Minggu, 26 Februari 2012

~WOOBUM COUPLE~

halohaa~ wakaks. udah lama yaa gak ngepost ff ._. ini ff special buat temen aku yang ultah (kayaknya semua ff gue spceial gitu). tapinya tuh sebenernya telaaaaat banget. nyaris dibilang basi. wk. ._.v ultahnya tanggal 14 february, aku ngepostnya tanggal 20 an-_- *curhat* yaudah lah yaaa ini masi tbc. jadi yang sabar ajaa buat nunggu kelanjutannya. wk. trusnyaa ki bum cuman orang biasa. bukan member suju disini. ini juga gak ada judul karena aku lagi gak punya ide buat namain. *kabuuur*
selamat membacaaaa!






~WooBum Couple~ #part 1
That’s you..
My one and oly..
You always my baby..
“saranghaeyeo~”








Lee WooRi PoV
Langkah kakiku tersentak oleh sosok tubuh yang sangat ingin ku hindari dihadapanku. “oppa?” aku mendesah sambil menatapnya putus asa. Kemudian membalikkan tubuhku kelain arah, dan mulai melanjutkan kembali langkahku.
Tangannya mencengkram cepat lenganku. Membuatku menghentikan gerakanku, dan terpaksa oleh cengraman yang dibuatnya untuk menghadap kearahnya. Dia terlalu tinggi untukku. Sehingga aku harus sedikit menaikkan kepalaku untuk menatapnya.
“kau marah, hm?”dia memincingkan matanya, berusaha untuk membaca wajahku. Aku berdecak pelan. “aniya. Gwenchana.” Jawabku asal dan mengalihkan pandanganku malas.
“sinjja? Kurasa kau berbohong.” Dia melepaskan cengkramannya perlahan kemudian memasukkan tangannya kedalam saku celana jinsnya.
“terserah kau saja mau menganggapku marah atau tidak. Aku tidak mempunyai waktu untuk mendebatkannya.”  Aku kembali melanjutkan langkahku.
Belum ada sepuluh langkah aku berjalan, sebuah perkataan yang meluncur santai dari mulutnya membuatku kembali tersentak dan berhenti. “bagaimana kalau kita benaran berpacaran? Ehm, maksudku, kau dan aku benar benar berpacaran, bukan hanya dari lisanku saja. Otte? Sejujurnya, aku sangat menyukaimu. Jauh sebelum aku lulus SMA.”
Aku membalikkan tubuhku dan berjalan kembali kearahnya. Dan berhenti tepat dihadapannya. Jarak kaki kami hanya sejengkal. Membuatku dengan mudah menjitak keras kepalanya mengeluarkan ide gila itu. “yak, oppa! Neo michiseo?shireoya!”
Tanpa terduga olehku, dia mengangkat tangannya. Mengeluarkan dari skau celananya kemudian melingkarkan ringan di pinggangku. Membuatku tersentak dan otomatis sedikit terhuyung. Aku terhujung kebelakang, dan dia menahanku. Membuatku tertarik lebih dekat dengannya.
Dia menundukkan kepalanya. Menjajarkan wajahnya dengan wajahku. Nyaris tak ada 5 senti untuk jarak wajah kami. “ sinjja? Aku benar bersungguh sungguh dengan perkataanku tadi. Dan kuharap kau juga menyukaiku. Karena aku tak suka penolakan, maka hari ini juga, kita sudah resmi berpacaran.”
Dia menurunkan tangannya, alih alih mengacak acak ringan kepalaku, sambil tersenyum manis. Senyuman yang sangat langka diberikan untuk sembarang yeoja.
Dia sepertinya tidak memperdulikan kondisiku yang masih sangat syok dan terhenyak dibuatnya. “sepertinya aku tidak takut dengan penolakanmu, aku jamin kau tidak akan menolakku, hm? Wajah mu merah sekali, Woori-a. yepposeo.” Kali ini dia mencubit ppiku.
Kemudian beranjak pergi setelah mengucapkan kalimat yang semakin membuatku terhenyak. “aku pergi dulu, jagiya. Saranghaeyeo.”
Aku hanya bisa terbengong melihatnya pergi menjauh, sambil mendesah pasrah kemudian mengacak gusar rambut ikalku. “sakit jiwa jika aku jadian dengannya seperti ini. memalukan.”  Kemudian aku mengercutkan bibirku kesal. “tapi aku memang menginginkannya. Aaish! Michiseo!”
Hai, perkenalkan, Lee Woori ibnida. Aku asli orang Korsel. Tapi aku melanjutkan kuliahku di California. Hanya menjauh dari kekangan eommaku, itu saja. Dia selalu memprotectku setelah appa meninggal beberapa tahun lalu. Tapi itu sungguh menggangguku.
Aku dan Jong YoungHwa. Namja gila yang dengan mudahnya menaklukkanku. Dia seniorku sewaktu SMA dan sekarang. Dia melanjutkan kuliah di universitas yang sama denganku. Di berekely, universitas of California.
Sialnya, dia adalah pangeran kampus di sana. Dan dia selalu mengalihkan dengan menjawab pada setiap yeoja yang mengganggunya. “I’m sorry, I have girlfriend. Lee Woori”
Dengan sendirinya, mereka yang mengetahui atau pun mengenalku, bahkan sampai yang sama sekali tidak aku kenal –benar benar tidak pernah tahu- sekalipun, memusuhiku. Entah itu hanya tatapan persaingan, ataupun tidak suka. Bahkan, bisa dipastikan setiap minggunya aku mendapat bullyan dari para penggemarnya.
Entahlah, aku tidak tahu harus merespon nya dengan apa. Itu yang membuatku marah. Tapi setidaknya, dia sudah memberikanku kepastian, sekarang.
Kim Ki Bum PoV
“shireoya appa!” hertakku. Aku menghela napas kasar. Namja separruh baya dihadapanku hanya terdiam dengan Koran di tangannya.
“wae?” jawabnya datar. Membuat emosiku semakin naik ke ubun ubun.
“appa. Aku mempunyai mimpiku sendiri. Okeh, intinya aku tidak ingin dimimpikan karena aku bisa mencapai mimpiku sendiri, ara?” aku beranjak pergi dari sofa yang kududuki. Dengan perasaan penuh amarah yang meluap.
“capai saja mimpi yang tak bertujuanmu itu. Appa tidak perduli lagi. Lanjutkan perusahaan appa, atau kau kembali ke korea.” Ujarnya dingin namun penuh dengan penegasan.
“aku akan kembali ke korea. Hari ini juga kalau appa mau.” Jawabku sambil berjalan menuju kamarku kembali.
Dia appaku. Terlalu tidak pantas sejujurnya untuk menyebutnya seperti itu. Dia selalu saja mengatur hidupku. Dari mulai aku melangkah, dia yang menentukan langkahku, hingga aku berlari sekalipun, dia yang melarikanku.
Aku bergegas menaiki tangga menuju kamarku. Mengepakkan pakaian dan barang barang berhargaku. Aku tidak pernah bermain main dengan kata kataku. Sekalipun aku bilang akan pergi, tidak aka nada yang bisa mencegahku.
Ketukan pintu kamarku mulai berbunyi. Suara eomma mulai terdengar. “bum-a, gwenchana? Kau tidak akan pergi, kan nak?”
Aku hanya terdiam. Tidak menyahut sama sekali, dan terus terfocus dengan barang barangku. Eomma terus mengetuki pintu kamarku. Membuatku sedikit mendesah dan beranjak untuk membukakan pintu.
“wae, eomma?” ujarku datar.
Dia sedikit mengerut, melihat kondisi kamarku yang mulai terkosongi oleh barang. “bum-a, eomma akan berusaha sebisa mungkin untuk membujuk appamu. Jadi kau tidak perlu pergi. Hm?” dia menatapku penuh harap.
“mianhae eomma. Appa mempunyai sifat yang sama denganku, keras kepala. Jika tidak ada yang ingin mengalah, mungkin akan semakin hebat, tapi sayangnya aku tidak mau mengalah dengan appa. Perbisnisan sama sekali bukan masa depanku.”
Aku mengangkat ranselku kemudian mengecup ringan pipi eomma kemudian beranjak pergi. “aku sudah selesai mengepakkan barang. Mungkin aku akan tinggal dirumah halmoni. Jaga dirimu baik baik eomma.”
                                                                        ***
“annyeonghaseo, Kim ki bum ibnida. Pindahan dari California, dengan jurusan yang sama. Kau bisa memanggilku cukup dengan ki bum. Jangan pernah sebutkan marga ku kalau itu tidak terpaksa.” Aku tersenyum simpul kemudian membungkukkan tubuhku ringan, tanda emberi salam.
Seosangnim mempersilahkanku duduk setelah perkenalan ‘singkat’ ku selesai. Aku hanya memilih tempat asal, yang menurutku nyaman. Pinggir kelas yang bersampingan dengan dinding dan jendela ruangan.
“ki bum oppa.” Desahan kecil dari belakangku, membuatku menolehkan arah apndangku. Mengehentikan gerakanku sesaat. “boleh aku memanggilmu oppa? Aku mahasiswi aksel disini.” Aku mengangguk ringan padanya.
“siapa namamu?” tanyaku kemudian sambil tersenyum singkat.
“Yoona, Im Yoona.” Jawabnya sembari membalas senyumku.
                                                            ***
                                                           -TBC-
sekali lagi maaaff banget yaaa pit *mukamelas* baru ngepostnya sekarang. yaudah ah.. nungu commentnya aja deh, aku. thanks udah mau mampir! annyeong!


3 komentar:

Anonim mengatakan...

Iya gapap kok qil, tetep lanjutin yaa;-)

Anonim mengatakan...

aku jdi penasaran??? ditunggu next part-nya ya... semangat chingu :)

Cho jehee mengatakan...

buat pipit happy birthday yaa. thanks PUnya. wk.
okeee semuanya nunggu yang sabar yaak. wk