku melirik sekilan ponselku yang terus bordering
memusingkan seharian. Perjalan selama di pesawat cukup mmbuatku mendapat
ketenangan. Tapi setibanya aku di apartement dan menyalakan kembali ponselku,
semua menjadi kembali rumit sekarang.
Otakku masih belum membaik karena terasa kosong dan
hanya tersisa satu hal. Cho Kyuhyun. Hatiku masih terluka hanya karena satu
hal. Cho Kyuhyun. Hidupku tak terarah hanya karena petunjukku hilang. Cho
Kyuhyun. Dan sekarang, walaupun semua orang mencariku. Aku benar – benar masih
merasa seorang diri. Yang rapuh tanpa penopang hiup. Cho kyuhyun.
“yak Ha Gun~ssi, kau baru tiba? Kenapa menghubungimu
sulit sekali, eo?” Jehee menyeburkan kalimat yang nyaris terdengar seperti
kekesalannya.
“mian, aku sedang tidak ingin diganggu tadi” jawabku
sekenanya.
“sekarang kau ada waktu untuk mendengarkan sambungan
telfon?”
“sedikit.”
“baiklah, kuharap kau benar – benar menyimaknya.
Jangan kau tutup sebelum aku suruh kau menutupnya”
“ya.. yak, wae?” sambungan terlfon terdengar sunyi
seketika membuatku sedikit bingung. “jehee~a, aku benar – benar lelah. Bisa
ka..”
“seletih itukah?” aku membeku seketika. Suara berat
yang bergetar dari sambungan terlfonku membuatku membisu. “separah itukah kau?”
“mianhae, chonmal mianhae Gun~a. setidaknya kau bisa
mendengarkan kata itu langsung dari mulutku. Tanpa perwakilan Jehee. Dan dengan
perasaan penuh penyesalan.”
“aku minta maaf bukan karena aku memang bersalah
dalam permasalahan ini. sungguh, andai aku bisa mengubah sifat egois appa
sebelum ini semua benar – benar terjadi.” Kyuhyun menghela nafasnya yang terasa
begitu penuh kelehannya. Walau aku tidak bertatap muka langsung dengannya,
perasaan batin yang menyatu itu ada. entah apa yang membuatku selalu tahu apa
yang sedang dirasakannya saat berada didekatku.“aku meminta maaf karena sudah
membuatmu ikut terluka dalam permasalahan ini. mungkin Jehee sudah bercerita
sedikit tentang ini. dan aku harap kau mengerti.”
“masalah kedekatan ku dengan SeoHyun, menyembunyikan
nya darimu, itu bukan karena aku ingin menyingkirkanmu perlahan. Tapi karena
tidak ada pilihan lain. Aku tidak ingin melihatmu.. begitu tersakiti dan
terluka seperti sekarang. Aku benar ingin mengikuti keinginan appa. Tapi itu
hanya salah satu strategi untuk meyakinkannya perlahan.”
“onje?” suaraku akhirnya mulai kembali. Dengan
setetes air mata yang mengirinya. “sampai kapan kau mau seperti ini, kyuhyun~a?
sampai kau akhirnya terlanjur menikah dengan SeoHyun kemudian menelefonku
kembali sambil mengucapkan kata ‘mianhae’ untuk kedua kalinya, eo?”
“Gun~a. bukan sepe..”
“kau pikir hanya appamu yang egois, huh? Kau pikir
hanya permasalahan ini yang membuat kita terpisah? Pikirkan tetang pribadimu,
tuan Cho.” Aku memutus sambungan telfon kemudian memeluk kedua lututku dan
menelungkupkan kepalaku didalamnya. Lagi. Sampai kapan aku berhenti menangis
hanya karena dirinya?
TBC
1 komentar:
wow. DAEBAK.. Ditunggu kelanjutannya ya chingu.. oh ya tdi ada 1 kata yg typo
Posting Komentar