Rabu, 24 Oktober 2012

Game in mistake? :/ Part 3


Game in Mistake (Part 3)
Permainan berlum selesai. Tapi aku harap sudah benar – benar selesai. Saat ini sudah terasa aman dan tentram. Tanpa pengetahuan sebuah ancaman
Semua akan baik – baik saja. Satu kata yang sangat aku nanti darinya. Bukan perkataan panjang lebar yang tak berarah.

Han Ha Gun PoV
Baru ada sepuluh hari aku menetap di Amerika. Menikmati kesibukkan kuliah ku yang membuat sedikit hilang rasa sesak yang terus memburu. Eomma dan appa menyuruhku untuk datang kembali ke Korea. Hanya untuk pertemuan keluarga selama tiga hari. Aku tidak yakin akan sanggup untuk itu.
Aku tidak tahu apakah rasa sakit itu akan kemabali, atau rasa sakit itu datang kembali dengan kondisi yang lebih parah. Aku mengharapkan untuk menjadi orang yang hilang ingatan daripada harus mengingat semua itu. Cho kyuhyun.
Semua barang sudah aku masukkan kembali kea lam koperku. Hanya beberapa pakaian saja karena aku yakin tidak terlalu lama dan membutuhkan banyak pakaian untuk tiga hari di korea.
Pesawatku akan berangkat siang ini pukul dua. Dan aku sama sekali tidak menghubungi Jehee sekalipun. Pemutusan sambungan terlfonku waktu itu menjadi hari terahir aku mendengar suaranya, mungkin. Mereka juga sudah tidak berusaha untuk menghubungiku lagi.
Jadi aku putuskan untuk kembali ke Korea tanpa sepengetahuan keluarga Cho. Beramah tamah dengan keluarga besarku selama tiga hari, kemudain kembali meneruskan hidupku ke Amerika tanpa perlu mengingat masa laluku di Korea. Itu saja, yang kuharapkan dan sudah aku rencanakan.
“Ha Gun~ssi” Baekhyun, teman dekatku dari Korea yang juga mendapat beasiswa ke Amerika datang menghampiriku. Selama sepuluh hari ini dia yang menemani dan menuntunku untuk kembali ke kepribadian biasaku. “kau benar ingin kembali ke Seoul?”
“hanya tiga hari, setelah itu aku kembali” jawabku sambil membalikkan tubuh kearahnya.
“bagus kalau begitu.”
“apa?” aku sedikit mengernyitkan keningku.
“dengan begitu aku tidak butuh waktu terlalu lama untuk hanya merindukanmu.”
***
Mataku membelalak ketika mobil yang membawa keluargaku melaju melewati arah jalan sebuah tempat yang sangat tak asing olehku.  Tempat dimana semua itu bermula. Tempat dimana aku merasa dialah takdir hidupku. dan tempat dimana dia menarikku dalam jurang takdirnya. Yang sekarang aku akui aku jatuh terlalu dalam. Dan dipenuhi rasa enggan yang sangat untuk bangkit.
“eodiga?” aku mengeluarkan suaraku yang sedikit tersendat. Melirik kearah penumpang dalam mobil yang lainya. Aku terpisah dari eomma dan appa. Disini hanya ada aku dengan sepupuku yang seumuran denganku.
“aku rasa tempat yang akan kita kunjungi akan baik untuk kita berkumpul. Tempat yang indah bukan? Udara di daerah sini sangat baik untuk kau yang belakangan ini sering mengurung diri” Sooyoung Eonni, sepupu dekatku memaparkan alasan dia memilih tempat ini.
Aku hanya bisa mengatup rapat mulutku. Kembali dengan posisi diamku dan melempar pandangan kearah luar jendela. Menahan rasa sesak yang entah kenapa terasa seperti menerorku.
“Ha Gun~a, kalau aku tidak salah dengar kau adalah yeoja chingunya kyuhyun oppa, eo? Anak pemilik perusahaan besar keluar Cho?” Sooyoung Eonni berujar tanpa menoleh kearahku. Jadi cukup baik karena dia tidak melihat ekspresi wajahku yang seakan ingin membunuhnya karena membahas permasalahan ini.
“Kau yakin, tidak mencari jalan maut dengan memilihnya menjadi namjamu? Kurasa kau akan sangat tidak disukai oleh keluarga Cho” aku mencoba menahan diriku yang ingin segera mencabik – cabik mulut Sooyoung eonnie yang tidak bisa diam dan berhenti membahasnya. “Mereka.. sangat memusuhi perusahaan kakek, eo?”
Deg..
“apa maksudmu?” ujarku kemudian dengan suara yang sedikit terputus.
“ternyata kau tidak mengetahuinya?” Kai sepupuku yang berumur sama denganku, yang mengendarai mobil kami ikut dalam perbincanganku dengan Sooyoung Eonni. Dia sesekali melihat kearah jok belakang lewat kaca spion depannya untuk memperjelas kontak kami. “Haraboji yang membangun peusahaan keluarga kita. Dia yang memegang kekuasaan besar dalam perusahaan.”
“lalu?”
“seperti yang kau tahu, perusahaan kita berjalan dalam bidang music dan perusahaan keluarga cho berjalan dalam bidang entertain seperti drama, variety show dan sebagainya. Dan.. kau tahu actor yang sangat terrkenal beberapa tahun lalu? Kangta? Dia mempunyai potensi yang besar dalam memajukan dunia music korea dan Haraboji menariknya dalam perusahaan saat itu. Tapi entah apa yang membuat perusahaan keluarga Cho juga tertarik dengan Kangta dan membuat beberapa skandal untuk menarik secara paksa Kangta dari perusahaan.”  JongIn menggendikkan bahu. “berawal dari permasalahan itu, perusahaan kami selalu saja berebut artis dengan perusahaan keluarga Cho. Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi. Tapi setidaknya gambaran besarnya seperti itu.”
Aku hanya melongo mendengar penuturan Kai tentang permasalahn Perusahaan yang sama sekali belum pernah aku dengar. Aku yang tidak peduli atau memang tidak ada yang ingin memberitahuku? Entahlah.
“itu yang menjadi salah satu faktor yang memaksaku untuk mengakhiri hubungan dengan salah satu anggota keluarga Cho” Kai berujar dengan sedikit pelan dan tertahan. Sooyoung Eonnie sedikit mengernyitkan keningnya. “nugu?”
“adik kandung kyuhyun Hyung, Cho Jehee”
Aku nyaris terlonjak dari dudukku mendengarnya. Aku memang tidak tahu banyak tentang Kai karena kami sangat jarang bertemu. Terlebih pengangsingan dirinya akibat kecelakaan yang menimpanya beberapa waktu lalu yang membuatnya harus disibukkan oleh beberapa terapi pengobatan untuk kembali pulih. Semenjak itu komikasi diantara kami sangat jarang dan minim.
“Mwo? Brarti.. kau mengenal Kyuhyun oppa?” Sooyoung Eonnie terlihat sedikit antusias dengan perbincangan kali ini. “kau sering bertatap muka dengannya? Banyak orang yang mengatakan dia adalah namja yang sangat tampan, aku sangat mengidamkan untuk bertemu dengannya, Kai~a”
Aku hanya bisa menahan diri dengan raut wajah yang sedikit malas dan merasa menggelikan melihat ekspresi yang dikeluarkan oleh Sooyoung Eonnie. “lama – lama melihatnya kau akan terkena serangan jantung, kurasa” gumamku pelan tanpa bisa terdengar oleh Kai dan Sooyoung Eonnie.
“tidak terlalu sering, tapi kami selalu saja kontak. Entah itu melalui telfon atau sms, atau bahkan bertatap muka. Setiap kali aku akan berpergian berdua dengan Jehee. Aku sampai tidak menyangka ada seorang kakak laki – laki yang begitu menyayangi dan menjaga adik yeojanya”
“kau sudah bertemu dengannya, sekarang?” entah apa yang membuat mulutku meluncurkan pertanyaan bodoh. Tapi aku sangat ingin tahu hubungan mereka yag sebenarnya. Jehee selalu tertutup untuk masalah masa lalunya.
“kemarin aku bertemu dengannya. Kerabat dekatnya yang kebetulan sahabatku juga mempertemukan kami kembali. Dia.. masih terlihat manis seperti dulu. Tapi sedikit berbeda dengan sikapnya yang terlihat murung hari itu. Aku tidak tahu, mungkin ada sedikit masalah dengannya.”
Aku kembali terdiam. Hal yang membuat Jehee termurung atau tak berdaya hanya tiga hal. Cho Kyuhyun. Hangeng, idolanya. Dan.. Donghae. Kyuhyun aku rasa dia baik – baik saja. Hangeng? Aku tidak mendengar berita buruk tentangnya. Dan.. Donghae? Lee donghae, apa karena itu?
Aku sangat penasaran dan khawatir dengan kondisinya sekarang. Tapi aku tidak mungkin menghubunginya lagi. Kalau aku berhubungan dengannya, sama saja aku membuka kontak lagi dengan kakak laki – lakinya yang sangat aku hindari.
***
14 October 2012
22 : 00 pm
Cho Jehee’s bedroom
Cho Jehee PoV
Mataku mengerjap berkali kali. Menatap langit langit kamar dengan mata yang sudah terasa memanas. Hampir tiga manit aku sulit berkedip. Dan itu terulang berkali kali. Tubuhku berbalik kanan dan kiri sudah kesekian kalinya.
Tidak bisa memejamkan mata. Dan itu sangat menyiksa. Hari ini aku sangat lelah karena harus menyelsaikan skripsiku seharian. Tubuhku lelah, tapi mata tak mau terpejam. Sudah lewat dari dua jam aku berusaha untuk tidur tapi selalu saja gagal.
Lee donghae. Kenapa namja itu selalu saja menghantuiku? Apa dia mempunyai jimat tersendiri untuk mengikatku? Aku rasa aku butuh jimat penolak yang super untuknya. Dan aku rasa itu mustahil untuk ada.
Kejadian sewaktu aku bertemu kembali dengan Kai saja sudah dengan mudah terlupakan olehku. Aku hanya terkejut denga kehadirannya. Bukan ada perasaan senang atau rindu dengannya. Padahal aku sempat menjalin hubungan dengannya cukup lama. Hampir sepuluh bulan.
Besok.. eng, tidak. Beberapa jam dari sekarang. Donghae oppa akan ulang tahun. Dan aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Bukan masalah kado atau sesuatu hal special yang harus aku persiapkan untuknya. Tapi sikap apa yang harus aku tunjukkan padanya.
Dua hari yang lalu aku mengakhiri hubungan kami. Terputus. Tanpa kabar. Berarti sama saja donghae oppa juga menyetujui untuk mengakhirinya. Sakit memang, tapi aku rasa itu adalah jalan yang terbaik. Lalu bagaimana cara aku menyikapi hari ulang tahunnya?
Kalau saja kyuhyun oppa tidak memaksaku untuk menemaninya ke acara perayaan ulang tahun perusahaan donghae oppa besok, aku tidak akan dipusingkan dengan permasalahan itu. Cukup acuh dan pura –pura tidak mementingkannya. Tapi bagaimana kalau harus bertatap muka dengannya?
Mustahil kalau kyuhyun oppa tidak akan bertemu dengan donghae oppa besok. Dan mustahil pula kyuhyun oppa tidak menyinggung permasalaha ulang tahun namja itu. Aih, sudah aku katakan dia benar – benar kejam padaku. Sebegitu tidak relanya kah dia kalau aku sampai memutus hubungan dengan donghae oppa?
“kau memikirkannya?” aku menolehkan pandangan kearah pintu kamarku yang tiba – tiba terbuka. Menurunkan selimut ku agar bisa mengetahui sosok yang sudah berdiri disudut pintuku.
Ah – ra eonnie menyalakan lampu kamarku kemudian berjalan menghampiriku. “aku dengar dari kyuhyun kalau kua putus dengannya. Apa karena itu kemarin kau bertahan untuk mengurung diri dikamar walaupun hanya… dua belas jam?”
Aku mendudukkan tubuhku. Membalas tatapan ah –ra eonnie yang sudah duduk disudut kasurku dengan wajah datar. “dua belas jam adalah waktu yang cukup lama. Tidak terlalu buruk, eonnie”
“lalu bagaimana dengan besok?” ah –ra eonnie menyingkap helaian rambutku kebalik telinga. Sikapnya yang keibuan menggantikan posisi eomma yang sangat jarang berada disisiku. “kau pasti akan bertemu dengannya kan? Dihari ulang tahunnya?”
“mollaseo. Aku tidak tahu bagaimana harus bersikap untuk besok.” Aku menghela afasku sejenak sebelum kembali berujar. “eonnie, apa kau mau membantuku besok?”
“untuk apa?” ah-ra eonnie mengernyitkan keningnya.
“balas dendam untuk kyuhyun oppa.”
***
15 October 2012
Cho Kyuhyun PoV
Pertemuan kali ini, perayaan ulang tahun perusahaan Donghae, sengaja aku ajak Jehee untuk ikut hadir. Karena tidak mungkin aku membawa yeoja selain dia dan.. Ha Gun untuk acara perusahaan. Sebenarnya niatku bukan ingin menjebaknya dalam hari ulang tahun donghae hyung. Aku hanya ingin membantu donghae hyung menunjukkan kondisinya sekarang. Bahwa dia benar – benar sibuk untuk memperjuangkan suatu hal. Bukan sibuk mencari yeoja lain.
“oppa, kau tahu toilet wanita dimana?” jehee menatapku dengan tatapan melasnya.
“yak, kau sudah berapa kali ke toilet untuk pagi ini hah? Tadi saja kita sudah nyaris terlambat hanya karena kau yang meminta berhenti beberapa kali di pombensin untuk ke toilet. Lalu sekarang?” ujarku dengan nada sedikit frustasi. “aku tahu kau begitu panic kali ini. tapi tidak bisakah kau mengontrol dirimu, eo?”
“entahlah oppa, aku benar – benar tidak menyangka akan sepanik ini. dan asal kau tahu, ini semua karena kau.” Dengusnya sambil menyikut lenganku. “aih, kenapa yeoja tengil itu ada disini?”
Aku mengernyitkan keningku mendengar umpatan yang seperti keluar secara spontan dari mulut jehee ketika arahan matannya mengarah pada satu titik. “nugu?”
“HyunSun. Kau masih ingat? Yeoja yang selalu menempel denganmu setiap saat sewaktu kecil? Asal kau tahu, sekarang dia sepertinya akan beralih ke Donghae oppa” Jehee mengambil secangkir minuman soda dihadapannya sambil berujar dengan kesalnya.
“jadi? Kau cemburu?” tanyaku dengan sedikit nada meledek.
“a.. ani. Lagi pula aku dengan donghae oppa sudah tidak ada hubungan apapun” aku hanya tertawa kecil menanggapinya. “yak, hentikan tawamu. Atau.. kau boleh saja sekarang tertawa. Tapi jangan salahkan aku kalau kau akan membeku nantinya.”
“wae? Sepertinya kau duluan yang akan membeku.” Sahutku cepat karena aku melihat donghae hyung yang datang dari arah belakang Jehee mendekat.
“memangnya kau kira…..” Jehee mengehentikan ucapannya setelah merasa sebuah tangan hangat yang menarik lengannya hingga tubuhnya terhuyung dalam dekapan Donghae hyung.
Aku hanya terdiam memasang wajah datarku melihat aksinya. Menahan perasaanku yang merasa sedikit merasa iri. Andai sekarang dia masih ada disampingku. Aku akan benar – benar mendekapnya dengan erat. Tidak mau terjadi perpisahan kedua. Karena aku sudah memikirkannya seribu kali. Lebih baik aku terseok dalam mengurusi perusahaan, daripada harus menyingkir dari hadapanya.
“tidak ada yang ingin kau katakan?” ujar donghae hyung setelah sekitar satu menit mereka dalam posisinya. Jehee terlihat masih sedikit terkejut dan canggung dalam dekapannya. Walaupun wajahnya sedikit tertutup oleh lengan donghae hyung, tapi tangan dinginnya yang sempat menyentuhku, tidak bisa menutupi.
“saeng il.. chukkae.. oppa.”  Desis Jehee pelan.
“tidak ada yang lain?”
“sepetinya.. belum.”
***
Han Ha Gun PoV
Aku berdiri resah didalam ruangan yang cukup ramai dengan pendiri atau kerabat – kerabat dekat perusahan kyuhyun. Ini adalah hal yang paling aku benci. Berdiri ditengah kerumunan banyak orang yang tak kukenal.
Aku sudah menolak keseratus kali untuk tidak hadir. Tapi tiga orang menyerangku mebuatku pasrah dan terpaksa datang ke acara ini. pertemuan antara para pemiliik perusahaan dalam rangka ulang tahun perusahaan Donghae yang seingatku bertepatan dengan ulang tahunnya sendiri.
Pagi tadi Ah-ra eonnie datang kerumahku. Meminta izin pada eomma yang sialnya dengan segera di perbolehkan untuk membawaku, ah, tidak. Menculikku tepatnya ke acara yang sama sekali tidak berarti untukku. Terlebih datang dengan dandanan yang sefeminim ini.
Siwon oppa, namja chingu ah-ra eonni membantu menyediakan udangan khusus untukku. Dan satu hal lagi. Cho Jehee. Aku tidak tahu seberapa canggihnya mesin otak yang ada dikepalanya. Dia bisa dengan cepat mengetahui keberadaanku di korea. Setengah hari setelah aku sampai di seoul.
“omo! Ige mwoya?” aku menutup sebelah telingaku mendengar pekikkan yang cukup keras dari mulut yeoja yang berdiri disampingku. “dia yang berjanji untuk mendekatkanku dengan donghae oppa tapi……. Sungguh tidah bisa dipercaya”
“apanya yang tidak bisa dipecaya?” aku akhirnya memutuskan untuk angkat bicara. Mendengar sepertinya ini ada sangkut pautnya dengan Jehee.
“Lee donghae, calon namja chinguku. Yeoja yang bernama cho jehee itu sepertinya juga mengejarnya.” Jawab yeoja itu dengan nada tidak terima.
“mwo?” aku nyaris kesulitan menahan tawa. “calon namja chingumu? Jehee mengejarnya? Neo mollaseo? Cho Jehee, adalah yeoja chingu ‘asli’ Lee Donghae sejak satu tahun lalu. Dan itu bukan karena Jehee yang mengejarnya. Tapi donghae yang mengejarnya.”
“apa yang kau katakan, hah? Memangnya siapa kau sampai berani – beraninya mengarang cerita.” Yeoja itu mulai menoleh kearahku dengan tatapan tidak sukanya.
“mengarang kau bilang? Itu memang fakta, ahjuma.” Jawabku datar menanggapinya.
“ahjuma? Setelah kau mengarang cerita tentang namjaku kau memanggilku ahjuma?” mata yeoja itu membulat. “kau tidak tahu berapa umurku?”
“tidak, hanya mengira dari wajahmu saja. Dan baguslah kalau ternyata tebakkanku benar.”
“yaiks, neo..” tangan yeoja itu yang tadinya ingin meluncur kearah bagian wajahku, terhenti seketika. Dengan gerakan tangan yang menguncinya. Membuatku sedikit tercenggang melihatnya.
“yak, hyunsun~a, sampai kapan kau mau terus menggangguku?” suara berat namja itu kembali terdengar ditelingaku. Suara yang benar – benar menjadi terasa asing sekarang. “menganggu yeojaku sama saja mengangguku” gumam kyuhyun pelan yang nyaris aku berfikir aku salah mendengar.
“oppaaaa!!” yeoja itu entah kenapa langsung menghambur kedalam dekapan kyuhyun. Kyuhyun hanya bisa menganggkat tangannya dan berusaha melepaskan lingkaran tangannya. Butuh sepuluh detik yang menyiksa untuk melihatnya. Sampai akhirnya kyuhyun berhasil melepaskan dirinya. “yak kyuhyun oppa, neomu bogoshipo”
Kyuhyun masih menatap aneh yeoja dihadapannya yang kurasa mereka saling mengenal. “aih, dosa besar apa yang aku lakukan sampai bisa bertemu denganmu lagi” dengusnya. “bisa tolong kau menyingkir?”
“apa?” yeoja itu mengernyit.
“aku ingin bicara dengan yeojaku.” Aku sedikit tersentak dengan perkataannya.
“yeojamu? Nugu?”
“yeoja yang berdiri dibelakangmu.” Nyaris saja aku kehabisan nafas saat dia melirik kearahku.
“MWO?”
***
Lee DongHae PoV
“sepertinya… belum” ujarnya pelan menjawab pertanyaanku. Aku hanya bisa mengehela nafasku menahan perasaan sakit masih begitu menumpuk. Aku tahu dia pasti mengerti maksud pertanyaanku. Dan menjawab sesuai kenyataan hatinya.
Aku  melepaskan dekapanku setelah menyadari mulai banyak rekan bisnisku yang tertarik untuk melihat apa yang terjadi diantara kami. Dengan tatapan yang masih terus mengarah padanya. “kau yakin belum ingin untuk kembali?”
Jehee menundukkan kepalanya. “mollaseo oppa.” Ujarnya kembali dengan suara rendahnya. Aku rasa dia memang masih belum meikirkan hal itu. Dua hari bukan waktu yang lama untuk seseorang menenangkan diri.
“kau mau aku tunjukan sesuatu?” seketika sebuah ide terbesit diotakku. Karena keinginanku yang kuat untuk meyakinkannya.
“apa?” dia hanya kembali menatapku dengan polosnya.
Dengan segera aku menarik lengannya kearah titik tengah ruangan. Titik dimana semua tamu yang hadir bisa melihat keberadaan kami berdua. Jehee hanya menatapku bingung sambil terus menggenggamku dengan tangn yang sangat dingin.
“maaf, aku menyita waktu kalian sejenak.” Ujarku lantang yang membuat semuua mata tertuju kearah kami berdua. “tidak lama, hanya sekitar tiga menit dari sekarang.”
Suara perbincangan atau ocehan berhenti seketika. Semua tamu menatap kami dalam keadaan diam. Menandai penantian kalimat berikutnya yang akan meluncur dari mulutku. “kalian semua adalah tamu yang terhormat, rekan bisnis terpercaya dan kerabat – kerabat dekatku. Aku yakin kalian semua bisa membantuku. Tapi bukan dalam hal bisnis atau perusahaan. kali ini dalam hal menjaga yeojaku. Cho Jehee.” Aku menariknya mendekat kesampingku. Membiarkan semua orang melihat sosok Jehee seutuhnya. “aku hanya ingin menunjukkan padanya. Pekerjaanku bukan penghalangku. Penghalang untuk menjadikannya nomor dua dalam hidupku setelah tuhan. Penghalang bertemu dengannya untuk membayar rindu atau bahkan penghalang untuk menjaganya.”
“hari ini hari ulang tahunku. Aku tidak mengharapkan pada hadiah apapun dari kalian. Kecuali satu hal. Cho Jehee yang bisa tenang dan merasa aman disampingku. Cho Jehee yang tersenyum karena keberadaanku. Bukan Cho Jehee yang terluka karenaku.” Aku berdehem sejenak sebelum akhirnya kembalii melanjutkan, “jadi apa kalian bisa membantuku? Meyakinkannya kalau aku benar – benar tidak mengutamakan perusahaan dan membantuku untuk menjaganya agar tetap aman disampingku?”
Ruangan terasa hening sejenak. Mulut para tamu masih terkatup. Butuh waktu satu menit untuk mendengar jawaban mereka. Tepuk tangan dan ulasan senyum tercipta sebelum kata “arasseo” dan “ne” terucap dari mulut mereka.
***
Cho Kyuhyun PoV
Sedikit ada kesulitan untuk menyingkirkan hyunsun dari hadapan kami. Tingkahnya yang cukup fanatic denganku membuatku semakin merasa terjebak. Hingga akhirnya aku berhasil membawa Ha Gun menjauh dari kerumunan banyak orang dan pergi ke atap gedung.
 Jehee benar – benar bertindak diluar dugaanku.Tadi pagi dia sempat menyinggung sedikit tentang perasaanku dengan Ha Gun sekarang. Dan dia sempat mengatakan akan mempertemukan kami berdua kembali. Aku pikir itu hanya gurauannya saja. Atau kalaupun iya aku berfikir tidak dalam waktu dekat ini.
“wae?” satu kata yang terdengar seperti keluhan meluncur dari mulutku. Sebenarnya banyak sekali yang ingin aku keluhkan padanya. Aku limpahkan semua perasaan lelahku. Lelah karena berusaha tetap bertahan hidup tanpa ada kehadirannya disampinggu, dalam genggamku dan dalam jarak pandangku. Tapi bodohnya hanya satu kata pendek dan tatapan dalamku yang bisa aku lakukan.
Menatapnya adalah kegiatan favoriteku. Asupan gizi terbaik untuk tubuh dan jiwaku. Entah ada enzim apa yang mencerna gambaran wajah yang kutangkap dari mataku menjadi energy yang luar biasa. Semangat hidup yang lebih tinggi dan degupan jantung yang terasa memburu.
“aku.. aku..” Ha Gun sedikit tergagap menanggapiku. Tubuhnya yang terlihat lebih ringkih dari terakhir kali aku melihatnya itu menegang. Sedikit terlihat bergetar dan emnahan air mata dengan mata yang memanas.
Tanpa perlu menunggu lama aku menariknya dalam dekapku. Melepas semua beban yang begitu terasa berat belakangan ini dalam peluknya. Terdiam untuk beberapa saat. Membiarkannya kembali terbiasa dengan dekapan hangatku.
“mianhae, chonmal mianhae.” Ujarku kemudian ttanpa melepas pelukanku. “aku tidak, sama sekali tidak ingin mengucapkan kalimat maaf untuk yang kedua kalinya. Untuk masalah yang mungkin aka nada berikutnya.”
“seohyun sudah dengan mudah aku putuskan.” Lanjutku. “tanpa sepengetahuan appa, beberapa waktu lalu aku menemuinya bersama appanya. Memohon maaf dan menolakya. Satu alasan untuk aku melakukan ini. kau. Dan untuk perusahaan appa yang sebenarnya akan terancam kalau saja jatuh ditangan siwon hyung, aku sudah meminta bantuan pada donghae hyung untuk mengatasinya. Satu alasan untuk aku memohon ini dengan sangat pada hae hyung. Kau.”
“mungkin selama ini kau fikir memang aku yang mencampakkanmu. Menjauh darimu dan berusaha menyingkirkanu perlahan.” Suaraku mulai terasa melemah, “aku sangat merasa bersalah jika kau terus berfikiran seperti itu. Bisakah kau hanya menyimpan pikiran baik tentangku? Pikirkan bagaimana kondisi aku disaat bernafas tanpamu dan bagaimana aku mempertahankan pedang dalam gameku. Jangan pikirkan bagaimana cara aku menghiraukan rasa sakit yang terus datang karena pedang yang sudah tidak bersatu denganku. karena aku juga hanya akan berfikir bagaimana cara menjagamu agar tidak terluka. Tergores oleh pedang lawan walau hanya satu inci.”
Ha Gun melepaskan dekapanku satu detik kemudian. Membalas tatapanku dengan ekspresi wajah yang sulit dibaca. Terlalu lama berada jauh disampingnya banyak membuat kesulitan walaupun hanya untuk mengertinya.
Tangannya meraih ponsel yang berada didala tasnya. Sebenarnya sudah berkali – kali bordering sedari tadi. Raut wajahnya sedikit berubah saat membaca kontak nama yang menelfonnya. Entah apa yang membuatku mearasa tidak aman untuk mengenggamnya. Merasa seperti ada ancaman luar yang ingin membuatnya semakin jauh dariku.
“eo? Baekhyun~a?”
TBC

1 komentar:

Anonim mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.