Game in Mistake (Part
3)
Permainan
berlum selesai. Tapi aku harap sudah benar – benar selesai. Saat ini sudah
terasa aman dan tentram. Tanpa pengetahuan sebuah ancaman
Semua
akan baik – baik saja. Satu kata yang sangat aku nanti darinya. Bukan perkataan
panjang lebar yang tak berarah.
Han
Ha Gun PoV
Baru ada sepuluh hari aku menetap di Amerika.
Menikmati kesibukkan kuliah ku yang membuat sedikit hilang rasa sesak yang
terus memburu. Eomma dan appa menyuruhku untuk datang kembali ke Korea. Hanya
untuk pertemuan keluarga selama tiga hari. Aku tidak yakin akan sanggup untuk
itu.
Aku tidak tahu apakah rasa sakit itu akan kemabali,
atau rasa sakit itu datang kembali dengan kondisi yang lebih parah. Aku
mengharapkan untuk menjadi orang yang hilang ingatan daripada harus mengingat
semua itu. Cho kyuhyun.
Semua barang sudah aku masukkan kembali kea lam
koperku. Hanya beberapa pakaian saja karena aku yakin tidak terlalu lama dan
membutuhkan banyak pakaian untuk tiga hari di korea.
Pesawatku akan berangkat siang ini pukul dua. Dan
aku sama sekali tidak menghubungi Jehee sekalipun. Pemutusan sambungan
terlfonku waktu itu menjadi hari terahir aku mendengar suaranya, mungkin.
Mereka juga sudah tidak berusaha untuk menghubungiku lagi.
Jadi aku putuskan untuk kembali ke Korea tanpa
sepengetahuan keluarga Cho. Beramah tamah dengan keluarga besarku selama tiga
hari, kemudain kembali meneruskan hidupku ke Amerika tanpa perlu mengingat masa
laluku di Korea. Itu saja, yang kuharapkan dan sudah aku rencanakan.
“Ha Gun~ssi” Baekhyun, teman dekatku dari Korea yang
juga mendapat beasiswa ke Amerika datang menghampiriku. Selama sepuluh hari ini
dia yang menemani dan menuntunku untuk kembali ke kepribadian biasaku. “kau
benar ingin kembali ke Seoul?”
“hanya tiga hari, setelah itu aku kembali” jawabku
sambil membalikkan tubuh kearahnya.
“bagus kalau begitu.”
“apa?” aku sedikit mengernyitkan keningku.
“dengan begitu aku tidak butuh waktu terlalu lama
untuk hanya merindukanmu.”
***
Mataku membelalak ketika mobil yang membawa keluargaku
melaju melewati arah jalan sebuah tempat yang sangat tak asing olehku. Tempat dimana semua itu bermula. Tempat dimana
aku merasa dialah takdir hidupku. dan tempat dimana dia menarikku dalam jurang
takdirnya. Yang sekarang aku akui aku jatuh terlalu dalam. Dan dipenuhi rasa
enggan yang sangat untuk bangkit.
“eodiga?” aku mengeluarkan suaraku yang sedikit
tersendat. Melirik kearah penumpang dalam mobil yang lainya. Aku terpisah dari
eomma dan appa. Disini hanya ada aku dengan sepupuku yang seumuran denganku.
“aku rasa tempat yang akan kita kunjungi akan baik
untuk kita berkumpul. Tempat yang indah bukan? Udara di daerah sini sangat baik
untuk kau yang belakangan ini sering mengurung diri” Sooyoung Eonni, sepupu
dekatku memaparkan alasan dia memilih tempat ini.
Aku hanya bisa mengatup rapat mulutku. Kembali
dengan posisi diamku dan melempar pandangan kearah luar jendela. Menahan rasa
sesak yang entah kenapa terasa seperti menerorku.
“Ha Gun~a, kalau aku tidak salah dengar kau adalah
yeoja chingunya kyuhyun oppa, eo? Anak pemilik perusahaan besar keluar Cho?”
Sooyoung Eonni berujar tanpa menoleh kearahku. Jadi cukup baik karena dia tidak
melihat ekspresi wajahku yang seakan ingin membunuhnya karena membahas
permasalahan ini.
“Kau yakin, tidak mencari jalan maut dengan
memilihnya menjadi namjamu? Kurasa kau akan sangat tidak disukai oleh keluarga
Cho” aku mencoba menahan diriku yang ingin segera mencabik – cabik mulut
Sooyoung eonnie yang tidak bisa diam dan berhenti membahasnya. “Mereka.. sangat
memusuhi perusahaan kakek, eo?”
Deg..
“apa maksudmu?” ujarku kemudian dengan suara yang
sedikit terputus.
“ternyata kau tidak mengetahuinya?” Kai sepupuku
yang berumur sama denganku, yang mengendarai mobil kami ikut dalam
perbincanganku dengan Sooyoung Eonni. Dia sesekali melihat kearah jok belakang
lewat kaca spion depannya untuk memperjelas kontak kami. “Haraboji yang
membangun peusahaan keluarga kita. Dia yang memegang kekuasaan besar dalam
perusahaan.”
“lalu?”
“seperti yang kau tahu, perusahaan kita berjalan
dalam bidang music dan perusahaan keluarga cho berjalan dalam bidang entertain
seperti drama, variety show dan sebagainya. Dan.. kau tahu actor yang sangat
terrkenal beberapa tahun lalu? Kangta? Dia mempunyai potensi yang besar dalam
memajukan dunia music korea dan Haraboji menariknya dalam perusahaan saat itu.
Tapi entah apa yang membuat perusahaan keluarga Cho juga tertarik dengan Kangta
dan membuat beberapa skandal untuk menarik secara paksa Kangta dari
perusahaan.” JongIn menggendikkan bahu.
“berawal dari permasalahan itu, perusahaan kami selalu saja berebut artis dengan
perusahaan keluarga Cho. Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi. Tapi setidaknya
gambaran besarnya seperti itu.”
Aku hanya melongo mendengar penuturan Kai tentang
permasalahn Perusahaan yang sama sekali belum pernah aku dengar. Aku yang tidak
peduli atau memang tidak ada yang ingin memberitahuku? Entahlah.
“itu yang menjadi salah satu faktor yang memaksaku
untuk mengakhiri hubungan dengan salah satu anggota keluarga Cho” Kai berujar
dengan sedikit pelan dan tertahan. Sooyoung Eonnie sedikit mengernyitkan
keningnya. “nugu?”
“adik kandung kyuhyun Hyung, Cho Jehee”
Aku nyaris terlonjak dari dudukku mendengarnya. Aku
memang tidak tahu banyak tentang Kai karena kami sangat jarang bertemu.
Terlebih pengangsingan dirinya akibat kecelakaan yang menimpanya beberapa waktu
lalu yang membuatnya harus disibukkan oleh beberapa terapi pengobatan untuk
kembali pulih. Semenjak itu komikasi diantara kami sangat jarang dan minim.
“Mwo? Brarti.. kau mengenal Kyuhyun oppa?” Sooyoung Eonnie
terlihat sedikit antusias dengan perbincangan kali ini. “kau sering bertatap muka
dengannya? Banyak orang yang mengatakan dia adalah namja yang sangat tampan,
aku sangat mengidamkan untuk bertemu dengannya, Kai~a”
Aku hanya bisa menahan diri dengan raut wajah yang
sedikit malas dan merasa menggelikan melihat ekspresi yang dikeluarkan oleh
Sooyoung Eonnie. “lama – lama melihatnya kau akan terkena serangan jantung,
kurasa” gumamku pelan tanpa bisa terdengar oleh Kai dan Sooyoung Eonnie.
“tidak terlalu sering, tapi kami selalu saja kontak.
Entah itu melalui telfon atau sms, atau bahkan bertatap muka. Setiap kali aku
akan berpergian berdua dengan Jehee. Aku sampai tidak menyangka ada seorang
kakak laki – laki yang begitu menyayangi dan menjaga adik yeojanya”
“kau sudah bertemu dengannya, sekarang?” entah apa
yang membuat mulutku meluncurkan pertanyaan bodoh. Tapi aku sangat ingin tahu
hubungan mereka yag sebenarnya. Jehee selalu tertutup untuk masalah masa
lalunya.
“kemarin aku bertemu dengannya. Kerabat dekatnya
yang kebetulan sahabatku juga mempertemukan kami kembali. Dia.. masih terlihat
manis seperti dulu. Tapi sedikit berbeda dengan sikapnya yang terlihat murung
hari itu. Aku tidak tahu, mungkin ada sedikit masalah dengannya.”
Aku kembali terdiam. Hal yang membuat Jehee
termurung atau tak berdaya hanya tiga hal. Cho Kyuhyun. Hangeng, idolanya.
Dan.. Donghae. Kyuhyun aku rasa dia baik – baik saja. Hangeng? Aku tidak
mendengar berita buruk tentangnya. Dan.. Donghae? Lee donghae, apa karena itu?
Aku sangat penasaran dan khawatir dengan kondisinya
sekarang. Tapi aku tidak mungkin menghubunginya lagi. Kalau aku berhubungan
dengannya, sama saja aku membuka kontak lagi dengan kakak laki – lakinya yang
sangat aku hindari.
***
14
October 2012
22
: 00 pm
Cho
Jehee’s bedroom
Cho
Jehee PoV
Mataku mengerjap berkali kali. Menatap langit langit
kamar dengan mata yang sudah terasa memanas. Hampir tiga manit aku sulit
berkedip. Dan itu terulang berkali kali. Tubuhku berbalik kanan dan kiri sudah
kesekian kalinya.
Tidak bisa memejamkan mata. Dan itu sangat menyiksa.
Hari ini aku sangat lelah karena harus menyelsaikan skripsiku seharian. Tubuhku
lelah, tapi mata tak mau terpejam. Sudah lewat dari dua jam aku berusaha untuk
tidur tapi selalu saja gagal.
Lee donghae. Kenapa namja itu selalu saja
menghantuiku? Apa dia mempunyai jimat tersendiri untuk mengikatku? Aku rasa aku
butuh jimat penolak yang super untuknya. Dan aku rasa itu mustahil untuk ada.
Kejadian sewaktu aku bertemu kembali dengan Kai saja
sudah dengan mudah terlupakan olehku. Aku hanya terkejut denga kehadirannya.
Bukan ada perasaan senang atau rindu dengannya. Padahal aku sempat menjalin
hubungan dengannya cukup lama. Hampir sepuluh bulan.
Besok.. eng, tidak. Beberapa jam dari sekarang.
Donghae oppa akan ulang tahun. Dan aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa.
Bukan masalah kado atau sesuatu hal special yang harus aku persiapkan untuknya.
Tapi sikap apa yang harus aku tunjukkan padanya.
Dua hari yang lalu aku mengakhiri hubungan kami.
Terputus. Tanpa kabar. Berarti sama saja donghae oppa juga menyetujui untuk
mengakhirinya. Sakit memang, tapi aku rasa itu adalah jalan yang terbaik. Lalu
bagaimana cara aku menyikapi hari ulang tahunnya?
Kalau saja kyuhyun oppa tidak memaksaku untuk
menemaninya ke acara perayaan ulang tahun perusahaan donghae oppa besok, aku
tidak akan dipusingkan dengan permasalahan itu. Cukup acuh dan pura –pura tidak
mementingkannya. Tapi bagaimana kalau harus bertatap muka dengannya?
Mustahil kalau kyuhyun oppa tidak akan bertemu
dengan donghae oppa besok. Dan mustahil pula kyuhyun oppa tidak menyinggung
permasalaha ulang tahun namja itu. Aih, sudah aku katakan dia benar – benar
kejam padaku. Sebegitu tidak relanya kah dia kalau aku sampai memutus hubungan
dengan donghae oppa?
“kau memikirkannya?” aku menolehkan pandangan kearah
pintu kamarku yang tiba – tiba terbuka. Menurunkan selimut ku agar bisa
mengetahui sosok yang sudah berdiri disudut pintuku.
Ah – ra eonnie menyalakan lampu kamarku kemudian
berjalan menghampiriku. “aku dengar dari kyuhyun kalau kua putus dengannya. Apa
karena itu kemarin kau bertahan untuk mengurung diri dikamar walaupun hanya…
dua belas jam?”
Aku mendudukkan tubuhku. Membalas tatapan ah –ra
eonnie yang sudah duduk disudut kasurku dengan wajah datar. “dua belas jam
adalah waktu yang cukup lama. Tidak terlalu buruk, eonnie”
“lalu bagaimana dengan besok?” ah –ra eonnie
menyingkap helaian rambutku kebalik telinga. Sikapnya yang keibuan menggantikan
posisi eomma yang sangat jarang berada disisiku. “kau pasti akan bertemu
dengannya kan? Dihari ulang tahunnya?”
“mollaseo. Aku tidak tahu bagaimana harus bersikap untuk
besok.” Aku menghela afasku sejenak sebelum kembali berujar. “eonnie, apa kau
mau membantuku besok?”
“untuk apa?” ah-ra eonnie mengernyitkan keningnya.
“balas dendam untuk kyuhyun oppa.”
***
15 October 2012
Cho
Kyuhyun PoV
Pertemuan kali ini, perayaan ulang tahun perusahaan
Donghae, sengaja aku ajak Jehee untuk ikut hadir. Karena tidak mungkin aku
membawa yeoja selain dia dan.. Ha Gun untuk acara perusahaan. Sebenarnya niatku
bukan ingin menjebaknya dalam hari ulang tahun donghae hyung. Aku hanya ingin
membantu donghae hyung menunjukkan kondisinya sekarang. Bahwa dia benar – benar
sibuk untuk memperjuangkan suatu hal. Bukan sibuk mencari yeoja lain.
“oppa, kau tahu toilet wanita dimana?” jehee
menatapku dengan tatapan melasnya.
“yak, kau sudah berapa kali ke toilet untuk pagi ini
hah? Tadi saja kita sudah nyaris terlambat hanya karena kau yang meminta
berhenti beberapa kali di pombensin untuk ke toilet. Lalu sekarang?” ujarku
dengan nada sedikit frustasi. “aku tahu kau begitu panic kali ini. tapi tidak
bisakah kau mengontrol dirimu, eo?”
“entahlah oppa, aku benar – benar tidak menyangka
akan sepanik ini. dan asal kau tahu, ini semua karena kau.” Dengusnya sambil
menyikut lenganku. “aih, kenapa yeoja tengil itu ada disini?”
Aku mengernyitkan keningku mendengar umpatan yang
seperti keluar secara spontan dari mulut jehee ketika arahan matannya mengarah
pada satu titik. “nugu?”
“HyunSun. Kau masih ingat? Yeoja yang selalu
menempel denganmu setiap saat sewaktu kecil? Asal kau tahu, sekarang dia
sepertinya akan beralih ke Donghae oppa” Jehee mengambil secangkir minuman soda
dihadapannya sambil berujar dengan kesalnya.
“jadi? Kau cemburu?” tanyaku dengan sedikit nada
meledek.
“a.. ani. Lagi pula aku dengan donghae oppa sudah
tidak ada hubungan apapun” aku hanya tertawa kecil menanggapinya. “yak,
hentikan tawamu. Atau.. kau boleh saja sekarang tertawa. Tapi jangan salahkan
aku kalau kau akan membeku nantinya.”
“wae? Sepertinya kau duluan yang akan membeku.”
Sahutku cepat karena aku melihat donghae hyung yang datang dari arah belakang
Jehee mendekat.
“memangnya kau kira…..” Jehee mengehentikan
ucapannya setelah merasa sebuah tangan hangat yang menarik lengannya hingga
tubuhnya terhuyung dalam dekapan Donghae hyung.
Aku hanya terdiam memasang wajah datarku melihat
aksinya. Menahan perasaanku yang merasa sedikit merasa iri. Andai sekarang dia
masih ada disampingku. Aku akan benar – benar mendekapnya dengan erat. Tidak
mau terjadi perpisahan kedua. Karena aku sudah memikirkannya seribu kali. Lebih
baik aku terseok dalam mengurusi perusahaan, daripada harus menyingkir dari
hadapanya.
“tidak ada yang ingin kau katakan?” ujar donghae
hyung setelah sekitar satu menit mereka dalam posisinya. Jehee terlihat masih
sedikit terkejut dan canggung dalam dekapannya. Walaupun wajahnya sedikit
tertutup oleh lengan donghae hyung, tapi tangan dinginnya yang sempat
menyentuhku, tidak bisa menutupi.
“saeng il.. chukkae.. oppa.” Desis Jehee pelan.
“tidak ada yang lain?”
“sepetinya.. belum.”
***
Han
Ha Gun PoV
Aku berdiri resah didalam ruangan yang cukup ramai
dengan pendiri atau kerabat – kerabat dekat perusahan kyuhyun. Ini adalah hal
yang paling aku benci. Berdiri ditengah kerumunan banyak orang yang tak
kukenal.
Aku sudah menolak keseratus kali untuk tidak hadir.
Tapi tiga orang menyerangku mebuatku pasrah dan terpaksa datang ke acara ini.
pertemuan antara para pemiliik perusahaan dalam rangka ulang tahun perusahaan
Donghae yang seingatku bertepatan dengan ulang tahunnya sendiri.
Pagi tadi Ah-ra eonnie datang kerumahku. Meminta
izin pada eomma yang sialnya dengan segera di perbolehkan untuk membawaku, ah,
tidak. Menculikku tepatnya ke acara yang sama sekali tidak berarti untukku.
Terlebih datang dengan dandanan yang sefeminim ini.
Siwon oppa, namja chingu ah-ra eonni membantu menyediakan
udangan khusus untukku. Dan satu hal lagi. Cho Jehee. Aku tidak tahu seberapa
canggihnya mesin otak yang ada dikepalanya. Dia bisa dengan cepat mengetahui
keberadaanku di korea. Setengah hari setelah aku sampai di seoul.
“omo! Ige mwoya?” aku menutup sebelah telingaku
mendengar pekikkan yang cukup keras dari mulut yeoja yang berdiri disampingku.
“dia yang berjanji untuk mendekatkanku dengan donghae oppa tapi……. Sungguh
tidah bisa dipercaya”
“apanya yang tidak bisa dipecaya?” aku akhirnya
memutuskan untuk angkat bicara. Mendengar sepertinya ini ada sangkut pautnya
dengan Jehee.
“Lee donghae, calon namja chinguku. Yeoja yang
bernama cho jehee itu sepertinya juga mengejarnya.” Jawab yeoja itu dengan nada
tidak terima.
“mwo?” aku nyaris kesulitan menahan tawa. “calon
namja chingumu? Jehee mengejarnya? Neo mollaseo? Cho Jehee, adalah yeoja chingu
‘asli’ Lee Donghae sejak satu tahun lalu. Dan itu bukan karena Jehee yang
mengejarnya. Tapi donghae yang mengejarnya.”
“apa yang kau katakan, hah? Memangnya siapa kau
sampai berani – beraninya mengarang cerita.” Yeoja itu mulai menoleh kearahku
dengan tatapan tidak sukanya.
“mengarang kau bilang? Itu memang fakta, ahjuma.”
Jawabku datar menanggapinya.
“ahjuma? Setelah kau mengarang cerita tentang
namjaku kau memanggilku ahjuma?” mata yeoja itu membulat. “kau tidak tahu
berapa umurku?”
“tidak, hanya mengira dari wajahmu saja. Dan
baguslah kalau ternyata tebakkanku benar.”
“yaiks, neo..” tangan yeoja itu yang tadinya ingin
meluncur kearah bagian wajahku, terhenti seketika. Dengan gerakan tangan yang
menguncinya. Membuatku sedikit tercenggang melihatnya.
“yak, hyunsun~a, sampai kapan kau mau terus
menggangguku?” suara berat namja itu kembali terdengar ditelingaku. Suara yang
benar – benar menjadi terasa asing sekarang. “menganggu yeojaku sama saja
mengangguku” gumam kyuhyun pelan yang nyaris aku berfikir aku salah mendengar.
“oppaaaa!!” yeoja itu entah kenapa langsung menghambur
kedalam dekapan kyuhyun. Kyuhyun hanya bisa menganggkat tangannya dan berusaha
melepaskan lingkaran tangannya. Butuh sepuluh detik yang menyiksa untuk
melihatnya. Sampai akhirnya kyuhyun berhasil melepaskan dirinya. “yak kyuhyun
oppa, neomu bogoshipo”
Kyuhyun masih menatap aneh yeoja dihadapannya yang
kurasa mereka saling mengenal. “aih, dosa besar apa yang aku lakukan sampai
bisa bertemu denganmu lagi” dengusnya. “bisa tolong kau menyingkir?”
“apa?” yeoja itu mengernyit.
“aku ingin bicara dengan yeojaku.” Aku sedikit
tersentak dengan perkataannya.
“yeojamu? Nugu?”
“yeoja yang berdiri dibelakangmu.” Nyaris saja aku
kehabisan nafas saat dia melirik kearahku.
“MWO?”
***
Lee
DongHae PoV
“sepertinya… belum” ujarnya pelan menjawab
pertanyaanku. Aku hanya bisa mengehela nafasku menahan perasaan sakit masih
begitu menumpuk. Aku tahu dia pasti mengerti maksud pertanyaanku. Dan menjawab
sesuai kenyataan hatinya.
Aku
melepaskan dekapanku setelah menyadari mulai banyak rekan bisnisku yang tertarik
untuk melihat apa yang terjadi diantara kami. Dengan tatapan yang masih terus
mengarah padanya. “kau yakin belum ingin untuk kembali?”
Jehee menundukkan kepalanya. “mollaseo oppa.”
Ujarnya kembali dengan suara rendahnya. Aku rasa dia memang masih belum
meikirkan hal itu. Dua hari bukan waktu yang lama untuk seseorang menenangkan
diri.
“kau mau aku tunjukan sesuatu?” seketika sebuah ide
terbesit diotakku. Karena keinginanku yang kuat untuk meyakinkannya.
“apa?” dia hanya kembali menatapku dengan polosnya.
Dengan segera aku menarik lengannya kearah titik
tengah ruangan. Titik dimana semua tamu yang hadir bisa melihat keberadaan kami
berdua. Jehee hanya menatapku bingung sambil terus menggenggamku dengan tangn
yang sangat dingin.
“maaf, aku menyita waktu kalian sejenak.” Ujarku lantang
yang membuat semuua mata tertuju kearah kami berdua. “tidak lama, hanya sekitar
tiga menit dari sekarang.”
Suara perbincangan atau ocehan berhenti seketika.
Semua tamu menatap kami dalam keadaan diam. Menandai penantian kalimat
berikutnya yang akan meluncur dari mulutku. “kalian semua adalah tamu yang
terhormat, rekan bisnis terpercaya dan kerabat – kerabat dekatku. Aku yakin
kalian semua bisa membantuku. Tapi bukan dalam hal bisnis atau perusahaan. kali
ini dalam hal menjaga yeojaku. Cho Jehee.” Aku menariknya mendekat kesampingku.
Membiarkan semua orang melihat sosok Jehee seutuhnya. “aku hanya ingin
menunjukkan padanya. Pekerjaanku bukan penghalangku. Penghalang untuk
menjadikannya nomor dua dalam hidupku setelah tuhan. Penghalang bertemu
dengannya untuk membayar rindu atau bahkan penghalang untuk menjaganya.”
“hari ini hari ulang tahunku. Aku tidak mengharapkan
pada hadiah apapun dari kalian. Kecuali satu hal. Cho Jehee yang bisa tenang
dan merasa aman disampingku. Cho Jehee yang tersenyum karena keberadaanku.
Bukan Cho Jehee yang terluka karenaku.” Aku berdehem sejenak sebelum akhirnya
kembalii melanjutkan, “jadi apa kalian bisa membantuku? Meyakinkannya kalau aku
benar – benar tidak mengutamakan perusahaan dan membantuku untuk menjaganya
agar tetap aman disampingku?”
Ruangan terasa hening sejenak. Mulut para tamu masih
terkatup. Butuh waktu satu menit untuk mendengar jawaban mereka. Tepuk tangan
dan ulasan senyum tercipta sebelum kata “arasseo” dan “ne” terucap dari mulut
mereka.
***
Cho
Kyuhyun PoV
Sedikit ada kesulitan untuk menyingkirkan hyunsun
dari hadapan kami. Tingkahnya yang cukup fanatic denganku membuatku semakin
merasa terjebak. Hingga akhirnya aku berhasil membawa Ha Gun menjauh dari
kerumunan banyak orang dan pergi ke atap gedung.
Jehee benar –
benar bertindak diluar dugaanku.Tadi pagi dia sempat menyinggung sedikit
tentang perasaanku dengan Ha Gun sekarang. Dan dia sempat mengatakan akan
mempertemukan kami berdua kembali. Aku pikir itu hanya gurauannya saja. Atau
kalaupun iya aku berfikir tidak dalam waktu dekat ini.
“wae?” satu kata yang terdengar seperti keluhan meluncur
dari mulutku. Sebenarnya banyak sekali yang ingin aku keluhkan padanya. Aku
limpahkan semua perasaan lelahku. Lelah karena berusaha tetap bertahan hidup
tanpa ada kehadirannya disampinggu, dalam genggamku dan dalam jarak pandangku.
Tapi bodohnya hanya satu kata pendek dan tatapan dalamku yang bisa aku lakukan.
Menatapnya adalah kegiatan favoriteku. Asupan gizi
terbaik untuk tubuh dan jiwaku. Entah ada enzim apa yang mencerna gambaran
wajah yang kutangkap dari mataku menjadi energy yang luar biasa. Semangat hidup
yang lebih tinggi dan degupan jantung yang terasa memburu.
“aku.. aku..” Ha Gun sedikit tergagap menanggapiku.
Tubuhnya yang terlihat lebih ringkih dari terakhir kali aku melihatnya itu
menegang. Sedikit terlihat bergetar dan emnahan air mata dengan mata yang
memanas.
Tanpa perlu menunggu lama aku menariknya dalam
dekapku. Melepas semua beban yang begitu terasa berat belakangan ini dalam
peluknya. Terdiam untuk beberapa saat. Membiarkannya kembali terbiasa dengan
dekapan hangatku.
“mianhae, chonmal mianhae.” Ujarku kemudian ttanpa
melepas pelukanku. “aku tidak, sama sekali tidak ingin mengucapkan kalimat maaf
untuk yang kedua kalinya. Untuk masalah yang mungkin aka nada berikutnya.”
“seohyun sudah dengan mudah aku putuskan.” Lanjutku.
“tanpa sepengetahuan appa, beberapa waktu lalu aku menemuinya bersama appanya.
Memohon maaf dan menolakya. Satu alasan untuk aku melakukan ini. kau. Dan untuk
perusahaan appa yang sebenarnya akan terancam kalau saja jatuh ditangan siwon
hyung, aku sudah meminta bantuan pada donghae hyung untuk mengatasinya. Satu
alasan untuk aku memohon ini dengan sangat pada hae hyung. Kau.”
“mungkin selama ini kau fikir memang aku yang
mencampakkanmu. Menjauh darimu dan berusaha menyingkirkanu perlahan.” Suaraku
mulai terasa melemah, “aku sangat merasa bersalah jika kau terus berfikiran
seperti itu. Bisakah kau hanya menyimpan pikiran baik tentangku? Pikirkan
bagaimana kondisi aku disaat bernafas tanpamu dan bagaimana aku mempertahankan
pedang dalam gameku. Jangan pikirkan bagaimana cara aku menghiraukan rasa sakit
yang terus datang karena pedang yang sudah tidak bersatu denganku. karena aku
juga hanya akan berfikir bagaimana cara menjagamu agar tidak terluka. Tergores
oleh pedang lawan walau hanya satu inci.”
Ha Gun melepaskan dekapanku satu detik kemudian.
Membalas tatapanku dengan ekspresi wajah yang sulit dibaca. Terlalu lama berada
jauh disampingnya banyak membuat kesulitan walaupun hanya untuk mengertinya.
Tangannya meraih ponsel yang berada didala tasnya.
Sebenarnya sudah berkali – kali bordering sedari tadi. Raut wajahnya sedikit
berubah saat membaca kontak nama yang menelfonnya. Entah apa yang membuatku
mearasa tidak aman untuk mengenggamnya. Merasa seperti ada ancaman luar yang
ingin membuatnya semakin jauh dariku.
“eo? Baekhyun~a?”
TBC
1 komentar:
Posting Komentar