Minggu, 23 September 2012

Because of You (oneshoot)


Annyeong yeorobun!  Ini aku bikin ff oneshoot again :D lagi suka bikin oneshoot nih. Soalnya internet rumah sempet lemot, trus dimatiin *curhat* jadinya sambil nunggu aku bikin ff aja. buat yang belom tau silsilah atau penokohannya , atau yang udah tau juga kayaknya butuh baca yang dibawah dulu. Soalnya rada beda sama susunan cerita biasanya, baca yang dibawah ya :
  
Lee DongHae
Anak tunggal dari keluarga Lee yang bersahabat dengan keluarga Kim HyunSun. Dia anak yang sedikit terkesan keras kepala. Karena masa kecilnya kurang baik. Appanya terus menggiringnya kedalam dunia bisnis dari kecil. Membuatnya sulit bergaul dengan teman yang lainnya terkecuali rekan bisnis appanya. Sepupunya adalah Kai (kim jong in)

Cho Kyuhyun
Kakak laki-laki Cho jehee, sepupu dekat HyunSun. Dia salah satu pengisi dunia music korea dengan suara emasnya. Sifatnya  yang dingin terkadang sering memancing emosi lawan bicaranya. Tapi dia adalah kakak yang penyayang. Sedigin-dinginnya dia pada adik yeojanya, Cho Jehee, dia masih menunjukkan kepeduliannya.



Byun BaekHyun
Namjachingu Kim Hyun Sun sebelumnya. Dia mempunyai kepribadian yang cukup kuat untuk menahan emosinya. Lebih suka untuk mendengarkan secara langsung permasalahan dari naarasumber terdekat daripada pembicaraan orang lain. Sahabat dekat Kai (Kim JongIn) mereka teman kecil sejak  duduk di sekolah dasar.



Kai (Kim Jong In)
Sepupu Lee DongHae. Namja Chingu Cho Jehee. Mempunyai sifat terkadang konyol, tapi mempunyai karisma tersendiri. Dia adalah satu-satunya namja yang mengerti sifat evil keluarga Cho. Sahabat dekat Byun BaekHyun.

Kim HyunSun
Yoeja mungil yang mempunyai kepribadian tidak kalah tangguhnya dengan DongHae. Karena masih berhubungan dekat dengan keluarga Cho. Dia kehilangan memori masa lampaunya akibat kecelakaan yang menimpanya. Saudara dekat Cho jehee. Yeoja Chingu BaekHyun sebelumnya.




Cho Jehee
Yeoja yang terlalu cuek dengan perkataannya. Nakal dengan perintah orang tua, tapi selalu menurut dengan kyuhyun oppanya. Yeoja chingu Kai, saudara dekat HyunSun, adik  kesayangan Kyuhyun. Dia mendapat ajaran cara berbicara yang salah dari kyuhyun oppanya-_-



Author PoV
Because Of You,
Many people feel I like a crazy people,
Many people see the crazy thing in my life
Many people like my family, my friend, and other people…
Don’t know my feeling to you.
My feeling about…..
My Destiny.
Who can make me life in world,
Who can make me strong to life in the world
Who can make me smile,
And who can get me feel falling in love
“eomma, aku mau permen.” HyunSun, bocah kecil berumur lima tahun itu menarik narik pakaian yang ibunya kenakan. “aku sangat ingin permen.”
“jagi, tapi disini tidak ada yang menjual permen. Ini tempat pedesaan, dan maaf, eomma lupa membungkus permenmu untuk dibawa.” Yeoja yang dipanggil eomma itu berjongkok sembari megusap rambut anaknya.
“aku tidak mau tahu, aku mau permen!” HyunSun mulai menghentakkan kakinya marah. Dia termasuk anak yang keras kepala. Semua keinginanya nyaris sulit ditolak. Eommanya terkadang merasa bingung untuk menolaknya. Atau bahkan hanya sekedar mengalihkannya. Dia cukup pintar untuk mengerti maksud pengalihan itu.
“HyunSun sayang, nanti sore kita akan kembai kerumah Halmoni. Mungkin nanti di rumah halmoni akan ada permen. Kita tunggu sampai nanti sore ya? Appa masih ada keperluan di sini.”
“aku tidak mau nanti sore, aku maunya sekarang eomma!” HyunSun mulai mengeluarkan isakan tangisnya. “aku mau permen!!!”
Eomma HyunSun hanya menghela napasnya. Berusaha berpikir untuk menghentikan isakan dan rengekan anaknya itu. Dan untung saja, sebuah ide itu muncul. Dia melihat DongHae, anak dari keluarga Lee, rekan kerja suaminya sedang duduk sendiri dipinggir sungai. Tangannya sesekali dicelupkan ke dalam air sungai. Dan sesekali dia hanya melihat ikan yang lewat, karena warna air sungai yang sangat jernih.
“HyunSun~a. kamu mungkin bisa menanyakan pada anak itu.” Eomma Ha Gun menunjuk kearah DongHae berada. “mungkin dia mempuyai permen yang kau mau?”
HyunSun menghentikan tangisnya sejenak. Menatap dalam diam sosok yang ditunjuk eommanya. Dia cukup tinggi dengan umur yang HyunSun rasa hanya beberapa tahun diatasnya. Entah namja itu yang tidak normal atau dia yang mempunyai tinggi tidak normal.
“tapi, apa tidak eomma saja yang menanyakannya terlebih dahulu?” HyunSun kembali menarik pakaian ibunya. Karena dia tidak mempunyai keberanian yang cukup untuk menanyakan langsung pada namja itu.
“mian, HyunSun~a. appamu memanggil eomma barusan. Appa sepertinya membutuhkan bantuan eomma.” Eomma HyunSun mengusap kembali kepala anaknya sebelum akhirnya mencium kedua pipinya dan pergi. “kau bisa ajak main dia. Dan kau akan aman bersamanya, eomma yakin. Dia anak dari Lee Ajjushi, rekan kerja appa.”
                                                                        ***
“hei, kau!” HyunSun menggunakan kakinya untuk menyadarkan namja itu. Kakinya sedikit dihentakkan kepada lutut namja itu.
Namja kecil itu hanya menoleh malas kemudian menyipitkan matanya sejenak. “apa?”
“apa kau punya permen?” tanpa berbasa basi HyunSun menanyakan keinginannya. Dia paling tidak suka membuang-buang waktunya hanya untuk berbasa basi tidak penting.
“tidak.”jawab namja kecil itu cepat. DongHae terlihat tidak ingin di ganggu.
HyunSun menghentakkan kakinya kesal. Kemudian menjatuhkan tubuhnya terduduk dipinggir sungai disamping DongHae. Dia mulai terisak dan menghentak hentakkan kakinya marah karena tidak bisa mendapatka hal yang di inginkannya. “aku mau permenn.. huaaa, hiks, kata eomma kau mempunyainya, tapi kau bilang, hiks, kau tidak punya. Kau jahaatt.. aku mau permennnn!!!”
DongHae mendesah, melirik sejenak yeoja kecil yang dianggapnya cukup gila karena menangisi permen. Dia memang tidak peduli. Tapi dia merasa terganggu. DongHae tidak menyukai keributan. Tapi sebenarnya tidak sepenuhnya karena itu. Mata yeoja itu membuatnya sepat terhenyak sejenak. Dia mempunyai mata yang indah, dan entah apa yang membuatnya berfikir kalau tangisannya akan merusak keindahan mata yeoja kecil itu.“yak, gadis kecil, kau tidak bisa menghentikan tangisanmu? Berisik sekali, kau tahu?”
“biarkan saja aku berisik. Yang penting aku mau permenn!!” HyunSun masih terus menangis sejadi jadinya.
“aih, baiklah. Baiklah. Aku punya permen. Kau mau tutup mulutmu dan berhenti untuk menangis?” DongHae akhirnya berdiri dari duduknya. Membantu HyunSun untuk berdiri.
HyunSun terdiam sejenak. Mengerjapkan matanya, memulihkan matanya yang basah. Kemudian mengusap air matanya. Tingkahnya membuatnya sedikit terlihat lucu dimata DongHae. Pipinya gembul dan matanya yang membulat. Mulut mungilnya masih mengercut.
“kau tidak sedang membohongiku kan?” HyunSun sedikit mendangakkan kepalanya. Karena ternyata naja itu sedikit lebih tinggi dari yang dia kira.
DongHae mengangguk. “namaku DongHae. Umurku tujuh tahun. Kau bisa meneriaki namaku kalau aku berbohong.” DongHae menggandeng tangan mungil itu menuju kearah yang dia tuju. “sebenarnya bukan benar-benar permen. Tapi rasanya sama dengan permen. Manis, dan ini bahkan lebih enak.”
“sinjja?” mata HyunSun membulat. Langkahnya masih terus mengikuti disamping DongHae.
“eo, sinjjayeo~” DongHae kembali mengangguk. “appa yang memberikan makanan ini padaku. Sebenarnya aku tidak terlalu menyukainya. Jadi aku hanya menyimpannya saja. Aku mungkin akan memakannya kalau aku benar benar merasa lapar. Tapi sampai sekarang aku sama sekali tidak berniat untuk menyentuhnya.”
“DongHae~a. sebenarnya makanan apa yang appamu berikan padamu setiap hari? Kau terlihat begitu tinggi diumurmu yang masih tujuh tahun.” HyunSun sedikit mengangkat dress katun berwarna putih yang dipakainya ketika melewati sedikit bebatuan.
DongHae tertawa kecil. “sepertinya appamu yang salah memberikan makanan, bukan appaku. Kau terlalu pendek, Sun~a.”
HyunSun mengernyitkan matanya. “kau tahu darimana namaku?”
“kau memang tidak menyadarinya? Eommamu berusaha menenangkanmu dengan berkali kali menyebutmu ‘HyunSun sayang’ atau apalah itu. Tangisanmu sudah membuatku merasa terganggu sedari tadi.”
HyunSun mengercutkan bibirnya kesal. “biarkan saja, yang penting aku mau permen!”
DongHae kembali tertawa. Mungkin ini kali pertamanya dia tertawa dengan alaminya. Seumur hidupnya dia nyaris sulit untuk tertawa. Karena mungkin tak ada yang bisa di ajaknya bergurau. Teman-temannya hanyalah pelayan rumah ataupun teman-teman rekan kerja appanya. Dia selalu diajak untuk memulai mempelajari bisnis ayahnya.
Kemudian mereka berhenti ditempat mobil DongHae diparkirkan. DongHae terlihat sedikit mencari makanan yang dia maksudkannya. “igo, appa menyebutnya dengan nama ‘gulali’ kau pernah mencobanya?”
HyunSun menggeleng. Tangannya kemudian menerima gulali yang diberikan DongHae. HyunSun memutarpu tarkantan tangkai guali itu. “itu nyaris sama dengan permen. Rasanya mungkin lebih enak. Kau coba saja.”
                                                                                    ***
“DongHae sangat baik, eomma. Dia memberikanku gulali sebagai gantinya permen.” HyunSun memamerkan gulalinya pada eommanya.
“DongHae? Kau tidak memanggilnya dengan sebutan ‘oppa’? dia lebih tua dua tahun darimu, HyunSun~a.” ujar eomma HyunSun menanggapinya.
“biarkan saja, eomma. Lagipula dia tadi tidak mempermasalahkan itu. Sangat menjijikan kalau aku memanggilnya oppa untuk sekarang.”
“memangnya kapan kau akan memanggilnya dengan oppa kalau tidak mau sekarang?” eomma HyunSun mengernyit.
“nanti saja eomma, kalau aku sudah menikah dengannya. Dia mungkin akan menjadi namja yang hebat setelah aku menikah dengannya dan itu baru pantas aku panggil oppa.”
                                                                        ***
“ajjushi, berapa usia anakmu?” DongHae membuka pembicaraan saat mereka bertiga. DongHae kecil, ayahya dan ayah HyunSun berada.
“lima tahun. Memangnya kenapa?”
“tidak apa apa. Aku hanya ingin mengukur seberapa waktu yang harus aku tunggu sampai benar benar siap.” Ayah HyunSun mengernyit mendengar perkataan boch berumur tujuh taahun yang kelihatannya serius.
“siap untuk.. apa?”
“untuk menjadi takdirku diumur dua puluh empat. Aku akan melamar anakmu setelah dia benar – benar sudah dewasa. Tolong jaga dia baik baik.” DongHae menyikut lengan ayahnya. “appa, kau tahu?anaknya sangat manis.”
                                                                                    ***

Lee DongHae PoV
Aku menatap appa pasrah. Nyaris sulit untuk hanya sekedar mengatupkan rahangku. Ini benar-benar mustahil. Aku tidak habis pikir apa yang sebenarnya appa dan eomma inginkan. Keputusan gila, yang kupikir akan berujung maut untukku. Kenapa tidak adik sepupuku saja, Kim JongIn yang dijodohkan dengannya? Karena marga mereka sama? Setahuku, asalkan silsilah keluarga mereka jauh juga tak apa.
Yeoja itu masih menduduki bangku kuliah semester lima. Berarti aku mempunyai jarak dua tahun dengannya. Aku baru saja lulus kuliah tiga bulan yang lalu. Aku dan dia sebenarnya baru mengalami tiga kali pertemuan. Dan tiga tiganya tidak ada yang baik. Selalu ada pertengkaran. Baru kali ini aku menghadapi yeoja yang nyais setara egoisnya denganku. Tapi aku bahkan sama sekali belum mengetahui namanya.
Appa sampai sekarang masih kekeuh untuk aku menikah dengannya. Aku belum tahu pasti alasannya. Tapi tanpa aku bertanya, aku juga tahu. Pasti untuk memperbaiki hubungan perusahaan. Lagi, dan lagi. Aku selalu di korbankan untuk kepentingan perusahaannya. Dari masa kecilku yang dirusak dengan ikut mendampinginya dan menjadi Tuan Kecil diperusahaannya. Meninggalkan mimpiku untuk menjadi dokter hanya untuk melanjutkan perusahaan appa dengan mengambil Jurusan perbisnisan.
Sebenarnya, kalau saat itu HyunSun kecilku tidak datang menghampiriku. Kalau HyunSun kecilku tidak merengek meminta permen dengan mimic lucunya, dan bahkan wajah itu, masih kuingat seratus persen. Dia benar-benar memikatku sewaktu itu.
Kalau aku tidak mengenal HyunSun keciku lebih dulu, mungkin bisa saja aku mengiyakan perjodohan ini. tapi hatiku masi membeku karenanya. Masih menunggu kesiapannya untukku. Menunggu berita dari appanya. Di  usianya yang nanti akan menginjak dua puluh tiga.
“kau turuti saja appamu itu.” Eomma meletakkan secangkir minuman untuk kami berdua.
“ini bukan karena keinginan appa untuk permasalahan bisnis, DongHae~a. sungguh, appa kali ini benar-benar melakukan sesuai keinginanmu.”
“aku tahu, aku memang harus menikah nantinya. Dan aku tahu, aku harus memberikan calon yang memuaskan untuk eomma dan appa. Tapi jebalyeo~ aku mempunyai pilihanku sendiri.”
“ini pilihanmu, DongHae~a.” eomma mengambil posisi duduk disampingku.
“apanya yang piihanku?” aku menaikkan sedikit alisku.
“kau ingat tentang persahabatan kami dengan keluarga Kim? Kim Ajjushi?” appa kembali angkat bicara. Aku jelas segera mengangguk. Itu adalah ayah HyunSun. Keluarga Kim yang kami kenal akrab selain keluarga hanya mereka.
“dia mengatakan sudah menyiapkan anaknya dengan baik. Sebaik dan sesiap sesuai keiginanmu.” Aku terhenyak. “yang aku jodohkan denganmu itu anaknya. Kau masa tidak mengenalinya? Kim HyunSun?”
                                                                        ***
“YAK! Sebenarnya apa lagi mau mu, hah?” HyunSun menghentakkan kakinya marah padaku. Benar. Dia memang HyunSunku. Kebiasaan ketika marahnya sama sekali tidak berubah.
“aku tidak mau apa-apa. Hanya ingin kau ku antar pulang.” Ujarku santai sambil menyeretnya masuk ke dalam mobil.
“aku tidak mau. Aku bisa pulang sendiri.” HyunSun dengan cepat membuka pintu mobil kembali. Kemudian melesat keluar dari mobilkku. Aih, anak ini. sangat keras kepala. Akupun akhirnya keluar kembali dari mobil.
“kau bahkan belum mengenalku. Begitu juga aku. Dan kau dengan se enaknya mengaturku untuk pulang denganmu.” HyunSun membanting pintu mobilku. “memangnya kau siapa, huh?”
“aku? Kau sama sekali tidak mengenaliku..” aku sedikit memantungkan perkataanku. Sedikit sulit untukku mengucapkan nama itu kembali. Rasa rindu yang menumpuk membuatku sulit mengucapkan banyak kalimat. Hanya terus dengan menatap matanya. Berusaha terus memperhatikan setiap perubahan akibat pertumbuhan dewasanya. Berusaha terus menatapnya untuk dapat mengingat wajahnya. Karena mungkin akan ada waktu dimana aku tidak dapat melihatnya. “Hyun….Sun~a?”
Kim HyunSun PoV
“aku? Kau sama sekali tidak mengenaliku..” dia terlihat sedikit memantungkan kalimatnya. Entah apa yang membuatku berhenti mengomel dan menanti kalimat selanjutnya.
“Hyun…... Sun~a?” aku terhenyak. Nyaris aku membulatkan mataku kalau saja wajah namja itu tidak terlalu bagus untuk dilihat. Sering-sering melototinya membuatku sulit melupakan wajahnya disetiap harinya.
“darimana.. kau tahu namaku?” ujarku setelah berusaha menyadarkan diriku yang cukup melayang dibuatnya.
DongHae tertawa. Dia bahkan tertawa dengan lepasnya. Sialnya, kenapa dia semakin terlihat ‘tampan’ dari biasanya? Aih, Kim HyunSun, apa yang kau pikirkan? Dia hanya pangeran sampah dari keluarga Lee yang merecoki hidupku.
“gadis bodoh. Kau dan aku kan dijodohkan.” Ujar DongHae setelah menghentikan tawanya. Dia melangkah kearahku. “tinggal tanyakan saja pada eomma dan appaku dan mereka akan menjawabnya dengan baik dan benar.” Tawa nya mulai keluar kembali setelahnya.
Aih, aku sampai bingung sendiri dibuatnya. Tadi dia meyebutkan namaku dengan begitu hati-hati. Bahkan dia menatapku seperti baru bertemu kembali denganku setelah berabad-abad lalu. dan sekarang? Dia malah menertawaiku.
“yak! Berhenti menertawaiku, bodoh!” tiba-tiba tawanya terhenti. Tangan kekarnya menarikku dalam dekapannya. Membuatku sedikit terhenyak.
“mianhae, chonmal mianhae. Aku tidak bermaksud menertawaimu. Aku hanya ingin meluapkan kebahagianku karena bisa bersamamu kembali. Setelah sekian lamanya aku menunggu kabar dari appamu.” Dia menghela napas disela-sela perkatannya. Kalimat terkahir, terdengar seperti kalimat keputus asaannya. “HyunSun~a. apa kau benar-benar tidak mengenaliku, eo?”
Aku berusaha melepaskan pelukkannya setelah aku mulai tersadar. Walaupun dekapannya terasa sangat nyaman, entah apa yang membuatku merasa seperti itu. “yak, lepaskan.”
Dia melepaskanku setelah aku sedikit memberontaak dalam pelukannya. “wae? Kau ini aneh sekali.” Sungutku kesal kemudian berlalu pergi. Membiarkannya yang masih terpantung kaku ditempatnya. Akupun masih sedikit bingung dibuatnya. Kenapa sepertinya aku pernah dekat dengnnya? Dan.. aku mengepal tangannku kemudian mendekatkannya pada letak jantungku berada. Ige mwoya?
                                                                        ***
Eomma mungkin setengah tidak waras mengambil keputusan maut ini. gila saja kalau sampai aku menikah dengan namja seperti dia. Namja yang tidak mempunyai pengontrolan emosi yang baik. Terkadang tertawa, membentakku, mengomeliku, dan kadang juga berlaku lembut. Apa yang sebenarnya dia lakukan,huh? Lebih baik aku tidak pernah menikah sama sekali daripada harus menikah dengannya. Aih, eomma membuat ku stess saja.
Aku mengumpat dalam hati selama perjalanan pulang. Mengutuk ngutuk namja itu dalam beberapa upatanku. Sikapnya yang membuatku bingung itu ingin sekali aku hindari. Terlalu menyebalkan dan mengganggu. Aku tahu, banyak namja diluar sana yang menginginkanku. Dan dia tidak mau melewatkan kesempatan untuk mendapatkanku dengan mudahnya walaupun terkadang gengsi, cih. Pikirannya terlalu mudah terbaca.
Appa yang menuntunku untuk menjadi yeoja yang sempurna. Sesekali eomma membantuku. Dari mulai menjadi sosok yang santun, cerdas, berwibawa dan peduli. Mereka benar-benar mengubah sifatku begitu drastic semenjak aku menginjak umur lima tahun. Itu yang aku ingat. Karena, jujur saja. Aku nyaris melupakan semua kenanganku dimasa kecil. Termasuk siapa eomma dan appaku itu. Semenjak kecelakaan yang menimpaku sewaktu aku duduk dibangku SMP. Benturan keras dikepalaku membuat memory otakku dimasa lampau terhapus.
Tapi satu hal yang membuatku bingung. Eomma dan appa sama sekali tidak mengizinkanku untuk terlalu dekat dengan namja siapapun. Mempunyai NamjaChingu pun tidak boleh. Apa perjodohan ini benar – benar sudah direncanakan sejak awal? Lalu aku tidak boleh mencari pilihanku sendiri? Mereka benar benar tega.
Kakak perempuanku, Kim HyoSup, dia diperbolehkan untuk menentukan pilihannya sendiri. Bahkan eomma dan appa sering menanyakan siapa namja yang sedang dekat dengannya. Begitu juga dengan adikku. Walaupun dia masih terbilang kecil untuk mempunyai yeoja, tapi eomma masih bisa membiarkannya dekat dengan yeoja. Ini benar benar tidak adil dan menyiksaku.
Jujur saja, aku sangat tidak tahan dengan ini semua. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk menerima BaekHyun oppa sekitar lima bulan yang lalu. Seniorku dikampus. Saat itu pikiranku benar-benar kosong. Aku tidak tahu kemana arah hatiku berada. Seakan hatiku terkunci untuk seseorang. Dan aku pikir, mungkin orang itu adalah BaekHyun oppa. Kalaupun tidak, dia juga namja yang cukup baik dan pantas untukku. Jadi aku memutuskan untuk menerima pernyataan cintanya waktu itu.
“HyunSun-ssi!” aku menoleh kearah pemilik suara yang tak asing dan sudah melambaikan tangannya dari belakang. Dia melangkah menghampiriku setelah tahu aku menyadari keberadaannya.
“kau tidak bersama DongHae oppa,eo?” Jehee menyikut lenganku. Dia sepupu dekatku. Rumah kami berseblahan dan kami satu kampus. Jadi kedekatan kami lebih dari sekedar sepupu atau teman. Dia mempunyai kakak laki laki yang cukup terkenal dikorea dengan suara emasnya, Cho Kyuhyun. Tak jarang kyuhyun oppanya kabur untuk bersembunyi dirumahku daro serbuan fans atau wartawan.
“memangnya aku harus selalu dengannya?” jawabku asal. “aku sedang malas untuk membicarakannya, Jehee~a. jadi tutup saja mulutmu yang tidak bisa diam itu.”
“yak,” Jehee sedikit mempercepat langkahnya untuk menyamakan langkah denganku. “wae? Kalian bertengkar?”
“bukannya aku memang selalu bertengkar, huh? Kau ini bagaimana. Menanyakan yang tidak masuk akal.”
“apa kau benar-benar tidak menyukainya? Setidaknya dia lebih tampan daripada BaekHyun oppamu kan?”
“andwae, aku tidak akan menyukai namja tak jelas sepertinya. Dan jangan samakan BaekHyun oppaku dengannya, ara?” ujarku dengan sedikit penekanan
“aku masih tidak mengerti. Apa kecelakaan itu membuatmu melupakannya?” Jehee sedikit menatapku iba. Membuatku sedikit terhenyak dengan maksud perkataannya.
“melupakannya? Maksudmu.. aku pernah mengenalnya?”
DIIINNNN!!
Klakson mobil terdengar pengang ditelinga kami. Membuatku dan Jehee mengumpat kesal kemudian melirik kearah namja yang berada dimobil.
“yak, Cho Jehee, apa yang kau lakukan, huh? Kau mau eomma memarahiku lagi karena mengira tidak menjemputmu pulang? Aih, kau yang keluyuran, aku yang dimarahi. Cepat masuk” kyuhyun oppa berteriak dari jendela mobil yang dibukanya. Sifat evilnya memang benar-benar tak tahu tempat. Bagaimana kalau ada salah satu fansnya mendengar? Adik dan kakak sama saja. Tidak mau berfikir panjang untuk berbicara.
“eo? HyunSun-ssi, aku pulang dulu ya? Kau mau ikut?” Jehee menawarkanku dengan senangnya. Karena mungkin kita bisa melanjutkan pembicaraan yang tertunda.
“jangan ajak dia. Aku tidak mau mobilku jadi berisik karena rumpian kalian berdua.” Kyuhyun oppa menyela. Membuatku mencibir kesal dibuatnya.
“lagipula aku juga tidak mau ikut pulang denganmu. Aku masih punya ongkos untuk pulang, Cho Kyuhyun-ssi!” sahutku dengan muka sedikit meledek.
“mwo? Kau berani memanggilku dengan sebutan ‘ssi’? yaiks, neo..”
“oppa, hentikan!” Jehee menyela tangan kyuhyun oppa yang nyaris saja mendarat dikeningku. “cepat pulang kalau kau tidak mau menghabiskan energimu hanya untuk bertengkar dengannya.” Jehee pun akhirnya melangkah masuk ke dalam mobil kemudian melambaikan tangannya kearahku saat mobilnya mulai melaju.
Pikiranku kembali melayang. Terlebih dengan perkataan Jehee yang sempat membuatku tersentak. Melupakannya? Berarti aku pernah mengenalnya, bukan? Aku sangat butuh penjelasan lanjut darinya. Aih, Kyuhyun oppa sialan! Untuk apa dia datang kemudian memisahkan kami dengan se enakknya? Seandainya dia tidak datang mungkin aku bisa mengerti dengan cepat. Kemudian menyelesaikan masalah perjodohan ini.
                                                                        ***
Byun BaekHyun PoV
HyunSun terlihat sedikit aneh belakangan ini. semenjak pertemuannya satu minggu yang lalu dengan DongHae Hyung. Sebenarnya dia tidak pernah bercerita padaku. Tapi aku mengetahuinya. Dan dia terlalu bodoh untuk berbohong. Aku berhasil memergokinya yang bertemu dengan DongHae hyung. Mereka terlihat tidak akrab. Pertemuan mereka selalu ada selisih.
Tapi yang membuatku tidak nyaman adalah tatapan matanya yang berbeda ketika beradu tatap denganku. Begitu juga DongHae hyung. Dia terlihat nyaman dengan hanya menatap HyunSun yang mengamuk dihadapannya. Entah kenapa aku merasa berada diambang maut. Hatiku sekarang selalu dirasuki rasa takut akan kepergian HyunSun dari sisiku.
“HyunSun~a, apa yang sedang kau pikirkan, huh?” aku melambaikan telapak tanganku diwajahnya. Menyadarkannya yang duduk berpangku tangan dengan tatapan kosongnya. Dia kembali melamun. Apa yang sebenarnya dia pikirkan? Aku, atau.. DongHae hyung?
“eo? Kau sudah kembali?” sahutnya yang terdengar seperti sekenanya. Dia kemudian menurunkan tangannya dari dagu, kemudian mengambil segelas minuman yang aku sodorkan.
“maaf, membuatmu menunggu lama. Tadi antriannya cukup panjang, walaupun hanya memesan coklat hangat.” Aku menghela napasku kemudian menatapnya lebih dalam. Mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk aku menanyakan padanya.
“jagiya~.” HyunSun membalas tatapanku. “boleh aku menanyakan sesuatu?”
HyunSun hanya mengangguk, sambil sesekali meneguk coklat hangatnya.
“kau mengenal DongHae hyung?” dia terlihat sedikit tersentak dengan ucapanku. Nyaris saja coklat hangat yang aku berikan membuatnya tersedak kepanasan.
“ww.. wae?” jawabnya dengan sedikit ragu. “mengapa kau menanyakannya,eo?”
“kau benar mengenalnya?” ulangku. HyunSun meletakkan gelasnya kemudian mengenggam gelas itu cukup gusar. Tangannya sedikit mengetuk ketuk ringan pada dinding gelas.
“aku.. eng, oppa.. boleh aku menjelaskan terlebih dahulu?” aku mengangguk dengan senyumku. Ini lebih baik daripada aku mendengarnya dari orang lain.
“mianhae, chonmal mianhae oppa.” HyunSun sedikit menundukkan kepalanya. “eomma dan appa menjodohkanku dengan seorang namja yang sebelumnya belum kukenal, kurasa.”
Aku sedikit menahan dentuman emosi yang seakan membunuhku. “namja itu entah kenapa terlihat begitu baik dimata eomma dan appa sampai mereka tidak mau mendengar penolakkanku.” HyunSun melanjutkan penjelasannya. “kau tahu, kenapa aku baru pertama kalinya mempunyai namja chingu diusiaku yang sudah menginjak dua puluh? Itu karena eomma dan appa terus menghindariku dari jangkauan namja. Mereka terlalu mengekangku dari hal itu. Dan kurasa itu ada hubungannya dengan perjodohan ini.”
“sekali lagi maaf, oppa. Kalau aku tidak segera menceritakan ini padamu. Aku belum terlalu siap untuk melihatmu terluka. Tapi aku yakin, eomma dan appa pasti akan lebih memilihmu daripada DongHae oppa setelah mereka mengenalmu.” HyunSun kembali mengangkat kepalanya. “aku menerimamu karena aku yakin, kau pasti pilihan yang tepat. Kau pasti bisa meluluhkan hati eomma dan appa.”
“aku tahu, oppa. Appa sangat mencintai bisnisnya. Dan ini pasti tidak akan jauh jauh dari masalah persahabatan rekan bisnis. Dan aku yang sudah dipilih untuk itu. Aku menyesal, karena sudah sempat menjadi gadis tak karuan sewaktu kecil. Mungkin karena itu, eomma dan appa mengubah sikapku mati matian dan memilihkan pasangan untukku.”
“aku sedikit kecewa oppa,” suaranya mulai sedikit bergetar. “kenapa mereka tidak bisa mempercayaiku untuk menentukan pilihanku sendiri.”
Tanganku tergerak untuk menariknya dalam dekapanku. Dia yang disampingku hanya menggigit bibir bawahnya menahan tangis. “menangislan, selagi itu membuatmu merasa tenang. Aku akan terus ada di sisimu.”
                                                                        ***
Kim JongIn (Kai) PoV
Kemana bocah itu pergi? Aku sudah mengingatkannya untuk tidak terlambat malam ini. Sampai kapan dia akan menjadi yeoja dengan kepribadian baik? Aih, aku yakin ini semua karena kakak laki lakinya yang mengajarkan sopan santun dengan salah. Aku tidak heran melihat adik yang tak kalah bengalnya dengan kakaknya.
“yak, jagiya eodiga? Kau sudah terlambat setengah jam.” Gerutuku dalam sambungan telfon yang akhirnya diangakat olehnya.
“mian, oppa. Tapi aku sudah sampai ditempat parkir. Jadi tunggu saja, eo?” sambungan terputus seketika. Membuatku mencibir kecil.
Tapi itulah dia. Yeojaku. Cho Jehee. Aku menerima semua kekurangannya. Dan aku sungguh berterima kasih karena dia masih mempunyai kelebihan untukku. Kelebihan untuk mencintaiku, mungkin? Aku tidak pernah mematokkan bagaimana tipe yeoja idealku. Karena kurasa itu sangat menjijikan. Memilih takdir memang benar, tapi setahuku, setiap yeoja mempunyai daya tariknya masing-masing. Tipe ideal yeoja ku ya seperti dia. Yeoja yang bernama Cho Jehee.
“chonmal mianhae oppa, aku terlambat.” Jehee duduk disampingku sambil mengeluarkan raut wajah bersalahnya. “kau tahu? Kyuhyun oppa menyebalkan. Dia berjanji akan segera mengantarkanku untuk menemuimu. Tapi dia ada pemotretan mendadak tanpa sepengetahuanku. Tahu seperti itu,aku sudah berangkat sendiri.”
Aku mengacak ringan rambut Jehee, yang selalu menimbulkan rona merah dipipinya dan aku suka itu. “gwenchana, aku mengerti Kyuhyun Hyung”
“oppa, aku boleh aku bertanya satu hal?”
“mm?”
“kau teman dekatnya BaekHyun Sunbaenim, kan?”
“eo, memangnya kenapa?”
“kau mengenal yeoja chingunya?”
“yang aku tahu, Kim HyunSun. Wae? Kau.. tidak menyukainyakan?”
Jehee menyikut lenganku dengan sedikit keras, membuatku meringis. “babo, aku tidak mungkin menyukai namja lain selama ada kau.”
“lalu, kalau aku tidak ada? kau akan menyukai namja lain?”
“mungkin. Aku akan mepertimbangkan itu.” Jawab Jehee santai.
“yak, Cho Jehee! Apa yang..”
“aniya, oppa ani.. aigoo kau terlau takut untuk aku tinggalkan eo? Sampai aku bercancadapun kau anggap serius.” Dengusnya menyelaku.
“aih, kau membuatku takut saja chagi.” Ujarku dengan sedikit menghela napas. Lega setelah tahu dia masih benar-benar berpihak disisiku. Dan aku berharap itu akan selalu untuk selamanya.
“HyunSun itu sepupuku. Dan kau bisa tolong sampaikan pada BaekHyun Sunbaenim untuk menghindarinya? Dia sudah dijodohkan dengan namja yang benar-benar diinginkannya dari kecil. Begitu pula dengan calonnya.”
Aku terhenyak dikursiku. Mengerjapkan mata sedikit terkejut dengan penuturan Jehee yang berujar tanpa memikirkan arti perkataannya yang mungkin akan disampaikan pada BaekHyun. Dia memang nyaris tidak memikirkan dampak ucapannya.
“maksudmu.. kau menyuruhku untuk memberitahu BaekHyun seperti yang kau katakan? Secara langsung? Secara tiba tiba? Dengan menggunakan nada penuturan spertimu?”
Jehee mengangguk mantap. “tentu saja! Aku yakin itu akan ampuh untuk menyingkirkannya.”
“kau gila!”
                                                                        ***
Lee DongHae PoV
“eomma, appa” panggilku saat kami tengah berkumpul diruang keluarga. Mereka berdua menoleh kearahku dengan tatapan antusiasnya. “boleh, aku menyelesaikan permasalahanku sendiri?”
“permasalahan apa?”
“Kim HyunSun,” jawabku. “aku rasa ini akan menjadi sebuah tekanan yang buruk untuknya. Istilah ‘dijodohkan’ mungkin akan menjadi hal konyol yang pernah dia dengar. Dan aku yakin, dia sangat membenci itu.”
“sinjjayeo?” eomma sedikit terlihat terkejut. “tapi dia masih baik dengan kami sewaktu mendatangi rumahnya.”
“dia bersikap baik karena belajar bertatakrama, eomma. Tapi aku tahu isi hatinya. Dia pasti akan membenci ini semua.” Jelasku.
“baiklah, appa akan membiarkanmu menyelesaikannya sendiri.” Appa akhirnya bisa mendengar pendapatku. Setelah bertahun tahun hidupku yang selalu dielakknya.
“tapi, hae~a.” eomma terlihat sedikit khawatir. Raut wajahnya menggambarkan ketidak tenangannya. “kau harus mengetahui satu hal tentangnya.”
“apa itu eomma?”
“HyunSun…” eomma berujar dengan sedikit ragu, “mengalami kecelakaan saat duduk dibangku SMP. Ingatan ingatan masa lampaunya terhapus akibat benturan yang kencang dibagian kepalanya. Mungkin kau masih bisa mencobanya, untuk.. mengingatkan masa kecilmu dengannya.”
                                                                                    ***
Taganku menarik kuat lengan HyunSun. Tidak peduli seberapa besar penolakannya. Dia harus ingat. Dan harus secepatnya. Sebelum semua ini terlambat. Entah apa yang membuatku tergesa. Tapi aku merasa aka nada sebuah penyesalan nanti kalau saja semuanya tidak dengan cepat terselesaikan.
“yak, waeyeo!” tenaganya akhirnya memuncak. Dia berhasil mengelak cengkramanku di beberapa meter dari tempat aku memarkirkan mobilku.
“Hyun..”
“aku tidak akan ikut denganmu.” HyunSun menyela perkataanku. “dan aku tidak akan mau. Sampai kau memaksaku seperti apapun itu. Aku sudah mengatakan berkali kali. Kalau aku bisa pulang sendiri, ara!”
HyunSun membalikkan tubuhnya dan bergegas untuk meninggalkanku. Sebelum akhirnya aku berhasil menariknya kembali. Menariknya lebih dekat dari sebelumnya. Aku menguncinya dalam dekapanku. “Kajima~” desahku pelan.
“aku hanya ingin kau mendengarkanku. Hanya senbentar HyunSun~a. tidak akan memakan habis waktumu dalam sehari ini.”
Satu detik setelah ucapanku, dia melepaskan diri. “sinjja? Lalu apa untungnya untukku? Ini hanya semakin menjerumuskanku dalam perjodohan semakin dalam, Lee DongHae-ssi” ujarnya dengan sedikit penekanan dinamaku.
“kau.. mengetahui namaku?” ujarku dengan sedikit teresentak. Seharusnya dia ingat namaku. Seharusnya dia mengenalikuu setelah mengetahui namaku. HyunSun~a, apa aku begitu tidak menempel dalam ingatanmu? Sampai namaku sama sekali tidak berbekas diotakmu?
“hah!” tawa singkatnya kemudian tanganya bersedekap didada, yang aku tahu dia ingin membalasku. “aku hanya tinggal menanyakan pada appa dan eomma. Mereka mengetahui namamu karena kita di jodohkan, eo?”
“HyunSun~a” ujarku kembali tanpa menghiraukan perkataannya. “aku hanya butuh waktu mu sejenak. Sungguh, aku membutuhkan waktumu.”
“untuk membujukku? Sireoya!” elaknya dengan cepat. Dia mengambil kesempatan untuk berjalan cepat sesaat sebelum aku ingin membuka mulutku untuk berujar.
                                               
Author PoVerty
19:00 PM
“oppa jebal,” HyunSun menarik lengan BaekHyun dengan sedikit nada merengeknya. “aku benci perjodohan dan aku juga hanya ingin dijodohkan denganmu. Namja yang benar-benar aku inginkan.”
BaekHyun masih terdiam dalam posisinya. Hatinya terus menolak untuk mengikuti permintaan HyunSun. Dia memang takut untuk kehilangan HyunSun dari sisinya. Tapi bukan dengan cara seperti ini. memisahkan takdir dari yeoja yang dicintainya.
Kemarin malam, Kai menemuinya. Datang dengan wajah serius yang sebenarnya jarang sekali dia lihat dari wajah Kai. Dan Kai menceritakan semua. Semua hal tentang HyunSun. Awalnya BaekHyun sempat mengelak. Tidak terima dengan pernyataan Kai. Tapi takdir tetap takdir. Mepunyai ikatan yang sangat kuat. Bagaimanapun caranya kau mengihindar, pasti akan tertangkap.
“HyunSun~a” BaekHyun akhirnya angkat bicara. Tubuhnya dihadapkan kearah HyunSun yang masih memasang wajah memohon padanya.
“aku mengerti semua maksud dan mau mu Hyun~a.” HyunSun hanya terdiam. Merasa BaekHyun akan berbicara serius kali ini. “tapi bukan dengan cara seperti ini kau menghindarinya.”
“semakin kau menghindar, dia akan mendekat. Dan semakin kau melupakannya. Kau semakin mengingatnya. Dan itu adalah sasaran yang ditujunya dan aku bukan namja yang kau inginkan” BaekHyun menghela nafas sejenak. Sambil terus memperkuat dirinya untuk terus mengatakan kebenaran yang dia tahu untuk HyunSun “membuat kau ingat. Dengan semua yang penah ada dalam masa kecilmu. Dengannya.”
“mengingat masa kecil? Oppa, bisa kau jelaskan itu padaku? Kau.. benar mengetahui masa kecilku dengannya?”
                                                                        ***
Kim HyunSun PoV
Langkah kakiku berjalan malas diatas trotoar jalan menuju rumah. Sebenarnya bukan karena malas. Tapi aku merasa begitu lemah malam ini. Lemah untuk berpisah dengan BaekHyun oppa. Dan lemah untuk menerima kembali perasaan yang dulu pernah ada.
Sebenarnya bukan menerima kembali. Karena perasaan itu terasa melekat. Dan aku ‘baru bisa mengartikan’ kembali arti perasaan itu. Bukan untuk BaekHyun oppa. Tapi DongHae. Baiklah, mungkin sekarang aku masih belum sanggup untuk memanggilnya dengan sebutan ‘oppa’ walaupun dia dua tahun diatasku.
Atauu.. mungkin karena perkataan ku waktu itu benar-benar mengikat? Aku akan memanggilnya ‘oppa’ setelah aku menikah dengannya? Setelah dia sudah menjadi namja yang pantas untuk dipanggil oppa?
“HyunSun~a” aku menoleh kearah sumber suara itu berasal.
“DongHae-ssi?” mataku menyipit sebentar, mengenalinya. Dia melangkah mendekat kemudian menjajarkan langkah disampingku. Aku terlalu lelah sekarang untuk mengusirnya. Lagipula selama ini, aku mengusirnya karena membenci semua perasaan yang bergejolak disetiap kedekatanku dengannya. Dan aku tidak ingin perasaanku untuk BaekHyun oppa memudar.
“apa aku masih belum pantas untuk kau panggil ‘oppa’?” aku sedikit tesentak dalam langkah.
“wae?” tanyanya. Aku masih memilih untuk diam.
Putus hubungan dengan BaekHyun oppa, walaupun aku tidak benar-benar mempunyai perasaan yang kuat dengannya cukup terasa terbebani juga. melihatnya yang pasti menahan luka karena ku, membuatku tak sanggup untuk itu. Tapi aku juga sangat bangga dengannya. Dia tidak egois dengan perasaannya. Itu yang membuatnya mempunyai daya tarik lebih.
“HyunSun~a, kau tidak..”
“tidak megusirmu?” aku akhirnya mengambil keputusan untuk angkat bicara. “aku sedang lelah untuk bertengkar, oppa.”
DongHae terlihat sedikit terhenyak. Dia sedikit menyimpan senyumnya saat menatapku. Aih, pasti dia sedang terbang ke bulan karena aku mengeluarkan kata ‘oppa’ untuknya.
“kau lelah?” telapak tangan dongahae ditempelkan kearah keningku. Dan aku hanya kembali terdiam dengan perlakuannya. Ini terlalu nyaman untukku sebenarnya.
“aku lelah untuk malam ini. Terlalu banyak masalah yang membebaniku,  oppa.”
                                                                        ***
“bisa kau tutup mulutmu, Cho-Je-Hee-ssi?” dengusku kesal sambil menyambar buku catatan yang direbutnya. Dia mengomentari setiap kelakuanku dengan menyambung-nyambungkan dengan DongHae oppa.
Semenjak malam itu, aku dengannya sudah kembali akrab. Dan BaekHyun oppa tidak berbohong. Ingatanku perlahan mulai kembali. DongHae oppa membantuku untuk itu. Aku cukup menyesal untuk tidak pernah ingin mendengarkannya.
Aku mengakrabkan diri dengan DongHae oppa bukan berarti aku menerima perjodohan ini. tidak. Aku akan menerima perjodohan ini sesuai perkataan DongHae sewaktu itu. Disaat aku menginjak umur dua puluh tiga.
Aku menginginkan semua berjalan secara natural. Memulihkan kembali perasaanku dengannya. Dan tentunya aku hanya ingin berjalan sesuai keinginanku dengan DongHae oppa. Tidak lagi sesuai dengan keinginan orang tua kami.
“setidaknya kau harus tetap berterima kasih untukku, HyunSun~a” ujarnya dengan nada sedikit membanggakan diri.
“memangnya kau melakukan apa untukku, hah, sampai aku harus mengatakan terima kasih?”
“BaekHyun oppa. Dia mengetahuinya dari kai oppa. Dan kai oppa mengetahuinya dariku.”
“maksudmu, apa? Berbicara tak tentu arah.”
“aku menyuruh kai untuk membantuku menyingkirkan BaekHyun oppa darimu.” Jawabnya santai.
Mataku membulat, terhenyak dengan perkataan jehee. Tidak, ini tidk boleh dibiarkan. BaekHyun oppa tidak boleh mengira keluargaku sengaja untuk menyingkirkannya.
                                                                        ***
Byun BaekHyun PoV
‘oppa, boleh kita bertemu saat jam makan siang? Aku butuh berbicara denganmu sebentar. Karena aku rasa ada yang kurang beres dengan gadis tengil, cho jehee itu.’
Aku menutup pesan yang aku terima dengan senyuman kecil. Dia bahkan masih mau mengajakku makan siang? Bukan tawaran yang buruk.
Aku dengannya memang sudah memutuskan untuk menghentikan hubungan kami yang baru berumur setengah tahun. Sebulan terakhir hubungan kami memang memanas. Permasalahan perjodohan HyunSun bukan sepenuhnya alasan putusnya hubungan kami. Aku hanya ingin dia kembali pada takdirnya. Dan hidup dengan baik. Lalu aku? Aku hanya bisa menunggu takdirku datang. dan terus menantikan bagaimana wujud malaikat hidup yang dikirimkan tuhan untukku.
At café
“maaf mengganggu waktumu, oppa” HyunSun mulai angkat bicara. Dan aku hanya menggelengkan kepala tanda tidak keberatan dengan kehadirannya.
“aku.. hanya ingin meluruskan kesalahpahaman yang mungkin masih kau simpan.” HyunSun menatapku dengan kesungguhannya. “Kai mengatakan tentang masa kebenaran masa kecilku itu.. Jehee yang menyuruhnya. Bukan maksudnya untuk menyingkirkanmu. Mereka hanya.. ingin membuatku tahu dan sadar tentang hal itu. Jadii..”
“arasseo.” Potongnya. “tanpa perlu kau jelaskan, aku mengerti itu. Aku melepaskanmu karena aku hanya ingin melihatmu hidup dengan kebahagianmu. Itu saja. Jadi kau tidak perlu mempermasalahkan itu denganku.”
“gomawo oppa. Aku harap kau akan mendapakan malaikat kecil yang tak kalah sempurnanya darimu.”
                                                                        ***
Dear HyunSunku,
Kau tahu kenapa aku begitu menginginkanmu?
Kau tahu kenapa aku mempunyai kendali emosi yang tidak stabil dihadapanmu?
Dan kau tahu kenapa awalnya aku juag menolak perjodohan ini?
Itu karena malaikat kecilku, Kim HyunSun.
Aku menginginkanmu karena kau adalah takdirku. Milikku. Dan untukku.
Emosiku tak terkendali karena medan magnet yang ada disekitarmu.
Yang selalu menarikku untuk terus menjagamu, membuatmu tertawa, dan bahagia.
Tapi bodohnya aku, yang terlalu meluapkan itu sampai semua terasa kacau. Tak menentu.
Dan alasan aku sempat menolak perjodohan ini?
Sekali lagi karena kau. Karena awalnya aku tidak tahu itu kau.
Aku bersikeras menjaga hatiku untuk kau, HyunSun~a
Because Of You,
My life feel so better. From my silent and calm life. To be a beautiful and colorful life.
Thank You, And I Love You.

Dear Lee DongHae
Aku marah pada diriku sendiri. Aku kesal pada diriku sendiri. Dan aku menangis malam itu. Menangis karena sepertinya aku melangkah dalam jalan yang salah. Menangis karena aku sudah membuat banyakorang disekitarku terluka.
BaekHyun oppa. Dia benar-benar dirugikan dalam jalan hidup yang aku pilih. Dia terlalu baik untukku malam itu. Melepaskanku dengan senyum indahnya. Dan menceritakan padaku semua kebenaran yang ada. dan mengembalikan ingatan masa kecilku denganmu.
Kau harus berterima kasih banyak padanya, oppa. Mungkin  tanpa keberaniannya. Tanpa kekuatannya, aku tidak akan kembali padamu. Dan cerita yang ada hanya pemaksaan penolakkanku. Yang berujung memalukan karena pada akhirnya pasti aku akan kembali padamu. Tapi tidak secepat ini, mungkin. Denga cerita yang lain.
Tapi tuhan memang adil dan tidak pernah tidur, oppa. Tuhan tahu yang terbaik untuk hambanya. Dan satu kata untuk mu. ‘maaf’ aku bersungguh untuk itu. Maaf karena aku pernah membuangmu dalam otakku. Dan menyakitimu dengan menolak perjodohan ini. tapi sebenarnya semua ini karenamu. Aku hanya tidak ingin menelan ludahku sendiri. Menerima kenyataan kalau aku memang membutuhkanmu. Dan aku tidak mau perasaanku pada BaekHyun oppa memudar.
I feel sorry, oppa. I Love You.

                                                                                         ~END~

Yak, Kim HyunSun-ssi, otte? Puas engga? Sesuai permintaan kan? diantara BaekHyun dan DongHae? Hehe. Maaf yaah, kalo masih rada typo-_- gue masih kaku soalnya kalo masangin donghae sama orang lain. Ini aja gue nahan nahan buat gak nulis ‘Jehee’ pas di dialog HyunSun sama DongHae. Wkwk. Okedeh, thanks udah mau baca. Ditunggu komennya yaaa. Jebalyeo, jangan jadi silent reader. Ninggalin jejak titik doang juga gakpapa. Tapi sih itu terserah kalian. Cukup baca ff gue aja udah seneng kok ;) annyeong, sampai ketemu di ff selanjutnya ;)

1 komentar:

Anonim mengatakan...

sebetulnya sih ffnya bagus tpi agak gimana gitu, soalnya aku biasanya baca donghae pairing sama jehee. kalo donghae pairing ama karakter ff yg ini agak kurang chemistrinya gitu.. But After All is still Good