~WooBum Couple~ #part 3
Perasaan itu mulai ada. Menghantuiku seakan itu menjadi hal yang menakutkan. Dan permasalan itu segera muncul. Disaat aku tidak bisa lari dari janjiku. Janji yang membuatku akan semakin jauh dengannya.
Lee Woori PoV
Tiga bulan berlalu begitu saja. Begitu juga dengan kelangsungan hidupku di seoul. Cukup menarik dan mengesankan. Teman temanku lebih bisa membuat kehidupanku lebih menyenangkan dan berarti, daripada di California.
Eomma benar, tanah air adalah tempat terbaik untuk kita. Seburuk apapun prestasi tanah air kita. Karena disana ada keluarga, peristiwa kehidupan kecil, dan hal hal yang menyatu dengan diri kita. Yang membuat perasaan menjadi lebih nyaman.
“woori~a” yoona melambaikan tangan singkat padaku, menandakan keberadaan dirinya. Hari ini kami ber empat mempunyai janji untuk makan bersama disalah satu foodcourt baru tak jauh dari sungai han.
“ne, kajjayeo!” aku menarik lengan Jehee dan menyelipkan lenganku kedalamnya. Berusaha untuk sedikit menjauh darinya.
“yak, bum-a. apa kau tidak mengajak temanmu seorang saja, huh?” jehee melirik kibum yang berjalan dengan tenang diantara kami.
“lalu? Kenapa kau tidak mengajak namja chingumu uuntuk menemaniku, eo?” ujarnya datar kemudian berjalan mendahului kami.
“aish, sinjja bocah ini.” umpat jehee sambil berlagak seperti ingin mencekiknya dari belakang. “kau kan temannya. Jadi seharus lebih baik kau yang mengajaknya.”
“kau yeoja chingunya, malahan.” Ujarnya kembali dengan nada datar.
“YAK! KIBUM-SSI! NEO..”
“nuna! Apa kau tidak datang ke rumah halmoni, siang ini?” kibum menepuk ringan bahu yeoja yang Nampak sekilas dari arah kami.
“memangnya ada apa? Aku sibuk, jadi tidak bisa datang. mianhae.” Dia menyingkap anak rambutnya yang sedikit tak beraturan. Matanya memincingkan kearah kami. Membuat kami akhirnya bisa melihat wajahnya dengan jelas.
“yeoja? Yak! Kim kibum!” tangannya menjitak pelan pada keningnya dan dia meringis pelan. “jangan bawa kebiasaanmu denganku. Tidak adakah teman namja huh?”
“appo nuna-a! aku mempunyainya, tapi hari ini mereka tidak bisa ikut. Itu saja! Annyeong!” dia kembali melanjutkan langkahnya, membiarkan yeoja yang disapanya “nuna” itu terdiam kaku, tanpa mengamukinya. Kupikir dia sudah terbiasa dengan sikap Kibum yang terbilang kurang sopan dengan lawan bicaranya.
“nugundae?” yoona menjajarkan langkahnya disamping Kibum.
“dia tetanggaku saat aku tinggal di California. Tapi dia juga orang asli korea. Kau tidak perlu tahu mengapa dan bagaimana aku dengannya. Tidak terlalu penting.” Dia memasukkan telapak tangannya kedalam saku jaket. Siang ini cukup cerah, dan musim dingin mulai berakhir. Kenapa dia memasukkan tangannya kedalam jaket, dan mengapa pula dia terlihaat.. sedikit aneh.
Kim KiBum PoV
Aku mendesah pelan, nyaris tidak terdengar siapapun. Sangkyung nuna tidak datang ke undangan halmoni. Itu berita yang cukup baik, karena dapat mencengah mulutnya yang nyaris tidak bisa terkendali kepada eomma yang kemungkinan sangat akan datang.
Tapi sungguh, hari ini perasaanku sedikit tak karuan. Siwon benar benar telah menjebakku. Sengaja saja, aku menolak untuk mengajak donghae, siwon, ataupun teman se “geng”ku yang lainnya. Mereka pastinya akan menagih janji yang tanpa sengaja ku ucapkan.
“kau merasa seorang namja? Are you gentleman? Not? Ck, apa yang bisa kau lakukan huh? Mendekati yeoja seeprti dia saja tidak bisa”
Kata kata itu cukup mengusikku. Aku tidak menyukainya. Semacam taruhan gila yang dibuat oleh temanku. Siapa yang kalah, dia harus menyatakan yeoja yang enurutnya paling cantik di kampus ini. mudah kukira, tapi ternyata malah aku terjebak.
Yeoja yang cantik menurutku memang bukan taeyeon. Bukan dia yang tercantik. Aku hanya menjawab asal, karena kukira setelah itu aku akan selamat. Emosiku memuncak dan aku merasa direndahkan dengan perkataan teman temanku.
“lihat sampai aku menembaknya, dan menjadikannya yeoja chinguku!”
Kim taeyeon. Aku mengenalnya sekitar seminggu belakangan ini. itupun dikarenakan saat aku sedang menghampiri leeteuk hyung yang kebetulan menjadi dosen dikelasnya. Hanya mengenal. Sekedar mengenal. Yeoja yang aku butuhkan, aku sukai, aku inginkan, aku katakana “cantik yang sesungguhnya” hanya satu. Lee woori.
Dia bukanlah tipe yeoja (wanita) yang mudah untuk didekati. Dia mempunyai namjachingu (boyfriend) aku tahu itu. Tanpa diberitahupun aku menyadarinya. Tak mungkin rasanya pula aku mendekatinya, selama dia bersetatus sahabat karib “yoona”.
Aku sudah mengetahuinya. Jauh sebelum aku mulai menaruh hati pada Woori. Dia terlalu ekspresif dalam menyimpan perasaan. Menurutku begitu atau paling tidak dia kurang bisa membekap mulut sahabatnya, jehee dan termasuk woori untuk tidak terlalu terbuka.
Drt.. ddrtt..
“kibum-a! kau sama sekali tidak mengejakku huh?” terdengar sungutan kecil suara lembut sungmin.
“wae?” aku berdehem seolah tidak menyadarinya.
“takutkah bertemu denganku huh? Aku sudah sampai tempat tujuanmu dan yang lain sekarang. Jadi kau mau kabur kemana, eo?” sepertinya mereka sedang bersama, karena sedikit ada keributan dan berikutnya, donghae yang angkat bicara.
Aku memutus sambungan dengan secepat mungkin kemudian berbalik menghadap para yeoja yang berjalan santai sambil bergurau daibelakangku sedaritadi. Semua sorot mata mereka tertuju padaku dengan tatapan heran.
“bagaimana kalau kita pergi kebandara saja? Eomma dan appaku datang ke seoul hari ini. apa kalian ingin ku kenalkan,eo?”
***
“bum-a! katanya kita mau kebandara menjemput eomma dan appamu. Kau mau membawa kita kemana huh?”
Aku tersenyum disudut bibirku. Terus mengendarai mobil dengan tenang. Aku mengajak mereka sebelum pergi untuk kerumahku sebentar. Mengambil mobil, untuk memudahkan perjalanan.
Gila saja kalau aku sampai beranii menemui eomma dan appaku ke bandara. Woori hanya terdiam duduk manis di jok tepat dibelakangku. Dia sepertinya mengetahui kalau aku tidak mungkin akan membawa mereka menemui eomma dan appaku.
Dia tahu semua. Semua yang kurahasiakan selama ini dengan banyak orang tentang banyak hal. Tapi tentu saja dia sama sekali tidak mengetahui rahasia besarku. Yaitu mencintainya dengan penuh resiko.
“molla.” Sahutku singkat, sambil melirik kearah kaca spion. Menyaksikan ekspresi eksta yang dikeluarkan yoona. Dia anak yang sangat ekspresif. Berbeda dengan woori yang terbiasa untuk menjadi anak yang penuh ketenangan. Melambangkan kedamaian dan kelembutan hati yang dimilikinya.
“MWOYA?!”
“yak, bum-a! jam berapa ini? dari tadi kau membawa kami kemana?”
“pukul delapan malam. Wae?” ujarku santai sambil melirik jam yang terpampang di mobil.
Aku sedikit melirik gerakan woori dibelakang. Dia terlihat sedikit berbeda beberapa jam belakang ini. terutama, saat kami kembali melanjutkan perjalanan. Dia terlihat sibuk dengan ponselnya. Beberapa kali terdengar nada panggilan yang tidak ia jawab. Sejujurnya, aku seidikit khawatir dengannya selama perjalanan.
“jeju island, friend! I think we can’t to meet my mom and dad now. Because they have one mistake to take off today.”
***
Tubuhku ku sandarkan sejenak kearah pohon yang tumbuh tak jauh dari halaman villa. Pagi cerah ini menyambut hari pertama kami berlibur di jeju. Sungguh gila rasanya jika mengingat tujuan awal kami yang hanya ingin mencicipi rasa makanan foodcourt baru dekat sungai han, malah beralih menjadi ke pulau Jeju.
Untung saja, sangkyung nuna dengan baik hati mau meminjamkan villanya disini. Kamar disini cukup banyak. Sekitar sepuluh atau sebelas. Karena jarang sekali dikunjungi, villa ini biasa dirawat dengan dua orang pesuruh nuna yang memang sudah dipercaya.
“hei!” aku sedikit tersentak dan terbangun dari mata yang terpejam. Menikmatisuara desiran ombak pantai yang berada tak jauh dari villa, dengan tepukan ringan dipundakku.
“eo? Woori ya? Ireonnna (sudah bangun) ?” dia mengangguk kecil kemudian duduk sila menghadapku.
Aku tersenyum singkat membalas tatapannya “apa yang sebenarnya terjadi, eo? Apa berniat menyembunyikan semuanya dariku?”
Dia tertuduk. Menatap jemari tangannya yang digerakkan ringan. Terdengar sedikit desahan pelan dan beberapa umpatan kecil yang keluar dari mulutnya. Kurang bisa terdengar jelas olehku.
***
Lee Woori PoV
Mataku mengerjap pelan. Entah kenapa pagi ini bisa terbangun dengan mudahhnya. Mungkin karena terpikir untuk menyelesaikan beban hatiku yang terasa semakin berat. Semalam tanpa sadar aku terlelap, dan bangun ketika sampai di villa dengan handphone yang akhirnya berhenti bergetar dengan 60 misscall darinya,
Tanganku melambaikan sejenak pada kedua sahabatku yang nampaknya bertahan untuk memelekkan mata selama berjam jam diperjalanan. Bahkan dikapal yang membuat ku ingin memuntahkan semua isi perutku. Kami memang sedang libur kuliah. Jadi tidak terlalu masalah jika harus menginap secara mendadak seperti ini.
Tanganku menarik tirai horden kamar. Sedikit mengerjap dengan cahaya matahari yang menyeruak masuk secara mendadak kearah mataku. Dengan sedikit menyipitkan mata, aku melihat sosok yang terduduk sendiri dengan tubuh yang disandarkan ke batang pohon dihalaman belakang villa.
Sedikit niat yang menggelitik untuk bercerita masalahku dengannya. Karena menurutku, dia teman yag sangat tepat untuk saat ini. aku dengannya sudah hampir mendekati sahabat dekat.
Langkah kakiku akhirnya tertuju kearah arahnya. Menyingkap sedikit anak rambutku yang tertiup terpaan angin yang cukup sejuk disini. Jeju memang kota indah yang penuh dengan ketenangan dan kesejukan.
“hei.” Aku menepuk ringan pundaknya. Menyadarkannya yang tengah terpejam dengan desiran pantai yang letaknya tak jauh dari villa yang kami datangi.
“eo? Woori ya? Ireonnna (sudah bangun) ?” aku mengangguk. Tersenyum sejenak, kemudian mengambil posisi duduk sila menghadapnya. Duduk tanpa beralaskan apapun diatas rumput basah, sepertinya terasa cukup alamiah.
Dia membalas senyumku, kemudian menatapku dengan sedikit tatapan mencari sesuatu dariku.
“apa yang sebenarnya terjadi, eo? Apa berniat menyembunyikan semuanya dariku?”
Aku sedikit terhenyak. Mendengar semua tebakan yang terluncur dari mulutnya. Sedikit tidak heran, setelah berfikir sikapku beberapa jam belakangan ini saat bersamanya sedikit berubah.
Jemariku bermain pelan dihadapan kedua bola mataku yang tertunduk kearahnya. Termenung sejenak. Mengumpulkan energy untuk menceritakan semua yang terjadi padaku. Kepadanya. Dari awal aku bertemunya, sungguh entah kenapa. Seperti ada magnet yang mengikat dalam benakku. Dia adalah oran yang selalu membuatku nyaman. Dimanapun dan bagaimanapun kondisinya.
“bum-a..” aku mulai berkata. Tanpa kembali menatap matanya. Dia terdiam. Seperti mengetahui saat yang tepat untuk menunggu kalimat selanjutnya. “na.. naneun.. (aku) mengakhiri semuanya dengan youghwa oppa.”
Air mataku tak terjatuh setetespun, seperti halnya para yeoja (wanita) yang tengah putus cinta. Hanya perasaan lelah yang ada di benakku sekarang. Dan aku kurang mengerti apa yang sebenarnya membuatku lelah.
“apa itu sebuah keputusan terbaik, eo?” dia sepertinya mengerti. Mengetahui tak ada tangisan yang keluar dari ekspresiku.
Aku mengangguk pelan. Kembali mentapnya. “sangat jarang ada komunikasi Diantara kita. Jarang sekali, nyaris tidk ada dalam seminggu.” Aku mendesah pelan. “dan.. aku merasa bahwa diriku hanya sebagai alat pelariannya. Tamengnya untuk menghindar dari serbuan yeoja yang mengaguminya.” Manik mataku menatap pasrah dirinya. Berharap ada solusi setelah aku menceritakan padanya. Walaupun itu hanya sebuah perasaan lega.
Drtt.. drrt..
Dia merogoh sakunya. Mengambil ponselnya kemudian mematikannya dengan cepat.
“nugundae? (siapa)” dia hanya tersenyum masam.
“hanya masalah kecil yang nyaris membuatku setengah gila. Sekita dua minggu lagi. Kalau aku berhasil untuk mengundurnya. Kau lihat saja nanti. Kesialan apa yang akan terjadi padaku.”
***
TBC
huaa ao~ thanks udah mau baca ff gagal tak jadiku XD kepalaku lagi mumeett bgtbgtan. banyak pikiran, gatau kenapa belakangan ini. *curcol* yasudahla, dari pada kelamaan, nanti yang ada isinya jadi curcolan aku semua. hehe. maaf jugaa kalo kependekan :D. insya allah, part 4 dan seterusnya aku panjangin deh.. oke, waktunya NUNGGU KOMEN DARI READERS!! thanks udah mau nyempetin baca :* wakaks

3 komentar:
ditunda ff lanjutannya juga gapapa kok qil._. makasih yaa :)
-88 absen8
iyaa sama sama, ini pipit?._. maaf piiiiit :'( bingung akunya .___.v
iyaa sama sama, ini pipit?._. maaf piiiiit :'( bingung akunya .___.v
Posting Komentar