Judul : You’re My fish
Genre : Romance, comedi *relative, and family.
Rating : semuanya
boleh bacaaa~ Main Cast :
-
Lee Donghae (Super Junior)
-
Cho Kyuhyun (Super Junior)
-
Kai/Jong In (EXO K)
-
Yeosub (B2ST)
-
Cho Jehee
-
Han Ha Gun
-
Lee SooHe
-
Lee JongHyun (SHINee)
Soundtrack List :
-
From U (Super Junior)
-
Back In Time (Ost. The moon embarrassed the sun)
-
Only Tears (Infinite)
-
Hello (SHINee)
Guys, ini real ff buatanku, asli dan engga nyontoh sama
siapapun. Aku bener-bener mikir dengan otakku sendiri. Intinya, aku bukan plagiat,
dan aku SANGAT MEMBENCI PLAGIAT! NO PLAGIAT HERE! Dan mohon maaf kalo ternyata
ada kesamaan tokoh atau alur cerita yang ternyata udah ada yang pernah buat. Happy reading and have fun!!!
Thou,
Please give me strength to face my end tomorrow,
I am begging thou..
Cho Jehee PoV
Aku
menatap lirih sepanjang pemandangan menuju pulau Jeju. Kampusku mengadakan study ke luar untuk
melakukan penelitian sesuai jurusan. Aku sebenarnya mengambil jurusan Art and
Music. Satu aliran dengan kyuhyun oppa. Tapi aku memilih untuk study ke pulau
Jeju, daripada study ke beberapa tempat music ataupun seniman berada.
Menanyakan beberapa hal untuk dilaporkan dan mencari pengetahuan demi kemajuan
seninya.
Kalau
masalah mencari seniman, mudah saja bagiku. Setiap hari bahkan aku ditemani
oleh seorang seniman. Kyuhyun oppa. Dia kakak laki lakiku yang sudah mendapati
debutnya sekitar dua tahun yang lalu, tepat setelah kepergian DongHae oppa ke
Amerika. Dengan penampilan solo yang dihiasi suara emasnya dan beberapa alat
music yang dimainkannya. dia sudah terkenal nyaris seluruh penjuru asia. Jadi
untuk apa aku mencari seniman hebat ? wawancarai saja kakakku itu kemudian
dalam sekejap aku bisa menyelesaikan semua tugasku.
Aku
memutuskan untuk mencari pemandangan indah di Jeju dan ikut serta dalam
persiapan pameran besar kampusku bulan depan. Kemudian menuangkan nya dalam
kanvasku. Menjadikannya sebagai lukisan yang sangat memikat. Karena aku yakin,
pemandangan di Jeju tak kalah indahnya dibandingkan tempat tempat alam yang
lainnya.
12 : 00
PM
Jeju
Island, South Korea
Masih
ada waktu sekitar dua puluh menit untuk menyelesaikan waktu bebasku. Sebelum
akhirnya aku harus kembali ke hotel untuk mendapat beberapa pengarahan dari kim
seosangnim untuk membahas lukisan yang niatnya akan aku pamerkan dipameran
bulan depan.
Aku memutuskan
untuk melangkah turun menuju tempat pertemuan ku dengan Donghae pertama dan terakhir
kali. Entah apa yang menyeretku sampai kearah tempat itu. Tapi aku benar-benar
ingin melangkah kesana. Tanpa memikirkan dampak yang akan aku terima jika aku
mengingatnya kembali.
Dia
mungkin tidak akan pernah kembali ke korea. Dan dia mungkin tidak akan pernah
mengingatku lagi. Memoriku tentangnya mungkin akan tersingkir oleh memori
barunya. Jauh diluar sana. Mungkin dengan yeoja yang datang dikehidupan
barunya.
Aku
menyakini hal ini karena aku tahu. Dia bukan tipe namja yang akan teguh pada
hatinya. Yang mudah goyah akan tatapan atau pesona wanita sedikitpun. Dan
bualan dari mulutnya itu. Tapi kuharap aku benar-benar melupakan semua omong
kosongnya padaku dua tahun yang lalu.
Walaupun itu sangat mustahil.
“wait me. Just four years, oke? I will come back. With
the new person. The real Lee Donghae. I love you.”
Sial,
sudah berapa kali aku mengingat semua itu? Seratus kali mungkin, atau lebih?
Entahlah. Paling tidak selama dua tahun belakangan ini aku benar benar tidak
bisa melepas semua itu. Yang mula aku pikir hanya akan kurasakan satu dua minggu
sakitnya. Tapi perkiraanku meleset jauh. Ini bahkan sudah sampai dua tahun. Apa
aku benar-benar akan sanggup menunggunya selama empat tahun?
“yak, Lee Donghae! Kau pikir aku bodoh, eo? Cepat
kembalikan PSPku. Aku tahu, kau yang menyitanya tadi!” hentakku saat melihat
cengiran kecil di bibirnya. Tangannya kemudian mengacak ringan rambutku pelan
sambil tersenyum. Yang dengan cepatnya aku elak. Sedikit terasa risih dengan
sikapnya.
“aku hanya ingin kau memperhatikanku, bukan PSPmu. Kalau
kau sedang bersama kyuhyun oppamu, mungkin kau wajib bersama PSPmu ini. tapi
kau kan sedang bersamaku. Dan aku benar-benar ingin diperhatikan,eo?” donghae
kemudian duduk disampingku. Setelah selesai mengucapkan kalimat tepat
diwajahku. Dengan tubuh merunduknya karena posisinya yang berdiri, dan aku
duduk. Cukup membuatku tersentak sejenak.
“cih, memangnya kau siapa? Beraninya mengaturku.” Sahutku
kemudian tanpa melirik kearahnya.
“aku?” donghae
oppa terlihat menatapku dari sudut mataku yang sebenarnya meliriknya. “aku itu..
em.. aku itu air, dan kau ikannya. Air akan terus ada untuk tempat tinggal
ikan. Untuk melindungi ikan. Dan untuk tempat disetiap detiknya ikan hidup.
Tanpa air, mungkin ikan akan mati dalam hitungan detik. Tanpa air, mungkin ikan
akan tersiksa dan menggelepar ditanah. dan air juga membutuhkan ikan tentunya.
Tanpa ada Ikan, kehidupan dibawah air akan hampa, tanpa kehidupan. Dan air
sulit mengalir karena tidak ada arus yang dibawa oleh ikan. Air dan ikan
benar-benar mempunyai ikatan yang erat.”
“Seperti takdir.” Sahutku tanpa sadar. Entah apa yang
membuat mulutku mengucapkan kalimat yang tersa terhipnotis dengan kata kata
Donghae tadi. Aku tahu, ini hanya salah satu gombalannya saja. Tapi bodohnya
aku berharap ini benar-benar dari hatinya.
Suasana
taman ini belum benar benar berubah. Setelah dua tahun berlalu hingga akhirnya
aku bisa datang kembali ketempat ini. Duduk di kursi taman ini, dan memandang
sekeliling. Mengingat semua kenangan yang pernah ada. antara aku dengannya.
Semua nya bermula dan berakhir disini, ditaman ini.
Awal
ketika kyuhyun oppa mengenalkanku padanya. Disaat aku masih menganggap remeh
donghae oppa. Disaat aku benar benar tidak peduli tentangnya. Saat pertama kali
aku mengetahui semua keburukannya. Dan perasaan yang aku rasa pertama adalah
rasa benci mendalam. Tapi dengan ilmu dalamnya, entah ada virus apa yang
menyerangku. Sampai membuatku setengah gila karenanya untuk menunggunya pulang sekarang.
The
day when I first saw you
Your
bright smile full of shyness
we’ll
get closer after today
Every
day, I have heart-fluttering expectations
What
to say to you
How
to get you to laugh
I
fear it’ll get awkward when I try to hold your hand
All
I can do is smile shyly
Hopefully
we can speak banmal to each other
Even
though it’s still awkward and unfamiliar
Instead
of saying ‘thank you’
Talk
to me in a friendlier way
Hopefully
we can speak banmal to each other
You
walk towards me slowly, step by step
Now
look at my two eyes and tell me
I
love you
The
day when I held your hand
I
felt my heart stop beating
I
don’t even remember what I said
All
I feel is a flutter in my stomach
Hopefully
we can speak banmal to each other
Even
though it’s still awkward and unfamiliar
Instead
of saying ‘thank you’
Talk
to me in a friendlier way
Hopefully
we can speak banmal to each other
You
walk towards me slowly, step by step
Now
look at my two eyes and tell me
I
love you
Hopefully
we can fall in love with each other
I’ll
never let go of your two hands from my grasp
The
light of your eyes, gazing at me
I
hope there will only be joyful smiles
We
can probably fall in love with each other
We
can lean on one another and take care of each other
Looking
into your eyes, my two eyes
They’re
talking to you
I
love you
(Yong Hwa [CNBLUE] –
Banmal Song)
Aku
menatap malas kyuhyun oppa yang menyeretku kesebuah taman. Dia sangat semangat
untuk mempertemukanku dengan teman barunya itu. Dengan bangganya dia melebih
lebihkan semua kemampuan namja yang bernama lee donghae. Dari kebisaannya yang
luar biasa dalam manari, sampai ketampanannya. Sempat aku berfikir kyuhyun
oppaku sedikit tidak waras, dan menyukai sesama jenis. Karena terlihat terlalu
berlebihan menceritakannya.
Aku tahu, jarang sekali ada ingin berteman dengannya.
Sikapnya yang dingin, cuek, tak peduli. Rekor paling lama yang tahan dengannya
hanya tiga hari. Itupun setelahnya, dia sama sekali tidak berniat menegur
kyuhyun oppa lagi. Mungkin karena itu, dia sangat ingin memperkenalkannya
padaku. Walaupun sampai menemuinya ke pulau Jeju, tempatnya berada. Singkatnya, dia manusia yang sama tahan
bantingnya dalam menghadapi kyuhyun oppa sepertiku.
Dia beberapa tahun sedikit lebih tua dari kyuhyun oppa,
tapi aku sama sekali tidak berniat untuk akan memanggilnya dengan embel-embel
oppa sedikitpun nantinya. Karena aku yakin aku akan tidak menyukainya.
Instingku selalu tepat untuk itu.
“Jehee~a! ini teman yang aku ceritakan padamu. Nama nya
Lee Donghae. Dia beberapa tahun lebih tua dariku.”
Bahkan dia sudah mengatakan semua itu sebelum sampai
ketempat ini dan bertemu dengan namja itu. Lalu untuk apa dia mengulangnya
lagi? Aku benar benar sudah bosan dengan semua ocehan kyuhyun oppa yang
melebih-lebihkan donghaenya itu.
“annyeonghaseo, Lee Donghae ibnida. Nugundae? Ini adikmu,
kyuhyun~a? yepposeo” ujarnya sambil menyikut lengan kyuhyun oppa. Dan menatap
ku dengan tatapan rayuannya. Cukup muak aku dengan ceritanya. Tidak perlu
ditambahkan kemuakkan wajahnya yang menjijikan.
Ah, tidak. Aku rasa aku salah. Raut wajahnya mungkin yang
menjijikan, bukan wajahnya. Kalau wajahnya, aku akui, dia cukup tampan. Dengan
postur tubuh yang terlihat bagus walaupun tidak terlihat tinggi. Cukup menarik,
tapi sayangnya aku tidak tertarik.
“eo, dia adikku. Hanya berbeda dua tahun saja. Wae? Kau
menyukainya? Tapi sepertinya jangan jadikan dia sebagai korban ke lima puluhmu,
hyung. Aku sangat menyayanginya.”
“mwo? Korban ke lima puluh? Oppa, maksudmu diaa…?” mataku
membulat. Melepas lollipop yang aku makan sedaritadi dari mulutku.
Kyuhyun oppa tertawa kecil melihat ekspresiku. “setiap
manusia pasti ada kekurangannya, Jehee~a. dia namja yang baik. Tapi tidak
telalu baik untuk wanita. Waktu terbaiknya untuk wanita hanay satu minggu
menjadi yeoja chingunya”
“cih, lagipula siapa juga yang akan mau jadi korbannya?
Aku sama sekali tidak tertarik.” Sahutku cepat.
“kau yakin? Apa kau sama sekali tidak melihat ketampanan
sedikitpun diwajahku,eo?” donghae oppa berujar dengan senyuman manisnya. Yang
kuanggap seperti jurus mautnya. Tapi
untungnya kesadaranku cepat pulih. “kau terlalu cantik untuk
dilewatkan.”
“kyuhyun oppa! Cepat bawa aku pulang. Jangan membuatku
lebih lama dihadapan namja sinting ini!”
“Jehee~a!
kau dipanggil kim seosangnim” tepukan ringan di pundakku menyandarku dari alam
kenanganku dengan donghae oppa.
“eo?
Gomawo, SooHe~a” aku bangkit kemudian membungkut sedikit kearahnya. Mengulas
senyuman singkatku tanda terima kasih atas pemberitahuannya.
Tanpa
sadar sudah dua puluh menit berlalu aku duduk dikursi taman ini. menatap kosong
disetiap sudutnya. Tak heran kalau Soohe menatap aneh diriku.
Dia satu
angkatan denganku di KyungHee university ini. tapi kami berbeda jurusan. Dia
jurusan yang bersangkutan dengan budaya. Dan fakultas kami letaknya tidak
terlalu jauh. Jadi kami cukup saling mengenal baik.
“kau
melihat apa?” ujarnya kemudian yang akhirnya mengungkapkan rasa penasarannya.
“aniya,
aku hanya ingin mencari objek untuk lukisan yang akan aku tampilkan di
pameran.” Jawabku sekenanya.
“tapi,
maaf, eng.. kau terlihat begitu tersihir dengan pemandangan disini. Ya,
walaupun aku taahu, ini tempat yang keren tapi..” SooHe terlihat sedikit ragu
dengan perkataannya tapi aku hanya mneunggu ucapan selanjutnya. Apa dia bisa
menebak dengan benar, atau tidak. “kau
mempunyai kenangan disini?”
Deg..
jantungku terasa terhenti sejenak. Dia benar-benar sudah membaca pikiranku.
“emm.. sedikit” ujarku cepat kemudian kembali tersenyum dan memohon pamit.
Karena aku akan lebih membeku disini, kalau dia terus menanyaiku tentang itu.
“boleh aku pergi lebih dulu? Kurasa kim seosangnim sudah menunggu”
***
Sore ini terasa mencekam. Hatiku terikat
kaku dan tubuhku melemah. Dia benar-benar akan meninggalkanku. Dalam hitungan
waktu dua jam mundur ini. dan bodohnya, aku sama sekali tidak bisa mencegahnya.
Selain menemuinya dibandara. Ini pun sepertinya aku akan terlambat. Entah apa
yang membuat jalan menuju bandara sedikit terhambat.
Dia sama sekali tidak menghubungiku
seharian ini. memberitahu jam penerbangannya saja tidak. Aku mengetahuinya saja
baru dari kyuhyun oppa. Apa dia benar-benar ingin secepatnya lenyap dari hadapanku?
Entahlah. Semuanya terasa dalam kendalinya.
Perjalanan lemah yang aku lewati sedikit
membuahkan hasil. Masih ada waktu sekitar lima belas menit untuk menemuinya.
Dan dengan cepatnya aku menemukan sosoknya yang sedang terpantung kaku dikursi
penunggu. Aku melngkah perlahan kearahnya. Dan dengan segera duduk
disampingnya.
“oppaa..” dia menolehkan pandangan
kearahku. Dengan tatapan yang sulit kubaca.
Kami hanya saling bertukar pandang selama
beberapa waktu. Sebelum akhirnya dia tersenyum. Kemudian meletakkan kedia
tangannya disetiap sudut bibirku. Membuat ulasan senyum diwajahku.
“aku ingin mengingat wajahmu.” Ujarnya
dengan suara yang begitu tenang. Dan aku hanya terdiam. Berusaha mengingat
suara dan wajahnya. “tapi aku tidak ingin mengingat raut wajahmu yang sedih.
Aku ingin mengingat wajahmu yang seperti ini, ara?”
Aku melepaskan tangan donghae dari wajahku.
“apa kau akan benar-benar pergi? Kau yakin dengan menolak tawaran debutmu?”
Donghae hanya tersenyum kemudian duduk
merapat disampingku. “aku yakin keputusanku tepat.” Tangannya mengarah keatas
rambut yang kugerai, yang dengan mudahnya dia acakkan ringan. “wait me. Just
four years, oke? I will come back. With the new person. The real Lee Donghae. I
love you.”
“kau.. tidak sedang bergurau, kan?” ujarku
ragu.
“kau pikir aku sedang bergurau? Merayumu
sampai menggodamu seperti yang kulakukan dengan yeoja-yeoja sebelumnya?”
donghae oppa mendesah. “kau bodoh, kalau berfikiran seperti itu je~a. semua
perkataanku padamu, itu sungguh, benar-benar dari hatiku. Aku tidak perlu
berfikir tentang trik apa yang akan aku gunakan untuk menarik perhatianmu.
Karena itu mengalir begitu saja. Sama seperti perasaanku padamu. Mengalir
seperti air yang tak berujung. Mengalir seperti samudra luas yang berasal dari
sempitnya air dilereng gunung. Karena hanya kau, memang kau, dan bermula dari
kau. Aku merasakan sebuah arti kata cinta sejati.”
Aku terdiam kaku. Mencerna setiap
perkataannya. Dia berjar begitu tenang. Sehingga sulit untuk terlihat bahwa dia
berkata bohong. Entah bagaimana kondisi jantung dan hatiku saat ini. setelah
mendapat dentuman perkatan mautnya untu kesekian kalinya.
“gomawo” dia menarikku dalam pelukkannya.
“untuk lahir dan hidup untukku. Dan untuk, menjadi takdirku”
Aku berusaha menahan air mata yang menumpuk
dipelupuk mataku. Tapi sayang nya itu tidak bisa benar-benar kulakukan. Air
mataku jatuh, dan sempat membasahi kemeja putih yang dikeakannya.
Pintu
kamarku terbuka secara tiba tiba. Membuatku sedikit terkejut. Terlebih degan
sosok yang menghampiriku. “oppa? Apa tidak bisa kau mengetuk pintu terlebih
dahulu, huh?” sungutku sambil menatapnya malas. Pasti eomma yang menyuruhnya
menyusulku ke Jeju. Eomma selalu saja khawatir denganku semenjak kepergian
donghae oppa.
“kau
curang,” kyuhyun oppa tiba tiba berujar dengan kalimat anehnya.menatapku dengan
senyum dinginnya. Membuatku sedikit bergidik melihat wajah evilnya. Dia duduk
dipinggir kasurku, tempat aku berada. “dan kau juga berbohong padaku.” Ujarnya
datar.
“wae?”
desisku. Dan dengan cepat telunjuk tangannya melesat kearah keningku kemudian
mendorong kepalaku yang membuat nyaris tubuhku terhuyung kebelakang.
“kau
bilang kau ke Jeju untuk mencari alam. Kau bilang kau ke Jeju untu
mempersiapkan pameran bulan depan.” Ujar kyuhyun oppa tanpa ubahan nada. “Tapi
kau malah terus mengingatnya.”
Aku
tersentak, menatap wajahnya datar, berusaha menahan emosi yang bergejolak di
dadaku akibat perkataannya. “jadi oppa menyusulku ke Jeju hanya untuk
mengatakan itu?”
“aku
bukan orang yang mempunyai banyak waktu. Jadi untuk apa aku membuang waktuku
begitu saja, huh?” sahutnya dengan nada kesalnya. “kim seosangnim yang
menyuruhku datang. untuk membantunya mempersiapkan pameran bulan depan.”
“cih,
sombong sekali kau. Apa begitu pentingya oppa dalam kegiatan pameran bulan depan?”
sungutku.
Kyuhyun
oppa tersenyum kearahku. Seperti menghiraukan perkataanku. Kemudian tangannya
mencengkram pundakku dan menatapku dengan tatapan semangatnya. “dia pasti akan
kembali Jehee~a. aku yakin itu. Ini akan menjadi hal terbodohnya dalam seumur
hidup. Kembali setelah empat tahun dengan sosok barunya tanpa sentuhan wanita
sedikitpun. Dan lebih bodohnya, dia melakukan ini hanya demi adik bodohku yang
satu ini.”
“ini
konyol, tapi hargailah usahanya jehee~a. dia benar-benar terlihat
bersungguh-sungguh untukmu. Lagipula dia hanya meninggalkanmu beberapa waktu
saja. Kau bisakan menunggunya dengan memperbaiki dirimu sendiri? Mengubah
kelakuan tidak baikmu dan menjadi yeoja yang hebat,eo?”
Aku
melepaskan cengkraman tangan kyuhyun oppa karena mulai terasa sakit. “ dia?
Siapa sebenarnya yang kau bicarakan? Jangan permasalahkan yang tidak jelas.”
Elakku.
“Lee
DongHae hyung.” Sahut kyuhyun oppa dengan sedikit penekanan.
Aku
terdiam, menahan wajahku yang mulai memanas dan degupan jantung yang begitu kuat.
Disetiap kali namanya terucap. “kau terlalu bodoh untuk menyembunyikannya
dariku.” Kyuhyun oppa menatap ejek diriku.
“menanyakan
jam penerbangan donghae hyung, menemuinya dibandara, berpelukkan hangat disana,
dan kau menangis saat itu. Kau pikir aku tidak tahu?” kyuhyun oppa memaparkan
semua hal yang nyaris membuatnku terlonjak. “aku datang waktu itu. Tapi aku
rasa aku akan mengganggu kalau menghampiri kalian.”
“yak,
Jehee~a.” kyuhyun oppa menggenggam tanganku. “aku tahu kau merindukannya. Dan
merindukan seseorang itu memang terasa membunuh. Tapi aku harap kau tidak akan
menjadi rapuh hanya karena ini semua. Menjadi yeoja yang kuat dan menunggunya
dengan rasa yang menggebu. Itu yang seharusnya kau lakukan. Dan bersabarlah,
dia pasti juga merindukanmu, eo?”
Aku
menyikut lengan kyuhyun oppa kemudian menatapnya curiga. “aigoo oppa, sejak
kapan kau mengerti ini semua?”
“mengerti
apa?” kyuhyun menggaruk kepala bagian belakangnya yang aku yakin sama sekali
tidak gatal. Itu biasanya dia lakukan jika salah tingkah atau pura pura tidak
tahu.
“mengerti
arti keberadaan seseorang yang dicinta.” Aku menatapnya tepat disorot matanya.
Berusaha mencari jawaban. “aku tahu, yang seharusnya peka tentang ini semua itu
kau lebih dulu. Yang seharusnya paham dan merasakannya itu seharusnya kau dulu.
Dan kupikir kau terlalu tidak peduli tentang itu semua, oppa. Bahkan aku sempat
berfikir kalau kau tidak menyukai lawan jenis. Aku saja baru memperhatikan itu
semua semenjak keberadaan donghae oppa. Semenjak kehadirannya, aku mulai mengerti,
aku mulai paham, dan aku merasakannya. Lalu kalau oppa? Apa yang membuat oppa
mengerti? Aku yakin tidak jauh jauh da..”
“apa
yang sebenarnya yang kau katakan, huh? Kau terlalu berbelit. Sebutkan saja apa
mau mu?” potong kyuhyun oppa dengan raut wajah tak karuan. Aku tahu, dia sedang
menyembunyikan perasaan bergejolaknya.
“yeoja.
Yeoja chingu. Kau mempunyainya?” ujarku dengan mata berbinar.
“mwo?”
matanya membulat kemudian melambaikan tangannya. “an..”
“nugu
oppa? Dia orang seperti apa? Apa dia benar-bena tahan banting dengan mu? Apa
dia yeoja yang lembut, menyenangkan, atau apa oppa? Apa aku harus
memberitahukannya pada eomma dan appa? Ini..”
“yak!
kau berbicara seperti aku baru pertama kali menyukai yeoja saja.” Sungut
kyuhyun oppa dengan nada protesnya.
“memang
benarkan, ini yang pertama? Dan yang terakhir?” aku menatapnya dengan tatapan
meledek.
“YAK!
MATIKAU CHO JEHEE!!”
***
We,
met for the first time years ago and then fell in love at first sight
Baby, wherever i go, you stand by my side like a shadow
Now and then, there are so many many things to prove our love
Even when I’m hurt, even when I fall, she’s the only one remaining by my side
Baby, wherever i go, you stand by my side like a shadow
Now and then, there are so many many things to prove our love
Even when I’m hurt, even when I fall, she’s the only one remaining by my side
Baby
baby baby baby baby, let’s never break up
Oh my lady lady lady lady lady, I really love you
Shawty shawty shawty shawty shawty, the one who i choose is only you
Oh my lady lady lady lady lady, I really love you
Shawty shawty shawty shawty shawty, the one who i choose is only you
Even
if it seems the words ‘There is no one but you’ looks so obvious , how do I
show you my heart?
Even though we fight, even when we say we hate (each other) to death, doesn’t your heart know already?
Those days of only beautiful things, seeing together only the good things about us, eating together, having fun together, crying together and laughing together
Thank you for believing in me that i won’t fall and for standing by my side.
Even though we fight, even when we say we hate (each other) to death, doesn’t your heart know already?
Those days of only beautiful things, seeing together only the good things about us, eating together, having fun together, crying together and laughing together
Thank you for believing in me that i won’t fall and for standing by my side.
Really
thank you
-
Super Junior – from U
Lee
DongHae PoV
Ini
memang berat untukku. Dan aku yakin dia juga. Tapi ini memang jalan yang
terbaik. Karena aku benar-benar ingin memperbaiki diriku. Aku bahkan nyaris merasa hina pada diriku
sendiri. Mengingat kebodohanku, saat mempermainkan yeoja begitu banyak. Tanpa
memikirkan perasaan mereka dan harga diriku. Itu sungguh membuatku merasa tidak
nyaman disampingnya.
Dia
yeoja yang terhormat. Sangat, menurutku. Dan dia juga dari keluarga yang
santun. Walaupun aku sempat berfikir hanya kedua orang tua mereka saja yang
santun. Ketika mengetahui sifat kedua anak dari keluarga Cho yang benar-benar
tak tertahankan. Tapi setelah mengenal mereka lebih jauh, mereka sebenarnya
berhati lembut. Hanya saja ditutupi rasa gengsi mereka yang tinggi.
“Hyung~a.
ayahmu menelefon beberapa waktu lalu. tapi tadi kucari kau tak ada, jadi
kusuruh dia menelefon lagi nanti.” Kai memberitahuku saat aku baru memasuki
kamar apartment. Kai sepupuku yang sudah menetap lama di Amerika. Jadi untuk
empat tahun pengansinganku, aku tinggal bersamanya.
“eo,
nanti akan aku telfon kembali.” Jawabku sambil melangkah ke kamar.
“kau
darimana?” kai mengernyit, menatap aneh sikapku. “tidak biasanya pulang terlalu
larut, dan tidak biasanya juga kau pulang tanpa ocehanmu?”
“mian,
aku sama sekali tidak berniat untuk berbicara. Aku pergi tidur dulu, eo?”
sahutkuu sekenanya kemudian memasuki kamar.
Hari
ini benar-benar melelahkan. Aku terlalu bekerja keras hari ini. Satu bulan lagi
aku akan menghadapi ujian semester yang sangat menyulitkanku. Mata kuliah
menyanyi tidak cukup baik untukku belakangan ini. aku mendapat kesulitan untuk
mendapatkan pich yang baik. Konsentrasiku hilang entah kemana. Sedangkan bulan
depan aku harus segera menuntaskannya agar bisa kembali ke korea sebentar
menemui halmoni. Tanpa harus menunggu ujian ulangan di bulan berikutnya.
Appa
sebenarnya sudah menghubungiku satu minggu berturut lalu. halmoni jatuh sakit.
Dan mereka sangat membutuhkan kehadiranku. Karena aku termasuk salah satu cucu
kesangannya. Dan mereka mengharapkan kepulanganku segera. Walaupun hanya satu
hari saja. Demi semanagt hidup untuk halmoni.
“maaf
aku mengganggumu hyung, tapi aku mendengarnya.” Kai menyelipkan kepalanya di
antara celah pintu kamarku kemudian melangkah duduk disudut ranjang sejajar
denganku. “ayahmu mengatakannya padaku. Apa kau butuh bantuan untuk
menyelesaikan ujianmu secepatnya?”
Mataku
mengerjap, menatapnya penuh harap. Dia selalu saja mempunyai jalan keluar yang
baik. Tidak heran kalau dia mendapatkan predikat sangat baik dalam meja rapat.
Otaknya terlalu cermelang.
“aku
kenal dengan jonghyung hyung, dia mempunyai suara yang luar biasa hebatnya. Dan
sangat mempunyai tekhnik vocal yang baik. Mungkin kita bisa menghubunginya.”
Dia menepuk pundakku sambil tersenyum puas. “dan beruntuungnya, aku baru
mendapat kabar kalau dia akan menggelar konser bersama boyband shinee nya di
amerika. Jadi kita bisa menemuinya dengan mudah.”
***
“annyeonghaseo,
Lee donghae ibnida.” Aku membungkukkan tubuh memberi hormat pada jonghyun yang
sudah berdiri dihadapanku. Aku dan Kai memutuskan untuk menemuinya pagi ini.
langsung setelah kedatangannya ke amerika, karena kami tidak ingin
membuang-buang waktu.
“eo,
senang bertemu denganmu, hyung.” Jonghyun tersenyum menanggapiku.
“hyung?
Kau menjadi guruku sekarang, jadi tidak perlu memanggilku dengan sebutan hyung
walaupun kau sedikit lebih muda dariku.” Ujarku cepat saat menyadari sapaannya.
“oke,
senyamanmu saja. Lalu? kita bisa memulai darimana?”
“dari
bagian yang… eo? Chakkaman, aku harus mengangkat telepon dulu.” Aku berlalri
kecil keluar setelah melihat siapa yang menghubuungiku.
“kau
masih disana? Cepat selesaikan kuliahmu dan kembali, bodoh!” umpatan keras dari
sambungan telfonku membuatku sedikit terhenyak. “bulan depan kau bisa kembali? Akan
ada event luar biasa dari yeojamu itu”
Aku
terdiam sejenak. Sedikit menahan sneyuman yang nyaris terulas lebar dibibirku.
Dia benar-benar masih hidup dengan baik, tanpaku. Doaku tidak sia-sia.
Setidaknya dia tidak benar-benar terpuruk karenaku. Ini mungkin akan menjadi
latihan kecil untuknya. “yak, cho kyuhyun. Bisa kau berujar sedikit sopan dan
pelan? Bagaiimana kalau adikmu itu mendengarmu dan mengetahui kau masih bisa
menghubungiku degan mudahnya,eo?”
“tidak
mungkin, dia sedan sibuk dengan lukisannya sekarang. Sudah nyaris satu jam
lebih dia duduk diam dan focus, nyaris sulit dipercaya.” Ujar kyuhyun dengan
sedikit nada ketakjubannya.
“memangnya
kenapa?”
“kau
seperti tidak tahu adikku saja. Bocah pecicilan yang tak tahan duduk diam lebih
dari sepuluh menit. Entah siapa yang menimpukinya batu hingga sampai seperti
itu.”
Aku
hanya tertawa kecil, kemudian menyadari sedikit hal. “kyuhyun~a. bulan depan
aku sudah bisa menyelesaikan ujian pertamaku dan mungkin aku akan kembali.
Sekitar tiga hari mungkin aku akan menetap sebelum kembali lagi ke amerika dan
menyelesaikan kuliah seniku.”
“sinjja?
Baguslah kalau begitu.”
“tapi..
bisa kau merahasiakan kepulanganku? Aku hanya ingin melihat kondisinya saja.
Dan sedikit menyembuhkan rinduku saja.”
“lalu?
kau membiarkan adikku menahan luka rindu sendiri? Kau curang, hyung!” sungut
kyuhyun dengan nada kesalnya. Dia memang terlihat sangat menyayangi adiknya.
“kau tidak tahu saja hidupnya selama kau tidak ada. nyaris tak bernyawa. Lalu,
kau dengan teganya tidak ingin memberitahukan kepulanganmu?”
“aku
hanya tidak ingin ada perpisahan kedua. Setelah nanti saatnya aku harus kembali
ke amerika lagi. Mungkin dia akan menahanku. Atau apapun itu. Dan aku hanya
ingin menepati janjiku. Setelah empat tahun, kami akan bertemu kembali, dengan
sosok yang baru. Kurasa aku belum terlalu merasa baik. Aku ingin kembali
padanya setelah aku debut, itu saja. Dan menjadi namja terhormat dihadapannya,
kyu~a.”
“eo,
arasseoyo~” kyuhyun kemudian mendesah pelan. “tapi kau benar benar akan
menemuinyakan? Setidaknya membuat perasaannya membaik walaupun dia tidak
mengenalimu.”
“tentu
saja. Kapan event itu digelar?”
“itu
adalah pameran besar-besaran yang dibuat kampusku. Dan kebetulan diadakan di
Jeju. Bulan depan, sekitar tanggal 20.”
***
1
month ago~
At
KyungHee University’s Art and Music Event
Jeju
Island, South Korea
Cho
Jehee PoV
Kami
mempunyai hobi yang sama. Mempunyai pilihan hati yang sama. Yaitu alam. Alam
yang menyatukan kita, dan alam yang mengatur kita. Entah bagaimanapun kami
berdua sangat menyukai alam. Sebuah karunia dari tuhan yang tiada duanya. Itu
yang membuat donghae oppa selalu merumpakan alam untuk membuat kata kata
gombalnya untukku. Ah tidak, kurasa lebih tepat kata-kata mautnya.
Tapi
dia lebih suka menumpahkannya dalam pengabdian foto. Dia fotografer handal yang
pernah aku kenal. Tapi sayangnya dia lebih menyukai tariannya daripada
hasil-hasil fotonya.
Satu
bulan berlalu cepat. Kesibukkanku dengan pameran besar besaran yang dibuat
kampusku cukup mengurangi kekosonganku. Dan hasilnya cukup membuahkan hasil.
Lukisanku di puji oleh ratusan orang yang lewat di stanku. Bahkan dosen yang
sangat membenciku saja terlihat terpesona dengan hasil karyaku.
Tapi
sebenarnya hatiku belum merasa puas sepenuhnya. Aku ingin dia melihat
lukisanku. Karena aku melukis ini penuh dnegan perasaan dengannya. Aku
melukiskan tempat pertemuan kami pertama. Di taman yang tidak jauh dari air
terjun Jeju.
“yak!
Cho Jehee!” kyuhyun oppa melangkah mendekat setelah dia memutari stan stan yang
ada diantara sekrumunan banyak orang. Dan ini membuatku sedikit curuga. Kyuhyun
oppa tidak begitu menyukai keramaian. Dia biasanya lebih memilih untuk duduk
disudut tempat kemudian memainkan PSPnya. “kau bisa tolong ambilkan kotak P3K
diujung sana?”
Mataku
membulat menatap jeli tubuh kyuhyun oppa. “kau terluka? Odiga?”
Dengan
cepat kyuhyun oppa melayangkan jitakan yang cukup keras pada keningku. “bodoh,
sudah tahu aku bisa berjalan dengan baik. Bagaimana bisa aku yang terluka?
Cepat ambilkan, aku tidak punya banyak waktu.”
Aku
hanya menyerahkan kotak itu pada kyuhyun oppa dengan dahi yang sedikit
berkerut. Sedikit berfikir dengan perubahan yang dialami kyuhyun oppa. “kau
belakangan ini sedikit aneh, oppa”
Baru
saja aku ingin menyelidiki kyuhyun oppa, karena berfikir sepertinya dia sedang
bersama yeojanya. Dan aku berniat untuk memergokinya. Mungkin saja yeoja itu
yang terluka. Karena raut wajah kyuhyun oppa terlihat sangat khawatir, mataku
tersihir pada pandangan sosok namja yang berdiri tak jauh dariku. Dalam sekejap
aku terdiam kaku dan tubuhku membeku.
Sial,
aku seharusnya bisa menjaga pandangan mataku kalau ingin menjadi yeoja yang
setia pada donghae oppa. Ini benar-benar terlewat batas. Aku tidak terbiasa
terpukau oleh namja. Kecuali dua orang. Kyuhyun oppa dan donghae oppa. Sisanya
paling tidak sekedar menganggapnya namja keren, tidak lebih.
Tidak
dengan degupan jantung kuat, dan tidak dihantui oleh rasa gugup dan kenyamanan
luar biasa. Entah apa yang membuat ganjalan dihatiku semenjak kepergian donghae
oppa itu terasa lenyap setelah melihat keberadaan namja itu.
Namja
yang tegap dan memiliki postur tubuh yang bagus. Dia berdiri dibawah naungan
topi dan kacamata yang menutui sebagian wajahnya. Pakaiannya sedikit terkesan
fashionable dan gaya berjalannya juga terlihat sangat gagah.
“si..
silahkan,” aku sedikit gugup dan gemetar saat dia datang mengahmpiri stanku.
Dia terlihat sedikit terpukau dan itu membuatku sangat lega. Dia hanya
tersenyum kemudian memperhatikan dengan seksama lukisanku.
“hyung!
Apa yang kau lakuakn berlama lama disini? Halmoni sudah mennunggu. Kita harus
segera kesana.” Sosok tinggi dengan wajah cukup familiar datang menepuk ringan
pundak namja yang sudah nyaris membuatku mati kaku. “kita tidak punya banyak
waktu dikorea. Kau tahu, kita harus segera kembali ke.. YAK! HYUNG! Eodiga?”
namja itu berlari kecil ketika melihat lawan bicaranya berlalu begitu saja.
Halmoni?
Tidak punya banyak waktu dikorea?
Sedikit
terdengar mencurigakan. Lagipula namja itu terlalu menutupi wajahnya. Aku sulit
untuk mengenalinya. Tapi, sepertinya aku sedikit mengenal namaj yang
menghampirinya tadi. Wajahnya cukup familiar. Apa mungkin, dia..
Kakak
laki lakinya soohe? Sohee sempat menunjukkan foto dan bercerita sedikit tentang
kakaknya yang tinggal di Amerika. Lalu? kalau dia kakaknya, kenapa harus
sesegara mungkin kembali? Setidaknya dia harus melihat penampilan dari soohe
dulu.
Ah,
sudahlah. Itu terlalu membingungkan dan tidak penting.
The light that is fading in the clouds
Falling at the window is too noisy
The cooling memory is just like the sound of the rainwater
Capture my heart, refuse to leave
Falling at the window is too noisy
The cooling memory is just like the sound of the rainwater
Capture my heart, refuse to leave
That increasingly strong
Lock in the nostalgia
Couldn’t I step back in time
Back to the time when you give me a hug
Everything now doesn’t matter
Lock in the nostalgia
Couldn’t I step back in time
Back to the time when you give me a hug
Everything now doesn’t matter
I follow the tortuous path that is wet
Look back at our memories together
In the rain that obscures the vision, I think of you
In my tears, you emerge in my mind
Look back at our memories together
In the rain that obscures the vision, I think of you
In my tears, you emerge in my mind
That increasingly strong
Lock in the nostalgia
Can I step back in time
Back to the time when you give me a hug
Everything now doesn’t matter
Lock in the nostalgia
Can I step back in time
Back to the time when you give me a hug
Everything now doesn’t matter
All dissipated, whether it’s the time we spent together, or the
look of you and me at the time
Let’s back to the time when I am in your embrace
Couldn’t I step back in time
Even if this is the only chance, or the last chance
It doesn’t matter
Couldn’t I step back in time
Even if this is the only chance, or the last chance
It doesn’t matter
(Back In Time – Lyn)
Mataku mengerjap, membiasakan diri dengan cahaya lampu yang terasa menyilaukan. Sedikit terlihat samar sebelum akhirnya benar-benar jelas. Halmoni sudah duduk tenang disudut kasurku membuatku sedikit terhenyak dan terduduk.
“maaf, kalau halmoni mengejutkanmu. Tapi aku ingin mengatakan sesuatu sebelum kau beranjak pergi dari Jeju.”
Aku mengernyit kemudian mengangguk pelan. Menggumpulkan sisa nyawaku kemudian berusaha menyimak perkataannya. Karena kupikir ini akan menjadi hal yang sangat penting. Tidak sering untuk seorang nenek sepetinya berbicara secara empat mata secepatnya.
“aku mengenalnya,” halmoni berbicara dengan ketengannya. Dia bahkan tidak terlihat seperti sedang sakit. “Cho Jehee, gadis itu. Kau mencintainya bukan?”
Dalam hati aku terhenyak, tapi sebisa mungkin aku menahan semua itu dengan ekspresi datarku. “dia pasti yeoja yang sangat luar biasa. Atau mungkin sebenarnya hanya biasa saja. Tapi karena dia adalah takdirmu, takdir kehidupan yang mengikatmu. Dia mampu mengubah semua sikap burukmu. Memotivasimu untuk menjadi seorang namja yang lebih baik. Dan menanamkan ini,” halmoni meletakkan tangannya didadaku. “degupan jantung yang kuat saat disekitarnya, medan magnet yang mempunyai daya tarik tinggi padanya dan sebuah perasaan yang meledak.”
Halmoni menurunkan tangannya kemudian tersenyum padaku. “kau boleh meninggalkannya sejenak. Tapi tidak dengan sebuah penyiksaan.” Aku masih terdiam, berusaha mencerna semua kalimat yang lontarkan halmoni.
“aku tahu, maksudmu baik. Dan aku juga tahu, niatmu untuk menjadi pendamping hidupnya sesempurna mungkin. Tapi kau terlalu lengah untuk satu hal.” Mata halmoni tepat menatap di manik mataku. “menyiksanya. Kepergianmu tanpa ada sebuah kabar sedikitpun. Aku tahu, kau berniat memberikan sebuah kejutan setelah empat tahun nanti. Tapi apa kau tidak pernah berpikir, seberapa lamanya jangka waktu itu untuk menunggu? Dan serapuh apakah dia nanti saat kau kembali. Mungkin kau tidak mengerti atau bahkan tidak mengetahuinya. Kelumpuhan hidupnya, keambangan hidupnya tanpamu. Itu terlalu menyiksanya.”
Lamunanku terbuyar saat akhirnya suara pemberitahuan pesawatku
yang akan mendarat sekitar lima menit lagi. Semua perkataan halmoni pagi tadi
membuatku nyaris tak bernyawa. Apa aku benar-benar sudah menyiksanya dengan
kepergianku? Apa yang dikatakan kyuhyun sewaktu ditelfon dan halmoni itu benar?
Aku sudah membuatnya terambang maut karena kepergianku?
“hyung, apa yang kau lakukan? Cepat kemasi barang
dipangkuanmu. Sebentar lagi kita akan turun.” Kai menepuk pundakku kemudian
sedikit menggeleng melihat raut wajahku.
“masih tidak puas dengan melihat wajahnya saja? Kenapa
kau kemarin tidak pura-pura terjatuh kemudian memeluknya saja, hyung kalau kau
menemuinya ditempat yang memungkinkan untuk itu?” ledeknya dengan sedikit tawa
kecilnya.
“kau diam saja, anak kecil!” dengusku sembari
merapihkan barang-barangku.
“tapi ngomong ngomong, hyung terlihat lebih dilema
dari biasanya? Memangnya kenapa? Apa dia sakit saat kau menemuinya? Atau.. kau
tidak sempat menemuinya? Aku terlalu sibuk selama di korea kemarin, jadi tidak
sempat menemani kemanapun kau pegi.”
“menyibukkan diri dengan anjingmu saja terlalu
dibanggakan.” Kai menyengir malu, mengetahui ucapanku. “aku menemuinya, dan
asal kau tahu, waktu itu aku bersamamu.”
Kai membulatkan matanya. “chakkaman.. apa mungkin..
itu.. ketikaa..”
“lancarkan dulu berbicaramu baru kembali ke amerika.”
Ledekku yang menahan geli melihat wajah syoknya.
“jadi itu alasan kenapa kau meninggalkanku saat
pameran? Dan yeoja itu.. yak hyung! Kenapa kau tidak mengatakannya padaku? Aku
belum sempat berkenalan dengannya.” Dengan cepatnya aku menjitak keningnya.
Menghasilkan ringisan kecil dari mulutnya.
“aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya sedikitpun,
bodoh! Walaupun itu hanya berjabat tangan. Dan aku yakin kau tidak akan bisa
menahan aura namjamu yang berlebihan itu. Jangan sekali kali mencari kesempatan
untuk mendekatinya. Itu sama seja kau mencari mati denganku.”
***
2 years laters~
Kyuhyun’s home, South Korea
Cho Jehee PoV
Aku nyaris tersandung saat menuruni tangga saking
terburu burunya. Beberapa kali kyuhyun oppa meneriakiku untuk lebih berhati
hati. Tapi aku terlihat nyaris menghiraukannya kerana hari ini sangat
mendebarkan dan menggebu hatiku. Semalam tidurku begitu nyenyak untuk
memimpikan pagi ini.
“Cho Jehee! Pelankan jalanmu kalau kau tidak ingin
mati sebelum menemuinya!” kyuhyun oppa kembali meneriakiku saat aku nyaris
tersandung untuk kesekian kalinya menuju mobilnya.
“jangan terlalu dilebihkan, oppa.” Aku mendengus
kemudian dengan cepat memasuki mobil.
“kau yakin dia akan benar-benar kembali?” ujar kyuhyun
oppa dengan nada sedikit mengejek.
“tutup mulutmu, dan cepat antarkan aku.” Ujarku sambil
berusaha tidak menanggapi perkataannya.
Bisa saja yang dikatakan kyuhyun oppa itu benar.
Karena mungkin saja dia tertinggal pesawat, atau masih ada urusan lan sehingga
dia tidak bisa benar-benar pulang ke seoul tanggal 4 dibulan September ini.
tapi biarkan sajalah, aku hanya bisa menunggunya. Dan melihatnya nanti. Apakah
dia akan benar-benar menepati janjinya atau tidak.
“kita sampai” ujar kyuhyun oppa setelah memarkirkan
mobilnya disudut taman pulau Jeju kemudian membukakan pintuku. Nyaris
sempanjang perjalanan aku tertidur pulas sambil terus memutar single eprtama
donghae oppa.
“eo? Gomaweo oppa.” Aku melangkah keluar dari mobil
sambil mengusap kedua mataku, menyadarkan diri sejenak.
“kau mau ditemani masuk, atau aku menunggu diluar?”
kyuhyun oppa menawarkan.
“aku masuk sendiri saja oppa.”
***
Lee DongHae PoV
I know that my heart is wherever you are.
Close enough our breaths can touch,
always in that same place.
Oh, I… I don’t have anything I can give you,
(but I’m) missing you.
I can’t even give you loving words,
but I’m missing you.
I can’t even boldly wish for you to be mine,
but I’m missing you.
So I push you away.
More than anyone else in this world
I love you, so I hold back
Close enough our breaths can touch,
always in that same place.
Oh, I… I don’t have anything I can give you,
(but I’m) missing you.
I can’t even give you loving words,
but I’m missing you.
I can’t even boldly wish for you to be mine,
but I’m missing you.
So I push you away.
More than anyone else in this world
I love you, so I hold back
(Infinite – Only Tears)
Sial, kyuhyun sulit sekali untuk dihubungi belakangan
ini. lalu bagaimana caranya aku datang menemui adiknya dengan segala
persiapannya kalau tanpa arahan darinya? Semua kegiatan Jehee ada di
kendalinya. Termasuk jadwal kampus, shoping, sampai jadwal tidurnya saja
kyuhyun yang mengatur. Kyuhyun terlalu menghandle nya semenjak kecelakan mobil
tiga bulan setelah pertemuanku dengannya.
(Author POV)
Jalan menuju seoul dari busan tehambat parah entah apa yang terjadi.
Jehee hanya mengetuk ketukan tangannya ke stir mobil sambil menatap malas
jendela mobil. Melihat begitu sesaknya jalanan siang ini membuatnya semakin
merasa penat setelah seharian mencari salah satu tugas kampus yag sangat di
kejar dateline.
Teriknya matahari di musim panas semakin terasa menyengat dari pantulan
cahaya kaca mobilnya. “ini terlalu menyiksaku. Apa yang sebenarnya kim
seosangnim inginkan dari tugas ini? ini sama sekali tidak ada hubungannya
dengan mata kuliah.” Jehee mengumpat kesal, “mencari sebuah penelitian pada
objek lukisan yang kita dapat beberapa minggu lalu, kemudian melaporkan kedetail
an setiap sudutnya. Cih, tugas apa itu.”
DIIIIIIIINNNN…
Jehee menoleh kearah spion depan. Emosinya semakin meluap. “tidak tahu
kalau sedang macet, apa? Menambah pengang saja.” Karena kesal, jehee mengambil
keputusan untuk membalan menyalakan kelaksonnya dengan suara lebih kencang.
“YAK, AGASSHI! Neo michiseo?” yeoja yang menyetir dibelakang Jehee, yang
menyalakan klakson tadi berteriak dari belakang. Dengan cepat Jehee membuka
kaca mobil dan berbalik kebelakang.
“KAU YANG GILA, BUKAN AKU! JELAS JELAS DIDEPAN SEDANG TERHAMBAT! PAKAI
OTAKMU BARU BERTERIAK!” ujar jehee yang tidak kalah kerrasnya.
Yeoja itu turun dari mobilnya kemudian menghampiri Jehee. “yak, agasshi,
kau tidak lihat, jarakmu dengan depanmu sekitar satu meter lebih. Kenapa kau
tidak memajukan mobilmu,eo?”
“aih, sinjja.” Jehee mendengus kesal. “kau mau mobilku menabrak depan?
Memang seharusnya kan kita berjarak. Apa kau pikir jarak depan dengan belakang
hanya satu senti saja? Kau sebenarnya lulus tes mengemudi atau tidak, sih?”
Yeoja itu hanya mengumpat pelan kemudian kembali masuk kemobilnya. Dan
jehee menutup kembali kaca mobilnya kemudian memajukan sedikit kedepan mobilnya
karena mulai berjarak agak jauh karena perdebatannya tadi dengan yeoja
dipikirnya sedikit sinting.
Klakson mobil kembali terdengar dari belakang. Tapi Jehee hanya menutup
telinganya dengan headset tanpa melirik kearah spion sedikitpun. Dia sama
sekali tidak mendengar jeritan orang dibelakangnya yang berusaha menghindar
dari hantaman dibelakang.
Jehee terus asik dengan musiknya, menghiraukan ancaman maut
dibelakangnya. Sebuah mobil truk pembawa kayu berjalan ugal-ugalan
dibelakangnya. Yeoja tadi berheti berdebat karena menyadari itu dan segera
menyingkir. Dia mengira jehee juga menyadari itu, tapi nyatanya tidak.
Dua menit setelah itu, truk besar itu menabrak kencang bagian belakang
mobil sedan yang dibawa Jehee. Menghantam keras hingga bagian belakang
terangkat dan nyaris benar-benar terbalik. Jehee hanya terdiam kaku tanpa
suara. Memejamkan mata sampai semuanya terasa benar benar sakit. Punggungnya,
dan kepalanya yang terasa mengeluarkan darah cukup banyak. Jeritan eomma dan
kyuhyun oppa yag terdengar ketika suara ambulans menghampirinya.
***
Aku membanting kasar ponselku ke tas ransel
disampingku. Meliriknya kesal. Sampai kapan kyuhyun akan benar-benar
menyerahkan adiknya padaku? Apa dia belum percaya sepenuhnya padaku? Memintanya
untuk memberitahukan keterlambatanku saja dia tidak mau. Atau bahkan mungkin
dia tidak mau sama sekali mengantarkan Jehee ke taman di Jeju hari ini?.
Sepertinya kyuhyun sangat marah padaku. Setelah
kesibukkanku pra debut diatas panggung. Dia marah, karena aku tidak secepatnya
kembali. Dia marah, karena memikirkan adikku yang terus berharap padaku,
sedangkan aku terlihat seperti tidak mempunyai rasa rindu sedikitpun.
Padahal kalau kyuhyun melihatku disini. Melihat
bagaimana cara aku hidup. Menahan diri untuk tidak menghubunginya, yang kurasa
itu sangat menyiksa. Terhindar dari suara manisnya jehee, mata kecoklatan yang
mempunyai tatapan tajam, dan ocehan panjang lebar yang sering dipaparkannya.
Benar-benar seperti membunuhku secara perlahan.
“hyung, sepertinya kita akan terlambat. Penerbangan
ditunda satu jam.” Kai menghampiriku setelah melihat-lihat keseliling. Dia bisa
dikatakan anak yang tak tahan diam, sama seperti Jehee. Jadi aku cukup tahan
menghadapi tingkahnya.
“mwo? Aih, apa aku harus menurunkan helicopter
pribadiku sekarang, huh?” dengusku kesal. Menghindar dari sesak para fans saja
membuatku setengah frustasi. Apalagi pertemuanku dengan Jehee harus tertunda
sampai satu jam.
“sepertinya,” kai mengangkat kedua pundaknya. “kau mau
aku menghubungi Suho untuk menyiapkannya? Kurasa tu lebih baik, walaupun
keterlambatanmu hanya berkurang empat puluh lima menit, otte?”
Aku mengangguk mantap. Mengiyakan ajakan kai. “kau
emang sodara terbaikku, JongIn~a”
“jangan sebut nama itu, kalau kau tidak mau aku pulang
ke apartment sekarang juga.” sungut kai.
“memangnya kenapa? Namamu tidak jelek, eo?”
“memang, aku menghargai pemberian nama dari eomma dan
appaku. Tapi.. sayangnya.. ah, sudahlah, luapakan itu.” Raut wajah kai terlihat
sedikit terbersit rasa sedih mendalam. Entah apa yang membuatnya seperti
teringat sesuatu yang sepertinya sangat menyentuh. Dan aku merasa sedikit
bersalah karena menyinggungnya.
“mianhae, sepertinya itu sangat ingin kau lupakan.”
“apa?” kai mengernyitkan matanya.
“nama aslimu, ada masalah yang sangat membekas,
kuyakin.”
“kau terlalu percaya diri mengetahuinya, hyung.”
“memang benarkan? Katakana iya, daripada aku memaksamu
untuk bercerita.”
“Aish, sulit sekali bicara denganmu, hyung.” Dia
mendesah sembari merosotkan tubuhnya dari kursi karena frustasi.
“cepat, katakan iya.”
“ne, memang ada.”
“anak pintar”
“diam kau hyung!”
***
Tubuhku terhuyung, tapi aku berusaha tetap berpijak.
Tubuhku melemah, tapi aku ingin terlihat kuat. Aku ingin tetap menatapnya.
Tetap memperhatikannya, walaupun dari kejauhan sekalipun. Walaupun dengan rasa
sesak didada yang memburu sekalipun.
Entah aku yang terlambat, atau dia yang terlalu cepat.
Terlambat untuk kembali, atau dia yang terlalu cepat untuk mencari penggantiku.
Beginikah hasil kuterima? Setelah menahan sesak rindu selama bertahun tahun.
Hanya untuk menjadi namja yang baik dan pantas untuknya?.
Hari ini selalu aku mimpikan. Hari dimana akhirnya aku
bisa kembali ke Jeju dengan kegagahanku. Tap sekarang aku berharap untuk tidak
ada hari ini. berharap waktu berputar cepat hanya untuk satu hari ini. sungguh, aku benar-benar tidak
sanggup untuk hari ini.
“ige mwoya?” desisku dengan nada sedikit bergetar.
“je~a. neo wae? Kenapa kau selalu tidak pernah mendengar perkataanku? Apa aku
terlalu buruk sampai kau tidak percaya dan tidak mau mendengarkanku? Cukup
menungguku saja dengan perasaan yang sama, itu sudah jauh lebih cukup.”
Aku tahu, perkataanku tidak akan terdengar olehnya.
Sangat mustahil dengan kondisinya yang sedang sibuk dengan seorang namja. Yang
terlihat jauh lebih baik dariku. Dia jauh lebih terlihat bersahabat daripada
denganku.
“aku tahu, aku salah. Dan aku tahu, aku terlambat.
Tapi tidak bisa kau menungguku empat tahun lebih lima belas menit?” aku
menjatuhkan tubuhku ke kursi taman yang terletak cukup tersembunyi dari
pengelihatan Jehee.
Sebuah tepukkan ringan dipundakku, membuatku sedikit terhenyak.
“kau menangis, hyung?” suara berat yang cukup aku
kenal membuat hatiku sedikit bergetar. Aku membalikkan tubuhku kearahnya yang
sudah duduk dengan tenangnya. “lama tak bertemu”
“yak! Neo..” dengan cepat aku memberi pelukkan singkat
padanya. “kyuhyun~a, aigooo” ujarku sambil menahan sesak yang masih terasa
membunuh.
“namanya yeosub,” kyuhyun menunjuk kearah namja
didekat Jehee, melanjutkan pembicaraannya setelah membalas dengan senyuman.
“dia sahabat yang baik, jauh lebih baik.”
Aku terdiam. Sepertinya kyuhyun menyukai kedekatan
mereka. Apa dia tidak memikirkanku dengan ucapannya? Biarlah, kurasa aku harus
mengetahui siapa musuhku terlebih dahulu.
“kau tahu hyung, kenapa aku memarahimu yang tidak
segera pulang?” aku menggeleng pelan.
“karena dia,” kyuhyun berujar dengan sedikit
penekanan. “aku takut takdir adikku berubah dengannya. Aku takut, adikku tidak
akan bisa mempunyai perasaan untukmu lagi setelah kau pulang, aku takut adikku
sama sekali tidak mengenalimu saat kau pulang, dan aku takut kalau bukan kau
yang menjadi takdirnya.”
“memangnya kenapa?”
“takdir mempunyai ikatan kuat, walaupun sewaktu waktu
bisa kau ingkari. Tapi sebuah pengingkaran takdir, sama saja seperti kau
memasuki sebuah penyiksaan. Perasaanmu menjadi tidak jelas, menuju kemana. Kurasa
akan seperti itu, dan aku tidak ingin adikku menderita. Itu saja.”
“lalu?” aku mengernyit.
“yak, hyung! Kau ini namja atau bukan, huh? Untuk apa
kau berlama – lama di amerika untuk memperbaiki kepribadianmu kalau hanya
mendatanginya saja tidak berani? Aih, sinjja, kau membuatku darah tinggi saja!”
“aku sudah benar benar menjadi namja terhormat
sekarang. Lee donghae, kau tanyakan saja pada setiap orang pasti mereka
sekarang mengenalku. Dan sekarang aku juga mempunyai harga diri.”
“apa? Jangan putar-putarkan pembicaran. Cepat hampiri
saja sana!” kyuhyun mendorongku hinga nyaris kehilangan keseimbangan. Makan apa
dia selama aku tidak ada? tenaganya terlalu kuat.
***
Cho jehee PoV
Donghae oppa sepertinya terlambat. Mungkin pesawatnya
tertuda atau apa aku tidak tahu. Tapi aku berharap dia tidak sedang mengingkari
janjinya saja. Aku akan benar-benar tidak mengenalnya kalau lewat dari dua hari
keterlambatan pulangnya.
“hei, kau sendirian?” aku menoleh kearah sumber suara
yang ku kenal.
Namanya yeosub. Aku dekat dengannya satu tahun
belakangan ini. dia cukup baik dijadikan sahabat. Kedekatanku dengannya cukup
mengobati sedikit rasa rinduku dengan donghae oppa. Ada sedikit kesamaan yang
mereka punya. Dari sifat lembut, perhatian sampai ketidak sukaannya kalau tidak
diperhatikan. Aku menyukainya bukan berarti aku mencintainya seperti donghae
oppa.
“eo? Tidak, mungkin sebentar lagi dia akan datang.”
“siapa?” yeosub duduk dengan tenangnya disampingku.
“donghae oppa. Namja yang sering aku ceritakan
padamu.”
Yeosub menganggku kemudian menyikut lenganku pelan.
“yak, pasti jantungmu sedang tidak karuan berdetak ya? Atau.. mungkin kau
sedang keringat dingin sekarang?”
Aku menunduk malu. “tutup mulutmu”
“aigoo, kau bahkan malu untuk mengatakannya?”
“yak, sudah aku bilang tutup mulutmu!” yeosub hanya
menyengir menanggapiku. “aku akan malu setengah mati kalau kau memermalukanku,
dan dia dengan tiba-tiba datang,eo?”
“kau yakin, dia akan datang?”
“aih, kenapa hari ini semua berkata seperti itu
padaku? Kyuhyun oppa bahkan juga mengatakannya.” Sungutku. “ apa dia benar
benar tidak akan datang? apa semuanya tahu kalau dia tidak akan pernah datang?”
“hentikan pemikiran seperti itu. Aku hanya menggodamu
saja”
“baiklah, terserah kau sajalah.”
“aku jadi semakin penasaran orang seperti apa dia.”
“rasa penasaranmu akan terbayar sekarang.” Sebuah
suara lembut yang terdengar mendekat itu membuatku terlonjak dari kursiku. Aku
berdiri dengan cepatnya. Menahan tubuhku yang bergetar dan sesak yang meluap
karena bahagianya.
“oppa..” hatiku terasa begitu terharu entah kenapa.
Air mataku nyaris tidak tertahankan. Empat tahun lamanya, dan aku berhasil. Ah
tidak, dia juga. dia sudah benar-benar menjadi luar biasa sekarang. Tubuhnya
yang tegap dan lebih terlihat berwibawa. Lebih keren daripada show yang pernah
aku lihat di youtube saat pertama kali debutnya.
Dengan cepat dia menyeretku dalam dekapannya.
“mianhae, aku sedikit terlambat.”
“ini lebih baik daripada kau tidak datang sama
sekali.” Ujarku ditengah isakkan yang akhirnya meluap.
Donghae oppa melepas pelukkannya kemudian tangannya
mengusap pipiku yang basah. “uljima.” Ujarnya dengan senyuman yang semakin
terasa begitu menyejukkan. “aku pernah bilang padamu untuk tidak menangis, kan?
Karena aku hanya ingin melihat wajah bahagiamu seumur hidupku, Je~a”
Donghae oppa kemudian melirik kearah yeosub. Dengan
sedikit tatapan tajamnya. “dank au” yeosub menatap aneh dongahe oppa. “kau
boleh dekat dengannya. Kau boleh berteman dengan Jeheeku, tapi dengan satu
syarat. Saat itu aku harus ada. sekalipun tidak, aku akan mengirim orang untuk
mengawasi kalian.”
“wae, oppa?” sungutku dengan sedikit nada penolakkan.
“dia temanku, lagipula dia yang menyemangatiku untuk menunggumu.”
“kau ikanku, dan aku airmu. Ingat? Aku tidak akan
membiarkanmu berenang ke aliran air yang lain. Hanya padaku. Itu saja. Karena
aku merasa dia sedikit berbahaya untukku dan untukkmu.”
***
Mataku mengerjap, menatap samar keseliling ruangan.
Sepertinya aku sudah cukup lama tertidur di ruang tunggu ini. kyuhyun dan
donghae oppa sekarang memutuskan untuk tampil duet, dan aku setuju itu. Tapi
sialnya aku sedikit merasa terbuang kalau sedang berada di ruang tunggu.
“maaf membuatmu lama menunggu.” Donghae oppa keluar
dari balik pintu. “kau sudah mengantuk? Mau aku antarkan pulang?”
“memangnya kyuhyun oppa kemana?”
“entahlah, kurasa dia sedang menemui seseorang setelah
turun panggung. Terlihat sedikit sangat pentiing.” Donghae oppa mengangkat
kedua pundaknya.
“oppa.” Aku menarik lengan kemeja yang dipakai donghae
oppa untuk tampil malam ini. “apa kau tidak melihat sedikit keanehan darinya?”
“apa maksudmu?” dongahae oppa sedikit menyipitkan
mata.
“waktu itu dia yang menceramahiku mati matian tentang
arti sebuah keberadaan orang yang dicinta. Lalu, sewaktu pameran, dia berkeliaran
disekitar kemudian mendatangiku dengan panic meminta obat merah. Dan sekarang?
Apa dia terlihat sangat bahagia malam ini, oppa?”
Donghae oppa terlihat sedikit berpikir sejenak. “dia
juga menasihatiku beberapa waktu lalu sebelum aku menemuimu. Lalu, maksudmu..
dia..?”
“benar-benar sudah mempunyai yeoja chingu!” aku
menepuk ringan pundak donghae oppa.
“omo! Kyuhyun ternyata waras juga. kupikir dia tidak
menyukai lawan jenis.” Dengan cepat aku menjitak kening donghae oppa.
“jaga mulutmu, dia kakak ku, kau tahu?” donghae oppa
hanya tertawa kecil sambil sedikit meringis.
“lalu, kau mau kita melakukan apa untuk memergokinya?”
donghae oppa mengeluarkan mimiknya yang kurasa itu sedikit menyeramkan. Dia mungkin
mempunyai rencana hebat untuk itu. “kurasa, aku tahu kita harus melakukan apa.”
***
When I act like this
I realize I’m actually young
[She’s] right in front of me but I don’t know what to do
How do did you start love?
People who have loved please tell me
Will there be a day when I hold her hand?
Will there be a day when I kiss her above her closed eyes?
Hello Hello I acted confidently
Hello Hello I want to talk to you for a moment
Hello Hello I might stutter a little, though
Who knows we might actually be together
Should I confront [her]
Should I wait [for her]?
It’s harder when everyone else says something different (You can’t believe it right?)
Having high standards, this isn’t a usual thing for me
Please believe in me yeah
Will there be a day when I hug her freely
I believe that what we think can come true
Hello Hello I acted confidently
Hello Hello I want to talk to you for a moment
Hello Hello I might stutter a little, though
Who knows we might actually… oh yeah
This is not the first time
Truthfully I’ve loved and parted
But it’s hard, please believe in me
You are different
Hello Hello This time I’ll put myself out there
Hello Hello Ooh yeah~ Baby Baby Baby girl
Hello Hello I don’t know how you’re feeling now
Who knows we might actually…
Hello Hello
[She’s] right in front of me but I don’t know what to do
How do did you start love?
People who have loved please tell me
Will there be a day when I hold her hand?
Will there be a day when I kiss her above her closed eyes?
Hello Hello I acted confidently
Hello Hello I want to talk to you for a moment
Hello Hello I might stutter a little, though
Who knows we might actually be together
Should I confront [her]
Should I wait [for her]?
It’s harder when everyone else says something different (You can’t believe it right?)
Having high standards, this isn’t a usual thing for me
Please believe in me yeah
Will there be a day when I hug her freely
I believe that what we think can come true
Hello Hello I acted confidently
Hello Hello I want to talk to you for a moment
Hello Hello I might stutter a little, though
Who knows we might actually… oh yeah
This is not the first time
Truthfully I’ve loved and parted
But it’s hard, please believe in me
You are different
Hello Hello This time I’ll put myself out there
Hello Hello Ooh yeah~ Baby Baby Baby girl
Hello Hello I don’t know how you’re feeling now
Who knows we might actually…
Hello Hello
(SHINee
– Hello)
“kau menyukaiku, eh?” kyuhyun oppa menundukkan
kepalanya, sedikit menjajarkan wajah mereka. Kyuhyun oppa terlihat sedikit puas
mendengar ucapan Han Ha gun eonni –namanya baru aku ketahui tadi setelah
kyuhyun oppa berkali kali menyebutnya-
“katakana sekali lagi, karena aku tidak ingin salah
dengar” Han Ha gun eonni hanya terdiam. Menahan rona pipi yang memerah, aku
tahu itu. “kau tadi mengatakan kalau, aku…”
“lupakan itu” Ha gun eonni mengelak dengan cepat
akhirnya. “aku tadi hanya spontanitas saja mengatakan kalau kau terlihat
sedikit eng.. yah seperti itu lah. Hanya spontanitas saja, bukan dari hati. Kau
jangan terlalu percaya diri kyuhyun~a”
“mengatakan kalau aku tampil menankjubkan malam ini,
menatapku dengan ekspresi wajah terpesonamu malam ini. dan kau tidak menyukai
seohyun karena dia sempat tampil duet denganku, kan?” kyuhyun oppa memaparkan
dengan penuh penekanan disetiap perkataannya. “ kau masih mau mengelaknya Han
Ha Gun-ssi?.”
“terserah kau mau mengatakan apapun. Bahkan kalau kau
mau memojokkanku tentang hal buruk apapun aku masih bisa aku terima. Tapii..”
Ha Gun eonni sedikit menghela napasnya sejenak. “jangan pernah memojokkanku
tentang hal kalau seolah olah aku menyukaimu , seolah olah aku tergila-gila
padamu, seolah olah hanya aku yang seperti itu.”
“wae?” kyuhyun oppa membuat suasanya menjadi semakin
serius oleh nada bicaranya. “kau malu untuk mengakuinya?”
“jangan mengurusi hal pribadiku. Kau sendiri
bagaimana? Kau sama gilanya denganku kan? Dan aku.. aku sebenarnya tidak
terlalu yakin, tapi karena kau mengira aku menyukaimu.. ehm, boleh juga kan aku
mengatakan kau menyukaiku? Kau kira aku..”
“kalau aku menyukaimu memangnya kenapa, eo?” mata Ha
Gun mengerjap seketika saat kyuhyun oppa mengatakan kalimat tersebut dengan
hentakan jarak wajah mereka yang mendekat.
“aku tahu kau yeoja bodoh, aku tahu kau yeoja dingin, aku tahu kau yeoja
yang tidak menyukai ke feminiman, aku tahu kau bukan yeoja seperti yang aku
katakana di media tentang yeoja idealku.”
“tapi aku bahkan merasa jauh lebih bodoh darimu,
Gun~a.” suara kyuhyun oppa melemah. “bodoh karena tidak menyadarimu secepatnya,
tidak secpatnya mengartikan perasaanku padamu. Dan sedikit terasa konyol karena
aku bisa jatuh hati pada yeoja sepertimu.”
“kau ingat tipe yeoja idealku? Berkaki jenjang, mempunyai
kepribadian seoarang yeoja sungguhan. Karena aku sangat ingin seorang yeoja
yang benar-benar menjadi yeoja chingu seperti yang lainnya. Tapi sialnya aku
malah mendapatkan kau.” Dengus kyuhyun oppa. Tapi setelah mengatakan itu,
kyuhyun oppa menariknya dalam pelukkannya. “tapi aku sadar. Kalau sebenarnya
tipe yeoja idealku bukan speerti itu. Yeojaku hanya kau, yang bernama Han Ha
Gun. Entah seburuk apapun kau, tapi kau adalah yeojaku. Sosok yang ditakdirkan
untuk menjadi tulang rusuk kehidupanku.”
Ha Gun eonni terperangah. Dia terlihat sedang berusaha
mencerna perkataan kyuhyun oppa yang begitu sulit untuk saat ini. terlebih
dalam kondisinya yang sedang berada dalam dekapan kyuhyun oppa. aku bahkan
yakin seratus persen dia sedang menahan gejolak bahagia dihatinya. Aku saja
sampai terpesona melihat kyuhyun oppa yang begitu luar biasa dalam menarik
takdirnya.
“aku juga bisa seperti kyuhyun.” Donghae oppa
mendengus disampingku. Tangannya sedikit diregangkan dari handycam yang
dipegangnya. Sepertinya dia terlihat pegal memegang kamera untuk meliput
kejadian spektakuler malam ini. “aku bahkan sudah melakukannya padamu, kan
Je~a?”
Donghae oppa berujar seperti itu mungkin karena
melihat ekspresi wajahku yang seperti tersanjung melihat adegan kyuhyun oppa
dengan Ha Gun onnie. “sewaktu aku pulang, aku memelukmu. Dan aku juga
mengatakan kalimat yang jauh lebih keren dari kyuhyun oppamu.” Donghae oppa
terus bersungut seperti tak mau kalah. Membuatku sedikit terganggu karenanya.
“kau jangan seperti anak kecil oppa. Kau tahu? Ini
akan menjadi adegan dalam drama korea terkeren yang pernah aku lihat.” Aku
berkata tanpa menoleh sedikitpun kearah donghae oppa. Berusaha menatap focus
dan menanti kejadian selanjutnya.
“yak, Je~a.” entah apa yang emmbuat donghae oppa
terlihat seperti anak kecil sekarang ini. “kau harus mengakuinya. Aku lebih…”
“YAK! DONGHAE OPPA TUTUP MULUTMU!” akhirnya aku
menyerah mendengar semua rengekan dan ocehannya yang tidak mau kalah. Membuatku
sangat terganggu.
Donghae oppa hanya mengerjapkan matanya kaget.
Kemudian dengan tindakan yang amat-sangat terlambat menurutku. Dia membekap
mulutku. Menoleh kearah kyuhyun oppa dan Ha gun eonni yang sudah menatap intens
kami berdua.
“kau melakukan tindakan bodoh yang membuat kita akan
masuk kedalam neraka, Je~a.” donghae oppa berbisik ditelingaku sembari
melepaskan bekapannya.
Aku dan donghae oppa menatap ngeri sepasang mata yang
mendekat kearah kami berdua. Aku menggigit bibir bawahku, dan donghae oppa
menggenggam tanganku. “kau yang mencari mati, hae oppa” balasku menyikut lengan
donghae oppa.
“cho jehee? Lee donghae hyung?” kyuhyun oppa
memincingkan matanya. Mendekat kemudian berdiri dengan badan bersedekap didada.
Ha Gun eonni tetap berdiri ditempatnya sembari mencoba melihat apa yang
dilakukan kyuhyun oppa. “apa yang kalian lakukan disini?”
“eo? Kyuhyun~a. kami tidak bermaksud.. eng.. kami
hanya ingin..” dongahe oppa memamerkan sebaris gigi rapihnya dan senyuman mohon
ampun pada kyuhyun oppa.
“kami hanya.. kebetulan lewat, oppa.” Aku menyahut
sekenanya.
“lalu untuk apa kau bawa bawa handycam hyung?” kyuhyun
oppa menunjuk kearah tangan donghae oppa yang dengan cepatnya donghae oppa
menyembunyikan dibalik punggungnya.
“tidak, kami tadi hanya sedang mencari…” donghae oppa
berujar masih dalam cengirannya. “mencari.. kai! Yah, benar kami sedang mencari
Kai. Kau tahu? Dia sekarang sudah debut dengan boyband EXOnya. Dan.. eng..
Jehee sangat menyukainya. Jadi.. kupikir alangkah baiknya kalau..”
“kalau aku mengabadikan perkenalanku dengan kai
nantinya di handycam ini.” Aku kembali menyahut dengan sekenanya. Karena aku
tahu ini aalah kondisi yang sangat gawat.
“boleh aku lihat?” kyuhyun oppa mendekat dan berusaha
menagmbil handycam dari dongahae oppa yang terus mengelak. Dan akhirnya dengan
tatapan evil sebagai senjaa terkuat kyuhyun oppa, donghae oppa menyerahkan
handycam itu. Aku hanya menatap pasrah ketika melihat handycam itu beralih
ketangan kyuhyun oppa.
Kami dalam diam sekitar lima menit setelahnya. Aku dan
donghae oppa berusaha tidak berkata apa-aapa. Hanya berdoa dalam hati untuk
kyuhyun oppa tidak benar-benar melihatnya.
“kerja yang bagus, hyung!” kyuhyun oppa menemuk pundak
donghae oppa yang membuatnya sedikit terkejut. “gomawo, otak mu cukup cermelang
juga untuk merekam semua ini.”
Deg..
Aku merasa cukup berada di ujung bahaya malam ini.
kyuhyun oppa sering sekali mengatakan sebuah pujian sebelum membawa kami
keambang maut. Aku dan donghae oppa hanya tersenyum sejenak. Dan donghae oppa
menatapku dengan tatapan tidak-akan-terjadi-apa-apa-selama-ada-aku. Dan aku
hanya membalas dengan senyuman kau-memang-harus-bertanggung-jawab-untuk
melingdungiku-karenaini-ulahmu-.
“jangan dihapus, aku akan membunuhmu kalau sampai
dokumentasi ini hilang.” Kyuhyun mengembalikan handycam itu. “aku akan
menyelesaikanya sendiri. Dan kalian tinggal menunggu saja. Aku pasti akan
benar-benar menikahi yeoja itu.”
Aku dan donghae oppa masih sedikit ragu dengan kyuhyun
oppa. “aku tidak marah, jehee~a, donghae hyung~. Tenang saja. Aku tidak akan
memakan kalian bulat-bulat. Jadi jangan menatapku seperti itu, ara?”
Aku dan dan donghae oppa hanya mengangguk sekenanya
saja. Kemudian donghae oppa menarikku dalam dekapannya setelah kyuhyun oppa
pergi menghampiri ha gun eonni kembali.
“kita selamat dari malaikat maut kali ini, Je~a”
donghae oppa mendesah. “Seharusnya kan kita yang memergoki mereka berdua, bukan
malah kita yang tertangkap mati olehnya.”
***
Dear Je~a..
Wae? Kenapa aku harus memanggil ikanku dengan sebutan
‘Je~a’ ?
Kau tahu nama panggilanku kan? Hae~a.
Lalu, apa kedua panggilan itu tidak terucap jauh
berbeda?
Je~a dan Hae~a. tapi aku mau hanya aku yang
memanggilmu seperti itu.
Aku mau hanya aku yang memanggilmu dengan panggilan
yang tak jauh dari namaku.
Itu terasa seperti memanggil diriku sendiri.
Karena aku memang kau. Dan kau itu aku. Kita sama.
Kita mempunyai ikatan yang sama.
Ikan dan air.
Dan takdir.
Je~a..
Please
give me strength to face my life tomorrow,
With
your smile, your laugh, and your happy life with me.
I am
begging thou..
To make
my life very important and impressed,
To make
me want to life long time tomorrow, and sure, it will be with you.
You’re who I’m thinking of
Je~a, you aint my runner up
And no matter what you’re always number one
You’re
my fish.. I Love you~~~~~~~
Dear DongHae oppa…
Aku sempat berpikir, betapa sialnya aku karena
dipertemukan denganmu.
Betapa jahatnya tuhan menakdirkan pertemuan kita
berdua.
Pertemuan antara sebuah ikan dan air yang ku pikir
tidak akan pernah bersatu.
Yang kupikir aku hanya ikan yang tersasar sampai dalam
arus airmu,oppa.
Tapi semua pemikiran itu lenyap entah kemana.
Sekarang aku tahu arti sebuah air dalam kehidupan ikan
dibawah laut, sungai, atau bahkan aquarium.
Sama halnya dengan arti kehadiranmu untukku.
Walaupun kau sempat membuatku setengah gila karena
menunggumu dalam jangka waktu empat tahun.
Membuatku kesal karena kau tidak pernah menghubungiku
setelah itu.
Membuatku sesak karena menahan rasa rindu yang
memupuk.
Oppa,
You’re my destiny, you’re my water where the fish
live.
I love you~
~END~

3 komentar:
Kyaa.. ff-nya keren..!
aku paling suka kata "Sosok yang ditakdirkan untuk menjadi tulang rusuk kehidupanku." dan "aku tidak akan membiarkanmu berenang ke aliran air yang lain. Hanya padaku."
oh ya tdi ada satu dialog yg typo. udah gitu tulisannya agak kekecilan. Ditunggu ff-ff selanjutnya ya
nb: 1 month later kalo 1 month ago(1 bulan yang lalu) [sorry aku g bermaksud menggurui]
okeh thanks yaa tanggapan dan kritiknya ;) kalau masalah tulisannya kekecilan, aku buru-buru say, maaf._.v tapi kalau mau buka lewat hp gak terlalu kecil kok (: dan kalo tentang typo, aku akan ngurangin ke typo-annya di ff berikutnya :)
okeh thanks yaa tanggapan dan kritiknya ;) kalau masalah tulisannya kekecilan, aku buru-buru say, maaf._.v tapi kalau mau buka lewat hp gak terlalu kecil kok (: dan kalo tentang typo, aku akan ngurangin ke typo-annya di ff berikutnya :)
Posting Komentar