Jumat, 03 Februari 2012

-oppa-


 annyeong! ini ff special ulang tahun kyuhyun. berhubung karena dadakan *plak aku jadinya bikinya dimasukin kedalam ceritaku sama donghae ._. mianhae kalo kalo sedikit maksa. dan ini ff bakal ada lanjutannya lagi, pastinya ._.
hm.. buat kyuhyun oppa, aku mau ngucapin "saeng il chukka hamnida oppa!! saranghaeyeo"
udah deh, cukup sekian. wakaks. oiya, yang tulisan merah itu flash back yaa. selamat membacaa!!

Jehee PoV
“ANDWE!” tukasku tajam. Kyuhyun oppa segera menahan lenganku untuk menahan tubuhku yang ingin bangkit dari dudukku. Sekarang aku terjebak. Yeah, dalam sebuah perjodohan konyol seperti ini. kim sooki. Namja itu hadir krmbali dihadapanku. Dan dengan mudahnya orang tuanya menginginkannya diperjodohkan denganku.
“Neo!” aku mengangkat telunjukku tepat dihadapannya. “Michiseo!”
Kali ini kyuhyun oppa sudah tidak bisa lagi menahanku. Aku berlari meninggalkan ruang tamu dengan perasaan yang sangat marah. Ini bisa dikatakan sebagai penghinaan bagiku.
Pagi tadi, aku sama sekali tidak mengerti. Ahjuma membangunkanku lebih awal. Menyuruhku bersiap, mengenakan gaun salem selutut. Rambut ikalku digerai kesamping. Ahjuma juga menyuruhku menggunakan sedikit make up.
Hingga tiba saatnya aku datang keruang pertemuan keluarga. Kyuhyun oppa sudah duduk terlebih dahulu. Matanya menatap tajam sosok dihadapannya. Ah ra Onnie duduk dengan sedikit gugup di samping ahjuma. Dia juga terlihat sangat rapih saat ini. gaun ungu mudanya yang sedikit diatas lutut dengan sedikit hiasan bunga di bahunya.
Aku memilih untuk duduk disamping Kyuhyun oppa. Entah kenapa aku akan merasa tebih aman berada di sampingnya. Dengan sedikit penasaran dengan kondisi menegangkan yang dibuat oleh kedua kakakku.
Entah bagaimana aku mengungkapkannya, hatiku sungguh sangat marah diliputi rasa sakit. Tubuhnya dengan tegap duduk dihadapanku. Raut wajahnya memberikan sebuah keramahan. Seolah kejadian tiga tahun lalu tidak pernah terjadi.
20 oktober, hari yang paling sempurna dalam setiap tahunnya. Anniversary day Aku dan Sooki. Dia temanku sewaktu di SMA. Karena kelas kami berseblahan, membuat hubungan kami semakin dekat, hingga akhirnya kami mempunyai hubungan yang melibihi sebatas teman. Tahun ini, hari jadi kami yang ke 3. Dan yang aku tahu, sooki sangat menyukai semua hal yang berhubungan dengan angka 3, semakin membuat hari ini menjadi semakin special. Aku tentunya sudah menyiapkan hadiah untuknya. Karena hal ini yang sering kami lakukan.
“ jagiya, jam 4 di taman bunga. Oke?” dia mengacak acak rambutku sambil tersenyum senang. “happy anniversary. I love you.” Bisiknya di telingaku sebelum dia meninggalkanku.
“ne, Jagi! Annyeong!” ujarku dengan sedikit berteriak padanya yang mulai berjalan pergi. Aku dengannya berbeda universitas. Aku di KyungHee university jurusan post modern music dan dia di Seoul National University jurusan desain interior.
                                                                   ***
18:00 pm.
@Taman Bunga
Aku mengayunkan kakiku ringan. Mataku terus menatap pintu masuk taman. Sudah hampir 2 jam aku menunggunya disini. Matahari mulai berganti dengan bulan. Para pengunjung sudah banyak yang meninggalkan tempat ini. ditambah dengan buruknya cuaca. Awan terlihat mendung, dan angin kencang yang membuat udara dingin. Membuatku merapatkan gardigan tipis yang aku kenakan.
Sama sekali belum ada tanda dia datang. berkali kali aku melihat ke hpku. Tidak ada satu pesan ataupun telfon darinya. Karenanya, aku yakin. Dia pasti akan datang. ya, sooki pasti datang. pasti.
Hujan turun beberapa waktu kemudian. Membasahi pakaian yang kukenakan. Sebisa mungkin aku menyelamatkan kado yang kubawa untuknya agar tidak rusak.
Orang orang berlarian meninggalkan tempat ini, dan mencari tempat untuk berteduh. Hanya aku, mungkin yang masih duduk di tempat semula. Karena aku tidak ingin sooki kebingungan mencariku.
Dua puluh menit, setelah hujan berlangsung. Ketika aku menundukkan kepalaku, sepasang kaki yang aku kenal datang. dengan cepat aku mengangkat kepalaku.
“jagi, akhirnya kau datang juga. aku yakin kau pasti akan datang.” ujarku dengan penuh kelegaan saat melihatnya datang.
Tak lama, seperti ada yang menyenggol tangannya dari samping, sooki mulai angkat bicara.
“jehee-a.. na..” mataku membulat. Mendengarnya tidak memanggilku dengan sebutan jagi lagi.
“eng.. eum.. sepertinya” ujarnya ragu. “kita harus mengakhiri semuanya. Cukup sampai disini saja hubungan kita.”
Mataku mulai memerah. Jantungku seakan terlepas dari tubuhku. Aku tolehkan arah pandanganku kea rah sampingnya. Ya, dia ternyata tidak sendiri. Dia didampingi dengan seorang yeoja cantik yang tidak kukenal.
“jehee-a. chonmal mia..”
“oppa! Bajuku sudah hampir basah, karena payung yang kita gunakan hanya satu. Sudah selesai,kan? Kajja.”
Yeoja itu dengan tidak pedulinya meninggalkanku. Dengan cepat, sooki menggikuti yeoja tersebut, kemudian kembali memayunginya, agar tidak kebasahan.
Ck, mengucap kata maaf saja tidak sempat. Namja macam apa dia? Ah, ani. Aku sepertinya yang terlalu bodoh. Terlalu percaya semua padanya. Sampai sampai aku tidak tahu ahwa dia sudah mempunyai yeoja lain, dan sudah tidak mencintaiku.
Tapi.. mengingat ucapannya tadi pagi? Akh! Jehee-a, sadar. Semua orang dapat mengucapkannya. Itu bukan hal yang special. Ara? Tangisku dalam hati.
Langkahku berlari meninggalkan taman. Kado yang aku bawa, ku biarkan basah begitu saja. Air mataku seolah mengiringi turunya hujan yang tak kunjung henti. Cuaca hari ini begitu bersahabat denganku. Mempunyai perasaan yang sama denganku.
Wae? Waeguraeyeo? Kenapa ini harus terjadi di hari ini? satu hari dari 365 hari yang kunanti
Kim sooki. Tidak ada lagi nama namja itu sekarang di otakku.
Cho ahjuma dan ahjussi pun kemudian memperkenalkanku pada dua orang paruh baya yang mengapit SooKi. Bisa dipastikan mereka adalah kedua orang tua Sooki.
Hingga akhirnya pembicaraan ini berujung pada inti persoalan. Mereka menjodohkanku dengan Sooki. Dengan alasan memper erat persaudaraan bisnis appaku dan ayah SooKi. Sungguh, saat itu juga ingin rasanya aku mengamuk pada appa. Tapi sayangnya appa tidak berada disini. Sifat appa memang tidak pernah berubah. Sepertinya itu adalah alasan mengapa eomma menggugat cerai appa. Tidak pernah mempunyai hati nurani ataupun kemanusiaan saat berhadapan dengan bisnis.
Aku mempercepat langkahku menuju kamar. Sebelum ada yang menarikku untuk kembali kehadapan namja itu. Aku menangis bukan karenanya. Tapi karena diriku senidiri. Mengapa aku terlalu bodoh hingga selalu ada dalam permainannya? Dan mengapa selalu aku yang harus menjadi bahan permainannya?
tubuhku terbentur ringan pada sebuah lengan yang kemudian menahanku. Bisa dikatakan sedikit mencekram, membuatku menegang. Berharap bahwa dia bukanlah Kim Sooki yang membuatku kabur dari ruang pertemuan keluarga.
“Jehee-a, wae?”
Aku menganggkat kepalaku. Sedikit tenang setelah mendengar suara itu. Mencium aroma tubuhnya yang aku yakin adalah dia. Sosok yang sangat aku butuhkan saat ini.
“oppa, tolong bawa aku menjauh dari rumah. Kemanapun, aku mau. Untuk penjelasannya nanti akan aku jelaskan diperjalanan.”
                                                ***
Donghae PoV
Leeteuk hyung sudah mengganggu jadwal tidurku pagi ini. membuatku mengumpat setengah mati padanya. Kemarin aku baru menyelesaikan jadwal pemotretanku yang menumpuk, serta melunasi jadwal panggung yang padat bersama super junior. Kami semua sama sama lelah. Tapi mengapa harus aku yang dipilih? Sedangkan aku adalah yang paling lelah diantara yang lain.
“kyuhyun-a. awas saja kau!” dengusku sambil melajukan mobilku dengan kecepatan diatas rata rata. Leeteuk hyung menyuruhku membawa kyuhyun kembali ke dorm. Handphonenya tidak diangkat, sedangkan managernya kelimpungan dengan jadwal yang sepertinya dihiraukan.
Diantara member super junior tidak ada yang berani melangkah masuk kerumah kyuhyun jika kyuhyun tidak mengangkat teleponnya. Karena kami semua terauma akan pengusiran beberapa waktu lalu saat dia sedang membuat sebuah kejutan di hari ulang tahun eommanya yang kemudian berantakan karena kehadiran kami. Semua amukannya yang mengerikan masih terngiang jelas di ingatan kami.
                                                            ***
Aku mengernyitkan keningku. Pintu rumah terbuka, dan Nampak sebuah mobil yang tak ku kenal parkir di dalam rumah kyuhyun. Sepertinya ada tamu khusus. Terlihat dari mobil yang terparkir disana. Bukan sembarang orang untuk memiliki sebuah mobil trend baru yang hanya ada 5 mobil seperti itu di dunia.
Aku menyelinap masuk dari pintu belakang. Karena pintu itu terlihat terbuka lebar. Entah apa yang mendorongku untuk segera masuk. Seolah sebuah keharusan yang sangat untuk bergegas masuk tanpa berpikir dua kali untuknya.
Sedikit menyipitkan mataku. Melihat, dan memastikan bahwa aku mataku tidak salah melihat. Balutan dress salem selututnya, rambut ikalnya yang digerai kesamping. Make up ringan alami yang dikenakannya. Membuat langkahku terhenti. Memperhatikanya dengan jelas dari tempatku berdiri.
Dia terlihat tergesa gesa keluar dari ruang pertemuan keluarga cho. Make upnya ternoda dengan tetesan air mata yang terus jatuh kepipi mungilnya. Membuatku sedikit kecewa. Kecewa dengan hal yang membuatnya menangis. Tidak seharusnya Cho Jehee. Yeoja yang manis, yang selalu memperlihatkan senyumnya disetiap harinya. Ternodai dengan tetesan air matanya.
Tanpa berpikir panjang, aku menghapirinya. Ini bisa dikatakan sebuah tabrakan kecil. Karena di luar dugaanku, dia berjalan lebih cepat dari awal. Dengan cepat aku menahan lengannya yang goyah dan energinya yang seakan rapuh, hanya dengan sedikit benturan ringan dariku.
“jehee-a, wae?” ujarku kemudian sambil memopohnya untuk tegak. Keapanya terangkat. Menatapku dengan penuh harapan dan tak berdaya.
“oppa, tolong bawa aku menjauh dari rumah. Kemanapun, aku mau. Untuk penjelasannya nanti akan aku jelaskan diperjalanan.”
                                                            ***
Sorotan mataku sesekali mengarah padanya sembari mengemudikan mobil. Entah kemana aku harus membawanya pergi. Tidak sanggup rasanya menganggu kondisinya yang kurang memungkinkan untuk diaja bicara sekarang.
“oppa..” ujarnya kemudian dengan suara sedikit serak. Membuatku sedikit lega dengan reaksinya.
“wae?” aku memarkirkan mobilku ketepi jalan, kemudian menatapnya dengan penuh perhatian. Siap untuk mendengarkan ceritanya bahkan isak tangisnya, kalu itu yang membuatnya nyaman.
“apa ada hal yang lebih menyakitkan dari sebuah peristiwa berpisahnya pasangan di hari anniversarynya, kemudian salah satu dari pasangan mereka kembali dengan sebuah paksaan padahal dia yang menghancurkannya yang bisa dibilang itu adalah sebuah penghinaan terhadap pasangannya?” ujarnay dengan diiringi isakan tangis.
Aku membalikkan tubuhku menghadapnya yang terus menatap kosong pemandangan didepannya dengan mata yang sembab karena tetesan air matanya yang tak kunjung henti. Menggenggam ringan tangannya yang terkulai lemas di sampingnya.
“tentu saja. Banyak hal yang jauh menyakitkan dari hal itu. Sama halnya saat appaku pergi meninggalkan keluargaku untuk selamanya. Aku selalu bertanya tanya. Apa ada hal yang lebih menyakitkan daripada yang kualami? Karena aku tidak ingin menjadi orang yang paling menderita di dunia ini.”
Tatapan matanya tertoleh padaku, kemudian aku menyambutnya dengan senyuman simpul. “tapi aku kemudian mengubah pola pikirku menghadapi ini semua. Teringat pada kata kata appaku sewaktu aku gagal dalam audsi pertamaku. ‘selalu ada sebuah kejutan indah setelah kita melewati penderitaan dengan penuh kekuatan dan kesabaran’ jadi jangan pernah berfikir kau adalah orang yang paling menderita. Kau seharusnya berfikir kau adalah orang yang beruntung. Karena mungkin sebentar lagi akan ada sebuah kejutan indah untukmu.”
Dia masih terdiam. Menatapku dengan lemah. Tak lama dia menarik tangannya dari genggamanku, dan menganggkatnya ke pelupuk matanya. Menghapus semua air mata yang membasahi pipinya. “gomawo oppa. Kau selalu bisa membuatku lebih baik. Sinjja gomawoyeo!” dia dengan spontan memelukku. Membuatku sedikit terhenyak diabuatnya. Sungguh degupan jantungku tidak bisa diminimalisirkan.
                                                            ***
Kim Sooki PoV
Bukan hal yang sulit ternyata untuk menaklukan MC cooperation agar jatuh ditangannku. Sedikit menyesal kenapa aku tidak memanfaatkannya dari dulu. Cho Jehee, yeoja polos dan bodoh yang sangat mudah untuk di bohongi.
Tapi, aku sedikit tidak mengira dengan sikapnya tadi saat appa dan eomma menyebutkan kata pejodohan. Sepertinya bukanlah hal yang mudah untuk membuatnya kembali tergila gila padaku.
Tadi saat langkah kakiku ingin mengejar arah perginya Jehee terhenti. Saat melihat sosok namja yang sepertinya bisa menganggu rencanaku. Lee Donghae. Aku mengenalnya. Jelas karena dia salah satu member dari Super Junior yang sangat terkenal di seluruh penjuru Korea.
Aku tidak terlalu terkejut melihatnya berada di rumah Jehee. Kyuhyun adalah rekannya dan aku tahu, Jehee sangat mengidolakannya. Bukan hal yang tidak mungkin kalau Jehee menyukainya.
                                                            ***
Aku membungkukkan tubuhku memberikan hormat pada Cho MinChul. Pemilik perusahaan incaranku, sekaligus calon mertuaku. Sore ini aku khusus menemuinya secara pribadi. Berhubungan dengan perjodohanku dengan Jehee.
“sungguh saya sangat membutuhkan restu dari anda.” Ujarku sesopan mungkin.
Dia tertawa kecil kemudian tersenyum. “tentu saja aku akan merestuimu. Meskipun Jehee menolak sekeras apapun, saya bisa pastikan dia akan tetap menikah denganmu.”
Senyuman puas terpancar dariku. Bukan senang untuk dapat menikah dengan Jehee. Tapi untuk rencanaku yang berjalan lancar. “lalu, bagaimana dengan kuliah Jehee?”
“hmm.. itu hal yang mudah untuk diurus. Lagipula, jehee tinggal dua semester lagi.” Dia meneguk secangkir kopi hangat dihadapannya sebelum berkata. “sebutkan saja nama orang yang bisa menghalangimu untuk bersama dengan jehee.”
Senyumanku kembali terulas. “lee Donghae. Member Super Junior.”
                                                            ***
Kyuhyun PoV
Aku menggertakkan gigiku kesal sembari melembar bantal kearah tembok kamarku. Apa lagi yang akan dilakukannya? Sudah cukup dia membuat adikku tersiksa selama bertahun tahun lamanya hanya untuk melupakannya.
“kim sooki” tukasku tajam. “lihat saja nanti. Kau harus membayar semua rasa sakit yang dirasakan adikku.”
Drrtt.. drrt..
“kyuhyun-a, cepat ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi pada Jehee huh?”
“yak, hyung! Tau apa kau tentang masalahnya?”
“dia menangis tadi pagi dihadapanku. Saat aku datang kerumahmu dan masuk lewat pintu belakang.”
“hyung! Sejak kapan kau menjadi pengendap dirumahku, huh?”
“ani. Ani. Mianhae kyu-a. tapi tadi aku sangat terburu buru. Cepat ceritakan!”
“chakkaman. Berarti, jehee ada bersamamu sekarang?”
“aniya. Dia sudah kuantar pulang tadi. Apa dia belum menemuimu?”
“mwo? Hyung antar sampai mana?”
“depan pintu. Wae?”
“dia belum terlihat dari tadi. Seisi rumah panik dibuatnya.”
“MWO? Sinjja? Aish.. anak itu. Baiklah, kau ceritakan lain kali saja. Aku ingin mencarinya.”
                                                            ***
Jehee PoV
 Aku melihatnya sampai mobilnya hilang di salah satu tikungan. Kemudian melangkah pergi kearah lain. Entah kemana, aku tidak tahu. Tidak ada minat sama sekali untuk menginjakkan kakiku kerumah dalam waktu dekat.
Ha gun sedang sibuk dengan gamenya. Membuatnya sama sekali dengan enggan menjawab teleponku dan mengatakan sedang tidak ingin diganggu. Sang kyung, teman satu kuliahku yang cukup dekat juga sedang sibuk. Cih, mengapa semua orang terlalu sibuk saat ini? saat aku sangat membutuhkan perhatian.
Donghae oppa memang sudah membuatku lebih tenang sekarang, sangat. Tanpa dia berkata apapun sudah membuatku merasa lebih baik. Tatapan mata teduhnya dan senyuman khas yang sangat membuatku seperti terlepas dari semua beban. Tapi sayangnya sekarang tidak seperti itu. Perasaanku membaik, tapi tidak sebaik seperti sediakalanya.
Stidaknya, hari ulang tahun kyuhyun oppa akan membantu, besok. Aku mengerjap. Mengingat akan hari penting esok. Berjalan sambil memikirkan semua rencana yang akan mengejutkannya.
Aku seketika mengangkat kepalaku saat ada seseorang yang menepuk ringan bahuku darii belakang. Sambil berharap dia bukanlah salah satu dari orang rumah yang ditugaskan untuk mencariku.
“Jehee-a, kau mau pergi kemana?”
Aku membalikkan tubuhku menghadap suara itu berasal. Mendesah lega mengetahui bahwa dia bukan utusan orang rumah untukku.
“yak, aku kasihan melihatmu berjalan sendiri. Tadi aku berniat membeli ramyeon karena kelaparan seharian bermain game. Ikut aku saja.”
                                                            ***
“Ha Gun-a!! ireona!” suaraku sudah mulai meninggikan suaraku. Sudah hampir 15 menit aku meneriakinya untuk bangun. “yak! Aku tidak menyangka akan mempunyai kakak ipar yang tidurnya seperti babi ini!”
Tanganku meraih jam weker kecil dari sudut meja kecil disamping kasur. Membunyikannay dengan volume maksimal dan menempatkannya tepat disamping telinganya.
“YAK! CHO JEHEE!!! KAU MAU MENCARI MATI HUH?”
Aku tertawa kecil. Berusaha mengalihkan rasa merindingku mendengar amukannya. Sungguh ini bahkan lebih menakutkan dibandingkan aku harus menemui 50 kucing sekalipun.
Dengan mengumpulkan keberanianku, aku menyeretnya turun dari kasur dan membawanya dengan paksa ke depan pintu kamar mandi.
Tangannya melipat didepan tubuhnya. Menatapku garang. Membuatku sedikit bergidik. “apa maksudmu membangunkanku sepagi ini? tahu seperti ini aku tidak akan membawamu kabur kerumahku.”
Dengan cepat aku menjitak kepalanya. Yang terjadi malah matanya semakin menatap garang padaku. Membuatku sedikit mendengus. “tidak pernah melihat tanggal? Sekalipun diponselmu?”
Dia menggeleng pelan. Membuatku berdecak. “sangat gawat, jika aku menyerahkan kyuhyun oppa padamu nantinya.”
“yak, wae? Jangan sangkut pautkan kyuhyun pagi pagi seperti ini. cepat jelaskan, atau aku akan kembali tidur tanpa mau tahu alasanmu.”
“kau tahu tanggal ulang tahun kyuhyun oppa?”
Dahinya mengernyit. Arah matanya melirik kearah kalender yang bergantung disalah satu sudut dinding apartemennya. “hari apa ini?” tanyanya singkat. “jum’at.”
“OMONA! YAK! Aish sinjja! Kenapa kau tidak mengatakannya sedari tadi huh?”
Dengan cepat dia menyambar handuk didekatnya kemudian memasuki kamrmandi. Membiarkanku yangterbengong melihat tingkahnya. “sungguh gila jika dia tidak merubah sikapya saat menjadi kakak iparku!”
                                                            ***
Donghae PoV
Sudut bibitku menyimpul sebuah senyuman. Mataku terus terarah menatap jalan dihadapanku. Begumam pelan. “dia selalu saja bisa mencari sisi menarik. Walaupun disaat genting yang menentukan masa depannya.”
Kemarin, saat aku memergokiya berada di halte bus bersama ha gun, dia menceritakan semua rencananya. Hari ini ulang tahun kyuhyun. Dan dia sudah menyiapkan rencananya. Setidaknya aku bisa melihatnya tersenyum hari ini. mengingat kejadian kemari yang sangat membuatku khawatir.
Pagi ini, dia menyuruhku untuk datang ke apartement ha gun. Hanya mengikuti perintahnya saja, katanya. Sepertinya sebuah recana yang menarik.
Semalam, semua member super junior sudah memberikan selamat ulang tahun, bertubi tubi. Tepat pukul 12 malam. Walaupun hanya lewat telefon. Karena dia bilang, tidak menginginkan kembali ke dorm bebrapa waktu ini.
Aku juga sudah mengecek akun twitternya. Semua fans menyerbunya. Berharap menjadi yang pertama untuk memberikan selamat ulang tahun padanya.
Tanganku mengetuk ringan pintu apartement Ha Gun. Tak lama pintunya pun terbuka. “mianhae oppa, mungkin kau harus menunggu sekitar 15 menit.” Dia menyeringai kecil kemudian menpersilahkan masuk dan menyuruhku untuk duduk disalah satu sofa ruang tamu.
“Ha gun masih bersiap. Dia tidur seperti babi. Sulit sekali untuk dibangunkan.” Dumelnya sembari melangkah kearah dapur, menyiapkan minum untukku.
Aku tersenyum kecil. “dia akan menjadi kakak iparmu juga, kan?”
“tentu. Tapi aku tidak akan menyerahkan kyuhyun oppa kepadanya begitu saja. Dia harus melewati tes dariku dulu.”
“lalu? Apa aku juga harus melewati tes kyuhyun oppa mu nanti?”
“ne?”
                                                            ***
Han Ha Gun PoV
Bodoh. Sungguh bodoh. Tidak selayaknya aku berlaku bodoh seperti ini. sungguh memalukan untuk seorang namja chingu yang menghiraukan hari ulang tahun namjanya. Aku sudah sekeras mungkin mengingatnya. Dan aku ingat tanggalnya. 3 february. Tapi aku selalu tidak mengingat tanggal berapa sekarang.
Langkahku berjalan gontai tak jauh dari kedua orang yang terlihat seperti pasangan tapi nyatanya tidak –mereka benar benar terlihat seperti pasangan- . yang membuatku bosan adalah Jehee menyeretku ketoko kado yang biasa menjual barang pasangan. Itu benar bukan gayaku.
Aku benar benar sangat ingin memuntahkan semua isi perutku sekarang. Melihat benda dengan warna yang menurutku terlalu norak. Juka kata kata yang sangat membuat ku muak. Kata kata cinta yang menurut orang sangat manis dan membuat orang berbunga bunga.
“yak, Jehee-a. apa tidak ada toko yang lebih bagus dari ini?” protesku saat kami sudah mengitari toko yang ke enam.
“ini sangat lucu Gun-a. kau tidak lihat? Sangat cocok untuk seorang pasangan.”
Aku menatap tak minat benda yang berada di tangan Jehee. “menjijikan!” aku melangkah pergi dari toko. Memutuskan untuk mencari sendiri kado untuk kyuhyun. Dan membiarkan mereka yang saling menatap heran diriku.
Aku berhenti disebuah toko counter E.L.F entah kenapa aku sangat ingin mengunjunginya. Ada barang yang melintas begitu saja di benakku. Dan sepertinya aku harus membelinya. Sebagai kado pengiring kado special yang sudah aku siapkan.
                                                            ***
“apa kau yakin, villa appa mu aman? Dari jangkauan SooKi sekalipun?” tanyaku yang merasa sedikit khawatir dengan ide yang diberikannya.
Dia menolehkan kepalanya kearah jok belakang, tempat aku berada. “tidak mungkin mereka akan kesana. Appa pernah mengatakan padaku, dia lebih menyukai Villanya di Busan.”
“lalu? Apa itu akan menutup kemungkinan untuk dia tidak datang, hm?”
“tutup mulutmu, ikuti saja rencanaku.” Tukasnya. Membuatku sedikit mengumpat kecil.
“chakkam, Jehee-a. kenapa aku mengajak Dong hae oppa juga?” selidikku. Dia terdiam untuk beberapa saat.
“wae? Aku sangat mengidolakannya. Apa kau masih belum paham?”
“cih, menjijikan”
“kau tidak mengidolakan kyuhyun mu?” donghae akhirnya angkat bicara. Membuat tawa Jehee meledak.
“asal kau tahu oppa. Mereka kalau disatukan seperti tikus dan kucing, tapi kalau di jauhkan akan seperti orang sakit jiwa.”
“yak! Cho Jehee! Tutup mulut mu kalau ingin hidup lebih lama.”
                                                                        ***
Kyuhyun PoV
Aku tidak berniat sedikit pun memperdulikan ucapan bertubi dari fans. Para member pun hanya ku tanggapi biasa. Tidak perduli dengan hari ulang tahunku sekalipun. Jehee tidak pulang semalam. Dong hae hyung mengatakan tidak menemukannya dan dia dengan begitu saja menyerah. Eomma juga sudah menghubungi beberapa kerabat dekatnya, tapi hasilnya tetap nihil.
Seharusnya, hari ini akan menjadi moment terindah dari 365 hari dalam setahun. Biasanya, Jehee yang akan menjadi orang pertama member selamat kepdaku. Entah bagaimana caranya. Seperti tahun lalu. Dia menungguiku sambil terkantuk kantuk di depan pintu dorm. Saat itu sudah hampir pukul satu pagi. Dan dia menungguku yang baru pulang show saat itu. Dia memelukku kemudian mengucapkan dengan suara berbisik padaku.
Tidak usah memikirkan jauh tentang Jehee. Dia sedang dalam masalah. Tidak sepantasnya aku menyalahkannya karena tidak menjadi orang yang pertama. Han Ha gun, yeoja chinguku sendiri. Tidak ada tanda sedikitpun untuk sekedar memberikan ucapan untukku.
Drrt.. Drrt..
Aku menarik malas ponsel disampingku. Nomor tak dikenal. Sedikit mengeluarkan desahan kecil, kemudian memutuskan untuk mengangkatnya.
“yeob..”
“OPPA!! Jebalyeo.. tolong aku. Aku berada di villa appa di jeju sekarang. Aku.. aku..” belum sempat suara yang kukenal melanjutkan ucapannya, seperti terjadi sesuatu disana. Terdengar jeritan, dan tak lama sambungannya terputus.
Dengan cepat aku menyambar jaket dan kunci mobilku. Melirik jam dinding di kaarku. Pukul 4 sore. Tidak terlalu terlambat untuk samai disana terlalu larut.
                                                                        ***
Aku memarkirkan mobilku sedikit menjauh dari tempat yang kutuju. Agar tidak telalu terlihat oleh orang suruhan appa jehee yang kemungkinan ada. Dan aku memutuskan untuk berjalan kaki.
Tak lama, aku sampai di pintu gerbang villa yang di maksud jehee. Aku pernah dua kali kesini debelumnya. Saat liburan musim panas dan tahun baru. Mudah saja bagiku mengingatnya.
Gelap, dan sunyi. Mungkin ini sengaja untuk mengecohku menganggpa mereka tidak lagi disini. Pintu gerbang terbuka. Mudah untukku memasukinya.
Tiba sampai aku dihalaman depan. Lampu taman mati. Keadaan disini sungguh gelam. Sangat sulit untuk mencari jalan yang benar menuju pintu utama.
DARR!!
Seperti suara petasan terdengar dari kejauahan. Hanya tiga kali terdengar. Kemudiam keadaan menjadi sunyi kembali. Tak lama, suara itu kembali terdengar. Kali ini dua kali. Kemudian keaadan menjadi sunyi kembali. Aku sedikit berjaga di buatnya.
“THAT’S 3TH FEBRUARY!!!”triakan suara yang taka sing terdengar. Lampu taman kemudian menyala. Membuatku sedikit terkejut di buatnya.
Dong hae hyung, Ha Gun, dan Jehee. Mereka muncul dari balik dinding villa. Dengan cepat aku melangkah menuju Jehee. Melepas rasa khawatirku sekaigus kemarahanku karena ulahnya.
“yak, Cho Jehee! Kau sudah hampir membuatku gila, ara?” tanganku mencengkram salah satu lengannya.
“mianhae oppa. Na gwenchana. Saeng il chukkae!” dia mencium pipiku kemudian melepas cengkramanku perlahan. Memundiurkan langkahnya sedikit. Melirik sosok disampingnya. Seperti menyuruhku untuk melihatnya.
Ha Gun terpantung diam di hadapanku. Dengan kue ulang tahun ditangannya disertai lilin yang menyala. “yak, hannie-a. kenapa kau mau bersekongkol dengan adik nakalku ini, huh?” jehee terlihat mendengus mendengar ucapanku. Ha gun hanya mengernyit.
“memangnya kenapa?”
“apa kau tidak mempunyai kejutan special untukku, hm?”
“cih, masih untung aku mau ikut berpartisipasi dengan acara ini, walaupun sesungguhnya kau enggan.”
Aku tertawa ringan. Menepukkan kedua tanganku dihadapan kue yang dibawanya.  Mengucapkan dalam hati semua harapan hidupku ditahun ini. kemudian meniup lilinnya.
Tangannku menyingkirkan kue yang menghalangi jarakku dengan ha gun. Memberikannya pada dong hae hyung yang terlihat bingung ingin melakukan apa. Mnarik ha gun dalam pelukkanku.
“apa kau tidak ingin mengucapkan selamat ulang tahun untukku?” ujarku sambil menahan rasa harapku. Menunggu kalimat pertama yang akan kudengar darinya.
“saeng il chukka Yu-a” gumamnya sambil membalas pelukkanku.
“gomawo, hannie-a”
                                                                        TBC

 ._.v kalau maksa sekali lagi tolong maklumin yaaa. hehe. buat fadilla, utang ff special ultah kyuhyun udah aku lunasin yaa. haha. *tenangajagakbakaladayangkenallo* trus trus, tadinya aku mau ngedit foto kamu sama kyuhyun, tapi gak sempet .-. mian yaa. okeh ditunggu komennya yaa.
-foto yang berhasil gue edit, tapi jadinya biasa aja gara gara gak sempet-
sekali lagi happy birthday kyuhyun oppa!!!





4 komentar:

Anonim mengatakan...

Jgn edit foto gw ama kyuhyun.. Gw udh terlalu famous..
Hehehe gw tunggu kelanjutan ff ini oke..
*Kalo bisa dipercepat

Cho jehee mengatakan...

nyeh-_- yaudah, diedit tapi gak di post ._.
hm.. okeoke, tapi gak janji juga bakal cepet yaa. hehe. tergantung mood plus ide diotak ._.v

Anonim mengatakan...

Aqila punya utang sama Fadilla..........

Cho jehee mengatakan...

bukan utang uang, piit.. wakaks ._.